Tak Sepenuhnya Itu Menjadi Kenyataan

Aku tak tahu harus berbuat apa
Yang bisa kulakukan hanya terdiam dan terpana.
Melihat kau di sana dan sejenak berpikir
"Apakah kau mau menjadi pengisi hatiku?"


Terbangun dari mimpi indah yang terputus di tengah-tengah cerita membuatku sangat jengkel. Aku hanya bisa mengerjapkan mata berharap mimpi indahku dapat berlanjut, namun setelah beberapa saat mencoba yang kudapat hanyalah bayangan kosong.Yah, dengan sedikit gerakan kecil kuambil jam weker di meja kecil sebelah tempat tidurku yang masih berbunyi masih berusaha membangunkan pemiliknya. Kumatikan alarm wekerku dan kuletakkan kembali ke asalnya. Aku pun berdiri untuk merenggangkan otot-otot yang kaku, terasa lemas setelah melakukannya. Kubuka jendela kamar agar udara pagi masuk dan sedikit memberikan kesegaran agar rasa kantuk jadi hilang. Dalam hati aku berkata, "hmm, hari ini tak ada bedanya dengan hari-hari yang lalu."

Aku tak tahu harus berbuat apa
Yang bisa kulakukan hanya terdiam dan terpana.
Melihat kau di sana dan sejenak berpikir
"Apakah kau punya perasaan yang sama denganku?"


Kuraih kunci motor di meja belajarku, keluar dari kamar munuju meja makan untuk mengambil roti dengan sepotong daging di tengahnya. Kumakan dengan lahap dan tak sadar kuambil sepotong lagi karena merasa perut ini masih meminta untuk diisi. Sebagai penutup kuminum susu yang telah disediakan hingga habis. Kulihat ke arah jam dan telah memberi tanda bahwa aku harus berangkat sekolah. Segera aku berpamitan dengan orang tuaku dan keluar rumah bersamaan dengan sepeda motor merah yang telah kupakai hampir 2 tahun terakhir ini. Akupun duduk di atas sepeda motorku tapi tak segera menyalakannya. Aku hanya akan berdiam di depan rumahku dan menunggu, menunggu dia, sang pujaan hati yang akan keluar dari pagar umahnya yang berbeda 1 rumah denganku.

Aku tak tahu harus berbuat apa
Yang bisa kulakukan hanya terdiam dan terpana.
Melihat kau di sana dan sejenak berpikir
"Apakah kau benar-benar pernah melihat keberadaan diriku di sini?"


Pandanganku tak pernah lepas semenjak dia keluar dari rumahnya. Dengan seragamnya yang aku pun tak tahu dari mana dia bersekolah aku hanya bisa terpana memandang. Dan senyumnya, selalu terbayang dalam ingatanku baik ketika aku berangkat ke sekolah, pelajaran di kelas hingga malam menjelang tidur. Dengan gerakan-gerakan kecilnya ketika menunggu, selalu membuatku terbayang untuk memeluk dirinya yang berpostur mungil itu. Pelukan hangat antara kami berdua tentu akan terasa sangat menyenangkan. Dan rambutnya, panjang terurai sepunggung, sesuai sekali dengan wanita idamanku. Waktu terasa berjalan lambat meski aku sadar aku bisa terlambat ke sekolah kalau begini terus, tapi apa daya, aku tak bisa mengalihkan pandanganku kepadanya. Aku hanya bisa memandanginya, seolah-olah hanya itu yang kubutuhkan untuk hidup.

Aku tak tahu harus berbuat apa
Yang bisa kulakukan hanya terdiam dan terpana.
Melihat kau di sana dan sejenak berpikir
"Apakah kau sesungguhnya kita ini berjodoh?"



Sendirian dia di sana memegang tas ranselnya dan menunggu. Ingin sekali aku menyapanya namun apa daya aku tak punya keberanian untuk menghampirinya. Aku hanya bisa melihat dan mengaguminya dari jauh. Waktu telah berlalu dan tak sadar langkah-langkah kaki terdengar mendekatiku. Kuarahkan pandanganku ke spion sepeda motor dan terlihat seorang laki-laki dengan perawakan tinggi sedang berjalan. Hatiku terasa sakit melihat hal itu. Senyum yang manis ketika laki-laki itu menghampiri dan memeluknya. Direnggut tangan wanita pujaanku dan perlahan-lahan melangkahkan kaki menjauh menuju ke belokan di blok depan. Dengan mesra mereka berjalan berdua tak merasa kehadiranku di sini. Aku hanya bisa melihat dia menghilang dari pandanganku, dan tak mampu berbuat apa-apa. Kunyalakan mesin motor dan berangkat menuju ke sekolah, berkata dalam hati, "Beruntung aku bisa memilikinya, meski hanya dari jauh."

Aku tak tahu harus berbuat apa
Yang bisa kulakukan hanya terdiam dan terpana
Melihat kau di sana dan sejenak berkata
"Kau bukan untuk diriku."


Cire Wijaya: "Adakalanya sesuatu yang kamu sangat inginkan tak kan pernah bisa kamu dapatkan."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer eydaal
eydaal at Tak Sepenuhnya Itu Menjadi Kenyataan (7 years 20 weeks ago)

kalo gw sih dr awal dah ngeuh tokoh itu cowo.

60

Ternyata karakter utamanya cowok yah.. aku kira cewek.. Yah soalnya kayaknya terlalu perasa banget yah, cocoknya cewek..

klo dari yg aku baca, kok kesannya jadi cowok yg cengeng amat ya.. :D

Keep writing!!

60

rada jenuh membacanya. mungkin karena konfliknya nggak memuncak kali, ya.
kip nulis
mohon maaf kalo kurang berkenan
salam
ahak hak hak

Writer Rieve
Rieve at Tak Sepenuhnya Itu Menjadi Kenyataan (8 years 5 weeks ago)
90

kayaknya yang dihurufmiringkan itu cocok dibuat lagul. trus baca ceritanya sambil dengerin lagunya. jadi deh recto verso...