1000 Puisi Untukmu

#15

Aku cinta kamu

Itu saja cukup

Aku cinta kepadamu

Mengapa masih kau pertanyakan?

Cintamu bisa membunuhku

Namun tanpamu ku takan bisa hidup

Aku mencintaimu

 

Hatchiuuu~

 

”Kenapa, Ra? Kamu sakit?” tanyaku pada gadis yang tak berhenti meremas hidungnya dengan berlembar-lembar tissue.

 

”Gak, ku habis nonton film sedih tadi...” jawabnya dengan suara sengau, ”ya iyalah, ku sakit! Kena fluuu...” lanjutnya dengan wajah cemberut yang menggemaskan.

 

”Jangan suka begadang, jangan suka main hujan, jangan telat makan, ingat minum obat,” nasehatku panjang kali lebar. Aku tersenyum melihat ujung hidungnya yang memerah.

 

”Obatin, dong,” Rara memejamkan matanya dan menyodorkan pipinya padaku, meminta ciumanku. Aku sangat tergoda mengecup bibirnya yang lembut, tapi...

 

”Tidak, terima kasih. Nanti menular,” jawabku berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah di balik buku yang kubaca.

 

”Ah! Luigi pelit! Cuma di pipi, kok. Ayolah, sedikit sajaaa...” teriakannya langsung disambut teguran pengawas perpustakaan. Gadis berambut ikal pendek itu kembali terdiam dengan wajah cemberutnya dan setetes embun bening di bawah hidungnya. Kuambil secarik tissue untuk membersihkan hidungnya.

 

”Sekarang kita selesaikan tugasnya dulu, nanti pulang sekolah kutraktir ayam goreng, ok?” Entah bagaimana dia jadi patuh dan mengangguk menuruti kataku. Aku sangat menyukai senyum polosnya, senyuman yang lebih cerah dari matahari.

 

---

 

#39

Bacalah dari mataku

Dengarkan dari detak jantungku

Satu nama terindah yang diberikan Cinta padaku

Namamu, kekasihku

 

Hari ini sangat panas, seolah mentari sedang menghukum bumi. Aku duduk di sudut perpustakaan seperti biasanya, membaca. Tanpa Rara, memang tak baik baginya mengurung diri bersamaku di tempat sepi ini ketika dia bisa memilih bersenang-senang bersama teman-temannya di kantin atau di tempat lain saat jam istirahat.

 

”Sudah kuduga kau ada di sini,” seorang gadis yang tak kukenal menyapaku dan langsung duduk di sampingku, membuatku merasa sedikit terganggu. ”Aku Alena, dulu kita sekelas waktu kelas sepuluh, ingat?”

 

”Oh, hai. Ada perlu apa?” tanyaku kembali membaca bukuku tanpa mempedulikannya.

 

”Sekarang aku sekelas dengan Rara, dia teman baikku.”

 

”Lalu?” tanyaku lagi. Aku menunggu gadis cantik berkulit coklat itu menyampaikan maksudnya.

 

”Menurutku, sebagai pacarnya, kau harus lebih memperhatikannya. Rara sedang sakit,” lanjutnya membuatku terpaksa menutup buku tentang fenomena luar angkasa.

 

”Aku tahu, dia cuma sakit flu. Kau mau aku melakukan apa? Mengantarnya ke rumah sakit?” candaku mungkin terdengar seperti ejekan baginya, tapi aku tak peduli.

 

”Bukan begitu! Maksudku kau terlalu dingin dan kaku. Kau harus lebih perhatian, sikapmu harus lebih lembut padanya. Kau kan suka membaca, kenapa tak membuatkan puisi padanya? Atau minimal beri dia bunga, dia sangat suka lili putih.”

 

Aku hampir tak bisa menahan tawaku mendengar gagasannya yang menggelikan. Mengapa aku harus repot melakukan semua itu kalau Rara sudah tahu aku mencintainya? Aku bisa membayangkan pacarku yang meminta temannya ini untuk menyampaikan semua ide konyol itu padaku.

 

”Aku akan melakukan atau memberi apapun yang dimintanya, kalau aku bisa. Kau tak perlu memberitahuku apa yang harus kulakukan.” Aku berdiri untuk mengembalikan buku ke rak, sebenarnya aku hanya ingin menghindarinya.

 

”Baiklah, aku hanya memberi saran saja. Jangan menyesal kalau suatu hari nanti dia meninggalkanmu.” Gadis berambut panjang itu mengambil buku yang tadi kukembalikan lalu pergi ke meja pengawas untuk meminjamnya.

 

Meninggalkanku? Mengapa Rara ingin meninggalkanku? Tidak, itu tak mungkin terjadi. Hubungan kami baik-baik saja. Aku ingin bertanya pada gadis itu apa maksudnya, tapi dering bel tanda waktu istirahat selesai telah memanggilku kembali ke kelas.

 

---

 

#43

Kaulah pelangi setelah badai

Sepercik gerimis setelah kemarau panjang

Begitu dekat namun tak bisa kugapai

Satu bintang yang paling cemerlang

 

Peringatan Alena padaku saat istirahat terus menghantui pikiranku. Semua dugaan buruk menyerang otakku. Aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi saat menjawab soal ulangan biologi. Hingga akhirnya bel tanda pelajaran selesai telah berbunyi. Aku tak bisa menahan diri untuk bertemu Rara, maka aku segera mengunjungi kelasnya.

 

Syukurlah kekasihku tampak baik-baik saja. Dia tetap tersenyum gembira dan melambai pada teman-temannya yang beranjak pulang. Tunggu, apa itu yang dipegangnya? Sebuah karangan bunga lili!?

 

”Luigi, my honey! Maaf tadi ku gak sempat ke perpus soalnya mesti ngerjain tugas kelompok.” Dia berlari padaku sambil membawa setumpuk buku tebal di satu tangannya dan di tangan kirinya dia memeluk karangan bunga putih itu.

 

”Pilekmu sudah baikan?” aku menanyakan keadaannya.

 

”Sudah bos,” jawabnya riang. ”Terima kasih cinta. Ku suka banget sama bunganya.”

 

”Aku tak mengirim bunga untukmu,” jawabku singkat.

 

”Apa? Tapi aku menemukannya di atas mejaku, kupikir ini darimu,” Rara tampak kecewa. Aku mengedarkan pandangan mencari Alena, mungkin ini hasil perbuatannya, tapi sepertinya dia sudah pulang.

 

”Mungkin ada yang salah kirim, tapi tak ada yang memintanya kembali, kan? Simpan saja kalau kau mau,” kataku membuat senyum terkembang di wajahnya. Aku menawarkan diri membawakan buku-bukunya agar aku bisa menggenggam tangannya, berusaha sebisa mungkin tak mengacuhkan karangan bunga itu.

 

---

 

#51

Doakan aku

Aku berkarat

Sembuhkan aku

Aku sekarat

Hanya cintamu yang bisa jadi kekuatanku

Hanya kasihmu yang bisa menyelamatkanku

 

Saat ini seharusnya aku mendengarkan semua penjelasan dokter tentang penyakitku, tapi pikiranku sama sekali tak bisa terfokus. Yang bisa kudengarkan hanyalah: aku harus menjalani operasi untuk memotong sebagian otot jantungku, karena itu aku harus menginap beberapa hari di rumah sakit. Tampaknya operasi itu sangat beresiko, ada kemungkinan aku mati saat operasi, tapi kalau berhasil jantungku akan bisa berfungsi dengan baik seperti orang sehat lainnya.

 

Dalam perjalanan pulang ibu masih menawarkan pilihan lain yang lebih aman selain operasi walaupun aku tahu itu hanya harapan kosong. Aku tak tahu, aku bingung. Haruskah aku mengikuti operasi yang mungkin akan membunuhku? Atau haruskah aku tetap bertahan hidup bersama jantungku yang bermasalah ini dan mati perlahan-lahan?

Handphoneku berdering di tengah kebimbanganku. Nama pacarku tertera di layarnya.

 

”Halo Rara. Ada apa?” kataku menjawab teleponnya.

 

[...janganlah kau tinggalkan diriku...takan mampu menghadapi semua...hanya bersamamu ku akan bisa...]

 

”Halo?” aku kebingungan mendengar lagu itu.

 

[Halo cintaaa! Maaf, ku tadi lagi dengar radio. Waktu dengar lagu ini ku tiba-tiba ingin telepon kamu... Nngg, cinta lagi apa?]

 

Sekilas aku berpikir untuk membicarakan keadaanku ini dengan Rara. Tidak, sebaiknya dia tak tahu. Aku tak mau melihatnya bersedih dan mengkhawatirkanku sepanjang waktu. Maka aku berbohong, ”lagi belajar. Kenapa?”

 

[Oh, ya! Tadi siang kelas cinta ada ulangan biologi, ya? Soalnya tentang apa saja?]

 

Aku tersenyum mendengar suaranya yang panik, dia pasti belum belajar untuk ulangan besok. Aku memberitahunya bagian-bagian yang harus dia pelajari tanpa mengatakan soalnya secara langsung. Mungkin sebagian besar soal yang akan diberikan sama, tapi aku tetap tak setuju kalau dia harus menyontek atau berbuat curang dengan meminta soal atau jawaban ulangan dariku.

 

[Oke, oke. Aku mengerti. Makasih banyak cinta. Ku belajar dulu, ya. Semoga ku bisa hapal semuanya. Sampai besok, Luigi. I love you.]

 

”Selamat belajar, selamat malam.” Kututup teleponnya dengan wajah memerah karena senang. Hanya dengan mendengar suaranya aku sudah merasa lebih baik.

 

”Dari pacarmu yang itu?” tanya ibuku sambil mengendarai mobil ke arah garasi.

 

”Ya, dari Rara. Kenapa, Bu?”

 

”Tak apa-apa,” jawabnya singkat.

 

Aku tahu ibuku tak menyukai Rara walaupun dia tak pernah mengatakannya secara langsung. Mungkin dia berpikir aku tak serius pada Rara dan akan segera memutuskannya, tapi itu takan pernah terjadi. Aku mencintainya, sudah kuputuskan akan mengikuti operasi itu. Aku ingin bertahan hidup selama mungkin, menyelesaikan pendidikanku, dan membangun keluarga bersama Rara. Aku takan menyerah.

 

---

 

#84

Indah sentuhanmu mewarnai hariku

Manis senyummu menerangi duniaku

Merdu langkahmu merangkai harapan

Harum kata-katamu mengukir kenangan

Sempurna caramu mengakhiri hidupku

 

”Bukankah sudah kubilang kau harus lebih memperhatikannya?” Alena datang menggangguku lagi. Entah apa lagi yang akan dilakukannya kali ini untuk membuatku kesal. Aku pura-pura tak mendengarnya dan meneruskan membaca novel.

 

Dia jadi kesal dan merebut buku itu dariku. ”Dasar bodoh! Karena kau terus mengurung diri di sini, kau tak tahu kalau Rara sudah menduakanmu!” serunya menuai protes dari pengunjung perpustakaan yang menuntut ketenangan.

 

Aku menatap gadis itu tak percaya. Rara selingkuh? Itu tak mungkin!

 

”Kalau tak percaya lihat saja sendiri. Ayo ikut aku!” dia langsung menarik tanganku keluar perpustakaan.

 

Aku mengikutinya menyusuri koridor, tercabik antara rasa penasaran dan amarah. Pacarku tak mungkin mengkhianatiku, gadis ini pasti sedang mengerjaiku lagi. Ketika kupikir kami sedang menuju ke kelasnya, Alena malah berbelok ke lapangan, terus berjalan ke sudut yang terlindungi pepohonan dan semak.

 

Mereka ada di sana, Rara dan seorang pria yang tak kukenal. Sebuah rangkaian bunga lili putih di tangannya, dan rambut ikalnya yang tertiup angin menutupi wajahnya. Meskipun dari kejauhan aku bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Pria itu mencium bibirnya.

 

”Luigi...” sentuhan Alena di bahuku menyadarkanku.

 

Aku segera berbalik meninggalkan mereka, berlari sejauh mungkin. Aku tak bisa berpikir, dadaku terasa panas dan sesak. Menyakitkan. Samar kudengar suara Rara dan Alena yang mengejarku. Aku tak berhenti, aku harus ke ruang kesehatan. Tiba-tiba kedua kakiku kehilangan kekuatannya, aku jatuh. Dengan cepat rasa sakit di jantungku menarik semua kesadaranku ke dalam kegelapan.

 

---

 

#85

Salahkah aku mencintaimu

Saat kau tak mencintaiku

Salahkah aku mengharapkanmu

Saat kau meninggalkanku

Hatiku menjerit memanggil namamu

Jiwaku, ragaku, semangatku

Musnah dalam kehampaan bersamamu

 

Rasanya seperti keajaiban saat pertama kali Rara mengatakan menyukaiku. Saat itu aku belum tahu apa itu cinta, meskipun aku sering menemukannya di dalam buku dan banyak orang sering menyebutkannya, artinya tetap jadi misteri bagiku. Sejak saat itu hidupku jadi tak tenang karena tak bisa menemukan penjelasan masuk akal tentangnya. Hingga akhirnya aku menyerah, membiarkan gadis itu mengajariku tentang cinta, tentang perasaan aneh yang mengikat hubungan antar manusia. Dan jawabannya jadi jelas, aku juga menyayanginya, sangat mencintainya.

 

Kini perasaan itu benar-benar menghancurkanku. Aku sangat marah dan kecewa dan kesal karena gadis itu telah mengkhianatiku, mempermainkanku, membagi cintaku dengan pria lain. Berkali-kali Rara mencoba menghubungiku, mengirimkan pesan bahwa semua yang kulihat hanya salah paham. Tapi aku tak bisa mempercayainya lagi, Alena telah memberitahuku semua hal yang dilakukannya di belakangku. Ternyata mantan pacarku itu sering mempermainkan pria yang tak laku atau pendiam sepertiku. Namun kali ini dia berhasil mendapatkan siswa yang paling populer di sekolah, itu artinya aku akan dicampakan. Aku hanya salah satu boneka cintanya.

 

”Hai Luigi, bagaimana keadaanmu?” Alena tiba-tiba masuk dalam kamarku. Aku heran mengapa ibuku mengijinkannya. Beberapa hari berlalu sejak aku pingsan di sekolah, gadis jangkung itu selalu menyempatkan diri mengunjungiku sambil membawa catatan pelajaran dan tugas.

 

”Buruk,” jawabku singkat. Sebenarnya kondisiku sudah mulai membaik, tapi aku tak mau pergi ke sekolah karena tak ingin bertemu dengan gadis itu.

 

”Lihat, aku bawa beberapa buku dari perpustakaan. Apa kau suka nonton film? Aku juga menyewa film dokumenter tentang alam,” katanya ceria. Kebetulan sekali aku ingin membaca buku baru dan menonton film itu, bagaimana dia bisa tahu kesukaanku?

 

”Terima kasih...”

 

Alena menatapku dalam diam, harus kuakui dia memiliki mata yang indah. Tapi aku tak berani memandangnya, pancaran dari tatapan matanya sama seperti yang sering kulihat dalam mata gadis itu.

 

”Kudengar dari ibumu kau akan mengikuti operasi yang berbahaya. Mengapa kau tidak menunggu donor jantung saja?” tanyanya tiba-tiba.

 

Aku hanya mengangkat bahuku tak peduli, ”dokter yang bilang begitu. Aku juga tak mau menunggu sampai jantungku benar-benar rusak.”

 

”Oh, begitu... Kau tidak sedang mencoba bunuh diri dalam operasi itu, kan?” pertanyaannya sungguh di luar dugaan.

 

”Mengapa aku ingin bunuh diri?” Aku mengerutkan kening tak mengerti apa maksudnya.

 

”Yaah, kau tahu... tentang Rara...” jawabnya ragu.

 

”Keputusanku untuk mengikuti operasi itu tak ada hubungannya dengan Rara. Dan aku juga tak sedang mencoba bunuh diri. Aku baik-baik saja. Mengapa aku harus membuang nyawaku hanya karena dia?” amarah kembali merasukiku tiap kali seseorang menyebut nama gadis itu.

 

”Maaf, aku tak bermaksud...” kalimatnya terpotong oleh bunyi dering handphoneku.

 

”Siapa?!” kujawab telepon itu tanpa memeriksa layarnya.

 

[Luigi... Ha-halo...]

 

Rara! Gadis itu... mengapa dia tak pernah lelah menggangguku? Apakah karena dia kesal aku memutuskannya lebih dulu sebelum di mencampakanku? Apakah karena aku telah menyakiti harga dirinya sebagai pemain cinta?

 

”Maaf, salah sambung...” kataku berusaha menutup teleponnya.

 

[Tu-tunggu! Aku hanya ingin tahu keadaanmu...]

 

”Aku baik-baik saja! Tolong jangan ganggu aku lagi! Terima kasih!” jawabku kesal. Aku langsung melemparkan benda elektronik tak bersalah itu ke dinding, menghancurkannya.

 

Sial! Dadaku sakit lagi! Jeritan Alena kembali mengiringiku menuju kegelapan...

 

---

 

#106

Dan bila suatu saat kita tak bisa menyatu

Biarkan aku hidup dalam ingatanmu

Menemani harimu temukan kebahagiaan

Yang selamanya takan jadi milikku

Selamat tinggal...

 

”Ah... dia sudah sadar...” suara ibu terasa bergema dalam kepalaku. “Luigi...”

 

Kubuka mataku perlahan, akhirnya aku bisa melihat wajah ibuku dengan jelas. Di sampingnya ada seorang pria berjas putih, dia dokterku. Dan jauh di belakang kurasa aku melihat gadis itu...

 

“Operasinya berhasil, Nak. Kau sudah sembuh...” ibu menangis terharu. Dokter itu mengangguk membenarkan.

 

“Apa...? Apa yang terjadi?” tanyaku dengan suara parau. Secara tak sadar kusentuh dadaku yang dibalut perban, detak jantung di dalamnya terasa asing bagiku.

 

”Beberapa hari yang lalu kondisimu sangat kritis, jantungmu berhenti berfungsi, untungnya kami menemukan donor yang cocok untuk transplantasi jantung, operasinya berhasil dengan baik, setelah beberapa hari istirahat kau sudah bisa beraktifitas seperti biasa,” jelas dokter itu. Jadi... jantung yang sekarang berdetak dalam dadaku adalah milik orang lain?

 

”Terima kasih, Dokter.”

 

”Kau juga sudah berjuang sayang, syukurlah...” ibu memelukku, tangisannya tak berhenti. Saat itulah aku baru menyadari kehadiran Alena di belakang mereka.

 

”H-hai...” sapanya hampir tak bisa kudengar.

 

”Oh, Alena. Sini sayang. Alena selalu menunggu dan sangat mengkhawatirkanmu, Luigi. Dia gadis yang baik,” kata ibu sambil menariknya mendekati ranjangku. ”Ibu keluar sebentar, mau mengurus administrasi. Tolong jaga Luigi,” lanjutnya sambil berjalan keluar bersama dokter. Entah kenapa aku mendapat kesan dia sengaja membiarkanku berduaan dengan Alena.

 

”Selamat, ya,” ucap gadis itu setelah ibu menutup pintu. ”Aku takut sekali... kupikir kau akan... Tapi kau sudah sehat sekarang, syukurlah.” Aku malah tak bisa menangkap rasa bersyukur dari kata-katanya. Dia tampak ketakutan seperti menyembunyikan sesuatu yang penting dariku.

 

”Ada apa? Mengapa kau gugup?” Aku terkejut saat dia mulai terisak.

 

”Maaf... maafkan aku... Aku tak bermaksud... Aku benar-benar tak menyangka akan jadi seperti ini...” air matanya mengalir deras. Firasat buruk menyerangku.

 

”Apa yang terjadi?”

 

”Rara... dia meninggal... Saat mendengar kau terkena serangan jantung dia langsung kesini... lalu sebuah truk menabraknya... dia tak bisa diselamatkan lagi... jadi atas permintaannya, mereka memakai jantungnya untuk operasimu...” jawab Alena tak berani menatapku.

 

Jantungku... jantung pinjaman ini terasa berhenti berdetak untuk sesaat. Tidak mungkin. Rara sudah meninggal? Jantung di dalam dadaku ini adalah miliknya?

 

”Lalu kenapa? Tak perlu minta maaf, itu memang sudah takdirnya. Inilah akibatnya karena dia telah mempermainkan hati banyak orang...” kataku berusaha menutupi keterkejutanku.

 

Benar, dia bukan pacarku lagi, apapun yang terjadi padanya bukan urusanku lagi. Aku memang merasa sedih, dan aku berterima kasih atas jantungnya, tapi rasaku takan lebih dari itu. Tidak lagi. Salahnya sendiri kalau ternyata dia berusaha bunuh diri untuk memberiku jantung ini...

 

”Tidak, ini memang salahku... Aku kesal karena dia merebutmu dariku, padahal aku yang lebih dulu menyukaimu... Lalu tiba-tiba Rara bilang dia jadi benar-benar suka padamu... Aku sangat membencinya, jadi aku minta bantuan playboy itu untuk merayunya, tapi dia tetap tak mau mengkhianatimu dan putus darimu... Maka aku terpaksa menjebak kalian agar kau memutuskannya... agar kau membencinya... lalu aku akan bisa mendapatkanmu kembali... Tapi... tapi...” gadis itu menyembunyikan tangisannya di balik tangan dan rambut panjangnya.

 

”Jadi begitu... Tenanglah, itu bukan salahmu. Kalian tidak membunuhnya, dia meninggal karena kecelakaan, kan? Sekarang pergilah... tinggalkan aku sendiri,” aku berusaha tenang dan sebisa mungkin tak menyalahkan Alena atas semua kejadian ini.

 

”Luigi... maafkan aku...”

 

”Pergilah!”

 

Akhirnya gadis itu mengerti dan segera pergi. Meninggalkanku bersama semua kesedihan, penyesalan, dan segala kenangan indah tentang mantan kekasihku...

 

---

 

#108

Kau tak lagi di sini

Kau telah pergi

Kini ku sendiri

Hidupku terasa sepi

Semangatku telah mati

Waktuku telah berhenti

Tenggelam dalam mimpi

Ditelan ilusi dan halusinasi

 

”Semua ini adalah kesalahanku, karena aku tak pernah memberitahumu betapa aku sangat mencintaimu. Kebaikan dan perhatianku tak pernah cukup untuk membalas semua yang telah kau tunjukan padaku. Kehidupan, semangat, harapan, kasih, seharusnya aku tahu kaulah sumber kebahagiaanku. Tapi semua itu takan ada artinya lagi.”

 

Aku menertawakan diriku sendiri yang sedang berbicara seperti orang gila di depan makam Rara. Seharusnya aku mengikuti saran Alena sejak dulu, seharusnya aku lebih banyak menunjukkan rasa sayangku dan meluangkan lebih banyak waktu bersamanya, seharusnya aku mendengarkan semua permintaan dan keresahannya, seharusnya aku memberinya kesempatan menjelaskan semua kesalahpahaman itu, dan banyak lagi ’seharusnya’ yang hanya bisa kusesali.

 

”Selamat tinggal, Rara. Sampai jumpa lagi...”

 

Aku berlutut dan membelai nisannya, kemudian kuletakan seikat bunga lili putih kesayangannya bersama sebuah buku tulis berwarna hitam. 1000 Puisi untuk Rara, judul yang sangat bodoh itu tertera di sampulnya. Sebenarnya aku sudah mulai menulisnya sejak Rara jadi pacarku, tapi aku terlalu malu untuk menunjukkan puisi-puisi tak romantis itu pada siapapun, dan bermaksud memberinya sebagai hadiah kejutan untuk Rara suatu hari nanti, mungkin ketika jumlahnya benar-benar mencapai 1000. Namun aku bahkan tak bisa menyelesaikan separuhnya, inspirasiku telah mati.

 

”Terima kasih atas semuanya, maafkan aku...” rasanya aku enggan meninggalkan tempat itu meskipun aku tahu memandangnya sepanjang hari takan membuat Rara hidup kembali.

 

Kukira gerimis memercik di tengah terik siang ini, tapi ternyata air mataku yang membasahi pipiku. Cairan bening itu terus mengalir tanpa bisa kuhentikan, seolah mata air dalam diriku meledak keluar dan tak akan pernah kering. Aku tersungkur dan membenamkan seluruh wajahku di atas makamnya. Aku tak bisa menahan suara isakan dari paru-paruku, aku terus menangis seperti bayi, membiarkan semua duka yang telah kusimpan selama beberapa hari ini melimpah ruah.

 

Deg... deg... deg....

 

Jantung Rara berdetak sangat cepat, seperti yang dulu biasa dilakukan jantungku ketika berhadapan dengan pemilik jantung ini. Debarannya terus berpacu dalam kecepatan tinggi. Kesadaranku seolah berlari dan berlomba bersamanya, lalu terbang dan meluncur ke dalam cahaya. Sinar yang sangat menyilaukan tapi terasa hangat, tempat aku bisa bertemu dengan kekasihku sekali lagi...

 

---

 

#117

Apa yang bisa kulakukan tanpamu?

Jantungku tak bisa berdetak tanpamu

Aku takan bisa jauh darimu

Aku tak bisa membiarkanmu pergi

Biarkan aku membawamu kembali

Walau hanya dalam anganku

 

”Mimpi buruk?”

 

”Ng? Yaah, mimpi yang aneh,” aku tersenyum melihat gadis berambut ikal itu menggenggam tanganku di sisi ranjang.

 

”Mimpi apa? Ceritakan padakuuu,” pinta Rara dengan manja. Mata hitamnya berkilau indah.

 

Aku berusaha duduk dan memulai ceritaku, ”aneh sekali, mereka memberitahuku kau sudah meninggal, dan jantungmu dipakai untuk menggantikan jantungku...”

 

”...aku pasti akan melakukan itu untukmu cinta,” kata pacarku bersungguh-sungguh. ”Lalu apa yang terjadi?” tanyanya ketika sadar dia telah menyela ceritaku.

 

”Yaah, tak ada yang terjadi. Maksudku aku sangat sedih, aku sampai menangis di depan kuburmu,” wajahku memerah lagi karena malu, untungnya kali ini jantungku tak berdebar menyakitkan seperti biasanya.

 

”Apakah itu artinya kau memaafkanku?” pandangan Rara berubah jadi sendu.

 

”Memaafkan apa?” tanyaku bingung.

 

”Maaf karena aku membiarkan diriku sendiri terjebak dalam perangkap Alena, maaf karena kau harus menderita karenaku, maafkan aku... karena tak mencintaimu sejak awal...” Aku bisa melihat penyesalan dalam matanya. Dia tak perlu meminta, aku telah memaafkan semuanya.

 

”Aku memaafkanmu,” jawabku menularkan kelegaan padanya. ”Maafkan aku juga, karena tak percaya padamu.”

 

”Tentu saja, aku memaafkanmu,” serunya ceria. ”Oh, ya. Apa kau lapar? Aku akan mencari makanan untukmu.” Rara beranjak pergi namun aku segera menahan pergelangan tangannya.

 

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku...”

 

Gadis itu tersenyum manis lalu kembali duduk di samping ranjangku.

 

”Terima kasih, Rara. Seharusnya aku mengatakan ini sejak dulu... Aku mencintaimu, sejak dulu sampai selamanya, aku sangat mencintaimu.”

 

”Pssstt... aku tahu,” dia membelai pipiku dan menutup bibirku dengan ibu jarinya. ”Aku juga sangat mencintaimu, Luigi. Aku takan pernah meninggalkanmu lagi. Lagipula aku tak mungkin mati dua kali, kan?”

 

”Tidak! Kau tak boleh mati sebelum membantuku menyelesaikan kumpulan puisi itu,” kataku sambil mengarahkan pandangan ke buku tulis berwarna putih di atas meja yang bertuliskan 1000 Puisi untuk Kekasihku di sampulnya.

 

”Ah! Luigi curang! Padahal kau yang seharusnya menyelesaikan puisi itu untukku,” sahut Rara cemberut, tapi sedetik kemudian dia tertawa. ”Baiklah, kalau kau memaksa. Aku akan menulis lagu kesukaanku di sini.”

 

”Jangan! Itu hanya untuk puisi saja.” Aku ikut tertawa dan segera bangun untuk merebut buku itu darinya. Rasanya ajaib karena seluruh tubuhku terasa segar, jantungku terasa sehat, berdetak teratur sesuai nada kegembiraanku, diiringi nyanyian kekasihku yang penuh dengan kebahagiaan.

 

#119

Aku mencintaimu meski waktu berlalu

Aku mencintaimu walaupun dunia berubah

Tak ada yang bisa menggantikanmu

Bahkan kau pun tahu itu

 

Aku mencintaimu sepanjang waktu

Aku tak bisa hidup sedetik pun tanpamu

Aku tak bisa bernapas tanpamu

Aku akan mencintaimu selamanya

 

Aku mencintaimu walau ribuan tahun berlalu

Seperti bintang yang menerangi malammu

Walaupun aku harus terlahir kembali

Aku hanya bisa mencintaimu seperti ini

Aku mencintaimu…

(Love 119 — K.will feat. MC Mong)

Read previous post:  
50
points
(3263 words) posted by yellowmoon 3 years 21 weeks ago
71.4286
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | just be friends-megurine luka | songfic | teman
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer may.eriska
may.eriska at 1000 Puisi Untukmu (2 years 10 weeks ago)

penggabungan puisi and story yaaa...bagus, penggabungan genre. Aku suka cerita yang sad ending. #walaupun aku perempuan aku suka cerita yang berakhir 'kejam' dan permainan yg 'kejam'

Writer gadek_mpl@yahoo.com
gadek_mpl@yahoo.com at 1000 Puisi Untukmu (3 years 13 weeks ago)

hemm

Writer yellowmoon
yellowmoon at 1000 Puisi Untukmu (3 years 13 weeks ago)

?

Writer sepuluhjari
sepuluhjari at 1000 Puisi Untukmu (3 years 13 weeks ago)
80

selesaikan 1000 puisi nya . .

terimakasih atas ceritanya yang keren . . .

Writer yellowmoon
yellowmoon at 1000 Puisi Untukmu (3 years 13 weeks ago)

wew, saya bisa benar2 mati kalau ada yg meminta saya menulis 1000 puisi cinta, karena saya memang tak pandai membuat puisi, haha
terima kasih sudah bersedia membaca cerita ini ^__^

Writer dansou
dansou at 1000 Puisi Untukmu (3 years 13 weeks ago)
80

Rara enggak mati, deh kak Cat :D. Tapi menurut saya, cerita ini terlalu nanggung :( Rasanya kurang detil aja
.
Dan soal tulisan, banyak penggunaan huruf kapital yang belum tepat.
.
Anyway, good luck ^^

Writer yellowmoon
yellowmoon at 1000 Puisi Untukmu (3 years 13 weeks ago)

sebenarnya utk cerita ini memang ada 2 versi ending, saya nekat memasukan keduanya
cerita romantis memang bukan keahlian saya ^__^a
terima kasih

Writer cat
cat at 1000 Puisi Untukmu (3 years 13 weeks ago)
80

Ikutan ACR juga yah???

Ada kirim ke email??

Hikz kenapa mati Raranya. Aku tidak mauuuu. Sad ending sad ending sad ending.

Writer yellowmoon
yellowmoon at 1000 Puisi Untukmu (3 years 13 weeks ago)

apakah cerita romantis harus happy ending?
tidak, saya hanya mencoba saja, tidak saya kirimkan, lagipula waktunya sudah lewat ^__^a