Children of The Apocalypse - Rise of The Ancient (BAB I)

Chapter 1 : Prolog

 

            Para malaikat adalah tentara Tuhan, mereka berperang melawan iblis, menghantarkan orang benar ke surga dan orang berdosa ke alam bawah tanah (neraka) serta mencatat amal perbuatan manusia sepanjang hidup mereka. Cerita ini adalah cerita turun temurun yang akan diceritakan oleh para orangtua pada anak-anak mereka, para pastor dan pendeta pada umat mereka, serta para imam pada jamaahnya.

            Ada legenda menyatakan bahwa malaikat yang dibuang dari surga akan menjadi iblis tapi ada juga yang menyatakan bahwa iblis dan malaikat adalah entitas yang berbeda. Baiklah kini aku ceritakan saja salah satunya.

            Dahulu ada seorang malaikat bernama Lucifer (Sang Bintang Fajar), ia adalah salah satu dari para archangel yang melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Setiap hari ia akan berkeliling bumi sambil memuji-muji kebesaran Tuhan karena telah menciptakan bumi dengan segala keindahannya. Sampai kemudian Tuhan memutuskan menciptakan suatu ciptaan-Nya yang paling baru, yakni manusia.

            Lucifer tidak terima jika Tuhan menciptakan manusia, karena itu ia pergi meninggalkan surga bersama para legiun[1]nya dan menciptakan suatu tempat bernama neraka. Ia sempat kembali ke surga dan menjerumuskan manusia pertama ke dalam dosa, membuat mereka dijatuhkan dari surga dan harus membanting tulang di bumi. Pada saat mereka dibuang dari dalam surga maka menangislah Mikael, salah satu dari para archangel. Air matanya yang jatuh ke tanah surga menciptakan sesosok monster raksasa bersayap namun berwibawa dan penuh keagungan surgawi, makhluk ini kelak akan disebut dengan Cerubhim. Cerubhim menjaga pintu gerbang surga supaya kelak, baik iblis, Lucifer, maupun manusia yang hendak menerobos masuk surga tidak akan pernah bisa masuk dengan mudah.

            Beberapa abad berlalu, struktur hierarki malaikat pun berubah, jika semula archangel adalah posisi tertinggi di surga, maka Tuhan mengangkat 7 dari 14 archangel yang ada menjadi Grigori, Grigori memiliki posisi dan kuasa yang lebih tinggi daripada archangel. Selama beberapa abad itu jugalah manusia terjebak dalam kebudayaan yang stagnan. Mereka makan dengan cara berburu, sehingga jika musim dingin tiba banyak sekali manusia yang meninggal, kelakuan mereka kanibal dan jarang sekali para malaikat mendengar doa puji-pujian sampai di surga. Para Grigori melihat hal tersebut dan kemudian meminta izin pada Tuhan untuk turun ke bumi dan membantu manusia dan mengajari manusia berbagai pengetahuan. Pada awalnya Tuhan mengizinkan dengan catatan, para Grigori hanya boleh tinggal selama 10 tahun di dunia manusia dan tidak boleh memiliki keturunan dengan manusia. Setelah mendapat izin maka Shamyaza, pemimpin dari semua Grigori mengambil kitab Enoch, kitab dari segala pengetahuan yang telah ada dan akan ada di dunia manusia.

            Para Grigori pun turun ke dunia manusia, 7 Grigori tersebut adalah Shamyaza, Kabaiel. Araqiel, Ramiel, Gadriel, Shamziel, dan Suriel. Selain nama-nama di atas ada 7 malaikat lagi yang merupakan ‘ajudan’ dari para Grigori, mereka adalah Armaros, Baraqel, Bezaliel, Chazaqiel, Azazel, Abaddon dan Penemue. Di bumi mereka mengambil wujud para manusia, ada yang mengambil wujud laki-laki, ada pula yang wanita. Setiap Grigori memiliki kemampuan khusus, spesifik pada keahliannya sehingga setiap Grigori mengajarkan pengetahuan yang berbeda pada manusia.

            Shamyaza mengajarkan manusia bagaimana cara menyembah Tuhan yang benar, bagaimana seharusnya manusia berperilaku antar sesamanya, serta bagaimana seharusnya suami bersikap pada istri dan begitupun sebaliknya. Kabaiel mengajarkan manusia mengenai astrologi, gerhana bulan, gerhana matahari, dan tentu saja mengenai matahari. Araqiel mengajarkan manusia tentang bumi, mengenai bencana alam dan cara mengatasinya, juga cara bercocok tanam yang benar. Ramiel mengajarkan manusia tentang kehidupan sesudah mati, mengenai dosa dan konsekuensinya serta turut pula mengajarkan tentang sihir dan manipulasi energi. Gadriel yang anggun, dengan kecantikan yang akan membuat Venus sekalipun cemburu mengajarkan manusia membuat senjata, pakaian dan kosmetik bersama-sama dengan Azazel. Shamziel bersama-sama dengan Kabaiel mengajarkan manusia tentang matahari dan siklus-siklusnya (4 musim). Suriel mengajarkan manusia tentang bulan, serta kekuatan sihir yang dapat mereka gunakan menggunakan kekuatan bulan. Armaros mengajarkan manusia bagaimana menempa senjata dan perhiasan dari logam. Baraqel mengajarkan astrologi bersama Kabaiel. Bezaliel mengajarkan manusia mengenai bahasa dan sastra bersama Penemue. Chazaqiel mengajarkan manusia mengenai cuaca, kapan terjadinya musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin serta kapan terjadinya hujan. Abaddon sendiri bertugas sebagai penjaga manusia yang diberi pengetahuan oleh Para Grigori dari ancaman iblis dan sekutu-sekutunya. Bersama mereka turut pula 200 malaikat pilihan dari surga.

            Iblis yang lama berdiam dalam neraka merasakan adanya gejolak di bumi. Suatu energi yang ia kenali sebagai energi milik para Grigori. Maka ia memanggil tiga malaikat kepercayaannya: Sammael, Terafim, dan Lilith. Adapun Lilith pada awalnya adalah manusia pula, ia adalah istri pertama Adam, diciptakan dari debu tanah layaknya Adam namun menolak memberi Adam keturunan dan lebih memilih menjadi mempelai iblis yang ia rasa derajatnya lebih tinggi daripada Adam. Adapun ketiga malaikat yang telah menjadi iblis itu disebut archdemon oleh para Grigori. Para archdemon diberi tugas oleh Lucifer untuk mencari tahu ada apa gerangan sehingga Grigori turun ke dunia manusia.

            Maka naiklah ketiga archdemon tersebut ke permukaan. Di sana mereka dapati bahwa Grigori sedang mengajarkan pengetahuan-pengetahuan surgawi pada manusia. Melihat hal itu mereka melapor pada Lucifer tentang apa yang mereka lihat. Maka timbullah rasa tidak senang Lucifer melihat ada malaikat yang datang mencampuri skenarionya membuat dunia yang penuh kekacauan dan dosa. Namun ia tidak berani bertindak apa-apa karena Grigori jauh lebih kuat daripada dirinya. Sekalipun ia dahulu adalah archangel, tidak ada apa-apanya kekuatan yang ada padanya jika ia melawan Grigori sekarang.

            Sembilan tahun sudah sejak para Grigori turun dari surga dan mengajari manusia aneka pengetahuan. Pada masa itulah manusia memiliki kebudayaan yang amat tinggi dan norma-norma yang menjadi cikal bakal hukum yang berlaku pada saat ini. Namun karena sudah 9 tahun hidup tanpa pengawasan Tuhan dan disembah sebagai Tuhan oleh kebanyakan kaum manusia. Maka muncullah keangkuhan yang sama seperti Lucifer pada seluruh Grigori yang ada di bumi ini. Mereka dan legiunnnya mulai senang disembah sebagai dewa-dewi. Mereka bahkan banyak yang mengambil manusia sebagai pasangan hidup mereka dan menghasilkan keturunan yang disebut ‘Nephilim’. Nephilim merupakan manusia separuh malaikat, mampu melakukan hal-hal di luar nalar manusia normal. Kaum masyarakat yang hidup pada masa itu menceritakan kehebatan mereka sebagai manusia setengah dewa dan dari sanalah lahir cerita-cerita mitologi semacam Hercules, Artemis, Achilles dan sebagainya.

            Pada tahun kesepuluh, Tuhan mengutus Uriel turun melihat kondisi Grigori dan manusia-manusia yang ada di bumi. Uriel pun turun dan alangkah terkejutnya ia melihat kehadiran para Nephilim. Para Nephilim memandang Uriel dengan pandangan tidak suka saat ia pertama kali memasuki kota, dan Uriel pun juga tidak suka dengan kehadiran Nephilim. Baginya kelakuan Grigori yang mengambil manusia sebagai pasangan hidup mereka itu sudah keterlaluan. Maka kembalilah ia ke surga bahkan sebelum ia sempat berbicara dengan para Grigori.

Uriel melaporkan segala yang ia lihat pada Tuhan dan bangkitlah murka Tuhan pada Para Grigori. Maka Tuhan pun memanggil Mikael dan bersabda, “Mikael, kau dan pasukanmu kini Kuberikan kekuatan untuk melampaui kekuatan Para Grigori yang sudah mengkhianati-Ku. Musnahkanlah mereka semua tetapi tentang keturunan mereka, biarkanlah mereka hidup layaknya manusia keturunan Adam dan Hawa lainnya,”

            Sesudah itu turunlah 7 archangel dari surga beserta 100000 bala tentara surga menyerbu kediaman para Grigori dan manusia-manusia yang menyembah mereka. Dan kali ini para archangel dan bala tentaranya terlibat pertempuran dahsyat. Para Grigori kalah jumlah dan akhirnya seluruhnya terbunuh kecuali Shamyaza dan Abaddon. Abaddon dibelenggu oleh Raphael dan dikurung dalam batas dua dunia, bumi dan neraka. Sementara Shamyaza menghilang entah ke mana.

            Para Grigori memang mati namun tidak mati. Jiwa mereka mengembara mencari tubuh baru dan mengalami reinkarnasi berkali-kali untuk mengembalikan kekuatan dan keabadian mereka. Sementara di bekas medan perang ada salah satu malaikat bala tentara Grigori, berwujud wanita berambut putih dan berelemen es. Ia disebut Skadi, yang kelak akan disembah sebagai dewi musim dingin Bangsa Norwegia. Skadi mengumpulkan bala tentara Grigori yang tersisa dan meminta mereka mengawasi alur reinkarnasi para Grigori dan saudara-saudari mereka yang telah gugur supaya kelak dapat berhadapan kembali dengan para archangel.

 

******

            Namaku Kosmas Sugeng Rahadi, pelajar SMA biasa, dengan kemampuan akademis biasa-biasa saja yang tinggal di Kota Malang. Diriku adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ayah kami sudah meninggal sejak diriku berusia 12 tahun, dan ibu kami harus menghidupi empat orang anak dengan bekerja sebagai dosen honorer dan tentor kursus.

            Pagi ini adalah hari Minggu pertama sesudah UAN SMA berakhir. Aku memilih tidur di kamarku yang dimasuki berkas-berkas sinar matahari pagi yang hangat. Udara malam kemarin sangat dingin sehingga memaksaku meringkuk dalam selimut tebal, bahkan setelah pagi kehangatan sinar mentari yang menerobos masuk ke dalam kamarku belum dapat melunturkan dinginnya suhu udara kamarku ini. Apa boleh buat karena ini adalah kota Malang, kota yang terkenal akan suhu dinginnya akibat letaknya yang berada 500 meter di atas permukaan laut ini.

            Saat aku masih asyik-asyiknya menikmati suasana hangat dalam selimut ini pintu kamarku tiba-tiba terbuka dan sesosok pria ceking berkaos hitam serta bercelana jeans pendek dengan wajah tirus yang tak lain adalah kakak ketigaku, Leo Wijaya Mistrah mendekatiku dan menyerahkan selembar kertas dan selembar uang seratus ribu padaku.

            “Apa ini?” tanyaku.

            “Mama suruh kamu belanja ke pasar sekarang,” jawab kakakku ini.

            “Memangnya Mas Mistrah tidak bisa ke pasar sendiri?”

            “Lho, yang disuruh kan kamu?”

            “Alaaa, saya sudah hafal kelakuannya Mas. Mas disuruh Mama ke pasar bukan tapi tidak mau.”

            “Hehehehe, memang benar.”

            “Kenapa nggak minta Mbak Erma saja yang belanja?”

            “Dia sudah pergi kerja, hari ini dia bertugas menjaga toko.”

            “Malangnya Mbak Erma mendapatkan suami yang tidak bertanggung jawab,” ledekku pada kakak ketigaku yang pelukis ini.

            “Halah, sudah cepat sana pergi belanja. Nanti Mama marah lho!”

            “Siapa yang giliran masak hari ini Mas?”

            “Mas Theo,” jawab kakakku ini menyebutkan nama kakak sulung kami.

            Aku mengenakan jaket dan celana training lalu bergegas menuju pasar yang berada sekitar 300 meter dari tempatku tinggal. Sebenarnya ini bukanlah pasar sungguhan melainkan hanya sebuah ruas jalan yang saban harinya dari pukul 08.00 hingga 11.00 dipadati para pedangang sayur mayur, daging, serta makanan. Di ruas ini juga terdapat tiga toko kelontong yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Kulihat kertas catatan yang kubawa dari rumah dan di sana kubaca aku harus membeli sekarung beras ukuran 5 kg.

            “Bagus! Berat deh bawa belanjaan sampai rumah. Dasar Mas Wijaya sialan!” umpatku sebal.

            Aku berjalan menuju toko kelontong terdekat dan membeli satu karung beras ukuran 5 kg dan sesudah itu aku membeli barang-barang lain yang ada di daftar belanjaan tersebut. Kulirik jam tanganku, waktu  masih menunjukkan pukul 08.00, artinya aku harus segera kembali dan menyerahkan belanjaan ini pada kakak sulungku supaya ia tidak terlambat membuat sarapan.

            “Oke, semuanya sudah,” gumamku setelah selesai mencocokkan daftar belanja dengan barang yang kubeli untuk terakhir kalinya. Aku pun segera melangkahkan kaki pulang kembali ke rumahku.

            Aku tiba di rumahku pukul 08.15, di sana aku langsung menuju dapur dan mendapati seorang pria berusia 30 tahunan berambut ikal dan bertubuh atletis sedang mengupas wortel dan daun prei dengan kecakapan yang luar biasa. Ialah Theodorus Santoso, kakak sulung kami. Aku mendekatinya dan berkata, “Ini belanjaannya Mas.”

            “Eh Kosmas, kok kamu yang beli?”

            “Biasaaaa! Saudara kita Sang Pelukis Besar itu sedang membuat ‘masterpiece’ baru dan tidak ingin konsentrasinya diganggun dengan masalah belanja ke pasar.

            “Hahahahaha, tapi mbok ya jangan gitu banget ah. Lama-lama anak itu jadi asosial deh. Oalah-oalah, jan cah gemblung!”

            Aku tersenyum saja dan segera naik kembali ke kamarku di lantai dua. Di seberang kamarku kulihat kakak ketigaku sedang sibuk mencampurdukkan warna dalam sebuah kanvas untuk nantinya akan menjadi sebuah bentuk abstrak yang bahkan kami sebagai saudara-saudaranya kadang tidak bisa mengerti makna dari lukisannya itu.

            Aku berseru pada kakakku itu, “Hei Mas. Ndang mandi lalu siap-siap sarapan!”

            “Halah, nanti saja Dik!”

            “Hari Minggu kok masih melukis saja?”

            “Pesanan orang Dik!”

            “Halah, ngomongnya pesanan orang, padahal entar juga dipajang di galeri. Mbok ya buat lukisan realis deh sekali-sekali.”

            “Seninya nggak ada, Dik!”

            “Patung tanah liat deh! Biar laku dijual!”

            “Kamu ini kok ngganggu saja?”

            “Pembalasan karena mengganggu tidur saya!” ledekku lagi sebelum kakakku ini melemparku dengan sebuah penghapus whiteboard.

            Aku tertawa-tawa saja melihat reaksi kakakku ini. Menyenangkan sekali mengisenginya. Saat aku sudah selesai mandi dan berpakaian aku langsung turun ke bawah dan kulihat Mas Theo masih menanak nasi. Aku tak mau menanyakan pertanyaan bodoh, “Apakah sarapan sudah siap atau belum?” karena itu aku memutuskan pergi ke halaman samping rumah kami.

            Di sana aku lihat ibuku sedang bermain-main dengan cucunya, Tia. Tia adalah anak dari kakak ketigaku. Tia sebenarnya adalah anak yang lahir dari hubungan di luar nikah namun kakak ketigaku segera melamar kekasihnya, Erma, lima bulan sebelum Tia lahir ke dunia ini sehingga hal ini tidak terlalu menjadi aib. Pada awalnya ibuku tidak mau menerima Tia, namun setelah tiga bulan akhirnya ibuku mau menerima Tia sebagai cucunya bahkan sampai sekarang saat Tia berusia 9 tahun.

            “Pagi Tia,” sapaku pada keponakanku yang rambutnya dikepang dua dan sedikit chubby ini.

            “Pagi Om,” sapanya lucu.

            “Kosmas, bisa tolong siram tanamannya? Mama belum sempat siram tanamannya pagi ini.”

            “Oke,” jawabku.

            Aku mengambil selang air dan mulai menyirami halaman depan, dan setelah halaman depan selesai, ibuku mengajak Tia masuk sementara aku meneruskan menyirami halaman samping. 5 menit kemudian Mas Theo keluar sambil membawa sebuah sutil kayu, “Sarapan sudah siap!”

            Aku pun menjawab, “Aku segera ke sana!”

            Kulipat selang air itu dan kulangkahkan kakiku ke dalam rumah. Di sana telah terhidang hidangan khas sarapan hari Minggu keluarga kami, nasi pecel. Aku sebenarnya tidak suka nasi pecel, tapi akhirnya kumakan juga. Dalam hati sebenarnya aku menggerutu sebab jika salah satu dari kami sudah memasak nasi pecel maka sesuai tradisi keluarga maka sayurnya yang berupa rebusan kenikir, selada air, kubis, dan kecambah akan ditambah menjadi 1,5 kali lipat dari porsi nasi pecel yang dijajakan para kaki lima.

            “Sayur itu sehat,” begitu kata ibuku setiap aku protes mengenai porsi sayur pecel ala keluarga kami yang cukup ‘edan’ porsinya itu.

            Kali ini di tengah-tengah sarapan ibuku memulai suatu pembicaraan seperti yang biasa ia lakukan pada saat makan bersama seperti ini, “Rikanda akan pulang besok, ia akan tiba sekitar pukul 4 sore di Bandara Adi Sucipto. Siapa yang mau antar Mama jemput dia?”

            “Huk!” aku merasa nasi yang masuk ke mulutku tiba-tiba berhenti menyumbat tenggorokanku. Di sisi lain Mas Wijaya tiba-tiba malah tersedak dan pamit ke kamar mandi. Mas Theo tampak tetap tenang namun matanya tidak tampak seperti itu, matanya menyiratkan rasa tidak suka lalu ia berkata, “Aku ada sesi pemotretan untuk sebuah agensi model sampai pukul 7 Ma. Jadi aku tidak bisa mendampingi  Mama ke bandara.”

            “Ooo, tidak apa-apa. Kalau kamu Wijaya?” tanya ibuku pada kakak ketigaku yang sudah kembali ke meja makan.

            “Besok Erma keluar kota tapi Tia les kan? Lagian jam 5 sore Pak Badrun si pemesan pigura ala Jepara itu datang,” jawab Mas Wijaya mencoba mengelak dengan alasan yang sangat kebetulan ada dan memang benar adanya.

            Aku merengut sebal. Pilihan terakhir ibuku pastilah aku. Dan memang benar! Tak lama sesudah itu ibuku memalingkan wajahnya padaku dan berkata, “Kosmas, kau masih libur kan? Lagipula SNMPTN baru mulai 3 minggu lagi. Besok tolong antar Mama ke bandara ya?”

            Aku mengangguk saja. Sementara Tia menarik-narik lengan kaos santai ibuku dengan manja, “Tia juga mau jemput Om Rikanda!”

            Kakak ketigaku langsung menampik, “Kamu besok les matematika, Tia. Papa akan antar kamu ke tempat les jam 3 dan jemput kamu jam 6. Kamu gak bisa ikut Om Kosmas dan Nenek ke bandara.”

            “Yaaaa, Papa jahat!” kata Tia.

******

            Nama Markus Rikanda Effendi adalah nama yang sangat menyebalkan bagi kami bertiga, ia adalah anak kedua dari kami berempat, adik langsung dari Mas Theo dan kakak dari Mas Wijaya. Ia bertubuh atletis, berkulit sawo matang, dan berwajah sangat-amat tampan sehingga banyak gadis yang mengejar-ngejar dirinya. Apalagi dengan pangkatnya di kemiliteran saat ini yakni Kapten, aku yakin daftar fansnya akan semakin banyak.

            Aku dan saudara-saudaraku kurang suka pada dirinya karena boleh dibilang ia adalah yang paling baik dan sempurna di antara kami, mulai dari tampang, kemampuan akademis, kemampuan fisik, serta kemampuan beladiri karatenya sangat luar biasa. Jujur saja itu membuat kami menjadi iri pada dirinya. Oke iri itu biasa bukan? Tapi karena Mas Rikanda ini punya sifat super angkuh dan senang merendahkan orang lain maka kami menjadi semakin tidak suka saja pada dirinya.

            Sembilan tahun yang lalu ia berangkat ke Jawa Barat dan bersekolah di Sekolah Tinggi Sandi Negara, kemudian lulus dengan predikat terbaik (tentu saja!) dan kemudian diterima di Badan Intelijen Negara dengan pangkat kemiliteran Letnan. Selama tujuh tahun karirnya, pangkatnya naik menjadi kapten yang membuat setiap kali kunjungannya ke rumah makin melebarkan mulutnya saja.

            Hari ini adalah hari di mana kakakku yang menyebalkan itu akan datang. Aku dan ibuku menunggu di bandara sudah satu jam. Ibuku amat bersemangat tiap kali menyambut kakakku yang satu ini karena memiliki jabatan yang bergengsi nan disegani. Karena itu tiap kali kakakku ini pulang ibuku akan selalu menjemputnya di bandara. Dan itu berarti ibuku akan memaksa salah satu dari kami untuk mendampingi ibuku ke bandara.

            Kali ini giliranku, dan aku merasa tidak suka berdiri di ruang tunggu bandara ini. Setiap detiknya adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Aku lebih tahan menghadapi tiap detik UNAS daripada duduk menunggu kedatangan Kapten Rikanda ini.

            Pukul 16.22 aku melihat sesosok pria dalam balutan kemeja garis-garis hitam berwarna dasar putih keluar dari peron. Ibuku langsung melambai ke pria tersebut dan pria tersebut pun balas melambaikan tangannya. Ya, orang itu adalah kakakku Markus Rikanda Effendi.

            “Halo Ma,” sapa Mas Rikanda sembari memeluk ibuku.

            “Mama tunggu lama dari tadi ternyata pesawatmu telat ya?”

            “Iya nih, Ma.”

            “Eh Kosmas, jangan diam saja. Ayo bantu bawakan koper kakakmu ini!” perintah ibuku.

            “Ya, Ma!” jawabku malas dan sedikit menyentak.

            “Kosmas, kamu jangan bicara gitu dong sama Mama!” tegur Mas Rikanda dan kemudian mulai menjejaliku dengan khotbah panjangnya, “Kamu tahu bahwa di kemiliteran kami diajarkan untuk bersikap hormat pada orang yang lebih tua. Terlebih orang tua kita sendiri …. Bla…bla….bla.”

            Aku memutuskan untuk tidak mendengarkan ceramahnya yang dimuali dari ruang tunggu hingga ke tiba di tempat parkir. Setibanya di tempat parkir, kubuka pintu bagai mobil Daihatsu Xenia milik kami dan kemudian kubuka pintu pengemudi dan kunyalakan mesinnya. Ibuku dan Mas Rikanda masuk ke dalam mobil. Ibuku berada di bangku tengah sementara Mas Rikanda duduk di bangku samping pegemudi. Aku mulai menginjak gas meninggalkan tempat parkir itu menuju rumah kami.

            Sepanjang perjalanan aku mencoba menutup telinga atas segala omongan Mas Rikanda yang memamerkan segala emblem penghargaan dan pujian yang ia terima semasa bertugas. Dalam hati aku sampai bergumam, “Ya Tuhan! Kenapa kau berikan aku kakak yang hebat namun congkak?”

******

            Sudah empat hari Mas Rikanda berada di rumah ini, namun lagi-lagi aku jadi korban kedua kakakku yang tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi kakak keduaku ini untuk berbicara dengan mereka dan … TARA… jadilah saya pendengar setia segala ocehannya mulai dari cara berjalan yang benar, cara berpakaian yang benar, cara memikat cewek yang benar sampai segala sesuatu yang ‘benar’ menurut alam pikirannya.

            Membosankan? Tentu saja! Karena itu baik Mas Theo maupun Mas Wijaya tidak bersedia berbicara dengan Mas Rikanda. Aku dianggap kedua kakakku ini entah sebagai apa sehingga segala macam sesuatu yang kurang menyenangkan seolah selalu mereka alihkan padaku, entah mereka sadarai atau tidak.

            Ibuku sendiri juga tidak berusaha menghentikan ocehan Mas Rikanda. Dalam hati aku mempertanyakan kecerdasan ibuku dalam mengajar mahasiswanya tidak ia tunjukkan dalam mengendalikan kakak keduaku ini. Stereotype bahwa Rikanda selalu benar sudah melekat di benak ibuku.

            Pagi ini adalah hari kelima semenjak kedatangan kakak keduaku ini, aku turun dari kamarku di lantai dua ke ruang tamu, mengenakan sebuah sepatu kets dan celana training lalu berlari pagi mengelilingi kompleks. Aku bermaksud menghilangkan stress dan ketegangan dalam menghadapi SNMPTN yang tinggal dua minggu lagi sebelum akhirnya aku bertemu dengan … Mas Rikanda sedang berlari pagi juga.

            “Bagus! Orang itu sedang lari pagi juga dan sekarang menghampiriku,” umpatku kesal.

            Ya, Mas Rikanda memang menghampiriku lalu mengajak berlari bersama. Dalam momen ini untuk pertama kalinya aku menyaksikan dirinya yang diam seribu bahasa. Aku bertanya padanya, “Apa yang Mas pikirkan? Tampaknya Mas ada beban berat?”

            “Kosmas, aku akan memberitahumu sesuatu. Kamu bisa jaga rahasia?”

            “Ya, aku bisa.”

            “Kemarilah!” katanya mengajak kami ke sebuah tanah lapang di daerah selatan perumahan kami yang masih penuh dengan rerimbunan pohon bambu.

            “Ada apa?” tanyaku setibanya di sana.

            “Kamu tahu kan aku ini abdi negara sekarang?”

            “Ya.”

            “Dana aku mau minta maaf karena perkataanku selama ini yang mungkin banyak menyakiti kalian.”

            “Memang,” jawabku langsung hamtam kromo[2].

            “Ya, aku tahu kau juga sebal padaku. Tapi Kosmas, tak lama lagi aku mungkin tidak akan bisa kembali ke sini untuk beberapa tahun ke depan.”

            “Kenapa?” tanyaku.

            “Aku ditugaskan di kedutaan RI di Inggris Raya dan rasa-rasanya aku tidak pernah memberimu sesuatu bukan?”

            “Aku sedang tidak butuh apa-apa.”

            “Kamu mau kuliah di Inggris?”

            “Eh?”

            “Karena aku mau memberimu ini!” katanya sembari menyerahkan sebuah amplop besar yang ia keluarkan dari balik jaket abu-abunya yang berkantong.

            Aku mengamati label surat itu, “Nathan University, London, United Kingdom.”

            Aku bertanya, “Apa ini?”

            “Sebagai tanda persahabatan antara RI dan Inggris Raya, mereka memberikan beasiswa untuk 500 orang anak Indonesia agar dapat bersekolah di sana. Dan kebetulan aku mendapatkan satu formulirnya. Ayolah Kosmas, itu tanpa tes. Kalau kau mau isi dan fax formulirnya malam ini juga, aku jamin lusa kau sudah terdaftar sebagai mahasiswa di sana.”

            “Tanpa tes?”

            “Ya, dan jangan tanya bagaimana caranya aku dapat formulir itu, oke?”

            “Uh, oke.”

            Untuk pertama kalinya pandanganku pada kakakku ini berubah dan tanpa kusadari kupeluk dirinya yang secara diam-diam telah mempedulikan pendidikanku.

******

            Malam itu aku isi formulir itu dan kemudian kuikuti seluruh prosedur pendaftarannya. Ketika aku telah selesai, Mas Rikanda masuk ke kamarku dan bertanya, “Apa jurusan yang kau pilih?”

            “Biologi”, jawabku.

            “Biologi?”

            “Ya.”

            “Jadi 5 tahun ke depan aku akan bertemu adikku ini dalam balutan jas laboratorium putih sedang meneliti keberadaan mikroba pada suatu sampel? Tidak buruk, keluarga ini sudah punya seorang dosen, seorang fotografer, seorang agen rahasia negara, seorang seniman, dan sekarang seorang calon peneliti. Hahahahaha!”

            “Hahahahaha!” tawa kami berderai bersama malam itu.


[1] Legiun = batalion

[2] Tanpa basa-basi

Read previous post:  
Read next post:  
70

Saya suka ide ceritax pertarungan utusan tuhan. Tp istilah2x kebanyakn, tokohx jg kebanykn jd pembaca sulit ingtx, menurt aq y. Trs aq jg msh bingung dari bahas ttg lucifer dan semacamx lgsg nyambung ke ank yg sentimen sm kakakx.

Tp ttg pertarungn utusan tuhan itu keren.

90

hmm ........

100

Ah, nama-nama malaikatnya dan ada Skadi tadi sedikit mengingatkan saya sama nama-nama persona/demon di game Shin Megami Tensei ^^
.
Bagian awalnya sedikit kaku narasinya, saya seperti sedang membaca sebuah kitab sejarah yang menceritakan malaikat-malaikat =.=. Bagian keduanya udah enggak begitu kaku, tapi masih belum terlalu luwes :(((
.
Tapi ini ide yang sangat keren. Saya bener-bener suka ^^. Soal narasi yang belum terlalu luwes bisa dipelajari kok Bang An :D

70

ikutan komen dg,
Bagian prolog belum nyambung sama bab 1-nya (sebenarnya sah2 saja, sih), cuma terasa membingungkan karena (itu) menunjukkan 2 era yang berbeda.
setuju ma komen sebelumnya, prolognya rada2 membosankan (dikarenakan bentuk penceritaannya [mungkin]).
tapi memasuki bab 1-nya jadi bagus, koq.
mmm..., mwu lanjut dulu ke bab2. ^^

Oke, ini KEREN huahahaha. Mungkin karena saya juga suka sama angelology dan demonology wakakak. Btw, samael bukannya ga memihak ya ? Dia ngelakuin apa aja yang dia mau. Trus yang anak malaikat itu, kejadiannya pas zaman nabi nuh, mangkanya ada air bah. Setau saya gitu hehehe

100

Oke, ini KEREN huahahaha. Mungkin karena saya juga suka sama angelology dan demonology wakakak. Btw, samael bukannya ga memihak ya ? Dia ngelakuin apa aja yang dia mau. Trus yang anak malaikat itu, kejadiannya pas zaman nabi nuh, mangkanya ada air bah. Setau saya gitu hehehe

80

eng...
ide ceritanya hampir bisa ketebak sih...
apa nanti si 'aku' ini adalah keturunan / reinkarnasi Grigori gitu? jadi mirip2 Percy Jackson ya :)
.
Penulisannya lumayan rapi dan gampang dimengerti. Tapi entah kenapa narasinya masih terasa kaku, padahal sudah kamu selipin istilah2 daerah ya. Bagian prolognya juga agak gimana gitu.
Mungkin karena saya sendiri nggak terlau suka sama cerita2 gaya apocalypse yang kesannya menggurui kayak baca buku pelajaran :P
Semangat ^^

Terima kasih atas komentarnya XD. Kayaknya prolog bagian awal harus diubah lagi nih XP