Abstrak Kesiangan (Prolog)

Sejak kecil aku selalu merasa berbeda, aku merasa selalu beruntung. Dan keberuntungan ini selalu menyelamatkan aku dari hidupku yang hampir selalu kukacaukan.

            Ibuku selalu melarangku bermain di luar bersama-sama anak-anak tetangga. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Ibu, meskipun aku memohon-mohon dengan sangat dia tetap tidak memperbolehkanku bermain. Aku tetap harus di rumah, bermain di dalam rumah. Karena hal inilah aku tidak memiliki teman, tidak pandai berteman, dan yang lebih parah aku menjadi anak yang jarang bergaul. Kuper, anak-anak lain menyebutku seperti itu.

            Pada saat di sekolah dasar aku tetap tidak memiliki teman. Mereka tidak mau berteman denganku, enggan bermain denganku. Karena aku tidak mahir memainkan segala permainan yang selalu mereka mainkan. Aku memang tidak ahli bermain kempyang—permainan menggunakan lima batu kerikil—aku juga tidak ahli bermain karet atau jenis dolanan yang lainnya. Kalaupun mereka mau bermain denganku, mereka hanya ingin mengerjaiku, mengolok-olok ku dengan segala kelincahan permainan mereka dan berbisik-bisik di belakangku. Kalau sudah seperti itu aku akan kesal, “mesti kowe kalah bar iki,” celutukku pada salah satu temanku. Dan benar saja dia kalah di putaran pertama dia memainkan batu-batu kerikil itu. Padahal menurutku dia yang paling ahli diantara teman-teman yang lain. Sejak itulah teman-teman selalu mendengarkan aku, dan mengajakku bermain. Entah karena kagum padaku atau karena takut ucapanku benar-benar bisa menjadi kenyataan. Ini menjadi keberuntunganku yang pertama.

            Aku menjadi senang, aku mempunyai banyak teman. Di antara teman-temanku aku menjadi primadona. Sampai pada suatu hari, pada saat aku kelas lima, ada seorang anak baru pindahan dari Surabaya datang ke kelas kami. Namanya Arlina, rambutnya panjang sempurna, kulitnya putih sempurna, wajahnya juga cantik, segala yang aku tidak miliki ada pada dirinya. Aku merasa cemburu, aku merasa iri. Masa menjadi primadona kelihatannya berakhir untukku. Benar saja, sejak itu semua temanku beralih mendekati dia. Apalagi anak laki-laki, mereka selalu membicarakan Lina yang cantik, Lina yang ramah, dan Lina yang merayakan ulang tahun dengan anak-anak sekelas. Perayaan ulang tahun yang terbilang mewah di lingkungan pedesaan seperti ini. Dia membagi-bagikan bingkisan cantik yang berisi permen-permen lucu yang belum pernah kulihat sebelumnya, beberapa potong roti, dan coklat, dan berpita merah cantik. Teman-teman menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan keras, wajah Lina berbinar-binar seperti peri. Anak-anak lain juga berseri-seri dengan bingkisan mewah di tangan mereka.

            Seandainya aku mempunyai orang tua seperti Lina, mungkin aku juga akan berseri-seri seperti dia. Tapi orang tuaku tidak seperti itu. Mereka hanya bertemu di akhir pekan. Karena Ayahku bekerja di Surabaya, dia bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Setiap malam Minggu dia akan pulang naik bus, aku dan Ibu akan menjemput ayah di terminal kota. Aku selalu senang jika Ayah pulang, dia selalu membawakanku majalah Bobo yang terbit setiap minggu. Ayah tahu aku gemar membaca, makanya dia selalu membawakanku majalah kesayanganku itu.

            Tidak setiap hari Ayah ada di rumah. Namun Ibu tidak memperlakukan Ayah dengan baik. Ibu terlalu banyak curiga dengan Ayah, takut Ayah nyeleweng dengan wanita lain teman sekantor Ayah. Ibu selalu bertanya macam-macam pada Ayah, menuduh Ayah nyeleweng. Aku tidak suka Ibu menjadi wanita pencemburu seperti itu. Apa sebenarnya salah Ayah sehingga Ibu tidak percaya pada Ayah. Kenapa Ibu meragukan cinta Ayah. Dari pertanyaan bernada sinis menjadi pertengkaran hebat, tidak jarang mereka berdua merusak barang-barang di rumah. Ibu membanting piring, Ayah memaki-maki dengan kata-kata kasar. Pernah juga Ayah sampai hendak membakar rumah kami. Kalau sudah seperti itu aku akan mengurung diri di kamar. Membaca majalah kesayanganku atau menutup telingaku dengan bantal. Kadang-kadang tanpa sadar aku menangis mendengar pertengkaran mereka.

            Aku selalu rindu dengan Ayah, aku ingin Ayah selalu di rumah. Beliau selalu membantuku belajar, menemaniku membuat pekerjaan rumah. Dengan  sabar membimbingku belajar membaca, atau menghafal surat-surat pendek Al qur’an. Berbeda dengan Ibuku, jika Ayah tidak ada di rumah dia akan kelayapan dengan teman-teman wanitanya. Sepertinya dia selalu haus bermain, bersenang-senang, dan melupakan anaknya. Kegemarannya adalah membeli lotere, memasang empat digit nomor, membeli nomor tersebut di sebuah tempat dengan sejumlah uang sebagai taruhan. Ibu tidak pernah menang, sama seperti teman-temannya yang lain, dan semua orang—aku yakin semua orang membeli lotere ini—yang membeli secarik kertas dengan empat digit nomor ini.

            Orang-orang ini rela menghamburkan uang mereka demi selembar mimpi. Mimpi untuk mendapatkan uang dengan mudah. Termasuk Ibuku. Dia tidak memikirkan hal lain, dia hanya memikirkan masalah lotere ini. Dia jarang ada di rumah, tidak pernah memasak untukku, menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah, menyapu, mengepel, mencuci baju, dan melipat baju itu dengan rapi. Mungkin dia lupa atau apa, hei Mom…aku hanya seorang anak kecil, mungkinkah aku sanggup mengerjakan semua itu? Kemana kasih sayang dan akal sehat yang seharusnya kau miliki. Setiap malam aku hanya ditemani oleh Nenek. Dia mungkin bukan seorang penyayang seperti Ayah memperlakukanku tapi setidaknya dia ada disisiku, menemaniku selama Ibu mengejar mimpi-mimpi semunya.

            Tak jarang Ibu menghajarku dengan sapu lidi, hanya karena aku lupa mencuci piring, atau salah melipat baju-bajunya. Apapun yang kukerjakan Ibu tidak pernah puas, sekecil apapun kesalahanku dia selalu bisa menemukan kesalahan itu dimanapun tempatnya. Kalau sudah menemukan kesalahanku dia akan membentak-bentakku, memaki-maki seperti Ibu tiri jahat. Suara nyaringnya kadang-kadang masih kudengar sampai sekarang, menghentak tidurku dalam mimpi yang terpatri permanen.

            Satu minggu lagi ada ujian kenaikan kelas, aku tidak pernah belajar. Aku muak belajar. Ibu marah-marah padaku, takut nilaiku jelek dan aku tidak naik kelas. Aku lebih suka membaca majalah, membaca dongeng, atau cerpen anak-anak. Masuk ke dalam dunia imajinasi, hanya ada kesenangan disana, banyak Ibu peri cantik yang menyayangiku. Aku tidak butuh Ibuku lagi. Aku suka berada di dunia imajinasiku. Aku semakin jauh dari dunia di sekitarku.

            Seandainya Ibu adalah sosok Ibu yang penyabar, seandainya Ibu seperti semua Ibu yang diceritakan dalam majalah Bobo, Ibu yang cantik, ramah, baik hati, dan selalu berkata-kata dengan lembut. Terutama dengan anak terkasihnya. Tapi Ibuku tidak pernah berubah menjadi Ibu yang kuinginkan.

            Semakin hari Ibu semakin gila dengan kehidupannya. Tidak pernah absent membeli lotere menyesatkan itu, dia selalu dipengaruhi oleh teman-temannya. Ibu menghabiskan uang yang diberikan Ayah. Tak jarang uang Ibu juga dipinjam teman-temannya—aku yakin uang ini tak akan pernah kembali—untuk memasang taruhan. Ibu sangat terobsesi dengan nomor taruhan ini, dia sampai mengajakku untuk menemui dukun, yang dia percaya bisa melihat nomor taruhan yang akan menang. Hampir setiap hari Ibu mengajakku dari satu dukun ke dukun yang lain. Praktek perdukunan sangat menjamur di desa ku ini, bahkan aku sering mendengar orang-orang memberikan sesajen pada pohon yang dianggap angker atau mencari pesugihan di tempat-tempat terpencil.

            Jika pergi ke dukun Ibu akan membawa beberapa barang, seperti gula dan teh. Benda-benda ini akan diserahkan pada Mbah Dukun beserta beberapa lembar uang yang dimasukkan ke dalam amplop. Setelah itu Mbah Dukun akan membaca kehidupan Ibu dengan sangat meyakinkan yang menurutku itu tidak selalu benar. Dengan mata berbinar-binar Ibu mendengarkan seperti anak kecil yang diberitahu hendak dibelikan mainan dan baju baru. Dengan nomor yang telah diberitahu oleh Simbah Dukun, wajah Ibu sudah seperti orang yang kejatuhan rejeki nomplok. Wajah Ibu—sampai sekarang aku masih tidak yakin Ibu bisa menampakkan wajah itu—menyiratkan keterpesonaan pada Simbah Dukun, memuja orang tua beruban berpakaian hitam-hitam di depannya. Dia juga memohon pada Mbah Dukun untuk melancarkan ujianku, agar aku bisa dengan mudah mengerjakan semua soal dalam ujian-ujianku nanti.

            Entah karena jampi-jampi Mbah Dukun yang super manjur atau aku memang beruntung, setiap penerimaan raport aku selalu mendapat ranking tiga padahal aku tidak pernah belajar serius seperti anak-anak yang lain. Karena hal seperti inilah makanya aku sering meremehkan hal-hal kecil, tidak pernah belajar dan malas karena dengan usaha yang tidak seberapa aku bisa mendapatkan nilai bagus dan ranking yang membuat Ibu puas. Tidak hanya dalam hal peringkat kelas, keberuntungan-keberuntungan yang lainpun mengikuti, seperti bayangan yang selalu menempel, dan pada akhirnya membuatku semakin malas dan menyepelakan hal-hal kecil di sekitarku, yang kelak menjerumuskan aku dalam jurang kehampaan dan penyesalan.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer herjuno
herjuno at Abstrak Kesiangan (Prolog) (8 years 4 weeks ago)
70

Awalnya bagus. Narasinya mengalir, dan dari narasi itu, saya melihat setting tempat dan karakterisasinya cukup kuat. Namun, begitu kamu menulis kalimat "Hei Mom, aku hanya seorang anak kecil" langsung buyar semua. Padahal, ini kan desa, tapi kenapa ada "Mom"? -.-
.
Terlepas dari hal itu, penjabarannya, sekali lagi, bagus. Nyaman dibaca. Meski memang, sebagaimana kata dansou, kurang fokus.

Writer dansou
dansou at Abstrak Kesiangan (Prolog) (8 years 5 weeks ago)
80

Ah, cerita kehidupan yang tampaknya menarik :DDDD. Belum ada dialog, sih, tapi jujur saja saya enggak bosen bacanya :DDD.
.
Yang saya komentari soal narasinya yang melompat-lompat. Enggak tahu juga, sih, saya ngerasa ini melompat ke sana ke mari. Misalnya, awalnya kamu menceritakan soal teman di sekolah, di paragraf berikutnya soal ibu, selanjutnya soal ayah, kemudian tahu-tahu nyeritain dukun. Entahlah. Mungkin transisinya kurang mulus.
.
Tampaknya ini bakal jadi cerita kehidupan yang bagus ^^