Champagne & Valet (2)

Champagne & Valet

 

****Episode 2****

 

Cast :

 

Gemma Arterton as Grace Miller

 

Gabriel Macht as Rick Jerome Lancaster

 

Milo Ventimiglia as Ryan Zimmerman

 

************************************

(Coldmont Square Restaurant, Richton Springs)

 

Aku bersumpah, suatu saat nanti, aku harus bisa berkenalan dengannya. Aku tidak peduli lagi meski aku hanya seorang petugas parkir valet. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, tidak bisa berhenti berharap tiap malam untuk bisa melihatnya datang ke restoran.

Malam itu aku kembali memarkirkan Volkswagen Eos hitam miliknya. Sama dengan malam-malam sebelumnya, dia selalu datang sekitar jam 7 malam, kurang atau lebihnya adalah sekitar lima belas menit, tidak pernah lebih dari itu. Karena itulah, sebisa mungkin aku selalu meminta Dean atau Henry untuk memarkirkan mobil tamu-tamu lain pada jam itu. Aku harus selalu siap untuk berjaga kalau wanita cantik itu datang. Akulah yang harus memarkirkan mobilnya. Untungnya Dean dan Henry mengerti tentang ketertarikanku pada wanita itu. Mereka benar-benar teman yang sangat baik.

Ada yang berbeda kali ini. Aroma pewangi di dalam mobilnya tercium berbeda dari biasanya. Tidak lagi wangi peach, tetapi wangi jeruk.

“Silakan, Miss,” ucapku menyerahkan kunci mobil padanya ketika dia hendak pulang. Dia tersenyum dan menerima kunci mobil.

Selagi dia merogoh dompetnya untuk memberiku tips, kuberanikan diri untuk membuka mulut lagi,”Ganti pengharum, Miss?” tanyaku sambil berharap semoga pertanyaan yang kulontarkan barusan tidak terdengar konyol.

Wanita cantik itu mengangkat wajahnya memandangku,”Maaf?”

“Pengharum mobil. Biasanya aroma peach?”

Dia tampak terkejut, dan aku berharap lagi semoga dia tidak mengira aku seorang penguntit hingga mengetahui soal pengharum mobilnya.

“Kau tahu?”

Aku mengangguk,”Anda sudah sering kemari, saya sampai hafal. Maaf, bukan bermaksud untuk…”

“Tidak apa-apa…” potongnya lalu tersenyum. Ah, dia sangat cantik malam ini dengan balutan gaun berwarna hijau muda yang seingatku sudah dia pakai dua kali ini ketika datang ke restoran. Dia menyerahkan uang padaku.

Kali ini aku menggeleng dan tersenyum,”Tidak usah, Miss, terima kasih.”

Dia terkejut. Dia benar-benar indah, matanya sangat indah dalam segala ekspresi, termasuk saat terkejut sekarang.

“Kenapa?” tanyanya.

“Mulai malam ini, Anda tidak usah memberi saya tip. Anda sudah selalu memberi saya tip tiap kali Anda datang.

“Tapi aku tidak keberatan melakukannya tiap aku datang. Aku akan merasa belum cukup berterima kasih jika aku tidak memberikan tip.”

Oh… kenapa dia tidak langsung masuk ke mobil saja? Apakah dia memberikanku kesempatan untuk bisa berbicara lebih lama dengannya? Should I take this chance?

“Tidak apa-apa, Miss. Umm… saya tidak ingin terus berterima kasih karena Anda terus memberi saya tip. Saya ingin berterima kasih jika saya boleh mengetahui nama Anda,”

Damn! Do I look silly now?

“Grace. Panggil saja aku Grace,” ucapnya hangat. Sebuah reaksi yang tidak kuduga namun sangat kuharapkan.

Grace Miller. Wow! Aku sudah tahu namanya sekarang. Grace Miller. Namanya seanggun dirinya. Grace Miller. Dan aku yakin, mulai sekarang namanya akan terus terngiang di otakku.

“Lalu mana ucapan terima kasihnya?” tanyanya kemudian. Dia tampak tersenyum geli. Mungkin dia geli melihat ekspresi takjubku padanya setelah dia menyebutkan namanya tadi.

“Terima kasih,” ucapku singkat menutupi perasaan gugupku.

“Dan apa nama di depan nama Zimmerman itu?” tanyanya kemudian.

“Ryan. Ryan Zimmerman,” jawabku langsung tanpa dia harus mengulang pertanyannya.

“Oke, terima kasih juga kalau begitu…” Grace tersenyum kemudian berjalan menuju pintu mobil,”… sampai jumpa besok, Ryan,”

Aku hanya bisa terpana melihatnya memasuki mobil dan membawa mobilnya berlalu dari hadapanku.

Wake up, Ryan! Ucapannya bukan berarti dia akan berkencan denganmu besok. Ucapannya berarti dia datang lagi ke restoran dan kau akan memarkirkan mobilnya lagi. Ya, hanya memarkirkan mobilnya.

*-*-*-*

(Chatlawn Landing, Mount Shakermill Island)

 

Aku menimang-nimang Glock 23 di tanganku. Sepiring kentang tumbuk kubiarkan mendingin di hadapanku. Otakku terus berpikir bagaimana caranya aku bisa kembali ke gedung State Intelligence Agency, menghampiri meja Edward Simmons dan menembaknya di tempat dengan Glock 23 ku ini. Lebih baik dia menerima ganjaran atas perbuatannya di depan orang-orang agensi, agar mereka semua tahu betapa busuknya seorang Edward Simmons sebenarnya. Aku tidak peduli jika harus  masuk penjara federal. Simmons sudah menghancurkan hidupku.

“Sudah siap kembali ke Richton?” Fletcher memasuki dapur kecil di rumahnya yang sedang kutumpangi ini.

“To shoot Simmons right on his heart? Sure,” ucapku putus asa. Sudah hampir satu jam aku hanya duduk di kursi makan. Angin dari luar jendela dapur hanya membuatku mengantuk, tanpa memberikan sedikitpun ide bagaimana untuk membersihkan namaku dan membalas dendam.

Fletcher duduk di kursi makan seberang meja. Dia menarik piring kentang tumbukku dan langsung menyantapnya,”C’mon, berapa lama lagi kau akan membiarkannya terus melindungi The Poison Bullets? Tiap menit yang kausiakan, jaringan mereka akan makin kuat untuk menjual senjata-senjata ilegalnya pada para kriminal!”

Kuletakkan pistol kesayanganku itu di atas meja, kemudian kuambil sebatang rokok yang masih menyala di atas asbak dan menghisapnya,”Jangan khawatir. The Poison Bullets sedang sibuk mencariku, mereka mungkin sedang cuti dari pasar senjata,” ucapku mencoba mengalihkan pikiran tegang Fletcher itu.

“Ini bukan waktunya berkelakar, Rick. Kau punya barang milik mereka yang paling berharga dan mereka akan segera menemukanmu di sini! Berapa kali aku harus mengingatkanmu?”

Aku tertawa,”Tenanglah, Fletch... I will find a way…”

“Aku sudah berjanji pada Mom untuk menjagamu. Jangan main-main, Rick,” Fletcher menatapku tajam. Kata-katanya membuatku teringat pada Mom.

“Aku seorang SIA Special Agent. Kau tidak perlu menjagaku.”

“Sombong sekali kau… ” Fletcher meraih Glock 23 ku dan mengamatinya,”… aku belum tua, aku masih bisa menggunakan senjata dengan sangat baik. Kalau kau tidak membutuhkanku, kenapa kau lari dan bersembunyi di rumahku?”

Aku diam tak menjawab. Bagaimana pun juga, aku memang membutuhkan Fletcher. Setidaknya menghilang dan tinggal di sini akan menunda waktu bagi SIA atau The Poison Bullets untuk dapat menemukanku. Hanya dia satu-satunya orang yang tidak dikenal sebagai anggota keluargaku. Apalagi nama belakangku dan Fletcher jelas berbeda. Meski dulu dia juga tinggal di Richton Springs, tapi aku dan dia sangat jarang bertemu. Tidak ada yang tahu bahwa Fletcher adalah saudara tiriku. Walaupun saat ini mungkin SIA sudah mengetahuinya, dan mereka sedang dalam proses pencarian tempat tinggal Fletcher, atau mungkin sudah dalam perjalanan kemari untuk menangkapku atas tuduhan kejahatan yang sama sekali tidak kulakukan.

Fletcher adalah orang yang tidak mempunyai identitas di negara ini semenjak dia keluar dari kesatuan kepolisian kota Richton Springs sebelas tahun yang lalu, sebelum akhirnya pindah dan menyepi di Mount Shakermill Island. Fletcher keluar dari kepolisian setelah terlibat dalam suatu hal. Entah apa itu. Yang kudengar hanyalah suatu insiden atau sebuah konspirasi, aku lupa. Fletcher hanya mengatakan seperti itu, mungkin dia memang sengaja menyembunyikannya. Dia tidak ingin aku tahu walaupun hampir setengah tahun aku sudah tinggal bersamanya. Dan aku tidak ingin mendesaknya untuk bercerita. Yang kutahu, ending dari karirnya adalah dia mengundurkan diri, dan oleh atasannya melalui ‘jalan belakang’ telah menghapus identitas Fletcher seakan Fletcher tidak pernah ada.

“Setelah semua ini selesai, aku ingin berkunjung ke Stoneberry,” ucapku kemudian.

“Pulang ke Stoneberry? Bagaimana jika Mom menanyakan Grace?”

“Aku akan mengatakan Grace sedang ke luar kota.”

“Rick, Mom harus tahu mengenai perceraianmu.”

“Nanti pelan-pelan aku akan mengatakannya.”

“Terserah kau sajalah,” Fletcher berdiri dari kursinya dan meninggalkan dapur.

“Fletch!...” panggilku membuatnya berbalik,”…aku akan ke Richmont dan menyelesaikan semuanya minggu depan. Aku akan kembali ke sana. Edward Simmons boleh saja memfitnahku dan membuatku jadi buronan SIA, tapi akan kupastikan dia mendapat balasannya,” ucapku yakin.

Great,” balas Fletcher datar. Dia pasti sudah bosan dengan keberadaanku yang sangat tidak produktif di rumahnya. Fletcher butuh bukti bahwa aku benar-benar akan melakukan semua yang baru saja kukatakan tadi.

*-*-*-*

(Coldmont Square Restaurant, Richton Springs)

 

Besserat de Bellefon – Blanc de Blancs. Itu sampanye yang kupilih malam ini. Aku memandangi cairan di dalam gelasku yang berwarna kuning cerah keemasan dengan aroma citrus segar ini. Klienku sudah meninggalkan restoran. Malam ini entah kenapa aku tidak ingin cepat pulang. Aku masih bertahan di dalam restoran, dengan alunan musik klasik terdengar di telingaku. Lagipula, untuk apa cepat-cepat pulang pada ke apartemen yang sepi. Dan juga, sayang jika sampanyenya tidak kuhabiskan.

“Find someone, you have to move on,” sebuah suara mengejutkanku, membuatku ingat bahwa Shannon masih duduk semeja denganku.

“Grace, kau seperti berada di dunia yang lain,” tambah Shannon.

“Maksudnya?” tanyaku linglung.

“Sudah hampir setengah jam kau hanya melamun. Untung aku adalah temanmu yang baik dan rela menemanimu di sini,” ucap Shannon dengan pandangan masih ke arah ipad nya.

“Benarkah? Sudah selama itu?”

Yeah…”

I’m so sorry, Shannon… let’s go home,” ucapku sambil melambai pada waiter.

“Kau harus mulai berkencan lagi. Ayolah, Grace, sekali-kali terimalah tawaranku untuk mengenalkanmu dengan temanku.”

Bill nya, please…” ucapku pada waiter yang langsung mengangguk dan melesat untuk mengambilkan tagihan makan malam kami,”… aku belum siap. Aku tidak ingin sakit hati lagi.”

“Grace...”

“Aku hanya tidak ingin lagi sering ditinggal pergi entah ke mana, tanpa pernah ada penjelasan apapun dan banyak telepon dari perempuan-perempuan yang entah aku tak tahu siapa mereka. Membuatku merasa dikhianati dan tidak dihargai sedikitpun…”

“Grace, we’re not talking about Rick. Dan hey, aku tidak memintamu menikah, aku memintamu untuk mulai membuka hatimu dan berkencan,” Shannon langsung memotong kalimatku.

Whatever,” ucapku malas sambil menerima tagihan dari waiter. Setelah memberikan uang, aku langsung beranjak,”Ayo kita pulang,”

Shannon mengikuti langkahku keluar dari restoran,”Bagaimana dengan Colin? Dia seorang pengacara, kau tahu?” Shannon tak menyerah.

Forget it, Shannon,” aku tidak tertarik.

“Dia sangat berharap bisa berkenalan denganmu.”

“Tidak. Aku tidak ingin berkenalan dengannya.”

“Keras kepala…” Shannon terus menggerutu dan mengoceh mengenai aku yang tidak pernah mau dijodohkan dengan beberapa kandidat lelaki yang diajukannya.

Sesampainya di depan pintu restoran, Ryan sudah berdiri di sana dan tersenyum padaku. Tadi ketika aku baru datang, bukan Ryan yang memarkirkan mobilku. Ryan adalah seorang petugas parkir valet yang seringkali memarkirkan mobilku dibanding petugas valet lainnya di restoran ini. Selama ini aku hanya mengetahui nama belakangnya yaitu Zimmerman. Tapi kemarin malam, akhirnya kami berkenalan dan aku baru mengetahui nama depannya.

“Hai, Ryan, tadi kau ke mana?” tanyaku langsung mengulurkan kartu parkirku. Biasanya seramai apapun restoran ini dan meski ada mungkin sekitar tiga petugas parkir valet, entah bagaimana Ryan yang selalu memarkirkan mobilku.

“Saya tadi sedang dipanggil bos, Miss,” jawabnya tersenyum dan menerima kartu parkirku,”Tunggu sebentar, Miss,” Ryan berlalu dari hadapanku.

“Kau mengenal petugas parkir itu?” tanya Shannon.

“Iya, kenapa?”

Nothing… hanya saja… he's cute,” Shannon memeberiku tatapan menggoda.

“Lalu?”

Nothing…” kembali Shannon mengucapkan kata yang sama. Aku hanya diam tak menghiraukannya hingga Ryan datang dengan mobilku.

“Silakan, Miss,” Ryan menyerahkan kunci mobil padaku. Ketika aku hendak menyerahkan uang untuk tip, Ryan langsung menggeleng,”Bukankah tidak akan ada tip lagi untuk saya, Miss? Kita sudah membicarakannya kemarin.”

Aku menyadari kesalahanku. Ya, kemarin dia memintaku untuk tidak lagi memberikannya tip. Sebagai gantinya, dia ingin mengetahui namaku. Lelaki yang manis.

“Oh… maaf, aku lupa… I guess I will use it to buy  some kind of  reminder pill for my brain,” kumasukkan kembali uangku ke dalam dompet dan tersenyum padanya,”Terima kasih, Ryan,”

You’re welcome, Miss Miller,”

Aku memasuki mobilku bersama Shannon dan mulai menjalankannya keluar dari Coldmont Square.

Did you see it?” ucap Shannon begitu mobil mulai berjalan.

What?”

“Apa yang terjadi antara kau dan petugas valet itu. Aku melihat sesuatu…”

“Sesuatu apa?”

You should have a date with him!” Shannon hampir berteriak.

“Oh Shannon, jangan mulai lagi…”

“Apa kau tidak melihat bagaimanya caranya memandangmu? He’s definitely interested in you…”

“Shut up…” aku menggeleng-geleng tak percaya.

 

to be continued

Read previous post:  
53
points
(1715 words) posted by lavender 8 years 6 weeks ago
75.7143
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | drama | domestic drama | mini series
Read next post:  
Writer zachira
zachira at Champagne & Valet (2) (7 years 35 weeks ago)
80

Lagi2 saya suka part-nya Ryan. jadinya male lead-nya yang mana nih?
mau minggirin Rick, tapi kayaknya si Rick ini diplot jadi macho, sayang juga kalo dicerein.

bakalan ada action kah di part berikutnya? *penasaran*

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (2) (7 years 35 weeks ago)

ho oh si Rick nyah macho... kan mereka sudah cerai ceritanya... heheheh..

Writer Gem
Gem at Champagne & Valet (2) (8 years 4 hours ago)
90

Dari bagian 1 & 2, memang bagian Ryan yg terasa sekali feelnya... Suka bagian Ryan... :D
I Love Milo *_*

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (2) (8 years 3 hours ago)

thanks for reading, Gemmmmm...

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Champagne & Valet (2) (8 years 1 day ago)
90

lav, ak suka cerita barumu ini.. hahahahaa...

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (2) (8 years 1 day ago)

Tengkyuk flooowww

Writer cat
cat at Champagne & Valet (2) (8 years 3 days ago)
90

Aaaa uda ada lanjutannya yah.

Cerita ini memberiku jeda agar otakku tidak seteres lagi.

Thx Lav.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Btw aku penasaran SIA itu kependekan dari apa yah??

Writer cat
cat at Champagne & Valet (2) (8 years 3 days ago)
90

Aaaa uda ada lanjutannya yah.

Cerita ini memberiku jeda agar otakku tidak seteres lagi.

Thx Lav.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Btw aku penasaran SIA itu kependekan dari apa yah??

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (2) (8 years 3 days ago)

Otakku terus berpikir bagaimana caranya aku bisa kembali ke gedung State Intelligence Agency, menghampiri meja Edward Simmons dan menembaknya di tempat dengan Glock 23 ku ini.
---> ntu mbak SIA : State Intelligence Agency, bikinanku untuk semacam CIA wwwkwkwkwkwkwwk.. *maksa*

Writer Nury
Nury at Champagne & Valet (2) (8 years 2 weeks ago)
90

aku suka ceritanya^^
salam kenal ya kak :)

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (2) (8 years 2 weeks ago)

thank u.. salam kenal juga ^_^

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Champagne & Valet (2) (8 years 4 weeks ago)
90

Akhirnya dilanjutin...
Ryan cute banget ^^

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (2) (8 years 4 weeks ago)

heheheheh.. thanks for coming byyyy, junee..

Writer dansou
dansou at Champagne & Valet (2) (8 years 4 weeks ago)
90

Asiik... lanjutannya keluar juga ^^. Sementara cerita saya masih terjebak di dalam otak saya -___-
.
Oh.. kayaknya konfliknya bakalan lebih complicated daripada 20-Sumthing. Heem... seruuuuu!!!
.
Ah, btw SIA itu plesetan CIA ya? Ini plotnya kayaknya bakalan berat, deh, tapi kak Lav pasti bisa :DDD
.
Lanjuut

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (2) (8 years 4 weeks ago)

Axaxaxax benar, ntu lembaga bikinan penulis yg semacem CIA atau FBI wkwkwkwkwkwkkwkwkwkw..
Entahlah dansou, apa aku bisa lanjutin mpe kelar atau tidak.. Tergantung.. Axaxaxaxaxxa

Writer lfour
lfour at Champagne & Valet (2) (8 years 4 weeks ago)
90

mmmmm....
akhirnya muncul juga lanjutan na
heheh
dah saya tunggu2 neh...
makin penasaran neh...

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (2) (8 years 4 weeks ago)

thanks telah mampir.. ^_^