Gadis yang Menari di Tepi Senja

GADIS YANG MENARI DI TEPI SENJA

/1/

Sepulang kerja, aku duduk di bukit rumput, menikmati siraman cahaya matahari terbenam sambil membaca buku yang tadi kubawa. Seperti bertahun silam, senja di kotamu masih sama, tetap indah dengan cemerlang lembayung jingga, menjalin setiap momen menjadi melankolia.

"Langit membuka kanvas seksama menarik kuas – hasilnya pun demikian sempurna, senja begitu indah dan rupawan," kau pernah bergumam, membangkitkan kenangan pada setangkup tanda perjumpaan kita.

Sebenarnya, aku menyukai senja sejak mengenalmu.

Saat itu, setelah disiram hujan seharian, langit kembali cerah, candhikala membingkai sayu matamu. Di taman, kau dan aku berjalan beriringan. Tak lama, kita pun menemukan tempat yang kering dan lapang. Aku menepikan sepeda dan mulai menggelar tikar. Di tanganmu, ada satu termos teh panas - pun sekantung kue dan dua buah gelas plastik. Aku ingat alasan kita memilih taman ini, senja yang begitu indah dan danau yang membentang di depan kita. Romantis.

Rupanya, kau juga membawa sekeranjang bungamu. Di dalamnya, ada beberapa bunga yang kukenal –mawar, anyelir, tulip, dan – "freesia," ujarmu, saat aku melihat sekuntum bunga cerah warna, "bunga ini baru aku temukan minggu lalu, warnanya cerah dan beragam, konon, artinya kekanak-kanakan, tapi di satu buku lain juga berarti ketulusan."

"Kau tahu, tidak, mengapa aku menyukai bunga?" tanyamu, aku melihat kau mulai menyusun bunga-bunga itu.

"Entahlah," aku mengangkat bahu, "kupikir, aku tak perlu mencari alasannya," – meski sebenarnya aku sangat ingin tahu.

Kau tersenyum, "aku menyukai bunga, sebab ia tak abadi, seperti cinta – begitu mungkin dan sederhana. Ketika memandang bunga-bunga ini, aku seperti merasakan pengalaman yang ganjil dan menenangkan." Kau menyandarkan diri di pundakku, tanganmu membentuk segitiga dan mulai menerawang, aku tak mampu menangkap apa yang kau lihat, "ah, seperti umur manusia," katamu, dengan suara nyaris berbisik.

Barangkali senja semakin kemerahan, wajahmu begitu rona dan merekah. Sekilas kau menangis, kemudian tersenyum. Bahkan sebelum aku sempat mengusap airmata yang menitik di pipimu. Suasana menjadi canggung.

"Seandainya bisa, aku ingin membaca hatimu dengan segenap sepi yang aku alami sendiri. Aku sering melihatmu termenung, seakan-akan kesedihan begitu menguasaimu."

Kau tertawa, "tahukah, seorang gadis bisa menuliskan puisi di lembar-lembar udara?"

"Bagaimana bisa?"

"Dengan tarian," jawabmu, mantap, lalu berdiri dan membungkuk, seperti maestro memberi hormat pada penonton di panggung teater. Kau pun mulai berjinjit seimbang dan bergerak dengan ketukan asal. Pasti kau mengira itu tarian balet, meski gerakanmu seperti angsa yang sedang belajar berenang dengan sedikit improvisasi serupa putaran gasing. Satu kakimu diangkat, kemudian melompat-lompat sebelum kau merentangkan tanganmu sambil berputar-putar. Aku tertawa, "jika itu puisi, pastilah kacau sekali." Kau cemberut lalu memukul kepalaku –wajah kita begitu dekat kala itu. "Tapi aku suka," ujarku. Jujur.

Senja masih saja temaram, meski sudah pukul lima. "Senja selalu lebih lama jika datang setelah hujan reda –hei, lihat, ada pelangi!" kau menunjuk lengkung tujuh warna dengan bias cahaya di seberang angkasa, kemudian jatuh merupa bias di depan mata, cerlangnya memantul di kilau danau – "pelangi pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru –" lagi-lagi kau menari. Lagi-lagi aku harus menahan tawa melihat gerakan asalmu. Kau pandai menyanyi. Tapi jangan sambil menari.

"Suaramu bagus, aku ingin menciptakan lagu untukmu. Seandainya tadi aku membawa harmonika."

Tapi kau menolaknya, "aku lebih senang jika kau menciptakan lagu untuk kau nyanyikan padaku –bukan untuk aku nyanyikan sendiri," kau tersenyum dan mengerling. Perbincangan kita akan lama jika kudapan tak segera disantap. Kita bersulang –sebuah kenangan kembali tercipta, dan sekarang begitu manis tercecap.

Aku mengambil kamera dan menyuruhmu berpose. Kupikir aku bisa mendapatkan potret yang bagus senja itu. Tapi ada yang membuat jantungku berdegup lebih kencang – ketika melihatmu tersenyum dengan tangan terbuka seperti hendak memeluk.

Klik!

"Best angle!"

"Kalau fotonya sudah jadi, aku minta satu ya?" ujarmu – sambil membereskan sisa-sisa makanan dan menggendong sekeranjang bunga yang tadi tergeletak di sebelah sepeda. "Aku boleh membeli bunganya satu?" kataku, sambil mengambil beberapa lembar rupiah. "Kali ini jangan gratisan, sebab bunga itu bukan buatku."

Kau tersenyum dan mengambilkan setangkai mawar dengan secarik kertas sambil menyebutkan angka rupiahnya. "Mau kutuliskan puisi?" katamu seraya mengambil buku catatan puisimu, aku menolak, "tak apa, biar kutulis sendiri," aku tersenyum, "tapi sepertinya aku lebih suka freesia." Kau pun mengambilkan setangkai bunga berwarna kuning sambil menyerahkan pena dan kertasnya. Setelah menerimanya, aku langsung menulis beberapa kata dan melipatnya. Aku tersenyum, "ini buatmu."

Kau terdiam. "Bunga dan sepatah kata ini –menjadi ungkapan perasaanku." Pipimu merona –kali ini bukan karena rekahan jingga yang memantul, aku tahu.

Seketika maghrib mulai berkumandang, kita pulang sambil bergandeng tangan. "Kau tahu?" bisikmu, "senja ini, aku bahagia, sangat bahagia."

Seketika langit menjadi begitu rekah.

/2/

Aku menutup buku puisimu.

Memang benar, tidak ada perjumpaan yang sia-sia, bahkan perjumpaan yang begitu singkat dapat meninggalkan kerinduan di benak kita. Sekilas, aku melihat matahari menyisakan sinar-sinar kemerahan di ujung danau, keindahannya masih ada dan nyata, meski aku tak dapat melihat wujudnya lagi. Telunjukku terus menggambar parasmu di lembar udara, sambil menangkap beberapa kenang yang tadi sempat hilang.

Angin menyapa dedaunan. Ranting-ranting menemukan musimnya. Aku berdiri, mengibas celanaku, membersihkannya dari bekas-bekas rerumputan. Sedang kenangan, kubiarkan luruh memenuhi sekujur baju yang kupakai. Senja semakin jauh meninggalkan taman itu.

Seketika malam meninggi, gerimis melintas, lampu kota mulai dinyalakan. Aku melihat kerlipnya, begitu lata dan menusuk. Teringat kembali pertemuan kita, kala kata-kata masih belia. Saat itu, segalanya begitu lancar tertulis.

Senja temaram dan rona di wajahmu, menjadi pertanda aku sadar sedang jatuh cinta padamu

–dan hingga kini, aku masih merindukanmu.

Rafael Yanuar (13 Juli 2011)

Catatan
Candhikala / Gurat jingga senjakala.

Read previous post:  
40
points
(120 words) posted by Rf. Yanuar 7 years 32 weeks ago
66.6667
Tags: Puisi | cinta
Read next post:  

Sundul Gan! :up:

100

Ah, lagi belajar bikin tulisan seperti ini. Gak bisa-bisa. :))

Writer just_hammam
just_hammam at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 30 weeks ago)
80

Cerita recomended by Jayhawkerz http://www.kners.com/showpost.php?p=22719&postcount=27
Cerita dengan diksi yang indah... :D

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 30 weeks ago)

Terima kasih buat rekomendasinya. Tapi aku masih ndak ngerti cara gabung di forum (=_=)a.

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 30 weeks ago)

gabung di forum tinggal login pake user kemudiannya aja om..

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)
100

diksinya mantap! ini mungkin cerpen dengan pemilihan kata-kata paling indah yang pernah saya baca. tidak begitu berat namun melankolia senja sangat mengena. saya jadi semakin suka senja. :)

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 30 weeks ago)

Kaget, ini postingan pertama saya yang berhasil menembus poin diatas 50. Aye (>_<)V. Plus senang ternyata cerpen pertama saya dapat diapresiasi (sungguh, bahagia sekali ketika saya tahu karya-karya saya ternyata bisa dinikmati.) Terima kasih banyak ya? Saya masih harus banyak belajar dari para sesepuh di kemudian.com =).

Writer dansou
dansou at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)
90

AAAH... pasti enak ya jadi orang yang jago pinter bikin puisi dan cerpen. Diksi cerpennya pasti so damn beautiful :DDDDDD
.
Nice job, dude!

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)

Aku baru pertama kali menulis cerpen, masih perlu banyak belajar. Tapi nuhun sanget buat dorongan semangatnya =)

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)
80

apik, perpaduan kata puitis dan deskripsinya ^^

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)

Makasih banyak, Sinta (o^_^)o

Writer zahrahsatifa
zahrahsatifa at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)
80

Hemmmm..... Bunga puisi dan senja meninggalkan kenangan yang hann
hanya terbaca oleh hati...
Like it!

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)

Kenangan --seringkali sangat individual, hanya dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya saja. Di sini, saya mencoba membagikannya. Transfer pengalaman, rindu dan kebahagiaan. Semoga berhasil =).

Writer dandelion
dandelion at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)
90

bguss :) n q bru tau klo ada bunga freesia.
slm knal :)

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)

Saya tidak pernah melihat bunga freesia lagi. Freesia memang bunga yang indah. Salam kenal kembali =).

Writer H.Lind
H.Lind at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 32 weeks ago)
100

Ohhhhh...
Saya speechless. Ini indah, keren, cantik, ganteng, pokoknya hebat lah. Pemilihan katanya... wow. Kapan saya bisa nulis dengan diksi sebagus itu? XD
Masih belum puas nih, mas. *menagih ceritamu yang lain* XD

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 31 weeks ago)

Nuhun (o^_^)o. Saya baru belajar menulis cerpen, sebelumnya tidak pernah. Jujur, sebenarnya cerpen ini juga menyontek dari masa lalu saya sendiri =).

Writer H.Lind
H.Lind at Gadis yang Menari di Tepi Senja (7 years 32 weeks ago)
100

Ohhhhh...
Saya speechless. Ini indah, keren, cantik, ganteng, pokoknya hebat lah. Pemilihan katanya... wow. Kapan saya bisa nulis dengan diksi sebagus itu? XD
Masih belum puas nih, mas. *menagih ceritamu yang lain* XD