PACAR IMPIAN

            Sebersit senyumannya kembali mengembang dalam bunga tidurku. Sebuah lengkungan manis dengan sebaris gigi rapi yang tak kan pernah bisa aku lupakan. Aku menarik napas panjang, menghalau sesaknya dada setiap kali mengenangnya. Aku tahu bahkan aku sangat tahu, aku tak boleh terus seperti ini. Melebur dalam bayangnya tanpa tahu sampai kapan.

            Elang Angkasa Hendrawan. Sepuluh tahun namamu terukir di hatiku. Tanpa pernah tahu, apakah namaku pernah benar-benar terukir di hatimu. Lalu aku tersenyum, kembali teringat ketika aku dan kamu duduk di kelas dua sekolah dasar. Entah kenapa tiba-tiba kamu berlari mendekatiku, menyelipkan sesuatu ke dalam telapak tanganku. dan kembali lari menjauh. Aku mengernyitkan alis ketika melihat sebuah benda yang ada di genggamanku. Sebuah liontin kecil bergambar hati terbuat dari monel. Seketika itu juga semua teman perempuanku yang melihatnya, bersorak sorai memanggil namaku dan namamu. Kau tau, Lang... aku sangat malu. Aku menutup wajahku yang terasa panas dan mungkin merah padam. Ingin menangis karena olokan itu namun nyatanya pipiku malah menarik sebuah senyuman.

            Sejak saat itu, teman-teman menjodohkan kita. Setiap ada kamu, mereka meneriakkan namaku. Begitu pula sebaliknya. Namun rupanya hal itu sama sekali tidak membuatmu jera. Ingat saat kamu memberiku secarik surat, dengan sebaris kalimat pendek yang kamu tuliskan dengan pensil? "Kamu cantik" ... kamu kembali membuatku tersipu dan berpikir kamu menyukai aku.

            Namun kenapa semua harus berubah, ketika kita naik ke kelas empat. Kamu tak lagi memberiku surat, tak lagi memberiku benda-benda mungil yang lucu, parahknya tak lagi memberiku perhatian. Kenapa, Lang? Apakah kamu sudah mulai bosan dengan olokan teman-teman yang selalu meneriakkan nama kita? Terkadang aku menyesal selama ini mendiamkan teman-teman perempuanku melakukannya. Andai saja aku lebih awal menegur mereka, mungkin saat itu kamu tidak akan menjauhi aku. Atau... atau ada seseorang lainnya yang menggantikan posisiku di hatimu?

            Mata kecilku pun selalu mengawasi kemana kamu pergi. Ke kantin, perpustakaan, ruang komputer, dan semua tempat yang kamu tuju. Sungguh aku penasaran. Adakah seseorang lain itu?  Nyatanya aku tak pernah sekalipun melihatmu memberikan apapun pada siapapun. Elang, kamu sudah membuatku bingung.

            Menginjak kelas enam. Sikapmu tidak mengalami perubahan. Seolah tak pernah ada kenangan apapun, seolah kejadian di kelas dua dan tiga tak pernah terjadi. Bahkan tak ada lagi satupun temanku yang mengungkit hal itu. Kau tau, Lang... kadang aku merindukan saat-saat itu, saat-saat mereka memanggil nama kita berdua, saat kau membagi senyuman manismu padaku. Sekarang aku hanya bisa memandang punggungmu dari belakang. Punggungmu yang mulai melebar dan memanjang. Yang membuat tubuhmu kini jauh lebih tinggi daripadaku.

            "Kirain udah tidur," kata Elya, teman sekamarku di asrama yang sudah setahun ini kutempati, masuk ke kamar.

"Iya tadi udah tidur, trus kebangun gara-gara mimpi," jawabku.

"Pasti mimpiin pacar masa kecil lagi, iya kan?" tebak Elya. Aku tersenyum.

"Sudahlah, Ga. Lupakan aja dia, saatnya kamu cari pacar beneran," sambungnya.

"Aku pengen, tapi aku nggak bisa," jawabku sambil menutup buku harianku yang penuh dengan kisahku dan Elang.

"Masa udah setaun kuliah di sini, kamu nggak naksir siapapun? Bukannya Rico itu ganteng, kamu sahabatan sama dia dari SD juga kan? Thomas juga not bad... hm... Jason juga lumayan kok... mereka udah jelas suka semua sama kamu, Ga!" Aku hanya tertawa mendengar tiga nama yang disebutkan oleh Elya.

Salah satunya Rico Dirgantara. Sebenarnya bukan saja sahabatku dari sekolah dasar, tapi juga taman bermain. Teringat akan tubuhnya yang mungil saat itu, lebih mungil daripadaku. Sampai-sampai aku terus memanggilnya dengan sebutan "Dik". Sungguh menggelikan ketika kemanapun aku pergi, dia selalu mengikuti. Bila ada teman yang nakal denganku, dia berusaha membelaku meskipun akhirnya dia yang menangis karena mendapatkan pembalasan. Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Sampai tak sadar Elya terus menatapku.

"Jangan-jangan kamu udah gila ya, gara-gara pacar kecilmu itu?" ungkapnya. Aku mencibir.

"Rico itu udah aku anggap seperti adikku sendiri," jawabku. Gantian Elya yang mencibir.

"Masih ada Thomas dan Jason tuh... tinggal pilih aja, jadi deh... " Seenaknya saja Elya mengatakannya. Seolah aku bisa dengan mudah melupakan Elang, semudah dia melupakan pacar-pacarnya terdahulu yang entah berapa banyak jumlahnya.

"Eh beneran sayang lagi... masa cowok-cowok seganteng mereka kamu biarin lewat gitu aja, cuma gara-gara seseorang yang nggak jelas ada dimana?? Ntar keburu digaet orang baru nyesel kamu!"

"Aku kasih buat kamu aja kalo kamu mau deh, El, aku tidur dulu besok ada kuliah pagi," kataku sambil menarik selimut hingga ke kepala.

"Kamu yakin, Ga? Nggak nyesel nih?" Aku hanya menggelengkan kepala. Dasar memang Elya, kapan dia pernah serius pacaran. Setiap kali ganti pacar, kurang inilah, kurang itulah...

"Jangan harap aku mengikuti jejakmu yah..." ungkapku dalam hati. Aahhh Elang... aku berharap kembali bermimpi tentangmu.

            Usai kuliah aku melangkahkan kaki menuju ke perpustakaan. Ada beberapa buku yang harus kupinjam untuk menyelesaikan tugas yang baru saja diberikan oleh dosen ter-killer di kampusku. Aku melihat Rico berlari kecil ke arahku.

"Agatha, sore nanti kamu ada acara nggak?" tanyanya.

"Nggak ada sih, cuma aku harus ngerjain tugas dari Pak Dewa nih, lusa udah harus dikumpul. Emangnya ada apa nih?" Rico tersenyum lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Nggak, aku cuma mau ajak kamu jalan aja..." Ekspresi itu tak pernah berubah. Ekspresi penuh harap yang sudah selama empat belas tahun menghiasi hariku. Ekspresi yang selalu berhasil membuatku merasa kasihan sehingga tak pernah bisa menolaknya. Aku tertawa kecil,

"Iya deh, aku kasih waktuku dua jam aja yah... emangnya mau kemana?" tanyaku.

Rico tertawa, "Pokoknya adaaa aja, kamu pasti seneng!" katanya sambil menyentil ujung hidungku. "Ntar aku jemput jam enam sore yah, jangan lupa dandan yang cantik!" Aku ikut tertawa. Bahagia? Iya aku selalu merasa bahagia ketika bersama Rico, tapi kebahagiaan ini tak lebih dari rasa sayangku padanya yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Memang badannya sekarang jauh lebih besar dan tinggi dari aku, tapi entah kenapa perasaanku tetap saja menganggapnya begitu.

            Jam sudah menujukkan pukul 18.05 ketika pintu asramaku diketuk oleh seseorang. Aku membukanya dan tersenyum ketika melihat Rico  tampak rapi memakai kemeja kotak-kotak biru dengan celana jeans biru. "

Tumben nggak slebor," ungkapku. Rico tersenyum.

"Siap Nona? Aku akan membuatmu bahagia malam ini," aku malah tertawa mendengar ungkapannya. "Eh iya serius... kamu nggak akan pernah bisa lupain malam ini!"

"Udah udah, nggak usah banyak ngomong, buktikan aja!" tantangku. Rico mempersilakan aku naik ke dalam mobil JAZZ hitamnya.

            Sungguh sebenarnya aku sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan Rico sehingga dia yakin aku tak akan pernah bisa melupakan malam ini. Sesekali aku melirik ke samping, menatap wajah tampan seseorang yang selama ini selalu menemani aku dalam suka dan duka. Rico tak banyak bicara, sesekali hanya berkata, "Tenang ya, sabar... bentar lagi nyampe."

            Rico memarkirkan mobilnya di depan salah satu restoran taman di kawasan kampus Atmajaya. Cukup jauh dari asramaku yang ada di kawasan UGM.

"Turun yuk," ajaknya. Lantas aku pun turun dari mobil dan mengikuti langkahnya masuk ke restoran yang seluruh struktur bangunannya terbuat dari bambu. Rico membawaku ke meja paling ujung, di dekat kolam ikan yang memperdengarkan gemericik air pancuran. Entah apa maksudnya membawaku ke sini, yang jelas aku merasa malam ini tak seperti biasanya. Sudah berkali-kali Rico mengajakku makan malam, tapi baru kali ini dia mengatakan akan membuatku bahagia dan tak akan pernah bisa lupa.

"Kamu mau pesan apa, Ga?" tanya Rico sambil menggenggam sebuah pen.

"Apa aja deh, terserah... " jawabku. "Hm... di sini ada makanan kesukaanmu loh, nasi goreng sea food... " katanya sambil menuliskan menu itu di notes. Aku tersenyum. Lalu tertawa ketika mendengar Rico berkata pada sang pelayan,

"Mbak, nasi goreng seafoodnya cabenya dikit aja, garamnya jangan terlalu banyak, trus minyaknya juga jangan terlalu banyak... hm.. apalagi yah... oh ya... jangan pake saos! Bener gitu kan, Ga?"  tanyanya. Aku mengangguk dan mengacungkan jempol. Daya ingatnya sungguh hebat, dia tahu benar apa yang aku mau. Deg! Tiba-tiba jantungku berdesir ketika aku menyadari hal itu. Rico tau benar apa yang aku mau.

"Trus mbak, jus jambunya jangan lupa disaring yah, gulanya nggak usah banyak-banyak, dicampur jeruk nipis dikit..." aku masih mendengar Rico memesankan minuman kesukaanku. Namun kali ini tak membuatku tertawa. Ada sebersit rasa yang tak biasa hinggap di hatiku. Entah rasa apa itu, yang jelas aku tak pernah merasa begini.

            Sambil menunggu makanan datang, sesekali Rico melirik jam tangan.

"Ada apa, Dik?" tanyaku.

"Ada deh, tunggu yah... paling sebentar lagi," katanya. Aku semakin bingung dan penasaran. Tak seberapa lama kemudian, aku dikejutkan oleh sebuah suara dari arah belakangku. "

Sorry, udah lama ya nunggunya..." Rico beranjak dari duduknya.

"Ga, masih ingat dengan orang ini?" Aku menarik napas panjang. Apakah ini sebabnya  Rico mengajakku ke sini? Siapakah orang ini, yang kata Rico akan membuatku bahagia, dan tak akan pernah lupa? Perlahan aku menoleh ke belakang. Dan...

            "Hai, Ga.. lama kita nggak ketemu," aku tercekat tak bisa berkata apa-apa. Mataku menyusuri tubuh laki-laki itu dari ujung sepatu sampai ke ujung rambutnya...

"Hm... siapa ya?" tanyaku membuat Rico dan laki-laki itu terhenyak. Sekali lagi aku menatap tubuh padat gempal keringatan cowok di depanku. Aku sama sekali tidak mengenalinya. Lalu aku tatap wajahnya yang bulat dan berminyak itu dengan seksama. Sungguh aku tidak mengenalnya.

"Mungkin karena penampilanku sekarang seperti ini, kamu jadi nggak mengenali aku lagi, Ga," katanya. Aku mengerutkan alis sambil menatap Rico. Berharap Rico segera memberi jawaban atas rasa penasaranku akan siapa laki-laki ini.

"Dia ini Elang, Ga... kamu inget kan? Temen SD kita dulu... !" Gubrak!!! Seketika itu juga aku tak sadarkan diri.

 

Bersambung :)

Read previous post:  
Read next post:  
Writer penuliswarawiri
penuliswarawiri at PACAR IMPIAN (7 years 50 weeks ago)

Nice ... Cuma ga siap untuk kemunculan "gubrak" dalam ceritanya :)

Writer AkangYamato
AkangYamato at PACAR IMPIAN (7 years 51 weeks ago)
80

Untuk cerita, IMHO, sudah oke!..
.
Paling hanya perlu sedikit dipoles lebih sering lagi, termasuk merapihkan susunan paragraf sehingga tidak terkesan bertumpuk2. ;)

Writer herjuno
herjuno at PACAR IMPIAN (7 years 51 weeks ago)
70

Setuju, permainan paragrafnya kurang.
.
Untuk bagian akhirnya, saya nggak bakalan protes, karena toh plotnya masih masuk akal. :D

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at PACAR IMPIAN (7 years 51 weeks ago)
80

Dengan enggan saia setuju dengan dansou. Endingnya bikin mengernyit. Padahal udah fluff dari awal... dan saia udah terbuai.
.
Gak mau komen tentang penulisan ah~ :D

Writer dansou
dansou at PACAR IMPIAN (7 years 51 weeks ago)
80

Awalnya saya bakalan ngerasa ini menjadi cerita romantis yang manis. Bagian awal memang manis, sayangnya kemanisan itu tidak bertahan hingga ke akhir cerita. :( Saya enggak begitu suka endingnya yang bikin saya mengangkat alis.
.
Tapi ini cerita yang bagus. Narasimu bagus. Kecuali masalah twist di ending yang sedikit memaksa, saya pikir enggak masalah :D

Writer Onik
Onik at PACAR IMPIAN (7 years 51 weeks ago)

ok thx masukannya, dicoba untuk direnungkan lagi supaya endingnya lebih enak untuk dinikmati :)

Writer dansou
dansou at PACAR IMPIAN (7 years 51 weeks ago)

eh, ini cerita bersambung? <<< baru sadar. Maaf, ya :(

Writer Kurenai86
Kurenai86 at PACAR IMPIAN (7 years 51 weeks ago)
70

Umm...
setengah ke bawah, paragrafnya kurang nyaman dibaca. campur aduk gitu ==a
kalo per dialog dikasih enter akan lebih enak dibaca.
narasi dan isi ceritanya sendiri nggak terlalu masalah sih ya... standar teenlit :)

Writer Onik
Onik at PACAR IMPIAN (7 years 51 weeks ago)

Ok thx... i'll fix it :)