PACAR IMPIAN -2-

            Mataku menerawang sementara pikiranku melayang. Memunguti serpihan bayangan wajah yang rupawan. Namun semakin kucoba semakin sulit kulakukan. Perlahan samar lalu menghilang...

            Aku tahu, tak seharusnya pingsan begitu saja saat menyadari Elang kini telah berubah. Tak seharusnya aku menghakimi fisiknya yang tak seindah dulu. Namun Tuhan, aku tak bisa mengingkari rasa kecewa ini, meskipun aku mencoba menghalaunya. Sekian lama aku menantikan pertemuan ini... memimpikannya setiap hari. Katakan Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku paksa diriku untuk bahagia? Ataukah menenggelamkan diri dalam kecewa?

Diam... hanya itu yang bisa aku lakukan ketika Rico mencoba bertanya, "Kamu kenapa?" Rico memberikan segelas air putih padaku. "Kamu nggak lagi sakit kan, Ga?" Hanya tetesan airmata saja yang bisa mewakili galaunya perasaanku saat ini. Rico mengusapnya perlahan.

"Maafin aku, Ga... kupikir kamu bakal bahagia ketemu sama Elang, setelah sekian lama kalian nggak ketemu," katanya pelan. Aku menunduk. Rica memegang kedua bahuku lalu menatapku tajam.

"Kamu kecewa karena ternyata Elang nggak seperti yang kamu pikirkan?" tanyanya tepat menghunjam jantungku. Rico tersenyum sinis.

"Cuma sebatas penampilan fisikkah kamu menilai seorang teman, Ga?" aku masih saja diam. Rico menggeleng-gelengkan kepala.

"Naif sekali kamu, Ga? Emangnya kenapa kalo Elang berubah seperti itu, toh itu bukan kemauan dia juga kan?" Rico melepaskan tangannya dari bahuku.

"Aku nggak nyangka kamu bisa setega ini sama seorang temen yang pernah deket sama kamu, Ga... gimana dengan aku nanti, kalo ternyata aku juga berubah seperti Elang? Apakah karena fisik yang jelek lantas seseorang nggak pantes lagi temenan sama kamu?" Temenan? Ucapan Rico tepat mengenai hati dan kesadaranku. Kenapa aku tak bisa hanya menganggapnya teman, sehingga aku tak harus memiliki pikiran dan perasaan seperti ini? Lalu aku pun menarik napas panjang.

"Mana Elang?" tanyaku lirih.

"Dia sudah pulang, dia minta maaf karena udah bikin kamu kaget sampai pingsan."

 

            "Mimpi itu kini telah berakhir" kutuliskan kalimat itu tepat di halaman paling belakang buku harianku, sebelum aku membakarnya. Semua kenanganku bersama Elang, berakhir sudah bersama abu yang terbang diterpa angin malam.

"Saatnya kembali ke realita klo ada tiga cowok keren yang masih nungguin kamu, Ga," kata Elya yang sedari tadi menemani aku di teras belakang asrama. Aku mengangguk,

"Saatnya aku membeli diary baru." Elya tertawa kecil lantas melingkarkan tangannya di bahuku.

"Dan aku akan membantumu mendapatkan salah satu dari mereka bertiga..." katanya. Aku tertawa. Bahagia? Bukan... aku hanya menertawakan kebodohanku selama ini, menanti hal yang tak pasti.

 

            Siang ini aku sendirian menyelesaikan tugas dari pak Dewa di ruang perpustakaan. Sedikit menyesal karena semalaman sudah menghabiskan waktu untuk menangis dan melamun. Tiba-tiba ada sebuah buku disodorkan tepat di depanku. Aku mengernyit sejenak lalu mendongak. Sebaris gigi rapi milik Jason tersembul dibalik senyumannya.

"Elya bilang kamu perlu bantuan buat nyelesaiin tugasnya pak Dewa," katanya. Elya... ada saja caranya untuk menyomblangiku. Aku tersenyum dan menerima buku itu.

"Thanks, Sen," ucapku. Lalu Jason menarik kursi di hadapanku, "Barangkali ada kesulitan, kamu bisa langsung tanya ke aku." Dapat kulihat dengan jelas matanya berbinar menatapku, tatapan yang terus menerus kudapatkan namun kuhindari selama setahun aku berada di kampus ini...

           

            Hari yang cukup melelahkan. Mendekati pukul empat sore aku keluar dari kampus. Aku melihat Thomas berlari menghampiriku.

"Pulang bareng yuk, kata Elya hari ini kamu kecapean," katanya. Ya ampun, kenapa mendadak cowok-cowok ini jadi agresif begini? Sungguh aku penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Elya pada mereka. Sebelum aku menjawabnya, aku melihat Rico menghentikan mobilnya tepat di depanku.

"Masuk, Ga... aku antar kamu pulang," katanya melalui kaca jendela yang terbuka. Aku menatap wajah Thomas yang sedikit kecewa.

Namun dia masih saja tersenyum, "Mungkin lain kali ya, kita bisa pulang bareng," katanya mengalah.

"Hm iya, maaf ya, Tom," ucapku lalu masuk ke dalam mobil.

 

            Sepanjang perjalanan menuju asramaku, Rico hanya diam. Wajahnya nampak tegang dan marah. "Kamu kenapa?" akhirnya kuputuskan untuk bertanya. Rico menepikan mobilnya lalu menatapku tajam.

"Aku nggak suka kamu dekat sama Thomas."

Aku tertawa kecil, "Kenapa? Kamu cemburu ya?" godaku.

"Denger ya Ga, aku nggak peduli kamu deket sama cowok manapun, asalkan jangan Thomas!"

Alisku mengerut, "Emangnya ada apa dengan Thomas?"

"Thomas itu...!!" Rico tiba-tiba berhenti berkata, lalu membuang muka. "Ah sudahlah...," katanya seraya menyalakan mobilnya kembali. Kutahan lengan Rico saat hendak membelokkan setir.

"Kamu kenapa, Dik? Kenapa nggak jujur aja sama aku?" Rico menatapku sesaat.

"Suatu saat kamu pasti tahu apa sebabnya..." Tapi aku bukanlah orang yang suka dengan teka-teki. Aku harus tahu jawabannya... aku harus tahu apa alasan Rico melakukan ini!

"Ok nggak apa-apa kalo kamu nggak mau jujur sama aku, Dik... aku bisa cari tahu sendiri," kataku.

 

            Malam ini aku sengaja menunggu Elya masuk ke kamar. Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku sampaikan padanya mengenai Thomas. Jam sepuluh kurang lima menit Elya masuk ke kamar.

"Tumben belum tidur, Ga?" Elya melepas sepatu.

"Sengaja nungguin kamu," jawabku.

"Oh ya? Ada apa nih?" tanyanya seraya duduk di hadapanku.

"Tentang Thomas... hm apa yang kamu tau tentang dia?" Elya mengerutkan alisnya.

"Aku nggak banyak tau tentang Thomas, Ga," jawabnya.

"Jujur?" tanyaku. Elya mengangguk.

"Setahuku sih dia itu jago basket dan matematika... trus... dia itu belum pernah punya pacar... trus... apalagi yah?" Elya menjentik-jentik dagunya. "Itu aja sih yang aku tahu, btw ada apa sih?" tanyanya.

"Rico keliatan marah banget pas liat Thomas ngajakin aku pulang bareng tadi."

Elya tertawa kecil, "Oh gitu ya? Wajar aja kali, Ga.. Rico itu kan juga suka sama kamu, wajar dong kalo dia cemburu," jawabnya sambil beranjak dari tempat tidur menuju ke depan lemari pakaian.

"Tapi tadi dia bilang ga peduli aku mau deket sama siapa aja asal jangan Thomas, El?"

Elya menggelengkan kepala, "Itu alasan dia aja kali, Ga... paling-paling klo dia liat kamu deket sama Jason, dia juga bakalan bilang begitu juga. Udah deh, nggak perlu diambil hati, biarkan semuanya mengalir apa adanya... atau jangan-jangan... "

"Jangan-jangan apa?" tanyaku.

"Jangan-jangan Rico juga yang misahin kamu dari pacar kecil kamu waktu itu???" Deg! Sejenak jantungku berhenti berdetak. Mungkinkah? Tidak! Aku menggelengkan kepala, aku rasa Rico bukan orang yang seperti itu. Dia bukan tipe orang yang bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan...

"Aku nggak percaya Rico bisa begitu," kataku.

Elya kembali mendekat setelah mengambil beberapa helai baju dari dalam lemarinya, "Kamu pengen tau kebenarannya? Kenapa kamu nggak coba test dia aja?" Alisku mengerut.

"Maksudmu?"

"Ya elah... ya kamu coba aja pura-pura deket sama Jason kek, supaya kamu bisa tau responnya dia kayak apa? Jitak kepalaku kalo emang Rico nggak cemburu dan berusaha misahin kamu dari Jason!" Aku terdiam. "

Udah ah aku mandi dulu, udah gerah nih," pamitnya lalu meninggalkanku. Apakah benar yang dikatakan Elya? Seperti itukah Rico? Apakah benar Rico yang sudah membuat Elang jauh dariku saat itu? Haruskah untuk mengetahui bagaimana sifat Rico yang sebenarnya aku harus pura-pura dekat dengan Jason?

 

            Siang sepulang kuliah aku menghampiri Jason yang tengah ada di kantin bersama beberapa temannya. Sedikit canggung rasanya secara tiba-tiba aku mendekatinya tanpa satu alasan yang lebih tepat dari hanya minta diantar pulang. Jason sepertinya langsung menyadari kehadiranku di sana. Seperti biasa senyumnya pun langsung mengembang.

"Ada apa, Ga?" tanyanya. "Hm... kamu masih ada kuliah nggak?" tanyaku ragu.

"Nggak sih, kebetulan dosennya absen nih," jawabnya ringan. "Aku boleh minta tolong?"

Jason tertawa kecil, "Apapun aku usahain buat kamu."

"Anterin aku pulang?" Jason mengangguk lalu

"Sob, gue pamit anterin Agatha dulu ya," katanya pada teman-temannya seraya beranjak dari kursinya.

 

            Aku dan Jason melangkah beriringan menuju ke tempat parkir mobil, dan saat itu juga aku berpapasan dengan Rico. Entah kenapa jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Tersekat menyakitkan. Tak biasanya aku merasa seperti ini. Ya Tuhan, kenapa aku harus merasa seolah sengaja menyakiti hati Rico?? Rico menghentikanku, tangannya memegang lenganku.

"Kamu udah mau pulang yah?" tanyanya.

Jason tersenyum lalu menjawab, "Iya dan gue akan nganterin Agatha balik, gue harap lo nggak keberatan."

Rico tertawa kecil, "Tentu aja nggaklah, malahan thanks banget lo udah mau anterin sohib gue. Ati-ati!" Lalu Rico meninggalkan kami berdua.

           

           "Kalo kamu suka sama dia, kenapa kamu ngelakuin ini?" suara Jason memecahkan keheningan saat kami berada di dalam mobil menuju ke asramaku. 

"Aku suka sama siapa? Rico?" ulangku. Jason mengangguk sambil tangan kirinya memindah gigi. "Aku sudah menganggap dia seperti adik aku sendiri kok." jawabku.

Jason tertawa ringan, "Tapi wajahmu tadi kelihatan begitu panik, Ga... Hm nggak apa-apa sih kalo kamu nggak jujur sama aku, mungkin kamu masih bingung sama perasaan kamu saat ini." Aku membuang muka menatap ke luar jendela. Benarkah aku mulai ada perasaan terhadap Rico seperti yang dikatakan Jason?

"Denger-denger kalian udah bersahabat dari SD yah?"

"Yang bener taman bermain, dulu dia badannya kecil sekali... paling kecil satu kelas, makanya aku panggil dia dik," aku tersenyum. "Dari dulu dia sok ngejagain aku, setiap ada yang nakal dia selalu belain aku... walaupun akhirnya dia nangis sendiri karena dapat balasan... " sambungku seraya tertawa kembali mengenang saat itu. Begitu asyiknya aku bercerita tentang masa kecilku bersama Rico hingga tak menyadari mobil sudah berhenti tepat di depan pagar asrama. Sementara Jason sesekali nampak tersenyum mendengarkan celotehku.

"Ups, sorry aku malah jadinya curhat sama kamu," kataku.

Jason tertawa, "Aku seneng kok ngedengernya."

Aku tersenyum, "Makasih yah." Jason mengangguk. Lalu menahan tanganku saat aku mulai membuka pintu mobil.

"Jujurlah sama perasaan kamu, Ga. Aku bisa ngeliat dengan sangat jelas lewat binar matamu... kalo kamu... mencintai dia," kata Jason pelan. Jantungku mendadak berdetak dua sampai tiga kali lebih kencang. Terlihat seperti itukah aku saat bercerita tentang Rico tadi? Benarkah perasaanku terhadap Rico telah bergeser menjadi perasaan cinta?

 

            Dengan hati tak keruan dan pikiran yang terpecah, aku melangkah menuju ke pintu masuk asrama. Saat itu juga aku berpapasan dengan seorang cowok bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja warna putih dan celana jeans biru tua. Sosok cowok yang membuatku menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Tak kusangka ternyata cowok itu pun melakukan hal yang sama. Sejenak kulihat dia tersenyum dan membetulkan letak kacamatanya sebelum dia kembali berjalan meninggalkan aku yang masih saja terpaku. Siapa dia? Kenapa sosok itu sangat mirip dengan....???

 

---- bersambung ----

Read previous post:  
38
points
(1687 words) posted by Onik 7 years 51 weeks ago
63.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | Impian | remaja
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nicky
nicky at PACAR IMPIAN -2- (7 years 1 week ago)
80

Ass. Onik apa kabarnya? lama aku gak ol di kikom, kalo cerita aku kurang baik tapi kalo prosa lirisnya aku suka mantap lah, sukses ya, salam karya.

Writer herjuno
herjuno at PACAR IMPIAN -2- (7 years 50 weeks ago)
80

Cih, cliffhanger! Hm, sampai sini, kayaknya cukup menjanjikan. Alurnya enjoyable. :D