Tantangan Horor: Di Tengah Hujan

 

Seperti halnya kemarin, sore ini, hujan kembali turun.

Aku menghela nafas panjang. Sudah sejak seminggu ini hujan turun setiap sore menjelang. Itu artinya, mau tak mau aku harus berteduh dulu di bawah atap sebuah warung internet yang terletak tak jauh dari sekolah tempatku berada. Halte yang biasanya kusambangi terletak agak jauh dari sekolahan—sekitar setengah kilometer—dan aku tentu saja tidak ingin mengambil risiko untuk jatuh demam hanya untuk menerabas hujan sederas ini. Tidak, akan lebih aman untuk menunggu saja di sini....

“Ah, Kakak lagi nungguin hujan, ya?”

Si...siapa? Sontak, aku pun langsung menoleh ke arah suara yang bersumber dari sebelah kiri pundakku. Kudapati seorang gadis kecil berbaju abu-abu tampak berdiri di sana, tengah memandangku seraya tersenyum. Rambut panjangnya yang dia biarkan tergerai tampak sedikit basah akibat cipratan air hujan, begitu pula kulitnya yang—anehnya—terlihat agak pucat. Atau mungkin kusam, aku tak dapat membedakannya dalam temaram lampu beranda rental warung internet lapuk ini.  “Eh iya, Dek, begitulah,” balasku, masih sambil bertanya sudah sejak kapan ia berada di sana. Itu karena aku tidak mendengar ada suara seseorang beringsut ke sampingku. Tapi, ah, mungkin bunyi kehadiran dirinya tertutupi oleh derai hujan dan gelegar petir yang riuh ini. “Kakak lagi nunggu hujannya reda, supaya Kakak nggak sakit,” tambahku.

“Syukurlah kalau begitu,” gadis kecil itu menimpali. Aku sendiri langsung mengerutkan kening saat mendengar kalimatnya. Apa maksudnya dia berkata seperti itu, coba? “Viona pergi karena disuruh beli roti sama Mama, tapi tahu-tahu hujan,” tambahnya seraya mengacungkan sebuah plastik kepadaku.

Oh, jadi namanya Viona....

“Begitu,” gumamku perlahan. Kemudian, aku lantas mengalihkan pandanganku ke arah langit yang masih tampak muram. Kurasakan perutku berkerucuk—aku belum makan sejak tadi siang. Itu karena ada ulangan Fisika tadi, dan karena  aku belum belajar, maka mau tak mau aku harus merelakan waktu makan siangku.  Hm, mungkin aku akan mampir ke toko roti yang disebutkan oleh gadis kecil itu. Kalau tidak salah, toko itu terletak di ujung ja....

Hei, tunggu sebentar. Bukankah toko itu sudah pindah sejak awal bulan ini? Lantas dari mana ia membeli roti itu? “Hei, Dek, kamu....”

Tidak ada. Tidak ada siapa pun di sana.

Aku terperangah. Kuedarkan pandanganku ke sekelilingku, menembus hujan yang, meski belum sepenuhnya reda, sudah tak lagi sederas tadi. Hei, ke mana dia? Ia tidak mungkin pergi ke jalan yang masih dituangi oleh tetes-tetes air, kan? Tidak, aku sudah pasti akan melihatnya, jadi ke mana... Ah, sudahlah. Mungkin ia masuk ke warung internet yang ada di belakangku ini. Kuputuskan untuk tidak memikirkan gadis kecil itu lagi, dan saat mendapati bahwa hujan sudah berganti menjadi gerimis, aku lantas beranjak dari warung internet itu. Gawat, sudah hampir magrib...kuharap masih ada bus yang tersisa. Mana aku harus mengerjakan PR Matematika, lagi!

 

***

 

Selama ini, aku menganggap kalau membawa payung ke sekolah itu norak. Tidak jantan. Hanya para gadis yang menenteng payung ke mana-mana, dan tentu saja aku enggan melakukan yang mereka lakukan.

Namun, hari ini berbeda. Kalau biasanya hujan baru turun pada siang hari atau menjelang sore, hari ini, hujan sudah turun semenjak pagi—dengan lebatnya pula. Aku pun tak punya pilihan lain selain membawa benda kecil memalukan itu. Dengan berat hati, aku menerima payung kecil berlogokan sebuah bank yang Mama berikan kepadaku, dan dengan berat hati pula, aku membawa payung itu dari rumah menuju halte. Kuharap tak ada temanku yang...ah, mana ada temanku yang berjalan kaki pakai payung? Rata-rata mereka mengenakan jas hujan sambil naik motor, atau bahkan tak perlu mengenakannya sama sekali karena terlindungi atap mobil. Mungkin hanya aku satu-satunya yang tidak membawa kendaraan sendiri ke sekolah. Wajar saja, semenjak aku mengalami kecelakaan sepeda motor beberapa bulan silam, Papa dan Mama setuju untuk tidak lagi membiarkanku menggunakan kendaraan. Mereka bahkan awalnya mau mengantar-jemput diriku ke sekolah—yang tentu saja kutolak. Bayangkan saja, di saat teman-temanku datang ke sekolah menggunakan mobil, aku... Hei, tunggu dulu.

 Bukankah itu gadis kecil yang kemarin?

Aku mengamat-amati sosok yang terngah mematung di pinggir jalan tersebut, mencoba mengira-ngira apakah terkaanku tepat. Benar, sepertinya itu dia.Tapi kenapa dia hujan-hujanan seperti itu? Yang lebih penting lagi, apa yang dilakukannya sepagi ini sendirian tanpa seragam sekolah? Berbagai asumsi—seperti kabur dari rumah atau bahkan diusir—mulai berkelibatan dalam benakku, membuat diriku tak nyaman. Hal itulah yang membuat diriku mempercepat langkah menuju gadis itu; aku ingin menanyakan apa yang terjadi padanya....

TIIN!

“Woi, kalau nyeberang lihat-lihat, dong! Udah bosen hidup, ya?”

“Ma...maaf,” ucapku terbata. Aku lantas membungkukkan badanku beberapa kali kepada pemuda pengemudi mobil itu, dan setelah itu, menolehkan kepalaku ke arah gadis kecil itu...

...menghilang?

Tapi, aku tidak mengerti. Tadi dia ada di sana, tapi mengapa....

“Hei, ngapain kamu bengong begitu di tengah jalan? Sana pergi!”

Sentakan pengemudi mobil yang tadi membuatku tersadar bahwa aku telah menyebabkan kemacetan, jadi itulah sebabnya aku buru-buru beranjak. Kemudian, saat aku tiba di tempat gadis kecil itu berdiri, aku memperlambat derap sepatu hitam putihku. Kuedarkan pandanganku sekali lagi untuk menemukan gadis kecil yang tadi. Namun, sia-sia saja. Aku tidak menemukannya—bahkan melihatnya saja pun tidak. Akhirnya, setelah beberapa menit celingukan, aku menyerah. Kubiarkan bayangan gadis kecil berambut panjang itu menguap dari benakku. Berada di sini terlalu lama bisa membuatku terlambat, dan kurasa, mencoba menemukan seorang gadis kecil yang tiba-tiba saja menghilang bukan alasan yang bagus untuk kuutarakan kepada guru piketku.

 

***

 

Seperti halnya kemarin, sore ini, hujan kembali turun.

Aku mendongak ke arah awan-awan hitam yang membumbung di angkasa melalui payung berlambangkan bank milikku. Kalau mau jujur, aku sebenarnya tidak ingin mengenakan payung ini di sekolah, tapi karena Mama menyuruhku untuk segera pulang karena Tante Yanti akan mampir sejenak, maka aku mau tak mau pun harus menggenggamnya sepanjang perjalanan ke halte. Sore yang sudah semakin larut membuat suasana terasa sepi—bahkan meskipun ini adalah jam pulang sekolah. Ah, bodohnya aku. Tentu saja, kebanyakan dari mereka tentu enggan menerobos hujan yang terhitung deras ini dengan motor mereka, dan mereka yang menggunakan mobil tentu enggan mencuci lagi mobil yang belum lama mereka bersihkan. Meski begitu, harus kuakui, rasa sepi ini sedikit menggangguku. Maksudku, di antara suara rintik-rintik hujan, aku hanya dapat mendengar suara mobil yang melintas, dan....

“Kakak.”

Deg! Aku hampir saja tersandung saat aku mendengar suara itu. Itu suara Viona, kan? Kutolehkan kepalaku ke arah suara itu memanggilku, dan aku langsung mendapati dirinya tengah berjalan menghampiriku di tengah hujan. Namun, bukan itu yang menjadi perhatianku; aku lebih concern pada kenyataan bahwa Viona tengah berlarian di tengah hujan begini. Bagaimana kalau dia sakit? Lagi pula orang tuanya, bagaimana sih, sampai tidak memedulikan gadis ini? Lihat, betapa basahnya bajunya...dan kutebak sepatunya juga pasti...

Sedetik kemudian, aku terkesiap. Viona tidak mengenakan sepatu. Dan kakinya juga tidak menapak di tanah.

 Aku memandang gadis kecil itu dengan perasaan ngeri. Meski begitu, aku merasa tungkaiku terlalu kaku untuk kubuat berlari. Begitu pula seluruh badanku—satu-satunya yang dapat kugerakkan adalah kedua bola mataku. Dan bola mata ini memandang ngeri sosok Viona saat ia melayang mendekatiku, menampakkan wajahnya yang polos dan pucat. Kini aku sadar kalau kulit wajahnya tidaklah kusam, tetapi pucat. Benar, pucat. Seakan tidak ada satu tetes darah pun yang mengalir di nadi wajah itu.

“Kakak, tolong aku. Hanya Kakak yang bisa....”

Entah dari mana, aku tiba-tiba merasakan tubuhku dapat kembali kukendalikan. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung berlari sekencang mungkin meninggalkan gadis itu di belakang. Aku tidak peduli bagaimana caranya—pokoknya aku harus pergi sejauh mungkin dari dirinya!

Langkahku melambat—dan akhirnya terhenti—tepat ketika aku mencapai halte tak lama kemudian. Dengan segera, aku pun menoleh ke belakang. Sebuah helaan nafas lega langusng muncul di antara tarikan nafas tak beraturanku tatkala mendapati bahwa gadis itu (atau makhluk-entah-apa itu) tidak kudapati berada di belakangku. Untunglah busku tiba tak lama berselang, sehingga jarak antara diriku dengannya juga bertambah jauh. Kemudian, aku kembali menghembuskan nafas lega. Semuanya akan baik-baik saja saat aku tiba di rumahku. Aku yakin, gadis itu pastilah tidak akan menyusul ke rumah. Sekarang, yang perlu kulakukan hanyalah tiba di rumah dengan selamat dan lalu berendam di air hangat untuk melupakan wajah pucat gadis i...

Argh, pergilah dari pikiranku!

 

***

 

 

Orang bilang, mandi air hangat itu bagus untuk menenangkan pikiran. Hm, sepertinya, aku harus mengakui hal tersebut. Setelah berendam di bath tub selama nyaris setengah jam, aku merasakan pikiranku sudah kembali rileks. Mungkin karena efek dari berendam itu sendiri, atau mungkin karena aku berhasil meyakinkan diriku bahwa yang kualami tadi hanyalah halusinasiku semata. Benar, halusinasi yang berat. Hujan ini pastilah membuat fokusku turun, sehingga aku pun mulai melihat yang aneh-aneh.

Setelah mengeringkan tubuhku dengan handuk dan mengenakan piyama lengkap, aku lantas beranjak ke wastafel yang berada di kamar mandi untuk melakukan ritual menggosok gigi sebelum tidurku. Sambil bersiul, kubuka kabinet. Kuambil sikat gigi merahku dan juga sebuah pasta gigi. Setelah itu, aku menutup kabinet itu kembali.

Dan mendapati ada sebuah sosok tengah berdiri di belakang punggungku. Sesosok gadis kecil dengan muka pucat dan rambut basah tergerai. Sosok Viona.

A...apa?

Dengan cepat, aku lantas menolehkan kepalaku melewati punggung—hanya untuk mendapati sebuah bathtub yang belum kering benar.

Aku menggelengkan kepalaku. Ah, ada apa denganku ini? Kenapa aku selalu melihat bayangan-bayangan menyeramkan itu? Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Kupukulkan telapak tanganku ke pipi. Tidak, tidak ada apa-apa! Itu tadi hanya sisa-sisa bayanganku saja. Sekarang, mari rileks. Ambil nafas, buang, ambil nafas... bagus, aku sudah merasa agak tenang sekarang. Perlahan, aku lantas mengoleskan pasta gigiku ke sikat gigi, dan setelah memastikan tak ada bekas makanan yang menempel di sela-sela gigi, aku beranjak ke kamar tidurku. Hm, mungkin aku akan tidur dengan lampu menyala saja malam ini. Bukannya aku takut atau apa, tapi sepertinya, aku merasa lebih “aman” seperti itu.

Benar, sepertinya begitu....

Aku beringsut menuju pintu kamarku yang terletak di seberang kamar mandi. Kudengar titik-titik air bekas hujan tadi sore masih menetes di luar sana, pertanda hujan sudah mulai berhenti. Bagus, itu artinya, aku bisa tidak akan kedinginan malam ini. Hujan yang turun belakangan ini membuat udara jadi lebih dingin...tapi omong-omong, kenapa rasanya kamar ini lebih dingin daripada biasanya, ya? Semua jendela tertutup, kok, dan tidak ada AC atau kipas angin yang menyala. Ah, ini pasti kerena aku baru saja keluar dari kamar mandi, jadi suhu tubuhku belum sepenuhnnya normal.

Tapi kenapa sepintas tadi aku melihat tirai jendelanya bergerak? Atau cuma perasaanku saja?

 

 

***

 

Sepertinya, apa yang terjadi padaku kemarin benar-benar merupakan fantasiku semata. Sepanjang hari, aku tidak mendapati ada sosok gadis kecil yang muncul di hadapanku—atau di balik punggungku—lagi. Benar, bahkan meski hari ini muram seperti kemarin, aku merasa  hatiku cerah. Tentu saja, bagaimana mungkin kamu tidak senang setelah bisa terlepas dari figur yang membuat jantungmu selalu nyaris copot dengan kemunculannya? Dan yang lebih hebat lagi, hari ini adalah hari Sabtu, yang berarti aku bisa menonton seluruh koleksi filmku semalaman! Sejak matahari tergelincir dan bulan telah merambat, aku sudah stand by di depan televisi plasmaku. Kusiapkan sebuah DVD Pirates of The Carribean yang kubeli beberapa hari lalu, dan tak lama kemudian, aku sudah asyik menonton film laga itu sendirian. Wah, akting memang Johnny Depp memang oke! Terlebih efek-efeknya mantap nian...tidak rugi aku membeli film yang satu ini!

“Kakak....”

Deg! Su...suara itu... Tiba-tiba, aku merasakan jantungku berdebar keras. Kucoba mengindahkan suara tersebut dengan cara memperbesar volume televisi. Suara teriakan Jack Sparrow pun langsung memenuhi ruangan, membuat diriku jauh lebih tenang. Meski begitu, tetap saja jantungku ini berdetak hebat. Aku tidak tahu kapan suara itu akan muncul lagi, atau apakah suara itu akan muncul untuk kedua kali. Kuharap, yang kedualah yang terja....

“Tolong aku.”

Dan tiba-tiba, layar televisi mati, menampakkan bayangan Viona yang tengah terduduk di sampingku.

Perlahan, aku menengok. Leherku terasa sangat berat, seakan ada sebuah rantai yang mencegahku melakukannya. Namun, atas alasan (atau kekuatan) yang tak kuketahui, aku tetap menoleh. Kudapati Viona juga menoleh kepadaku sekilas, sebelum akhirnya, ia mulai menguap ke udara. Benar, menguap. Seperti saat kau menyeduh teh dengan air panas, dan ada asap yang timbul-dan-hilang. Pada saat itulah, pada saat ia mulai menghilang, kudengar ia menggumamkan beberapa patah kata buram yang sulit untuk kucerna. Pun begitu, aku berhasil menangkap potongan suara yang semakin melirih itu

 “Tolong... Ku... Kecelaka... Diary....”

Setelah itu, Viona lenyap sepenuhnya. Dan televisi itu kembali menyala, menampakkan adegan Jack Sparrow yang tengah berlari di atas kapal.

Masih dengan dibayangi oleh perasaan ngeri sekaligus tak percaya, aku mencoba memahami apa yang gadis kecil itu berusaha utarakan.  Tolong...kecelaka... (ia pasti berusaha mengatakan “kecelakaan”), diary.... Apa dia mencoba untuk memberitahuku bahwa ia meninggal akibat kecelakaan, dan ada sebuah diary yang terlempar saat kecelakaan itu terjadi? Benar, pastilah itu... diary itu pastilah benda yang mencegah arwahnya meninggalkan dunia. Tapi di mana aku harus mulai mencarinya? Aku tidak tahu di mana kecelakaan itu terjadi, ...kan?

Ah, tentu saja. Kecelakaan yang melibatkan diriku!

Kalau aku tidak salah ingat, ada beberapa orang berpakaian abu-abu yang menanyaiku ketika aku masih berada di rumah sakit. Aku saat itu tidak paham apa yang terjadi, tapi kabarnya, ada seorang anak kecil yang turut menjadi korban dari kecelakaan tersebut.  Saat itu, aku masih terlalu shocked dengan kejadian yang menimpaku, jadi aku tidak begitu memedulikan apa yang terjadi padanya—atau bahkan siapa anak itu. Kronologi kecelakaan itu sendiri juga tak dapat kuingat dengan jelas. Yang aku tahu, ada sebuah mobil yang berusaha menyalip mobil lain dari arah yang berlawanan, dan tiba-tiba saja, aku sudah berada di atas ranjang rumah sakit.

Kurasa, itu sebabnya Viona datang kepadaku. Kami berdua sama-sama menjadi korban, hanya saja, nasibku lebih beruntung.

Aku mengerutkan kening. Kucoba mengingat-ingat di mana kecelakaan itu terjadi. Ayolah, aku tahu kalau dapat melakukannya... Pastinya tidak jauh dari sekolahku, karena aku jarang menggunakan motor selain untuk pergi ke sana....

Tiba-tiba aku terperangah. Bakeri.

Benar, Viona bilang kalau ia tengah membeli roti, kan? Itu artinya, dia berada tak jauh dari toko roti yang terletak di ujung jalan itu—toko roti yang kini sudah pindah. Benar, pastilah kecelakaan itu terjadi di sana. Aku sendiri heran kenapa  aku bisa-bisanya tidak ingat pernah mengalami kejadian naas di sana, tapi itu tidak penting sekarang.  Satu-satunya yang perlu kulakukan adalah menemukan diary milik Viona itu, dan membuat ia berhenti menghantuiku!

 

***

 

Hari Minggu, dan matahari tidak bersinar cerah sebagaimana biasanya. Sejak pagi, aku sudah menyusuri jalan sepanjang toko roti yang berada di ujung jalan sekolahku. Selama ini, aku hanya melewati saja jalan ini, jadi aku tidak melihat kalau ternyata ada sebuah bagian selokan yang tutupnya hilang. Dan di sanalah aku menemukan diary milik Viona. Buku kecil itu sepertinya berwarna hijau muda pada awalnya, tapi air comberan yang keruh membuatnya menjadi kecokelatan. Akhirnya..., dengan begini, arwah Viona pastilah bisa beristirahat dengan tenang. Dan mulai dari sekarang, ia pastilah tidak akan membayang-bayangi diriku lagi! Kumasukkan buku kecil itu ke dalam plastik yang sengaja kubawa dari rumah, dan setelah menjejalkannya ke dalam saku, aku pun melangkahkan kakiku menuju halte bus. Hm, omong-omong, apa isinya, ya? Sepenting apakah tulisan yang ada di dalam buku harian ini, sampai mencegah Viona meninggalkan dunia? Aku sudah membuka kantung plastik yang menyelimuti buku lusuh itu, tapisebuah keraguan menelusup di benakku saat aku hendak membalik sampulnya. Apa pantas aku membuka buku harian orang mati? Buka, tidak, ya? Buka, tidak, buka, tidak... Ah, buka saja, deh! Lagi pula, mungkin aku bisa menemukan ke mana aku harus mengembalikan buku harian ini. Alamat rumah Viona pasti ada di dalam buku ini....Benar saja, ketika aku membuka halaman pertama buku itu, aku mendapati ada sebuah tulisan yang berbunyi: “Jika menemukan buku ini, tolong kembalikan ke...” yang diikuti dengan sebuah alamat rumah di bawahnya. Hei, tempat ini kan tidak jauh dari rumahku berada. Mungkin aku bisa mampir sejenak, batinku.

Aku tahu kalau aku seharusnya cukup membuka hingga halaman itu saja, tapi tiba-tiba, aku menjadi penasaran mengenai isi buku ini sendiri. Seperti yang kubilang, isinya pastilah cukup berharga hingga dapat menahan sesosok arwah di dunia. Itulah sebabnya, dengan perlahan, telunjuk dan jempolku lantas meraih salah satu lembaran buku tersebut, dan setelah itu, aku pun mulai menyimak goresan pena yang ada di sana. Cukup kabur, tapi masih bisa terbaca.

 

Viona nggak se..aja melakukannya.

 

Eh?

 

Viona cuma ber...nda, tapi Viona nggak ny...ka kalau bakalan begi... Ma...fin, Viona, Put....

 

Tulisan-tulisan di buku itu membuatku tertarik lebih jauh. Oleh sebab itu, aku lantas mulai membuka-buka lebih banyak halaman buku harian tersebut. Sedikit demi sedikit, aku pun dapat melihat apa alasan buku ini amat penting bagi Viona.

Gadis itu ternyata telah membunuh adiknya. Dan ia menyimpan semua perasaan bersalahnya di sini.

Tidak secara sengaja, tentu saja. Sepertinya, mereka berdua tengah bermain sesuatu di kolam renang, tapi kemudian, sang adik justru tenggelam. Terguncang dan takut, sepertinya, ia merahasiakan apa yang terjadi itu dan justru menuangkannya ke dalam buku harian ini. Gadis malang...kehilangan seorang adik—terlebih di tangannya sendiri—pastilah sangat menyakitkan baginya. Aku dapat membayangkan bagaimana ia mencoba untuk menjalani hari-harinya dengan biasa seperti sekolah atau membeli roti dengan menyimpaan perasaan seberat ini.

"Kakak..."

Vi...Viona?

Kutolehkan kepalaku ke arah kiri, dan di sanalah gadis kecil itu berada, tengah duduk seraya menaruh kedua tangannya di atas lutut. Namun, kali ini, aku tidak merasakan ketakutan saat melihatnya. Sebaliknya, aku justru merasa bersimpati dan kasihan kepadanya. Gadis ini sudah melewati kehidupan yang sebegitu nelangsa, dan mana mungkin aku tidak kasihan kepadanya?

"Kakak... terima kasih...."

Eh?

Kemudian, kudapati sebuah senyuman muncul di bibir gadis kecil itu. Sebuah senyuman pucat, sepucat wajahnya yang putih. Dengan diiringi tatapan menghiba, tangan kecilnya yang juga pucat perlahan mulai teracung kepadaku.

Dan aku tahu apa yang harus kulakukan

Kututup buku itu. Kemudian, kuserahkan buku kumal itu kepada gadis berambut panjang tersebut. . Aku ternyata tidak harus pergi ke tempat Viona tinggal, karena sang pemilik buku  sudah memintanya sekarang. Di sini. Saat ini.

"Sekali lagi, terima kasih, Kak...."

Tepat ketika tangan Viona menyentuh buku itu, aku melihat tubuhnya yang pucat mulai menguap. Sedikit demi sedikit, sosok itu pun lenyap dari hadapanku. Begitu pula dengan buku yang kuberikan; ia sepertinya turut membawanya ke alam baka.

Selamat jalan, Viona. Semoga kau tenang sekarang.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

sreeem

Writer yellowmoon
yellowmoon at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 35 weeks ago)
90

bagus ^__^

Writer SnowDrop
SnowDrop at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 35 weeks ago)
70

*garuk-garuk kepala* kayanya ada semacem perubahan cerita ya? gw ga tau, coz gw baru baca hari ini XD.
.
yah, juno. apapun cerita yang lu tulis sebelumnya (dari apa yg gw baca di komen2 di bawah), cerita ini gw rasa ga serem, tapi apa ya...touching? ya, itu.
.
gw suka deskripsinya, detail tanpa textbook banget, natural. dan ternyata gw dan si aku sama2 penggemar Jack Sparrow!! XD
.
ah, walopun gw bilang cerita ini menyentuh, tapi ada bagian yang sepuki. di kamar mandi, itu udah jelas. makanya gw GA MAU punya kabinet kamar mandi berkaca yang bisa dibuka tutup. pokonya engga. dan adegan tv itu adalah salah satu keparnoan gw kalo lagi liat tv dalam keadaan layar mati. jadi, yeah, 2 bagian itu agak ngebangkitin rasa takut gw XD.
.
itu aja ah. semangat!

Writer SnowDrop
SnowDrop at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 35 weeks ago)

AH! dan gw baru sadar kalo notes panajang lu adalah ending sebelumnya!!! *dirajam stepler*
.
oke, kalo gitu, mari kita tambah komennya >w<
.
ending pertama lebih menarik buat gw, lebih serem. tapi akhirnya kurang seru kalo viona cuma ilang aja. kalo mo dibikin ngegantung, adain adegan dimana viona ngelakuin sesuatu yang bikin si aku ngerasa kalo viona akan selalu ada di deket si aku, sampe kemarahannya ilang. menurut gw sih itu :D
.
yah, begitulah :)

Writer nagabenang
nagabenang at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 36 weeks ago)
90

horror-meter:
ending asli: 7,5/10
ending kedua: 5/10
.
wkwkwk, kenapa malu dengan payung berlogo bank? masih mending daripada payung PINK bergambar close-up wajah BARBIE, wkwkwkwkwk~
bagian nonton Jack Sparrow itu lucu, btw XD
.
hmmm....
imo, si hantu itu bukan membunuh adiknya. kan enggak pernah diutarakan kalau si hantu maksa adiknya berenang atau masang pemberat di kaki adiknya biar diy tenggelam kn? ini lebih seperti kecelakaan ... yang kurang jelas. kenapa tidak diberi perincian saja tentang si hantu yang memang mengusili adiknya, dan berakibat pada kematian adiknya itu? alasan yang ada di cerita ini agak ambigu ... yg bikin pikiran logis ak berkata "hah?", hahah, begitulah ....
.
arrr, anda tinggal di mana, Red? mau dong cuaca di cerpen anda, di sini udah satu bulan enggak turun hujan, man! kering! ><
.
dan secara selera ... ak lebih suka ending kedua, tapi secara cerita, lebih baik ending pertama kekny, wkwkwk~
.
moga membantu :)

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 36 weeks ago)

Haha, seperti yang saya bilang, sepertinya utuk kali ini BG cerita kurang. Thanks for reading!

Writer panglimaub
panglimaub at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 36 weeks ago)

Saya setuju sama pendapat mas Herjuno yang lebih suka versi pertama tapi karena aturan ceritanya adalah good ending bagi si cowo makanya lebih tepat versi yang ini.

Oke, ada yang sangat aneh bagi saya :
Soal si cowo yang sampai lupa di mana ia kecelakaan. Please deh!! Pastinya dia penasaran gitu loh atau paling tidak ada yang beritahu di mana ia dahulu kecelakaan.

Selain itu saya rasa horrornya dapet, meski selama ini saya tahunya benda orang mati itu biasanya dibakar atau diletakkan di kuburannya. Bukan diminta di bus XD

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 36 weeks ago)

Udah bingung bagaimana mengakhirinya, ya udah begini aja XD
.
Anyway, saya juga kayaknya kurang mulus ngasih bg cerita. Mainan di latar :)

Writer Alfare
Alfare at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 36 weeks ago)
80

Sebenernya, saya juga lebih suka versi yang lama, soalnya di situ disajikan kejutan soal enggak boleh terbacanya buku itu, dan ngasi efek 'apa yang terjadi?' lebih dalem.
.
Menurutku pemaparan perkembangan adegannya masih bisa lebih 'masuk' lagi. Tapi yang beneran membuatku terkesan adalah deskripsi latarnya yang kuat. Kalo kupikir sekarang, yang paling kusuka dari cerita-ceritamu itu gimana dunia-dunia yang disajikannya selalu terkesan kuat.

100

ahahaha,,,,, ini Drama sekali bang Jun?

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Saya suka yang lama, yang ini jadi terlalu drama...

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Bang Ijul bikin gurindam :D

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Saia kecewa dengan hasil revisi yang ini. -_-7

Writer lavender
lavender at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

I prefer yang sebelumnya kalau dibanding ini.. I thought it will be scary ending.. It turns out happy ending..

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)
100

Huwa... Ini bagus! Kenapa saya ga kepikiran cliffhanger? Setidaknya karakter utamanya jadi ga mati...

Writer dansou
dansou at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)
90

Banyak yang bilang endingnya kurang memuaskan, ya? Saya terpaksa menyetujui mereka. Nuansa horor yang sudah dibangun (yeah, syukurlah saya udah null-horor semacam ini jadi enggak terlalu takut ngerjainnya) sejak awal jadi runtuh di akhirnya. Kalo boleh usul, seharusnya si Viona ini ngapain si 'aku'nya kek, mencekik kek, atau mengajaknya ke dunia lain kek, atau apalah :D
.
Saya ngerasa waktu si 'aku' ini menyimpulkan kecelakaannya terlalu cepet. Tapi masalahnya adalah, saya juga enggak tahu gimana caranya biar enggak terlalu cepet juga -_-. Jadi saya lewati bagian yang ini.
.
Overall it's a nice story. Bukan horor yang bikin saya merinding disko, sih, cuman om Juno berhasil menyelesaikan tantangan ini ^^

70

Cerpenmu ini bikin saya semangat lagi buat nerusin cerpen yang kata temen saya "Ini mah bukan horor" :)
Ya, cerpen kamu ini sama sekali ga mengerikan bagi saya, Juno.
Dan saya jadi berpikir untuk tidak memaksakan diri untuk membuat cerpen yang mengerikan. Sama seperti cerpenmu ini yang menurut saya cerpen berpotensi menjadi cerpen yang heartwarming namu kau PAKSA jadi mengerikan. Sayang sekali sebetulna.
.
Yah, tapi kamu berhasil menyelesaikan tantangan ini. Saya mengacungi jempol untuk itu :)

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Hakhak, ini sebenarnya drama supranatural. Seharusnya pingin bagian akhir si Viona bisa bebas, tapi karena horor itu harus serem.... ;rolleyes:

60

Wohoho....nice one.
Awalnya terasa sangat menarik karena jujur.....saia sempat penasaran bagaimana kelanjutan interaksi antara si aku dengan si Viona.
Tapi sayangnya cerita ini jadi menurun tingkat kemenarikannya (bagi saia) di akhir2, yaitu waktu masuk scene si aku baca diary Viona. Sebenarnya masih bisa digali lebih baik lagi endingnya (daripada open ending yang kelewat open).
.
Anyway...good one. Keep on writing~! En mampir ke tantangan horor saia yang akan segera saia posting (dan kayaknya fail)

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Open ending yang kelewat open...? Ternyata ada ya? :3
.
Haha, itu ending yang kepikiran sih. Bingung gimana mau eksekusinya lagi.
.
Oke, entar saya mampir. makanya di-post dong :D

Ada :-3
.
Soalnya ceritamu berasa blom selesai (blom terlihat konklusi/penyelesaian apapun). Setelah si aku menemukan diary, baca, tahu masa lalu Viona, lalu Viona keliatan marah, trus aku pergi ke rumah viona, keluarganya ternyata udah pindah, trus ngeliat gadis di tengah hujan yg lgs ilang (viona?)...so? Terlihat blom ada penyelesaian dgn masalah kematian/gentayangannya Viona kan. :-D
.
Anyway....kalau memang ini ciri khas cerita ini...lupakan saja komen saia :-D
.
Osh! Akan saya posting segera setelah saia proof-read lagi.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)
90

Si...siapa?
Juno banget deh, ahahah.
.
DAMN Jun, DAMN. Kalo aja ada genre low-horror, ini adalah contoh yang bagus! Oh, low-horror bukan berarti jelek. Maksud saia, cerpen ini horornya gak gitu grafik... gak gitu psikologis juga sih... tapi tetep menyeramkan. Cuma ngambil secara dangkal tapi ngena abis.
*digetok karena bikin genre seenak diri*
.
.
Baiklah, berikut ini adalah komen dari saia di tiap shock-point :D
.
1. Sedetik kemudian, aku terkesiap. Viona tidak mengenakan sepatu. Dan kakinya juga tidak menapak di tanah.
Ini serem, tapi saia rasa bisa dibikin serem lagi. Entahlah. Mungkin dengan dipisah jadi satu-kalimat-satu-paragraf. Tipe-tipe shock-datar gitu deh. Hehe. Mungkin begini:

Quote:
Ah, rupanya Viona tidak mengenakan sepatu.
.
Ah, rupanya Viona tidak menapak tanah.
.
Ah!
Tapi itu selera saia aja, haha. Ya begini pun udah serem kok.
.
2. Dan mendapati ada sebuah sosok tengah berdiri di belakang punggungku. Sesosok gadis kecil dengan muka pucat dan rambut basah tergerai. Sosok Viona.
DAMN DAMN DAMN DAMN ini ngeselin. Saia jadi takut kalo mau becermin! Aaaaaaaarrrrgg tapi saia tetep ngerasa kalo ini bisa dibikin lebih serem, dengan cara... ya dikau taulah selera saia kaek apa. Haha. Kali ini, saia kira sosok Viona bisa "dileburkan" ke paragraf sebelumnya.
Quote:
Setelah mengeringkan tubuhku dengan handuk dan mengenakan piyama lengkap, aku lantas beranjak ke wastafel yang berada di kamar mandi untuk melakukan ritual menggosok gigi sebelum tidurku. Sambil bersiul setelah melihat sosok gadis kecil, kubuka kabinet. Kuambil sikat gigi merahku dan juga sebuah pasta gigi. Setelah itu, aku menutup kabinet itu kembali.
.
Tunggu sebentar...
Begitu sih, selera saia.
.
.
Oia, di sini kok agak kontradiktif ya? Gak gitu kontradiktif sih, tapi... jadi agak ironi aja gitu.
Keluarga Viona pastilah merasa terpukul setelah kematian putri sulung mereka, jadi mereka memutuskan untuk pergi dari kota ini! I...ini tidak mungkin!
Masalahnya kan dia udah tau kenapa keluarga Viona pergi, tapi dia bilang "ini tidak mungkin". Haha.
.
.
Pastinya, dikau sukses bikin cerpen horor! Saia iri!

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Ah, beda preferensi kayaknya. Untuk no. 1 itu adalah saran saya buat ceritanya si SnowDrop, jadi saya pingin pakai juga buat cerita saya. Untuk no. 2 itu saya lebih suka kalau karakternya langsung nyadar (dan bukannya ada jeda dulu). "Sambil bersiul setelah melihat sosok gadis kecil" itu sebenarnya merupakan saran yang bagus (karena natural), tapi menurut saya, itu menghilangkan unsur "keterkejutannya". Kalau di film, begitu nutup kabinet dan ngelihat kaca, muncul "penampakannya", hehe, tapi kalau saranmu itu, dalam pandangan saya udah terlalu lama, jadi nggak begitu mengejutkan lagi.
.
Coba diperhatikan:
Keluarga Viona pastilah merasa terpukul setelah kematian putri sulung mereka, jadi mereka memutuskan untuk pergi dari kota ini! I...ini tidak mungkin!
.
Ada kata "pastilah". Itu merupakan eskpresi terkaan, jadi dia juga tidak pasti. Logikanya:
Rumahnya kosong & anaknya meninggal --> pasti pergi kan?
Lagi pula, mana mungkin dia tahu lha wong baru ke rumah itu juga kali ini.
.
I...ini tidak mungkin!
.
Ini adalah ekspresi penolakan (denial). Karakter utama menolak kenyataan bahwa keluarga Viona sudah meninggalkan rumah itu. Ekspresi selanjutnya adalah kebingungan dan kepasrahan, sebagaimana yang bisa kaubaca sendiri :)

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

(Eh baru sadar. Ini make teori 5 stages of grief ya? Ehehahah...)

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Eh, kamu merujuk ke adegan mana, nih? Btw, kan nggak ada kemarahan dan penawaran?

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Oia ya. Saia cuma kepikiran 5 stages karena dikau nyebut-nyebut denial, sih. Haha.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Ahahaha iya sih saia juga udah nyadar kalo itu gak kontradiktif... tapi rasanya ironi aja dua kalimat itu bergandengan. Apa sebaiknya gak dipisah jad paragraf baru aja? Hehe.

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Hm, saya lebih prefer tetep satu paragraf, karena kalimat setelah ekspresi denial itu nyambung dengan kalimat sebelumnya. :3

Writer ianz_doank
ianz_doank at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

hihi, udah diedit ya kak..
Tapi masih bingung dg adegan si anak nanyain 'kamu membacanya, kan?'.. Sebenernya kenapa dia nanyain itu terus? Mau marah krna rahasianya diketahui atau gimana kak?

*maap komen lg*

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Seandainya kamu nggak sengaja ngebunuh adikmu terus kamu nyimpen kejadian itu di buku harianmu, apa kamu akan ngebiarin seseorang membacanya? >_<
.
Hakhak, kalau yang ini sebenarnya tergantung pembaca, karena saya bikin ending cliffhanger, jadi terserah pembaca mau menafsirkannya gimana.
.
Tapi kalau dari saya sendiri, jawabannya dia nggak rela "rahasianya" diketahui orang lain.

Writer lavender
lavender at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)
80

Herjuno, bagian yang paling aku suka ini :
Dengan berat hati, aku menerima payung kecil berlogokan sebuah bank yang Mama berikan kepadaku.
---> payung berlogo bank, realistis sekali.. hehe..
~
Langkahku melambat—dan akhirnya terhenti—tepat ketika aku mencapai halte tak lama kemudian. Dengan segera, aku pun menoleh ke belakang. Sebuah helaan nafas lega langusng muncul di antara tarikan nafas tak beraturanku tatkala mendapati bahwa gadis itu (atau makhluk-entah-apa itu) tidak kudapati berada di belakangku.
---> I was hoping ketika dia habis noleh ke belakang, kembali hadap ke depan tiba2 *whuss* ada sosok anak itu lagi mengejutkan.. hehe.. (biasanya gitu sih di pilem2 horor, tapi mungkin biar ga kayak biasanya kali ya)
~
I was hoping for shocking ending.. tapi aku salut sekali buat yang bisa bikin2 cerita horor, aku ga bisa at all.. hehe.. great piece of work.. ^___^

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Haha, bagian itu biar cooling down dulu. :D
.
Pada ngeluh sama endingnya, ya. Memang ending saya ada bagian yang kurang , ya? :3

Writer herjuno
herjuno at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)

Hahaha, habis nggak boleh ada yang mati -.-'. Akhirnya dibuat tanda tanya, apa konfliknya selesai apa nggak. Apa si aku udah bebas dari Viona? Atau justru sebaliknya?

Writer ianz_doank
ianz_doank at Tantangan Horor: Di Tengah Hujan (7 years 37 weeks ago)
90

akhirnya kelar jg tantangan horrornya yak, selamaaatt..

Komenku cuma : aduh, kok endingnya ngegantung.. Sbenernya si viona tuh baik atau menyeramkan yak?
*nggak penting*

tapi aku suka..