He Who Protect Magical Girls (4)

THE BLUE HAIRED ONE

 

Hal pertama yang kulihat adalah Rocky, boneka kucing yang bergerak-gerak berolahraga. Kurasa aku belum terbiasa dengan itu karena rasanya seperti mimpi saja. Imut tapi seram, entah bagaimana rasanya. Tubuhku sudah terasa mendingan, rasa panas di dadaku sudah hilang.

Sementara melihat sang boneka itu jungkat-jungkit sendirian mengikuti suara musik aku jadi bertanya, apa Rocky itu? Dia nampak seperti boneka dalam mimpiku. Namun dia tidak berwarna pink tapi berwarna hitam dan dia memiliki luka codet di sepanjang kepalanya. Aku penasaran, namun tidak berani bertanya. Entahlah codetnya itu membuatnya terlihat lebih imut.

Banyak hal yang kupertanyakan soal Rocky, pertanyaan yang seharusnya kutanyakan sejak lama. Siapa dia? Apa dia? Untuk apa dia mengumpulkan kristal-kristal itu.

Dan siapa siapa Ratu yang ada dalam mimpiku itu.

“One, Two, Threee...”

Rocky kemudian melompat dan menendang kepalaku. Rasanya sangat sakit.

“Bhuahahaaa... Adaw, apa-apaan sih Rocky.” Kubalas dengan menarik tubuhnya ke empat sisi dengan tangan dan kakiku.

“Bangun,” Sudah pagi, “kau bisa jadi pria yang tidak sehat kalau tidak berolahraga dengan benar. Pantas saja kau pendek begini, kau tak pernah olah raga.”

“Huuu, ini sudah bawaan lahir.”

Aku kemudian bertanya, “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan diriku, aku tak apa-apa bukan.”

“Baik, dan no problem. Kurasa, tubuhmu masih mampu menahannya kalau kau tidak menggunakan jurus secara berlebihan. Lagipula kurasa perlu melampiaskan energi itu, kalau tidak malah bisa merusak tubuhmu.”

“Begitu, untung saja, lalu bagaimana rencana kita sekarang.”

“Kita akan mengamati rekan sekelasmu Honoe. Menurutku ada yang salah dengan Wrath, mereka tidak menyerang dengan cara semacam itu. Biasanya mereka menyerang membabi buta, kali ini mereka menyerang Harmony secara langsung. Aku sudah menduga sejak kematian si ungu.”

“Hei. Rocky. Boleh aku tanya? Kenapa kau mengetahui hal-hal semacam itu.”

Rocky diam beberapa saat, sangat sulit mengetahui ekspresinya karena bentuk wajahnya.

“Aku dulu bekerja untuk kelompok mereka.”

“Kenapa kau keluar.”

“Aku kesal, mungkin lebih tepatnya bosan... Hei, lagipula Ini sudah jam berapa ayo siap-siap sekolah.” Teriak Rocky.

Benar juga, hari ini aku harus sekolah. Aku harus siap-siap cepat cepat.

 

--

 

Dan aku ketemu dengan berandalan kemarin lagi. Huwaaaa.. benar-benar menyusahkan. Tapi anehnya ketua berandalan itu nampak menjaga jarak dariku. Dia bergerak dengan aneh melingkariku, benar-benar tidak seperti biasanya.

“Huh! Ternyata diam-diam kau ternyata Ninja..” kata ketua Rambut Roll.

Ninja. Kenapa aku bisa jadi Ninja?

“Hei Preman sialan, lawan aku sekarang ka...” kata Strap handphone yang langsung kujitak.

“Ja.. jangan kira kami takut padamu, tunggu pembalasan kami.” kata preman rambut Roll. Diikuti teman-temannya sesama preman. Aku hanya bisa mengamati dari kejauhan.

Tapi tidak apa-apa, akan ada hal baik hari ini. Aku juga sudah membawa kue buatanku, karena kemarin aku sakit dan tidak masuk sekolah satu hari. Maka kuhabiskan waktu untuk membuat kue.

Berlari dengan tergesa-gesa ternyata itu adalah Yusaku Nakamori teman baikku. Dia nampaknya khawatir. Aku tersenyum menyapanya.

“Ka.. kau tidak diganggu mereka kan Shizu,” katanya cemas, “Kalau perlu aku akan memanggil guru.”

“Tidak perlu, urusan lelaki harus diselesaikan dengan urusan lelaki...” kataku mengutip Mr Destruc.

“Tapi kalau kau yang mengatakannya, rasanya tidak pantas deh.”

“Kejam deh kau Yusaku.”

“Tapi ini serius, aku tidak mau melihat temanku diganggu. Kalau ada apa-apa, aku siap berada di sampingmu. Walau aku tidak kuat sih.”

“Kau akan be..bertempur bersamaku?”

“Minta tolong tentu saja.”

Aku mendesah panjang, “Aduh, Yusaku kamu itu ya, tidak pernah berubah.”

“Hei lihat, itu Honoe.. Dia makin cantik saja ya...”

Honoe Shizuyama, gadis yang misterius. Setiap kali mengingatnya membuatku marah sekaligus membuatku sedih. Mungkin karena hidupku selalu dikelilingi gadis-gadis sehingga aku tidak pernah merasakan dibenci. Tapi pertama kalinya, rasanya aku terperosok ke lubang gelap paling dalam dari yang terdalam. Untung membuat kue kemarin mengembalikan rasa percaya diriku.

Rambutnya yang hitam dengan sedikit kebiruan, panjang diikat ke belakang dalam bentuk ekor kuda. Penampilannya jauh beda dengan saat dia berubah menjadi Harmony. Dia nampak kaku dan kusam. Aku palingkan wajahku, mengingatnya membuatku sakit saja.

“Hei.. hei.. kenapa kau diam Shizu.. Ja.. jangan-jangan, kau suka ya dengan Shizukayama.”

“Ma... mana mungkin, perempuan suram itu. Lagipula aku tidak tertarik dengan perempuan-perempuan di sekolah ini. Mereka berisik dan membuatku sebal.” kataku, “Perempuan itu ya.. seharusnya... seharusnya... Feminim, cantik, pandai memasak dan lembut.”

“Hei, kau sendiri, malah tidak seperti cowok.”

“Co..cowok itu dinilai dari hatinya, yang bekobar.. dahsyat..”

“Dobel standar tuh, lagipula apa itu 'bekobar'. Yang benar berkobar. Katanya mau jadi cowok sejati.”

“Bi... biarin, Yu..Yusaku kamu kok gitu sih. Kupikir kita teman.”

“Hai, hai... Jangan nangis gitu dong..”

Yusaku menghiburku seperti biasanya.

 

--

 

Sepanjang pelajaran, pandanganku tidak lepas dari Honoe. Memang itu perintah Rocky, untuk mengawasi. Tapi mungkin aku mengawasinya dengan terlalu sering. Rasa marah dan sedih merasukiku, mungkinkah ini perasaan sedih karena ditolak dan diabaikan? Mungkin, Aku tidak mengerti.

Sepanjang pelajaran aku tidak menghiraukan pelajaran. Namun membuat sketsa mengenai semua ini. Aku menggambar Rocky, para Harmony dan juga bahkan tempat-tempat dalam mimpiku. Tetapi semakin kucoba merangkai semuanya semakin pusing saja. Terutama karena aku tidak rela dibenci Honoe.

Ah, aku tahu yang dibenci itu kan Phoenix Fire, jadi pada dasarnya aku tidak dibenci. Benar bukan? Jadi kupikir kalau aku sebagai Shuzaku, dia pasti tidak akan membenciku. Aku tahu, aku akan coba berteman dengannya. Benar sekali.

“Halo.. kode merah.. kode merah...”

Itu suara Rocky lirih. Aku kemudian mencari gantungan kunci kecil. Anehnya aku tidak menemukannya. Suara itu berasal dari penghapus dengan gambar Mr Destruc milikku.

“Rocky, kau berubah jadi penghapus..” kataku berbisik pada penghapus.

“Tidak,” kata penghapus, “Aku mengubah penghapusmu jadi alat telekomunikasi. Ngomong-ngomong aku sedang dalam masalah. Saat ini jika kau melihat apapun yang aneh, jangan bereaksi.. aku ulangi jangan bereaksi.”

Wah, hal aneh datang bertubi-tubi. Sekarang penghapusku berubah jadi alat telekomunikasi. Semoga saja tidak ada yang lihat saat aku bicara dengan penghapus. Nanti aku akan dikira orang gila, atau jangan-jangan aku sudah gila betulan.

“Kau tidak sakit kan Jendral Shuza-suke?” kata Nakamori, “Jangan-jangan masalah Honoe, mau saya berikan nasihat soal cewek?”

“Tidak, terimakasih,” Nakamori, sebaiknya kau mengaca dahulu deh.

“Aku cemas sekali kemarin, jadi kalau kau sakit, sebaiknya ke UKS saja.”

Aku mengangguk, “Makasih Yusaku, aku tak apa-apa.”

Aku cukup percaya diri, nanti aku pasti akan membuat Honoe Shizuyama bertekuk lutut di hadapanku. Walaupun dia menolakku aku tidak akan menyerah, aku akan menangkapnya... Sebagai sahabat tentu saja.. Bukan hal yang lain tentu saja. Maafkan aku Shizuyama aku pernah berfikiran yang tidak-tidak tentang dirimu.

“Kau yakin tidak apa-apa..” kata Yusaku.

“Tentu saja aku tidak apa-apa.”

 

PRANGGGGG....

 

Dunia membeku selama beberapa menit dan yang kulihat adalah hal yang paling absurd yang pernah aku lihat. Jendela di sebelah pak guru yang menjelaskan mengenai perang Sekihagara dipecahkan oleh dua orang boneka yang melayang cepat. Yang satu berwarna Pink dan yang satu berwarna hitam dan kalau tidak salah bernama Rocky.

Mulut Rocky seperti bergerak-gerak, dari penghapusku muncul suara lirih. “Jangan bereaksi...” Aku tidak akan bereaksi Rocky, aku terlalu terkejut.

Kedua boneka itu menghilang menembus kaca pintu dan pergi ke lorong. Beberapa detik kemudian dunia kembali berjalan. Otakku yang beku berjalan lagi. Aku melirik ke arah Honoe, apakah dia bereaksi. Apakah aku harus bereaksi?

Jangan-jangan dia juga melihat adegan itu, kalau aku bereaksi sekarang pasti identitasku akan langsung ketahuan. Aku hanya bisa membeku dengan mulut menganga, walau sebenarnya aku ingin menjerit habis-habisan.

Aku harus berkonsentrasi, berkonsentrasi. Aku memperhatikan pelajaran saja.

 

PRANG-PRANG..

 

Aku tidak bisa. Kulirik Honoe, dia seharusnya bisa mendengarnya kalau aku bisa mendengarnya. Tapi dia tenang sekali, apa dia tidak mendengar. Entahlah.. tapi...

 

DUARRR...

 

Di sini sekolah atau medan perang. Kemudian hening, apakah sudah berakhir.. Apakah sudah berakhir... Rocky dimana kau.

 

“Aku selamat comrade,” kata Rocky dari penghapus, “Walau aku sempat harus menyulut gas di ruang PKK. Tapi di Dunia Virtual tentu saja.”

“Ada apa Rockyyy...” kataku menahan tangis, “sebenarnya ada apa.”

“Nanti aku ceritakan, untuk sementara aku akan bersembunyi dahulu. Yang pasti jangan bereaksi mencurigakan. Awasi Honoe.”

Aku harus diam dan mendengarkan. Membeku, melirik Honoe, membeku.

 

--

 

Para perempuan menyerbuku ketika aku menawarinya kue buatan sendiri. Tidak lama kemudian kaum cowok. Tidak lama kemudian semuanya mengerubungiku. Tapi kadang aku malah membayangkan mereka seperti sekumpulan makhluk buas.

Memang aku membuat kue ini keterlaluan banyaknya, agak over sepertinya ketika aku sadar ketika aku sudah memakai beberapa kilo gandum. Bahkan kue-kue itu tidak habis dimakan anak sekelas. Sisanya masih ada, mungkin aku bisa membaginya kepada kenalanku di kelas sebelah. Ngomong-ngomong aku tidak membawa makan siang, aku hanya membawa kue manis hari ini.

Aku berjalan membawa kue sisa di jam istirahat. Mungkin bapak dan Ibu guru akan senang, tapi semoga aku tidak dianggap menyuap. Ketika aku berbelok, aku melihat Honoe. Dia sedang makan sendirian duduk di bawah tangga.

Langkahku terhenti.

“Ah, Honoe, aku tidak tahu kau makan di sini,” dia menatapku seperti terganggu. “Ah, iya aku mencarimu kemana-mana, anu kuesioner yang harusnya dikumpulkan aku sudah membawanya.”

“Kau harusnya memberikannya kemarin,” aku memberikannya, dia kemudian menerimanya dan kembali makan.

“Um, Honoe, kau sudah makan kue buatanku, aku membuat lebih...”

“Aku tak suka kue manis,” kata Honoe.

“Ah, kalau begitu, maaf. Bagaimana kalau kita makan bersama di kelas.”

Dia nampak marah, dan kemudian berdiri menutup kotak makannya, “Nafsu makanku sudah hilang. Lagipula aku suka makan sendiri, Terimakasih atas tawaranmu.”

“Tapi makan bersama pasti lebih enak..”

“Cih, kau itu siapaku sih? Berhenti menggangguku.”

 

--

 

Sebuah gantungan kunci meluncur dari udara ke arah bahuku. Sepertinya dia melihat semua kejadiannya. Aku hanya membeku.

“Wah, cewek payah bos. Rasanya sulit didekati. Wah, Shuzaku kenapa kau buang semua kue itu.. itu kueeeeee!” Rocky menghalangiku membuang semua kue itu ke dalam bak sampah.

“Aku mau mati saja... Mau mati saja....”

“Kau itu kenapa. Itu Kueee... Kue.... kenapa kau buang kuenya. Itu adalah anugerah Tuhan.”

“Biar, biar aku mati.....”

--

 

Dan sekali lagi waktu membeku.

 

Wrath...

 

--

 

 

Read previous post:  
55
points
(1272 words) posted by neko-man 7 years 48 weeks ago
91.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | petualangan | anime | Magical Girl | Phoenix Fire | shonen
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer MelZhi
MelZhi at He Who Protect Magical Girls (4) (7 years 26 weeks ago)
2550

Yay, iya benar.
Official couplenya tersibak juga.
.
Omong2, saya pikir awalnya Shuzaku pingsan berapa hari gitu di rumahnya, krn dia awal2 cuma liat Rocky olahraga trus lgsg brgkt sekolah. Tapi, oh, rupanya dia sempat bikin kue.
.
Btw, karakter Shuzaku ini kompleks ya. Saya suka >.<

Writer 145
145 at He Who Protect Magical Girls (4) (7 years 47 weeks ago)
90

Ada bagian-bagian yang benar-benar menyenangkan dibaca.
Dan pendapat si shota soal cowok dilihat dari hatinya yang 'berkobar' kurasa lumayan keren sebenarnya >_<.
-
Oh ya... sebenarnya kemampuan si rocky apa saja sih? Aku agak kurang sreg kalo ada kemampuan yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan sebelum atau setelahnya (mengubah penghapus jadi alat telekomunikasi, misalnya). Kupikir hal semacam itu cukup penting untuk mengurangi efek Deus ex Machina yang mungkin muncul.
-
Ah dan di bagian awal, waktu si rocky bilang ia bekerja untuk kelompok "mereka", sejujurnya aku bingung "mereka" yang mana yg dimaksud (wrath ato harmony, bener ya nama kelompoknya? kukira Wrath itu gak terorganisir) :)
-

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (4) (7 years 47 weeks ago)

-
Yah, kadang seseorang butuh dewa penolong kan? Apalagi kalau semakin rumit.. #Plak, persoalan Rocky itu persoalan yang rumit. Karena kemampuannya terus tumbuh dan tumbuh. Tapi aku tidak akan menjadikan kemampuannya Dewa penolong, karena hasilnya lucu.
-
Maksudnya adalah Harmony. Mungkin kurang jelas ya. Terimakasih masukannya.

Writer petung
petung at He Who Protect Magical Girls (4) (7 years 48 weeks ago)
80

ikut nimbrung... pertama, aku nggak peduli ceritanya kayak apa, menarik ato nggak urusan belakang. karena buatku yang lebih penting adalah eksistensi menulis, kontinyuitas menulis menjadi nilai plus sebuah karangan. cerita km tetep eksis sampe bagian 4, dan moga2 terus berlanjut

tp tetep keliatan nyampah ya kalo coment aku sekedar keluarin opini ga jelas hehehe..

semangat semangat semangat!!! ###menyemangati diri sendiri mode on hehe

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (4) (7 years 48 weeks ago)

Sweeeaaat... (-.-') tentang karyanya dong tapi thk

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (4) (7 years 48 weeks ago)
100

Chapter 4. Yey, akhirnya kelihatan juga Official Couplenya. Chapter selanjutnya akan muncul Disharmony. Uwah berat T.T.

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (4) (7 years 48 weeks ago)

Menerima kritik, saran, Flame dan Troll