He Who Protect Magical Girls (5)

 

Girls Are Strong.

 

 

Dengan berderap cepat kami berlari, menelusuri sekolah untuk mencari keberadaan Wrath tapi kami tidak menemukannya. Menurut Rocky, Wrath ini sudah ada di sini. Tapi baik aku maupun Si Boneka Kucing, tak menemukan satupun tanda-tanda keberadaan makhluk itu.

“Gaa.. ada prajurit Harmony,” Rocky berhenti dan mencegatku.

Honoe! Dia berdiri di lapangan sekolah, aku segera berhenti. Dia tak boleh menemukanku di sini. Mengintip dari pinggirnya ke arah Honoe, aku melihat Ia sedang mengeluarkan sesuatu, benda bulat yang bisa di buka. Dalamnya ada sebuah mutiara biru yang bersinar.

Tiba-tiba tanpa aku duga, Honoe diselimuti cahaya kebiruan, nyaris membuat silau sehingga aku harus memicingkan mata. Musik terdengar dan pakaiannya perlahan hilang. Tubuhnya..

Tunggu dulu..

Huaaa!! Aku mengintip cewek ganti baju. Kututup mataku. Ini tidak boleh.

“Jadi begitu ya, Uakh..” Rocky juga kutarik.

“Tidak boleh Rocky, ini namanya pelanggaran hukum. Lagipula kenapa dia ganti baju di tempat umum begitu, nggak malu?” tanyaku.

“Ini kan dunia Virtual, tidak ada orang di sini.”

“Ah, benar juga.”

Rocky kembali siaga, “Dia berlari, mungkin dia mencari Wrath, ayo kita ikuti.”

 

--

 

Kami mengikuti Honoe, dari belakang. Tentu saja kami tidak boleh ketahuan. Rasanya seru seperti permainan mata-mata. Hal buruknya, ini adalah kegiatan stalker. Tapi stalker yang bisa dibenarkan, karena aku juga khawatir terhadap Honoe, bagaimana kalau monster-monster itu menyerang.

Honoe sekarang telah berubah menjadi prajurit Harmony, pakaian yang manis dengan rok pendek dan baju dengan gelembung di bagian bahu. Rambutnya yang hitam dengan sedikit biru berubah menjadi biru cerah.

Adegan stalking ini, yang menguras energi, akhirnya terbayar juga. Sambil terengah-engah aku melihat seorang Harmony lain. Dia memakai kostum merah, juga warna rambut, pakaian, warna mata dan aura yang menyelimutinya. Tongkat sihir tergenggam di tangannya, itu merupakan senjatanya. Rambutnya dibiarkan digerai.

“Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya sendiri,” kata Honoe.

Harmony merah kemudian berkata pada Honoe, “kita tunggu Ako dahulu, kita tidak boleh bergerak sendiri sendiri.”

“Aku tidak memerlukan bantuan, lagipula kau hanya mengganggu,” kata Honoe.

“Kita harus tetap bersatu..”

Honoe meninggalkannya, “Terserah. Kita habisi Wrath ini, dan segera pergi.”

“Honoe-Chan..”

 

Sheeeeeeeengoooooookk. Shereeeeeengeeaaaaaak. Suara bergema seperti gesekan dua benda keras.

Bumi kemudian bergema, dan dari bawah terjadi gempa. Muncul sesosok makhluk aneh seperti kuncup bunga. Kuncup itu naik dengan membor lapisan tanah di atasnya. Makhluk itu membuka kemudian menampakkan sosok menyerupai perempuan yang seluruh tubuhnya berwarna hitam, kecuali rambutnya berwarna merah.

“Menarik, Wrath ini berwarna...” kata Rocky.

Dia berteriak dan kepalanya perlahan memutar terbalik, menghadap prajurit Harmony. Mulutnya yang penuh taring terbuka. Nada teriakan tinggi yang sangat tidak nyaman memenuhi udara.

Sang Harmony merah mundur. Dari mulut sang monster muncul serat-serat hitam yang menyerbu ke arah Harmony merah dan Honoe. Honoe berhasil menghindar namun si merah hanya diam, untung saja sebuah perisai bulat melindunginya. Sulur-sulur lain muncul dari bagian bawah sang bunga, seperti akar namun bergerak-gerak cepat seperti ekor yang hendak melecut mangsa.

Honoe hanya mendesis, dan mulai menyerang. Anak panah-anak panah birunya ditangkis dengan mudah oleh sulur-sulur hitam monster yang melecut-lecut seperti pecut. Kalaupun sudah dekat dia menlindungi dirinya dengan mahkota bunga. Honoe telah menghindar, namun dia terkena kakinya menjerit dan terpental ke belakang. Dia masih berdiri, aku sempat cemas.

“Jangan Shuza kau masih sakit,” aku dihalangi oleh Rocky.

Azuki si merah melihat sahabatnya berlutut dengan satu kaki dia berlari hendak menolong. Namun dia tidak memperhatikan sulur dengan cepat hendak menjangkaunya.

“Bodoh!” Honoe menjerit keras, dan menarik busurnya, menggunakannya seperti tongkat untuk memutus sulur itu.

“Kyaaaaa!” jerit si merah.

“Inilah sebabnya aku tidak suka kau membantuku..”

Sulur yang lain mencengkram kaki Honoe, dia melihat dengan teror. Dadaku terasa panas.

Sang monster bunga menjerit. Dari mulutnya muncul cahaya merah terang. Dadaku terasa makin panas. Aku, harus berubah.

Dari mulut sang Wrath menembak sinar laser kemerahan yang membutakan mata, aku terlambat, aku belum sempat berubah. Apakah mereka selamat? Keputuasaan dan khawatir merambatiku, hingga menatap kosong ke arah cahaya kemilau itu.

Ternyata mereka masih hidup, si Merah telah maju menghalangi musuh dengan tongkat sihirnya. Sebuah perisai energi merah nampak transparan, melindungi mereka berdua. Lututku lemas karena khawatir, tapi aku tidak sanggup melihat mereka tewas di depan mataku sendiri.

“Azuki,” bisik Honoe.

“Kita ini tim. Aku tahu kematian Sempai memukulmu, itu memukul kita semua. Tapi kita tak boleh berhenti. Sempai mempercayakan tim ini padaku. Aku tak akan menyerah. Walaupun apapun yang terjadi aku tak akan menyerah.”

Honoe memalingkan wajah ke lantai lapangan sekolah, “Huh, Diamlah.”

Apa? Setelah dia menyelamatkan nyawanya? Bukankah itu keterlaluan.

“Ho.. honoe...” Bisik Azuki nampak kecewa.

Honoe berdiri, “Ayo kita akhiri nasib bunga yang jelek sekali ini.”

“Honoe!”

 

“Kau tak perlu berubah, aku kenal dengan cewek-cewek itu. Dan mereka tidaklah lemah.” kata Rocky kepadaku.

 

--

 

Pertempuran dimulai kembali, kali ini para Harmony yang menerjang maju. Bergerak seakan mereka bisa membaca pikiran masing-masing, si Merah menangkis dan si biru menembak. Keduanya saling melindungi. Kadang Honoe menembak dari jauh demi melindungi si merah yang memukul dengan tongkat. Kadang sebaliknya.

Kombinasi ini membuat musuhnya terpojok, bahkan kadang sang monster sampai harus bersembunyi seperti kepompong di mahkota bunganya. Si merah memukulnya tapi tidak ada reaksi apapun. Ketika mereka mundur, dia menyerang lagi.

“Aku tak bisa menembusnya.”

“Dia juga cepat, sulurnya merepotkan.”

“A.. Honoe... Awas...”

Bunga itu menembakkan sinar merah ketika dia membuka. Honoe dan si merah menghindar, saat mengetahui tembakannya meleset si bunga menutup dirinya lagi. Apakah yang akan mereka lakukan, perisai mahkota bunganya sangat amat kuat.

Mereka kemudian menyerang lagi tidak menyerah, sulur-sulur sudah semakin jarang tumbuh karena berkali-kali dipotong. Sekarang senjata terakhir sang bunga itu hanyalah tembakan sinar cahaya. Dia menembak lagi, kali ini tembakannya berputar.

Si merah melindungi dirinya dengan perisai, berlari ke arah bunga. Menghindar dari serangan berputar dia melompat menyerang.

“Azuki...”

Si merah menyerang, namun Wrath itu segera menutup bersembunyi dalam cangkangnya. Yang bisa dia lakukan hanya menyarangkan tongkatnya ke celah bunga itu sebelum dia menutup sepenuhny dan menariknya seperti linggis, menyisakan celah kecil. Dia melihat ke arah Honoe.

Honoe bereaksi cepat, mengangguk penuh pengertian. Tubuhnya bercahaya biru kemilau. Kemudia dia menembakkan panah cahaya ke arah celah itu. Sang monster seperti bermandikan cahaya biru milik honoe, sekilas seperti monster itu memakan flourosense.

Si merah mengangkat tongkatnya, kemudian memainkan lagu dengan tongkatnya. Dia memainkannya dengan memutar-mutarnya, dan sepertinya monster itu bereaksi dengan lagu milik si merah.

“Wahai makhluk dari amarah, kembalilah ke cahaya...”

Sang monster memudar bersama dengan musik dan menghilang ke angkasa dalam butiran-butiran bunga sakura bercahaya.

“Hua.. lagunya bagus, mengharukan..” kataku menggosok mataku.

“Aku lebih suka musik metal.” kata Rocky.

 

Plok-plok-plok..

 

tepuk tangan terdengar di angkasa. Aku melihat ke arah angkasa, merasa heran, secara mengejutkan seorang pria muncul di sana. Pria ini memakai baju yang sangat berwarna-warni antara merah dan biru. Seperti seragam jenderal prancis di komik-komik. Wajahnya tirus dan bergaris lembut hingga pertama dia kukira perempuan. Kulitnya seputih salju. Rambutnya yang ungu cerah bergelombang, sebagian menutupi wajahnya..

Cukup shock dan terkejut melihat pria itu turun dari angkasa. Dia berjalan seakan di udara kosong itu terdapat tangga. Dia tersenyum, tangan kirinya diletakkan ke pedang jenis rapier di pinggangnya.

“Kalian lumayan juga para kesatria Harmony, aku adalah Hazier dari Disharmony. Kau telah mengalahkan saudaraku, sebagai pembalasan dendam dan atas nama Ayahanda, aku akan menghabisi kalian.”

Melihatnya aku jadi panas. Panas dan lapar.

“Wha, dia seperti cewek padahal cowok. Aku tidak mengira ada cowok yang seperti itu.” kataku bercanda, padahal sesuatu di dadaku menggeliat.

“Ngomong-ngomong soal ironis,” Rocky menyindirku.

Kenapa? Kenapa aku nampak tertarik dengan cowok ini. Apakah karena tubuh rampingnya, apakah karena. Panas. Lapar. Panas.

Rocky nampak kaget. Aku juga kaget karena sekarang aku berdiri di hadapan para Harmony dan pria misterius itu. Aura dari tubuhku nampak berkobar.

“Phoenix... “Teriak Honoe, yang kaget dua kali lipat.

Aku melirik ke belakang, kedua harmony nampak siaga. Terutama yang merah. Tapi aku tak punya urusan dengan mereka sekarang. Karena aku lapar. Karena ada makanan lain di sini. Pria di atas langit menebarkan aura mirip Harmony, hanya lebih gelap dan pekat. Entah kenapa aku merasa lapar.

“Sedang apa kau, apa dia temanmu...”

Aku berbalik, “Ladies.. aku aka mengurus kalian nanti saja. Kita bisa bersenang-senang kapan-kapan.” Aku menoleh dan melihat si Disharmony. “Aku melihat sesuatu yang sama lezatnya dan tidak boleh disia-siakan.”

Si Biru kemudian mengerut heran, “eh?”

Si merah bertanya, “Ta.. ta.. tapi kau kan c... c... cowok.”

“Aku tidak terlalu suka membeda-bedakan makanan,” Kataku tidak mengerti apa maksud mereka..

Aku melirik dan melihat wajah si Merah sama merahnya dengan pakaiannya. Entah kenapa dia tampak antara sengsara dan senang. Misterius.

“Menjijikan, kau menjijikan, mati sana, kotor, menjijikkan. Tidak bermoral.” Si biru mengupat tak henti-henti. Tapi aku punya urusan lain, yaitu dengan cowok yang ada di sana.

“Nah, sekarang manis. Energi itu akan jadi milikku.”

Si makhluk aneh tidak jelas itu menatap dengan dingin. Mengeluarkan rapiernya dan mengangkatnya. “Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi kau menantangku. Dan itu yang akan kau dapatkan.”

Tanganku mulai berkobar, kuserang saja dia mumpung dia lengah. Aku melompat, dan melayang dengan kobaran api di kakiku. Tapi dia menghilang, aku merasakan dia hendak menusukku. Aku mundur. Dia muncul dari samping. Puluhan serangan harus kuhindari hingga aku harus kabur. Dia lumayan. Aku mundur.

Sekarang saatnya untuk...

Sakit, Panas, dadaku. Aku jatuh

“Kau lengah orang asing, demi Ayahanda. Matilah.” Dia mengangkat Rapiernya berusaha menusukku tepat di mata kiriku. Ah, sakit.

Ctang. Dia mundur. Honoe, dia menyelamatkan diriku dengan anak panahnya. Sang Disharmony mundur. Dia melihat keadaan, sepertinya dia juga kesakitan sama sepertiku karena dia memegangi dadanya.

Razier mengalihkan perhatiannya menghadapi Harmony, dia siap menyerang. Namun dia diam sejenak, seperti seseorang memerintahkannya untuk berhenti.

“Aku mundur bukan karena kalah, tapi karena Ayahanda memanggilku. Tunggulah kalian.”

Dia kemudian pergi menghilang, melangkah masuk ke dalam pintu hitam yang muncul dari udara.

Kedua gadis Harmony mendekat, tapi masih menjaga jarak.

“Kenapa kau melindungiku..” tanyaku.

“Justru aku yang harus bertanya padamu,” kata Honoe dengan suara dingin, “Aku tidak ingin punya balas budi.” Kemudian dia pergi.

Si Merah mengikutinya perin, namun dia ragu dan berbalik sejenak, “Kupikir kau bukan orang jahat. Terimakasih kau menolongku tempo hari.”

“Ayo, Azuki!” Bentak Honoe.

Dan Azuki si merah juga pergi.

 

--

 

“Sudah kubilang kau sedang sakit.” Kata Rocky di sebelah kepalaku berkali-kali.

Kami berjalan menyusuri sungai kecil. Pemandangan sore yang sangat indah, dengan cahaya oranye berkilau di atas aliran sungai. Aku berjalan perlahan saja untuk menikmati adegan ini. Daerah ini cukup sepi dan bagus, membuatku ingin mejelajahinya beberapa lama lagi sebelum pulang.

Rasa sakit di dadaku tidak terasa lagi, juga tidak sesakit kemarin. Aku tahu, aku tidak boleh berubah untuk beberapa hari ini. Aku merasa senang, ternyata para gadis itu kuat juga. Kupikir nanti aku tidak perlu berubah menjadi Phoenix lagi. Mungkin saja sebenarnya tidak ada efek samping.

“Rocky...” sapaku.

“Yeah...” katanya.

“Aku sudah tidak normal lagi. Aku ini kelainan..” Aku mengungkapkannya sambil menahan keinginan untuk membenturkan kepala ke tembok di samping jalan. Kenapa aku bisa mengatakan hal memalukan seperti itu. Apa aku ini tidak normal.

Karena telalu banyak melamun, aku tidak menyadari ada seseorang mengikuti di belakangku. Kemudian ketika aku ingin lari ada di depanku. Cowok, memakai seragam sekolahku, hanya lebih banyak aksesoris. Aku dikerubungi.

“Ketua Taro ingin bicara denganmu,” kata mereka.

“Bagaimana ini,” aku berbisik.

Rocky menjawab, “Baiklah kali ini akan kubantu.”

Kami menyusuri jalanan hingga tiba di sebuah lereng landai di sebelah sungai. Di sebelah jalan itu adalah tembok pabrik yang tinggi yang dipenuhi grafiti. Daerah ini nampaknya terbengkalai dan sepi. Di sana ada sekumpulan cowok-cowok yang berdiri mengelilingi si.. si kepala kue Roll.

Aku digiring ke tengah kumpulan orang itu. Si kepala Roll mendekatiku.

“Kau selalu melarikan diri dari pertempuran, kau telah menghinaku. Kini demi mempertahankan kehormatanku. Aku akan melawanmu.”

Orang di sebelahnya berbisik, “Tapi bos, mengumpulkan orang sebanyak ini, kayaknya lebai deh bos.”

“Diam kita berhadapan dengan ninja. Aku tahu kau ninja, tapi aku tak akan takut” kata rambut Roll.

“Sialan! Sini maju kamu Rambut jelek,” Kata Rocky.

Si rambut Roll siap untuk mengamuk, “Namaku Taro si serigala dari Kisamichi, rasakan pukulan...”

BUAK!

Si Taro ambruk. Rocky telah berubah dengan menjadi bentuk aslinya dan mendarat di tanganku. Semuanya berceloteh ketakutan. “Boneka itu bicara.” “Boneka itu bergerak.”

Gawat, mereka bisa tahu mengenai keberadaan Rocky, aku harus mengatakan sesuatu.

“Bu.. bukan,” jelasku, “Ini kungfu Ventiloquis, Kungfu boneka..”

Ampun, apa aku bisa berbohong dengan lebih parah.

“Ternyata kungfu boneka.”

“Hati-hati, dia berbahaya.”

Ampuuun, mereka percaya..!!

Rocky kemudian berteriak, “Maju semua sampah tidak berguna..”

“Apa..” jerit salah satu ”beraninya!”.

“Sialan bocah ini, berani benar.” kata yang lain.

“Tidak perlu takut saudara-saudara, walau dia ninja kungfu boneka. Kita banyak! Jika kita bersatu kita pasti menang. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Seperti sebuah sapu lidi, kita tak terkalahkan.” jerit Ketua Taro.

Kuarahkan Rocky si Boneka ke arah kepala si penyerang pertama. Dan dia Roboh.

 

--

 

“Aku tak akan kalah... Aku tidak akan kalah... Hiaaaa....,” Desau Taro sebelum ambruk ke tanah dengan tangan masih mengepal.

“Kau jago juga berkelahi,” tanyaku pada master Kungfu Boneka yang sebenarnya.

Dia tertawa, “Begitu ya, hahaha, terimakasih yaa. Mereka lumayan juga kok untuk ukuran manusia.”

“Umm, Rocky..”

“Ya...”

“Pulang yuk..”

Setelah itu aku mendapat julukan Master Ninja Kungfu Boneka. Entah kenapa aku tidak merasa senang.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer MelZhi
MelZhi at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 17 weeks ago)
100

Wah, serunyaaa...
Saya paling suka adegan para preman. Komikal banget.
.
Ini masih dilanjut, Kak? Judulnya masih samakah atau udah diganti?

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 17 weeks ago)

ngurus bor jadi terlantar maaf

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)

Wahaaa, seharusnya aku bikin log yang dahulu aku lupa. Episode ini. tidak banyak komentar, hanya saja. sekalian aku tambahi. Besok sepertinya ganti judul, kemudian nama Disharmony jadi diganti. Waha, maaf jika nanti ada perombakan. Gomen, tapi kisahnya masih sama. Terimakasih sudha mengikuti/

90

ahahahaha...............saya semakin jatuh cintrong sama mereka..

eh...premannya tetep keluarin dunk di chapter slanjutnya

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)

Episode selanjutnya dia jadi Banchou (bos)

Writer Enryu
Enryu at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)
90

pertama liat judulnya agak ga enak tapi setelah baca
keren!!!
ngomong ngomong preman preman itu sangat bodoh
kungfu boneka wkwkwkwk

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)

Akan diganti..

Writer Riesling
Riesling at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)
80

kayaknya yg bener 'aku tidak mau punya utang budi' deh... hhe.
Ya ampun... turun dari langit lewat tangga imajiner... kayak seseorang xDD.
Disharmony... teringat Dragon Voice >.<

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)

Terimakasih. Aku juga suka Dragon Voice..

Writer 145
145 at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)
2550

Disharmony... maaf, tapi bukankah Chaos lebih keren? Yah meski gak berima dengan Harmony... hmm karena lawannya mula2 pake nama Wrath, kukira themenya bakal 7 sin. ternyata beda :)
-
Bagian:
[“Aku tidak terlalu suka membeda-bedakan makanan,” Kataku tidak mengerti apa maksud mereka..]
Hmm yang [Kataku tidak mengerti apa maksud mereka..] sepertinya karena pake POV 1 kesannya jadi aneh.
-
"Kungfu Boneka" wkwkwkwk

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)

Lucunya aku juga kepikiran Chaos sore ini. Seperti memukul kepalaku. Apa aku ganti saja ya, tapi terlanjur nih. Tapi mungkin Chaos akan jadi nama ayah mereka. entahlah. Ide Disharmony sebenarnya 7 sins, tapi tokohnya kebanyakan.
-
Ya kedengarannya aneh, makasih.

100

tulisan kamu lumayan menarik akan tetapi aku agak risih membaca judulnya.

melihat judulnya aku pikir tulisan kamu bakalan berbahasa inggris ternyata tidak.

so, keep writting.
thanks buddy!

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (5) (7 years 39 weeks ago)

thak juga. Nasihatnya diterima. Aku pikirkan untuk perubahan judul.