Kunjungan

Diriku bergelung di atas sofa tua itu, dengan punggung menyandar dan menekuk kedua lutut berlapis selimut hangat. Diriku memangku sebuah buku tua bersampul kulit dan membalik satu demi satu halaman tua kekuningannya. Di dekatku sebuah perapian bergemeretak, melayangkan bara api kecil yang segera padam sebelum menyentuh lantai. Sedangkan tidak jauh di luar dalam kepekatan malam, dahan-dahan pohon yang tak lagi berdaun saling bergesekan satu sama lain, terhempas angin dingin awal November. Membuatku teringat akan malam serupa malam ini, sekitar empat tahun yang lalu.

***

Malam empat tahun yang lalu tidak terlalu berbeda, hanya saja hujan lebat sudah turun semenjak sore membuat udara menjadi lebih dingin beberapa derajat. Cahaya bulan tertutup awan mendung. Dan aku sedang mencuci piring bekas makan malam ketika terdengar suara ketukan di pintu depan.

Aku tinggal di sini sendirian, sedang tidak menunggu seorang pun dalam cuaca buruk dan selarut ini. Merasa terganggu dan ogah-ogahan, aku membukakan pintu depan.
Disana berdiri seorang wanita tua, yang tersenyum namun terlihat lelah. Mengigil kedinginan dalam naungan payung coklat tua. Aku langsung mempersilakannya masuk.

Beliau memperkenalkan diri, asalnya dari kota sebrang kemudian mulai bercerita tentang cucunya yang baru melahirkan, serta mobilnya yang mogok dalam perjalanan antar kota tepat di depan rumahku. Diluar dugaanku nenek satu ini ternyata ramah dan senang tersenyum. Aku yang tadinya sudah bersiap tidur menjadi bersemangat cerita berbagai macam hal dengannya. Ditemani dua cangkir teh hangat, perapian, dan sofa-sofa ku yang nyaman, aku bercerita tentang pekerjaanku sebagai redaktur muda majalah kesehatan, tentang alergiku, sampai eksperimen pribadiku tentang alam mimpi.

***

Diriku meletakkan buku kulit itu -buku harian lama yang aku tulis. Dan beranjak ke ruang makan. Mengambil sebuah kaleng makanan kucing lalu menuangkan isinya pada mangkuk plastik di lantai, kemudian dua ekor kucing berbulu hitam dan putih bergegas datang melahap isinya.

***

Ingatanku kembali pada malam itu, berjam-jam sudah kami berbicara. Cangkir teh ku yang sudah lebih dari dua kali diisi penuh kini sudah kosong kembali, sedangkan cangkirnya seperti belum disentuh. Yah.., aku sudah mempersilakannya untuk minum makan sesukanya. Kalau memang tidak mau, ya aku tak memaksa.

Malam itu aku meminjamkan satu-satunya kamar tidur untuknya beristirahat sedangkan aku cukup rebahan di sofa ini, toh sudah sering aku tertidur disini. Lagipula aku tidak takut ia bermaksud buruk, harta benda paling berharga dirumah ini selain jam tangan mendiang kakek yang selalu melingkar di pergelanganku, hanyalah komputer usangku serta setumpuk buku-buku dan majalah. Memangnya benda apalagi yang bisa dibeli oleh penghasilanku yang pas-pasan yang lebih sering kuhabiskan untuk berpetualang berkemah di negeri orang.

"Apakah kamu akan mencobanya lagi?" Beliau tiba-tiba bertanya.

Aku mengangguk mengiyakan. Yang dimaksud beliau adalah ceritaku tentang 'terbangun saat tidur'. Begitu aku mendefinisikannya, mungkin hampir seperti pengalaman yang disebut out of body, tapi aku tidak bisa berjalan keluar dari "tubuhku". Hanya bisa merasakan bahwa aku sedang tidur namun aku bisa merasakan keadaan sekelilingku layaknya terjaga, hal ini pun hanya berlangsung beberapa saat. Aku bercerita padanya tentang keinginanku untuk mencoba terbebas dari "cangkang" fana ini, membayangkan terbang bebas pada langit malam, dan melihat dibalik alam kebendaan. Saat aku menceritakan hal ini beliau hanya mengangguk, kurasa tidak paham akan pengetahuan seperti ini. Dia hanya mengatakan ingin melihatnya, "Memangnya apa yang bisa dilihat.." batinku.

Saat aku mulai terpejam,ia tidak beranjak dari duduknya. Sayup-sayup aku melihatnya membuka tas tangan yang sejak tadi disimpan disampingnya duduk. Membuka kain persegi di atas meja tamuku, menaruh lilin pendek diatasnya, menyalakannya, kemudian entah apalagi yang ia lakukan. Dan berikutnya wewangian aneh merebak, mengantarkanku tidur malam itu... yang membuatku berhasil! Aku bisa melayang dan melihat tubuhku sendiri terbaring dibawahku. Aku mendapatkan keinginanku, namun kemudian sesuatu diluar perkiraanku terjadi. Di bawahku, tubuhku membuka mata dan tersenyum kepadaku! Senyum yang sama seperti yang kulihat beberapa jam lalu di depan pintu rumahku.

***

Diriku malam itu menggosok hidungnya yang memerah sembari melihat menembus jendela ke halaman belakang rumah tempat tubuh tuanya yang dulu kini terbaring untuk selamanya disana. Tampaknya hanya alergi bulu binatang itu yang ia tidak suka dari jasad barunya...  

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Autumn
Autumn at Kunjungan (6 years 45 weeks ago)
80

wahh ternyata begitu yak,
hmm(berfikir sebentar) bearti selama 4 tahun si pencerita masih tinggal dirumahnya gitu?
haha maap gak ngerti wk :)

haris at Kunjungan (6 years 45 weeks ago)

Mmm, dari sudut pandang ini sebenernya si pencerita sudah tidak lagi bisa dikatakan 'ada'. mudah-mudahan jawabannya gak nambah bingung :)

Writer yellowmoon
yellowmoon at Kunjungan (7 years 29 weeks ago)
90

Bagus ^__^

Writer januari
januari at Kunjungan (7 years 34 weeks ago)
90

lumayan bagus... namun masih terlihat banyaknya subyek-obyek. yang dapat mengganggu pembacanya.
trims.

haris at Kunjungan (7 years 34 weeks ago)

terimakasih kembali.. subyek-obyek itu bagaimana? mohon pencerahannya :)

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Kunjungan (7 years 34 weeks ago)
80

Wow, jadi inget film Insidous. Tempo ceritanya terasa mengalun dan tenang, kesan misteriusnya lumayan dapet. Pembagian dua sudut pandang itu sebenarnya menarik, tapi mungkin akan lebih mudah dicerna kalau secara visual agak dibedakan (misal, sudut pandang yg di masa depan itu ditulis dalam huruf miring). Ada sedikit typo pada bagian ".... kekuningannya. di dekatku ...."

Ayo lanjutkan kak haris! :D

haris at Kunjungan (7 years 34 weeks ago)

sip, sudah saya edit, terimakasih kak Vai :p

Writer H.Lind
H.Lind at Kunjungan (7 years 34 weeks ago)
90

Woow, cerpen ini keren. Judulnya saya suka, bermakna harafiah dan literal. :)
.
Twistnya! XD XD

Writer dansou
dansou at Kunjungan (7 years 35 weeks ago)
80

Wow! Lagi-lagi OOB lagi... Jujur, saya ogah ngalamin OOB lagi.
.
Anyway, saya setuju sama Kak Kure dan Rea. Keren. Ceritanya singkat, tapi saya tak perlu komentar cerita ini minim deskripsi dan narasi. Yeah... twist-nya kerasa.
.
Tetep semangat, Kak Haris ^^

haris at Kunjungan (7 years 34 weeks ago)

Iya masih terlalu 'poin ke poin' ya? masih harus banyak berlatih saya..

terimakasih ^^

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kunjungan (7 years 35 weeks ago)
100

UWAAAAA ini kuweren!
.
+1 Kure, saia pertama ngerasa janggal dengan "diriku", eh ternyata itu sengaja. Satu lagi, bagian yang menyenangkan adalah ketika dirinya ngasih makan kucing (ada pemakaian kata "aku" selain "diriku").
.
Hebat!

haris at Kunjungan (7 years 34 weeks ago)

Ohoho.., terimakasih Kak Rea

iya. pingin sedikit cerita, pas waktu paragraf bagian ngasi makan itu, sempat ngedit paragraf atasnya dari alergi bulu binatang jadi hanya 'alergi' biar ga spoiler

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Kunjungan (7 years 35 weeks ago)
80

haa...
pantes kok merasa agak janggal di pembukaan. kenapa si pencerita nyebut diri sendiri dengan 'diriku'
ternyata oh ternyata ^__^
jadi si nenek itu penyihir yang kalo sudah tua nyari tubuh pengganti ya :)

haris at Kunjungan (7 years 34 weeks ago)

yup, ide awalnya memang pelaku utama menceritakan dirinya dari POV 2