Abstrak Kesiangan (Bag I Awal)

“Aaarrghhh....” Teriakan orang itu menggema ke seluruh ruangan di rumah itu. Tak ada cahaya selain temaram lampu jalan di luar, masuk lewat celah-celah jendela. Ada meja di tengah-tengah ruangan itu, tepat di atasnya ada seorang lelaki terikat kuat, tak bisa bergerak hanya merintih, dan melihat ke arah pisau yang menancap di perutnya.

Seorang wanita berdiri di sampingnya, memegang pisau yang lain. Bersiap-siap untuk melakukan tusukan yang lain, yang lebih dalam, menyayat dan mematikan. Wanita itu ingin laki-laki itu mati dengan penuh penderitaan, perlahan-lahan mati kehabisan darah.

”Tidak! Kumohon, ampuni a—”

”Makan nerakamu!” teriak wanita itu dengan kebencian membara.

”Aarghhhh....” Jeritan itu memenuhi gendang telinga, mendengarnya saja membuat bulu kuduk berdiri.

”Huh! Huh huh huh.”

Asti terbangun dengan keringat membanjir di sekujur tubuhnya, tangannya kebas, tak ada rasa, sisanya gemetar, dan jantungnya serasa maraton dengan setan yang ada dalam mimpinya. Mimpi yang sama selama seminggu ini. Mimpi yang sudah lama terkubur, tiba-tiba muncul lagi seperti sekuel film horor yang semakin lama, semakin jelek dan menjijikkan.

Pagi telah merekah. Kabut tipis menggantung di pepohonan, melayang tersapu mentari pagi. Langit tampak jernih, awan berarak beriringan, burung-burung berkicauan meninggalkan sarang mereka dan pergi mencari makan.

Asti berdiri di depan jendela kamar kosnya di lantai dua. Setelah melakukan sesi yoganya dia merasa kembali baik. Matanya memandangi langit. Menikmati fajar. Aroma dedaunan terkena embun. Sejenak Asti menghela nafas. Mengalihkan pandangannya ke dalam kamar. Di atas kasurnya berserakan benda-benda yang akan dibawanya, topi, kacamata, pakaian, sabun, pasta gigi, payung lipat, beberapa snack, dan alat kecantikan.

Ada semburat kegundahan di wajahnya, menandakan kegelisahan yang ada dalam hatinya. Telapak tangannya terus saja mengeluarkan keringat dingin, tanda bahwa dia memendam tak hanya secuil rasa cemas.

”Hm.... apa lagi?” kata Asti sambil memandang kearah koper yang ada di sisi  kiri ranjang. Berdiri manis, siap diisi barang-barang yang akan menemani Asti pergi ke Jawa Timur, pulang ke kampung halamannya. Satu persatu dia memasukkan semua barang-barang di depannya ke dalam koper.

”Benarkah aku mau melakukan ini?” gumam Asti dengan raut wajah semrawut. Berusaha meletakkan tas kecil berisi bedak namun sekaligus dalam hati melarang. Akibatnya tas itu membeku di udara, menggantung di tangan Asti

Duduk melamun memandang kearah cermin oval di hadapannya, dengan raut muka kosong, Asti menghela napas dan melemparkan tas kecil tersebut sembarangan di atas kasur. Seperti orang linglung ia berjalan kearah meja di samping jendela yang penuh dengan teks book, kertas-kertas, dan beberapa pil putih bulat. Dia mengambil beberapa dari tabung kecil terdekat. Memastikan jumlahnya benar dan segera menelannya dengan air putih. Ia berhasil meminum obatnya, namun belum sampai gelas plastik itu mendarat di meja, tangannya tiba-tiba tremor. Dan gelasnya jatuh dengan berisik, airnya terciprat ke lantai, membasahi bagian bawah celananya dan telapak kakinya.

Tangan kanan Asti mencari-cari pegangan di udara yang kosong. Tangan kirinya memegang dadanya, berusaha menghambat rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang. Asti berusaha mempertahankan tubuhnya yang tiba-tiba lemas.

Brukk.

Tubuh Asti ambruk menabrak tepi kasur dan menggelosor di lantai dengan posisi yang aneh. Keringat dingin kini tak hanya membasahi telapak tangannya namun sekujur tubuhnya telah basah. Masih dalam batas kesadaran Asti merangkak ke atas kasur, memaksa tubuhnya yang lemas untuk berbaring di atasnya.

Sudah ku duga ini akan terjadi. Batinnya kemudian. Kenapa aku mau melakukannya? Batinnya marah pada dirinya sendiri.

Obat yang diminum Asti mulai bereaksi. Nyeri di dadanya sedikit mulai berkurang, namun keringat dingin masih membanjir di sekujur tubuhnya. Asti menarik nafas panjang. Berusaha meyakinkan hatinya bahwa dia bisa melakukannya.

Rrrrrrr ...rrrrrr..... rrrrr...

Hp Asti tiba-tiba bergetar. Ada sms masuk.

From: 0818000888

Kapan plg? Minggu ini ga sbk kan?

Ada senyum samar ketika Asti membaca sms tersebut. Bukan isi smsnya yang membuat Asti tersenyum namun pengirim sms tersebut. Seseorang yang selalu ada untuk menenangkan hati Asti.

”Uuhhh... huh...” Asti menghela jauh-jauh kegelisahan dalam hatinya. ”Semoga tidak terjadi apa-apa,” kata Asti pelan.

Akhirnya jam menunjukkan pukul sebelas siang. Asti siap-siap berangkat dan menjalankan semua rencananya, berharap tidak ketahuan siapa-siapa, terutama keluarganya. Siang ini rencananya Asti akan pulang ke kampung halamannya setelah tujuh tahun sejak kepergiannya. Sejak tujuh tahun lalu ia berusaha membuang kenangannya, dan memilih untuk menyembunyikan sakit hatinya dalam kebersahajaan kota Yogyakarta.

Jam dua belas siang, bus patas AC yang dinaiki Asti baru saja meninggalkan kota Yogyakarta, menembus lalu lintas kota Yogyakarta yang lumayan ramai. Melewati ribuan kilo dan jutaan detik yang membosankan. Hanya duduk diam dan tidak melakukan apapun. Untung saja pemuda yang duduk di sampingnya bukan jenis pemuda cerewet yang suka ngobrol, sehingga dengan leluasa Asti dapat tidur dengan tenang.

Kurang lebih tiga jam kemudian Asti terbangun dan bus sudah sampai di Ngawi. Di tempat peristirahatan pertama, kesempatan ini digunakan oleh para penumpang untuk sholat, ke kamar kecil, dan makan.

Asti mengurut keningnya perlahan, menahan rasa sakit di kepalanya. Susah payah Asti mengatur nafasnya agar tenang, ia berusaha keras agar penyakitnya tidak kambuh lagi. Bisa gawat kalau aku sampai pingsan di sini, batinnya keras mengingatkan dirinya sendiri. Berhasil mendapatkan meja kosong, ia segera merogoh tas ranselnya yang berisi berbagai macam obat yang sengaja dibawanya banyak-banyak. Takut terjadi sesuatu hal yang tidak dia inginkan.

”Aduh! Oh sial,” keluh Asti sambil memegangi sebalah kanan kepalanya. Migraennya kambuh lagi. Beberapa detik kemudian, tanpa ada keraguan di matanya cepat-cepat ia memasukkan dua pil pereda sakit kepala sekaligus ke dalam mulutnya yang kini telah berubah pucat. Seluruh wajanya tepatnya, bulir-bulir keringat dingin juga berlomba-lomba keluar dari pori-porinya. Gejala awal penyakitnya kambuh.

”Oh tidak, kumohon jangan lagi,” rutuk Asti lirih. Menyadari kesakitan itu sebentar lagi pasti akan menyiksanya seperti yang selama ini dialaminya selama empat tahun terakhir sejak tujuh tahun penderitaannya.

Di tempat duduknya Asti memejamkan mata, berusaha mengatur nafasnya sedemikian rupa. Mengembalikan chi-nya kembali normal, karena baru saja berantakan akibat kelemahannya sendiri yang tidak bisa mengendalikan emosinya.

Pelayan yang semenit lalu berdiri di depannya hendak menanyakan pesanannya, kini ngacir pergi meninggalkannya dan beralih ke pelanggan lain yang lebih terlihat normal.

Asti mengabaikan pelayan itu, mengambil buku cacatan dari ranselnya. Dan mulai menulis satu dua kalimat yang ada di otaknya. Menurut Asti dengan menulis bisa meringankan beban otaknya.

 

Rrr rrrr.... rrrr.... Satu sms masuk di hp Asti.

From: 0818000888

Kamu kapan pulang. Kok ga balas sms ku?

Aku memang pulang hari ini, sudah hampir sampai malah. Tapi belum tentu aku pulang ke rumah. Seperti matahari terbit dari barat saja, jelas tidak mungkin. Batin Asti. Aku harus ikut terapi jiwa dan meminum obat-obat sial itu. Dan selamanya hatiku pasti tak akan pernah sembuh seperti dulu lagi. Umpat Asti dalam hati. Raut wajahnya membuat orang yang melihatnya pasti bergidik ngeri. Raut wajah sang teraniaya yang ingin menghabisi jiwa sang pendosa.

 

To: 0818000888

Q ga mau blg mau pulg kpn. Tapi q pasti ke Sby. Q plg ke rumahmu.

 

From: 0818000888

Ok. Tapi kalau mau dijempt jgn lupa hub aku. Q g mau km tersesat...

 

Selalu saja seperti itu, tak pernah ada kata-kata romantis. Meskipun mereka adalah pasangan kekasih. Tak banyak orang yang tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya.

Hatinya kini sudah lebih tenang. Bergegas menyambar botol Aqua di depannya, Asti berjalan ke arah kasir, membayar minumannya dan berjalan dengan langkah lebar kembali ke busnya. Penumpang lain sudah berjejalan di pintu depan dan belakang bus.

Obat migraen yang diminumnya bekerja sesuai dengan yang diharapkannya. Denyutan di kepalanya pelan-pelan berkurang seiring dengan hembusan nafasnya yang teratur. Dalam hitungan detik Astipun tertidur dengan pulas, untuk sementara membantunya melupakan kegugupan dan sakit hatinya.

Sore harinya kedatangan Asti disambut oleh mendung hitam, kilatan petir, dan hujan deras. Sejak pagi kota Surabaya diguyur hujan dan membuatnya menjadi lebih lengang karena orang-orang enggan beraktivitas pada sore yang basah tersebut.

Seandainya hari cerah pasti Surabaya menjadi lebih cantik, batin Asti. Sesampainya di pemberhentian terakhir, Asti pun bergegas turun dan mencari taxi. Pergi kesuatu tempat dengan segera sebelum dia melanjutkan perjalanan ke daerah pesisir Surabaya. Tangannya menyerahkan secarik kertas pada sopir taxi di depannya. Alamat caffe Mbak Dharma yang ada di Surabaya, ia harus melihat beberapa laporan keuangan dan membawanya ke Yogyakarta atas perintah Mbak Dharma. Sebagai asisten dan sekaligus pengelola cabang caffe di Yogyakarta, Asti diberi kepercayaan untuk menangani masalah keuangan perusahaan.

Tangan Asti merogoh ke dalam tasnya, mencari-mencari tabung kecil berisi pil-pil putih itu lagi. Keringat dingin sudah membanjir di telapak tangan, dan keningnya. Ia berusaha menguatkan diri, mengambil botol air mineral yang ada di sisi ranselnya. Membuka tutupnya dan meminum pil-pil putih itu.

Rasanya sedetik pun ia tak bisa lepas dari bantuan obat-obatan itu. Karena ketegangannya kini sudah berada di ubun-ubun, menyesakkan rongga dadanya dengan kilasan-kilasan kenangan pahit tentang masa lalunya yang mati-matian ia lupakan dan ia tinggalkan. Dan sekarang dengan ketegaran sebesar biji jagung, Asti akhirnya memutuskan berhadapan langsung dengan setan gentayangan yang selama ini menghantuinya dalam mimpi dan sadarnya. Ia siap dalam beberapa hal, namun ia masih belum bisa menemuinya berhadapan muka, Asti memutuskan untuk menghadapinya dengan pelan-pelan. Takut jantungnya meloncat dari rongganya, nyalinya menciut seiring semakin banyaknya detik yang ia habiskan di kampung halamannya itu.

Dia mengatur napasnya perlahan-lahan, menenangkan hatinya. Meyakinkan pada dirinya bahwa dia tak akan bertemu dengan Ibunya apalagi dengan laki-laki sial pembawa bencana itu.

Pelan-pelan Asti keluar dari taxi, dengan cermat ia membaca papan nama sebuah caffe di depannya, The Riel’s Caffe (Food & Baverage). Ternyata ini, batin Asti sambil menyeret kopernya ke dalam. Baru kali ini Asti bersedia di tugaskan untuk menangani masalah keuangan caffe Mbak Dharma yang ada di Surabaya. Dari dulu Asti selalu menolak tawaran itu, dan memilih tugas apapun selain hal-hal yang berkaitan dengan Surabaya dan kawan-kawannya. Namun kali lain, Asti hendak bertemu dengan seseorang, dan Mbak Dharma melihat ini sebagai peluang untuk menugaskan Asti sebagai orang kepercayaannya.

Pukul 09.30 WIB, Asti melirik arlojinya. Caffe itu masih tutup karena jam operasinya biasanya sore sampai dini hari. Dengan kunci pemberian Mbak Dharma, ia bisa masuk ke halaman Caffe dengan leluasa. Seorang laki-laki muda tergesa-gesa berjalan ke arahnya, keningnya berkerut tanda tak mengerti. Bagaimana mungkin orang tak dikenal bisa memasuki pekarangan caffe yang terkunci dari dalam.

”Hai, saya Asti,” teriak Asti cepat-cepat, takut disangka maling.

”Mbak Asti? Mbak Asti manajer keuangan sekaligus pengelola cabang caffe yang di Jogja?” tanya pemuda itu ragu-ragu sambil sekilas memperhatikan dandanan Asti dan koper bawaan Asti.

”Ya, ini kartu nama saya,” jawab Asti sambil menyodorkan selembar kartu nama.

”Oh...mari-mari silahkan masuk!” katanya sambil tersenyum, wajahnya menyiratkan kelegaan. ”Oh iya, nama saya Made. Saya penjaga di sini, sekaligus tukang bersih-bersih.”

”Made? Dari Bali ya?”

”Iya Mbak,” jawab pemuda itu malu-malu.

Asti hanya menganguk-anguk mendengar penjelasan Made. Orangnya kelihatnnya ramah, garis matanya tegas dengan alis mata tebal, dengan wajah khas orang Bali.

Sambil berjalan mengitari bangunan caffe, Asti melihat-lihat taman yang terhampar di depannya, ada empat pohon kamboja besar ditanam di empat penjuru taman, di tengah-tengahnya berdiri bangunan caffe yang bergaya natural minimalis. Atapnya mengkilat berwarna coklat tua dari kayu berpelitur, dinding-dindingnya juga terbuat dari bahan yang sama. Asti menebak-nebak apa gerangan yang ada di dalamnya.

Aroma wangi menguar dari dalam ruangan yang di masuki Made, Asti mengikuti pemuda itu masuk ke dalam ruangan yang bernama kantor—tempat menyimpan berkas-berkas dan tetek bengek administrasi caffe. Aroma terapi, batinnya saat melihat ke arah meja berukir yang juga terbuat dari kayu, selain aroma terapi di atasnya juga terdapat seperangkat komputer LCD. Wow wow... di Jogja aja nggak segini mewahnya, batin Asti.

Ruangan itu tidak terlalu besar, jendelanya menghadap ke barat, matahari terbenam di sela-sela gumpalan awan. Asti bisa melihat interior kantor itu dengan jelas. Full kayu, batin Asti. Matanya tiba-tiba menatap sebuah lukisan pemandangan gunung Fuji dengan saljunya yang ada di seberang ruangan, yang ternyata adalah tirai kertas yang menutupi pemandangan dalam caffe dari balik kaca beningnya. Made telah menggulung tirai kertas itu ke atas, dan mengaitkannya pada kaitan di atasnya.

”Mari Mbak, silahkan! Mau minum apa? Atau, makan malam mungkin? Mbak Asti pasti capek?” tanya Made ramah mempersilahkan Asti duduk di satu-satunya sofa yang ada di ruangan itu.

”Makasih,” jawab Asti lirih. ”Tolong buatkan coffe latte!”

”Baik Mbak, ada lagi?”

”Ng... siapa pengelola di sini. Hm.. Pak Arman?”

”Iya Mbak benar, ada apa ya?”

“Hm.. beneran saya boleh ambil berkas-berkas keuangan tanpa ada beliau di sini. Saya jadi nggak enak, nanti disang—”

”Nggak apa-apa Mbak, semalam Pak Arman sudah pesan ke saya, Bu Dharma soalnya sudah bicara langsung sama Pak Arman. Lagian Pak Arman orangnya baik kok Mbak, kalau Mbak Asti butuh apa-apa, panggil saya saja.”

”Iya, terima kasih.”

Rrrrr... rrrr... rrr ada sms masuk ke ponsel Asti.

 

From: 0818000888

Km jujur aj deh. Km dah di Surabaya kan? Tiba2 Q....??

 

Eee busyet. Bagaimana mungkin dia bisa tahu, padahal aku nggak kasih tahu apa-apa, batin Asti sambil geleng-geleng kepala. Otaknya penuh tanda tanya, tak mengerti bagaimana mungkin orang yang di kasihinya itu bisa mengetahui keberadaannya. Telepati, insting, indra keenam, batinnya menebak-nebak. Tak urung diketiknya juga sebuah pesan di ponselnya.

 

To: 0818000888

Wow,, kok km tau sih. Dukun y km? ^o^

Ya deh ngaku. Q emg d Sby. Jemput q ya, q ad di caffe nih. Tau kan, alamatny dah tak ksh km wkt itu. Cu :p

 

From: 0818000888

Br tau kalo q dukun. Hahaha..

Hati Asti di penuhi bunga-bunga suka cita, baru saja laki-laki pujaannya itu telah membuktikan cintanya yang tulus. Kalau bukan seseorang yang benar-benar mencintai dengan segenap hati, bagaimana mungkin hal mustahil seperti itu bisa terjadi, batin Asti kegirangan. Ia tahu, laki-lakinya itu bukanlah seorang dukun atau paranormal, dia hanyalah orang biasa yang suka menyembuhkan penyakit orang lain dengan menjadi dokter.

            Asti sangat menyayangi kekasihnya itu. Umur mereka yang terpaut jauh, membuat hubungan mereka jauh dari letupan-letupan pertengkaran atau kemarahan. Selama empat tahun jadian, tak pernah ada pertengkaran besar yang berarti. Sejauh ini mereka selalu adem-adem saja. Pramodya adalah tipe laki-laki sabar yang selalu bisa menenangkan hati Asti di kala gundah, sedih, atau marah. Mereka berkenalan saat Pramodya masih tinggal di Yogyakarta bersama keluarganya. Kini dia telah pindah dan memutuskan tinggal di Surabaya, mencari sebuah ketenangan.

 

 

Read previous post:  
15
points
(1463 words) posted by vivian 8 years 4 weeks ago
50
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | Kehidupan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ichiko
ichiko at Abstrak Kesiangan (Bag I Awal) (5 years 19 weeks ago)
50

miss u........

Writer ayanapunya
ayanapunya at Abstrak Kesiangan (Bag I Awal) (7 years 47 weeks ago)
70

waa..bikin penasaran :)