Lubang

Blue5torm.Arya: hallo bos :D

Dirga_Hd1ptra: yo! Ya

Blue5torm.Arya: knapa lu?

Dirga_Hd1ptra: F**k, babeh gw cari gara2 nih

Blue5torm.Arya: :))

Blue5torm.Arya: bukannya lu yang bikin Ga?? sampe diskors seminggu  <:-P, slamet ye

Blue5torm.Arya: masi untung bukan ngobat lu yang ketauan,

Dirga_Hd1ptra: Asu! gw ga pernah make ‘obat’ ye

Dirga_Hd1ptra: itu herbal coy, 100% nature. jamur tu semi legal di Indo masuknya gol. zat adiktif

Blue5torm.Arya: Oh ya? emang gw nanya?

Dirga_Hd1ptra: brengsek luh Ya

Blue5torm.Arya: :))

Blue5torm.Arya: cup cup,jadi diapain lu sma babeh? disapih Ga??

Dirga_Hd1ptra: grounded man, ga bisa keluar kamar di kunciin

Dirga_Hd1ptra: berasa penjara

Blue5torm.Arya: lah kalo mau kencing?

Dirga_Hd1ptra: kan ada kamar mandi di kamar gw, perasaan waktu itu lusempet main ke rumah gw kan?

Blue5torm.Arya: lupa, lagian penting apa gw inget2 gituan?

Dirga_Hd1ptra: dongo, tadi nanya

Blue5torm.Arya:  -is signed out at 22:46


“Eh setan, dc dia” batin Dirga sembari melepas headset mp3 player-nya. Hening, cuma sesekali ada suara motor di kejauhan. Berarti Ayah dan ibunya sudah tidur. Sedangkan kakak perempuannya, Mei sedang ‘tugas’ pelatihan pegawai di Batam.

Hari masih sore menurutnya, matanya belum bisa terpejam tapi sejak siang tadi tidak banyak hal yang bisa dilakukannya. Tv, console game, dan laptopnya disita oleh ayahnya sejak tadi pagi, sejak skorsing 3 hari dari sekolahnya dimulai. Skorsing konyol menurutnya.

“Emang, tuh kepsek ga pernah dikatain apa? Siapa coba yang ga keceplosan, kalo dimarahin segitunya cuma gara-gara ngerokok? pake bawa-bawa orang tua segala, dasar ga santai”

Setelah capek kilas balik sembari sumpah serapah dalam hatinya, ia kembali menatap nanar ke langit-langit kamarnya. Sudah tidak berminat ia mendengarkan lagu, main game di handphone-nya apalagi. Chatting atau sms pun males.


“Tetep reputasi gw harus dijaga. Cukup si Arya bloon itu aja yang tau gw di pasung begini.”

Duduk di tempat tidurnya, dan memandang seluruh ruangan mencari hal menarik yang bisa dilakukannya sampai mengantuk. Saat itulah ia menemukan sebuah noda hitam kecil di dinding kamarnya, di bagian yang biasanya tertutup layar tv nya. Sejak ia mencoba magic mushroom, mengamati pori-pori tangannya, pola marmer, sampai cat dinding menjadi kebiasaan yang ia lakukan saat melamun.

Ia mendekati noda kecil tersebut, ternyata itu bukanlah noda melainkan lubang. Sebuah lubang kecil bulat sempurna, tidak lebih besar dari lubang semut, namun ia yakin lubang itu cukup dalam. Ia mengambil pensil mekanik, mengeluarkan isi pensilnya yang rapuh dan menusukkannya pelan-pelan tanpa patah kedalam lubang tersebut. Belum sampai setengah isi pensil itu masuk, tiba-tiba lubang itu seolah menarik masuk isi pensil sampai tak terlihat. Dirga pun terlonjak mundur, sedikit tercekat bercampur heran. Ia mencari benda lain di tasnya. jangka. Kemudian ia maju dan menusukkan jangka ke dalam lubang itu. Ternyata benar, ujung jangkanya ditarik masuk kedalam. Sepertinya tenaga sosok binatang  didalam lubang itu memiliki kekuatan diluar nalarnya. Kekuatan kedua tangannya tak mampu mengimbanginya. Kini bagian badan besi jangka tersebut tegak horizontal menggantung di dinding, menutupi lubang tersebut.

Semakin heran ia membuka pintu kamar mandinya, ruangan yang berada di balik dinding berlubang tersebut. Dirga menekan sakelar lampu. Lalu telunjuk dan matanya mengamati menyusuri pola keramik tepat di balik daerah lubang tersebut. Nihil tak ada apapun yang bisa menjelaskan fenomena lubang tersebut. Entah binatang, atau hukum fisika apapun yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya berada di dalam dinding tersebut. Harus dibongkar kalau mau terungkap. kali ini bibirnya menyunggingkan senyum.

“si anak bloon harus tau, Kejaiban dunia yang cuman ada di kamar ini!”

“Tu~uut.. tu~uut ... klik!”

“Ya?” Arya menjawab dari seberang sana.

“Ya. Ya. Gue nemu sesuatu! Tadi gue iseng ga bisa tidur. Trus ada lobang di dinding gue. Benda yang bisa gue colok malah masuk ditarik ke dalemnya. sekarang gue tutup jangka…”

“Tunggu, lu nelpon ganggu gue tidur cuma buat cerita ada lobang dinding kamar lu?” Potong Arya.

“Alaah ... ngomong tidur, paling juga lagi ngenet yang engga-engga luh”

“Trus lobang lu colok-colok apa namanya?” Arya memutar pembicaraan.

“Wah.., gini nih dengerin..” Dirga pun memulai cerita semenjak berakhirnya pembicaraan mereka di program messenger sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Arya.

“Oooh .…”

“Ah oh ah oh, berasa ngerti apaan aja luh.” Sahut Dirga.

“Trus menurut lu itu apa?” Tanya Arya.

“Dugaan gue bekas pipa aer atau gas jaman dulu. Nih rumah kan bekas rumah tua bokapnya kakek gue, sebelom direnov bokap pernah dibiarin kosong dua puluh taun lebih. Mungkin salah satu bekas pipanya ketemu sama ruang bertekanan rendah. Makanya jadi kaya ada efek vacuum cleaner gitu.”

“Hahaha, sok ilmiah lu. Pas belajar fisika aja lu tidur, pake ngomong efek vakumlah, tegangan rendah segala dibawa-bawa.”    

“Eh gini-gini logika gue jalan cuk! Teori gue yang lain ada serangga entah jenis apa yang bersarang disitu, eh tapi kalo jangka pun sampe nangkring gini…” “KLOTAK!” Belum sempat Dirga melanjutkan dirinya dikagetkan oleh suara benda jatuh.

“Anjing! Ya! Ya! Jangkanya jatoh, tapi jarum besinya ilang! Ga mungkin kalo binatang. Kuat banget. Pasti pipa entah apa itu.”

“Nah lo! Jangan-jangan terjadi anomali black hole di kamar lo, atau mungkin masih sekedar wormhole ....”

“Ngemeng dah lu black hole black hole. Fantasi lu tuh yang ngawang-ngawang.” Ujar Dirga sembari melihat lekat-lekat ujung jangka yang raib dan lubang misterius bergantian. Terdiam beberapa saat, sebuah ide melintas di pikirannya.

“Oh, coba gue bongkar Ya. Kebetulan ada obeng sama palu nih.”

“Buset, tidur gih lu. Iseng banget sih. Kalo ternyata mistis gima..-PIP.” Belum selesai kalimat Arya, Dirga sudah memutuskan pembicaraan.

“Dasar anak bloon. Nilai pelajaran aja yang bagus, giliran mistis-mistisan percaya.” Dirga jadi teringat, sobatnya itu meskipun selalu masuk posisi rangking lima besar disekolah  bukanlah termasuk anak-anak kutu buku yang disayang guru. Arya lebih suka nongkrong di warung, merokok sambil membicarakan teori-teori absurd tentang alien, perkumpulan rahasia, mahluk gaib, dunia paralel dan pengetahuan-pengetahuan fiksi lainnya yang dia percayai mentah-mentah dari macam film, komik, game, dan novel-novel koleksinya.

“TOK! TOK!” Dirga sendiri berawal dari kebiasaan suka nongkrong, kini sering diajak hiking oleh teman-teman dari klub pencinta alam sekolahnya. Meskipun sebenarnya Dirga sendiri tidak pernah terdaftar jadi anggota. Dia berpikir mungkin akan menempuh karier pembawa acara petualangan di TV atau mungkin fotografer alam bebas, meskipun sampai sekarang belum tau harus melanjutkan kuliah dimana. Atau mungkin dibidang lain.Entahlah pikirnya, yang pasti untuk saat ini ia harus menyelesa ....

“SROOTT!!” Lamunan Dirga buyar seketika. Ketukan palunya terhenti. Obeng yang dipegang tangan kirinya sedetik lalu kini ikut tersedot masuk. Dan kini lubang itu menjadi sebesar koin seratus rupiah. Masih tetap bulat sempurna dan hitam legam tidak terlihat apa-apa, bahkan tekstur kasar semen dibaliknya. Bagai tak terpengaruh cahaya lampu kamar yang menyinari. Perlahan Dirga mendekatkan matanya, tak terlihat apa-apa. Tak terjadi apa-apa. Bahkan pikiran buruk bahwa bola matanya akan ikut tersedot aliran udara yang berada didekat lubang pun dirasa tidak bakal terjadi.

“Sekarang makin aneh.” Pikirnya, seraya mengambil senter LED-nya untuk menerangi lubang. Kemudian kejanggalan itu tidak berkurang setelah ia mengarahkan sinar senter kedalam lubang. Ia seperti menerangi sebuah ruangan gelap gulita dari lubang kunci, ia tahu sinar tersebut masuk tetapi tetap tak terlihat, seakan dasar lubang itu dan luas rongganya lebih panjang dari jangkauan sinar senternya. Tapi ia tahu hal itu mustahil sebab ruangan kamar mandi di balik dinding masih belum dimatikan lampunya.

Ia kemudian menutupi lubang dengan telapak tangannya. Benar, nihil. tidak ada gaya sedot yang dirasakan. Tapi untuk mencoba memasukkan jemarinya, ia masih segan. Dirga pun akhirnya merebahkan diri di atas kasurnya, menatap langit-langit lalu kembali memandangi lubang. Merasa heran sendiri, tidak habis pikir mengapa ia jadi begitu tertarik dengan lubang konyol di dinding.

Matanya kian berat, kesadaran Dirga pun beralih. Ia terlelap.


***

Dirga terbangun. Matanya mengerjap karena perih, menyesuaikan dengan terangnya ruangan. Ini baru pertama kalinya terjadi. Setelah mulai bisa melihat dengan jelas, ia baru sadar dari mana sumber cahaya itu berasal. Lubang itu.

Bagaikan lampu sorot halogen, lubang yang tadinya gelap gulita itu kini memancarkan berkas-berkas cahaya. Saking terangnya Dirga bahkan tak mampu memandang langsung ke lubang itu.

Dengan relfeks ia menekan tombol hijau di handphone-nya, menghubungi caller ID paling atas.

“Mimpi ....” Dirga membatin, kemudian menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya dan kembali memejamkan mata.

***

Dirga kembali mengerjapkan mata.Tidurnya terganggu dering telepon yang entah sudah keberapa kali ia dengar dalam keadaan setengah sadar. Angak digital di handphonenya menunjukkan jam setengah empat pagi.

"Bangke, ngapain lu nelpon-nelpon gue jam seginih?"

"Lah, elu yang nelpon gue tadi." Di seberang suara Arya terdengar setengah kesal.

Dirga terdiam sejenak, mengingat sesuatu. Menatap dinding kosong yang kemarin tertutup tv. "Maksudnya?"

"Maksud apaan sih? lu kesambet ya gara gara bongkar-bongkar lobang keramat?"

"Lobang.." Dirga berkeringat dingin.

"Ya, gue ga yakin gue tadi ngobrol sama lu itu mimpi atau bukan, tapi kalau emang bener nyata ini lebih ga masuk akal.."

"Heh?" Arya bersuara.

"Kalo bener kita tadi malem ngobrol soal lobang aneh di dinding kamar gue, for your information, sekarang gue lagi di depan dinding itu. Putih bersih tanpa lobang, bahkan bekas paku aja ga ada."

Giliran Arya terdiam.

"Oke Ga. Gue kasi tau terkadang wormhole emang bisa pindah tempat." Arya bicara dengan serius.

"Jah. teori lu... ANJIING!!!" Dirga menoleh dan kaget tidak keruan. Ia melihat lubang yang hampir sama di dinding seberang, tapi kali ini sudah lebih besar dari kepalan tangannya. Dari dalam lubang itu kini mengalir air membasahi lantai. Belum habis herannya  saat sesuatu bergerak keluar, seperti bola tenis tapi ditutupi bulu. Menggeliat kemudian mengepakkan sayapnya.

Seekor dan disusul seekor lagi. Kini dua ekor burung kecil terbang berputar dekat langit-langit kamarnya. Dirga mengambil kaus bekas olahraganya yang belum dicuci dan segera menyumbat lubang itu. Saat itulah sebuah tangan dengan jemari lentik menggapai keluar dari dalam lubang. Dirga terhenti bergerak.

***  

Arya terbangun dengan handphone masih di dalam gengamannya. Ada sebuah pesan masuk. "Kenapa gak bilang luh kalo di dalem wormhole ada cw? Gokil sob!!"

Alisnya berkerut. Sepertinya Dirga tidak pernah mendengarkan cerita-ceritanya. "Memangnya dia pikir apa itu wormhole??" batinnya.

Namun sejak saat itu Dirga tak pernah lagi masuk sekolah. Hanya ada bekas-bekas telapak kaki di dinding kamarnya. Sebagian tidak salah lagi milik Dirga sendiri, sedangkan sebagian yang lain sepasang telapak kaki kecil mungkin milik anak-anak. Atau, atau memang sepasang lagi milik sesosok gadis. Entahlah, yang jelas pernah ada secercah cahaya yang selalu menerangi berasal dari sebuah lubang sebesar jarum di kamar itu. Namun kini orang tua Dirga pindah dan rumah itu direnovasi kembali.
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Lubang (7 years 37 weeks ago)
80

Ceritanya seru,unsur suspense-nya kental dan bikin penasaran. Adegan ketika ada burung yang keluar dari lubang, itu bagian yg paling saya suka. Endingnya juga nggak ketebak, tapi benar-benar ending terbuka ya?

Untuk teknis penulisan, ada banyak masalah. Kesannya cerpen ini diposting dengan terburu-buru. Wajar sih, kadang abis nyelesain satu cerita kita nggak sabar pengen majang itu di internet, tapi ada baiknya menahan diri dulu dan ngerapiin tulisan sebelum dipajang.

Beberapa koreksi di antaranya:

... hal yang bisa dilakukannya [kurang titik] Tv, console game, dan ....

Sebaiknya istilah-istilah bahasa asing ditulis miring.

kedalam --> ke dalam

Tenaga, entah binatang apa didalam lubang .... --> Saya kurang paham dengan kata "tenaga" di awal kalimat itu.

horisontal --> horizontal

gw --> karena ini dalam percakapan telepon dan bukan SMS, maka penulisannya sama seperti kalimat langsung biasa. Menurut saya sebaiknya ditulis 'gue' dari pada singkatan 'gw'.

“Wah.., gini nih dengerin..” --> Kalimat yang terputus biasanya menggunakan tiga titik atau empat titik bila di akhir kalimat. Setahu saya seharusnya: “Wah ... gini nih, dengerin ....”

“trus menurut lu itu apa?” --> Awal kalimat langsung ditulis dengan huruf kapital.

haris at Lubang (7 years 37 weeks ago)

Wah ..., terima kasih banyak banyak bung Vai.
.
Pada bagian ending sebenarnya saya memang punya alternatif ending lainnya, hanya saja malah tidak menutup cerita dan bakalan menambah panjang cerita menjadi 3-4 kalinya. Maka saya berpendapat dicukupkan saja di sini.
.
Terima kasih banyak atas masukan teknis penulisannya, akan segera saya edit. Mengenai penggunaan titik dalam kalimat terputus itu saya baru tahu, sekali lagi terimakasih atas ilmunya :D kalau maksud tenaga itu, ingin menjelaskan pemikiran yang berubah ditengah-tengah. Sedang berpikir bahwa itu tenaga binatang, namun nalarnya mengatakan entah apa/ entah binatang apa. Bingung juga gimana cara mengkomunikasikannya sesuai pikiran saya ...
.
Oke mudah-mudahan bung vai tidak jenuh memberi masukan. karena karya saya selanjutnya akan segera keluar.

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Lubang (7 years 38 weeks ago)
90

sip, bpkny P.Hadi y?

haris at Lubang (7 years 38 weeks ago)

hoho, betuul

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Lubang (7 years 37 weeks ago)

plg suka nih, ma genre yg kya gini,
tp namanya genre apa y?
still waitin 4 yours..

Writer rysal
rysal at Lubang (7 years 38 weeks ago)
80

wah enak tuh ada cewe

Writer lavender
lavender at Lubang (7 years 38 weeks ago)
90

keren! for sure!
love this!

haris at Lubang (7 years 38 weeks ago)
100

Trivia Quiz!!
Siapakah nama bapaknya Dirga? :)