Sepenggal Kisah Tentang Musim Yang Terabaikan

 

22 juni, tiga puluh tahun yang lalu.

     Kincir angin selalu berputar dengan suara gemertaknya di langit-langit desa. Bukanlah permainan atau hiasan, apalagi tanpa tujuan jika kincir-kincir tersebut ditancap hingga menjulang. Kincir yang memperlihatkan arah dan kecepatan angin itu, konon digunakan sebagai penentu kemakmuran desa.

     Hari itu, angin bertiup dari arah timur laut ke barat daya. Siang begitu menyengat, sedang malam terlalu dingin menusuk. Di beberapa tempat, ilalang dan rumput masih subur di sekitaran mata air yang mulai mengecil dan perlahan menyurut. Daun-daun berguguran, beberapa pohon tak sanggup lagi menahan panas hingga kering tak berdaun. Namun, bagi belalang dan serangga lainnya kondisi seperti itu adalah saat yang baik untuk bertelur. 41 hari harus dilalui dalam kekeringan dalam musim bernama Kasa. Sebuah musim yang selalu digunakan petani sebagai acuan untuk mulai menanam palawija.

     Semilir angin mulai terasa sepoi-sepoi, namun tanah semakin kering dan memecah. Palawija yang mulai tumbuh pun kini memerlukan air, agar tak meranggas seperti perdu di ladang-ladang kosong yang gersang. Musim karo telah datang untuk 23 hari ke depan dan akan berlalu jika arah angin telah berubah dari utara ke selatan. Perubahan yang juga penanda dimulainya musim katelu selama 23 hari berikutnya. Namun, perubahan arah angin itu masih akan membawa hawa yang kering dan panas. Walau demikian, musim katelu adalah saat yang bahagia untuk petani, karena tanaman palawijanya mulai menua. Mereka segera panen seiring gadung dan bambu yang mulai bertunas.

     Saat angin mulai berhembus dari barat laut ke tenggara, beberapa orang mulai berfirasat buruk. Bahaya kekeringan akan melanda desa dengan surutnya mata air di beberapa tempat. Firasat yang selalu menyertai musim kapat selama 25 hari ke depan. Walau angin yang berhembus terasa sepoi-sepoi, hawa semakin mengering dan memanas. Para manyar tahu jika itu adalah musim kering terakhir, musim kawin bagi bangsanya. Ranting dan cabang pohon mereka hinggapi dengan siulan-siulan merdu, menggoda lawan jenisnya untuk mendekat. Bersama terbang dalam riang, lalu sibuk membuat sarang. Di salah satu sudut, ribuan buah berwarna hijau memanjang sengaja dipamerkan oleh sang randu yang gersang. Gambaran kontras dari batang hijau menjulangnya yang sedang meranggas. Kehidupan memang selalu memperlihatkan ironi, di tengah kekeringan yang melanda, gurat kebahagiaan tetap diperlihatkan dalam panen raya palawija.

     Musim itu pun akan berganti menjadi musim Kalima, setelah angin menguat dan sesekali membawa hujan. Hawa mulai terasa basah, memancing tumbuhnya daun-daun baru di pohon asam. Di beberapa tempat, kelembaban membuat pohon kunyit dan gadung tumbuh dengan subur. Saat yang tepat bagi ular dan lalat untuk keluar dari liang-liang persembunyiannya. Musim yang berlangsung 27 hari itu, akan dimanfaatkan petani untuk bertanam padi huma. Petani lain mulai sibuk menyiapkan lahan sawahnya.

     Musim mungkin terasa begitu cepat. Arah angin kembali berubah, hembusannya yang kencang dari arah barat ke timur, selalu diikuti oleh turunnya hujan. Hawa semakin terasa dingin dan basah. Sawah yang diolah beberapa petani di musim lalu kini telah siap, benih padi pun disemai. Di musim yang bernama Kanem ini, orang-orang di beberapa daerah sibuk memetik atau memakan buah rambutan, durian dan mangga.

     43 hari akan dilalui dalam musim kanem. 43 hari selanjutnya angin barat akan membawa hujan deras yang biasanya selalu menyerang dengan dahsyat. Sungai-sungai besar mulai meluap, menyebabkan banjir musiman di beberapa tempat. Kondisi teramat ekstrem bagi burung untuk terbang dan mencari makan. Petani menyebut kondisi ini dengan musim Kapitu, mereka mulai ramai menanam padi di sawahnya.

     Sekian lama terguyur hujan, kincir angin mulai berputar kencang dengan arahnya yang bolak-balik. Angin itu mengarah dari barat daya ke timur laut atau sebaliknya. Petani tahu jika keadaan itu akan berlangsung selama 26 hingga 27 hari. Panas sedikit demi sedikit akan mengusir hujan. Seiring dengan tanaman padi yang telah menghijau, orang-orang pun mulai ramai memanen jagung di tegalan. Keadaan yang sama di musim Kawolu, seperti halnya tahun lalu.

     Angin dari arah selatan mulai mantap dengan hembusannya. Musim kasanga pun tiba untuk 25 hari ke depan. Hujan akan terus berkurang, walau hawa masih terasa dingin. Di kebun-kebun sudah terlihat jika jeruk manis dan duku sudah masak, padi di huma dan sawah pun mulai menguning. Semua pasti merasa, jika musim yang terasa damai ini selalu berlalu dengan cepat. Perubahan arah angin kembali terjadi, hembusannya terasa begitu kuat dari arah tenggara. Musim Kasapuluh tengah berlangsung, musim yang akan menambah kedamaian dan kebahagiaan selama 24 hari ke depan. Beberapa petani memulai panen padi di sawah dan humanya, berbagai jenis burung sibuk menganyam sarang, mengangkut sisa-sisa jerami atau dedaunan lainnya.

     Hari yang dinanti telah tiba saat tanaman berumbi sudah menuai daunannya. Saatnya memasuki musim dhestal. Di musim paling bahagia yang akan berlangsung selama 23 hari ke depan ini, burung-burung mulai mengerami telurnya. Para petani memulai panen raya untuk padi sawah dan humanya. Kesibukan terus berlangsung selama panen raya, hingga menyisakan tumpukan jerami yang mulai melapuk. Lapuk untuk memupuk musim berikutnya.

     Panen raya pasti berakhir, walau ada sebagian petani yang baru saja selesai memanen padi di sawahnya. Angin dari timur ke barat telah datang dan akan berlangsung selama 41 hari mendatang, di musim yang bernama sadha. Siang begitu panas menyengat namun malam terasa dingin.  Sang hujan yang semakin jarang terus terusir hingga tak pernah datang. Di beberapa sudut, buah nanas, jeruk keprok dan asam mulai masak, semua siap untuk dipetik. Namun, debit air yang mengaliri sawah mulai berkurang, petani tahu jika air akan terus menyurut. Saat yang bijak untuk mengganti kembali sawahnya dengan tanaman palawija.

     Angin tak pernah berbohong, mengganti musim dari tahun ke tahun. Kelaparan bukanlah ancaman, sebab tiap musim selalu ada gantungan. Jarang tersiar wabah, hama tanaman apalagi bencana sebab menanam sesuai aturan.

* * *

     Perkembangan jaman terus berubah, kincir tak lagi berputar saat modernitas melahirkan berbagai varietas. Petunjuk alam bukan lagi aturan, seiring penerapan intensifikasi, difersifikasi dan ekstensifikasi yang menambah musim juga hasil panen. Tak ada lagi kata istirahat bagi lahan yang perlahan jenuh akibat unsur haranya tergerus. Tak habis akal, lahan pun dipaksa menelan berbagai candu penambah vitalitas dan kesuburan. Bahan sintetis dan anorganik disebar sebagai pengendali hama tanah dan tanaman. Semua riang, merasa jika manusia telah berhasil mengendalikan alam.

     Tahun ini, lahan pertanian dan perkebunan semakin berkurang. Beberapa beralih fungsi menjadi gedung, pabrik atau perumahan. Beberapa lainnya tandus, lalu ditinggal tanpa tuan. Berbagai kepentingan, membuat manusia memanipulasi kebutuhan yang mendesak. Regulasi pun memihak terbukanya lahan-lahan baru.

     Saat pengetahuan manusia terhadap alam susut hanya sebatas musim hujan dan panas. Pengetahuan itu pun mengguratkan trauma. Banjir, longsor menelan korban di musim hujan, sedang kemarau teramat panjang. Tersiar kabar tentang ribuan ulat dan serangga menyerang. Puluhan, mungkin ratusan petani terancam gagal menuai hasil di sawah dan ladang. Sebagian yang terjepit, menganggap jika kekeringan datang lebih awal. Sebagian yang menjerit menyebut efek pemanasan global. Beberapa orang tua malah berkata, semua musibah adalah karma. Walau demikian, orang bijak senantiasa berpetuah, petiklah hikmah di balik musibah.

     Bukan alam yang tidak bersahabat, melainkan manusia yang tak lagi ramah. Bukanlah alam murka, melainkan ia kehilangan sebagian fungsinya. Adalah manusia yang selalu lupa. Kognisi leluhur, bukanlah panduan asal ukur tanpa pengalaman, pemahaman dan pendekatan terhadap alam. Adalah manusia yang serakah, tergiur eksploitasi tanpa eksplorasi. Tanpa syukur, bertingkah kufur. Tak sadar berbuat salah, manusia merambah seluruh wilayah. Hanya menunggu saat. Manusia pasti kalah dan menyerah pada wabah yang dibuatnya. Akhirnya, manusia juga yang merasa bersalah, tapi tetap berulah meski tahu itu salah.

* * *

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post