[PRIMEA] 1 - Pulang

Zach terdiam. Dipandangnya lemah sosok lelaki bongsor yang terkulai rapuh di hadapannya itu. Perlahan, dibersihkannya darah yang berlumuran di wajah lelaki itu. Entah untuk kali keberapa, lelaki itu kembali tersenggal-senggal. Matanya tak lagi menatap Zach, seolah menerawang. Saat darah kembali muncrat dari mulut lelaki itu, Zach mulai terisak. Kembali ditekannya luka di dada lelaki itu. Zach tak peduli, meskipun cahaya hijau di tangannya sudah meredup.

“A—anak lelaki—tak seharusnya—me—menangis.” Suara yang nyaris hilang itu mulai terdengar mengerikan di telinga Zach. Refleks, Zach pun mendekap lelaki itu lebih erat. “Dengar. Pergi ke—L—Lorach. C—cari … Goran.”

Zach menggeleng cepat, makin menangis.

“Jangan bicara,” kata Zach. Cahaya hijau itu mulai hilang. “Diam, dan simpan tenagamu. Aku mohon, Silon.”

Lelaki bongsor yang dipanggil Silon itu hanya tersenyum. Diraihnya tangan Zach yang sudah kehilangan cahaya hijaunya itu. Erat. “Ta—tak ada—waktu. B—bahaya—peringatkan mereka.”

Zach tercekat. Lorach? Maksudnya Oasis Lorach? Goran itu apa? Siapa yang sedang dalam bahaya? Zach ingin bertanya, tapi kondisi Silon membuatnya bungkam. Yang terpenting sekarang adalah memperpanjang napas pria paruh baya itu dulu.

Silon seketika mencengkeram tangan Zach, lalu menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman bocah itu. Zach tak menggubris. Ia terlalu sibuk dengan luka Silon untuk memperhatikan apa yang ada di genggamannya. Zach mengalirkan semua energi miliknya, meskipun ia tahu energi itu tak cukup untuk luka parah seorang dewasa. Zach tak berhenti berusaha, meski jauh di dalam dirinya, ia tahu sudah terlalu terlambat. Sorot mata lelaki itu telah hampa, begitu pula raganya. Tak ada lagi nyawa yang tersisa, lenyap bersama jeritan memilukan yang menguasai malam itu.

***

Di sebuah reruntuhan di tengah-tengah padang pasir, di bawah naungan bekas bangunan yang masih bisa dijadikan tempat berteduh, seorang pemuda terbangun dengan sigap. Ia membelalak, dengan napas tersenggal-senggal. Seorang bocah awal belasan tahun berambut pendek gelap yang sedang memainkan api unggun dengan kayu kering yang dipungutnya langsung menatap pemuda itu. Tak berselang lama, bocah itu mengalihkan perhatiannya kembali pada api unggun. “Mimpi buruk lagi?”

Masih membelalak, pemuda itu menoleh pada si bocah. Setelah bisa mengatur napas, ia menghela panjang. “Semacam itu,” kata pemuda itu pada akhirnya.

“Salah sendiri, siapa suruh di awal malam sudah tertidur.”

“Masih belum menjelang pagi?”

“Kau tak lihat kalau langit masih gelap? Ini masih tengah malam, Zach.”

Zach segera bangkit, lantas duduk di depan api unggun, mendampingi si bocah. Diraihnya tas butut yang teronggok tak jauh darinya, lalu memeriksanya. Seketika, ia mengernyit. “Kau menghabiskan separuh bekal kita, Elyn?”

“Aku masih dalam masa pertumbuhan. Wajar kan kalau porsi makanku banyak?”

“Ya, wajar kalau kau tak melihat situasi kita saat ini.”

“Ah, bicara tentang mimpi buruk—”

“Mengalihkan topik lagi?”

Keduanya berpandangan sejenak, saling menantang. Akhirnya, Elyn hanya mengangkat bahu. “Baiklah, kita memang sedang terjebak di sini. Apa boleh buat, badai pasir tadi memang mengerikan. Tapi, sekarang kan sudah reda.”

“Lalu?”

Elyn terdiam, lantas menghela napas panjang. “Akan kuhemat perbekalan.”

Zach mencuil sepotong roti gandum dari dalam tas, lantas menghabiskannya dalam beberapa saat. Ia terbatuk sebentar, lalu mengambil wadah kulit dari dalam tas. Ia mendongak, sambil mengarahkan moncong wadah ke mulutnya sendiri. Kosong. Seketika ia menghela tertahan. Zach lupa bahwa persediaan air mereka sudah habis sejak tadi siang.

“Saat matahari terbit, kita cari oasis.” Elyn hanya menggumam kecil, yang segera dianggap ‘iya’ oleh Zach. Tak lama kemudian, Elyn menguap. “Tidurlah.”

“Aku tidak ngantuk.”

“Bocah yang sedang dalam masa pertumbuhan butuh tidur yang cukup, kan?” katanya sambil menoleh pada Elyn, yang segera dibalas dengan kernyitan di dahi. Zach mencibir puas.

Elyn segera bangkit, lantas mengambil tas miliknya sendiri. Ditatapnya Zach dengan pandangan tajam. Zach membalas tatapan itu dingin. Itu pun hanya sedetik, karena detik berikutnya, ia harus menghindari lemparan tas dari Elyn. Segera setelah Elyn berbaring, Zach menjauh dari api unggun. Ia beranjak menuju celah bekas bangunan yang tadi mereka gunakan sebagai pintu masuk. Dilewatinya celah itu, lantas mencari batu yang bisa digunakannya untuk duduk.

Matanya menyapu pemandangan di hadapannya. Hanya ada reruntuhan dan pasir. Ia menengadah, menatap bebatuan tak berbentuk yang bersinar kemerahan di atas sana.

“Purnama,” katanya lirih. Ya, sudah hampir 100 purnama lewat sejak pesan tak jelas yang didapatnya dari Silon. Zach tercenung, sudah puluhan kali ia ke Lorach, tapi tak sekali pun muncul tanda-tanda ada sesuatu bernama Goran di sana. “Kau bilang tak banyak waktu lagi. Sudah 8 tahun berlalu, Silon. Apa aku sudah terlambat?”

“Mungkin kau memang terlambat.”

Zach seketika bangkit dan berbalik. Suara yang dalam dan merdu itu justru membuatnya seperti berada dalam teror. Tajam, ditatapnya sesosok wanita di hadapannya. Ia cantik, dengan mata merah yang menyala indah. Rambut biru lautnya terayun-ayun lembut dimainkan angin malam. Senyumannya seperti gunung di balik kabut. Tak ada yang tahu bahaya apa di baliknya. Wanita itu melayang anggun mengitari Zach, membuat kewaspadaan pemuda itu berlipat beberapa kali.

Saat mata mereka bertemu, Zach bisa merasakan beku yang menyelimutinya seketika. Tapi juga terasa hangat. Ia bahkan mulai merasa bahwa inderanya mulai kacau. Zach membenci sensasi yang timbul tiap kali wanita itu muncul di hadapannya. Juga kali ini. Tak ayal, kuduknya berdiri. Ia sangat yakin ini tak ada hubungannya dengan rasa takut. Ia sendiri tak tahu apa. Mungkin karena tubuh wanita itu yang biru transparan?

“Apa maumu?”

Bukannya menjawab, wanita itu hanya tersenyum. Ia melayang rendah mendekati Zach, lantas menyentuh dagunya lembut. Rasa dingin yang menjalar dari dagunya membuat Zach langsung melompat mundur.

“Tidak sopan,” kata wanita itu, masih sambil tersenyum. “Kautahu betapa lancangnya seorang pemuda sepertimu menolak kelembutan seorang wanita, Zachary?”

“Benarkah?” kata Zach dingin. “Kau bahkan bukan seorang wanita.”

Hanya dalam hitungan detik, rambut biru laut wanita itu memanjang, lantas bergerak cepat menuju Zach. Lebih tepatnya, leher Zach.

Zach tersedak seketika saat rambut biru laut itu melilit lehernya, mengangkatnya ke udara. Zach meraih rambut itu, mencoba melonggarkannya agar udara bisa masuk ke paru-parunya. Tapi, ia hanya sanggup meraih udara kosong. Dalam hati, ia mengumpat. Ia sudah tahu hal seperti ini akan terjadi. Terakhir kali ia membuat wanita itu marah, ia nyaris tenggelam di Oasis Lorach. Ya, tepat di hari pertemuan pertama mereka.

“Tak pernah belajar dari pengalaman, ya? Kautahu kau tak bisa menyentuhku, Zachary. Tapi, aku bisa menyentuhmu sekehendak hatiku. Tidak menguntungkan, bukan?”

Zach tertarik menuju wanita itu. Sekarang mereka berhadap-hadapan. Zach bahkan bisa merasakan hawa dingin dari napas wanita itu. Ya, bisa merasakan, tanpa bisa menyentuh. Karena itulah Zach selalu benci berhadapan dengan makhluk elemental.

“Jangan khawatir, aku masih menyisakan udara untukmu. Aku belum menghendakimu mati sekarang. Kau manusia favoritku. Kau tahu itu, kan?”

Perlahan, diturunkannya Zach kembali. Begitu rambut biru laut itu lepas dari lehernya, Zach langsung terjatuh. Ia terbatuk-batuk. Lalu, perlahan mengumpulkan napasnya kembali. “Apa maumu? Kau muncul di hadapanku bukan untuk urusan remeh macam ini kan, Tirsa?”

“Kaupikir aku pengangguran? Tentu saja aku ada urusan denganmu.”

Zach mengernyit. Berurusan dengan makhluk elemental tak pernah berakhir bagus. Tapi, kalau menolak, hasilnya akan lebih buruk lagi.

“Ada yang minta tolong padaku untuk menyampaikan pesan padamu. Tentang Goran. Ah, kata makhluk indah itu, kau mencari si tua Goran selama bertahun-tahun.”

“Goran itu orang?”

“Tentu saja orang. Kaupikir kepada siapa kau harusnya menyampaikan peringatan Silon itu? Tapi, sayang. Kata makhluk indah itu, si tua Goran sudah mati karena peringatanmu yang terlambat. Sayang sekali, jarak kematian mereka tak jauh, lho. Wajar saja kalau kau terlambat. Bocah mana yang bisa menyaingi kecepatan militer Armagal?”

Zach tak peduli itu karenanya atau bukan. Tapi, fakta bahwa militer Armagal terlibat lagi, membuat darahnya memanas. Meskipun begitu, emosinya tak boleh meluap. Hanya dengan cara itu ia bisa tetap berpikir dengan jernih. “Makhluk indah apa yang kaubicarakan?”

“Aku tidak bisa bilang, sayang sekali. Tapi, ia selalu memintaku memanggilnya ‘Am’.”

Am? Sesama makhluk elemental juga seperti Tirsa? Zach tak tahu. Tapi, siapa pun ia, apa pun ia, kalau ia tahu tentang kata-kata terakhir Silon itu, informasinya tak bisa dianggap angin lalu begitu saja.

“Makhluk indah itu juga bilang … kalau kau ke Lamaris, kau akan menemukan sesuatu yang menarik.”

Zach tertegun. Pergi ke Oasis Lamaris hanya berarti satu hal. Pulang. Apakah ada yang menarik di sana? Saat ia hendak bertanya, makhluk biru transparan itu sudah menghilang, hanya menyisakan embun-embun yang seketika itu juga langsung tersapu oleh angin malam yang kering.

“Kau percaya padanya?”

Zach tak perlu berbalik untuk tahu siapa yang bertanya. Ia hafal suara itu. Lagi pula, hanya ada mereka berdua di reruntuhan itu. “Bukankah kau sudah tidur?”

“Kalau kau tidak membuat Tirsa mencoba membunuhmu tadi, aku sudah tidur pulas.”

Zach tak menyahut. Benaknya masih dipenuhi informasi tewasnya Goran. Zach tak terlalu peduli dengan nasib orang tua itu sendiri. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah kenyataan bahwa ia lagi-lagi kehilangan petunjuk penting tentang kematian Silon. Ia masih tidak mengerti, ada salah apa pria bongsor itu kepada militer Armagal hingga membuatnya diburu sampai mati. Goran mati karena peringatannya yang terlambat. Maksudnya pasti pembunuhan. Apa pun itu, ia takkan puas sebelum semua misteri itu terbongkar. Ia sudah bertekad sejak dulu, bahwa ia takkan berhenti sampai menemukan alasan militer Armagal memburu Silon. “Kita akan pulang, Elyn.”

“Kau yakin? Pulang tanpa hasil setelah dua purnama lalu kita kabur dari rumah tanpa izin, Aria akan membunuh kita berdua.”

Zach berbalik, sambil berjalan melewati Elyn, ia berkata, “Kita pulang membawa informasi.”

“Informasi bahwa satu-satunya petunjuk yang tersisa ternyata orang mati?”

“Informasi bahwa satu-satunya petunjuk yang tersisa ternyata dibunuh.”

Elyn diam, hanya memajukan kedua bibirnya, tanda protes, “Aku tak melihat ada perbedaan. Tetap saja dia sudah mati, kan?”

“Ada perbedaan besar antara dibunuh dan mati alami, Elyn. Goran dibunuh, berarti ada yang dendam padanya.” Zach berhenti sejenak. Sekilas, muncul gagasan mengerikan di kepalanya, bahwa apa pun kebenaran di balik semua ini, pastinya begitu gelap sampai militer Armagal ikut campur tangan. “…atau pak tua itu punya informasi yang terlalu berharga untuk dimiliki seorang pak tua. Jadi, dia dibungkam agar informasi itu tidak bocor. Entahlah, aku hanya merasa kebenaran itu tersembunyi di dalam kabut yang sangat tebal. Jangankan intinya, permukaannya saja takkan kita ketahui kalau kita tak melibatkan diri. Aku berani bertaruh, nyawalah yang akan dijadikan jaminan untuk bisa masuk lebih dalam lagi.”

“Ya, ya, ya,” kata Elyn sambil menghela panjang. “Hentikan sebentar pembicaraan soal nyawa ini. Ada yang lebih penting. Kita butuh air, kalau tak mau mati dehidrasi sebelum sampai di Lamaris.”

“Di dekat sini pasti ada air.” Zach menangkap tatapan bingung dari mata Elyn. Mereka bertatapan agak lama. Lalu, Zach mengangkat sebelah alisnya, merasa tak percaya bahwa bocah di hadapannya itu tak bisa menangkap maksudnya. “Tadi Tirsa ke sini.”

“Mataku masih berfungsi baik, Zach.”

“Makhluk air hanya bisa muncul saat di dekatnya ada air yang cukup.”

Elyn diam sebentar, lalu nyengir. “Aku lupa. Jadi, kita akan mencarinya sekarang?”

“Bukankah kau belum sempat tidur? Kita cari saat matahari terbit.”

“Kau mulai mirip Aria, Zach. Berhentilah memperlakukanku seperti anak-anak.” Elyn langsung berbalik dan berjalan menuju reruntuhan kembali.

Zach mendesah panjang. Apa salahnya jadi anak-anak? Kalau ia bisa memutar waktu, ia ingin sekali kembali ke masa kanak-kanaknya, saat ia masih gemar berlarian bersama pemilik mata cokelat gelap yang teduh dengan senyum hangat itu di halaman belakang rumah. Zach bahkan tak ingat lagi kapan itu. Perlahan, kedua sudut bibirnya terangkat. Sebuah seringai kesedihan dengan berlatar padang pasir yang gelap. Sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan bahkan di mimpi buruk masa kecilnya. Ya, tanpa sadar, kerinduan akan masa lalu itu membuncah. Melenyapkan semua beban berat karena terjebak di tengah-tengah kabut tebal kehidupan Silon. Membuatnya terbebas, meski hanya untuk malam itu.

“Allan,” bisiknya parau. “Kau di mana sekarang? Kau masih hidup, kan?”

Read previous post:  
Read next post:  
Writer IreneFaye
IreneFaye at [PRIMEA] 1 - Pulang (7 years 41 weeks ago)
80

kak Ao klo ada darah muncrat dari mulut itu sebutannya "tersembur" ehehehe
.
Btw, kenapa coba Zach dan Elyn nyari air di siang hari di gurun pasir. Secara logika waktu terbaik untuk melakukan kegiatan di gurun pasir adalah petang menuju ke malam hari, karena intensitas matahari yang membuat seseorang mati dehidrasi itu lebih ringan.

Writer Rendi
Rendi at [PRIMEA] 1 - Pulang (7 years 41 weeks ago)
70

whw narasi ngalir dan dialog cukup menarik karena ada interaksi keintiman (zach dan elyn)

.
tapi gw ada yang kurang ngerti nih. kenapa si makhluk elemental (Am) itu ga bilang sedari awal kalo Goran mati? ini bukan pertemuan pertamanya kan? kira2 berapa lama itu informasi dipendem?
gw khawatir ini jadi semacam plot hole >>--> ato mungkin emang cuma gw yang ga nangkep detil ya ^^;
.
"Ada perbedaan besar antara dibunuh dan mati alami, Elyn. Goran dibunuh, berarti ada yang dendam padanya"<< ini emang pola pikirnya Zach ato emang berdasar dari kebiasaan dalam dunia itu? just curious ^^

Writer aocchi
aocchi at [PRIMEA] 1 - Pulang (7 years 42 weeks ago)

Eh? ceritanya berantakan ya? just as I though =____=

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at [PRIMEA] 1 - Pulang (7 years 42 weeks ago)
80

Karena ini chapter pertama, saya ga akan komentar soal rasa penasaran saya terhadap 'mahluk elemental', hubungan antar karakter yang (mungkin) belum dijelaskan lebih jauh, dan universe-nya
.
Saya cuma mau ngasih tau beberapa hal yang bikin saya mengernyitkan dahi:
.
1) Beberapa kalimat Tirsa seperti 'kautahu' atau 'kaupikir'. Itu boleh digabung ya? (saya ga tau, makanya saya nanya)
.
2) Adegan pertama entah kenapa kurang kena rasa 'sedih'nya buat saya. Mungkin karena pemakaian tanda "--" ya? (ini juga pendapat subjektif, jadi silakan hiraukan saja)
.
3) 'Tersenggal-senggal', bukannya harusnya 'tersengal-sengal'?
.
Tapi cerita ini narasinya enak, dan keliatannya bakal jadi sebuah cerita dengan skala besar, jadi, saya bakal mendem semua isi pikiran saya dulu sampai ngeliat keseluruhan novel ini, hehehe~
.
Keep writing~