Pahlawan Baru di Jakarta

"Mantel, So lame! Ayolah." aku membalik lagi semua gambaran superhero generasi lama, mencari kemungkinan siapapun dari mereka yang memiliki kostum keren dan mungkin setema dengan kemampuan baruku. Mengkonversi mana!

Aku harus menemukan kostum baru secepatnya sebelum aku bisa beraksi di jalanan jakarta. Ada satu alasan mengapa aku harus terburu-buru memunculkan diri, Dunia sedang mengalami kelangkaan pahlawan super. Lebih tepatnya, Semua pahlawan super dan penjahat super yang ada dibumi punah. Semua disebabkan oleh krisis Overbrain.

Overbrain, adalah penjahat super yang sempat mencuci otak hampir semua penjahat dan pahlawan super di seluruh penjuru dunia. Pahlawan dan penjahat super yang tersisa, menciptakan organisasi yang melawan rejim Overbrain, Antibrain.

20K (baca: Twenty k), adalah pahlawan yang memimpin AntiBrain, dia ayahku. Dia memiliki semua potensi terbaik manusia dalam kelipatan dua puluh ribu kali. Sehingga menurut Voting waktu itu dia yang pantas memimpin Antibrain.

Perang besar global ini memakan korban semua, yah semua pahlawan dan penjahat super di seluruh dunia bisa dikatakan punah.

Setelah hampir dua tahun diseluruh dunia, mulai kembali bermunculanlah generasi baru pahlawan dan penjahat super, namun jumlah mereka masih sangat langka. Bahkan di Jakarta baru dua pahlawan super yang mengurusi kota, dan penjahat super yang dikabarkan baru satu.

Aku selama ini selalu memarahi nasibku, mengapa anak dari pemimpin AntiBrain tidak menurunkan atau memiliki nasib menjadi seorang superhero. Bayangkan bagaimana senangnya aku saat menemukan kemampuanku.

GZ-711 (Ground Zero nomor 711), sekitar bilangan Meruya. Lokasi yang merubah hidupku. Di sini, di lokasi dimana Forgia dan Stymphalian bertarung. Aku menemukan sebuah batu permata yang kurasa milik Forgia. Waktu itu aku sedang mengikuti study tour dari SMA-ku

Mayat mereka berdua mungkin sudah dimakamkan ke tempat yang layak, namun medan pertempuran ini tidak pernah disentuh lagi. Bahkan pemerintah memberikan tali dan papan 'dilarang masuk' ke area pertarungan ini.

Yah tragedi sesorang merupakan, fasilitas penarik turis bagi negara. Saat aku mengikuti jalur yang diperuntukkan ke pengunjung. Aku melihat salah satu bagian dari tanah pertempuran itu memiliki bola-bola magenta yang melayang hanya di satu titik.

"Hei, kau menghalangi jalan Rif!" teriak temanku di belakangku. Aku terpaku melihat ke arah bola-bola yang melayang itu

"Sebentar Ted, kau lihat bola-bola itu gak sih?" aku menunjuk ke arah yang dimaksud.

Tedi ikut melihat ke arah yang kutunjuk lalu menggelengkan kepala.

Dia menaruhkan telapak tangannya ke pundakku dan mencengkeramku. Dengan wajahnya yang serius ia berkata, "Arif, kau benar-benar harus memikirkan saranku untuk masuk ke rumah sakit jiwa!" setelah ia menyelesaikan kalimatnya barulah ia tertawa.

Aku memutarkan ranselku, dan segera mengeluarkan topi sekolah dengan logo tut wuri handayani. Berwarna abu-abu.

"Kalau pak Dede menanyaiku bilang aku lagi mengambil topiku yang terbang!" aku menyerahkan ranselku pada Tedi dan melompat melewati tali kawat yang membatasi area pertempuran.

Entah bagaimana aku menjelaskan tentang kenekatan yang waktu itu mendorongku melanggar peraturan pemerintah. Namun jika bola-bola itu hanya aku yang bisa lihat, maka itu adalah pesan khusus untukku. Sebuah perasaanku karena setelah meninggal ayahku tidak meninggalkan pesan apapun kepadaku, bahkan lokasi ia menyimpan kostumnya pun tidak.

Dengan segera aku berlari menuju ke bola-bola magenta itu, sedikit berlompat untuk menghindari beberapa helai bulu besi Stymphalian itu. Saat sampai ke tempat tersebut aku menemukan sebuah permata berwarna magenta kemerahan.

Tanpa menunggu satpam menyadari penerobosan yang kulakukan aku meraih permata itu dengan bagian dalam topiku dan kembali berlari ke batas tali kawat terdekat.

Aku sekali lagi menusuri jalur di samping kawat untuk kembali ke Tedi. Beberapa orang yang melihatku tidak melaporkannya kepada otoritas setempat, aku bersyukur dengan sikap apatis orang Indonesia masa kini.

"Kurasa aku harus benar-benar menelepon rumah sakit jiwa!" Tedi mengeluarkan telepon genggamnya dan menatap wajahku dengan serius... aku sudah terbiasa dengan ini, karena beberapa detik lagi dia akan tertawa, dan dia tertawa!

"Apa yang kau curi, hah?" Tedi melihat ke arah genggamanku, melihat topi yang membungkus permata yang baru kutemukan.

"Jangan diurusin sekarang, nanti kuberi tahu!"  aku mengambil kembali ranselku dari pundaknya dan menjejalkan topi itu ke dalam tasku.

Sorenya sepulang dari sekolah, aku langsung segera naik ke lantai dua dan memasuki kamarku.

"Kau sudah makan Siang rif?" teriak ibuku dari bawah!

"Sudah, mam!"

Sudah dua tahun Ayah meninggal. Ia dikubur dua kali, Satu sebagai 20K, satu sebagai Rahman Dwinata. Tentu saja peristirahatan terakhirnya adalah sebagai Rahman Dwinata. Untuk menghindari pencurian kemampuan, pengkloningan kembali, dan sebagainya. Setelah dua tahun, kadang hidup tanpa ayah benar-benar bisa menjadi cara hidup baru.

Aku mengeluarkan topiku dari ransel dan menaruhnya di atas meja. Saat kusibakkan kain yang menggelung, kulihat benda yang telah kucuri dari tempat pertarungan itu. Sebuah permata magenta yang bisa dibilang kecil untuk ukurannya. Berbentuk seperti segi enam, dengan panjang sekitar sepuluh centi, dan lebar empat centi.

Saat aku menyentuhnya, hendak mengangkatnya ke udara, sebuah gambaran terbentuk tepat dari atas permata itu, membentuk setengah tubuh bagian atas seorang gadis dengan rambut warna magenta, tubuh warna magenta, rambutnya melayang-layang. Saat itu gambaran itu membelakangiku,

"20K saat kau melihat pesan ini, itu berarti aku kalah atau saling memusnahkan dengan Stymphalian, 20K, 20K!" dia mencari orang yang diajaknya bicara, tapi kukira ini hanyalah sebuah pesan!

"Di sini!" sosok tubuh itu berbalik setelah aku memberitahukan keberadaanku.

"Hei kau bukan 20K!" teriaknya kepadaku, "Hmm, namun kau bisa mengeluarkan mana-ku dari sini berarti antara kau saudara kandung Prianya, atau kau anaknya. Melihat dari perawakanmu sih anak lebih pantas!"

"Jadi... ini seharusnya buat ayahku?

"Yah Permata ini adalah kompresi dari seluruh tubuhku. Aku sedang berbicara denganmu ini menggunakan pengubahan mana menjadi kesadaran sementara dan cahaya. Aku ingin agar tubuhku ini ditemukan oleh 20k, hanya dia yang mampu memaksimalkan kemampuanku dengan kepintarannya!"

Yah, aku mengerti mengapa dia memilih ayahku.

"Maaf, tapi sama sepertimu dia memilih mati bersama musuhnya Overbrain, untuk menenteramkan dunia. Jadi seharusnya kau tidak bisa bertemu dia kecuali kau pergi ke Hades!"

"Kau mengetahui banyak hal tentang kami yah?"

"Ayahku tidak pernah menyimpan rahasia kepadaku, kata ibu itu kebiasaannya semenjak aku kecil, supaya aku selalu menunggu beliau pulang dengan sabar!”

Lalu dia menanyakan segala hal yang terjadi setelah kematiannya, dia menanyakan beberapa keadaan superhero-superhero besar. Dan seperti yang kubilang, semua yang berkekuatan super telah punah karena krisis Overbrain.

"Jadi kurasa kau hanya kau yang bisa menolongku!"

"Menolong seperti apa?"

"Aku akan memberikan kau kesempatan memiliki kemampuanku, namun tubuhku ini akan bernaung sementara di dalam tubuhmu, menyerap hanya mana-mu sampai nanti aku bisa berwujud sempurna kembali!"

Sebuah tawaran itu tidak bisa kutolak, sudah lama memandang tinggi ayahku dan berharap menjadi salah satu seperti dia. Aku memberikan Forgia, sebuah anggukan.

Dan di saat inilah aku mencari kostum untuk keluar, untuk melindungi identitas asliku.

"Jadi jelaskan cara kerja mana ini!" tanyaku kepada permata yang menurutnya ia sudah menempatkan diri di dekat jantungku. ia menghilang begitu saja saat masih ada di genggamanku tadi.

Aku masih tetap membalik halaman demi halaman mencari kostum untuk identitas baruku ini.

"Kau bisa melihat bola-bola kecil berwarna magenta yang melayang di sekitarmu?" tanyanya, sedikit berasa aneh jika suara yang kudengar itu berasal dari dalam tubuhku.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar kamar. Tidak ada yang aneh.

"Ooh sebentar, aku belum mempengaruhi pandanganmu!"

Seketika itu juga, semuanya menjadi lebih terang, seluruh kamarku dipenuhi oleh bola-bola magenta.

"Yang kau lihat itu adalah Mana, dan tubuh kami, Mahluk dari Force Sphere, berasal dari itu."

"Oh iya, aku lupa kalau kau adalah seorang alien!"

"Sekarang  kau mampu memanipulasikan setiap mana yang kau lihat itu, kau bisa menggerakkan mereka dengan pikiran."

Aku mencobanya, dengan pikiranku aku mendorong beberapa bola yang berada disekitarku menjauh, memberikanku ruang untuk bergerak.

"Setiap mana yang kau lihat, bisa kau ubah kepadatannya dan lebarnya sampai batas maksimumnya!"

Aku mencoba membesarkan bola itu, dari ukuran normalnya yang diameternya sekitar tiga centi itu menjadi lima kali lipatnya.

“Dan kau bisa mengubah itu mana itu menjadi apapun yang kau pikirkan. Asalkan ukuran dan kepadatannya sama, maka hasilnya berbanding lurus dengan kepadatannya.”

Aku menggerakkan mana besar itu ke tengah kamar dan  memikirkannya untuk menjadi api. Mana itu segera berubah menjadi semburan api bulat, namun karena kurang kepadatannya, api itu segera menghilang.

Aku mulai mengerti bagaimana memanipulasi mana, kini ingin aku mencoba sesuatu.

"Apakah benar setiap mana mampu digabungkan agar kita bisa mengatur kepadatan dan besar benda yang ingin kita buat?"

"Kau coba saja sendiri!" aku mencoba membayangkan kembali kostum Dark Judge yang kulihat di buku pin-up tadi. Sebuah jaket dengan kerah yang mencuat tinggi sampai ke ketinggian mata, lalu T-shirt untuk pakaian bagian dalamnya dan juga bentuk celana.

"Untuk keamananmu coba kau tambahkan mana di kaos dan celanamu, makin padat mananya. Makin kuat bahan yang terbentuk." Aku mengikutinya, namun semua mana dikamarku telah habis!"

"Walaupun benda ajaib ini hebat, namun terbatas yah?"

"Sebenarnya tidak, selama kau masih berada di dalam planet berkehidupan dimana tidak ada yang memakai mana. Maka tidak akan ada habisnya. Coba kau buka pintu kamarmu!"

Aku langsung mengikuti sarannya, di balik pintu kamarku, Koridor lantai dua dan ruang TV, semuanya dipenuhi oleh bola-bola mana. Aku melihat ibuku yang menjemur pakaian di teras lantai dua, dari tubuhnya keluar bola-bola mana yang sama.

"Mengapa tidak ada mana yang keluar dari tubuhku?"

"Bodoh, sudah kubilang, aku menggunakan manamu untuk memperbaiki tubuhku!"

Aku segera menarik semua mana yang bersebaran di seluruh rumahku.

Kembali memadatkan kaos dan celana yang hendak kubuat, kini yang kulakukan untuk semuanya adalah mengkonversikan mereka menjadi benda nyata.

Untuk jaket, kurasa warna magenta Mana sudah cukup menjadi jaket warna tema superheroku, kalau kaosnya kubikin Putih, warna favoritku, dan celananya masih merupakan warna magenta yang sama.  Semua bentuk itu sudah berubah warna, namun bahan pembentuknya belum ada.

Aku membayangkan jaket super tebal yang sering dipakai Tedi saat dia keluar dari parkiran motor sekolah. Kekasarannya di bagian luar, kain halus di bagian dalam. Aku juga membayangkan bahan t-shirt yang adem, dan juga celana jeansku untuk celana yang kubentuk.

Ketiga benda itu segera jatuh, sebelumnya mereka melayang di udara dan kini ketiga benda itu mendarat begitu saja jatuh di atas kasurku.

"Kau tidak akan mengintipku, saat aku bertukar baju kan?"

"Hei, ayolah, aku ini alien. Aku tidak tertarik dengan spesies dari planet bumi, OK?" dia tidak menjawab bisakah dia melihatku berganti pakaian.

Dalam  beberapa menit, aku sudah melihat diriku di depan cermin, garang dan memperlihatkan kehebatanku, begitulah kesan yang ditampilkan oleh kostum baru ini.

Aku menarik nafas panjang dan bersiap melompati jendelaku, tidak mungkin aku keluar seperti ini di depan ibuku.

"Hei, kau mau patroli seperti itu?"  Suara Forgia, terdengar kembali dari tubuhku, "apanya yang identitas rahasia jika wajahmu masih seperti itu, ubah wajahmu!"

"Seenaknya aja kau suruh aku operasi plastik!"

"Bukan itu bodoh, mana juga bisa dipakai untuk mengubah wajahmu!"

"Sekarang ikuti yang aku perintahkan, gabungkan tiga bola mana menjadi satu"

Aku menggerakkan tiga bola mana terdekat dan menggabungkan mereka menjadi satu. Perintahnya selanjutnya adalah memipihkan bola itu dan menggunakan bola itu menjadi topeng. Lalu dia menyuruhku membayangkan seperti apa wajah pahlawan yang ingin kutunjukan ke masyarakat.

Tentu saja harus kulit putih seperti bule, kurasa aku ingin memendekkan rambutku dan menjadikan diriku setingkat lebih tampan.

Semuanya siap. Tidak ada lagi yang bisa kupikirkan selain...

"Jadi untuk Patroli aku harus jalan kaki?" tanyaku kepada Forgia.

"Kau yang kini bisa menyentuh, mana dan menggerakkan mana, gunakan mereka sebagai alat terbang. Kau bisa menapak di mereka dan gerakan mereka  untuk terbang! Dengan ini juga berarti kalau kau bisa menyelamatkan dirimu dari kejatuhan seandainya kau tidak panik dan mampu mengumpulkan mana untuk menahan jatuhmu"

"Ya, ya ya,." Aku segera mencoba untuk melakukan lagi tugas suruhannya.

Aku melangkah di piringan yang kubentuk dari mana. Aku coba melangkah  dan membuat diriku melayang diatasnya. Sempat ada keraguan seandainya piringan itu tidak kuat menahanku. Tetapi tidak ada efek menakutkan apapun yang menghampiriku saat berdiri tegak di atas kedua potongan itu.

Aku segera memulai patroliku yang paling kuidamkan. Hanya dengan membayangkan aku membawa piringan pijakanku. Tugas pertamaku segera menampakan diri. Sebuah kepulan asap, yang terhitung sangat besar jika mampu terlihat dari jarak segini.

Dengan piringan mana aku terbang menuju ke lokasi. Jarak puluhan kilometer terasa dekat jika kau terbang lurus dengan kecepatan seperti menaiki motor.

Aku segera mendarat ke lapangan parkir yang ada di mall itu.

Beberapa orang sedang menonton kebakaran. Tidak ada evakuasi yang dilakukan, petugas PMK sedang berusaha mati-matian untuk memadamkan api yang menyebar keluar. Tapi tidak ada satupun yang mencoba masuk dan memadamkan sumber api.

Aku mendaratkan diri di samping seorang pemadam kebakaran, melihat dia yang memandori semua petugas, aku yakin dia komandan pemadam kebakaran saat ini.

"Beberapa orang yang masih di dalam?" aku segera bertanya kepadanya mencari cara untuk melakukan suatu aksi heroik.

Komandan itu melihatku dengan seksama, memperhatikan diriku dari bawah ke atas, sampai akhirnya keberadaanku benar-benar disadarinya.

"Bagus itu yang kami perlukan, seseorang yang ingin menjadi superhero lagi!"

Lagi? Apa maksudnya lagi.

"Dengar, kami sudah muak dengan warga sipil seperti kalian yang berharap menjadi superhero karena ingin mengevakuasi seekor kucing di dalam sana. Semua orang sudah di evakuasi, dan di dalam ada superhero asli yang sedang bekerja!"

Aku kesal, mungkin aku memang masih muda namun bagian mana dari tubuhku yang tidak membuktikan kalau aku adalah seorang superhero, ataukah tadi ia tidak melihat aku datang dengan mendarat.

Sebelum aku sempat membalas marahannya sebuah ledakan terdengar keras dari lantai atas. Sebuah tembok bangunan meledak di salah satu lantai atas. Semuanya terkaget namun tidak ada yang bergerak dari tempatnya.

Aku segera mengumpulkan mana terdekat, memadatkannya di seluruh area runtuhan. Aku mengubah setiap mana itu menjadi angin dan mengarahkan alirannya ke atas, memperlambat jatuhan semua runtuhan itu. Sampai beberapa orang sadar apa yang terjadi dan menghindari reruntuhan itu.

Di antara reruntuhan itu sebuah robot berguling membenarkan posisinya. Aku dapat melihat pilotnya dibalik kokpit pengendali robot. Beberapa bagian dari robot itu sudah mengalami kerusakan tingkat parah.

"Sial, perlu waktu lagi untuk ke atas!" Pilot itu segera melihat kiri-kanan, mencari sesuatu.

Robot besar itu berlari ke arah aku dan komandan.

"Kau dari pemadam mana?"

Sang komandan sempat termenung sebentar sampai akhirnya ia menjawab, "22 jakarta-barat!"

 "Aku minta satu mobilmu, nanti kukirim gantinya ke markasmu!" robot itu segera menyentuh satu dari mobil pemadam kebaran. Di depan mataku semua bagian rusak dari robot itu segera terisi dari potongan-potongan baru dari sebuah mobil pamadam kebakaran.

Tempat penyimpanan air dan slelangnya mulai bertengger secara tepat di punggung robot itu. Robot itu terlihat lebih besar dan lebih gagah saat sudah menyatu dengan mobil pemadam kebakaran.

Dengan sekali loncatan ia kembali melompat ke lubang yang baru saja meledak.

"I-itu kemampuan Tron, kan?" Forgia bertanya, suaranya kembali terdengar dari dalam tubuh.

"Iya, dia Nu Tron, anak beliau. Itu kemampuan Technopath,  menurun. Mengapa ayahku tidak menurunkan kemampuannya kepadaku?"

"Lain kali tanyakan pertanyaan yang bisa kujawab!" jawabnya. Ketus sekali mantan pahlawan super ini.

"Kalau begitu, bagaimana bisa aku tidak kaget dan mampu menyelamatkan orang-orang ini?" tanyaku kepada Forgia, "aku yang dulu pasti termasuk seperti mereka yang terbengong-bengong!"

"Selama aku ada di dalam tubuhmu, hal-hal kecil yang menghambatmu menjadi pahlawan yang benar. Akan kutekan sebisanya! Rasa panik, takut, dan juga meningkatkan kesadaranmu akan ruang sekitar."

Dia kembali melanjutkan. "Kamu memakai kemampuanku untuk menjadi pahlawan, sedangkan aku akan menjadi orang yang menajamkannya lebih jauh. Kau akan menjadi pahlawan yang lebih hebat daripadaku!"

Tidak ada waktu lagi, aku segera menciptakan piringan mana, menerbangkan diriku setinggi lubang yang ada di lantai tinggi itu. Mendapatkan pemandangan epik yang mungkin hanya bisa dilihat oleh sesama manusia super.

Nu Tron, bersama Platina, sedang bertarung dengan seorang manusia yang tubuhnya berselimuti api. Dari pemandangannya jelas mana yang pahlawan super mana yang penjahat super.

Nu Tron selalu menjaga jarak dengan manusia api itu, sedangkan Platina melayani manusia api dengan tangan kosong!

Platina adalah satu dari dua superhero Jakarta yang mungkin dibilang terkuat. Dia mampu memanipulasi massa jenis dan berat jenis partikel tubuhnya. Dia bisa membuat partikelnya mampu lebih berat dan tebal dari pada adamantium, atau lebih ringan dan menembus benda padat layaknya sinar X. Dan tentu saja yang membuat ia dipandang tinggi adalah cara bertarung martial artsnya yang tidak memakai senjata apapun.

Namun aku tidak mengenal pria yang mereka keroyok. Manusia yang berselimutkan api itu. Bahkan aku mengetahu bagaimana kemampuannya. Yang pasti aku akan membantu para pahlawan dahulu.

Aku membuka penglihatanku akan mana, untuk mampu menyadari mana-mana yang bersebaran. Sebanyak mungkin kupadatkan beberapa mana dan menjadikannya sebuah bola seukuran bola basket.

Kulempar bola mana itu ke dalam ruangan, kucoba untuk mengubah bola mana itu menjadi ledakan angin dengan suhu dua puluh derajat dibawah nol.

Seketika, seluruh api di dalam ruangan meredup dengan sendirinya. Aku melangkah masuk kedalam arena bertarung dengan tiga pasang mata melihat ke arahku. Lidah-lidah api di tubuh sang penjahat super pun memadam menampilkan wajah aslinya dan kostum aslinya.

Aku melihat mereka, mereka yang masih terpukau melihat kedatanganku. Lalu aku disambut dengan lemparan sebuah batu. Dengan cepat Platina menangkap batu yang mengarah ke wajahku. Di tangannya batu itu meledak, namun ledakan itu tidak meninggalkan impresi apapun di genggaman Platina.

"Dia mampu mengendalikan api dan meledakkan segala benda mati yang ia sentuh!" kata platina saat ia menggoyangkan tangannya membersihkan debu-debu ledakkan, mungkin juga menghilangkan kesemutan.

"Tetap siaga, pahlawan baru!" dia menolehkan wajahnya dan tersenyum kepadaku. Sebuah senyuman menular tepapar kepadaku, aku membalas senyumannya.

Aku segera membuat dinding mana di depanku, kupastikan itu siap menjadi tembok besi di saat-saat mendadak. Cara kerja pertahanan ini muncul sendiri di otakku, kurasa Forgia menanamkan insting bertarung ke dalan tubuhku.

"Ini seharusnya bisa menjadi pertarungan cepat!"

"Iya, sayangnya aku tida bisa menyentuhnya ia bisa membuat robotku menjadi bom, dan saat tubuhnya terselimuti api, ia sedikit kebal dari serangan Platina!" cerita Nu Tron saat ia mendekatiku.

Platina masih mencoba menerjang manusia api itu dan menjatuhkan dirinya.

"Kau tahu bagaimana cara mengalahkannya?" tanyaku kepada Nu Tron. Kami berdua melompat ke belakang menghindari ledakan dari puing yang dilempar oleh manusia api itu.

"Dia menamakan dirinya Flaresonist, satu-satunya cara menetralkannya adalah dengan membuatnya pingsan!"

Setelah Nu Tron selesai berbicara, Platina terlempar dengan kencang ke arah kami. Nu Tron menahan pentalan tubuhnya dengan robotnya. Dan aku memberikan tekanan angin memperlambat hantaman.

Platina baru saja dilempar bom dari sebuah manekin yang dipegang oleh Flaresonist, ternyata makin besar benda yang ia pegang makin besar ledakan yang mampu dibuatnya.

"Siapa namamu, pahlawan baru?" tanya Platina saat dia membenarkan posisi berdirinya.

Sejujurnya aku belum memikirkan nama panggilanku. Aku terlalu terburu-buru ingin menjadi pahlawan.

"Eternal!" kata yang cocok dengan Force, asal nama penamaan Forgia. Walaupun aku masih mengambang di artinya. Intinya itu nama terdengar sangat bagus!

"Platina, Bolehkah aku yang mengurusnya!" tanyaku.

Semua pahlawan segera melihat ke arahku, sedangkan aku segera melingkupi satu puing yang baru saja dilempar flaresonist dan mengubah tekanan udaranya dan memenuhinya dengan karbon dioksida, sehingga menetralkan ledakan puing itu. Itu semua terjadi dengan sendirinya akibat insting Forgia.

Mereka berdua melihat ke arah tanganku terjulur melihat bagaimana puing batu itu jatuh berguling begitu saja di tanah tanpa terjadi apapun.

"Seberapa tepatnya kau menembakkan pistol air pemadam kebakaranmu?" aku punya ide yang bisa digunakan.

"100 persen, asalkan ia tetap di tempat selama 1 detik!"

"Maka sedetik itu yang kau dapatkan. Tembaklah saat ia tidak mengeluarkan api!"

Aku segera menggerakkan tanganku menggunakan fokus penuh untuk melingkupi dirinya. Aku mencoba menerjangnya membuatnya mengalihkan perhatiannya kepadaku.

"Minggir pahlawan baru!" dia menjulurkan kedua tangannya instingku secara pasti menyuruhku untuk minggir.

Sebuah semburan api menjalar dari ujung telapak tangannya layaknya pelontar api. Saatnya pas dia tidak bergerak. Aku mengubah seluruh mana-ku menjadi udara tak bergerak dengan suhu beku, dan tanpa oksigen. Seketika semua api padam. Bukan hanya di sekitarnya tapi satu lantai mall ini. Udara dinginnya tetap menyebar. Ia segera kaget dan kebingungan memegang lehernya mencari nafas.

Robot Nu Tron segera menyemprotkan air bertekanan tinggi dari ujung lengannya. Aku tahu, aku juga bisa membuat air, namun perlu waktu lagi untukku mengumpulkan mana.

Udara yang sangat dingin dan siraman air membuat seluruh tubuhnya mulai dilapisi es, aku sendiri terus menerus menarik dan mengubah mana terdekat untuk menjaga kebekuan di tubuh Flaresonist.

"Platina, kau bisa menyelesaikannya kan!"

Mendengar kalimatku platina segera mengambil ancang-ancang seluruh tubuhnya dan kostum peraknya mulai memantulkan cahaya. Kurasa bahkan, seluruh tubuhnya menjadi logam terberat. Karena begitu ia berlari, setiap langkahnya memberikan getaran di tanah. Jejak-jekak kehancuran tertera di lantai. Satu tinju melayang di udara. Satu tinju penutup yang membuat Flaresonist menjadi pingsan!

Kokpit robotnya Nu Tron segera terbuka, ia segera lari menuju tubuh dan memberikan borgol bius kepada Flaresonist. Borgol yang sudah terkenal untuk menetralkan para penjahat super, Borgol yang memberikan semprotan obat bius kedalam urat nadi untuk membuat para penjahat cukup sadar untuk berbicara, namun tidak punya kekuatan bahkan untuk berdiri.

Setelah membawa Flaresonist turun dari mall, dan menyerahkan Flaresonist kepada kepolisian. Nu Tron keluar dari robotnya dan semua bagian robot itu jatuh berantakan. Sama seperti ayahnya Nu Tron membuat robot dari semua benda elektronik yang ia temukan di TKP, kecuali satu,  laptop sistem pengendaliannya. Dari reruntuhan barang elektronik itu ia menarik sebuah laptop lengkap dengan kopor besinya.

Lalu dari runtuhan besi yang sama ia menarik lagi yang kurasa sistem radio pemadam kebakaran.

"Eternal!" ia melemparkan sebuah walkie talkie hasil konversinya. "Itu alat komunikasi khusus pahlawan buatanku, jangan sampai kau menghilangkannya. Selain untuk komunikasi, itu alat juga untuk menyadap radio polisi, mungkin untuk saat-saat kau ingin patroli sendiri!"

"Kita berpisah, ingat Eternal, Jakarta adalah tanggung jawabmu juga sekarang!" itu kata-kata terakhir Platina sebelum ia mengubah partikel dirinya menjadi tembus pandang dan menghilang.

"Sampai jumpa, Platina" kataku yang berteriak kepada tempat ia berdiri tadi.

"Iya, aku juga berharap kita akan bekerja bersama lagi!" Malah Nu Tron yang menjawab salamku, dia juga melambaikan tangannya kepadaku saat dia masuk kedalam limusin jemputannya.

"Tidak ayahnya, tidak anaknya. Mereka terlalu sombong untuk menjaga rahasia identitas mereka!" sahut Forgia dalam tubuhku.

"Yah Thomas Saputra yang menjadi Tron, dan anaknya Danil saputra!"

"Arif, atau Eternal. Kau sudah mengerti sepenuhnya menggunakan mana dan kekuatanku. Jadi aku akan mematikan kesadaranku di dalam tubuhku ini, namun soal penekanan hal yang tidak berguna itu sudah ku-otomatiskan!"

"Terima kasih, Forgia! Kau telah memberikanku kesempatan menjadi seorang pahlawan."

"Berterima kasihlah kepada ayahmu, karena kau memiliki susunan DNA kromosom Y yang sama sehingga kau bisa melihat pesan terakhirku!"

Setelah kalimat itu semuanya hening di dalam tubuhku.  Aku segera mencoba memanggilnya lagi

"Forgia, Forgia" tidak ada yang menjawab ia tetap diam begitu saja di dalam tubuhku.

Aku menghembuskan nafas panjang, sedikit berasa sedih jika sepi seperti ini.

Suara statis walkie talkie itu mulai mengudara.

"Eternal, Eternal Jawab!" suara walkie talkie memanggilku, suaranya seperti suara Nu Tron.

"Apaan!" jawabku.

"Maaf merepotkan, aku baru saja mendapat permohonan bantuan dari Polisi Jakarta pusat, Nightmare baru saja melepaskan Cyclops raksasa di tengah kota!"

Nightmare, Satu-satunya penjahat super yang tidak bisa ditangkap duo Nu Tron dan Platina. Kini mungkin akhir yang berbeda akan diterima olehnya. Karena dia belum tahu. Ada Pahlawan super baru di Jakarta.

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis field.cat
field.cat at Pahlawan Baru di Jakarta (7 years 39 weeks ago)
70

Masih banyak typo and ngga sedikit saya nemuin bahasa/kata2 yg gak baku pada saat deskripsi... Kalo pada saat dialog sih terserah... :)

Overall, idenya ini menarik! Kalo dikembangin dalam bentuk komik, bakal lebih seru lagi... :D

Best Regards,

Meong

Penulis nayacorath
nayacorath at Pahlawan Baru di Jakarta (7 years 39 weeks ago)
60

Kalo dibikin manga, keren nih! Hehehe.. ^__^

 

Oh, iya.. Aku nggak ngerti yang di bagian sini..

 

Sudah dua tahun Ayah meninggal. Ia dikubur dua kali, Satu sebagai 20K, satu sebagai Rahman Dwinata. Tentu saja peristirahatan terakhirnya adalah sebagai Rahman Dwinata. Untuk menghindari pencurian kemampuan, pengkloningan kembali, dan sebagainya

 

Apa hubungannya ya pencurian kemampuan/pengkloningan kembali, dengan dikubur dua kali? Tadinya kukira mayatnya dibakar aja biar ga bisa di-kloning/dihidupkan kembali.. ^^

 

Btw, ceritanya seru.. ^__^ .. tinggal gaya menulisnya aja yang perlu dilatih lagi... :D

Penulis Ivan Rampengan
Ivan Rampengan at Pahlawan Baru di Jakarta (7 years 39 weeks ago)

bayangkan dunia yang sudah terbiasa dengan superhiero. maka pembongkaran kubur superhero mungkin adalah harta yang paling dicari-cari dengan 3 alasan di atas itu.

makanya dikubur sebagai identitas rahasianya. soal kremasi, jujur gak kepikir gituan.

makasih dah mampir

(^ ^)

Penulis Misterious J
Misterious J at Pahlawan Baru di Jakarta (7 years 39 weeks ago)
80

idenya menarik dan entah kenapa bikin ngakak(lucu).
Tpi, sayang, penulisannya amburadul, jdi g enak bacanya.

Penulis KD
KD at Pahlawan Baru di Jakarta (7 years 39 weeks ago)
100

hmmm

Penulis Ivan Rampengan
Ivan Rampengan at Pahlawan Baru di Jakarta (7 years 39 weeks ago)

Ahhh

*blushing*

Penulis Riesling
Riesling at Pahlawan Baru di Jakarta (7 years 40 weeks ago)

...Bentar. Sebelum saya komentar n moin, saya mo nanya dulu >.<. DI awal katanya semua superhero udah punah, tapi kenapa di tengah ke belakang masih ada Nu Tron, Platina, dkk?
Terus, di awal kan musuhnya organisasi Overbrain, tapi kenapa ujung2nya targetnya itu si Nightmare?
.
Terus, penempatan koma sama titik masih banyak yang kurang pas... Padahal idenya menarik >A<

Penulis Ivan Rampengan
Ivan Rampengan at Pahlawan Baru di Jakarta (7 years 40 weeks ago)

Gak baca tengah-tengahnya yah ling? ini semua superhero lama sudah mati. Nu Tron, Platina, Eternal, Flaresonist, dan Nightmare adalah. generasi baru. semua superhero yang ada di ceritanya umurnya dibawah duapuluh semua!