Ketika Hati Sedang Bertasbih

Hari ini aku berpuasa sunnah. Entah apa sebabnya, tiba-tiba datang perasaan itu mengajak diriku untuk melakukan ibadah sunnah. Padahal jauh disana, masih banyak kewajiban-kewajiban yang belum terlaksana, sedang dosa terus bergelimpangan belum juga sempat terbayar.

Apakah karena hatiku sedang bertasbih kepada sang Ilahi. Meminta ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakoni setiap hari. Aku tak tahu!

Dan sejenak, aku teringat kembali satu untaian kata penuh makna yang di dalamnya tertulis satu kalimat: "Dosa terlalu manis untuk dicicipi"

Nah, kalimat sependek itulah yang masih melekat erat di benakku, dan mampu mengetuk pintu hatiku. Aku sadari kebenaran kata-kata itu, karena dosa hakekatnya memang sangat manis sekali untuk aku cicipi. Dari saking manisnya, semua manusia tidak mau ketinggalan ikut merasakannya. Tapi anehnya, kebanyakan dari mereka berkata: "Aku telah mencicipi manisnya dosa. Tapi kenapa, pahit sekali rasanya."

Perkataan bodoh itu membuatku tertawa geli, ketika mendengar keluh-kesah yang mereka rasakan. Aneh sungguh aneh, kenapa diakhir perbuatan mereka justru berkata; "Dosa itu pahit" kalau jauh hari malah keseringan dan bahkan gemar mencicipinya. Aneh bukan!

Kenapa...???
Harus mengandung kata manis di awal perbuatan, jika di akhir tindakan, malah melahirkan makna pahit?

Sepi... karena mulut telah terkunci.

***

Matahari telah menunjukkan wajah lesunya, sementara nun juah di ufuk barat senjakala 'pun akan menghias tabir langit dengan bias rona merah keemasan. Terdengar lantunan cicit-cicit kelewar pada menari di punggung dunia. Solek-menyolek mendendangkan lagu kemesraan.

Hembusan sahara menyisakan butir-butir debu di depan halaman rumah. Seperti sisa-sisa embun pagi yang bertaburan membahasi daun-daun melati. Geliat ombak di pantai Alexandria terdengar bergemuruh. Seperti badai yang sedang menderu.

Di pojok kamar aku menulis cerita ini. Ditemani oleh syair-syair Rumi dan dendang instrumental musik Arabi. Sedang disampingku, ada seorang sahabat yang kebetulan sedang bermain game.

Ketika menang, terdengarlah suara tawanya yang mengisi kamar kecil ini. Dan ketika kalah, maka terdengarlah makiannya yang tak pernah berhenti mulut itu berucap: "Jancok...!" Umpatnya.

Ya, begitulah dia berlaga. Tadi malam sempat kuajak untuk berpuasa, dia tidak menjawab iya atau tidak. Tapi diapun ikut nimbrung menyantap makanan sahurku. "Oh, berarti besok dia juga mau berpuasa" Pikirku dalam hati.

Anehnya, ketika aku tanya sore ini. "Kamu puasa kan?" Apa jawabnya. "Enggak!" Simplenya dia menjawab sambil tersenyum sipu padaku, setelah itu langsung melahap sepotong roti yang ada didekatnya, maka habislah roti itu ditelan mulutnya. "Dasar... makan di depan orang yang berpuasa lagi. Tidak menghormati sekali." Teriakku dalam hati.

***

Kutinggal dulu sahabat yang satu ini, karena di belakangku masih ada dua sahabat yang lagi pada tenggelam dalam lauatan mimpi. Kulihat sejenak ke belakang, hampa, sepi, bagai kamar mayat berisi orang-orang mati. Keduanya tertidur pulas, hanya hembusan nafasnya yang memenuhi kamar ini.

Di luar, juga terdengar siulan sahabat yang sedang sibuk memasak untuk persiapan bukaku juga buat makan dirinya dan kedua sahabat yang masih tertidur pulas. Ku beranjak pergi keluar, hanya sekedar untuk melihat sebuah kepastian. Ternyata benar, sahabat yang tadinya masak itu telah makan duluan bersama sahabat yang suka main game. Berarti tinggal aku dan kedua sahabatku yang lagi tidur belum mencicipi masakannya.

“Entar deh, masakan itu pasti akan habis juga dilumat mulut yang pada kelaparan ini. Apalagi hari ini aku berpuasa, perut telah memanggil sesuap nasi mulai sejak tadi pagi. Tentunya tanpa disuruhpun aku akan langsung melahap habis masakan itu.” Kataku sambil meneruskan lagi menulis cerita ini.

Tapi entah kenapa, tiba-tiba detik ini ada perasaan ganjil yang menyeruak. Mungkinkah karena aku takut makanan itu bagian dari segelintir dosa yang katanya orang manis, namun setelah selesai mencicipinya, rasa itu berubah menjadi pahit sekali. Lalu, haruskah aku tidak berbuka, padahal hari ini aku berpuasa?

Bingung... menyumbat lidah untuk berucap lagi.

***

Suara adzan terdengar syahdu mengalun dari atas menara masjid Rob'ah, memanggil semua umat islam untuk kembali bersujud kepada Yang Kuasa. Akupun tersentak, ya Allah... aku puasa sunnah hari ini. Tanpa berucap lagi, langsung aku berlari ke dapur mengambil segelas air mineral, dan kuminum.

Chesss... tenggerokan yang tadinya kering, kini basah lagi oleh siraman air suci yang kuteguk. "Alhamdulillah... Haus hilang seketika." Suaraku membelah hati yang selalu berdosa.

Saat itu juga mataku melirik masakan yang harum sekali. Hidungku terpanggil untuk sekedar menikmati harumnya yang sedap itu. Lidah mulai gak tahan untuk mencicipi rasanya. Tapi, suara iqomat itu memanggil hati untuk segera bersembah sujud kehadirat Ilahi. Bertasbih menyebut nama-Nya.

Lalu, ku tinggal saja rayuan harum sedap itu. Walau sangat terasa melekat erat di pangkal hidung. Aku mencoba mengajak diri untuk menghadap sang Ilahi. Ku tepis jauh semua rasa nikmat itu, karena aku ingin mendahulukan orentasiku berdialog dengan Tuhanku. "Saat ini Ia sedang menungguku untuk berdiskusi dengan-Nya." Sabdaku menguatkan kaki untuk berpijak.

Aku tidak ingin terbuang percuma kesempatan ini. Karena telah lama aku menanti, panggilan kasih sang Ilahi Robbi. Aku ingin bertobat kepada-Nya, walau harus menangis meminta-minta, dan mengemis sekalipun. “Semua itu bukanlah gelombang pasang yang akan mengkandaskan pelayaran hatiku berlabuh di dermaga-Nya. Karena aku akan tetap berlayar terus sampai mencapai dasar yang kutuju...” Batinku berucap menguatkan iman yang telah tertancap.

***

Sajadah panjang ternyata telah terdampar di ruang musolla. Bertanda telah ada seseorang yang mendahuluiku berdiskusi dengan-Nya. Siapa gerangan manusia itu, mungkinkah sahabat yang suka main game itu telah bertobat atas dosa-dosa yang sering diperbuatnya. Masak iya sih! Mustahil...

Terus siapa dong...!
Jangan2 mereka yang tertidur pulas sudah bangun dan langsung shalat. Mana bisa, wong mereka masih tertidur pulas. Atau jangan2 sahabat yang masak tadi, tidak mungkin juga! Dia langsung keluar rumah sehabis makan.

Lalu siapakah gerangan orang itu, yang telah berani mendahuluiku bertatap muka dengan-Nya?

Sejenak aku mengingat-ingat. “Hmmm... jangan2 aku salah menafsirkan mulai tadi. Sajadah itu kali aja memang sudah terdampar mulai kemarin.”

Langsung ku simak baik-baik sajadah itu, tidak! sajadah itu benar-benar sudah lusuh oleh tapak kaki manusia. Aku heran, tercengang dan bungkam dalam kesendirian. Ya Allah... ternyata benar dugaanku. Aku telah didahului oleh seseorang bertatap muka dengan-Mu. Lalu, pantaskah aku marah dan memaki siapa orang itu, hanya karena mendahuluiku menghadap-Mu. Tidak!

Aku tidak pantas marah, apalagi sampai memaki-maki dirinya. Karena itu hanyalah memperpanjang kontrak dosaku sebagai hamba dhoif-Mu. Aku tidak ingin membenci siapapun, terlebih lagi pada sahabat-sahabatku sendiri. Perbuatan itu hanyalah mengundang jerat penyiksaan diri.

Sebaiknya aku tersenyum melihat semua ini, karena dengan satu senyuman, sesuatu yang aku hadapi akan terasa indah ku nikmati. Toh, walau kenyataanya harus menyiksa diri dan menyayat hati. Inilah liturgi kehidupan yang mesti aku jalani. Aku tidak boleh dengki dan iri hati seperti ini. Mereka juga manusia yang patut mendapat ruang dan waktu untuk bermunajat kepada-Mu.

***

Dring...
Percakapanku dalam kesendirian, tiba-tiba dikejutkan oleh jam dinding yang berbunyi nyaring. Ku lihat jarum jam itu berlari sangat kencang sekali mengitari angka-angka di sekelilingnya. Tidak pernah terlihat ada keluh kesah yang dirasa. Tidak mengenal lelah-letih, ia akan terus berlari. Dan tanpa henti. Ketakjuban pun datang tanpa sebuah undangan.

Masya' Allah...
Aku belum shalat maghrib. Mulai tadi hanya bercakap dengan kebisingan hati. Padahal orentasiku tadi ingin berdiskusi kepada sang Ilahi, malah diganti topik bercakap dengan kebisingan hati yang tak pernah pasti. Hanya ada rintih yang didapati. Dasar begok!

Dengan cepat ku bersimpuh di kehamaparan sajadah panjang yang dari tadi menunggu tumpangan anak manusia untuk bersilaturrahmi kerumah sang Ilahi. Di situlah aku menangis tanpa henti. Air mata bersimbah di bahu senja. Sedang hati terus bertasbih kepada sang Ilahi.

“Ya Allah...
Ampunilah atas segala khilaf yang ada. Jadikanlah lidahku mati rasa, agar aku tidak lagi mencicipi manisnya dosa. Amin...” Doaku mengakhiri cerita ini.

Rabea al-Adawea, 15 Januari 2007

Penulis: Adalah seorang peziarah kata di bumi kinanah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
dadun at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 7 weeks ago)
80

ditulis dengan bahasa yang puitis tapi nggak bikin mumet kepala. selain itu isinya benar" Berisi. ada pelajaran dan hikmah yang patut kita renungkan. yg paling penting, kita selalu ingat tuhan.

Writer Rebo Paijo
Rebo Paijo at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 14 weeks ago)
100

sedikit beda dengan yang lain di situs ini, saya kagum atas keberaniannya

Writer Berto
Berto at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 14 weeks ago)
80

mmmm, bagus sie ceritanya.
Cuman sebagai non-muslim, saya tak bisa menangkap apa itu puasa sunah (maaf). Bagaimana kalo kapan-kapan hal seperti Puasa Suna dikasi keterangan dikit di bawahnya agar orangorang seperti saya bisa menikmati cerita dengan lebih full??
THanks...

Writer Super x
Super x at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 14 weeks ago)
70

seperti yang sudah kawan-kawan katakan :)

Writer crewpurple
crewpurple at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 14 weeks ago)
80

Bagus ceritanya...ada makna yang terkandung dalam crita ini and ada pesan - pesannya ...yach selain sindiran juga buat orang - orang yang ga ,menghargai puasa...tapi TOP lach...apalagi dengan pertentangan batin saat puasa...:)

Writer Ayo_e
Ayo_e at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 14 weeks ago)
80

Senang bacanya, religius ya .. dan bisa memberikan inspirasi ' ke readers ..

Writer gheta
gheta at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 14 weeks ago)
100

apa ya? gak koment. hehe..he..he..! aku serasa terbakar.. panas..panas..

waf.. khan bener komentarku cerpenmu mangandung banyak makna. tuh yang laen aja setuju. pasti kamu bakal jadi kyai kondang lewat cerpenmu. sumpah nih gak ngibul.

Writer penjahat
penjahat at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 14 weeks ago)
100

Nih baru ok

Writer habibi
habibi at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 14 weeks ago)
100

belajar menghargai seperti mas kristopher david, ngasih point 10 terus! mas heri purwoko guru bahasa indonesia ya? eh, wafie ajarin ngaji donks, saya sudah jauh tersesat nih, hehe.. kaifa khaluk, ya ustadz? tapi sumpah ustadz, ni bagus kok!

Writer KD
KD at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 15 weeks ago)
100

kisah ini sudah dibaca 14 user dan skornya cuma 20? mereka bener-bener ga sopan!

Bagus? Cuma mau tanya, 'sahara' mestinya S besar kan?

Writer Farah
Farah at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 15 weeks ago)
50

wafie, mudah2an ini cuman perasaanku aja yah, tp aku nangkep dr tulisan kamu tuh kmu pgn kayak mas habib si penulis 'ayat2 cinta'. aku pas baca penggambaran kmu ttg suasana di dlm rumah bersama sahabat2 'aku' tuh mirip bgt sama penggambarannya mas habib ttg rumahnya fahri (bener yah namanya? lupa euy;p) dgn tambahan sana-sini khas indonesia.
----
kisah pertentangan batin disaat puasa ini sbenernya ide cerita yg asik bgt buat dikupas, cuman kmu menjelaskannya terlalu lamban. trus masak sih temen satu rumah plus dgn status sahabat gak menghargai si tokoh sama sekali? kecuali klo para sahabat itu sudah berusaha menjaga sikap mereka sementara sahabatnya (aku) sedang puasa, tapi si 'aku' yg memang sedang ragu2 ttg puasanya secara gak sengaja tapi disengajain ngeliat mereka makan, ato mengumpat karena main game, ato apalah.
ini ttg pertentangan batin wafie, faktornya internal, bukan external, jadi tulisan kmu yg seolah menyalahkan para sahabat kayaknya kurang nyambung deh.
---
but ide kamu asli bagus banget, original bow. keep writting yah

Writer splinters
splinters at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 15 weeks ago)
60

Ha, sebenarnya ide bikin ceritanya OK banget. Pertentangan batin di kala puasa bisa jadi bahan cerita yang seru. Tapi aku ngerasa kemasannya masih kurang. Ceritanya sangat ... polos. Kalau ditambahkan beberapa 'aksesori' mungkin akan menjadi lebih berwarna. Salam!

Writer heripurwoko
heripurwoko at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 15 weeks ago)
50

Islami nih yee... Btw, ada beberapa EYD yang harus diperbaiki tuh, atau bisa dirubah.

Writer wafie
wafie at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 15 weeks ago)

Sahabat yang budiman, jikalau lidah memang tak bertulang, izinkanlah kata yang bertulang. Agar dapat meminta seutas pesan dan kesan darimu.
"Salam Hangat Dari Piramida"

Writer Batikmania
Batikmania at Ketika Hati Sedang Bertasbih (5 years 15 weeks ago)
40

Seperti mbaca curhat-an di diary ya. Ada beberapa 'kesalahan kecil' di penulisan. Bisa diedit sih... Beberapa kalimatnya ada juga yang 'cantik' dan mbikin mikir. Maksudnya, merefleksi ke diri sendiri. Saya suka cerpen-cerpen yang menebar hikmah dan ibrah.