Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11)

Adam hanya membeku saat melihat Tristan membopong bocah kecil itu menuju mobil Joanna. Ada kilatan kemarahan dalam matanya. Seharusnya dirinyalah yang membopong bocah lelaki itu, seharusnya dirinyalah yang berada di sana mendampingi wanita yang dicintainya dan putranya. Tapi, bukankah seharusnya dirinya jugalah yang terus mendampingi Joanna di masa-masa kehamilannya dan saat wanita itu tengah berjuang melahirkan Nathan, bukannya malah pergi darinya tanpa kabar? Ia bahkan pernah mengucapkan kata-kata jahat kepada Joanna, yang mungkin saja bisa berakhir dengan tak pernah dilahirkannya bocah lelaki yang manis itu. Jadi, apakah ia punya hak meskipun hanya sekadar muncul di hadapan mereka?

“Kamu tidak seharusnya kelihatan marah begitu.”

Suara dingin di sebelahnya itu mau tak mau langsung menyentak Adam. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. “Aku tahu.”

Meskipun ia bilang begitu, perasaannya mengkhianatinya. Melihat Joanna berbincang akrab dengan Tristan membuat dadanya sesak. Mereka terlalu akrab, untuk ukuran perbincangan guru dan wali murid. Walaupun dilihat dari wajah keduanya, perbincangan itu tak bisa dibilang bagus, hanya saja hal itu tak terlihat oleh Adam. Pergulatan sengit di benaknya membuatnya tak bisa melihat hal lain lagi selain keakraban mereka.

“Aku memang sudah kehilangan kesempatan, ya, Kak?”

Dokter Thalita diam. Ia hanya memandangi juniornya itu dingin, meskipun kalau diperhatikan lagi, ada kelembutan yang menyelip dalam sorot matanya. “Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu berniat melukai Anna lagi.”

Adam tersenyum sayu. Tentu saja, apa pun yang coba dilakukannya, semulia apa pun itu, ia tak mungkin memungkiri kalau itu semua justru hanya akan menorehkan luka yang lebih dalam pada Joanna. Tapi, bagaimanapun, ia ayah Nathan. Tak bisakah Joanna sebentar saja mengizinkan Nathan merasakan kasih sayang ayah kandungnya? Ia menghela panjang. Bagaimana mungkin? Bukankah dulu ia pernah menyarankan Joanna untuk membunuh putranya sendiri?

Dokter Thalita mendengus melihat Adam bertingkah seolah dialah si obyek penderita. Diarahkannya tangannya ke punggung Adam, lantas menepuknya sangat keras, membuat Adam terdorong sedikit ke depan.

Adam langsung berbalik. Batinnya mengumpat, apa seniornya itu tak bisa memperlakukan orang lebih lembut lagi? Ia hendak protes, tapi tatapan tajam itu seketika membungkamnya.

“Kamu bukan satu-satunya yang menderita di sini.”

Adam tak perlu bertanya untuk tahu maksud Dokter Thalita. Ia memutar tubuh, dilihatnya mobil Joanna baru saja menjauh, menuju rumah sakit, dengan Tristan di dalamnya. Adam mengernyit. Bukankah guru muda itu masih ada urusan berkaitan dengan acara malam pagelaran Sunshine School? Sekali lagi, ia tersenyum sayu.

Agak jauh dari tempat Adam berdiri, di dekat gerbang masuk halaman klinik, Cherry terdiam membisu. Pandangannya tepat mengarah pada mobil yang bergerak menjauh. Ada kilat kemarahan bercampur kesedihan di matanya. Saat mobil telah menghilang di tikungan, Cherry mengepalkan kedua tangannya. Tak lama, ia masuk kembali ke Sunshine School, dengan langkah cepat yang terlihat ganjil.

 

***

 

Joanna merasa beruntung karena putra kesayangannya itu tak perlu opname. Diagnosis dari rumah sakit pun hanya demam biasa. Ia ada di ruang tunggu sekarang, menanti guru putranya yang tengah menebus obat di apotek rumah sakit. Awalnya, ia yang berniat menebusnya, tapi Tristan memaksa. Katanya, akan lebih baik kalau Joanna jangan dulu meninggalkan sisi Nathan. Kalau Joanna memikirkannya kembali, Tristan seharusnya tak perlu ikut bersamanya ke rumah sakit. Tapi, dalam situasi panik semacam ini, Tristan khawatir kalau Joanna jadi kurang berhati-hati saat menyetir di jalan. Joanna menghela napas panjang, entah sudah berapa banyak ia berhutang pada guru muda itu.

Joanna mengusap-usap kening malaikat kecilnya yang tengah tertidur itu. Refleks, ia tersenyum. Tapi, wajah merah dan napas memburu itu tetap membuatnya ingin menangis. Ia menarik napas, mencoba menguatkan diri. Bukan saatnya ia tampak sedih saat putranya tengah sangat membutuhkannya.

“Mama Nathan,” panggil Tristan, yang segera saja membuat Joanna tersentak.

Guru muda itu segera menyerahkan sebuah plastik putih kepada Joanna. Sebentuk botol obat tampak samar-samar di dalam plastik itu. Ya, rumah sakit tak menyarankan obat apa-apa lagi selain parasetamol.

Joanna menerima plastik itu. Ia bisa melihat senyum yang lembut sekali dari lelaki yang bahkan lebih muda darinya itu saat ia berterima kasih. Tapi, tak sampai sedetik, disingkirkannya pikiran itu. Bukankah Tristan selama ini memang selalu tersenyum? Senyuman yang barusan pun tak ada bedanya dengan senyum-senyum sebelumnya. Tak ada yang spesial. Joanna memaksa dirinya sendiri berpikir seperti itu.

Saat Joanna hendak mengangkat tubuh Nathan, Tristan tak segan-segan menahannya, sambil memberitahu Joanna agar dia saja yang membawa Nathan ke mobil. Joanna mengangguk. Tanpa membuang waktu lagi, Tristan mengambil alih Nathan dari Joanna. Digendongnya bocah lelaki itu dengan penuh sayang. Atau itulah yang terbersit di benak Joanna saat melihat sepasang guru-murid itu berjalan menuju mobil. Perlahan, kedua sudut bibirnya terangkat. Tipis.

Joanna tepekur. Yang tampak di matanya saat ini hanya punggung lebar Tristan yang bergerak-gerak seiring langkahnya. Kepala malaikat kecilnya tersembul di bahu kiri lelaki itu. Tertidur, meski masih terlihat napasnya yang memburu. Tatapannya sayu, bukan karena sakitnya Nathan, melainkan lebih karena malaikat kecilnya itu tak pernah mendapatkan siraman kasih sayang dari ayahnya sendiri. Melihat sepasang guru-murid itu, entah bagaimana yang terbayang di benaknya hanyalah bagaimana kasih sayang yang dicurahkan guru muda itu kepada putranya yang bahkan melebihi kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri. Kasih sayang Tristan yang bahkan lebih terasa seperti kasih sayang seorang ayah daripada kasih sayang seorang guru. Ataukah itu hanya bayangan Joanna sendiri? Apakah bayangan itu mulai berubah menjadi pengharapan? Ia tidak tahu.

“Mama Nathan, tolong kuncinya.”

Suara Tristan segera saja membuyarkan lamunannya. Ia baru tersadar kalau sudah sampai di mobilnya. Tanpa menunggu lagi, ia membukakan kunci pintu belakang, membiarkan Tristan membaringkan Nathan di sana. Lelaki itu kemudian meminta kunci mobil itu. Joanna menatapnya bingung, tapi segera sadar saat melihat lelaki itu kembali tersenyum. Bukankah dalam perjalanan ke rumah sakit, Tristan juga yang menyetir?

Joanna menyodorkan kunci mobil. Ia bisa merasakan hangat darah yang mengalir di balik kulit tebal jemari Tristan saat lelaki itu meraup kunci itu, yang segera saja membuat Joanna menarik tangannya. Ia bisa merasakan tatapan bingung Tristan, tapi diabaikannya. Itu pasti cuma perasaannya. “Le—lebih baik, kita cepat kembali.”

Joanna menghindari mata Tristan. Ia bahkan tak mengerti kenapa melakukan itu. Yang jelas, ia tak ingin guru muda itu menyaksikan wajahnya yang sedikit menghangat. Bukan apa-apa. Joanna yakin itu karena tadi ia sempat berpikir yang aneh-aneh tentang Tristan. Biasanya, insting seorang guru itu tajam, ia hanya tak mau tertangkap basah oleh lelaki itu.

Tanpa bertanya lagi, Tristan masuk dan duduk di jok sopir. Dari kaca spion yang terpasang menggantung di langit-langit mobil, ia bisa melihat Joanna tengah merengkuh Nathan sambil membelai lembut kepala botak bocah lelaki itu. Tristan pun langsung tersenyum.

Tristan menyalakan mesin mobil, kemudian melajukannya keluar halaman rumah sakit, menuju rumah Joanna.

Read previous post:  
125
points
(1108 words) posted by herjuno 7 years 22 weeks ago
83.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | kolaborasi | Romantis
Read next post:  
100

wow wow,,,,,elok...

100

mana ini lanjutannya belum jadi-jadi yang part 13 T_T

90

aaaw bittersweet. aku bersimpatik pada cherry. *tetep*

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11) (7 years 21 weeks ago)
90

Padahal saya ngarepnya ada adu mulut antara Adam dengan Joanna. Tapi memang karakter Adam seperti itu ya, kepala dingin dan tidak tergesa-gesa. Hum2 :)

yang berikutnya siapa ya???
2x24 jam kan hampir berakhir

Writer RIf
RIf at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11) (7 years 21 weeks ago)
100

...:D

Writer bl09on
bl09on at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11) (7 years 21 weeks ago)
90

tetap dukung Adam...saya makin suka karakter adam di sini :))

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11) (7 years 21 weeks ago)

#mau bikin Lav kesel di pagi pagi buta.

Dukung Tristan dan Joanna.

Bunuuuuh. Bunuuuuuh. Bunuuuuuh Adam.

#kabuuuur#

100

Ah Ao. Ini indah.. wakakaka.. Ceritanya mengalir dan gag muluk2.. Dan ak suka bagian emosi Adam di awal2 cerita.. :)
.
Semangad!! :)

100

Aaaaah saya pengkumen pertama yg mendukung Adam pastinya kecewa wkwkwkkw *kumen pribadi*
Secara objektif, saya suka part ini, scene-scene-nya, dialog2nya, enak dibaca dan paas.. ^^

90

pokoknya Joanna harus sama Tristan!! >0<

100

Aaaa...
idem sama emak, saya pendukung Tristan! <3 <3

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11) (7 years 21 weeks ago)
90

Ao : saya merasa Tristan dan Joanna telah mendapatkan perkembangan yang sangat bagus di part ini.

#pendukung Tristan dan Joanna.

Walo keknya ada beberapa pengulangan kalimat yang jadinya tidak terlalu baik.

Porsi tokoh2nya pas.

Btw keknya Joanna sudah mendapatkan resep paracetamol di klinik. Buanyak banget yak mereka nebus ntuh obat. #emak-emak yang perhitungan.

HLind masih belum bisa yah.

Kalau begitu saya hubungi Mariaquantaro dulu.

Asyiiiik cerfet hampir menuju putaran ke dua.

Semoga para estafeter selalu siap sediaaaa.

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11) (7 years 21 weeks ago)

Saya boleh ngepost bagian selanjutnya engga???
Tinggal di submit nih

Writer aocchi
aocchi at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11) (7 years 21 weeks ago)

dipost aja :)
hahaha, saya ngepost gak pake minta ijin *plak

Writer aocchi
aocchi at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 11) (7 years 21 weeks ago)

eh? memangnya sudah dapat resep parasetamol ya? huaaaa, saya kecolongan baca part2 sebelumnya *nangis guling2*
.
ini pasti gara2 kompi saya rusak, nyampe semalam saya bela2in ke warnet jam 7 sampai jam 9 malam. Yah, dua jam gak akan cukuplah untuk baca ulang cerita dari awal terus bikin kelanjutannya ... maaf, maaf, semalam otak saya nge-blank >.<
.
ayo, estafeter selanjutnya, Semangat! (^o^)9
*leha-leha dulu ah, merayakan bebasnya tugas saya buat estafet putaran pertama**kabuuur*

90

mantaf...
jangan bawa2 adam lagi

wkwkwkwkwkw

100

Huaaa ini bagus!!!

Sema karakter dapat peran yang tepat, dan saya jadi gregetan sama ending cliffhangernya arrrggghhh *gigit kak Ao*