Tentang Sahabat

i -PADA NISAN-

 

Pada pasir kulukis Danau Merekah

Di mana kita telah lama berpisah

Tanpa angin, langit meredup mendung

Dan awan sarat mencurah hujan, menyapu bumi

 

 

ii - AWAN DI LANGIT 1-

 

Angsa liar datang menyapa

Petani di bawah duduk bernaung

Kilat dan guntur singgah bermain

Namun awan di langit tetap tiada teman

 

 

iii - AWAN DI LANGIT 2 -

 

"Bawalah aku ke tempatmu sebagai sahabat

Dan kita kan bermain bersama mengeliling angkasa"

 

"Tidak, Jelita Kecilku. Sebab jika kasih ini berbalas

Hatiku kan terharu, dan diriku lenyap sebagai hujan."

 

iv - AWAN DI LANGIT 3 -

 

Gadis Jubah Kuning hendak pergi ke langit

Menyandang sayap, ia terbang kepada mega

Tatkala disentuh, sang awan terharu

Dan turun sebagai hujan, jutaan tirai perak

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer samalona
samalona at Tentang Sahabat (2 years 46 weeks ago)
80

Tentang sugesti

Puisi (i) berjudul -PADA NISAN-, dan diawali dengan baris "Pada pasir [..]" Perubahan kata tersebut menurutku memberi arah pengertian, bahwa "pasir" itulah nisannya. Suasana yang dideskripsikan pada baris 3 dan 4 sangat mendukung; sugesti yang muncul dari suasana itu adalah perasaan murung, muram, atau sedih. Bagian "mencurah hujan" bisa dikonotasikan kepada tangis yang tumpah.

Puisi (ii) diawali dengan "Angsa liar [..]" Sifat angsa liar (yang dibedakan dari angsa ternak/peliharaan) memberi pengertian konotatif pribadi yang tidak terikat oleh hubungan. Ditarik garis ke baris 4, "Namun awan di langit tetap tiada teman", muncul sugesti bahwa keadaan tanpa ikatan itu bukanlah sesuatu yang (selalu) positif. Tanpa ikatan juga bisa berarti tanpa teman.

Katanya di log message puisi-puisi ini terpisah-pisah. Saya mengartikannya, bahwa puisi-puisi ini diharapkan/disarankan/harus dibaca secara terpisah, dan tidak dicari keterkaitan antara satu dan lainnya. Tetapi, setelah membaca semuanya, tampak ada hubungan sambung-menyambung dari puisi (i) sampai puisi (iv). Sulit untuk tidak melihatnya, karena tanpa keterkaitan itu, masing-masing puisinya terasa janggal berdiri sendiri. Mungkin ada maksud membuat puisi-puisi yang berdiri sendiri *sekaligus* saling berhubungan. Entahlah.

Ungkapan "Jelita Kecilku" di puisi (iii) dan "Gadis Jubah Kuning" di puisi (iv) *mungkin* memiliki makna metafora tertentu, dan masih melanjutkan suasana yang dibangun pada (i) dan (ii). Sayang saya tidak/belum menjangkau sampai ke sana. Bagaimanapun, dari segi keutuhan, saya suka puisi (i) dan (ii).

Tentang kapitalisasi kata benda

Dalam puisi, kata benda yang ditulis dengan huruf awal kapital dikatakan mempunyai bobot yang lebih daripada kata benda sama yang ditulis dengan huruf kecil semua. Dengan kata lain, kata benda yang diawali dengan huruf besar tersebut penting artinya (dalam memaknai puisi secara keseluruhan), mempunyai makna ganda, atau memiliki karakter (personifikasi). Selain, tentu saja, kata benda tersebut digunakan sebagai nama (misalnya Putri Tidur, Pangeran Tampan, Penyihir Jahat, dan Tudung Merah).

Pada setiap puisi dalam rangkaian puisi stezsen ini, tiga di antaranya memuat kata benda berawal huruf besar (yang bukan melulu mengikuti aturan kapitalisasi awal kalimat): di puisi (i) ada "Danau Merekah", di puisi (iii) ada "Jelita Kecilku", di puisi (iv) ada "Gadis Jubah Kuning". Danau Merekah tidak dimunculkan karakternya, atau tidak dielaborasi lebih jauh, sehingga kehilangan fungsi huruf besarnya. Jelita Kecil juga demikian; hanya muncul dalam kalimat yang ditujukan kepadanya, sedangkan kalimat yang dianggap diucapkan oleh Jelita Kecil sendiri tidak menunjukkan kualitas yang berhubungan dengan "jelita" maupun "kecil". Gadis Jubah Kuning masih lebih baik, karena dia menyandang sayap, hendak pergi ke langit bertemu mega; itupun tidak tampak hubungan antara jubah kuning dengan apa yang dilakukannya (berbeda, misalnya, jika digunakan "Gadis Jas Hujan", atau "Gadis Sayap Mas"). Memanggil seseorang dengan "Jelita Kecilku" adalah hak siapa saja. Tetapi tanpa alasan yang jelas, nama panggilan itu hanya akan menimbulkan kebingungan. Untuk menutupi kekurangan itu, saya terpancing untuk membayangkan Jelita Kecil pada puisi (iii) sebagai angsa liar yang muncul lebuh dulu di puisi (ii).

Selain itu, saya juga melihat ada hubungan yang ingin dibangun antara "jubah kuning" dan "hujan, jutaan tirai perak". Sayangnya, saya tidak bisa meraba makna yang dikandung atau metafora dari "jubah kuning" itu. Apakah itu berhubungan dengan jaket almamater satu universitas di Indonesia? Atau warna lambang satu partai politik? Yang manapun, tetap masih tak terlihat hubungannya.

Sekarang, mungkin saja semua yang saya bahas tidak ada dalam maksud awal stezsen menulis keempat puisi ini. Mungkin saja alasan semua itu terletak pada imaji. Dari pendekatan ini, saya kurang lebih bisa menikmati. Jadi, mungkin benar demikian adanya.

Maaf jadi panjang, dan maaf kalau ada yang tidak berkenan.

Salam, stezsen

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 44 weeks ago)

waw waw waw
thaaankksss kk ^^ (membungkuk hormat)
.
aii saia tidak berpikir sejauh itu soal kapitalisasi kata, cuma mikir klo nama ama panggilan biasanya dikapital hehehe
.
ah pokoknya thanks sangat kk
sangat berguna ni komennya ^^
(membungkuk hormat lagi)

Writer abityair
abityair at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

butuh waktu lumayan lama untuk mengerti puisi ini.. setelah dipahami.. tiba2 rasanya sedih sekali.. huhuhhuhu.. keep up the good work..

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 46 weeks ago)

thaaanksss XD XD

Writer Chie_chan
Chie_chan at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)
100

Ini luar binasa!
Pertahankan kekejuan ini!
Mengharukan sekali... ihiks ihiks... :'(
Dan aku bukan gurumu! Aku cuma sembarangan kasih saran! (^^^)

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

eh tapi saranmu kan sangat amat berguna :* :* :*
thanks kk seperguruan chieeee XD

Writer januari
januari at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)
70

bravo... bravo... bagus. sayang pas 'awan dilangit 2' kurang mantap. mungkin dengan ditambah satu-dua kata sifat atau adverb, akan menarik
see you sastra oh sastra.

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

oh kata sifat dan adverb yah
okeeeh
saia bingung soalnya pas bikin baris percakapan XD
.
thanks kk

Writer Maximus
Maximus at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)
60

HAIII KAK STEZZ!! (lebay)
.
Mana kirgaletmu -_0 , sudah jadi novel kah? atau in hiatus, aku cek di logmu ga ada -_. (fans yang kecewa)
.
oh ya, ini cabenya, enjoy :D

cabe 1 : puisinya gak menggigit, gak manis, gak pedes, asin apalagi, datar banget
.
cabe 2 : diksinya klise, barisnya pendek, baitnya kaya ga niat
.
cabe 3 : pilihan katanya monoton, tanpa sensasi, nggak menarik
.
cabe 4 : EYDnya rusak, kapitalnya ambigu, tanda bacanya minus. Mengerikan.
.
[Saran : Puisi yang bagus = setingkat puisi kak Samalona]
.
~kabur sebelum dilempar sendal

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

kirgalet tertunda sampai kapan2 saia niat lagi XD XD
ternyata hole nya buanyak sampe pusing benerinnya ehehehehe
.
yayyy cabeeeee!!! XD
cabe 1: masih datar ya. okeee (saia ketularan virus datar dari mana ini, belakangan ini jadi super datar)
.
cabe2: soalnya kata kakak seperguruan chie_chan, kapan hari saia cuma mainan kata, jadi nyoba bikin yg g banyak maina kata (kayaknya salah jalan) XD
klo baris pendek itu emang sengaja mw belajar bikin puisi 4 baris sampe jadi bagus (entah kapan)
.
cabe 3: sama kaya cabe 2 kan?
.
cabe 4: eeh EYD rusak? bagian mananya? kapital yg ambigu bagian mananya? tanda baca minus? (g ngerti -beneran-) kasih pencerahan dunks ^^a
.
.
thanks buat sarannya, ni juga lagi belajar dari puisi2 para master di kekom XD

hers at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)
90

suka sama yang ini >>>ii - AWAN DI LANGIT 1-
salam.

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

thaankss
.
g ada cabe kk? XD

Writer mahbub
mahbub at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)
100

kagum membacanya.
indah kk..
+10

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

thanks
.
btw kayaknya g seindah itu kok, masi banyak cacatnya XD

Writer ezra
ezra at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)
70

masih kurang berani sedikit lagi

salam

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

aww masi kurang berani ya
oke2 ntar nyoba lagi ehehehe
thanks kk

Writer ney
ney at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)
70

hmmmm....

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

thanks mampir
g ada cabe kah? XD

Writer souLYncher
souLYncher at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)
80

kak chie memang guru yang lebih dari sekadar guru
salam
^^

Writer stezsen
stezsen at Tentang Sahabat (2 years 47 weeks ago)

iyap iyap iyap! setuju!
thanks mampir
ga ada cabe kah? XD