Culinary Challange : Nasi Putih Terlezat Di Dunia.

Culinary Challenge : Nasi Putih terlezat di dunia.

Seorang putri kecil yang baru berusia sepuluh tahun tampak sedang sedih. Kegiatan kesukaannya yaitu mengejar kupu-kupu yang terbang di taman bunga paviliunnya tidak dilakukannya hari ini, walau banyak kupu-kupu yang terbang mengitarinya. Putri Ping Hua namanya. Dia adalah putri satu-satunya dari Kaisar negeri tirai bambu. Dan dia adalah kesayangan Kaisar yang agung tersebut.

 

Putri Ping Hua mendengar pembicaraan permaisuri, ibundanya dengan salah seorang mentri beberapa hari yang lalu. “Raja sudah semakin tidak mau mendengar saran kami,” ucap mentri tersebut.

“Saya mohon Yang Mulia Permaisuri sudi kiranya membantu untuk mengingatkan,” kembali Mentri tersebut menghaturkan hormat kepada Permaisuri.

“Aku akan berusaha,” Permaisuri menghela nafas.

 

Putri Ping Hua walaupun masih kecil dia mengetahui keresahan Ibundanya. Ayahandanya, Sang Kaisar sebenarnya adalah kaisar yang bijaksana dan adil. Namun ada kelemahan terbesar yang dimiliki ayahandanya. Kaisar sangat gemar makan dan selalu tidak sabaran jika menunggu hidangan yang dia inginkan. Setiap saat Kaisar selalu meminta koki istana untuk membuat masakan terbaru, masakan yang lezat dan dalam waktu yang singkat.

 

Beberapa hari ini ada beberapa Mentri yang jahat yang berupaya mengeruk keuntungan dari kegemaran Kaisar yang suka makan ini. Mereka menceritakan tentang makanan yang sangat lezat dan bisa membuat sang Kaisar awet muda serta abadi. Sang Kaisar yang begitu tertarik pada makanan lezat serta merasa tubuhnya semakin lama semakin sakit termakan bujuk rayu mereka. Maka dari itu Kaisar memerintahkan untuk menemukan makanan terlezat serta yang dapat membuatnya awet muda.

 

Begitu banyak biaya dikeluarkan untuk mencari makanan terlezat itu. Bahkan kosentrasi Kaisar dalam memimpin kerajaan jadi semakin terbengkalai. Sang Kaisar hanya mau mendengar laporan mengenai pencarian makanan terlezat. Sedangkan laporan tentang bencana alam kekeringan yang di alami desa-desa tidak digubrisnya sama sekali.

 

Putri Ping Hua merasa harus mencari cara untuk menyadarkan ayahandanya dari kebiasaan buruk ini. Putri Ping Hua tidak pernah habis pikir mengenai begitu banyaknya hidangan yang harus  tersajikan di kala mereka makan. Sedangkan makanan tersebut tidak pernah  habis dimakan, hanya disentuh sedikit. Bukankah hal itu sangat mubazir, lebih baik makanan yang berlebih itu dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan. Selain itu kebiasaan ayahandanya yang tidak sabaran juga harus diingatkan.

 

Putri Ping Hua memutar otak selama beberapa hari ini. Hari ini dia melewatkan makan pagi, karena Putri Ping Hua tengelam dalam lembaran-lembaran kertas di dalam perpustakaan istana. Dia berusaha mencari  pemecahan akan masalah ini.

 

Walaupun Putri Ping Hua adalah putri kesayangan, namun bila dia bersikap kurang ajar terhadap Ayahandanya maka murka Kaisar akan sangat menakutkan. Mungkin saja dia akan dihukum berat, oleh karena itu Putri Ping Hua harus menemukan cara halus yang terbaik untuk menyadarkan ayahandanya.

 

“Putri Ping Hua, makan sore sudah siap,” seorang dayang istana yang mengetuk pintu perpustakaan dengan cemas.

“Saya belum selesai membaca,” teriak Putri Ping Hua.

“Tapi Tuan Putri sudah melewatkan sarapan, makan siang serta waktu minum teh. Tidak baik bila Tuan Putri tidak makan sedikitpun,” Dayang tersebut berharap cemas. Dia takut bila Putri Ping Hua sakit maka dia dan para dayang yang lain yang akan dipersalahkan.

“Makanlah walau sedikit, Tuan Putri,” Dayang itu terus mencoba membujuk.

 

Akhirnya Putri Ping Hua mengalah. Dia juga sudah merasakan perutnya sangat keroncongan sedari siang namun karena enggan beranjak dari tempat duduknya, Putri Ping Hua memilih menunda jam makan dahulu. Baru saja Putri Ping Hua hendak berdiri dari tempat duduknya, kepalanya terasa pusing dan dia terjatuh. Dayang istana sangat panik, segera berlari masuk dan mengendongnya menuju kamar.

 

Tabib Yang memeriksa nadinya dan mengelengkan kepala, “Putri, apakah anda tidak makan? Tubuh Tuan Putri jadi lemas dan tidak bertenaga karena tidak adanya makanan di dalam tubuh yang dapat diolah menjadi energi. Makanan begitu dibutuhkan bagi tubuh kita. Tapi tidak juga boleh berlebihan. Makan teratur, bergizi serta sesuai kebutuhan sangat-sangat penting bagi tubuh. Hal itu akan membantu kita menjadi sehat dan tetap kuat,” ucapan Tabib Yang, tabib ini adalah tabib khusus Putri Ping Hua dan sudah sangat dekat serta menyanyangi putri baik hati ini.

“Bila kita tetap sehat dan kuat tentu saja umur kita akan panjang, bukankah begitu Tabib Yang?” tanya Putri Ping Hua dengan gembira. Tabib Yang mengangguk dan menepuk telapak tangan sang putri dengan penuh kasih.

 

Tiba-tiba saja Permaisuri dan Kaisar masuk ke dalam kamar dengan wajah cemas. “Ping Hua, kenapa kamu nak?” tanya Permaisuri.

“Kenapa Putri Ping Hua bisa sampai pingsan?” Kaisar memarahi para dayang istana.

“Apa saja yang kalian lakukan? Kalian semua harus dihukum!” teriak Kaisar penuh emosi. Para dayang berlutut meminta ampun.

 

“Bukan salah mereka Ayahanda, semua ini karena aku tidak mau makan sejak pagi hari,” Putri Ping Hua segera menenangkan ayahnya.

“Bagaimana mungkin kamu tidak makan sepanjang hari? Apakah masakan koki istana tidak enak ataukah ada yang kau inginkan, anakku? Katakan saja, apapun akan Ayahanda kabulkan,” Putri Ping Hua tersenyum cerah ketika mendengar ucapan Kaisar. Langsung saja terbersit ide di kepalanya.

“Ayahanda berjanji? Apapun?” sekali lagi Putri Ping Hua ingin menegaskan janji ayahnya.

“Saya adalah seorang kaisar dan apapun yang telah kujanjikan akan kutepati,” Kaisar mengelus lembut rambut putri satu-satunya ini.

 

“Saya akan makan asal Ayahanda berjanji menemani aku berjalan-jalan seharian besok dan menuruti apapun permintaanku.” Putri Ping Hua menunggu jawaban ayahnya.

Sang Kaisar mengangguk setuju.

“Dan satu lagi, Ayahanda tidak boleh marah atas semua permintaanku,” Putri Ping Hua berharap cemas.

Wajahnya dihiasi senyum ketika ayahnya mengangguk lagi. “Apapun untukmu putri kecilku,”

 

==  

 

Keesokan paginya kereta kuda istana dikeluarkan , para pengawal dan dayang mempersiapkan diri untuk menemani Sang Kaisar, Permaisuri dan Putri Ping Hua berjalan-jalan keluar istana sesuai permintaan sang putri kesayangan.

 

Kereta kuda melewati jalanan ibu kota. Putri Ping Hua yang sudah lama tidak keluar dari istana begitu gembira. “Ayahanda, bisakah kita singgah di pasar? Saya ingin membeli lampion dan gelang-gelang untuk dayang-dayang istana,” Putri Ping Hua memohon dengan sangat.

“Bukankah sudah menjadi perjanjian kita, apapun permintaanmu akan Ayahanda kabulkan.” Kereta kuda berhenti di salah satu kios kecil yang menjual gelang. Sang putri dan Permaisuri terlihat gembira memilih gelang-gelang ersebut.

 

“Hari sudah siang, sebaiknya kita singgah ke kediaman Pejabat Kam untuk makan siang,” usul Penasehat istana.

“Baiklah,” sahut Kaisar.

“Tidak!” potong Putri Ping Hua.

“Kita tidak akan makan siang dahulu. Saya ingin melanjutkan perjalanan ke danau hijau. Jika kita berhenti dan makan siang, maka tentunya akan tiba di sana saat hari telah gelap. Saya sangat ingin menikmati pemandangan danau hijau di sore hari. Aku mohon, Ayahanda. Bisakah kita lanjutkan perjalanan dan menikmati makanan di danau hijau saja? Bukankah Ayahanda telah berjanji akan mengabulkan semua permintaanku?” Putri Ping Hua berdoa di dalam hati, berharap ayahnya akan mengabulkan permohonannya. Sebenarnya dia tidakterlalu ingin pergi ke danau hijau, semua itu hanya alasan.

 

Dia tahu betul ayahnya begitu suka makan dan tidak pernah melewatkan jam makan. Apakah kali ini ayahnya akan memenuhi janjinya.

“Kita lanjutkan perjalanan secepatnya. Semakin cepat kita sampai di danau hijau maka semakin cepat kita dapat makan,” Kaisar berusaha menyenangkan hati putrinya.

 

Perjalanan menuju danau hijau dilanjutkan. Sepanjang jalan Putri Ping Hua mengajak ayahandanya melihat sekeliling. Ada begitu banyak lahan pertanian yang kering. “Ayahanda, bukankah saat ini sedang musim semi? Mengapa tidak ada satupun yang menanam padi?” tanya Putri Ping Hua.

“Itu karena cuaca sedang buruk, putriku tersayang. Seharusnya memang negeri kita sedang memasuki musim semi, namun nampaknya musim semi tahun ini terlambat datang,” ternyata Permaisuri memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan kenyataan negeri mereka  pula kepada suaminya.

 

Sang Kaisar terlihat menatap lahan-lahan pertanian itu dengan mata yang sedih. Dia telah mengabaikan kenyataan negerinya. Dalam hati dia berjanji akan segera mengurus semua itu setelah perjalanan ini.

 

Separuh perjalanan menuju danau hijau belumlah lagi terjalani, Sang Kaisar sudah gelisah. Perutnya keroncongan dan kelaparan. Beberapa kali perutnya terdengar berbunyi. Akhirnya Putri Ping Hua menemukan sebuah warung kecil di pinggir jalan. Putri Ping Hua melihat warung tersebut sangat bersih dan rapi.

 

“Ayahanda, bagaimana kalau kita singgah untuk beristirahat dan makan sejenak di warung tersebut? Saya sangat ingin mencoba makanan yang dimasak diwarung itu,” ucap Putri Ping Hua.

“Saya mohon,” sekali lagi Putri Ping Hua mengunakan janji ayahandanya kepada dirinya.

“Baiklah,” Kaisar kembali mengabulkan permohonan putrinya, selain itu dia juga sudah sangat lapar.

 

“Pelayan!” Penasehat Istana memanggil pelayan dan pemilik warung makan dengan suara keras. Dia yakin Sang Kaisar sudah kelaparan dan sangat tidak suka menunggu.

“Kaisar, Permaisuri dan Putri Ping Hua akan singgah untuk beristirahat di sini. Segera sediakan minuman dan makanan terbaik!” perintah Penasehat Istana kepada pelayan dan pemilik warung.

 

Pemilik warung dan para pelayan segera menghaturkan sembah penuh hormat kepada Kaisar, Permaisuri dan Putri Ping Hua. Namun dengan wajah yang menatap lantai, pemilik warung juga terlihat kebingungan. Apa yang bisa dia sajikan kepada Kaisar dan para penghuni istana yang telah terbiasa makan hidangan terbaik?

“Saya tidak memerlukan hidangan mewah. Sajikanlah makanan yang kalian makan tiap harinya,” ucap Putri Ping Hua kepada pemilik warung.

“Ayahanda Kaisar tidak akan menghukummu, bukan begitu Ayahanda?” Putri Ping Hua tersenyum kepada ayahnya.

 

Pelayan dan Pemilik warung segera undur diri dan menyiapkan apa yang mereka miliki di dapur. Namun perut Sang Kaisar yang keroncongan dan kesabarannya yang tipis membuat Sang Kaisar kesal. “Suruh mereka kerjakan dengan cepat!” teriakan Kaisar membuat Pelayan yang membawa nampan berisi makanan terkejut. Pelayan itu berlari dengan tergopoh-gopoh. Tangannya yang bergetar hebat segera menyajikan mangkuk-mangkuk berisi nasi putih yang masih panas.

 

“Mana lauknya?” teriak Kaisar kesal.

“Hanya i….ni yang ka..mi mi…li…ki,” ucap Pemilik warung dengan terbata-bata sambil bersujud.

“Maafkan kami, Yang Mulia. Kami tidak mengira akan kedatangan tamu agung, sehingga tidak mempersiapkan hidangan yang mewah,” kembali Pemilik Warung berkata dengan ketakutan.

 

“Ayahanda, mari kita nikmati nasi putih ini. Cobalah, Ayahanda. Aku mohon,” Putri Ping Hua meniup dan menyumpit nasi putih ke dalam mulutnya. Sementara itu permaisuri tampak begitu cemas.  

Sang Kaisar yang telah kelaparan dan kesal mengambil mangkuk nasi dan menyumpitkan dengan tergesa-gesa. Panas nasi yang baru saja matang membuat bibirnya kesakitan.

 

“Ayahanda, cobalah meniup dahulu nasi putihnya. Nasi putih ini sangat lezat,” Putri Ping Hua mengambil sumpitnya dan menyuapkan nasi yang telah hangat ke mulut ayahandanya.

“Bukankah nasi ini sangat pulen dan enak?” tanya Putri Ping Hua.

 

Sang Kaisar tidak menyangka nasi putih ini terasa begitu nikmat ketika dikunyah dan masuk ke dalam mulutnya. Dengan perlahan Sang Kaisar menghabiskan nasi putih dan meminum teh hangat yang disediakan. Sebuah hidangan sederhana, namun sesaat tadi dia menyadari nasi putih tersebut sangatlah lezat.

 

“Beras apa yang kau gunakan?” tanyanya kepada Pemilik warung. Sang Kaisar berpikir untuk mendapatkan beras yang sangat nikmat ini.

“Beras yang kami tanam dan panen di musim panen yang lalu. Yang kami simpan di lumbung belakang dan ditumbuk ketika dibutuhkan,” sahut Pemilik warung masih dalam posisi menyembah.

 

“Saya akan membeli semua persediaan berasmu!” ucap Sang Kaisar. Wajah pemilik warung terlihat cemas ketika dia mencoba mencuri pandang ke arah Kaisar.

“Kenapa kamu tidak menjawab? Akan kubayar dua kali lipat dari harga yang ada,” kembali Kaisar menegaskan.

 

“Maafkan saya, Yang Mulia. Tapi persediaan beras kami sudah habis. Dan nasi yang kami hidangkan tadi adalah beras terakhir kami,” Pemilik Warung semakin ketakutan.

“Lancang sekali. Kamu membantah titah Kaisar yang agung. Kamu tidak mau menjual beras itu kepada Kaisar?” bentak seorang Perwira tinggi.

 

“Ayahanda, tidakkah menyadari bila keadaan di negeri sedang sangat kacau. Bahkan petani yang memiliki lahan saja sampai kehabisan persediaan beras. Mereka bukannya tidak mau menjual beras terbaik yang mereka miliki kepada kita. Hanya saja mereka memang tidak memiliki apapun lagi untuk dijual, bahkan untuk mereka sendiri pun, tidak ada.” Putri Ping Hua menatap ayahandanya.

“Bagaimana bisa terjadi kalian kekurangan bahan makanan?” tanya Kaisar kepada Pemilik warung.

“Cuaca buruk membuat lahan pertanian rusak dan gagal panen. Kami telah berusaha semampu kami.” Kaisar menghela nafas panjang ketika mendengar ucapan Pemilik warung.

 

“Penasehat, segera salurkan bantuan kepada rakyat secepatnya. Kumpulkan data mengenai persedian pangan di seluruh negeri dan berikan laporannya kepadaku secepatnya!” Kaisar memerintahkan kepada Penasehat istana.

 

Ucapan Kaisar membuat pemilik warung dan pelayannya gembira. Mereka bersujud dan mengucapkan terima kasih kepada Kaisar berkali-kali. Putri Ping Hua, Permaisuri dan Penasehat istana terlihat lega dengan keputusan Kaisar yang bijaksana.

 

“ Dan nasi yang kita makan tadi apakah menurut Ayahanda sangat lezat?” Putri Ping Hua bertanya dengan hati-hati.

“Yah, nasi yang tadi kita makan sangat lezat. Maka dari itu Ayahanda ingin membeli beras yang mereka hasilkan. Ayahanda membayar dengan harga yang pantas, bukankah itu suatu kehormatan bagi mereka?” Sang Kaisar menatap putrinya dengan bingung.

 

“Ayahanda ketahuilah makanan yang kita makan disaat kita lapar adalah makanan yang terlezat di dunia. Dan makanan yang sehat serta tidak berlebihan itulah makanan yang membuat tubuh sehat dan awet muda.” Putri Ping Hua menahan nafas, berharap ayahandanya tidak murka.

“Selama ini kita makan makanan yang berlebih di istana. Walaupun perut belum lapar, kita menjejali perut kita dengan makanan. Kita sudah lupa caranya menikmati dan menghargai makanan tersebut, Ayahanda.” Permaisuri kali ini menutup kedua belah tangannya dengan cemas. Dia tidak mengira putri kecilnya begitu dewasa. Berusaha menjelaskan arti dari kelezatan makanan itu sesunguhnya kepada mereka yang seharusnya memberi contoh.

 

“Dan kesabaran ketika menikmati makanan serta makan dengan hati riang serta bersama orang-orang yang kita kasihi adalah harta yang tidak ternilai,” kembali Putri Ping Hua melanjutkan ucapannya. Dilihatnya Kaisar masih terdiam.

 

Wajah Kaisar terlihat berubah dari wajah penuh murka lama kelamaan melunak dan tersenyum.

“Saya merasa sangat beruntung kali ini. Beruntung karena diingatkan kembali tentang arti dan kelezatan makanan yang sesunguhnya oleh putri kecilku. Kamu memang putri seorang Kaisar. Pemikiran dan hatimu sangat indah, putri kecilku,” Kaisar memeluk Putri Ping Hua dengan penuh kasih sayang.

“Dari mana kamu temukan semua arti kelezatan sesunguhnya ini?” tanya Kaisar penasaran.

 

“Kemarin, ketika aku sibuk mengumpulkan informasi tentang makanan yang lezat di perpustakaan hingga lupa waktu dan lupa makan. Ketika perutku keroncongan hingga pingsan. Saat Tabib Yang mengatakan makanan yang sehat, seimbang dan dimakan dengan perasaan gembira adalah makanan terlezat dan yang akan membuat tubuh kita sehat serta panjang umur. Saat itulah aku mendapatkan ide untuk melakukan semua ini.” Putri Ping Hua tersenyum lega. Ayahandanya tidak murka. Bahkan memuji dirinya.

 

Sekali lagi Putri Ping Hua menguji keberuntungannya. “ Selain itu saya ingin mengajak Ayahanda melihat rakyat yang dilanda kelaparan akibat perubahan cuaca. Ibunda, sangat mencemaskan keadaan ini. Tapi belum menemukan cara untuk menyampaikan kepada Ayahanda, karena Ayahanda terlalu sibuk dengan ….” ucapan Putri Ping Hua terhenti sejenak.

“Saya, sibuk? Yah, Ayahanda memang terlalu sibuk dengan urusan kerajaan sehingga jarang berbicara dengan Ibundamu lagi,” Kaisar menatap istrinya dengan penuh cinta.

“Bukan itu saja, Ayahanda. Sebenarnya ini mengenai pencarian makanan terlezat serta yang bisa membuat awet muda itu,” ucap Putri Ping Hua.

“Apakah Ayahnda akan melanjutkan pencarian itu?” tanya Putri Ping Hua.

 

“Tidak. Karena Ayahanda telah menemukan makanan terlezat dan yang tersehat. Nasi putih atau makanan apapun itu bila dimakan ketika tubuh kita membutuhkan serta memiliki gizi yang baik, tidak berlebih namun seimbang adalah makanan terlezat dan yang membuat kita panjang umur,” Kaisar memeluk Putri dengan erat.

“Dan lagi, Ayahanda tidak ingin kamu kerjai hingga perut keroncongan lagi!” tawa Kaisar membuat Putri Ping Hua dan Permaisuri ikut tertawa.

 

Putri Ping Hua gembira karena rencananya kali ini berhasil dengan baik. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

ko emak kereeen sih tulisannya :D

100

wah, masukan baru nih
nice :)

100

ini perenungan bagi saya. Ceritanya bagus :D

80

bagus sekali

90

wah emak.. :D

80

Bagus, Bu. Tapi entah napa sang putri terkesan menggurui ayahandana :)

90

Setahu saya makanan yang telah dimakan oleh para petinggi kekaisaran, yang jumlahnya berpuluh-puluh macam untuk satu kali makan itu, bisa diberikan kepada para kasim deh. Terserah kebaikan hati si empunya makanan. Karena para kasim kekaisaran sendiri cuma dikasih ubi beberapa potong. untuk makan sehari-hari Ermmm, itu dapetnya di Empress Orchid sih. Ehehehe.
.
Dan dongeng ini memiliki kesan moral abis. Tapi tetap menyenangkan untuk diikuti. :D

Heem seingat saya Kasim ada banyak tingkatan.

Dan mereka hidup cukup baik. Dalam arti mendapatkan fasilitas yang cukup.

Apalagi kasim-kasim senior.

Dan ketika melihat film-film tentang penyajian makanan di istana tetap saja bagiku sangat berlebihan.

Seekor ayam utuh untuk setiap orang.

Mubazir sangat kan.

ː̖́ټ..ћέ²..ټ..ћέ²ː̗̀(*)ː̖́..ټ..ћέ²ټː̗̀

Terima kasih telah singgah.

90

ah ngiri sama mbak catz yang selalu bisa bikin dongeng indah dari hal-hal yang simple..

90

Saya suka ceritanya. Pesan moralnya juga dapat.

90

.... :|
Saya keasikan baca ini sampai lupa makan. *ngemil nasi* ...ah, emang enak T__T

80

Dongeng untuk anak tapi bahasanya lebih dewasa. Yah pesan moralnya sampai sih ^^

70

Dongeng anak yang bagus, walau kalimat-kalimatnya masih terlalu baku untuk anak-anak

90

Bagus mak <3 <3
pesan moralnya dapet, pas buat anak2

100

Karena udah ada yang menyinggung soal typo, saya no comment deh
.
Ini cocok banget buat cerita anak-anak, mengingatkan mereka bahwa kita perlu makan dan menghargai makanan apapun (pengalaman punya adek-adek yang susah disuruh makan), hehehe..
Hmm, sejauh ini, mungkin baru ini ya yang alih-alih fokus ke 'makanan'nya, justru lebih ke 'pesan moral'nya?
.
Anyway, thanks for the story~!

ː̖́ټ..ћέ²..ټ..ћέ²ː̗̀(*)ː̖́..ټ..ћέ²ټː̗̀

Saya fokus ke nasi putihnya lho.

Yup, cerita ini untuk cerita anak.

Saya punya seorang bocah yg susah disuruh makan.
Jd ini adalah cerita yang kupikirkan untuk dirinya nantinya.

20

Nasi putih tanpa lauk, kalo dikunyah terus, lama2 jadi manis ^^... ceritanya manis ^^

Nasi putih tanpa lauk, kalo dikunyah terus, lama2 jadi manis ^^... ceritanya manis ^^

90

hehe, saya sdh duga akan begini akhirnya ^^
pesan yg disampaikan itulah yg menonjol. walaupun cuma ubi sekalipun, ttp aja enak pas perut qta lagi keroncongan
#angguk2
bagus mbak, saya jga jadi ingin makan nasi putih tnpa lauk. kebeneran, saya lapar. ehehehe
.
Mentri --> Menteri
Menyanyangi --> menyayangi

Sebenarnya ini ditujukan untuk dongeng anak2.

Terlalu simple yah. Semoga saja tidak membosankan. #hikz#

Ah beneran kalo lagi lapar, makanan apapun terasa enak.
Makan nasi putih ama garam pun terasa enak.

Thx, akan saya edit typonya sesegera mungkin.