Hingga Fajar Kemudian [bagian 3]

Setelah masuk ke rumah Tasya segera memutar keran bathtub, mengisinya dengan air hangat. Tubuhnya nyaris membeku dengan hanya berdiri di tengah hujan selama beberapa detik, meski sudah menggunakan payung. Hujan menjelang musim dingin memang tidak kalah dengan salju.

Dimatikan keran itu ketika air sudah dua pertiga penuh, menuju kamar untuk mengganti pakaiannya dengan baju mandi, dan kembali untuk berendam—mencelupkan seluruh tubuh ke dalam air untuk beberapa detak jantungnya. Tasya tidak pernah merasa lega seperti itu sebelumnya, hingga sesaat masalah Doni yang ingkar janji, restoran Lan Tian-e, dan pertanyaan misterius hari itu lenyap dari pikirannya. Sesaat.

Tidak lama kemudian, setelah kepalanya menyembul dari dalam air, samar-samar Tasya mendengar suara alunan musik. Dia mengenali musik itu sebagai dering ponsel untuk nomor milik Pak Wang. Sontak saja dia kembali teringat akan kehebohan kecil beberapa jam yang lalu. Tasya pun memutuskan untuk menyudahi waktu berendamnya yang singkat.

Setelah kembali mengenakan baju mandi putih dan tebal, Tasya mengambil ponselnya yang ada di atas meja lorong ruang keluarga. Dia selalu menaruhnya di sana.

Tasya menilik layar ponsel itu sembari berjalan menuju dapur untuk membuat teh hangat. Benar, ada notifikasi telepon tidak diangkat dari Pak Wang. Pak Wang pasti marah soal kejadian tadi, batinnya.

“Halo?” kata Tasya setelah menelepon balik nomor Pak Wang.

“Halo, Tasya,” balas suara di seberang sambungnya yang terdengar seperti berasal dari jarak yang sangat jauh.

“Maafkan aku soal kejadian tadi di restoran Anda. Aku tidak bermaksud membuat keributan di sana.”

“Oh, sudahlah. Itu bukan masalah. Rennie memang begitu orangnya.”

Rennie? Mungkin itu nama si gadis pelayan, pikir Tasya. “Apa kau memecatnya?”

“Tidak. Aku memang sedikit tidak suka dengan sikapnya. Tapi, tentu saja aku tidak akan memecatnya begitu saja. Walau, mungkin aku akan sedikit memberinya hukuman jika kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Apa dia berkata kasar padamu?”

“Tidak,” Tasya berbohong. Namun kemudian mencari pembenaran agar dosanya lebih ringan, pikirnya. “Dia tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuatku marah dan hilang kendali,” katanya, lalu tertawa.

“Baguslah. Rennie itu, dia anak teman lamaku di sini. Kedua orang tuanya bercerai lalu meninggal tidak lama kemudian. Dan anak itu juga baru saja keluar dari penjara. Sebenarnya dia anak baik. Aku yakin itu. Hanya saja, sikapnya masih sedikit kasar.”

Teko bersiul keras di atas kompor. Tasya mematikan api dan menuangkan air panasnya ke dalam gelas yang sudah bersisi se-sachet teh. “Berapa umurnya? Rennie ini?”

“Delapan belas. Ya, dia masih muda dan berapi-api. Seperti temanmu Nina, beberapa tahun lalu.”

Tawa Tasya meledak seketika. “Maaf. Tapi, ya, aku mengerti maksud Anda. Sikap Nina memang keras sejak dulu, hingga sekarang. Bahkan setelah dia sudah menjadi seorang model papan atas.”

Tasya ingat, sepuluh tahun lalu Nina juga pernah membuat keributan di restoran milik Pak Wang. Namun pokok masalah waktu itu sudah mulai samar di belakang kepalanya.

“Kau baik-baik saja, Tasya?”

“Ya, aku baik-baik saja. Hanya teringat masa lalu. Terima kasih sudah menanyakan. Dan sekali lagi aku minta maaf.”

“Sudahlah,” kata Pak Wang, yang bisa dibayangkan oleh Tasya kalau pria tua itu berbicara sembari melambaikan tangan.

“Kalau begitu sampai nanti, Pak Wang. Dan semoga Anda sehat selalu.”

“Kau juga, Tasya. Kau juga.”

Tasya memutuskan sambungan telepon dan menghela napas lega karena ternyata Pak Wang tidak marah soal apapun. Dia menyeruput teh tawar yang terasa pahit. Dia mengernyit, lalu kembali menyesap minuman herbalnya itu sebelum duduk di salah satu kursi dapur.

Sekali lagi dia mengamati layar ponsel. Kenyataan belum ada telepon dari Doni membuat kelegaan di dalam dadanya sedikit berkurang. Tasya mulai berpikir apakah dia harus menelepon kekasihnya itu atau tidak.

Tidak, putusnya. Buat apa menelepon orang yang jelas-jelas membatalkan janji sepihak. Dan lebih lucu lagi Doni malah memberitahu asisten Nina, bukannya menghubungi langsung dirinya. Tasya mendengus, menyeruput tehnya lebih banyak, lalu mengumpat karena lupa kalau minumannya itu masih cukup panas.

Ponselnya berdering lagi. Kali ini dari nomor tidak dikenal. Mungkinkah itu Doni?

“Halo?” tanya Tasya setelah memutuskan untuk menerima panggilan.

“Halo, Nona,” ucap suara wanita di seberang sambungan. Dari logatnya Tasya langsung mengenali dengan siapa dia berbicara.

“Bu Mendez. Bagaimana liburanmu?”

“Baik, Nona. Menyenangkan.”

“Bagus. Aku senang mendengarnya.”

“Ah, maaf, Nona. Saya tidak bisa menelepon lama-lama. Saya hanya mau bilang saya akan tiba besok pagi-pagi sekali. Kuharap aku tidak mengganggu tidur Nona nanti.”

“Oh, tidak, Bu Mendez. Tentu saja tidak. Kau tahu aku selalu bangun pagi-pagi sekali, bukan?”

“Ya, aku tahu. Syukurlah. Kalau begitu, sampai ketemu nanti, Nona.”

“Ya, Bu Mendez. Sampai nanti.”

Singkat, namun Tasya senang mendengar suara pambantunya itu. Bu Mendez sudah lama bekerja untuknya. Dia bertemu wanita itu di sebuah acara amal, diperkenalkan oleh seorang teman dari sebuah organisasi kemanusiaan. Bu Mendez waktu itu hampir saja dideportasi karena datang dengan surat-surat tidak resmi. Namun Tasya, bersama Doni, bersikeras menolongnya, mengurus birokrasi pindah kewarganegaraan untuk Bu Mendez. Dan tentu saja mereka berhasil. Tasya bersyukur Doni punya cukup banyak kenalan berpangkat tinggi di kantor imigrasi.

Namun itu tidak menghapus kekesalan Tasya pada Doni yang tidak datang ke restoran Lan Tian-e.

Tasya beranjak dari tempat duduknya setelah menghabiskan teh yang mulai dingin. Dia mengganti baju di kamar dengan dengan sesuatu yang tebal dan hangat, lalu duduk di ruang keluarga setelah menyalakan perapian dan televisi layar datar. Ponselnya dia taruh di meja di samping sofa.

Beberapa kali Tasya mengganti saluran acara televisi, hingga akhirnya berhenti di sebuah pertunjukan musik klasik. Dia butuh ketenanngan. Dia butuh suasana yang bisa membuatnya melupakan masalah hari ini sejenak.

Tidak lama kemudian, Tasya sudah memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya.

 

****

Read previous post:  
67
points
(808 words) posted by xenosapien 6 years 44 weeks ago
74.4444
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | metafisika | light horror | mistery | pulang kampung | suspense
Read next post:  
Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (5 years 10 weeks ago)

Karena bagaian ini emang dipotong cuma 800-900an kata. Jadinya ya singkat. Hahaha.... XD
.
Ayo, baca sampai selesai, Mel. ^^/

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 30 weeks ago)
80

Mmmm. aku mulai gk suka si resto disebut trlalu sering. tp smg ini ada alasannya :p

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 30 weeks ago)

Si Resto? Si pemilik resto, maksudnya?

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 30 weeks ago)

Bukan. restorannya trlalu sering disebut gt...

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 30 weeks ago)

Ahahaha... Banyak kesebut ya? Di bagian ini Lan Tian-e cuma muncul 2 kali, lho. :D
.
Ah, itu cuma bagian dari world building aja. :P

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 30 weeks ago)

Ahhh bgitu ya. mgkin krn aku sekali baca semua cerita ini. dan brp x tepatnya di sebut di bagian2 lalu? *sori ol pke hp gk bs ctrl find*

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 30 weeks ago)

Bagian pertama cuma ada 1, bagian dua ada 1. Jadi total dari bagian satu sampai tiga cuma ada 4. ^^a

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 30 weeks ago)

Ahhh bgitu ya. mgkin krn aku sekali baca semua cerita ini. dan brp x tepatnya di sebut di bagian2 lalu? *sori ol pke hp gk bs ctrl find*

80

fuh... lambat tpi ttp aja menarik n sukses bkin Q ketagihan baca.
.
Ada kalimat ambigu nih kak: Setelah masuk ke rumah Tasya segera memutar keran bathub, ...

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 43 weeks ago)

Hee? Ambigu bagaian mananya? Itu aku buat kalimat yang melompat satu garis waktu. Jadi frasa "Tasya masuk rumah" itu kuharapkan dengan jelas bisa dibayangkan Tasya melewati pintu dan menutupnya. Lalu frasa "segera memutar keran bathhub" itu tentu saja Tasya harus ke kamar mandi dulu baru bisa mengisi bak mandinya dengan air. ^^

Writer Alfare
Alfare at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 43 weeks ago)
80

=.= Udah lagi? Haaaah.

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 43 weeks ago)

Ayooo, baca lajutannya, Al!

Writer cnt_69
cnt_69 at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 44 weeks ago)

Jangan lama2 lanjutannyaaa.... >.<

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 44 weeks ago)

Hehehe... Sabar. Satu hari satu bagian. :P
Makasih dah mampir. :)

Writer cnt_69
cnt_69 at Hingga Fajar Kemudian [bagian 3] (6 years 44 weeks ago)
80

Jangan lama2 lanjutannyaaa.... >.<