Battle of Realm Leonardo Rhemusta Aldino Vs Al (Berhentilah di sini Al!)

 

 

Battle of Realm

Leonardo Rhemusta Aldino

Vs

Al

(Berhentilah di sini Al!)

 

Seorang bocah dengan seragam SMA dan berjaket hitamnya sedang duduk di sebuah kursi di bawah pohon beringin yang tampak rindang. Di pangkuan bocah yang tak lain adalah Al itu terpampang sebuah laptop yang dengan asyik dimainkannya.

Al menatap penuh konsentrasi kepada layar laptopnya sambil ketar-ketir menunggu lawannya sampai pada tempat itu. Yah… tempat Battle Al dengan lawannya adalah di sebuah halaman sekolah menengah atas bertaraf internasional di negara yang sebuah negara bernama Indonesia.

Tiba-tiba saat Al sedang serius dengan laptopnya, dia merasakan adanya aura mencurigakan yang semakin mendekatinya dari depan.

Dia datang, pikir Al.

Nafas Al tertahan setiap kali derap langkah sosok bernuansa suram itu semakin mendekatinya, namun Al sama sekali tak berniat berpaling dari Laptopnya.

Deg…

Langkah sosok itu terhenti di hadapan Al yang masih menatap layar laptopnya. Merasa bahwa pertarungannya sudah dekat, AL dengan cepat mengaktifkan sebuah software khusus pada laptopnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya sosok di hadapan Al.

Al melirikkan matanya menatap bayangan dari aoaok itu di tanah, dan saat itu Al menelan ludahnya dengan kasar. “Tentu saja menunggumu, bodoh. Kau pikir apa lagi?” kata Al.

“Yang kau sebut bodoh itu aku?” kata pria di hadapan Al, dan dari bayangan yang dilihat Al, pria itu kini berkacak pinggang. “Kau cari mati?”

“Hey, jangan anggap remeh aku!” bals Al sambil berpaling menatap pria di hadapannya. Dan seketika itu dia terkejut. “Eh, kau… Iblis itu? Kau lawanku?” tanya Al tak mengerti.

Al heran mengapa orang yang bernama Leo, yang menjadi lawannya, yang harusnya bersosok seram kini terlihat cukup gendut, berbaju putih ketat dengan celana hitam, juga memiliki kumis tebal. Satu lagi, yang Al ketahui Leo bersenjatakan pedang besar. Tapi yang dilihatnya kini hanya ada sebuah pentungan hitam.

Al menatap baik-baik sosok Leo yang aneh itu. “Se…ccu…ri…ty?” eaj Al saat menatap tulisan di dada kiri Leo. “Warman?” kata Al lagi saat membaca nama sosok Leo yang aneh itu.

“Kau memanggilku Iblis?”

“KYAAAAA….. kau itu satpam?” teriak Al kaget sambil melompat ke belakang.

“Kau pikir apa? Iblis?” teriak satpam itu. “Kau bukan siswa di SMA ini. Apa yang kau lakukan?” bentak sang satpam sambil memutar-mutar pentungannya.

“Eh… anu…” ucap Al sambil garuk-garuk kepala.

Tak lama setelah itu sebuah suara berkelebat muncul bersambut dengan suaran benda tajam yang menghujam kulit. Hal itu seketika saja membuat Al terkejut setengah mati. Matanya membelalak tak percaya saat menatap satpam di hadapannya itu tertikam sebuah pedang besar oleh seseorang di belakang satpam. Sebelum satpam itu sempat menjeritkan sakitnya, pedang yang menikamnya tercabut dan terayun memenggal kepalanya.

“Singkirkan orang yang tak berguna!” ucap sosok di balik tubuh satpam tanpa kepala itu parau.

“Dia!... Kau!...” panggil Al terkejut saat menatap sosok berjubah hitam penuh sayatan itu. Seketika angin berhembus kencang hingga mengelebatkan jubah pria hitam itu.

“Jadi bocah ingusan seperti kau yang harus kubunuh selanjutnya di turnamen ini?”

“KEJAM SEKALI KAU!” bentak Al penuh emosi saat melihat betapa santainya sosok di hadapannya setelah membunuh satu orang.

“Kau ingin menyusulnya?” kata pria yang tak lain adalah Leo sambil menghunus pedangnya ke arah Al yang seketika itu terkejut.

Andai saja sekarang belum tiba waktu libur sekolah, berapa banyak orang yang akan dia bunuh di sekolah ini? Pikir Al sambil menatap mayat satpam yang telah jatuh tersungkur bersimbah darah.

Al mengepalkan jemarinya erat dan menatap leo dengan begitu tajam. “Sebenarnya apa tujuanmu ikut ambil dalam turnamen ini?” teriak Al penuh keteguhan.

Leo menurunkan pedangnya dengan terkekeh keras, lalu dia berjalan menjauhi AL sambil melepas jubah hitam penuh sayatannya, hingga sosoknya yang tinggi tegap berbusana kemeja hitam berlengan panjang dengan jaket rompi putihnya terlihat jelas.

“Jawab aku!”

“Untuk membunuh kalian semua!” Leo berhenti dan memalingkan kepalanya hingga mata kirinya yang tertutup rambut hitamnya menatap penuh misteri kepada Al yang saat itu terperanjat. “Untuk merubah seluruh semesta menjadi bagian dari Jahanam, aku harus membunuh semua orang seperti kalian.” Leo mengibaskan pedangnya ke arah Al hingga kobaran api tercipta dan meluncur menuju Al.

Dengan tenang Al memainkan jemarinya pada laptopnya, dan hanya dengan gerakan menghindar pelan, dia dapat menghindari kobaran api dari Leo. “Kau merasa kami tak pantas hidup padahal sebenarnya Iblis layaknya dirimulah yang tak pantas hidup,”

Al mengatur sebuah program softwarenya hingga dalam beberapa detik waktu seolah berjalan terbalik, dan kobaran api dari Leo kini mengitari Al sebelum akhirnya terhempas ke arah Leo.

Leo menebas api hingga saling terhempas ke segala arah dengan senyum sinis untuk Al. “Mungkin ini akan menarik,” Leo berlari cepat menuju Al dengan sebuah tebasan pedang.

Al melompat ke samping menghindari tebasan yang saat itu menerjang tanah dan mengobarkan api ke segala arah. Leo mengayunkan pedangnya ke arah Al hingga api yang sebelumnya menyeruak ke segala arah kini berkobar deras kepada Al.

“Kulihat reaksimu,” ucap Leo.

Al kembali melompat menjauhi serangan Leo dan kini berdiri penuh diam memunggungi Leo.

“Wah… aku cukup kecewa,” olok Leo.

“Hanya untuk menghadapi Iblis keji sepertimu, aku sampai batal mendownload episode 65 Fairytail,” gumam Al kesal. “menyebalkan,” dia mulai memainkan jari pada laptopnya untuk memprogram sebuah sistem. “Karena itu terimalah sihir mereka!”

Enter.

Sekejap di bawah kaki Leo muncul sebuah diagram sihir berlambangkan kristal salju berdiameter sekitar 6 meter. Leo yang seketika itu sadar segera melompat ke udara begitu tinggi, dan saat itulah dari diagram sihir bermunculan stalagmit-stalagmit es yang seketika itu saling terhempas menuju Leo yang masih melambung di udara.

“Sial!” dengan pedang, Leo menepis setiap stalagmit es yang terhempas berunutun kepadanya. Semua tebasan Leo begitu akurat menerjang wujud es-es itu. “Ini bukan sekedar es. Ini kristal es,”

Ribuan bongkah kristal es terus terhempas dari diagram sihir ke arah Leo, akan tetapi seberapa banyak bongkah itu berhamburan, Leo selalu saja menebasnya hingga bongkah-bongkah es saling remuk dan terpecah ke berbagai arah.

Leo menebas sebongkah kristal es terakhir hingga bongkah itu terbelah, namun saat itulah keseluruhan dari remukan kristal es saling berterbangan ke arah Leo dari berbagai penjuru. Leo menggunakan sebongkah es yang melintas di bawahnya untuk pijakannya melompat lebih tinggi menghindari ribuan bongkah yang saat itu saling berterjangan dan berpadu menjadi sebongkah kristal es yang lebih besar.

Al kembali memainkan program laptopnya hingga bongkah raksasa di udara itu terhempas kencang ke arah Leo.

“Mainan anak-anak,”

Leo menjunjung tinggi pedangnya hingga pedang itu berselimut api, kemudian dia menebas bongkah kristal raksasa itu. Seketika bongkah tersebut terhempas deras menuju Al, dan dalam perjalanannya bongkah kristal itu terbakar api yang begitu membara hingga wujud bongkah itu berubah menjadi bongkah kristal api yang dengan deras menuju AL yang saat itu masih berkonsentrasi pada laptopnya.

“Done.”

Enter.

Cahaya kebiruan muncul di bawah kaki Al, dan sedetik kemudian muncul sesosok naga mekanik di mana Al kini berada pada punggungnya. Naga mekanik itu meraung keras dan segera membuka lebar rahangnya untuk menahan terjangan keras bongkah kristal api yang kini menerjang dan berputar cepat di rahang naga itu. Saking kuatnya dorongan dari kristal api, naga beserta Al terdorong mundur cukup cepat, meski demikian beberapa detik setelahnya naga mekanik itu memuntahkan kristal api ke tanah jauh di sampingnya, dan begitu berterjangan dengan tanah ledakan dahsyat terjadi.

“Aku takkan kalah dengan Iblis sepertimu,” teriak Al, dan seketika itu naga mekanik yang ditungganginya meraung keras sambil mengibaskan sayapnya hingga dalam sekejap naga beserta Al telah membumbung tinggi di udara sementara Leo telah terjatuh ke tanah.

“Lalu kau pikir aku mau kalah dengan bocah sepertimu?” Leo mengibaskan pedangnya ke arah Al hingga api terhempas cepat menuju Al yang dengan mudah menghindar.

Al memainkan jemarinya di laptop hingga sebuah sinar mulai muncul di celah rahang naga mekaniknya. Cahaya itu kian terang seiring dengan jemari Al yang semakin cepat menari pada keyboard laptopnya. “Terima ini!”

Enter.

Naga mekanik Al meraung keras beriring dengan sebuah semburan cahaya biru yang terjulur cepat dari rahangnya kepada Leo.

Leo memutarkan pedangnya hingga api muncul di sekitarnya, kemudian dia menjulurkan pedangnya ke atas untuk memerintah ap agar berkobar semakin membara dan saling bergulung ke arah cahaya dari naga yang saat itu berterjangan keras dengan api Leo.

“Huh?... api bisa menahan cahaya?” tanya Al terkejut. “Baiklah, sambungnya sambil mempersiapkan sebuah program lain.

Cahaya yang bagaikan pilar itu terpancar kian terang, namun pertahanan api dari Leo tak kalah kuatnya dengan cahaya. Leo bahkan belum terlihat berkeringat sedikitpun.

Al menekan enter pada laptopnya dan sedetik berikutnya setiap rekatan pada naga mekaniknya saling melonggar dan terlipat-lipat. Kepala naga yang terus memancarkan cahaya ke arah Leo terpisah dari tubuhnya yang masih terus telipat membentuk wujud baru, dan tak lama setelahnya kepala itu beralih fungsi menjdi lengan kanan dari sebuah human robotic dengan Al yang kini duduk di dalam dada robot tanpa kepala itu. Seiring dengan mewujudnya robot, serangan cahaya biru itu masih terus terpancar menekan Leo yang kini mulai terlihat sempoyongan.

“Mari lihat bagaimana kau menerima tekananku!” ucap Al sambil memainkan jari pada keyboard.

Punggung robot Al terbuka dan dari dalamnya muncul sebuah jet yang dengan segera mendorongnya cepat ke arah Leo.

“Sial!” umpat Leo yang kini jelas kualahan menerima tekanan cahaya dari sosok mekanik yang terus terbang ka arahnya. Cahaya biru itu terus terpancar dan semakin memendek setiap kali jarak robot Al dengan Leo semakin dekat, dan hal itu membuat cahaya semakin padat dan terang, sebelum pada akhirnya cahaya itu meledak begitu dahsyat.

Robot Al berpijak keras di tanah tepat pada pusat ledakan yang saat itu mampu menghempas Leo begitu jauh hingga dengan sangat keras Leo menerjang dan menembus remuik sebuah dinding bangunan sekolah.

“Aku mulai. Iblis,”

Enter.

Human robotic Al menjulurkan lengan kanannya ke arah gedung di mana Leo kini berda, dan cahaya segera terkumpul di hadapan tangan itu menjadi sebuah bola cahaya biru yang sangat besar.

Enter.

Bola cahaya itu dengan kencang melesat ke arah gedung tempat Leo berada kini. Leo yang telah berdiri di dalam gedung hanya dengan tenang menatap lesatan bola cahaya yang bertenaga tekan sangat tinggi itu.

Sedetik sebelum bola cahaya menerjang gedung, terlebih dahulu bangunan itu hancur berkeping menerima tekanan bola cahaya itu, dan karenanya Leo mengerahkan seluruh tenaganya untuk menebas bola cahaya hingga ledakan menggelgar tercipta sedemikian dahsyat. Api saling terhempas ke segala penjuru bercampur dengan sisa-sisa cahaya. Getarannya bahkan sampai memecahkan setiap kaca jendela di gdeung lain sekolah yang luput dari ledakan.

“Kurang ajar!” teriak Leo sambil mengibaskan pedang hingga ledakan api saling terbelah ke arah robot Al. “Aku datang!” sekejap sosok Leo muncul di hadapan robor Al dengan sebuah tebasan yang ditangkis dengan tangan kiri robot Al, akan tetapi saking kuatnya tebasan itu, Al beserta robotnya terhempas ka belakang begitu cepat.

Sosok mekanik itu terpelanting cepat menerjang hancur sebuah ring basket, dan terus terhempas hingga menerjang hancur sebuah dinding gedung sekolah. Kini robot Al terjepit di antara lantai yang memisahkan lantai tiga dengan lantai empat gedung itu.

“Matilah bocah!” teriak Leo sambil menjunjung tinggi pedangnya. Seketika itu api dari ledakan sebelumnya saling terhempas bergulung-gulung menuju Al beserta robotnya yang masih terjepit.

“Sial,” umpat Al yang masih sibuk dengan pengaturan program laptopnya. “Aku pergi,”

Enter.

Jet di punggung robot Al kembali aktif dan membawanya terbang menembus dinding ke udara begitu cepat. Bersamaan dengan itu gelombang api dari Leo menerjang gedung dan melahapnya dengan cepat hingga gedung sekolah itu terbakar oleh api yang begitu membara.

“RASAKAN!” Leo mengibaskan pedangnya hingga seluruh api yang membakar hangus gedung sekolah itu meluap dan menyembur keluar secara bersamaan dan berkobar bagai gelombang api ke arah robot Al.

Al mengendalikan robotnya untuk terbang ke atas menjauhi gelombang api yang saat itu juga berkobar sedemikian membara ke atas. Semburan api mahadahsyat itu terus bergulung-gulung mencoba melumat Al yang terus mencoba menghindar. Sementara itu di dalam robotnya Al juga sedang mempersiapkan sebuah program untuk bisa lolos dari nlautan api itu.

“Masih bertahan?” ejek Leo dan berteriak begitu keras sambil menjulurkan pedangnya ke arah gadung lain hinjgga api saling menyeruak membakar seisi gedung itu.

“Sial… sial…” ucap Al yang disamping terus berusaha menghindari api juga harus berkonsentrasi memprogram sistem barunya.

Leo berteriak keras sambil menjulurkan pedangnya ke atas hingga api dari gedung yang baru saja dibakarnya saling meluap keluar dan bergulung-gulung mengejar Al di dalam robot yang terus dengan lincah menyusup di antara lautan api yang berusaha melumatnya.

Tak berselang lama, seluruh lautan api yang bergulung-gulung mengincar Al di langit itu berhasil mengepung Al beserta robotnya dan dalam sekejap saling berpadu satu sama lain untuk mengurung Al dalam wujud bola api mahabesarnya yang saat itu berputar tiada henti menenggelamkan sosok Al.

“Kuharap tak hanya sampai di sini!” ucap Leo sambil menjunjung pedangnya.

“Done!”

Enter.

Leo menarik pedangnya ke samping, dan dalam sekejap bola api mahabesar di atas sana meledak begitu dahsyat hingga api terbentang ke segala arah, namun api yang terbentang itu serta-merta mewujud menjadi sepasang sayap api raksasa dan bertambat pada bahu Al yang saat itu melayang di udara.

Leo terperangah menatapnya. Matanya membelalak begitu lebar menatap Al yang melayang di udara dengan sayap apinya yang terbentang puluhan meter.

“Kubunuh kau, Iblis!” teriak Al keras sambil berputar di udara untuk memutarkan sayap apinya. Putarannya dari lambat itu kini berangsur cepat, lebih cepat dan semakin cepat hingga sayap apinya terkibas memutar bagitu kencang bagaikan lingkaran cahaya bara yang begitu besar. “MATILAH!”

Putaran sayap Al mulai oleng dan perlahan menghadap ke arah Leo dan dengan begitu cepat melesat ke arah Leo.

“Kurasakan.” Leo menatap tajam Al beserta putaran sayap apinya yang kian mendekatinya. Rambut Leo merona merah dan tersibak kencang oleh tekanan piringan api itu. Tak sampai sedetik piringan sayap api itu menerjang tebasan pedang Leo, hingga ledakan api yang begitu dahsyat tercipta. Api saling bergejolak ke segala arah memenuhi tempat itu.

Al yang merasa pusing kibat putaran cepat itu terjatuh merunduk. Seluruh dunia terasa berputar olehnya, dan parahnya di antara dunia yang berputar memusingkannya itu dia mampu menatap sosok Leo yang memanggul pedang besarnya di antas sisa-sisa ledakan api.

“Api adalah rumahku, bocah. Kau tak bisa melukaiku dengannya,” olok Leo.

Saat itulah terdengar sirine panjang yang kian lama kian mendekati pertarungan yang telah penuh api dan kehangusan. Mungkin adalah kumpulan mobil pemadam kebakaran dan beberapa polisi.

“Pengganggu!”

Leo menghentakkan tubuhnya hingga api terbentang dari tubuhnya ke segala arah, terus melebar melewati gedung-gedung sekolah dan menyambar puluhan pasukan pemadam api serta beberapa mobil pemadam.

Ledakan tercipta dengan kerasnya dari mobil-mobil pemadam, dan api ledakan membumbung tinggi ke langit.

“Aku terkejut dengan kemampuanmu, Al. tapi hanya sampai di sini keterkejutanku,” kata Leo sambil menjunjung tinggi tangan kirinya ke atas.

Api yang membumbung tinggi itu kini bergulung-gulung menuju langit di atas pertarungan, dan dengan sekali kibasan tangan, seluruh api menggumpal menjadi bola api dan terlempar ke arah Al.

Al bangkit dan berlari menghindari bola api yang sata itu menerjang tanah dan meledak keras. Saking keras dan dahsyatnya, Al yang masih berlari terjungkal dan membentur puing-puing gedung yang runtuh.

Leo mengibaskan pedang ke arah Al hingga api meluncur deras menuju bocah yang saat itu berlari menghindari api dan bersembunyi di balik sebuah puing gedung.

“Apa yang harus kulakukan?... aku terlalu—“

Pemikiran Al terhenti saat api menerjang puing tempatnya berlindung.

“Siapa?... kira-kira siapa yang bisa mengalahkan Leo?” gumam Al sambil mengutak-atik laptopnya mencari harapan sementara api dari Leo masih berkali-kali menerjang puing tempatnya berlindung. Jelas Leo bermain-main dengan serangannya itu.

“Ada jalan. Tapi memerlukan lebih banyak waktu untuk mengaksesnya. Juga harus ada satu nama. Juga harus… tunggu! Aku dapat mempersingkat waktu dengan banyak penginstalan dari satiap bagian yang diinstal. Bila ada sepuluh bagian yang harus diinstal, untuk melakukannya dengan satu laptop ini akan memakan waktu lama, kalau begitu aku perlu minimal sepuluh komputer,”

Al tersenyum dan terus mengutak-atik laptopnya. “Harus mencari satu nama, dan mengalihkan perhatian Leo agar aku sampai ke lab komputer. Mudah-mudahan belum hancur terbakar!” Al menekan enter hingga sebuah sinar muncul di kedua sepatunya.

“Sebenarnya siapa yang kau incar, Leo?” teriak Al tiba-tiba hingga serangan Leo terhenti. Al bangkit dan memunggungi Leo yang saat itu berjalan mendekatinya.

“Apa maumu?” tanya Leo.

“Apa maumu?” tanya Al keras. “Jika memang kau ingin membawa Neraka ke semesta ini, dan membunuh semua petarung di turnamen ini agar mereka tak menyulitkanmu, kurasa dengan kemampuanmu itu kau dapat dengan mudah membunuh kami semua. Tapi kau justru memilih mengikuti turnamen dan membunuh satu-per-satu…” kata Al yang masih memunggungi Leo yang terus mendekat. “Jelas kau bermain-main,” sambungnya dan berdeham pelan.

“Apa benar kau mau tahu?” tanya Leo yang saat itu dua langkah terhenti di belakang Al. “Aku ingin menikmati turnamen ini—“

“Siapa orang yang kau incar?” sergah Al.

Leo menikamkan pedang ke tanah di kanannya. “Ada orang yang kutahu pasti datang ke turnamen ini bila aku mengikuti turnamen ini. Dia membenciku sebagaimana aku membencinya. Dia mengincarku sebagaimana aku mengincarnya.” Leo melipat tangan di dadanya. “Mengucap namanya saja aku ingn muntah. Kau tahu?... White Revelzent,” sambung Leo sambil meludah penuh kebencian.

“Dan White pernah mengalahkanmu, benarkan?” kata Al sambil tersenyum.

Dapat. Pikir Al sambil memasukkan sebuah nama di salah sati aplikasi laptopnya. Sekarang tinggal bagaimana aku bisa lolos darinya? Al melirikkan matanya ke arah Leo yang tampak tak acuh.

“Huh… persetan,” kata Leo ketus. “Sudah cukup pertanyaanmu?” sambungnya sambil memegang gagang pedang yang tertikam di kanannya.

Bila dari kiri, akan leluasa baginya mengayunkan pedang… berarti...

Al melakukan sebuah gerakan memutar tubuh dan melompat sambil menerjang Leo dari sisi kanan sehingga Leo tak berkesempatan mencabut pedangnya. Al melakukan sebuah lompatan ke udara sambil melancarkan tendangan kepada dagu Leo yang seketika itu terhuyung ke belakang.

“Bedebah!” umpat Leo.

Al mencabut pedang Leo dan mengayunkannya untuk menebas Leo, hingga Leo yang terkejut terhuyung ke belakang namun pedang itu sempat menyayat dada Leo. Al kembali mengibaskan pedang di tangannya ke arah Leo, akan tetapi saat itulah api menyeruak dari pedang di tangan Al dan berkobar menjilati lengan Al. seketika itu Al terhempas ke belakang dengan jeritannya, dan jatuh tersungkur di sekitar puing kehancuran, sementara pedang Leo terlempar ke arah majikan aslinya.

“Kau pikir bocah biasa sepertimu dapat menerima tekanan pedangku?” olok Leo sambil terkekeh keras. Seketika itu wujud Leo melebur menjadi pudaran-pudaran Eiden dan berterbangan ke arah Al yang berusaha beridiri.

Al tak berkesempatan menghindar, dan dengan telak diterjang pudaran Eiden itu hingga dia kembali terjatuh. Laptopnya terjatuh di kanan Al beberapa senti dari rentangan tangan Al hingga sulit baginya untuk menggapai lapotop itu.

Wujud Leo terbentuk dari bersatunya Eiden tepat di atas Al yang masih terjatuh. “Ingin merasakan panas pedang ini?” Leo menikamkan pedang berselimut apinya tepat di sebelah tangan kiri Al, dan dalam sekejap api kian membara membakar tangan Al.

Al menjerit kesakitan dan mencoba meloloskan diri akan tetapi Leo lebih kuat menahan tubuhnya, hingga Al hanya bisa meronta.

“Apakah panas?” ejek Leo sambil menjabut pedangnya dan segera ditikamkan ke dada Al yang dengan seketika menjerit kesakitan. “Aku tak mau berlama-lama denganmu… aku merasa kau bisa melakukan hal yang lebih mengejutkan bila kita meneruskan pertarungan ini… jadi kuakhiri saja.” Sambung Leo dan semakin memperdalam tikamannya hingga dari celah tikaman di dada Al, darah mengucur sedemikian deras, namun segera mengering oleh api dari pedang Leo.

Leo bangkit dan memanggul pedangnya yang masih menikam jasad Al dan dia berjalang penuh kemenangan menembus api yang terus berkobar sedemikian dahsyat seiring kepergian Leo.

 

Vote me! "WIN LEO"

to bo continue……..

Read previous post:  
55
points
(772 words) posted by neko-man 6 years 37 weeks ago
78.5714
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | Battle of realm | BoR | fantasy | Turnamen
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

saya mendukung orang ini sepenuhnya!

Win Rhemusta!

100

Win rhemusta, definitely ...

80

Ya iya lah menang Rhemusta...
yang paling disuka adalah bagaimana Al summon Zord Naga, dan mengubahnya menjadi Megazord

loh?
hidup sentai

HIDUP SENTAI~!
*fanboy squealing*

70

VOTE: WIN RHEMUSTA!
.
reason: agak mirip kata Sam: butuh Villain dan ada development.
;
tapi jujur, banyak overdescription yang bikin capek terutama tentang adegan pertarungan.
:
Dan narasinya IMHO terlalu mekanistis a.k.a kaku. ga ada pengembangan indrawi lain, suara? rasa? bau?
.
gw agak ngerasa sifat Al beda dengan yang di versi sebelah. rasanya disini dia jadi lebih sering ngumpat... ato ini cma perasaan aja?
.
tapi the good pointnya, battlenya lebih bernuansa konflik, ada tensi naik turun (walau masih didominasi Leo), dan ada penjelasan untuk motivasi.<< bener2 improvement yang bagus.
.
dan juga, interaksi dengan lingkungan lebih tercipta di sini. ada dinamika yang terbuat.
.
bagian depan, cukup ngagetin (+lucu dalam ironi) tapi jadi momen kritikal munculnya karakter. cukup Grand Entrance menurut gw XD

100

WIN RHEMUSTA
.
Hmm, ada development gaya cerita di sini! Maksudnya, saya rada ga sreg baca pertandingan kedua karaktermu di ronde satu, tapi ini jelas lebih bagus dari pertandingan si Leo sebelumnya
.
Dan kalau bicara soal jalannya pertarungan...yah, saya ga bisa bohong. Saya lebih suka ini ketimbang versi Al, karena menangnya di versi Al bukan lagi 'terlalu mudah', tapi seolah-olah jadi hal yang ga penting
.
Plus, turnamen ini masih perlu sosok antagonis, hehehe