Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18)

 


Joanna menatap Tristan dalam-dalam. Menatap guru muda itu yang tengah menggendong anaknya. Seharusnya memang ada gambaran seperti itu dalam hidup Nathan. Gambaran seorang laki-laki dewasa yang merengkuh Nathan dalam gendongan penuh kasih sayang. Seperti itu. Sebuah gambaran yang tidak pernah dimiliki Joanna sejak Nathan lahir. Joanna kemudian teringat akan kejadian saat Adam datang ke rumah. Bagaimana dia terjebak secara emosional dan membiarkan dirinya terengkuh dalam pelukan lelaki yang sebenarnya sangat dibencinya. Lelaki yang tidak dia harapkan untuk hadir lagi dalam hidupnya. Dan Joanna telah menghapus harapan Adam untuk memberikan gambaran seperti yang diberikan Tristan saat ini. 

 

Sementara itu, Tristan tak pernah menyangka akan mendapat sebuah gambaran yang dilihat matanya saat ini. Seorang wanita yang telah menghuni hatinya, tengah memandangnya penuh arti. Sementara di belakang wanita itu, ada wanita lain yang juga menujukan pandangan ke arahnya. Tristan yakin, dua tatapan itu memiliki arti yang berbeda. 

 

“Umm... selamat datang di toko saya, Teacher Tristan,” sapa Joanna mencoba memecahkan lima detik kebekuan yang terjadi di antara mereka.

 

“Iya, Mama Nathan. Saya... tidak menyangka ternyata toko ini tokonya Mama Nathan,” ucap Tristan.

 

“Nathan, kemari, kasihan Teacher Tristan capek menggendong Nathan...” Joanna mengingatkan.

 

“Tidak apa-apa, Mama Nathan,” ucap Tristan.

 

“Mama, Nathan kan kangen sama Teacher Tristan!”

 

Kembali keheningan terjadi antara mereka. Ucapan yang baru saja dilontarkan Nathan membuat Tristan dan Joanna terkejut. Juga seorang wanita yang sedari tadi masih memilih untuk tetap berdiri di belakang Joanna, mengamati sebuah adegan yang penuh arti itu. 

 

Hati Cherry akhirnya berontak, segera ia mengambil alih keheningan itu. Cherry tak tahan melihat pemandangan itu.

 

“Umm, permisi,” Cherry berucap membuat Joanna berbalik.

 

“Eh... Teacher...?”

 

“ Cherry, Mama Nathan,” ucap Cherry tersenyum.

 

“Ah iya, maaf, saya sering lupa nama Teacher Cherry. Maaf, saya nggak lihat ada Teacher Cherry juga di sini. Anda datang dengan Teacher Tristan?” 

 

“Iya. Umm... Tristan, kita pulang?” tanya Cherry pada Tristan yang tengah bercanda dengan Nathan.


“Kamu tidak ingin membeli sesuatu?” Tristan balik bertanya, “Di tanganmu itu apa?” lanjut Tristan dan membuat Cherry sadar telah memilih sebuah gelang yang kini dipegangnya. 

 

“Oh, iya, aku lupa... aku bayar ini dulu lalu... kita pulang,” ucap Cherry tak punya pilihan.

 

“Tidak usah Teacher Cherry, dibawa saja. Anggap saja hadiah promosi selamat datang di toko saya.”

 

“Eh, jangan...” Cherry jadi salah tingkah.

 

“Tidak apa-apa, Teacher,

 

Sementara itu terdengar suara Nathan yang kecewa, “Teacher Tristan mau pulang ya?”

 

“Iya, Nathan,” Tristan menurunkan Nathan dari gendongannya.

 

“Yaaahh, kenapa pulang? Kan Nathan masih kangen sama Teacher,” ujar Nathan polos membuat Tristan tersenyum.

 

“Kan besok kita ketemu di sekolah,”

 

“Umm... kalau bgitu Nathan juga mau kasih hadiah sama Teacher Tristan ah!”

 

“Hadiah apa?”

 

“Sini, ikut Nathan,” Nathan menyeret tangan gurunya menuju ke sebuah almari kaca kecil di dekat meja kasir besar dari kayu berpelitur warna putih, meninggalkan mamanya dan Cherry.

 

“Tadi hanya berniat jalan-jalan sama Tristan, eh, malah dapat hadiah,” kata Cherry sambil tersenyum dan mengangkat gelang yang ada di tangannya.

 

“Oh, jalan-jalan ya...” ucap Joanna. Tiba-tiba dan entah kenapa, otaknya menganalisa kemungkinan Tristan mempunyai hubungan dengan Cherry. Dan entah kenapa terbesit rasa tidak nyaman yang aneh ketika membayangkan hubungan Tristan dan Cherry.

 

“Ah, apa yang kupikirkan?” batin Joanna heran.

 

“Mama Nathan sudah lama punya toko ini?” tanya Cherry kemudian.

 

“Masih merintis, Teacher Cherry,” 

 

“Mama Nathan hebat ya, bisa mempunyai toko seperti ini,” Cherry mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

 

“Ah, ini hanya usaha kecil-kecilan, Teacher.”

 

“Tapi saya salut, Mama Nathan bisa berjuang sebagai single parent dan mencapai keberhasilan yang saya rasa sangat susah untuk bisa mencapai level ini,” ucap Cherry membuat Joanna terkejut.

 

“Maaf, dari mana... Anda tahu saya... single parent?”

 

Cherry langsung bingung, menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu banyak bicara. Dia tidak bisa menemukan alasan yang tepat sementara Joanna menatapnya menuntut jawaban.

 

“Ah, umm, maaf, saya tidak sengaja... saat mengambilkan berkas Nathan yang terjatuh di dekat meja guru Tristan...” ucap Cherry sekenanya.

 

“Begitu...” kata Joanna percaya.

 

Hening.

 

“Mereka sangat dekat ya?” Cherry memecah keheningan itu.

 

“Maaf?”
 

“Tristan dan Nathan.”

 

“Oh... iya...” Joanna mulai merasa tidak nyaman dengan wanita yang ada di hadapannya. Perasaan Joanna tidak enak. Suasana menjadi canggung.


“Mama, Nathan kasih gantungan kunci yang Mama bikin kemarin buat Teacher Tristan boleh kan?” suara Nathan mengejutkan Joanna.

 

“Eh, iya, boleh saja,” Joanna tiba-tiba merasa jantungnya berdetak lebih kencang melihat Tristan berdiri di dekatnya, dengan tangan masih digandeng Nathan.

 

“Maaf, Mama Nathan, tadi saya sudah bilang pada Nathan kalau ini tidak boleh...” Tristan tampak salah tingkah dan bingung menjelaskan suatu hal yang sudah dimengerti Joanna.

 

“Tidak apa-apa, Teacher. Hadiah promosi,” Joanna tersenyum, berusaha menetralkan jantungnya.

 

“Terima kasih, Mama Nathan, sekali lagi maaf. Cher, ayo pulang,” ajak Tristan.

 

Cherry menghela nafas, hatinya sudah cukup panas melihat yang terjadi di antara Tristan, Joanna, dan Nathan, “Iya. Terima kasih, Mama Nathan. Permisi.”

 

“Sampai jumpa besok, Nathan,” Tristan mengelus kepala Nathan. 

 

“Iya. Da-dah Teacher!” ucap Nathan senang. Joanna memandang keceriaan yang terpancar dari diri anaknya, sementara Cherry menatap Joanna sejenak sebelum kemudian berbalik mengikuti Tristan keluar dari toko.

 

*-*-*-*

 

Tristan akhirnya menepikan motornya di depan warung bakso yang letaknya sudah cukup dekat dengan rumah Cherry. Dia tidak bisa lagi menahan lapar yang dirasakannya, sejak perutnya berbunyi dan Cherry yang mendengarnya terus saja mengusulkan untuk mampir dulu ke sebuah tempat makan.

 

Dan Tristan menyerah.

 

Di dalam warung, Cherry hanya memesan jeruk hangat, sementara Tristan melahap semangkok bakso dengan cepat. Cherry memandangi Tristan yang tengah memandangi sebuah gantungan kunci berbentuk jaring laba-laba.

 

“Tan,” panggil Cherry. Tristan tak menyahut, dia masih terus memandangi gantungan kunci itu dengan senyuman yang tak henti terkembang di bibirnya.

 

“Tristan!”

 

Tristan akhirnya menoleh, “Ada apa?”

 

“Sudah kenyang sekarang?”

 

“Hm-hmm,” gumam Tristan mengangguk sekenanya, masih memain-mainkan gantungan kunci di tangannya.

 

“Nathan lucu ya, Cher. Dan gantungan kunci ini, ah, ini pasti cukup mahal kalau dijual. Eh, malah diberikan padaku...” Tristan tertawa geli. Cherry hanya diam.

 

“... aku belum pernah punya gantungan kunci seperti ini. Mamanya Nathan kreatif,” lanjut Tristan.

 

“Itu hanya gantungan kunci,” gumam Cherry.

 

“Apa?” tanya Tristan tidak mendengar gumaman Cherry.

 

“Aku bilang itu hanya gantungan kunci!”

 

Trista tersentak, “Kamu kenapa, Cher?”

 

Cherry menggeleng-geleng, merasakan matanya berkaca-kaca, “Aku pulang dulu,” Cherry berdiri dan beranjak keluar dari warung.

 

“Aku antar, Cher,” Tristan berdiri, segera membayar dan menyusul Cherry keluar.

 

“Cher!”

 

“Nggak usah mengantarku, Tan. Rumahku sudah dekat kok, aku jalan kaki saja. Lagipula sudah tidak hujan,” Cherry mencoba menahan air matanya yang sudah mendesak keluar.

 

“Jangan, Cher, aku harus mengantarmu sampai rumah.”

 

“Tidak. Tidak usah. Terima kasih. Aku... ingin pulang sendiri.”

 

“Tapi...” Tristan bingung.

 

“Terima kasih, Tan,”

 

“Cher, kamu tidak apa-apa?”

 

Cherry mengangguk, “Aku tidak apa-apa,” Cherry berbalik. Baru sekali melangkah, ia berbalik menghadap Tristan lagi, “Sekali saja coba perhatikan perasaan orang yang ada di dekatmu, Tan.”

 

Cherry melangkah menjauh, meninggalkan Tristan yang kini merasa tersentak dan hanya bisa menatap langkah Cherry.

 

*-*-*-*

 

Adam duduk di dalam taksi, memandang melalui kaca mobil ke arah halaman Sunshine School  yang tengah ramai. Para murid berhamburan keluar dari kelas ke arah para penjemputnya.

 

“Anda tidak turun Pak? Itu mereka sudah keluar, Anda mau menjemput  kan?” tanya si sopir.

 

Adam hanya diam tak menjawab. Senyumnya terulas saat melihat seorang bocah kecil yang menghambur di pelukan seorang wanita yang masih dicintainya. Lamunan Adam yang ingin merengkuh bocah kecil itu dalam pelukannya, terpecah saat terdengar bunyi notifikasi e-mail masuk dari ponselnya.

 

Hey, Tuan Beruntung. Aku sekarang ada di Amerika. Lucu, bukan? Kau yang berencana pergi ke Amerika, malah aku yang ke Amerika. Niat baikku merelakan tiket dan seminar mahal di Bali, ternyata memberiku berkah. Well, perbuatan baik memang menuai hal yang baik ya?

 

Mantan suamiku kemarin datang ke rumah. Jauh-jauh dari Amerika, dan terima kasih padamu, dia bisa menemuiku. Kami bicara banyak, dan... yeah, aku kembali ke Amerika. Kau pasti mengerti apa yang kukatakan.

 

Anyway, kukatakan padamu kenapa kau kupanggil Tuan Beruntung. Kupikir kau bisa kerja sambilan di klinik dekat sekolah Nathan. Dengan kepergianku, mereka kekurangan orang. Hmm, kurasa lulusan dan intern dari Johns Hopkins akan SANGAT dipertimbangkan. Gunakan waktumu sebaik-baiknya. Kau tahu maksudku.

 

Yeah, you’re welcome.

Bye, adik kelas, good luck.

 

“Aku akan menjemput anakku suatu saat nanti, Pak. Sekarang, biar mamanya yang jemput. Kita ke klinik di ujung jalan,” ucap Adam pada sopir taksi. Adam tersenyum yakin.

 

*-*-*-* 

Read previous post:  
99
points
(1509 words) posted by IreneFaye 7 years 32 weeks ago
82.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | kolaborasi | Romantis
Read next post:  
100

karena aku g tw dulu apa yg dibicarakan saat menentukan posisi talitha jd aku merasa tidak ada yg janggal dlm cerita ini ixixixixi #baca komen2 dulu

Writer siiput
siiput at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 21 weeks ago)
40

kereeeeen....

thx

70

Ide cerita yang bagus dan ambisius :) cerita yang sudah baik akan lebih berwarna jika Anda mengaplikasikan teknik "show,not tell". Kalimat seperti "Joanna telah menghapus harapan Adam" bisa punya alternatif seperti "Joanna tertawa pahit saat berpikir tentang Adam" - Atau sejenisnya. Semoga bisa dijadikan bahan pertimbangan :)

thx bwt masukannya...

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 30 weeks ago)
100

poin..

poan poin aje

2550

menarik, bikin penasaran ^_^

Thx

80

Ah, Thalita disingkirkan....
Haha, beda banget sama style-nya Si Irene. Yang ini lebih banyak dialog dan lebih sedikit narasi

herjuno tidak ingin thalita pergi? :D
apakah lebih banyak dialog itu ndak bagus yak? ma-aaapp, I'm very weak for narasi... heheheh..

Writer RIf
RIf at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 31 weeks ago)
90

point . . .

thx

90

lho kok udah nyampe 18 siy tante..? #ketinggalan kereta.. :D

ah omzinyok payah ketinggalan

100

ak sukaaaa ide Adam bakal bekerja di klinik dekat skolah Nathan.. huehehehe

clue dari mbak catz memang t.o.p kaaannn... pancingan banget ...

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 31 weeks ago)

Ah tidak seharusnya aku memberikan ide ttg Adam yg bekerja di Klinik juga.

Hikzzzzz

Menyesaaaaal.

terlambat mbaaKkk

80

Sebenernya sih Thalita statusnya masih pengantin baru, blom pisah (dia pulang ke Indonesia buat nikah sih), tapi ya udah deh ... hehehehe ... toh bukan tokoh utama ini

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 31 weeks ago)

Heeem Irene, maaf.

Seingatku di awal DUP, di awal kemunculan Thalita kamu memberikan karakter Thalita di inbox FB sebagai dokter yg berusia 30 tahun.

Kembali ke Indonesia krn untuk melanjutkan segala urusan di Amrik kurang biaya (Thalita bukan termasuk org berada) dan pisah dengan suaminya.

Dia adalah senior Adam.

Jadi mungkin Lav berpedoman dari karakter yang kamu berikan untuk membuka jalan mendekatkan Adam dgn Nathan.

errr.. Irene, bukannya dulu km bilang Thalita statusnya pisah namun belum cerai dgn suaminya? Apa ak salah ingt yak? hahaha

ouuuwwhhh... udah pernah disinggung seperti itukah tentang thalita di part2 sebelumnya? aku kelewatankah? maap klo kelewatan... soalnya aku baca belum nemu (atau kelewatan) soal status thalita, jadinya kubikin begitu... sekalian buka jalan buat adam hehehehe..

gak ngaruhlah sebenernya ahahaha ...
toh Thalita hanya peran numpang lewat. Sejenis scene stealer doang.

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 31 weeks ago)
100

Lav, aku lagi malas kument.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

#ditabok Lav.

Oke aku suka permainan perasaan Cherry di sini.

Tingkay kekesalannya dan segala sikapnya cukup natural.

Dan tingkah si Nathan kecil juga pas.

Anak kecil memang senang memamerkan apa yg dia miliki kepada orang yg dia sayangi.

Anak kecil juga akan memberikan sesuatu yang dianggapnya keren hanya kepada orang yg penting.

Mengenai Thalita dan Adam.

Heeem jadi Adam kerja di klinik nih sekarang??

#aku mo nyiapin suntikan beracun agar Adam tidak mencari-cari cara untuk mendekati Nathan.

Minnie jangan bikin Adam melakukan penyuluhan kesehatan dan segalanya yah.

Aku tidaaaaaak relaaaaaa.

Padahal Tristan sudah mulai majuuuuuuuuuuuu.

udah siap2 nabok waktu baca baris pertama... wkwkwkwk...
quote :
Minnie jangan bikin Adam melakukan penyuluhan kesehatan dan segalanya yah.
Aku tidaaaaaak relaaaaaa.
---> itu malah kasih clue buat tante minie... ahahahahha... ayo tante minie, bikin penyuluhaaaannn!!!

100

komen detail, japri. bbm. :p

kejamnya dirimu... T___T
japri tu opo?

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 31 weeks ago)
90

Ups, poin :)

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 31 weeks ago)

Quote:
“Mereka sangat dekat ya?” Cherry memecah keheningan itu.

Kayaknya Cherry sendiri mestinya udah lebih tau jawabannya, toh ia juga mengajar di sana. Atau emang itu karena dia udah bingung mau ngomong apa?
Wow, perkembangan ceritanya!!! Menunggu kelanjutannya. :D

itu hanya basa-basi, Hlind... hehehehe.. sekaligus menekankan pada dirinya sendiri merasa pahit atas kenyataan kedekatan mereka. begitu kira-kira... heheheh

yup, aku setuju sama mbak lav. aku juga kalo jadi cherry pasti bilang gitu. dan itu sebenernya bukan pertanyaan, tapi semacam retorika. dan tentu saja, basa-basi.

90

Wah, Adam...
dan persainganpun dimulai ><

let the game begin... ^^

100

wah Adam... :D

Adam oh Adam...

Writer bl09on
bl09on at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 18) (7 years 31 weeks ago)
90

coool, saya suka gayamu Tante. Asyik Si Adam beraksi lagi... biar diteror Mak yang gregetan si adam balik lagi :))

hidup Adaaaaaaaaaaaaaammmm!!!! xixixixixi