Hingga Fajar Kemudian [bagian 4]

Tasya terjaga, dan mengejapkan matanya beberapa kali sebelum mengamati jarum jam di dinding di atas perapian yang masih menyala. Waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi. Di luar sudah sepi. Hujan sepertinya telah berhenti sejak tadi.

Dia bangkit dari sofa, merenggangkan ototnya yang kaku karena tidur dalam posisi duduk, lalu berjalan menuju kamar untuk melanjutkan tidurnya satu atau dua jam sebelum Bu Mendez datang. Atau mungkin hanya sekadar membaca buku, atau menggambar desain acak sebagai tabungan ide pekerjaannya.

Di depan pintu kamar Tasya memutuskan untuk menggambar saja.

Tasya berbalik dan menaiki tangga. Beberapa hari lalu dia meminta jasa pindahan untuk mengatur ruang kerjanya di salah satu kamar di lantai dua. Kamar itu cukup luas dan menghadap ke utara, hingga dengan begitu tidak akan ada banyak cahaya yang mengganggunya saat bekerja di siang hari.

Dia membuka pintu paling dekat dengan ujung tangga di sebelah kanan dan, menyalakan sakelar lampunya. Lampu neon itu berdengung sesaat sebelum akhirnya diam dan menyinari ruangan.

Sudah delapan tahun Tasya bekerja sebagai desainer interior, dan sesekali menerima pesanan lukisan untuk beberapa kolektor atau penulis yang ingin menggunakan karya digital-nya sebagai ilustrasi buku. Peralatan miliknya tidaklah banyak--seperti yang terlihat di dalam kamar yang hampir kosong itu. Dia hanya membutuhkan dua buah meja menggambar, dan sebuah komputer. Bahkan kadang kala dia lebih suka menggambar di atas buku coretan di luar, di bawah pohon di halaman rumah jika musim panas tiba.

Tasya duduk di belakang meja gambarnya, meraih pensil dan mulai mencari ide di dalam sel-sel otaknya. Walau selanjutnya dia sedikit kesal karena kepalanya serasa seperti guci kosong.

Dia tidak suka frustrasi dalam bekerja. Maka disandarkan punggungnya pada kursi dan mendongak ke arah langit-langit kayu berpelitur cokelat di atas kepalanya, mencoba menenangkan diri.

Ada kamar lain di atas, batinnya berbisik. Tasya tidak ingat apakah sudah pernah menjelajah seluruh isi rumah barunya itu hingga ke kamar loteng. Mungkin jika dia berkeliling sejenak otaknya akan menelurkan sebuah atau dua ide untuk desain ruangan, pikirnya.

Tasya pun beranjak keluar ruang kerja, menelusuri lorong dan membuka beberapa pintu di kiri dan kanan.

Kamar-kamar itu sebagian besar masih kosong. Hanya satu yang cukup penuh dengan kotak-kotak kardus berisi buku-buku, vas bunga, mug, patung, raket dan bola-bola tenis. Tasya menggeleng tidak habis pikir kenapa dia memilih kamar itu sebagai gudang, bukannya ruangan di atas tangga rendah di dekatnya.

Tasya mendongak, menatap pintu putih di puncak tangga. Itu kamar loteng, pikirnya. Dan dia merasa yakin belum pernah melihat isinya sejak seminggu bolak-balik mengatur perabotan di rumah barunya itu.

Dia menaiki tangga lorong yang cukup sempit dan rendah. Pegangan tangganya pendek, seakan dibuat khusus untuk anak berumur enam atau delapan tahun, meski ukuran pintunya tetap normal. Dan di puncak ada sedikit lantai kayu datar yang dilapisi dengan sedikit karpet karet kelabu.

Gagang pintu kamar loteng itu dingin, dan terkunci.

Tasya menyentuh permukaan pintu dengan jari-jarinya, berpikir apakah dia mau membukanya sekarang atau nanti siang saja.

Permukaan kayu itu halus dan hangat. Dan, hidungnya mencium bau seperti bedak bayi dari celah di bawah. Aneh, kenapa ada bau seperti itu di rumahnya?

Rasa penasaran pun lantas dengan seketika mendorong Tasya berbalik dan berlari menuju kamar di bawah untuk mengambil kunci. Dan tidak lama kemudian dia sudah kembali dalam keadaan bersemangat, meski harus sedikit terkejut melihat ada lubang kecil di tembok kayu sebelah kanannya. Tasya mengabaikannya, berpikir kalau dia pasti bisa melihat lubang apa itu jika sudah berada di dalam kamar.

Bau bedak segera saja menyembur begitu pintu itu dibuka.

Tempat itu gelap. Bias cahaya dari lorong rumah hanya menyinari lantai kayu, sebuah ranjang kecil, tembok berlapis kertas tua, dan langit-langit kayu yang dan membentuk sudut atap.

Tasya meraba tembok, mencari sakelar lampu yang membuatnya harus masuk ke bayangan gelap. Sakelar tentu saja selalu ada di sebelah kanan bahu tamu, pikirnya, menentukan. Dan dia menghela napas lega karena perkiraannya terbukti benar. Lampu kamar pun berdengung dan menyala.

Kamar itu nyaris kosong, namun sangat rapi. Tasya terpaku di tempat mengamati interior ruang yang menurutnya sangat menyenangkan. Dinding-dindingnya dilapisi kertas berwarna hijau pucat dengan motif tumbuhan rambat berwarna keemasan dan bunga-bunga kuning serta merah muda. Sebuah ranjang tua duduk diam di seberang pintu, berlapis seprai putih bersih, dan ditemani meja kecil dengan sebuah boneka bayi serta bingkai foto kosong di atasnya.

Di sisi lain ada lemari pendek. Dia atasnya juga ada beberapa bingkai foto kosong dan boneka-boneka binatang yang lucu-lucu. Sementara di dekat Tasya ada meja belajar di bawah jendela. Kamar itu jelas kamar untuk anak-anak, pikirnya. Namun yang aneh adalah, tidak ada debu di sana, seakan ada orang yang membersihkannya setiap hari.

Suara keras dari belakang mengejutkan Tasya. Dia melompat dan nyaris menjerit jika saja suaranya tidak tertahan di dalam tenggorokan. Dia membalikkan badan, menatap jendela di seberang. Seseorang pasti telah melempar sesuatu ke jendela itu dari luar, pikirnya. Namun untuk apa?

Tasya memberanikan untuk mengintip dari jendela itu. Berjalan pelan lalu berdiri di tepi jendela dengan harapan tubuhnya hanya akan sedikit—jika tidak semua—terlihat dari luar.

Suasana jalan di luar sangat sepi. Tidak ada cahaya yang tampak dari dalam rumah-rumah tetangga. Hanya lampu-lampu jalan saja yang menyala malas menyinari trotoar. Dan di bawah salah satu lampu jalan itulah Tasya melihat sosok bertudung berdiri menatap ke arahnya.

Siapa dia? Tasya bertanya-tanya. Untuk apa orang keluar di pagi buta seperti ini? Udara di luar pastilah sangat dingin.

Belum sempat Tasya menemukan pembenaran, sosok itu sudah berlari. Sekonyong-konyong Tasya ingat kalau pintu depan belum dikunci. Dan entah bagaimana dia tahu pasti sosok itu hendak menerobos masuk ke rumahnya.

Dia berlari secepat mungkin untuk turun. Tubuhnya terasa ringan. Dia bahkan sanggup melompati beberapa anak tangga sekaligus, melewati lorong lantai dua, dan menghabiskan sisa tangga menuju lantai satu dalam waktu yang dirasa kurang dari satu menit.

Dia heran kenapa dia begitu takut sebelum berhasil mengunci pintu depan. Dia merasa ada bahaya di balik pintu itu dari jenis yang mungkin datang dari neraka atau semacamnya.

Namun dia penasaran. Dalam hati Tasya mengumpat berkali-kali atas keinginannya untuk mengintip dari lensa kecil di pintu. Dan dia pun menempelkan sebelah matanya di sana.

Tasya melompat mundur begitu melihat sosok bertudung itu berdiri di luar dengan wajah terangkat. Dia melihatnya. Anak kecil, pikirnya. Anak kecil dengan wajah rusak seperti mayat yang mulai membusuk. Ini tidak benar. Dia harus mencari bantuan. Dia harus menelepon tetangga atau seseorang. Dia harus memanggil bantuan darurat.

Tasya berbalik, dan terpaksa membeku begitu mendapati sosok anak kecil itu sudah berdiri di hadapannya, dan menikam pisau ke tubuhnya. Tasya merasakan nyeri yang hebat di bawah dadanya, dingin dan menyakitkan.

 

****

Read previous post:  
40
points
(911 words) posted by xenosapien 6 years 27 weeks ago
66.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | metafisika | light horror | mistery | pulang kampung | suspense
Read next post:  
Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (4 years 44 weeks ago)

Haha... Itu light itu maksudku cerita ini bukan menonjolkan unsur horor. Di sini aku maunya lebih menekankan sisi misteri dan drama. ^^a

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 12 weeks ago)
80

Cerobohnya gk kunci pintu :p
Teringat cerita seorang temen yg istrinya tdk akan bisa tidur sebelum cek pintu sudah terkunci. Mmm mugkin krn ada kcenderungan psikologis ce utk khawatir.
Cb bsk aku tanya kelakuan temen2 ce ku soal pintu yg gk dikunci ini... :p

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 12 weeks ago)

Ahahaha... Ya. Tasya emang lagi 'lupa' kunci pintu. Salahkan Doni soal itu. ^^a
.
*dijitakDoni*

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 12 weeks ago)

Hahahhaha

70

tragis ak suka gaya bahasanya

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 13 weeks ago)

Terima kasih dah mampir. Silakan baca lanjutannya. :)

90

weuweuweh!! SAYA KAGET, YOU KNOW?!
#pray
itu pasti hanya mimpi, hanya mimpi, hanya mimpi...
horornya kerasa beud! Xl

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 26 weeks ago)

Haha... Itu tentu saja cuma mimpi. Silakan dibaca lanjutannya. :)

Writer cnt_69
cnt_69 at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 26 weeks ago)
80

Sepakat sama om alfare. Nyang begini kan jadi kayak nonton pelm yg scene-nya dipotong. TT____TT

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 26 weeks ago)

*memutar rangkaian rekaman iklan keripik kentang, burger ekstra besar, dan minuman bersoda* XD

Writer Alfare
Alfare at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 26 weeks ago)
80

Haaah? Um. Uh...
Kita belum kenal Tasya dan hubungannya dengan Doni sepenuhnya, tapi kini dia sudah mau mati lagi?
Um, Bang Xeno...

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 4] (6 years 26 weeks ago)

Ehehehe... Nantikan kelanjutan cerita ini besok, Al. :P