Hingga Fajar Kemudian [bagian 5]

 

 Kedua mata Tasya membelalak lebar. Satu tangannya meremas dada yang terasa nyeri. Napasnya tertahan di balik tulang rusuknya itu, terasa berat untuk dihembuskan. Dan begitu dia sedikit terbebas dari belenggu gaib yang mencekik kuat, disambarnya ponsel yang ada di meja di samping sofa.

“Halo?” kata sebuah suara malas di balik ponsel, setelah cukup lama sejak Tasya menekan tombol telepon darurat.

“Aku butuh bantuan,” balas Tasya, terdengar seperti sedang kena serangan asma.

“Anda siapa dan di mana?”

“Tasya Rosén. Silvervägen nomor 195. Cepatlah, aku ter—” kalimat Tasya terhenti begitu dia sadar tengah duduk di sofa, dan mengetahui tidak ada darah di bajunya. Dia baru saja bermimpi buruk.

“Halo? Halo?”

Tasya memutuskan sambungan telepon dan mencoba menarik napas dalam-dalam. Memang ada rasa nyeri di tempat sosok misterius itu menikam pisau dalam mimpinya, namun jelas tidak ada luka di sana. Mungkin itu hanya karena posisi tidur yang tidak benar, pikirnya mencari-cari pembenaran.

Jam tiga pagi, batin Tasya setelah melihat jam di atas perapian. Rasanya seperti deja vu saja. Dia mencoba tertawa atas kesimpulan benaknya itu, namun gagal dan hanya bisa mendengus geli.

Tasya mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman, menekan tulang punggung pada kursi dan mendongak setelah memijat kening agar aliran darah menjadi lancar setelah tubuhnya kembali tegak nanti.

Mimpi itu terasa begitu nyata, pikirnya. Bahkan sampai detik ini dia masih bisa mengingat seluruh detail, mulai beranjak dari kursi, di ruang kerja, kamar loteng, dan di pintu depan.

Tasya menoleh ke balik kursi, mengamati lorong menuju pintu depan rumahnya. Di sanalah sosok itu menusuk--dalam mimpi. Dan kamar loteng itu... Dia ingat kalau dirinya memang belum pernah melihat isi kamar itu sebelumnya.

Dia bangkit dari sofa dan mulai berjalan menuju kamar. Tasya hendak mengambil kunci dan pergi ke kamar loteng. Namun begitu sampai di lorong, suara ketukan pintu menyentak jantungnya.

Ketukan itu terdengar lagi, dan kini sedikit lebih keras. Lalu, terdengar suara tinggi seorang pria dari luar sana, “Nona Rosén, anda baik-baik saja?”

Awalnya ragu, namun Tasya memberanikan diri untuk mengintip melalui lensa di pintunya. Di sana ada pria berambut cokelat berdiri dengan kening berkerut dalam. Tubuhnya bergerak ke kanan dan kiri, seperti sedang bingung, atau cemas. Dan dia mengenakan seragam polisi di balik jaket kulit cokelat gelap yang tebal.

Polisi? Sepagi ini?

Tasya mendesah kesal. Dia baru saja menelepon sambungan darurat. Polisi ini pasti bakal marah kalau tahu dirinya dibuat bekerja pagi-pagi buta hanya karena seorang wanita yang baru saja mendapatkan mimpi buruk.

“Maaf,” kata Tasya begitu sedikit membuka pintu dan mengintip, “saya baik-baik saja.”

Wajah pria itu membeku sejenak. Tasya merasa seperti sedang melihat patung lilin di hadapannya.

Pria itu tampan: rahang yang tampak kuat, hidung mancung yang sedikit bengkok, serta dua mata cokelat kehijauan seperti karang di bawah air laut. Sesaat Tasya mengira kalau polisi di hadapannya itu hanyalah seorang aktor bintang film laga yang sedang bermain peran.

“Anda tadi menelepon sambungan darurat, 'kan?”

“Ya. Tapi itu bukan apa-apa. Saya hanya,” Tasya ragu sejenak, “mendapat mimpi buruk.”

“Mimpi buruk?”

Kening petugas polisi itu semakin berkerut. Bagi Tasya itu aneh. Seakan-akan mendapat mimpi buruk bagi pria ini adalah hal yang mengkhawatirkan.

“Kau yakin kau tidak apa-apa?” lanjut petugas itu.

“Aku yakin. Maafkan saya, Pak ...?”

“Oh! Erik Franke. Panggil saja Erik.” Tasya mengamati Erik mengangkat tangan kanan dengan kikuk, lalu diabaikannya.

“Erik. Maaf sudah membuatmu keluar pagi-pagi buta seperti ini,” ujar Tasya, mencoba sedikit bersahabat. Karena jika tidak, mungkin petugas ini akan memberikan tuntutan padanya atas laporan palsu.

“Tidak masalah. Saya kebetulan lewat. Baru pulang dari markas dan rumah saya ada di dekat sini.”

“Kau juga tinggal di perumahan ini?”

“Ya.”

Keheningan mendadak hinggap di sekitar Tasya. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada Erik. Dia tentu saja tidak mungkin mempersilakan pria itu masuk tanpa alasan yang jelas. Maskipun Erik itu seorang petugas polisi.

“Apa Anda sendiri yang membeli rumah ini?” tanya Erik tiba-tiba.

Tasya terkejut, namun menjawabnya. “Bukan. Pacarku yang membelikannya untukku.”

“Oh! Pacarmu?”

“Ya. Dia mau melamarku.” Tasya ragu apakah jawabannya itu sopan atau tidak.

“Apa dia, pacar Anda, atau penjual rumah ini, memberitahukan sesuatu tentang rumah ini?”

Baiklah, ini semakin aneh, pikir Tasya. “Sesuatu apa?”

“Hantu?”

Darah Tasya mendadak terasa dingin. “Hantu?” ulangnya.

“Oh, maafkan saya. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti Anda. Hanya saja, menurut saya Anda seharusnya sudah diberitahukan soal itu sebelum membeli rumah ini.”

“Tidak. Aku tidak mendapat informasi apa-apa soal rumah ini. Terutama tentang hantu,” kecuali jika mimpi buruknya tadi itu dimasukkan dalam kategori aktivitas paranormal, batin Tasya. “Apa pernah ada kejadian penampakan di sini?” lanjutnya, niatnya bercanda, namun kemudian menyesal karenanya.

“Setahu saya tidak ada. Tapi sepuluh tahun lalu ada peristiwa tidak menyenangkan di sini. Dan rumor berkembang di lingkungan sekitar. Ah, sudalah. Jika saya tetap di sini maka saya harus meminta maaf lebih banyak kepada Anda.” Erik mengambil kartu namanya dari balik jaket. “Ini nomor saya. Jika Anda mendapat masalah apapun, telepon saya kapan saja.”

Tasya mengambil kartu itu dari tangan Erik. “Terima kasih.”

Erik mengangguk. “Kalau begitu saya pergi dulu. Semoga hari Anda menyenangkan.”

Tasya membalasnya dengan senyum. Erik pun beranjak pergi dengan sesekali menoleh lalu dan menyeringai canggung. Ada apa dengan petugas muda itu? pikir Tasya, lalu merasakan geli di perutnya.

Setelah Erik masuk ke mobil polisi di tepi jalan, Tasya menutup pintu. Hantu? benaknya bertanya-tanya, lalu menggelengkan kepala berusaha tidak mempercayai keragu-raguan di hatinya. Mana mungkin ada hantu di rumah ini.

 

****

Read previous post:  
50
points
(1092 words) posted by xenosapien 6 years 44 weeks ago
71.4286
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | metafisika | light horror | mistery | pulang kampung | suspense
Read next post:  
Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (5 years 9 weeks ago)

Ehehehe... XD

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 30 weeks ago)
80

Baiklah, mana no hp erik? *siap2nelpon*
btw, soal terbangun dr cengkeraman mimpi buruk ataupun bukan mimpi itu, apa dirimu pernah merasakan atau diceritakan detilnya oleh yg mengalami?

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 30 weeks ago)

Soal mimpi ... Rahasia. :P
.
.
.
.
.
Soal No. HP Erik ... Rahasia juga. XD
*Kaboor*

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 30 weeks ago)

Klo krn ada 'something', mungkin tasya gk mampu meremas.
1 jari bergerak udah susah gt... :p

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 30 weeks ago)

Hehehe... Waktu dia meremas dada, itu Tasya udah bangun koq. Soal bisa menggerakkan anggota tubuh saat fase mimpi dan setengah mimpi itu klo gak salah ada hubungannya dengan sifat keseharian seseorang, kondisi tubuh dan fase mimpi itu sendiri. :)

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 30 weeks ago)

Jd, ini mimpi biasa or masuk kategori sesuatu yg bukan mimpi? *jgnsampenantiakumimpiini*

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 30 weeks ago)

Huahahahaha.... Ini mimpi atau tidak, terserah bagaimana pembaca memahaminya. *padahalbiargakjadispoileraja*
.
Btw, makanya sebelum tidur itu berdoa dulu. :)

Writer deni_indraw
deni_indraw at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 35 weeks ago)

Judul????

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 35 weeks ago)

Eeh? Kenapa dengan judulnya? ^^a

80

hahaha! dugaan saya bner ternyata. g mungkin tokoh utamanya end gitu aja.
eh, tpi saya ada feeling aneh tentang polisi muda itu. hmm.. nunggu kelanjutannya aja deh. ^^
.
saya tdi nemu typo dikit, tpi lupa di mana. dikit koq, g gnggu jga sih.
.
sukses dah. ;)

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 43 weeks ago)

Typo? Di mana? >_<

Writer cnt_69
cnt_69 at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 43 weeks ago)
80

hmmmm...
kurang seru yg ini. :D tapi tetep mo ngikutin.

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 43 weeks ago)

Aww... Makasih. :)
.
Bersiaplah untuk yang lebih seru di bagian berikutnya. XD

Writer Alfare
Alfare at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 43 weeks ago)
70

Bang Xeno, kayaknya perkembangan adegan di sini agak kurang wajar deh. Kemunculan polisinya terlalu dadakan, dan banyak banget hal yang bisa berubah dalam sepuluh tahun. Jadi alasan rumah itu bermasalah mungkin perlu sedikit ditambah. Hmm. Makin keliatan Bang Xeno bikin ini dengan maksud untuk diedit belakangan.

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 5] (6 years 43 weeks ago)

Huahaha... Nanti, Al. Sabar. Penjelasannya ada koq. ^^
Klo soal polisi itu... Hehehe... Sering kali seseorang tidak dapat menerka siapa yang akan muncul di depan pintu rumahnya. XD