Hingga Fajar Kemudian [bagian 6]

Setelah mengunci pintu, Tasya menyadari kalau sejak tadi dia masih menggenggam ponselnya. Dia pasti tampak konyol, batinnya, lantas buru-buru menaruh benda itu bersama kartu nama Erik di atas meja di lorong.

Tasya menoleh ke arah ruang keluarga. Hantu? tanya benaknya lagi. Rumah ini memang sudah tua. Mungkin sudah lebih dari seratus lima puluh tahun umurnya. Dia menyesal tidak menanyakan kejadian tidak menyenangkan apa yang pernah berlangsung di rumahnya ini pada Erik. Meski, samar-samar dia bisa menebak kalau peristiwa itu pasti berhubungan dengan kematian.

Tasya berbalik dan mulai menaiki tangga di dekatnya dan berpikir, sewaktu pertama tiba di rumah itu dia tidak menemukan satupun bekas peninggalan penghuni sebelumnya. Tidak ada bingkai-bingkai yang masih berisi foto, tidak ada perabotan bertanda milik seseorang, tidak ada album-album; Rumah itu benar-benar kosong. Bahkan dia tidak mencium adanya bau khas rumah yang pernah dihuni orang lain. Tempat itu seakan telah dicuci dengan antiseptik, lalu dijemur hingga kering dan bersih, sebelum kembali ditutupi debu yang kemudian dibersihkan oleh orang-orang dari jasa pindahan.

Bersih tapi berdebu, Tasya mengingat kali pertama melihat isi kamar-kamar di lantai dua. Kertas pelapis di dinding-dindingnya sudah tampak pucat, namun masih menempel kuat. Warna pelitur lantai kayunya pun pudar karena mungkin dahulu sudah terlalu sering digosok. Beberapa anak tangga suka menjerit jika diinjak. Sambungannya pasti sudah banyak yang longgar. Namun meski dengan semua itu, Tasya melihat rumah itu masih tampak terawat, sama sekali tidak ada kesan seram, apalagi berhantu.

Kecuali kamar loteng di depannya sekarang yang menyemburkan bau bedak bayi.

Tasya memalingkan wajahnya ke samping, memandang tembok di sebelah kaki kanannya. Dia teringat akan mimpinya barusan, dan di sana dia melihat ada lubang. Namun lubang itu tidak ada sekarang.

Lalu, kenapa dari dalam kamar itu tercium bedak bayi?

Tasya memutar gagang pintu dan tidak terkejut menemukannya terkunci. Untung saat itu dia masih membawa kunci-kunci kamar. Dimasukkannya satu batang logam tembaga itu ke lubang kunci dan memutar hingga terdengar bunyi klik yang cukup keras. Namun Tasya tidak membuka pintu itu karena tidak lama setelahnya dia mendengar suara benda jatuh di ruang bawah.

Dengan cepat dia berbalik. Ada orang lain di bawah? Batinnya.

Tasya bergegas menuruni tangga loteng, berbelok sesaat di kamar terdekat untuk mengambil raket tenis yang berat dan kuat, lalu berjingkat-jingkat menuju lantai satu.

Suara-suara aneh terdengar lagi, asalnya dari dapur. Tasya hendak mengambil ponselnya, namun benda itu sudah tidak ada lagi di atas meja lorong.

Dia masih memiliki ponsel lain di kamar. Dia bisa mengambilnya sekarang jika dia mau. Namun suara gaduh di dapur semakin membuatnya penasaran. Sepertinya ada seseorang yang sedang mencari-cari sesuatu di sana, atau sedang berkelahi. Mungkinkah itu pencuri?

Listrik padam tiba-tiba. Membuat jantung Tasya seakan berhenti beberapa detik lamanya. Suara gaduh semakin terdengar hebat. Barang-barang logam dan gelas-gelas sepertinya berjatuhan, lalu diam.

Pelan-pelan di meraba meja. Untung saja dia menyimpan barang-barang darurat di sana, kebiasaannya di rumah mana saja dia tinggal.

Tasya menemukan sebuah senter kecil. Dia mulai berjalan, namun tidak menyalakan senternya. Cahaya lampu jalan yang menembus kelambu tipis jendela masih sanggup memberinya penerangan samar.

Sesampainya di dekat dapur, Tasya menempelkan telinganya di pintu yang tidak bergagang itu. Tidak ada suara gaduh lagi dari dalam dapur. Apakah pencuri itu sudah pergi?

Menggenggam erat raket dan senternya, Tasya mendorong pintu itu dengan bahu pelan-pelan. Matanya awas mencari gerak sekecil apapun yang bisa dilihatnya dari bias cahaya lampu jalan yang berhasil menembus ruangan. Senternya mulai dinyalakan.

“Siapa di sana?” katanya. “Keluarlah atau aku berteriak dan memanggil polisi.” Tasya mengerang dalam hati, satu-satunya jalan keluar dari rumah itu hanya pintu dapur yang dia ingat lupa dikunci. Mungkin sebaiknya dia segera berbalik mengambil kunci atau menelepon sambungan darurat meski berisiko diabaikan karena baru saja melakukan laporan palsu. Dan baru saja Tasya menetapkan pikiran dan hendak beranjak menuju kamarnya, sesosok bayangan melesat ke arahnya dari kegelapan.

Tasya bergerak mundur tepat waktu sebelum sebuah beda berkilau menyambar dan menancap pada permukaan pintu.

Itu pisau dapur, batin Tasya. Dan ada tangan seseorang yang menggenggamnya.

Tasya mengayunkan raketnya ke tangan itu. Terdengar suara derak yang diikuti erangan yang sepertinya berasal dari balik topeng. Sontak saja benak Tasya menciptakan sosok pembunuh bertopeng putih yang tertawa konyol berlebihan di kepalanya. Namun ini tidak lucu, tegasnya. Ini nyata.

Sosok itu menampakkan diri, mencabut pisau dari pintu dengan satu tangan.

Dalam remang-remang Tasya melihat sosok itu mengenakan jubah bertudung dengan wajah gelap tertutup topeng kain. Siapa dia? Apa maunya?

Tasya hendak berteriak keras, namun dia hanya bisa menjerit singkat karena sosok itu sudah menyerang maju. Kakinya tersandung, dan dia jatuh. Beruntung dia sempat mengayunkan raket dan berhasil mengenai tangan penyerangnya. Terdengar suara logam terjatuh di sudut ruang. Sosok misterius itu kehilangan senjatanya.

Tasya berusaha duduk dan mengayunkan raketnya. Erangan keras kembali terdengar begitu serangannya mengenai sasaran.

“Terkutuk, kau!” geram sosok misterius itu, memegangi lututnya.

Tasya menyalakan senternya ke wajah pernyerangnya. Sinarnya tepat mengenai mata, sosok itu tertegun sesaat. Waktu singkat itu pun digunakan Tasya untuk memukulkan raket ke kepala lawannya sembari berdiri.

Dia yakin sudah menghantam kepala sosok itu dengan keras, namun lawannya tidak juga tumbang dan malah mengaum keras.

Tasya berlari mundur begitu sosok itu menerjang. Dia beruntung, sosok itu terjatuh di lorong. Sosok itu tampak kuat, tapi juga lemah, seakan dia habis bertarung matian-matian dan terluka sebelum bertemu dengan Tasya.

Tidak ada jalan lain, Tasya berlari menuju lantai dua. Dia terlanjur berada di anak tangga sedangkan sosok penyerangnya sudah berdiri dan mengancam, “Akan kubunuh kau!” Melompat ke kamar dan mengambil ponsel saat ini bukanlah pilihan yang tepat, pikir Tasya.

Tasya melompati anak tangga secepat yang dia bisa. Di lorong lantai dua itu, dengan bantuan senter, dia melihat pintu kamar loteng dan kunci rumahnya di seberang. Sosok misterius terhuyung-huyung mendekat.

Dosa apa yang sudah dilakukannya hingga mendapat pengalaman buruk seperti itu, keluh Tasya. Lalu membuang jauh pikirannya itu dan segera berlari. Dia nyaris terjatuh saat menaiki tangga, panik karena suara benturan dan teriakan terdengar keras dari belakang punggungnya. Sosok penyerangnya mengamuk. Dia harus cepat mencari perlindungan. Mungkin dengan naik ke loteng dia bisa mengunci pintu, menahan sosok misterius sementara dia bisa keluar dari jendela dan meminta pertolongan—atau mungkin melompat ke bawah jika perlu. Ya, itu satu-satunya pilihan, pikir Tasya. Dan dia mengumpat habis-habisan karena kunci pintu situ susah sekali ditarik.

Suara langkah berat terdengar semakin cepat di belakang. Panik, Tasya menarik paksa kuncinya yang akhirnya bisa tercabut. Dia membanting pintu itu keras-keras, menahannya dengan kaki, menyinari lubang kunci dengan senter, dan menguncinya sampai benar-benar yakin sebelum melangkah mundur dan menunggu.

Entah kenapa, tiba-tiba saja tidak terdengar suara apa-apa lagi di luar sana. Tasya berdiri kebingungan dalam kegelapan.

Dan baru saja Tasya berpikir untuk berlari menuju jendela, mendadak sesuatu menembus punggungnya, dingin dan menyakitkan.

 

****

Read previous post:  
41
points
(911 words) posted by xenosapien 6 years 43 weeks ago
68.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | metafisika | light horror | mistery | pulang kampung | suspense
Read next post:  
Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (5 years 9 weeks ago)

EAT itu Event Akhir Tahun.
Tahun kemaren kekom bikin acara itu, tapi aku gak ikutan karena gak dapat pasangan. Soalnya eventnya itu pesertanya harus berdua. :(

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 30 weeks ago)
80

Xeno, kurasa klo ce dikejar org n hampir terbunuh, di benaknya hanyalah 'Tuhan, tolong aku' atau klo gk 'seseorang tolong aku'. dlm kondisi bgitu, biasanya otak primitif sdh berjalan otomatis.
dia gk sempat mikirn dosa apa yg dibuatnya *kcuali kondisi akan mati itu lbh tenang. krn sakit, misalnya*

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 30 weeks ago)

Ah, soal itu. Argumenku begini.
.
Awalnya Tasya berada pada kondisi dari tak terlindungi, dimana bahaya tidak memiliki halangan untuk menyentuhnya, kan? Tapi, kemudian dia berada di dalam kamar dan mengunci pintu. Dengan begitu kondisinya secara cepat menjadi "lebih aman" dari sebelumnya, karena ada pembatas antara Tasya dan bahaya. Perpindahan yang tiba2 itu bisa menimbulkan jeda sesaat, secara bawah sadar, untuk seseorang mencari alsan, pembenaran, atau bahkan kambing hitam akan apa yang sedang terjadi, tak peduli dia cowok atau cewek. Pernah lihat cewek terdiam sesaat lalu mengumpat/menyumpahi setelah tersiram air oleh kendaraan di tepi jalan? Nah, seperti itulah. Cuma dalam hal ini aku memilih Tasya mencari kambing hitam, yaitu dirinya sendiri dan takdir, dengan dalih dosa. Tasya ini sifatnya selfsentris. Aku udah kasih pentunjuk soal itu dibagian sebelumnya lho. CMIIW :P

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 30 weeks ago)

Mmmm serius xeno, jika ada seseorg yg mengarahkan pisau padaku, terlepas itu gk kena, ditambah aku terkurung, dan lagi penghalang cuma pintu, dan tidak ada org di rumah atau mungkin tetangga yg mendengar kalau aku teriak, itu menakutkan! ;(
dan cb tanyakan pada ce yg drimu anggap kepribadiannya cocok sm tasya ini :D

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 30 weeks ago)

Ahaha... Aku cuma berpendapat tiap cewek punya sifat yang berbeda2, Franci. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang tengah2nya. Tapi semua manusia, terlepas gendernya apa, punya sifat primal yang sama, yaitu bertahan hidup. Cara bertahan hidup tiap orang juga berbeda2. Ada yang melawan masalahnya sendiri, meminta tolong, atau diam lalu hilang orientasi--escapist, dll.
.
Nah, di sini aku buat Tasya menjadi wanita yang mandiri, dia hidup sendiri, sukses, tidak suka bergantung pada siapapun, hingga terbentuk watak dan pendirian yang cukup kuat--kecuali soal cinta. Dengan begitu dia tidak gampang dibuat tidak berdaya oleh rasa takut (blank). Dan tanpa sadar dia masih bisa mengendalikan diri dan kembali pada sifat/sikapnya.
.
Ada beberapa cewek yang kukenal punya sikap seperti ini. Dan dulu, waktu aku jadi panitia ospek saat kuliah, ada junior cewek yang kelihatannya punya sifat seperti Tasya. Ya, emang sih, aku gak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran mereka. Tapi, aku hanya berusaha mengambil contoh aja. Kan setiap individu memiliki kesaman dan perbedaan satu sama lain. :D

Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 30 weeks ago)

Hmmm. aku bs nerima alasanmu :)
Dan sekaligus aku masih penasaran dgn realnya ce begini :p
siapa nih yg bs kita jadikan subjek pengamatan?

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 30 weeks ago)

Sebagai cowok aku berani bilang, kurasa ada banyak wanita2 tegar di dunia ini. Contoh saja mereka yang selamat dari bencana, yang terus tetap hidup setelah kehilangan atau mengalami kepahitan, yang bertempur di medan perang, atau 'hanya' seorang ibu yang tetap tegar menjadi orang tua tunggal dan membesarkan anak-anaknya seorang diri. Mereka2 ini jelas punya potensi memiliki sifat tegar seperti Tasya atau bahkan lebih saat menghadapi bahaya. Benar, 'kan?

Writer anggra_t
anggra_t at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 43 weeks ago)
80

Grr.. Aku ga liat tag light horor waktu buka cerita ini. Apalagi dimulai dengan adegan drama abis. Tadinya hampir mau lempar bakiak ke Xeno karena tau2 perkembangan ceritany jadi ke horor. +_+;
Karena kepalang tanggung jadi kuterusin aja bacanya.
.
Sedikit saran:
Mendingan bikin cerita ini pakek pemisah aja tapi dijadiin satu dalam satu postingan. Kalo bikinnya kepisah dan sedikit2 gini, jadi seperti adegan film yang kepotong2 seperti kata Fany. Aku untungnya baca dari 1 sekaligus sampai 6 jadi ga terlalu berasa.
.
Lalu suasananya katanya di Stockholn ya? Aku malah berasanya di Jakarta lho. Hehehh... Mungkin dikau perlu kasi spesifikasi lagi soal latar. Selain dari rumah settingnya tentu saja.
.
Dan.. Untuk lain2nya, aku nunggu lanjutannya aja (kalo berani... +_+). Penasaran sama apa hubungan tokoh2 pendamping lain dalam cerita ini. Seperti Doni, Nina, Mr. Wang dan pelayannya.

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 43 weeks ago)

Aaah... Anggra terjebak. XD
.
Err... Soal kenapa dipisah per bagian itu sudah pernah ditanyakan sama El, kayaknya. Alsannya ya itu, supaya bisa menuhin syarat buat ikut event EAT. :P
.
Soal setting Stockholm. Hmm, aku pikirnya sih ini saja sudah cukup, mulai dari nama tempat dan tokoh, hujan yang sedingin es, gambaran gedung-gedung rendah dan rumah-rumah bata merah yang tua, dan perapian. Kayaknya jarang di Indonesia. ^^a
Tapi, ya, makasih kritiknya. Mungkin memang bisa dikasih satu atau dua detail lagi soal setting pinggiran kota Stockholm. :P
.
Hehehe... Ayo, nanti baca lanjutannya ya? Tinggal dua bagian aja koq. Walau ada satu bagian extra yang aku belum yakin mau pos apa gak. XD
.
Makasih dah mampir dan terjebak, Anggra. :)
.
PS: *bersyukur gak jadi dilempar bakiak ama Anggra*

Writer cnt_69
cnt_69 at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 43 weeks ago)
80

Em am emmm.... Nunggu aja deh. *topang dagu*

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 43 weeks ago)

Hehehehe... :D

90

eh? eh? eh? ada psychokah d rumah itu???

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 6] (6 years 43 weeks ago)

Hmm, lihat saja kelanjutannya nanti. Setelah ini semuanya dijelaskan. ^^