Hingga Fajar Kemudian [bagian 7]

 

 Tasya menjerit. Dia berbalik dan mengayunkan raketnya, membabi-buta. Dia tidak berpikir untuk mencari tahu siapa atau di mana penusuk punggungnya. Dia hanya ingin menyerang, mengakhiri kejadian buruk yang seakan sengaja datang untuk merusak harinya. Apa salahku? pikirnya, berteriak keras.

“Dia hanya ingin kau pergi,” kata suara itu. Anak perempuan, batin Tasya yang segera membeku.

“Siapa kau?” tanyanya dengan suara bergetar di balik tenggorokan. Diangkatnya senter ke depan, menyinari ranjang berseprai putih bersih. Kakinya bergerak mundur dengan sempoyongan.

“Dia hanya ingin kau pergi,” ulang suara itu yang terdengar sedih atau iba.

Tasya ingin sekali membantah ucapan suara yang tidak memiliki wujud itu. Namun dunia di sekitarnya seakan berputar-putar tidak tentu arah. Kepalanya terasa berat, badannya dingin, perutnya mual, kedua lututnya lemas. Dan ketika sudah tidak sanggup lagi berdiri, Tasya sampai di dekat jendela kamar.

Dirabanya bingkai jendela itu, berusaha menemukan kait dan membukanya. Dia harus segara keluar, batinnya sekali lagi menjerit. Dia harus selamat.

Tasya mencoba menggedor jendela dengan gagang raket. Sayangnya tenaganya sudah terlalu lemah, tersedot keluar dari rasa nyeri di punggungnya. Namun sebelum dia kehilangan kesadaran dan jatuh tersungkur dalam kegelapan, rangka raket Tasya berhasil memecah kaca hingga berhamburan di sekitarnya.

Hal terakhir yang dilihatnya malam itu adalah dua pasang kaki berdiri di depannya, di dalam bias cahaya keperakan dari jendela.

 

****

 

“Sebaiknya kau pulang sekarang dan bicara pada ibumu nanti,” kata suara pria di samping Tasya.

Tasya? batinnya bertanya-tanya, merasa ragu pada dirinya.

“Aku benci ibuku,” Tasya menghardik, tapi bukan atas kehendak dan suaranya. Dia semakin tidak mengerti. Mengapa tiba-tiba saja dia berada di dalam sebuah mobil dan duduk di samping seorang pria. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini neraka?

“Tapi kau salah jika kabur dari rumah seperti ini,” anak laki-laki itu memegang pundak Tasya.

“Aku sudah tiga belas tahun, Erik! Aku punya hak melakukan apa yang aku bisa. Aku punya hak untuk bebas,” Tasya menoleh.

Erik? dia terkejut. Wajah pria di sampingnya memang mirip dengan polisi itu, namun beberapa tahun lebih muda, dan lebih percaya diri.

“Kau tahu itu tidak benar, 'kan? Apapun perbedaan pendapat dengan ibumu, kau tidak dibenarkan keluar pagi-pagi buta seperti ini.”

Tasya merasakan sesak di dadanya. “Jadi kau tidak mendukungku? Kau juga menganggap kalau aku yang salah? Jadi... Jadi kau tidak mencintaiku?”

“Tidak. Bukan itu maksudku. Aku mencintaimu. Sungguh. Tapi....” Erik memalingkan muka. Satu tangannya mencengkeram setir sementara yang lain mulai meremas rambut cokelatnya yang panjang. Panjang? batin Tasya. “Ibumu tidak menyukaiku. Dia tidak suka kau dekat denganku. Kita berdua tahu itu. Tapi kau tidak bisa mengajak kabur seperti ini. Aku juga punya orang tua, adik-adikku yang masih kecil, dan kau... Kau tidak punya ayah, sedangkan adikmu terbaring lemah di kamarnya. Kita berdua punya tanggungjawab yang harus dipegang. Kau tahu itu.”

Ucapan Erik benar, sangat benar, benak Tasya mendukung. “Tapi,” ucap mulutnya, berbeda.

“Dengarkan aku. Suatu saat aku bisa meyakinkan ibumu kalau aku pantas bersamamu. Aku akan menjadi seseorang yang tidak bisa disangkal ibumu. Lulusan SMA yang belum memiliki kerja seperti sekarang, itu yang ibumu lihat dariku. Dan akan kubuktikan kalau dia salah. Setelah itu, kita pasti bisa bersama.”

“Tapi, Erik. Kapan itu—”

“Percayalah padaku,” potong Erik. “Aku akan membuktikan itu secepatnya.”

Tasya menjatuhkan pandang ke arah sepatu botnya di bawah dasbor mobil yang remang. Dan dalam diam sejenak dia bisa merasakan keyakinan yang mantap dari ucapan Erik, seakan setiap tanya bisa sangat dipercaya. Tentu saja. Erik kan seorang polisi tampan dan baik hati, bersedia dibuat repot pagi-pagi.

Tunggu! batin Tasya menyentak. Jika Erik belum menjadi polisi, berarti ini adalah masa lalunya. Kalau begitu, siapa Tasya?

“Lihatlah aku,” panggil Erik. Pemuda itu memutar pundak Tasya hingga dia bisa menatap wajahnya. Tangan Erik yang dingin menyentuh kedua pipi Tasya. “Aku mencintaimu. Selalu. Kita akan baik baik saja tanpa harus begini.”

Keheningan menjajah, Tasya merasakan tubuhnya diam membeku, menunggu sesuatu sebelum matanya terpejam. Tidak lama kemudian dia bisa merasakan wajah Erik berada dekat dengannya. Napas Erik terdengar jelas, memburu namun canggung. Tasya menelan ludahnya di ujung lidah, lalu membiarkan bibirnya lemas. Namun,

“Oh, lihat. Ini sudah jam tiga. Sebaiknya kau segera pulang. Ibumu bisa bangun kapan saja sebentar lagi,” ujar Erik, tergopoh-gopoh. Tasya membuka mata dan, jauh di dalam batinnya dia berteriak, kenapa Erik tidak menciumnya?

“Baiklah,” kata Tasya. “Aku percaya padamu, Erik.”

Erik mengangguk. Melihat itu Tasya membuka pintu mobil dan segera merasakan angin awal musim dingin yang menusuk kulit.

“Sampai bertemu besok,” kata Erik.

“Ya. Sampai besok.”

Tasya menutup pintu pelan-pelan dan mulai berlari menuju pekarangan belakang rumahnya. Dia tidak menoleh ke belakang. Jauh di dalam hatinya entah mengapa dia pasti akan kembali ke mobil itu jika melihat wajah Erik.

Anjing tetangga menyalak, Tasya berlalu mengabaikannya.

Dia melompati pagar kawat rendah lalu berjingkat-jingkat seperti maling. Dia yakin pintu belakang itu masih terbuka, karena yakin dia tidak menguncinya saat keluar beberapa jam yang lalu. Dan dia benar.

Tasya masuk ke dapur dan segera mengenali tempat itu dalam kegelapan. Bias cahaya memperlihatkan bentuk ruang yang sama, namun dengan aroma yang berbeda. Bau manis buah seakan berputar-putar di sekelilingnya.

Dia mendengar suara mobil di kejauhan, perlahan-lahan menghilang. Erik sudah pergi, pikirnya.

Tasya berjalan dengan meraba melewati dapur dan ruang keluarga. Dalam hatinya dia merasa tempat itu terlalu sepi.

Di lorong, di depan pintu kamar utama dia mencium bau anyir dan mendengar suara-suara aneh. Dia tidak bisa menerka bau dan suara apa itu, hingga mengabaikannya dan terus berjingkat-jingkat menaiki tangga menuju kamarnya. Lampu lorong lantai dua masih menyala.

Tunggu! Kamarnya bukan di kamar utama? batin Tasya menentang, lalu kembali sadar kalau dia sekarang bukan lah dirinya sendiri.

Namun satu anak tangga menjerit ketika diinjak.

Sekonyong-konyong suara gaduh samar terdengar dari bawah, lalu diam. Tasya terpaku di ujung tangga. Merasakan sesuatu yang janggal, berat dan berbahaya di udara. “Ibu, kaukah itu?” ucapnya, bergetar.

Lantas sebuah pikiran hinggap di benak Tasya. Bau anyir itu.... Dia yakin itu bau darah.

Sekejap kemudian sosok itu muncul di hadapannya. Sosok bertudung dengan wajah tertutup topeng kain berwarna hitam. Sosok itu mirip seperti orang yang menyerang membabi-buta di ingatan Tasya, hanya dengan ukuran yang sedikit lebih besar. Tasya menjerit, sosok itu menyerang dengan parang.

Larilah! Lari! jerit benak Tasya pada siapapun dia sekarang. Tubuhnya yang membeku segera bereaksi, berlari secepat yang dia bisa, menjauh dari sosok.

Dia tidak sempat berpikir untuk berbelok dan bersembunyi di kamarnya. Sosok penyerang itu sangat dekat, dan satu-satunya pilihan baginya adalah kamar loteng.

Kamar itu jaraknya cukup jauh, memberinya kesempatan untuk berlari membangun jarak dari sosok yang menyerang. Itu kamar adiknya, dan di sana dia bisa bersembunyi, mengunci pintunya sampai pagi, atau keluar dari jendela dan melompat keluar bersama adiknya. Deja vu.

Tasya membanting pintu. Meraba, menemukan kunci tergantung di lubang dan segera memutarnya. Dia melangkah mundur, lalu menabrak sesuatu yang mendesah berat. Matanya mulai terbiasa dalam gelap, dan saat berbalik dia melihat wajah adiknya dengan mulut terbuka lebar menarik napas.

Tasya menjerit sembari mendorong wajah itu darinya, tanpa sadar. Adiknya tampak seperti hantu dalam keremangan seperti itu. Dia melompat mundur, dan tubuhnya menghantam pintu.

Belum cukup rasa takut itu meremas jantungnya, Tasya kembali harus berteriak ketika di samping kepalanya ujung parang mencuat bersamaan dengan suara derak keras.

Refleks, Tasya bersembunyi di samping pintu, duduk meringkuk mencoba menganggap kalau semua itu cuma mimpi. Tidak mungkin ada orang jahat di rumahnya, memukul pintu dengan parang. Sebentar lagi ibunya pasti akan membuka pintu dan membangunkannya.

Dia menangis.

“Ta—”

Sekali lagi Tasya menjerit ketika adiknya mencengkeram lengannnya. Lalu dia sadar kalau dia baru saja bersikap kasar padanya. Adiknya sedang sakit, dan entah kenapa tampaknya menjadi lebih parah. Tidak seharusnya tadi dia mendorongnya seperti tadi. Dia merasa bersalah.

Tasya hendak memeluk adiknya dan berkata kalau semua akan baik-baik saja. Namun baru saja niat itu sampai di ujung jarinya, sesuatu menembus tubuhnya dari belakang, dingin dan menyakitkan.

Tubuh Tasya seperti tersengat listrik, nyeri dari kepala hingga ke ujung kaki. Dan lebih menyiksa lagi dia tidak bisa bergerak, napasnya dengan cepat menjadi sesak, tersedak seakan dirinya sedang tenggelam dalam sumur yang dalam.

Dia tertusuk, kata seseorang jauh di dalam benak Tasya. Dia akan mati.

Tidak! Dia tidak boleh mati! batin Tasya mendesak. Dia masih memiliki rencana. Dia masih harus meminta maaf pada ibunya dan menjelaskan hubungannya dengan Erik. Dia masih menunggu ucapan Erik terbukti. Dia masih harus merawat adiknya hingga sembuh. Dia harus tetap hidup!

Ini cuma mimpi. Sebentar lagi hari akan terang, dan semua mimpi buruk ini akan berlalu. Ini cuma mimpi. Mimpi buruk yang akan jika fajar tiba nanti.

Dan setelah rasa sakit yang sangat hebat di puncak kepalanya, sekeliling Tasya menjadi gelap, dingin, dan dalam.

 

****

Read previous post:  
43
points
(1128 words) posted by xenosapien 6 years 35 weeks ago
71.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | metafisika | light horror | mistery | pulang kampung | suspense
Read next post:  
Writer franci
franci at Hingga Fajar Kemudian [bagian 7] (6 years 22 weeks ago)
90

Yg ini membuatku agak deg2an. emosinya pas. tp sistem deskripsimu agak panjang dan banyak dlm 1 kalimat. mungkin itu gayamu yah?

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 7] (6 years 22 weeks ago)

Aku pake kalimat bertingkat yang panjang juga kadang kalimat tunggal yang pendek koq. Tergantung keperluan aja. :)

Writer Dendy Agha
Dendy Agha at Hingga Fajar Kemudian [bagian 7] (6 years 31 weeks ago)
100

asik....

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 7] (6 years 31 weeks ago)

Ah, makasih dah mampir. :)

Writer cnt_69
cnt_69 at Hingga Fajar Kemudian [bagian 7] (6 years 32 weeks ago)
80

Lanjut aja deh. :D *meluncur*

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 7] (6 years 31 weeks ago)

Hehehe... :D

Writer xenosapien
xenosapien at Hingga Fajar Kemudian [bagian 7] (6 years 35 weeks ago)

Ah, soal kata 'menjerit' itu hanya permainan kata aja sih, 'berdecit' kan udah sering dipake. Hahaha... Tapi makasih dah dikomen.
.
Hmm, ya, bagian selanjutnya bakal memperjelas bagian ini koq. :)
.
Makasih, ya. :)

80

entah kenapa saya kurang sreg dengan kata "menjerit" yg menjelaskan bagaimana suara anak tangga ketika diinjak. soalnya klo jerit kn melengkingnya melambung gtu. (menurut saya lho) mending "berdecit".
.
pas Tasya sama Erik itu gambaran masa lalukah? saya agak bingung dgn part yg ini soalnya keburu-buru gmnaa gtu. tpi yah, nunggu lanjutannya dewh ^^a