Hingga Fajar Kemudian [bagian 8 - Final]

 

 Cahaya, pikir Tasya. Dia melihat warna kuning kemerahan yang terang dan hangat di balik kelopak matanya. Apakah sekarang dia di surga?

Dia membuka mata, terasa berat, dan samar-samar melihat dua sosok anak perempuan berdiri di sampingnya. Dua anak yang wajahnya hampir serupa, berambut pirang dan panjang, berpakaian layaknya gadis di usia mereka, manis dan modis, saling berpeluk dengan tubuh berlapis cahaya; Mereka tersenyum. Mereka cantik.

“Maafkan aku,” kata salah satu dari mereka, lirih di telinga Tasya. “Terima kasih.”

Tasya tidak mengerti. Dia mengejap dan menggeleng. Namun begitu kembali membuka mata, kedua anak perempuan itu sudah tiada, digantikan dengan sosok dua pria yang berdiri di dekat jendela—asal cahaya kuning kemerahan yang sebelumnya dilihat Tasya. Mereka berbicara, namun tidak terdengar dengan jelas.

Tasya mulai mengamati lingkungan di sekelilingnya. Dia terbaring di ranjang, di sebuah ruangan yang bersih dan hangat, dengan peralatan-peralatan yang berdengung di dekatnya entah di mana, meja plastik, vas kecil berisi bunga tulip kuning dan putih. Dia di rumah sakit.

“Sayang, kau sudah sadar?” tanya satu dari kedua pria di jendela. Dia mendekat dan Tasya merasakan jemarinya digenggam, lembut.

“Doni,” panggil Tasya setelah mengenali suara dan bayangan pria itu. Dia mengerjap sekali lagi, dan bersyukur pandangan matanya semakin jelas.

Wajah pria berkulit cokelat terang itu menatapnya dengan kening berkerut dalam.

“Oh, syukurlah,” kata Doni.

“Berapa lama aku di sini?” tanya Tasya, dan heran kenapa itu yang dia ucapkan.

Doni menoleh ke arah pria lain yang masih berdiri di dekat jendela. Cahaya terang di belakangnya membuat sosok itu terlihat hanya berupa siluet, sampai akhirnya dia melangkah maju dan memperlihatkan wajah kokoh dan kedua mata cokelat kehijauan.

“Aku senang Anda sudah sadar. Anda sudah satu minggu di rumah sakit ini,” kata Erik, Tasya mengenali. Sontak terbayang sosok pria itu saat masih muda, seakan itu adalah kenangan miliknya.

“Apa yang terjadi?” Tasya mencoba mengingat-ingat. “Pembunuh itu. Orang gila itu.”

Mulut Doni membuka, namun tangan Erik mencengkeram pundaknya. “Nanti kami akan memberitahukan Anda semuanya,” kata polisi muda itu.

“Tidak. Dia harus tahu sekarang,” bantah Doni. “Ini semua ulah Nina.”

“Nina?” Bayangan sahabatnya itu melintas di benak Tasya. Mulai dari di restoran Lan Tian-e, perselisihannya dengan si pelayan, pertanyaannya tentang rumah baru, ucapannya yang tidak bersuara. Mungkinkah Nina melakukannya? Mencoba membunuhnya? “Kau pasti salah, Doni. Nina tidak mungkin melakukan ini padaku. Kami berteman lama bahkan sebelum aku bertemu denganmu.” Kepala Tasya mulai pening.

“Cukup, Pak. Nona Rosén baru saja tersadar. Dia butuh istirahat,” ujar Erik dengan suara tenang dan hangat.

Doni menggeleng dan menghela napas, “Kau benar. Maafkan aku, Tasya,” katanya. Pria itu menunduk, namun Tasya bisa melihat kerut di kening kekasihnya berkurang.

“Sebaiknya kita pergi memanggil dokter dan, kita biarkan Nona Rosén di sini sejenak,” usul Erik yang menepuk pundak Doni.

“Erik!” panggil Tasya. “Eh, Pak Erik,” koreksinya, sadar kalau Doni mungkin tidak tahu dia pernah bertemu dengan polisi itu sebelumnya. “Bolehkah aku berbicara denganmu sebentar?” Kedua pria itu bertukar pandang. “Doni. Biarkan aku berbicara dengannya. Tolonglah?”

Tasya bisa merasakan ketidaksetujuan tak kasatmata terpancar kuat dari sosok Doni yang sejenak kaku. Namun kemudian kekasihnya itu berkata, “Baiklah. Aku tunggu di luar.”

Tasya menunggu sampai Doni menutup pintu di belakangnya sebelum kembali berbicara. “Erik. Apa benar yang dikatakan Doni tadi?”

“Oh, sudahlah Nona Rosén. Anda tidak perlu memikirkan soal—”

“Gadis yang ingin kabur itu, siapa dia?” potong Tasya, dan dia bisa melihat wajah Erik pucat seketika. Tasya menunggu sedikit lama sampai memutuskan untuk kembali berbicara. “Aku mendapat mimpi. Aku menjadi dia, dan kau ada di dekatku. Kau dalam versi yang lebih mudah dari sekarang.

“Gadis itu ingin kabur dari rumah, namun kau menolak. Dan pagi buta itu juga dia terbunuh di rumahnya. Rumahku. Apa itu nyata?”

Kebisuan melanda. Tasya berusaha sabar sampai Erik bersedia bicara. Dia bisa melihat keraguan di kedua mata polisi muda itu, terlukis gamang antara terkejut, takut, dan tidak percaya. Tatapan pria itu jatuh dan bergerak-gerak canggung, hingga akhirnya dia berkata, “Dia gadis pertama yang aku suka.”

“Dia meninggal?”

“Ya. Korban pembunuhan. Ditemukan beberapa hari setelah kejadian. Setelah aku memberi laporan.”

“Adiknya. Apa dia masih hidup?” tanya Tasya, walau dia tahu jawabannya.

“Tidak. Dia juga meninggal di tempat, karena penyakitnya yang kambuh dan terlambat ditangani.”

“Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku pagi itu?”

“Itu. Kurasa tidak perlu.”

“Tidak perlu? Tapi roh gadis itu menusukku.”

Tasya melihat kedua mata Erik membelalak sesaat, lalu polisi itu tertawa. “Anda bercanda, Nona Rosén. Mana mungkin ada roh yang bisa menusuk.”

“Lalu bagaimana aku ditemukan?” tantang Tasya, berusaha tidak menunjukkan kalau pening di kepalanya semakin menjadi-jadi, seiring dia berusaha mengingat kejadian mengerikan di rumahnya. “Katakan semuanya.”

Erik terdiam beberapa saat. “Anda ditemukan di lantai dua. Tidak. Saya bersama Ibu Mendez yang menemukan Anda di lantai dua. Saya melihat Ibu Mendez tiba sebelum jendela di rumah Anda pecah”

“Kau mengawasiku?”

“Maaf. Tapi ya, saya mengawasi Anda. Rumah saya tidak jauh dari rumah Anda dan,”

“Apa kau tahu kalau roh gadis itu akan membunuhku?”

“Tidak!” Mata Erik membuang pandang. “Itu tidak mungkin.”

“Kalau begitu lanjutkan. Ceritakan apa yang terjadi?” Tasya menahan erang.

“Saya menemukan penyerang Anda, mati, di tangga menuju lantai dua. Dan Saya menemukan Anda terbaring di dekat jendela di lantai satu. Dengan luka di punggung.

“Petugas tidak menemukan senjata tajam di kamar loteng, melainkan di ruang keluarga, dengan....”

“Dengan apa?”

Alis Erik tertarik menyatu. “Dengan tidak ada darah atau sidik jari si pembunuh, ataupun diri Anda. Kami tidak menemukan alat bukti lain, sementara kalian berdua mengalami luka tusukan yang fatal.”

“Pembunuh?”

“Ya. Kami berhasil mengidentifikasi penyerang Anda sebagai pelaku pembunuhan sepuluh tahun yang lalu. Dia... yang membunuh... gadis yang Saya cintai,” ucapan Erik tersendat-sendat di kalimat terakhir. “Cukup Nona Rosén. Soal ini bisa dibicarakan nanti. Petugas lain akan menceritakan semua pada Anda secara detail. Anda istirahat saja dulu.”

“Tidak, Erik. Satu pertanyaan lagi.”

“Oh, jangan—”

“Satu saja, Erik. Setelah itu kau boleh pergi.”

Erik diam sejenak. “Baiklah. Apa itu?”

“Aku ingin tahu apa hubungan semua ini dengan Nina. Singkat saja.”

Tasya melihat dada Erik mengembang. “Sehari setelah kejadian Nona Nina datang memberi pengakuan. Dia berkata telah menyuruh asistennya, Nona Claire Heatherfild—berkebangsaan Inggris—mencari seseorang untuk menakut-nakuti Anda di rumah itu. Tujuannya supaya hubungan Anda dengan Tuan Doni rusak, dan kalian tidak jadi menikah. Namun ternyata, secara kebetulan—atau tidak, orang yang dimintai bantuan Nona Claire ternyata adalah si pembunuh. Masalah ini akan naik ke pengadilan setelah Anda dinyatakan sembuh oleh dokter. Saat itu Anda akan tahu lebih jelas lagi.”

Nina? Kenapa dia sampai melakukan itu.

“Terima kasih, Erik. Terima kasih sudah menjelaskan.”

“Sama-sama, Nona Rosén.”

“Berhentilah bersikap formal. Panggil aku Tasya.”

“Baik, Tasya.” Erik tersenyum.

“Dan kau tahu. Dalam mimpiku, aku tahu seberapa dalam perasaan gadis itu padamu. Dia sangat mencintaimu. Dia ingin tetap hidup sampai fajar tiba hanya untuk memastikan kau menepati janji.” Erik tampak tertegun. Tasya bisa melihat kedua mata pria itu berkaca-kaca. “Maafkan aku. Namun entah mengapa aku merasa harus memberitahukan itu padamu.”

“Tidak apa-apa. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu,” Erik tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tersenyum lalu berjalan menjauh, meski kemudian berhenti dan berbalik sebelum membuka pintu. “Jadi, apakah kau akan kembali ke rumah itu setelah ini?”

Pertanyaan itu entah bagaimana terasa bukan sebagai beban bagi Tasya yang baru saja mengalami kejadian buruk di sana. Hingga dia menjawab, “Ya. Tentu aku akan tinggal di sana.” Lalu menerka gelagat Erik yang menunjuk pintu dengan lirikan mata. “Meski Doni menentang. Aku akan tetap tinggal di sana. Setidaknya dalam beberapa waktu. Entah bagaimana aku yakin dia tidak akan menyerangku lagi.”

“Namanya Tasya.” Erik tersenyum dan membuka pintu. “Semoga kau lekas sembuh. Sampai nanti.”

Sedikit terkejut, Tasya menjawab, “Sampai nanti.” Tasya terdiam, terpaku.

Jadi, nama gadis itu sama dengannya? batinnya.

 

Fin

*****

Read previous post:  
45
points
(1441 words) posted by xenosapien 6 years 26 weeks ago
75
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | metafisika | light horror | mistery | pulang kampung | suspense
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Maaf, Mel. Bagian yang kesembilan biarkan jadi misteri aja, ya. :D
.
Wah, makasih banyak udah baca mini serinya sampai selesai, ya, Mel. Senang kalau kamu suka ceritanya. ^^/

80

Mmmm... klo namanya jg tasya, knp di bag lalu pas di mobil sm erik yg lbh muda ada kata2 'tasya?'

aku gk ngerti itu. yg lainnya blm dijelaskan, tp aku bs terima krn tdk kontradiksi. Xixixixix

Eh, klo gak salah nama Tasya di bagian itu cuma muncul di narasi lho. Hayo, coba dilihat lagi. :P

Betul. yg di narasi. aku gk paham itu maksudny apa. apakah itu?

Err.. Klo aku jealskan di sini, nanti spoiler. XD
Tapi tentu saja ada maksud tertentu kenapa nama Tasya cuma ada di narasi pada bagian itu. :P

80

Oooo... Begono... :D *kabuuuurr*

Ahahaha...
.
Makasih dah baca serial ini sampai selesai, Fanny. :)

80

udah selesai?
yah...
(penonton kecewa)

Ehehehehe... XD
.
Makasih dah mampir ya. :)

sama2...
oh iya. kk, kalo ada waktu minta cabenya dong...

Eh? Nanti aku mampir ke postinganmu. :)

80

... aku datang dan memoin saja. :D

Hehe... Makasih, Anggra. :)

80

aduh, saya g mudeng nih malah sama part terakhirnya. -.-
jdi si Tasya itu punya kembaran y? trus berarti dalangnya itu si Nina? saya pikir rumah itulah yg jadi magnet p'cobaan pembunuhannya. entahlah..

Hehe... Itu terserah pembaca bagaimana menginterpretasikannya. :D
.
Makasih dah baca dari awal ya, Agatha. :)

80

Ohh, jadi namanya Tasya.. He

Hehehe... Ya, begitulah. :D
.
Makasih dah mampir, Dandies. :)