Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 21)

 

Joanna tidak pernah sebimbang ini sebelumnya. Dia ingin sekali melihat keadaan Tristan, hanya saja dirinya tidak tahu persis apa alasan yang mendasari dia untuk menjenguk Tristan.

“Apakah benar Tristan kecelakaan? Apakah aku harus melihat keadaannya?” batin Joanna berkecamuk dan alih-alih rumah sakit itu searah dengan tokonya, Joanna bermaksud untuk mampir sejenak ke rumah sakit. Sebagai orang tua siswa yang diajar oleh Tristan, mungkin tidak ada salahnya kalau dia menjenguk guru itu.

Joanna sudah berada di parkiran rumah sakit saat perasaannya mulai berkecamuk. Joanna termangu di dalam mobilnya sambil mencoba merasionalkan segala alasan untuk menjenguk. Memang seharusnya tidak serumit itu, toh dia hanya datang sebagai orang tua siswa yang peduli.Tapi, perasaannya berkata lain. Ada sebentuk kekhawatiran yang membuat Joanna sendiri tidak habis pikir.

Joanna lantas masuk ke rumah sakit. Dengan gontai, dia menapaki setiap lantai rumah sakit, sampai ke depan ruangan Tristan dirawat. Saat itu, Joanna hanya mengintip dari balik kaca pintu rumah sakit. Dilihatnya sosok Tristan yang terbaring lemah dengan infus dan selang membuat Tristan kelihatan sangat rapuh. Bulir air mata perlahan menetes tanpa Joanna sadari. Saat itu, sosok yang sudah tidak asing lagi, tampak memperhatikan Joanna dari jauh. Joanna tidak menyadari kehadiran sosok itu di sana.

Teacher Tristan, semoga lekas sembuh,” gumam Joanna sambil berlalu dan mengusap kedua matanya, menahan tangis.

Sementara itu, sosok yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa menghela nafas. “Joanna. Kenapa kau tidak masuk saja? Kau mengacaukan semuanya,” kata sosok itu, Adam.

Di perjalanan menuju toko, Joanna menerawang. Berbagai perasaan dan pikiran, campur aduk di benaknya. Dirinya tidak bisa terus bermain-main dengan perasaan. Dia harus benar-benar bisa mengontrol perasaannya yang sering berubah tak tentu arah dan memang itulah yang sekarang sedang Joanna pikirkan. Berbagai pertemuan yang bukanlah kebetulan, telah membuatnya sadar kalau dirinya harus punya pilihan.

***

Joanna tidak bisa tidur semalaman. Dirinya hanya melamun, atau mungkin merenung. Nathan sendiri sudah tertidur sejak pukul delapan malam dan sekarang sudah jam dua belas lewat. Joanna bimbang. Entah kenapa akhir-akhir ini dia lebih sering bimbang. Sebelum kemunculan Adam di Indonesia, dia bisa melewati hari-harinya dengan ceria seperti biasa, bersama Nathan. Tapi sekarang, semua seperti dijungkirbalikkan. Dirinya tidak bisa lagi seceria hari kemarin.

Lamunan Joanna dikejutkan oleh bunyi telepon genggamnya. Joanna tidak ingin mengangkat telepon itu sebenarnya, tetapi telepon itu tidak mau berhenti bordering. Dengan geram Joanna mengambil telepon genggamnya dan tertera sebuah nama di layarnya, Tristan.

“Pasti Adam. Ada apa sih? Kenapa harus menelepon selarut ini?” gerutu Joanna dalam hati.

Joanna mengangkat telepon Adam dan mula berbicara, “Kenapa, Dam? Haruskah kau menelepon selarut ini? Aku kan…”

“Tristan kritis. Aku meneleponmu hanya agar kau tahu. Kau akan datang atau tidak?” kata Adam memotong kata-kata Joanna di telepon.

Tubuh Joanna melemas sementara tangannya masih memegang telepon. Terdengar sayup-sayup suara Adam di ujung telepon. Sebelum benar-benar menutup teleponnya, Adam meminta Joanna untuk datang dan membawa Nathan juga.

Joanna masih memegangi teleponnya. Badannya limbung. Dia beringsut menuju lemari untuk mencari baju hangatnya. Nathan yang sedang tertidur, dia gendong dengan segera. Setengah berlari, Joanna menuju garasi mobilnya. Setelah memastikan semuanya aman dan pintu terkunci, Joanna mulai memacu mobilnya menuju rumah sakit. Entah setan atau malaikat apa yang membuat dirinya harus berada di rumah sakit, saat itu juga.

***

Tergopoh-gopoh Joanna menggendong Nathan yang tertidur pulas. Di koridor tempat Tristan dirawat, sudah ada Adam, beberapa guru teman Tristan, dan juga Cherry. Beberapa guru yang melihat Joanna datang, memandang bingung dan setengah bertanya-tanya. Sebenarnya, Joanna tak datang pun tak apa, toh dia bukan saudara ataupun kerabat Tristan.

“Mama Nathan datang juga?” tanya Cherry lirih.

“Iya Teacher,” jawab Joanna, tak kalah lirih.

Adam berbicara dengan dokter dan mengikuti dokter untuk masuk ke ruangan. Cherry terduduk lesu di kursi koridor rumah sakit, begitu juga dengan Joanna. Nathan dibaringkan di kursi panjang. Jadilah Joanna dan Cherry duduk bersebelahan. Saling membisu.

“Mama Nathan,” kata Cherry memecah keheningan mereka.

Joanna terkejut dan segera menolehkan pandangan ke arah Cherry, “Ya, Teacher? Ada apa?”

Cherry terdiam lagi. Dirinya seperti tak kuasa berbicara. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas, Cherry dan Joanna sedang sama-sama gamang. Mereka saling berdiam diri. Ada perasaan terpendam yang sepertinya ingin mereka sampaikan satu sama lain, tapi tidak bisa. Setelah beberapa saat diam, Cherry kembali membuka obrolan, “Mama Nathan kenapa mau datang?”

Joanna terkesiap. Dirinya benar-benar belum menyiapkan alasan dan jawaban untuk pertanyaan semacam ini. Beruntung, Adam keluar dari ruangan Tristan dan menyelamatkan kebisuan di antara Cherry dan Joanna.

“Cher, bisa bicara sebentar?” kata Adam pada Cherry dan mereka pun berjalan agak menjauh dari Joanna. Joanna melihat Adam berbicara serius sekali pada Cherry. Entah apa yang mereka bicarakan, Joanna tidak ingin mencuri-curi dengar.

Adam dan Cherry lalu menghampiri Joanna. Cherry terduduk lesu di samping Joanna. Perlahan, Joanna mendengar isak yang lirih dari sampingnya. Cherry menangis. Entah apa yang dia tangisi. Padahal, Tristan pun belum benar-benar pergi untuk selamanya. Joanna hendak bertanya, tapi dia urungkan niatnya. Dia tidak ingin menambah melankoli suasana.

Teacher, sabarlah. Doakan saja yang terbaik untuk Tristan,” kata Joanna sambil merangkul pundak Cherry.

Cherry keheranan dan dengan sigap mengusap matanya yang basah. Dia lalu berkata, “Iya Mama Nathan. Maafkan saya.”

Kali ini, Joanna yang keheranan. Joanna lalu menepuk-nepuk bahu Cherry untuk menenangkan sambil berkata, “Saya yang minta maaf, karena telah mengganggu kalian berdua. Saya hanya tidak ingin Nathan sedih. Tidak ada maksud lain di samping itu.”

Cherry memandang Joanna dengan tatapan haru. Ada perasaan bersalah dalam diri Cherry. Cherry pun menggenggam tangan Joanna dan melihat senyum Joanna yang seolah terpaksa, membuat mata Cherry berkaca-kaca.

“Mama Nathan, bukan begitu,” kata Cherry terbata-bata.

“Tidak apa Teacher. Sebaiknya saya pulang saja. Lagipula, Nathan besok harus sekolah,” kata Joanna.

Joanna pun beranjak dari duduknya dan menyalami tangan Cherry sebelum akhirnya berpamitan. Joanna menggendong Nathan yang masih tertidur lelap dan dengan cepat, Adam sudah mengikuti Joanna.

“Anna, biarkan aku menggendong Nathan,” kata Adam ragu.

Joanna melirik Adam sebentar sebelum akhirnya menyerahkan Nathan padanya dan berkata, “Baiklah. Hati-hati, jangan sampai Nathan terbangun dan jangan anggap ini sesuatu yang lebih.”

Adam tersenyum getir dan berkata, “Aku biasa saja. Aku hanya ingin melihatnya dari dekat, Anna. Ternyata dia mirip sekali denganku ya?”

Joanna hanya diam tak menjawab. Mereka berdua terus berjalan menuju parkiran rumah sakit, meninggalkan Cherry yang masih membisu di koridor. Cherry lalu masuk ke ruangan Tristan.

“Tristan, semoga cepat sembuh. Ada salam dari Mama Nathan,” kata Cherry lirih.

Jari-jari Tristan bergerak sampai menyentuh tangan Cherry. Cherry menghentikan tangisnya dan mencoba mengajak Tristan berbicara.

“Cherry…” kata Tristan pelan, mengejutkan Cherry sebelum akhirnya dia berkata, “Mama Nathan…”

Cherry menahan tangisnya. Apa sebenarnya posisi dia di hati Tristan? Haruskah dirinya selalu disandingkan dengan Mama Nathan?

Read previous post:  
82
points
(1116 words) posted by herjuno 7 years 23 weeks ago
82
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | Di Ujung Pelangi | kolaborasi
Read next post:  
dadun at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 21) (7 years 21 weeks ago)
80

joanna galau. cherry tambah galau :p

Writer majnun
majnun at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 21) (7 years 22 weeks ago)
80

ikut miss flo aja ah..
poin..

90

poin sajah :)'yg lainnya sudah dikomen oleh yg lain

MAAF YAAAA DATAR BANGET.. ==a

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 21) (7 years 22 weeks ago)
90

Saya ngerasa agak useless Joanna pergi ke rumah sakit dua kali hanya untuk bertemu Cherry dan Adam, tapi Tristan tidak. Entahlah, mungkin ini bisa jadi pemicu cerita berikutnya. :D

100

hmmm... kasihan Tristan jadi sejauh ini nasibnya...
dan adam, kenapa dia menyerah...
berharapnya sih tristan dan adam porsinya seimbang dalam memperjuangkan joanna, jadi ending bisa memunculkan banyak alternatif...

80

kalimatnya Adam yang: Kau mengacaukan semuanya,"
itu artinya apa ya? saya g mudeng. (maafkan keLOLAan saya!) >.<
itu aja sih.

80

ini part novel, ya, yu? joanna-nya lucu...pengulangan nama dan kata yg sama sebaiknya dikurangi...

maksudnya ini loh, yu.."kata joana...joana berkata..

Writer cat
cat at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 21) (7 years 22 weeks ago)
70

Nathannya tidur e pulas bener yah.

Uda pindah sana sini masih aje molor.

:‎​​(˘_˘)ck! (˘_˘)ck! (˘_˘)ck !

Anak baek.

Lalu aku kok merasa emosinya datar yah.

Walo ada keadaan kritis tp kok ndak ada emosi.

Dan dari kemaren aku pengen menanyakan hal ini.

"Di mana orang tua angkatnya Tristan? Mengapa mereka tidak ada terlihat sekalipun di Rumah Sakit?"

Next estafeter aku menunggu kejutannya.