Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 22)

Malam semakin larut. Dalam keremangan, Joanna bisa melihat siluet bayangan Adam yang sedang menggendong Nathan, dengan posisi yang sama seperti tempo hari saat Nathan digendong Tristan. Entah bagaimana, Joanna merasa seperti sedang mengalami déjà vu. Tapi, hal itu tak mengubah apa pun. Perasaannya masih sedingin biasanya, tak lagi hangat seperti tempo hari. Joanna menghela perlahan. Seandainya Tristan yang ada di depannya saat ini, apakah—

Joanna menggeleng cepat. Ia menggigit bibirnya sendiri untuk membantunya menyingkirkan pikiran semacam itu. Tristan saat ini tengah terbaring di gedung di belakangnya, dan kehadirannya tidak mungkin dapat mengubah apa pun, kan? Nathan juga masih tertidur. Tak ada alasan baginya untuk datang ke rumah sakit, meskipun itu hanyalah bentuk kekhawatiran seorang wali murid kepada guru putranya.

Matanya menghangat seketika. Joanna memejam keras-keras, memaksakan diri untuk tidak mengulangi tindakan bodohnya tadi. Bayangkan, ia menangis. Demi apa air matanya itu sampai jatuh?

Dalam hati, ia mengumpat. Bagaimana mungkin ia bisa mengiyakan saja permintaan Adam untuk datang ke rumah sakit? Sejak awal, kehadirannya di depan kamar rawat Tristan sudah tidak masuk akal. Joanna terhenti. Sumbat di pikirannya seolah menghilang entah ke mana, hingga sel darah merah mampu mengalir lancar memasuki otaknya. Ada yang tidak beres.

Joanna mengangkat wajahnya, matanya berubah tajam. “Dam.”

Lelaki yang dipanggilnya seketika berhenti, tanpa menoleh.

“Sebenarnya, buat apa kamu memintaku ke sini? Teacher Tristan memang guru anakku, tapi itu bukan alasan yang kuat untuk memintaku tengah malam begini datang ke rumah sakit. Kamu juga minta aku bawa Nathan. Padahal, kamu pasti tahu betul kalau udara malam nggak bagus buat anak kecil.”

Adam berbalik, lalu memandang Joanna lembut. Joanna bergeming, matanya justru makin tajam. “Kamu sendiri, An? Kenapa kamu mau datang? Karena aku yang minta, atau karena Tristan yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit ini?”

Joanna diam. Ia yakin bukan karena alasan yang pertama. Tapi, alasan yang kedua? Ia tak tahu. Sebagai jawabannya, ia langsung menghampiri Adam dan meminta Nathan. Joanna merasa bodoh. Bagaimana mungkin dia bisa mengijinkan lelaki brengsek itu menggendong anaknya? Ini pasti hanya karena ia sedang kalut. Joanna tepekur. Kalut? Karena apa?

“Anna…,” kata Adam lirih sewaktu Joanna mengambil paksa Nathan dari gendongan Adam.

Joanna lantas memeluk putranya erat-erat. Ia mendongak, lalu menatap dingin lelaki di hadapannya. Ia tak peduli dengan tatapan terluka itu. Joanna jauh lebih terluka.

“Mama….”

Panggilan lirih itu menyentakkan keduanya. Joanna segera tersenyum waktu melihat Nathan terkantuk-kantuk di gendongannya. “Maaf, Nathan bangun gara-gara Mama, ya?”

“Dingin, ini di mana?”

“Ini di rumah sakit, Sayang,” kata Joanna sambil mengeratkan pelukannya. Joanna menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya ia memakaikan jaket yang lebih tebal untuk Nathan. Bahkan, seharusnya ia tidak ke rumah sakit. Ini semua salah Adam.

Cepat, sebuah tangan besar menyelimutkan jaket ke tubuh Nathan. Joanna menengadah. Matanya bertemu dengan mata Adam. Dalam diam, Joanna berusaha mengungkapkan rasa tidak sukanya.

“Malam ini dingin. Sebentar saja, biarkan anak ki—” Adam terbungkam waktu menyadari mata membulat Nathan. Adam tersenyum, lalu membelai kepala botak bocah itu. “Biarkan Nathan merasa hangat. Iya, kan, Nathan?”

Nathan hanya bengong, lalu menatap Mamanya. “Kok Oom Adam di sini, Ma? Yang sakit, siapa, Ma?”

Joanna bungkam. Ia hendak mengatakan bahwa yang sakit adalah guru kesayangan Nathan, tapi ia tak sanggup. Bibirnya bergetar dan matanya mulai menghangat lagi. Ini bukan apa-apa. Ini pasti hanya karena ia tak mau anaknya mendapati kenyataan bahwa orang yang disayanginya sakit.

“Yang sakit, Teacher Tristan, Nathan.”

Joanna membelalak seketika. “Dam!” bisiknya tertahan.

Adam mengabaikannya. “Nathan mau jenguk Teacher Tristan?”

“Mau, mau, memangnya Teacher sakit apa, Oom?”

Adam hanya tersenyum. Sementara, Joanna masih menatap lelaki di hadapannya itu tak percaya.

 

***

 

“Kenapa kamu tanya soal Mama Nathan? Dia nggak ada.”

Tristan mencoba bicara lagi. Tapi, akhirnya ia hanya diam dan memandang kosong ke langit-langit. Cherry yang melihat itu hanya menggigit bibir. Matanya bahkan sudah berair. Ditatapnya lelaki yang terbaring lemah itu. Cherry ingin marah. Ia ingin mengungkapkan semua beban di hatinya kepada Tristan, tapi kata-kata itu tertahan di kerongkongan. Hasrat untuk mencurahkan semuanya lenyap, berganti dengan rasa sayang saat melihat mata sayu itu. Cherry menggenggam erat-erat tangan Tristan, tak peduli meski lelaki itu tak bereaksi sedikit pun.

“Tristan…,” panggilnya lagi. “Umm, meskipun Mama Nathan nggak ada, kan ada aku di sini. Kamu perlu—Umm, apa kupanggilin perawat dulu?”

Cherry tahu kata-katanya barusan memang hanya basa-basi. Tapi, melihat Tristan tidak menjawab, bahkan menoleh pun tidak, mau tak mau ia merasa frustrasi. Ia seperti tidak dianggap ada. Perlahan, dilepaskannya genggaman tangan Tristan, lalu bangkit dan berjalan keluar. Ia berusaha menahan tangisnya mati-matian, tapi tetap saja bulir-bulir air mata itu mampu menjebol pertahanannya dan menyungai di wajahnya. Ia mengumpat dalam hati. Ia tak bisa berada di sisi Tristan dalam kondisi begini. Ia berniat mencuci muka dulu.

Belum sampai ia di toilet dekat tangga, kehadiran Joanna dan Adam membuatnya terperangah. Kenapa mereka kembali lagi? Cherry tersadar seketika. Ia mengusap-usap wajahnya kasar, berusaha menghilangkan bekas tangisannya.

Ia hendak menyapa Joanna, menanyakan kenapa wanita itu kembali lagi, tapi bangunnya bocah di gendongan wanita itu segera menyadarkannya. Tentu saja. Bocah itu pasti merengek minta mereka kembali setelah tahu kalau Tristan dirawat di rumah sakit ini.

Teacher Cherry?”

Suara Joanna sudah lebih dari cukup untuk membuyarkan lamunannya.

“Ah, i—iya, Mama Nathan,” jawabnya ragu.

Wajah bertanya-tanya wanita itu memaksanya bersikap biasa. Ia menarik napas sejenak. Ia lalu tersenyum manis. “Ah, saya baru mau ke belakang, Mama Nathan.” Ia kemudian menghampiri Joanna dan mencondongkan tubuh sedikit ke arah Nathan. “Nathan mau jenguk Teacher ya?”

“Iya, Teacher.”

Senyum senang bocah itu hanya membuat hati Cherry makin tertusuk. Ia menoleh ke arah Adam, lantas tersenyum. Cherry kemudian berlalu dari hadapan mereka. Ia bisa melihat dari sudut matanya bahwa ketiga orang itu tengah beranjak kembali menuju kamar rawat Tristan. Ia menggigit bibir seketika. Dikerutkannya alisnya keras-keras agar ia tak menangis lagi. Tapi, sia-sia. Air matanya tetap saja jatuh lagi. Cherry pun berbalik, sambil mengepalkan kedua tangannya. Tak peduli meski buku-buku jarinya terasa sakit. Sebab, hatinya jauh lebih sakit.

Ia masuk ke dalam toilet dan membasuh mukanya dengan kasar. Ia terpaksa melakukannya. Orang bilang, rasa sakit fisik bisa mengalihkan sakit di hati, tapi sepertinya itu tak berdampak untuknya. Cherry mendongak, menatap mata sosok di depannya dalam-dalam. “Kamu patah hati gara-gara hal seperti ini?” bisiknya tertahan. “Payah! Kamu itu Cherry. Kamu bukan perempuan lemah yang akan jatuh cuma karena perempuan lain. Kalau jatuh, kamu cuma tinggal bangkit lagi. Sederhana.”

Cherry menarik napas perlahan, menahannya sebentar, lalu menghembuskannya lebih pelan. Ia lalu memaksakan diri tersenyum. Tipis.

Read previous post:  
67
points
(1111 words) posted by jayhawkerz 7 years 27 weeks ago
74.4444
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | kolaborasi | Romantis
Read next post:  
100

point

dadun at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 22) (7 years 25 weeks ago)
100

situasinya... dapet banget. aku merinding.

100

ninggalin jejak aja deh
lanjut ^^

100

akhirnya adam bergerak juga... dan gerakannya alami..

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 22) (7 years 26 weeks ago)
100

Arghhhhh, ini keren kak Ao! :)
Saya suka semua scene di sini. Ehehehe :D

90

poin...
lanjut aja dewh. no comment.. -.-

Writer cat
cat at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 22) (7 years 26 weeks ago)
100

Saya malah suka semangatnya Cherry.

Dan di sini Adam menunjukkan perjuangannya.

Lanjutkan perjuangan Tristaaaaaaaaan.

#tetep mendukung Tristan.

100

ak suka scene adam-joanna di part ini , aoooo..
hehehehehe
entahlah, rasanya lebih natural