Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23)

Adam membawa Nathan masuk ke dalam ruangan untuk menengok Tristan. Joanna ikut dalam diam, memperhatikan buah hatinya yang membelai punggung tangan Tristan dengan lembut.  Tristan membuka matanya, mencoba fokus akan bayangan yang membentuk sosok Nathan. Ia tersenyum lemah.

Teacher sakit apa? Kenapa banyak perban di kepala Teacher?” tanya Nathan kebingungan.

“Pelan-pelan Sayang. Teacher Tristan belum bisa banyak bicara,” jawab Adam.

Bocah itu hanya mengangguk dan memandang tubuh Tristan yang lemah.

“Pasti sakit ya, Teacher. Cepat sembuh, Nathan pingin main dengan Teacher lagi di sekolah.”

Teacher Tristan  harus bener-bener sehat dulu Nak. Nathan doakan Teacher supaya cepat pulih ya.”

Samar, Tristan mendengar suara Joanna. Hatinya menghangat, ia sungguh senang Joanna memperhatikannya walaupun sekarang keadaannya terbaring tak berdaya.  Adam menyandarkan tubuhnya pada sofa di samping tempat tidur Tristan dan ia mengakui, baik Joanna maupun Tristan tampak seperti sebuah keluarga dengan kehadiran Nathan yang begitu peduli padanya.

Adam memejamkan mata, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang menari di kepalanya. Andai, ia yang terbaring di situ, akankah anak dan wanita yang dicintainya akan datang menjenguk? Mungkinkah ia mendapatkan curahan kasih sayang Nathan dengan porsi yang sama kepada Tristan? Adam memijit lehernya, ia capai berandai-andai tanpa melakukan hal yang nyata.

 

Joanna membelai rambut anaknya lembut. Di hadapannya terbaring pria yang entah apa, ia tak dapat mengartikannya. Sedang di sudut satunya duduk ayah anaknya. Joanna melihat kekhawatiran Adam dan ia merasakan simpati yang telah lama terkubur dalam hatinya. Ya, kepedulian dan ketulusan Adamlah yang membuatnya jatuh cinta. Waktu yang mengobati luka hatinya ketika ditinggalkan Adam dengan hadirnya Nathan namun sekarang ia terjebak perasaannya sendiri.  Tristan dan Adam, mengapa kedua kakak beradik itu membuatnya bimbang? Adam jelas, ia membencinya karena keegoisan lelaki itu namun mengapa ia tak bisa menghapus sekeping perasaannya yang meringkuk kedinginan,  yang sengaja diabaikannya?

“Mama Nathan...”

Joanna tersentak mendengar suara lirih Tristan.

“Terima kasih, bersedia datang menjengukku. Saya sangat senang....”

Teacher jangan memaksakan bicara dulu. Saya datang membawa Nathan karena ia selalu merengek ingin bertemu Anda,” jawab Joanna, sedikit berbohong menutupi getaran perasaannya.

 Bohong! Buktinya kau segera datang dengan menggendong Nathan. Karena kau khawatir dengan keadaan Teacher. Dan kau sempat menangis untuknya!

Joanna tak dapat membalas tuduhan suara hatinya, memang benar ia khawatir dan menangis, tapi itu tak ada artinya kan? Mungkin, ia hanya panik atau..

Jujurlah dengan perasaanmu, mengapa kau mendinginkan hatimu karena luka lama? Tak dapatkah kau membiarkan cinta, sekali lagi menghangatkanmu?

Joanna terkesiap, menahan laju debaran hatinya.

Cinta? Kepada... Tristan?

***

“Terima kasih, bersedia datang menjengukku. Saya sangat senang....”

Langkah Cherry terhenti kala mendengar suara Tristan yang begitu tulus. Apakah, keputusannya menunggu lelaki itu tidak ada artinya bagi Tristan? Haruskah ia mendobrak pintu dan mencakar Joanna, menyuruhnya jangan mengusik Tristan?

Pikiran yang menggoda namun sangat bar-bar.  Hatinya yang sesak semakin sesak dan gadis itu kembali merasakan pipinya menghangat. Ia ingin menangis sepuasnya, melepas beban berat yang menggumuli seluruh dirinya.  Mengapa, Tristan tak bisa sedikit saja mencoba mengerti perasaan cintanya? Dengan cara apa lagi ia harus membukakan mata Tristan akan kehadiran dirinya?

Ia marah akan dirinya yang seperti orang bodoh, menanti untuk dilirik lelaki yang bahkan tak menghiraukannya. Ia membenci dirinya karena cinta yang tak bertuan, rela diperlakukan bagaikan sampah. Ia membenci Joanna karena merebut perhatian Tristan. Ia membenci Nathan yang menjadi penghubung antara keduanya.

 Benci! Benci benci benci benci benci!!!

Cherry menatap pintu kamar Tristan dengan penuh kebencian. Air mata yang telah kering dibiarkannya begitu saja. Kebenciannya makin bertambah ketika melihat Joanna keluar dengan wajah memerah. Ingin sekali dicekiknya wanita itu di hadapan Tristan dan membuktikan ia bisa menghabisi wanita yang dicintai lelakinya.

Teacher Cherry? Mengapa Anda menangis?” Joanna tampak terkejut melihat wajah Cherry yang kini kusut dengan mata bengkak.

Cherry memaksakan tersenyum, lalu mengelap pipinya dengan tissu yang ia bawa dari toilet.

“Bagaimana, jika kita mencintai tanpa dicintai, Mama Nathan?” tanya Cherry tiba-tiba.

“Hah?”

***

“Saya mencintai Tristan, saat pertama melihatnya. Ia begitu sempurna. Keramahan dan senyumannya adalah kekuatan bagiku untuk bertahan di sekolah, ketika merasa kecapaian karena mengurusi anak-anak. Hanya dengan melihat ia tersenyum, saya kembali bersemangat. Seperti orang bodoh ya?” ujar Cherry. Ia tak tahu, mengapa malah menceritakan perasaannya kepada wanita yang ia benci?

Joanna terkejut mendengar pengakuan Cherry. Gadis itu mencintai Tristan?

Bukankah itu kabar baik? Mereka pasangan yang sempurna, saling bersama dalam satu sekolah. Tapi hatinya tak rela, sebuah perasaan yang menolak kehadiran Cherry dalam hati Tristan. Hey, apakah ia merasa cemburu? Ia tak punya hak untuk cemburu akan siapa saja yang dekat dengan Tristan, tapi terkecuali untuk Teacher Cherry. Joanna merasa hatinya panas, dan ia sendiri bingung akan reaksi yang tak terduga itu.

“Tapi saya tidak berarti untuk Tristan. Ia tergila-gila pada seorang wanita yang sulit saya kalahkan. Apapun yang saya lakukan tak berkesan baginya, di mata Tristan hanya ada wanita itu,” sambung Cherry sendu.

“Tristan bahkan mencari wanita itu saat ia siuman. Saya yang menjaganya semalaman tak diindahkan. Jujur rasanya sangat menyakitkan, dan membenci wanita pengganggu itu. Jika saja ia tak ada, Tristan pastinya akan menyadari kehadiran dan cinta saya padanya. Tapi itu hanya harapan sia-sia karena wanita itu datang menjenguk...”

Joanna dapat melihat kesungguhan Cherry dan merasa malu karena cemburu akan ketulusan gadis itu. Cinta yang begitu besar, namun tak dapat dirasakan oleh Tristan karena kehadiran seorang wanita. Siapa wanita itu? Mengapa ia sangat egois, memonopoli Tristan untuk dirinya sendiri?

“Wanita itu anggun, dan saya dapat menebak alasan Tristan jatuh cinta padanya. Kedewasaan dan sifat keibuannya yang begitu kuat. Wanita itu Anda, Mama Nathan,” urai Cherry seakan menjawab pertanyaan dalam hati Joanna.

###

 

 

Read previous post:  
79
points
(1078 words) posted by aocchi 7 years 34 weeks ago
87.7778
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | kolaborasi | Romantis
Read next post:  
100

kak kumiiii saya mampir.. ini part yg seruuuuu

dadun at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23) (7 years 33 weeks ago)
100

i like this.
meskipun penggambaran Joanna dengan kata "Anggun" cukup membuatku.... "eh, bukannya di awal dibilang kalo joanna itu agak tomboi?" tapi, its well done :D

Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23) (7 years 34 weeks ago)
90

Bagian yang saya suka adalah ketika Cherry mendeskripsikan alasan ia menyukai Tristan. :)

:D hihihi, thanks Lind :)

Writer herjuno
herjuno at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23) (7 years 34 weeks ago)
90

Nice...ice...nice... Ini bener2 bagus! Pengungkapan Cherry kepada Joanna itu loh... jadi penasaran gimana kelanjutannya. Dan perasaan adam apabila ia yang terbaring, hhoho, nice!

whoooho! dipuji Juno :">
thank you ^_^

100

-aaahhhh
aku suka part ini kumiiiiiii
semangad!!

90

yak, mendekati akhir
next :D

Writer cat
cat at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23) (7 years 34 weeks ago)
90

Perkembangannya mulai menuju ke akhir.

Saya sering melihat anak-anak kecil berkeliaran di rumah sakit, di bangsal, di kamar pasien. Usianya bahkan lebih kecil lagi dari Nathan.

Heeem ....

Apakah berarti Rumah Sakit itu tidak memperhatikan keadaan anak-anak itu?

Ataukah pihak rumah sakit tidak menerapkan peraturan rumah sakit yang sudah ada?

Heeeem, saya bingung e Irene.

Yakin mereka bukan pasien?

Writer cat
cat at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23) (7 years 34 weeks ago)

Sangat yakin Irene.

Saya sangat yakin yg di bawa masuk menjenguk itu adalah anak kecil.

Bahkan masih ada yang bayi

Jika memang tidak percaya silahkan datang ke rumah sakit di pontianak dan lihat keadaan rumah sakitnya.

Jadi apakah rumah sakit tersebut tidak menjalankan peraturan?
Melalaikan peraturan??

Writer aocchi
aocchi at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23) (7 years 34 weeks ago)

Umm, iya, kalau diingat-ingat, saya juga sering liat anak2 kecil yang lagi jenguk keluarganya di rumah sakit di jogja ... beberapa di antaranya rumah sakit besar....
Bahkan diajak nginep lho sambil gelar tikar di depan ruang ICU ... saya baru tahu kalau yang seperti itu ternyata melanggar T_T

Writer cat
cat at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23) (7 years 34 weeks ago)

Dan pihak rumah sakit juga tidak melarang kok.

Dan tidak pernah ada sosialisasi ttg semua peraturan itu.

Dan pada kenyataan hidup.

Ada keluarga yg tidak mungkin meninggalkan anak kecil saat menjenguk atau menunggui pasien.

Bukan hanya pada teori n peraturan.

Yah kurasa nasib saya emang buruk lahir di keluarga dokter yang lingkungannya menuntut untuk menaati tatib RS dari kecil (sering banget di tinggal di mobil waktu mama jenguk pasien)

did I missed that kind of regulation? ada tulisan "anak2 di bawah umur sekian tidak boleh menjenguk", yang tidak pernah saya lihat tanda larangannya di RS ya sepertinya?
saya taunya aturan semacam itu biasanya di wahana-wahana tempat permainan ya, seperti anak dengan tinggi sekian dilarang naik heheheheh *kagak nyambung yak*
hmm saya rasa nasibmu tidak buruk irene, syukuri saja... hehehe...

Writer aocchi
aocchi at Cerfet: Di Ujung Pelangi (Bagian 23) (7 years 34 weeks ago)
80

Wait a sec ... kenapa malah jadi Adam yang bawa Nathan? Padahal, sebelumnya Joanna udah memutuskan gak bakal ngasih Nathan ke Adam lagi -____-a
.
Cherry nangis lagi? dan kenapa terbersit keinginan membunuh? berarti saya gagal total dong menyampaikan maksud saya di part sebelumnya pas adegan Cherry coba menyemangati dirinya sendiri? itu biar dia gak nangis lagi dan gak jatuh lagi meski kayak apa pun nantinya hubungan Tristan-Joanna berkembang ... meskipun Cherry itu manja dan rewel, tapi memikirkan kemungkinan untuk bunuh atau menyakiti orang? Harga diri Cherry terlalu tinggi untuk memikirkan hal semacam itu ... atau saya saja yang salah memahami Cherry? T_T
.
@ai: maaf, saya gak tahu >.<
aaakh, coba kalau saya tahu, pasti adegan di part sebelumnya bisa diubah2 lagi ... perlu revisikah?

Ao.. tampaknya kumiiko bukan berniat utk menyampaikan bahwa cherry punya niat untuk membubnuh Joanna. Kumii cuma ingin menyampaikan sakit hatinya Cherry karena dia melihat Tristan lebih mempedulikan Joanna, sampai2 rasanya dia ingin mencekik Joanna kalau dia bisa. Tapi tentu saja, Cher gag melakukan hal itu. :) kadang2 kalo lagi kesal, ak juga pengen menjambak org itu dan menjedukkan kepalanya ke tembok, wakakakkakaa (mengerikan kan?) tapi tentu sajaaaa gag pernah kulakukan. Emosi itu kadang2 membuat kita jadi suka berpikir aneh2. Tapi selama hal itu bisa dikontrol, kurasa itu masih wajar. Jadi, sepertinya Cher gag bener2 berniat membunuh Joanna, Ao. Stidaknya yg kutangkep begitu. Karena pada scene akhir, kumii membuat Cher menceritakan kesedihannya pada Joanna. :) :)
.
Part-mu sudah bagus, Ao. Saya rasa nda perlu revisi. Semangadddd :) :)

idem dengan mba sun :)
hehehe, saya ga setega itu menjadikan Cherry seorang pembunuh >:)
#plak!

80

errr... anak kecil dibawah 13 tahun itu sebenarnya tidak diperbolehkan datang menjenguk atas alasan sanitasi, dan keselamatan pasien.

Hanya informasi sih.

100

akhirnya mulai tajam sebagai indikasi mendekati ending ^^

100

http://www.kemudian.com/node/260999 -> triple 9, jackpot! ^^
silakan dinikmati. Merry X'mas and Happy New year all n_n