Sampai Kereta Yang Membawaku Pulang Tiba

“Wah, maaf. Tiket ekonomi untuk keberangkatan hari ini sudah habis.”

“Tiket tanpa tempat duduk juga tak apalah.”

“Sekarang semua tiket ada nomor tempat duduknya.”

Sial! Kenapa tiketnya habis?”Kalau tiket untuk besok ada tidak?”

“Tunggu sebentar saya cek dulu... Ada. Untuk kereta pagi.”

“Oke. Saya ambil.”

“Untuk berapa orang?”

“Satu orang.”

“Harganya dua puluh empat ribu.”

“Oke...” Waw! Sesedikit inikah uangku?”Terima kasih.”

 

Apa yang harus kulakukan sambil aku menunggu sampai besok? Kenapa sistem tiketnya berubah tanpa kuketahui? Argh! Ah, sudahlah. Sekarang lebih baik aku pergi ke mana, ya? Mungkin mandi bisa sedikit menenangkan pikiran.

 

Trotoarnya sih enak dipakai jalan tapi teriknya minta ampun. Bagaimana bisa orang-orang di sini bisa menjalankan kegiatan dalam cuaca seperti ini? Tak heran kulit mereka gelap. Untung saja pom bensin itu tak jauh dari stasiun letaknya.

Nah, itu dia.

 

Hei! Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah aku kelihatan seperti orang yang akan mencuri bensin dari tempat ini atau meledakan tempat ini? Memangnya tidak boleh pergi ke pom bensin hanya untuk menggunakan toilet? Dasar!

 

Ah, Akhirnya bisa merasakan kesegaran. Setelah ini mungkin makan bukan ide yang buruk. Untung tadi malam aku ingat untuk membeli sabun.

 

Tok! Tok! Tok!

Siapa sih itu?! Kan masih ada bilik yang satunya? Mengganggu saja. Kau buta, ya?
 

Tok! Tok! Tok!

“Gantian, hei!”

Sial! Heil! Bilik sebelah kan lowong?

 

Tok! Tok! Tok!

Iya... Iya... Tunggu sebentar! Aku sedang pakai baju.

 

Apa kau lihat-lihat?! Bilik sebelah kan kosong? Sial!

 

Uangku, meskipun sedikit, cukup untuk bertahan sampai besok. Sebaiknya aku berhemat. Makan apa ya yang murah tapi mengenyangkan? Sepertinya soto enak. Tapi kayaknya hanya akan mengganjal sebentar saja. Aha! Kalau tidak salah tadi kan ada Warteg di dekat stasiun.

 

Memang kota ini kota yang tata letaknya paling rapi di negara ini. Walaupun transportasi umum lokalnya sangat mini. Tapi toh jalan raya nya tak semacet di kotaku. Andai saja tata letak kotaku serapi kota ini. Di mana ya tadi kulihat Warteg? Perasaan di sekitar sini. Nah!

 

“Makan, Bu.”

“Di sini atau dibungkus?”

“Di sini.”

“Dengan apa saja?”

“Hmm... Telur... Perkedel kentang... dan... itu.”

“Sayur labu?”

“Ya.”

“Pakai sambal?”

“Ya.”

“Silakan.”

Akhirnya. Semoga bisa mengganjal sampai nanti malam. Sesudah ini ke mana, ya? Perpustakaan jauh dari sini. Masa bengong di peron sampai kereta datang? Tidak! Mmm... sambalnya mantap juga. Ke perpustakaan sajalah.

 

Waw! Jarang-jarang perempuan dengan setelan macam ini makan di tempat macam ini. Penghematan, ya? Alamak!  Untung saja aku sempat memalingkan pandangan. Spider sense-nya kuat juga ternyata. Lumayan juga. Pemandangan segar di antara belantara jakun berbetis besar. Pasti orang-orang ini langsung berkhayal yang tidak-tidak saat melihatnya. Kasihan juga.

“Sudah, Bu. Telur, perkedel kentang, dan sayur labu. Jadi, berapa?”

“Pakai kerupuk?”

“Tidak.”

“Jadi enam ribu.”

“Terima kasih.”

 

Semoga saja perempuan itu tidak babak belur jadi sasaran tatapan para bapak-bapak yang haus pemandangan. Jadi ke manakah aku pergi sekarang?

Bip! Bip!

Siapa pula yang mengirimiku SMS pagi-pagi begini?

Hah?

Tidak. Aku tidak jadi pulang hari ini. Tiketnya habis.

Baiklah.  Ke perpustakaan saja. Coba, mari kita lihat peta. Untung saja si Anto meminjamkan ini. Terima kasih, To. Kalau tak ada peta ini aku bakal kalang kabut. Dari sini ke perempatan dan... ya... Mmm... oke.

 

Semoga saja cerita si Anto tentang perpustakaan itu benar.

 

Di mana sih tempatnya? Di peta kelihatan dekat tapi kok tidak sampai-sampai?

 

Andai saja ada tempat penyewaan sepeda atau setidaknya angkot. Kenapa cuma ada bus saja, sih? Itu pun rutenya terbatas dan sedikit. Memang sih jalanan jadi tidak terlalu macet tapi kalau begini caranya lama-lama aku bisa gila. Haus! Air!

 

“Selamat siang! Selamat datang!”

Air! Nah itu dia.

“Air mineral satu. Ada lagi?”

“Ya itu saja,” apa lagi ya?” Oh, iya. Rokok mild satu bungkus.”

“Air mineral dengan rokok. Jadi sepuluh ribu lima ratus.”

“Terima kasih.”

“Terima kasih. Selamat siang!”

 

Ah, segarnya! Gila! Panas sekali! Kota ini kekurangan tempat teduh. Untung saja mini market sudah mewabah. Kalau tidak, aku bisa mati kehausan. Tidak lucu kan kalau besok di koran lokal kota ini ada berita tentang seorang pemuda yang ditemukan tewas di pinggir jalan dan setelah diotopsi ternyata dia tewas karena dehidrasi. Sama sekali tidak lucu. Lain kali seharusnya aku tidak lupa menyediakan air minum di tas. Untung saja tadi tepat di dekat minimarket. Ah! Sial! Padahal sepanjang jalan tadi minimarket berjajaran. Kenapa aku sampai lupa bawa air minum?

 

Seharusnya perpustakaan itu ada di sekitar sini. Tadi kan di peta letaknya dekat perempatan. Mana tempatnya? Itukah tempatnya? Ya, itu tempatnya.

 

Sepi sekali. Bagaimana mungkin tempat hebat macam ini sepi? Ataukah si Anto mengerjaiku? Tidak mungkin. Tapi sampai jam segini tempat ini masih sepi. Ah, ya sudahlah. Buat apa dipikirkan? Setidaknya aku tak akan terganggu kebisingan. Sebaiknya aku lekas melihat-lihat koleksinya.

Alamak! Ini kan buku yang langka?! Bagaimana mungkin tempat ini punya buku ini? ini juga. Jika aku tinggal di kota ini mungkin aku akan menghabiskan waktuku membaca koleksi di sini. Sial! Aku harus baca yang mana dulu?

--------------------------------------------------------------------

 

“Maaf... Perpustakaannya mau tutup.”

“Maaf... Perpustakaannya mau tutup.”

Hah?! “Ah, iya. Maaf. Maaf.”

Sebentar sekali bukanya tempat ini. sekarang jam berapa sih?

 

Bip! Bip!

Siapa lagi yang mengirim SMS?

Apa yang dia lakukan di daerah alun-alun?

Oke deh. Lagipula aku belum tahu selanjutnya mau ke mana.

 

“Terima kasih. Eh, saya mau bertanya.”

“Ya, silakan.”

“Kalau mau ke alun-alun dari sini kira-kira ada bis yang lewat, tidak?”

“Ada sih tapi kalau jam segini mungkin sudah tidak ada. Tapi coba saja ke halte yang terdekat. Dari jalan depan situ tinggal jalan sedikit lagi.”

Alamak! Sudah jam segini? Selama itu kah? “Terima kasih.”

 

Si Anto benar! Seharusnya perpustakaan lain dan perpustakaan milik pemerintah mencontoh perpustakaan itu. Koleksinya hebat sekali. Ada untungnya juga aku tak dapat tiket hari ini.

Bis! Tunggu!

 

Untung saja sempat terkejar. Kalau tidak, bisa-bisa aku harus jalan kaki ke alun-alun. Meskipun terik matahari sudah tidak ada, tapi tetap saja yang namanya jalan kaki pasti melalahkan.

Andai saja bus ini memiliki rute yang lebih luas jangkauannya. Aku akan berkeliling kota ini dengan mengendarainya. Ah, lagipula besok aku sudah tak di sini lagi.

“Halte alun-alun masih jauh?”

“Sebentar lagi sampai. Bersiap-siap lah. Nah, itu dia. Silakan.”

Di mana dia?

Bip! Bip!

Ya, aku sudah sampai di halte alun-alun. Kamu yang di mana? Katanya menunggu di dekat halte alun-alun? Mana dia?

“Hei!”

“Eh?”

“Dari mana?”

“Aku dari perpustakaan. Kamu ngapain di sini?”

“Aku tadi diajak Rudi melancong. Sudah makan? Ayo makan!”

Tepat seperti yang kuduga. Tapi tak usah dibahaslah,”Makan apa?”

“Entahlah. Kamu mau makan apa?”

“Terserah kamu saja.”

“Ya sudah. Kita jalan-jalan saja. Barangkali nanti menemukan sesuatu.”

---------------------------------------------------------

 

“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa kehabisan tiket?”

“Aku terlambat. Sekarang sistem tiketnya sudah berubah. Tiket kereta kelas ekonomi sekarang ada nomor tempat duduknya. Jadi, jumlahnya sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia.”

“Berarti jadi lebih teratur?”

“Iya. Tapi jadi tidak bisa mendadak.” Sekarang kah saat yang tepat untuk mengatakannya? Kenapa begitu susah? “Bagaimana perkerjaanmu tadi?”

“Tadi aku mendapat pelatihan lagi. Aku ngobrol dengan pelatihnya. Dia malah curhat. Tentang ini itu. Tadi pagi saat aku bertanya padamu tentang keberangkatanmu sebenarnya aku sedang pergi ke sekolah anaknya Noni yang besar, si Risa. Ternyata tadi itu waktu aku di kantor, adiknya Risa masih tidur sementara semua orang sudah keluar rumah. Terkuncilah dia. Hahaha.”

-----------------------------------------------------------

 

“Kamu sekarang mau pulang ke kos kan? Aku antar kamu ke halte. Ayo.”

“Kamu sendiri?”

“Aku? Entahlah. Mungkin berkeliling-keliling lagi. Mencari tempat yang bisa kutumpangi tidur.”

 

“Terima kasih sudah mengantarku.Maaf, ya, kamu gak bisa menginap di kos ku malam ini. Aku tak enak pada ibu kos.”

“Tak apa. Santai saja. Nah, itu bis nya sudah datang.”

“Sampai ketemu lagi.”

“Dah!”

 

Sial! Kenapa tiap kali bersama dia susah sekali mengatakannya? Padahal semua sudah jelas. Padahal aku bisa dengan lancar mengatakannya saat aku sendiri. Kenapa begitu susah? Apa saja yang kulakukan dari dua hari yang lalu? Sia-sia saja aku jauh-jauh datang ke sini. Ah, sial! Mungkin sebaiknya aku menunggunya menyelesaikan pekerjaannya di sini dan mengatakannya nanti saat dia pulang. Tapi itu kan masih lama. Kenapa aku masih saja tak mampun mengatakannya? Padahal semua ini sangat melelahkan. Argh! Lupakan.

 

Sekarang harus pergi ke mana? Ah, sial! Kantuk ini menyebalkan. Sepertinya enak kalau bisa langsung sampai kamar. Tidur di stasiun sajalah. Untung stasiun tak terlalu jauh dari sini.

Kenapa aku tak punya keberanian untuk mengatakannya? Sudah jelas dia melakukannya. Apakah aku begitu pengecut? Sial! Bertemu lagi dengan dia mengingatkanku lagi pada masalah ini.

 

“Hei!”

Waduh! Apa lagi ini?”Eh?”

“Mau ke mana? Ayo ikut.”

“Ah tidak, Pak. Terima kasih.”

“Ayo naik. Tak apa.”

“Oke deh.” Lumayan. Tumpangan gratis.

 

Memang pertolongan seringkali datang di saat yang tak terduga. Untung saja bapak ini menolongku. Kalau tidak, aku sudah pingsan di jalan. Sial! Kukira stasiun tak terlalu jauh dari alun-alun. Semoga saja bapak ini tidak bertanya macam-macam.

“Memang kamu mau ke mana malam-malam begini?”

Tuh, kan. Ayo berpikir!”Ke rumah teman.”

“Temanmu rumahnya di daerah mana? Kenapa berjalan kaki? Kenapa tak minta jemput saja pada dia?”

“Di perempatan depan. Dari situ masuk gang. Ah, tak kenapa-kenapa. Sedang ingin jalan kaki, Pak. Namanya juga anak muda. Lagipula rute bus tidak lewat jalan ini.”

“Mau turun di mana?”

“Di perempatan depan saja.”

“Oke.”

 

“Terima kasih, Pak.” Untung ada orang yang berbaik hati mau menolongku.

“lho?”

Ada apa?”Kenapa pak?”

“Lima ribu.”

“Lho?”

“Kamu kan sudah saya antar sampai sini.”

“Tapi kan bapak tadi gak bilang saya harus bayar. Lagipula tadi kan saya sudah menolak tapi bapak tetap ngotot.” Sial! Tertipu!

“Saya ini tukang ojek.”

Memang apa peduli ku?”Saya tidak mau bayar.” Enak saja.

“Tidak bisa. Kamu sudah saya antar.”

“Itu salah bapak.”

“Dasar.”

 

Sial! Yang benar saja?! Kalau memang menawarkan jasa ojek ya bilang dong sejak awal. Jadi kan aku tahu apa tujuanmu. Lha, ini malah baru bilang di ujung. Untung saja aku bisa berkelit. Enak saja memaksa orang untuk membayar. Tepi kalau dipikir-pikir untung juga aku. Menghemat tenaga. Syukurin! Suruh siapa mau nipu? Nah, itu dia stasiun.

 

Banyak juga orang yang bermalam di sini. Wah, di mana-mana sudah ditempati. Padahal sudah ingin langsung menggeletak. Hmm... di situ kosong? Ya, di sini kosong. Akhrinya bisa beristirahat.
 

-----------------------------------------------------------------

 

“Bangun! Bangun!”

“E...”

“Jangan tidur di peron! Ayo bangun!”

Hah?!  “E... iya”

 

Mengganggu saja! Aku kan sudah membayar tiket. Lagipula aku tidur di tempat yang tak terlalu terlihat orang. Ah, ngomong-ngomong sekarang jam berapa? Hah?! Sebentar lagi kereta berangkat.

 

“Perhatian! Perhatian! Kereta ekonomi jurusan barat segera berangkat. Para penumpang yang masih diluar kereta diharapkan segera memasuki kereta.”

 

 

28 Desember 2011

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
40

tulisan yang sangat datar, tidak sarat emosi dan hanya berputar-putar saja untuk ke intinya. Sebenarnya mungkin masih bisa dieksplorasi...

hahaha.. memendam emosi, biar sekalinya meledak bak Gunung Berapi.. padahal,,, apinya: palsuuu *sialan nih insomnia, bikin kelakuan gue makin ajaib*

..saya orang baru yang sok tahu, tapi menurut saya ini kurang bisa membawa pembaca pada titik ingin baca..
..waktu baca judulnya saya tidak serta merta su'udzon akan ke mana arah ceritanya, tapi sesuai dugaan dalam hati kalau akan ke situ..
..padahal kalau judulnya seperti itu, dalam pikiran saya ceritanya harusnya lebih dramatis..

niatnya musti bukan dramatis, melainken Pura-pura Dalam Perahu #eh pura-pura mister-ius :D
*bakar kemenyan, tebak2an nomor togel*

60

hmm konfliknya kurang ya? Hmm keep in writing..semangat!

halooo Put.. :3

hadir... *ujug2/tiba2 nongol tanpa dosa*

60

Konflik harus lebih dieksplorasi. Misalnya, kalau konflik utama di cerita ini adalah tokoh utamanya kehabisan tiket, berikan dia pengalaman seru yang dia alami karena tidak ada di kereta. Cerpen dengan konflik yang tidak matang akan membuat pembaca bingung dan bosan. Selain itu, perhatikan juga apa scene-scene yang Anda tuliskan berkontribusi penting pada jalannya cerita secara keseluruhan. Misalnya, kalau cerpen anda tentang kekejaman perang, jangan menghabiskan emosi pembaca dengan berceloteh panjang lebar tentang kodok yang tak sengaja ditemui tokoh utama di jalan..good luck!

yahhh, begitulah Anak Moeda Djaman Sekarang.. reaksioner dikira revolusioner.. aaah.. kodok yang androit pasti seru *gag nyambung? embeeeer*

Writer cat
cat at Sampai Kereta Yang Membawaku Pulang Tiba (7 years 24 weeks ago)
70

Tujuan akhirnya hanya sampai dia naik ke kereta.

Heeeem .... Aku merasa terlalu datar.

terlalu datar, enaknya digampar - yes? *siapin Gergaji Mesin*