Eternity (9)

 

If the years take away every memory that I have

I would still know the way

That would lead me back to your side

The north star may die

But the light that I see in your eyes

Will burn there always

(Love Before Time by Coco Lee)

 

“Aku bukan siapa-siapa. Selalu bukan siapa-siapa,” jawab Dina lirih, mencoba mengesampingkan perasaan sedihnya dan menyeka air matanya. Ditatapnya bunga lily yang telah mekar akibat sentuhan air matanya.

“Aku yakin itu bukan jawaban, Din. Apa hubunganmu dengan Lili?” desak Erlangga.

“Bagi dia dan kamu, aku hanyalah pihak tersisih, yang masih selalu menyimpan rasa padamu, Ga,” Dina menatap Erlangga tepat pada kedua bola matanya. Mata yang bingung dan menuntut jawaban.

“Apa maksudmu, Din? Tolong jelaskan padaku.”

Dina tertawa pahit, “Kamu masih belum ingat juga. Dengan Lili saja kamu lupa. Tentu saja kamu tidak akan ingat sama sekali denganku...” Dina berhenti sejenak, “... meski aku adalah cinta pertamamu.”

Erlangga tersentak. Otaknya mulai berjuang untuk mengingat. Mencerna semua kata-kata bermakna mengambang yang baru saja didengarnya dari mulut Dina. Erlangga sama sekali tidak mengerti. Sekeras apapun dia berusaha mengingat, dia sama sekali tidak mendapatkan gambaran tentang Dina, apalagi tentang cinta pertama. Yang dia ingat hanya Lili, semua memori tentang Lili. Tanpa Dina, tanpa siapapun yang lain.

“Din, apa yang kamu ketahui tentang Lili dan tentangku? Cinta pertama apa, Din?”

“Aku tahu semuanya, Ga. Aku tahu siapa dirimu dan siapa Lili. Aku tahu mengenai gelap dan terang, dan bagaimana kalian tidak boleh saling mencintai. Aku tahu mengapa kamu seperti ini. Aku juga punya jawaban dari pertanyaanmu, mengapa kamu tak kunjung musnah.”

Pernyataan Dina membuat Erlangga makin penasaran, “Ceritakan semua padaku, Din.”

Dina berpikir sejenak sebelum kemudian berkata, “Aku mau bercerita padamu. Asal kamu janji satu hal padaku.”

“Apa itu, Din?”

“Lakukan sesuatu untukku.”

“Aku janji, Din. Aku akan melakukan apapun. Kamu ingin aku melakukan apa?” Erlangga benar-benar putus asa. Dia hanya ingin mendapatkan jawaban atas kegundahannya selama ini.

“Aku tidak mau mengatakannya sekarang. Aku ingin kamu janji terlebih dahulu. Setelah aku selesai bercerita, aku akan mengatakan apa keinginanku. Bagaimana? Kamu masih mau janji?”

Erlangga mengangguk membuat Dina tersenyum. Baru kali itu Dina merasakan harapan untuk melihat Erlangga bisa kembali seperti dulu lagi. Tidak bagaikan zombie yang tiap hari hanya memandangi bunga lily dan menyendiri tanpa melakukan apapun.

“Pertama, kita keluar dulu dari sini. Berdirilah, Ga,” pinta Dina. Erlangga menurut, pelan-pelan dia berdiri. Tidak dapat diabaikan oleh Erlangga bahwa tubuhnya terasa kaku karena jarang sekali bergerak selama beberapa hari ini.

*-*-*-*

Dina membawa Erlangga berjalan-jalan menyusuri trotoar jalanan tak jauh dari toko buku milik ayah Erlangga. Malam yang cukup larut hanya menyisakan sunyi. Daerah di sekitar mereka memang cukup sepi di saat malam. Hanya beberapa kendaraan roda dua dan sesekali mobil melintasi. Yang banyak terlihat adalah orang-orang yang berjalan kaki dan pedagang-pedagang makanan kaki lima.

“Aku mencintaimu, Ga. Aku selalu mencintaimu,” Dina tidak mau berbasa-basi dan langsung menegaskan isi hatinya. Erlangga hanya diam, tidak tahu harus berkata apa.

“Tidak hanya kekasihmu itu yang hanya bisa memandangimu dan terus mencintaimu. Tapi aku juga.”

“Siapa dirimu sebenarnya, Din?”

Dina belum juga menjawab pertanyaan Erlangga. Dia hanya terus saja berbicara, “Aku tidak pernah menuntut banyak, Ga. Aku juga tidak pernah seceroboh dan seegois kekasihmu itu, yang telah banyak berbuat nekat di depan manusia. Aku hanya terus memendam perasaanku padamu.”

Erlangga mendengar nada ketulusan sekaligus perih yang keluar dari bibir Dina, membuatnya entah kenapa diliputi rasa bersalah yang tidak ia mengerti.

Mereka akhirnya mengasihaniku dan memberiku kesempatan untuk bisa mendapatkan cintamu, dengan membantuku berubah menjadi manusia. Sejak itulah aku menjadi seorang manusia.”

“Kenapa selama ini kamu menyembunyikannya, Din? Kenapa kamu tidak pernah mengatakan sesuatu padaku? Itu tidak adil untukku, Din! Selama ini kamu tahu tentangku dan Lili, sementara kamu tidak pernah berkata apapun...”

Dina memotong ucapan Erlangga, “Tidak adil?!...” suara Dina meninggi, “... aku sudah mencoba bersikap adil padamu, Ga. Aku memberikanmu satu pot bunga Lily, aku memberimu kesempatan untuk mengingat kekasihmu itu, sebagai dasar untukku apakah aku akan maju untuk mendekatimu atau tidak. Dan kau melupakannya, bukan?! Kau tidak juga ingat tentang kekasihmu itu dengan sendirinya, sampai dia harus muncul di toko bungaku malam itu!”

Erlangga terkejut dan menatap Dina yang kini diliputi rasa marah.

“Seharusnya dia tidak perlu melakukan kesalahan itu lagi. Seharusnya kamu tidak ingat dengannya dan aku bisa mulai berjuang mendapatkan cintamu. Tapi apa yang terjadi? Semuanya kacau... dan karena aku sangat mencintaimu, aku rela mengorbankan diriku.”

“Apa maksudmu, Din?”

Mata Dina berkaca-kaca menatap Erlangga yang tengah memandangnya, menanti jawaban.

“Kamu mengorbankan dirimu agar Lili bisa hidup. Dan aku mengorbankan diriku agar kamu bisa tetap hidup. Tidak hanya kamu yang mau mengorbankan diri untuk yang kamu cintai, Ga.”

“Ta-tapi... tapi kenapa... kamu tidak seharusnya melakukan itu, Din. Aku hanya sosok jahat yang tidak pernah menyadari tentangmu. Siapa dirimu sebenarnya di masa lalu, Din?” perasaan masih bingung dan bersalah bercampur di pikirannya.

Dina menghela nafas, “Coba lihatlah ke langit, Ga.”

Erlangga spontan memandang ke langit. Tidak ada apa-apa yang berarti di langit hingga dia mulai mendengar suara-suara.

“Kamu selalu memelukku dengan lembutnya tubuhmu. Kamu selalu menemaniku memberikan terang pada dunia. Kamu begitu indah dan aku sangat nyaman bersamamu...”

Erlangga bingung, dia merasa sangat mengenal suara itu.

Suara dirinya sendiri.

Belum sempat mencerna, dia mendengar suara lagi yang berbeda. Erlangga masih terus memandang langit, mencoba mencari jawaban.

“Aku mencintainya. Tiap kali peraduanku mengeluarkan amarahnya dengan kilatan-kilatan cahaya, aku hanya bisa menghalanginya di belakangku, agar dia tidak melihatku meneteskan air mata yang deras ke bumi. Aku tidak mau dia melihatku bersedih karena amarah angkasa,” terdengar suara yang mirip dengan suara Dina.

“Untuk apa kamu masih terus mencintainya? Dia telah menemukan dan jatuh cinta pada sisi lain hidup yang berlawanan dengannya. Dia telah bertemu dengan malam, dia telah bertemu dengan bulan. Lebih dalam untuknya jatuh cinta pada hal yang tabu baginya. Bahkan meski mereka telah terpisahkan, dia masih terus memancarkan cahayanya demi kekasihnya yang telah berubah menjadi roh bunga. Sekuat apapun kau coba menutupinya, dia tetap bisa menerobos celah-celah darimu, untuk memberikan sinarnya pada kekasihnya yang sangat dicintainya. Dia telah melupakanmu.” Suara lain yang sering didengar Erlangga terdengar menimpali suara sebelumnya. Suara itu yang menentukan nasib antara dia dan Lili. Suara itu yang memberinya pilihan tentang masa depannya dengan Lili, yang akhirnya membuatnya mengorbankan dirinya sendiri demi Lili.

“Jikalau berada di dekatnya hanya untuk merasa sakit melihatnya memancarkan cinta pada kekasihnya, lebih baik aku juga berada di bawah sana, ikut merasakan pancaran sinarnya, meski dia tidak akan menyadari keberadaanku...”

Erlangga tersentak. Kepingan-kepingan memori kembali pelan-pelan menyatu. Ditatapnya Dina yang berdiri di hadapannya.

“Dulu aku berteman dengan gelap dan terang. Aku sering menceritakan bagaimana terang saat aku berada bersama gelap. Aku sering menceritakan tentang gelap saat aku bersama dengan terang. Tak kusangka, semua cerita-ceritaku membuat mereka saling jatuh cinta. Dan terang pun tidak lagi mencintaiku. Dia tergila-gila pada gelap,” ucap Dina.

“Kamu...” Erlangga masih sangat terkejut.

“Air mataku mampu menumbuhkan bunga, Ga.”  

“Cinta pertama...” Erlangga membuka mulut kemudian mengatupkannya, menelan ludah sebelum kemudian kembali angkat bicara, “... kamu... roh mega?”

Dina meloloskan setetes air mata dan tersenyum.

*-*-*-*

Seorang gadis memperhatikan Erlangga dari balik rak-rak buku di dalam toko buku milik ayah Erlangga. Matanya berkaca-kaca melihat tiap gerak gerik Erlangga yang tengah melayani pelanggan.

“Kamu tidak pergi,” batin gadis itu penuh kebahagiaan. Dia asal mengambil sebuah buku dari rak di dekatnya, membawanya dan melangkah pelan-pelan mendekati meja kasir. Gadis itu merasakan ada yang bergetar hebat di dadanya. Dirabanya pelan-pelan dadanya dan merasakan jantung yang berdebar kencang.

“Inikah namanya reaksi kimia yang dirasakan manusia saat berada di dekat manusia yang dicintainya? Akhirnya kita bisa bersama...”

Dengan perasaan meluap-luap, gadis itu melanjutkan langkahnya.

Langkah gadis itu terhenti saat melihat seorang perempuan cantik menghampiri Erlangga, membuat niatnya urung. Perempuan itu tampak akrab berbicara dengan Erlangga. Rambutnya, matanya, kulitnya, tampak cantik dengan balutan pakaian yang menarik.  Perempuan itu bahkan menggenggam tangan Erlangga.

“Terima kasih, Cintaku,” ucap perempuan cantik itu pada Erlangga membuat si gadis yang memperhatikan mereka merasakan ada denyutan getaran lagi dadanya. Namun bukan getaran seperti yang dirasakan sebelumnya, kali ini getaran itu terasa sakit.

Gadis itu kemudian melihat ke arah refleksi dirinya yang tampak dari kaca pintu depan.  Dia tidak mendapati sesosok perempuan dengan kecantikan sempurna dan rambut yang bergelombang indah, namun yang tampak adalah sosok perempuan bertubuh agak gempal dengan rambut panjang yang kusut.

“Lila, ayo kita pulang. Kamu mau beli buku itu?” seorang lelaki mendekati gadis itu, memecah lamunannya.

Gadis itu menggeleng, “Tidak. Ayo kita pulang.”

*-*-*-*

Erlangga merasa tubuhnya tiba-tiba merinding. Padahal ruangan di dalam toko cukup panas akibat AC yang rusak dan pengunjung toko yang cukup ramai.

“Kamu nggak apa-apa, Ga?” tanya Dina agak bingung dengan sikap Erlangga.

“Nggak apa-apa,” Erlangga melihat ke sekitarnya, merasa ada yang memperhatikan dirinya.

“Ga, kamu masih ingat janjimu kemarin kan?” tanya Dina kemudian.

“Iya, Din. Apa yang kamu inginkan untuk kulakukan?”

“Aku akan musnah saat kamu bertemu kembali dengan Lili. Selama kalian belum bertemu, aku ingin kamu menjadi kekasihku. Itu permintaan terakhirku.”

 

Continued...

Read previous post:  
47
points
(1766 words) posted by Sun_Flowers 7 years 32 weeks ago
94
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | Eternity | Romantis | sunflowers-cat-lavender
Read next post:  
Writer lfour
lfour at Eternity (9) (7 years 4 weeks ago)
90

mmmm, makin rumit ini ternyata...
lanjut aja deh

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Eternity (9) (7 years 28 weeks ago)
90

selamat berjuang bwt yang melanjutkan :D

Writer lavender
lavender at Eternity (9) (7 years 28 weeks ago)

selamaat

Writer aridanking
aridanking at Eternity (9) (7 years 28 weeks ago)

dari judulnya gue binggung. berharap ngak bingung sampe bawah. eh ternyata iya.

Writer lavender
lavender at Eternity (9) (7 years 28 weeks ago)

maksudnya bagaimana? hehehe

Writer cat
cat at Eternity (9) (7 years 28 weeks ago)
90

Well. Ternyata Mega itu cinta monyetnya roh terang aka matahari.

:‎​​(˘_˘)ck! (˘_˘)ck! (˘_˘)ck !

Kenapa bisa pindah ke lain hatiiiiii.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Makin rumit.

Kasihanilah diriku yg harus membuat kelanjutannya.

Btw aku suka kamu membukanya dgn lagu love be4 time.

Writer lavender
lavender at Eternity (9) (7 years 28 weeks ago)

selamat melanjutkan mbakeeee

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Eternity (9) (7 years 28 weeks ago)
100

okeh.. mari lanjud.. ixixiixxii

Writer lavender
lavender at Eternity (9) (7 years 28 weeks ago)

mareeee