CERFET : Di Ujung Pelangi - Ending - (Cat)

CERFET : Di Ujung Pelangi – Ending – (Cat)

Dua hari? Dia memberiku waktu dua hari untuk berpikir? Sedangkan dia melewatkan hampir empat tahun, empat tahun masa yang seharusnya dia berikan kepadaku dan Nathan. Dan sekarang dengan menyebalkannya pria brengsek itu memintaku menentukan pilihan hanya dalam dua hari?

Apa yang ada di dalam otaknya yang cemerlang itu? Si calon dokter lulusan luar negeri dengan harta melimpah. Apakah dia tidak pernah mengetahui betapa susahnya menceritakan kepada bocah kecil tentang ayah yang tidak pernah ada itu kini mengajaknya pindah ke Amerika? Oh mungkin aku hanya perlu membuka pintu kamar dan berkata kepada Nathan, “sayang, dua hari lagi kita akan berangkat ke Amerika dengan papamu. Papa yang tiba-tiba saja merasa takut kehilangan kita!”

Joanna tenggelam dalam lamunannya sejak tadi. Nathan sengaja dia titipkan kepada Ibunya, dengan alasan banyak pesanan perhiasan yang harus diselesaikan. Sebenarnya Joanna hanya butuh waktu untuk menyendiri, waktu untuk berpikir. Menentukan pilihan akhir tanpa dipengaruhi oleh siapapun.

Dering telepon genggam mengusik ketenangan Joanna. Diliriknya layar yang terus berkedip seirama nada deringnya, “Adam! Baru dua jam, Dam. Tidak bisakah kau mengerti kata menunggu? Apakah harus aku yang terus mengalah?” Joanna meraih telepon genggamnya dan menekan tombol reject.

Sebuah ketukan terdengar dari pintu depan. “Kalau kali ini dia muncul lagi, aku tidak akan segan-segan menyiraminya dengan air!” Joanna bergegas menuju pintu depan dengan segelas kopi yang masih tersisa setengahnya.
Ditatapnya sosok yang berdiri di depan pintu. Tristan. Dan gelas kopi di tangan kirinya segera dia turunkan.

“Aku memilih kopi dengan creamer yang banyak serta yang masih hangat tentunya,” Tristan memasang senyum yang selalu dapat membuat Joanna tenang. Joanna mempersilahkan Tristan duduk. Sementara itu sebuah cangkir biru segera diisinya dengan bubuk kopi dan creamer. Suara air panas yang keluar dari dispenser mengisi kesunyian di dalam ruangan tersebut.

Tristan menyukai kopi dengan creamer dan manis, berbeda dengan Adam yang suka kopi hitam pahit. Selain itu Tristan sering mengenakan pakaian casual berbeda dengan Adam yang mengenakan kemeja .

Joanna kembali berpikir. Apakah dia sedang membandingkan Adam dengan Tristan? Tristan yang sabar, selalu menyayangi Nathan dan memberi perhatian pada hal terkecil yang terjadi pada mereka berdua. Sedangkan Adam, pria itu tidak pernah memikirkan kepentingan Joana dan Nathan.

Teacher Tristan, ada perlu apa kemari?” Joanna mempersilahkan Tristan menikmati kopi yang baru diseduhnya.
Just Tristan, ok.” Tristan menatap sekeliling yang sepi.
“Memastikan keadaanmu,” jawab Tristan lembut. “Nathan, tidur?” tanya Tristan.
“Di rumah neneknya,” Joanna sesekali mengubah posisi duduknya. Ada perasaan canggung ketika berada di dekat Tristan.

“Apakah Adam mengirim kamu untuk mempengaruhi keputusan akhirku? Memaksa aku untuk ikut dengannya?” pertanyaan Joanna dijawab dengan gelengan ringan dari Tristan.
“Kalau boleh aku jujur. Aku malah berpikir untuk membawamu dan Nathan lari ke suatu tempat yang jauh. Menyembunyikan kalian dari Adam. Atau aku ingin sekali menanamkan serta menghipnotis dirimu agar membenci Adam. Tapi, aku sadar semua itu sia-sia,” Tristan terlihat tersenyum getir.

“Maksudmu?” Joanna berusaha tidak terdengar kecewa. Wanita mana yang tidak gembira mendapatkan perhatian lebih dari seorang pria yang baik? Wanita manapun yang waras tentunya akan memilih Tristan daripada Adam yang telah menyakiti perasaannya begitu dalam. Dalam hal ini bisakah dia disebut sebagai wanita waras, sementara di sudut hatinya, dia masih berharap pada Adam.

“Ini menyangkut kalian bertiga. Bukan hanya mengenai Adam ataupun dirimu. Tapi ada masa depan Nathan yang sedang kalian ombang ambingkan.” Tristan mengambil nafas panjang dan mulai berbicara lagi.

“Pada saatnya nanti apakah terpikir olehmu pertanyaan-pertanyaan Nathan tentang ayahnya? Siapa ayah kandungnya. Mengapa hanya dia yang tidak memiliki ayah. Dan ketika semua masalah menjadi semakin rumit, si kecil nan kritis itu akan mulai mempermasalahkan tentang statusmu. Kamu mungkin saja mampu menanggung semuanya. Tapi apakah si kecil itu nantinya akan mampu menghadapi pertanyaan dari teman-temannya?” Tristan kembali terdiam dan Joanna hanya dapat merenungkan penjelasan Tristan.

“Aku memikirkan semua itu setiap malam, Tristan. Setiap harinya sejak Nathan dalam kandunganku, aku telah mencoba mencari jawaban atas semua kerumitan yang akan terjadi nantinya. Namun kenyataan kadang berbicara lain, bahkan lebih kejam dari gambaran yang kubayangkan,” Joanna mengigit bibirnya sambil mengingat kembali setiap cemooh yang dia terima dari masyarakat. Penghakiman akan semua aib yang tumbuh di dalam rahimnya, tuding mereka. Tapi bagi Joanna, Nathan bukanlah aib. Nathan adalah anugerah terindah.

“Aku bukan sedang menyudutkanmu, Joanna. Karena di masa kecilku, aku mempertanyakan tentang orang tua yang meninggalkanku di panti asuhan. Walau pada akhirnya aku menemukan orang tua angkat yang begitu menyayangiku, aku tetap mempertanyakan keberadaan orang tua kandungku,” Tristan meletakkan gelas kopinya.
“Seharusnya Adam juga memiliki pemikiran yang sama denganmu,” ucap Joanna lirih.

Keduanya terdiam sesaat. Joanna mengangkat kepalanya dan menyadari Tristan menatapnya sedari tadi. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Joanna salah tingkah.
“Aku sedang berpikir untuk melamarmu menjadi istriku,” Tristan menatap Joanna sungguh-sungguh.
“Walau aku yakin kau akan menolakku,” kembali Tristan melanjutkan ucapannya sebelum Joanna sadar dari keterkejutan.

“Adam mungkin bajingan yang meninggalkanmu empat tahun yang lalu. Namun aku masih melihat perasaan cinta yang terpendam dari sinar matamu kepadanya.” Tristan tersenyum getir. “Aku iri pada Adam. Dia mendapatkan wanita yang begitu baik.”
“Boleh aku berharap kau tidak pernah mengenalnya? Atau dia tidak pernah kembali ke sini?” Tristan menatap Joanna lekat.
“Tidak pernah terpikirkan olehku juga kedatangannya lagi. Aku menganggap semua cerita antara kami berdua telah usai,” Joanna menunduk, menatap lantai ruang tamunya.
“Tapi cerita tentang kalian berdua tidak akan pernah tuntas. Selalu ada Nathan sebagai penghubung,” ucap Tristan.

“Kalau boleh aku menyarankan, jangan terlalu berbaik hati padanya, beri dia pelajaran tentang beratnya kehilangan itu,” Tristan menghabiskan kopinya dan meletakkan kembali cangkir itu ke atas meja.

“Tapi bila kau berubah pikiran, lamaranku masih berlaku.” Tristan tersenyum.
“Aku tidak pantas untukmu, Tristan. Ada gadis lain yang benar-benar mencintaimu dengan tulus,” Joanna merujuk kepada Cherry.
“Aku …” Tristan diam.

“Lamaranmu terpaksa aku tolak. Tapi bolehkah aku meminta bantuan padamu?” tanya Joanna.
“Heem .. katakan saja,” sahut Tristan.
“Katakan padaku bagaimana caranya memberitahu Nathan tentang siapa sebenarnya Adam,” Joanna terlihat frustasi dengan kemungkinan betapa sulitnya menjelaskan pada Nathan mengenai semua ini.

“Serahkan semua itu kepada Adam, Joanna. Dia berkewajiban menjelaskan dan menunjukkan seperti apa Ayah itu sebenarnya. Dan biarkanlah bocah kecil itu perlahan-lahan mengetahui kenyataan tersebut. Dia tidak bisa dalam sekejap menerima kejutan yang terlalu besar,” Tristan menepuk pundak Joanna dan meninggalkan Joanna merajut keputusannya sendiri.

==

Bandara Soekarno – Hatta

Adam gelisah menatap monitor yang menunjukkan seharusnya dia sudah berada di dalam untuk cek in. seorang porter nampak berusaha menawarkan jasa kepada Adam. Menimbang sesaat, akhirnya Adam menyerahkan tiket dan sebuah tas kepada porter tersebut untuk diurus.

Berkali-kali Adam menatap kendaraan yang berhenti di depan pintu masuk. Dia berharap mobil Joanna akan nampak di sana. Adam sudah mencoba ratusan kali, untuk menghubungi Joanna. Namun semua panggilannya ditolak, setiap SMS-nya tidak dibalas. BBM yang terkirim, walau sudah dibaca, tidak juga mendapat respon.

Selama dua hari ini Adam mencoba mendatangi rumah Joanna berkali-kali, namun hasilnya nihil. Joanna bagai hilang ditelan bumi. Dia menghilang selama dua hari ini. Bahkan Tristan tidak mengetahui di mana keberadaan Nathan, murid kesayangannya itu.

Tristan hanya tersenyum sinis, “inilah yang Joanna rasakan ketika mengetahui kau hilang di saat dia membutuhkanmu!” Sepertinya Tristan telah menetapkan Adam sebagai musuh.

“Tidak mencarinya ke rumah orang tuanya?” tanya Tristan sebelum Adam melangkahkan kaki dari ruang guru.“Sudah, dan mereka mengusirku seperti wabah penyakit yang menular,” Adam mendesah panjang.“Itu tidak sebanding dengan penderitaan Joanna!” Tristan meneruskan pekerjaannya tanpa mempedulikan Adam lagi.“Masyarakat mengucilkannya seperti pembawa aib,” perkataan Tristan membuat Adam semakin merasa bersalah.

Adam tersentak dari lamunannya, dia kembali menatap jam tangan bermerk yang melingkar di pergelangan tangannya. Dua puluh menit lagi pesawat akan berangkat. Apa yang harus dia lakukan? Joanna dan Nathan ataukah karirnya?

Adam melihat Tristan berjalan ke arahnya. “Belum masuk?” tanya Tristan datar.
“Aku masih menunggu anak dan istriku,” sahut Adam.
“Mereka belum sah menjadi anak dan istrimu. Apakah kau telah melamar Joanna?” tanya Tristan geram.
“Aku … lupa,” Adam terlihat merutuki kebodohannya sendiri.

“Kau hanya meminta dia untuk tinggal denganmu di Amerika, tanpa kejelasan status. Apakah kau sudah mengatakan pada Joanna kalau kau mencintai mereka berdua?” kembali Adam mengeleng lemah menjawab pertanyaan Tristan.
“Kau pria dengan otak cemerlang. Namun ternyata untuk hal ini kau begitu bodoh,” Tristan menepuk pundak abang angkatnya itu.

“Aku akan menunda keberangkatanku. Yah, aku akan melamar Anna. “ Adam meloncat dari tempat duduknya dan menarik Tristan bergegas menuju parkiran.
“Aku tahu, kau mengetahui di mana Anna sekarang ini. Bawa aku ke tempatnya sekarang juga, jika tidak ..” Adam melihat wajah Tristan.
“Jika aku tidak mau?” tanya Tristan.
“Aku akan bersujud, memohon. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu, semua …” Adam memohon.

“Semua? Jika aku meminta Joanna?” tanya Tristan sambil menyembunyikan senyumnya.
“Tidak bisa! Joanna milikku,” Adam mengeram kesal. Adam terpaksa menarik Tristan menuju parkiran, karena Tristan masih juga enggan beranjak pergi.
“Aku mohon padamu, Tristan! Jangan menyiksaku seperti ini. Aku tahu aku salah, bersalah kepada Joanna, Nathan dan kamu. Tapi beri aku kesempatan.”

Belum dua langkah mereka berjalan, tawa Tristan pecah. “Oh, Tristan kau aktor yang payah!” teriak Cherry dari balik sudut sebuah café yang sama sekali tidak diperhatikan oleh Adam. Joanna, Nathan dan Cherry berjalan mendekati Adam dan Tristan.
“Joanna! Nathan!” Adam menghambur gembira dan memeluk Nathan dengan erat.

Teacher Tristan bilang, Om Adam tuh Panglima yang bawa kendi harta karun,” Nathan membalas pelukan Adam.
“Dan Mama tuh bidadari pelangi. Jadi Om Adam dan Mama, punya tugas penting. Misi rahasia,” Nathan menunjukkan wajah serius sambil berbisik pelan, seakan takut ucapannya terdengar oleh orang lain. Nathan menerima peluk dan cium dari Adam secara bertubi-tubi.

“Ya, kami adalah panglima dan bidadari yang ditugaskan tugas untuk mengawal kendi harta karun itu. Dan tahukah kamu, sayang. Kamulah harta karun di ujung pelangi itu Nathan. Kamu adalah harta karun, sumber kebahagiaan yang tidak akan pernah kulepaskan lagi,” Adam menarik tangan Joanna untuk mendekat. Nathan hanya menatap bingung.

“Aku sudah membeli tiga tiket pesawat,” Adam mengeluarkan amplop berisi tiket pesawatnya.
Namun Joanna hanya berdiri, tidak segera bergegas mengikuti langkah Adam. “Di mana barang bawaan kalian? Yah, sebenarnya kita tidak perlu bawaan yang terlalu banyak. Kita bisa membeli semua keperluan kalian berdua setibanya di sana,” Adam tersenyum.

“Kami tidak akan ikut denganmu, Dam.” Wajah Adam membeku. Cerianya hilang berganti kekecewaan yang begitu dalam.
“Tapi, tapi … aku sungguh mencintaimu Joanna. Aku ingin membangun sebuah keluarga penuh cinta bersamamu dan Nathan, anak kita.” Adam berusaha meyakinkan Joanna sementara itu panggilan boarding kepada para penumpang untuk penerbangan menuju Amerika telah terdengar.

Tristan dan Cherry mengendong Nathan menjauh dari pasangan itu. Mereka terlihat berusaha memberikan Joanna dan Adam waktu.

“Aku tahu itu, Dam. Hanya saja aku tidak bisa ikut denganmu hari ini.” Joanna melirik Tristan.
“Kenapa, Anna? Apa yang harus kulakukan agar kau percaya pada kesungguhanku?” Adam terlihat frustasi.

“Mungkin yang harus kau lakukan adalah membantuku mengurus semua tetek bengek imigrasi dan visa. Lalu aku juga harus mengurus surat menyurat untuk kepindahan sekolah Nathan. Mencari seseorang yang bersedia mengawasi toko perhiasanku selama aku di Amerika dan masih banyak lagi,” Joanna bisa melihat wajah Adam kembali berangsur lega.

“Aku melupakan semua birokrasi itu. Bodohnya diriku!” Adam menepuk jidatnya sendiri dengan kesal.
“Kamu memang bodoh Adam, dan aku adalah wanita gila yang berusaha menyelamatkan pria bodoh itu,” goda Joanna.

“Pergilah dulu ke Amerika. Kali ini aku akan menyusul dirimu. Aku akan mengejar kamu hingga ke ujung pelangi,” Joanna memberi kecupan di pipi Adam. Kecupan ringan, namun memberikan harapan yang begitu besar kepada Adam.

Adam melambaikan tangan memasuki pintu keberangkatan. “Jaga Joanna dan Nathan. Aku akan mencuri waktu untuk kembali ke Indonesia,” teriak Adam kepada Tristan.
“Tenang saja, Bang. Aku akan membantu Joanna mengurus segala birokrasinya. Mungkin … akan sedikit kupersulit agar aku dapat mempengaruhinya untuk meninggalkanmu dan memilih aku saja,” goda Tristan.

Cherry dan Adam terlihat memberikan tatapan marah kepada Tristan. “Jangan berani kau usik Anna. Mereka berdua sudah satu paket denganku,” Adam terlihat enggan meninggalkan Joanna dan Nathan. Namun senyum dan sebuah anggukan kecil dari Joanna memberikan dia ketenangan dan perasaan hangat. Anna-nya telah memaafkan dirinya. Anna telah memberikan dia kesempatan. Dan Anna-nya tidak pernah ingkar janji.

“Aku akan merindukan kalian berdua,” Adam kembali mendengar panggilan terakhir untuk penumpang pesawat dengan tujuan ke Amerika.
“Ada sebuah PR untukmu, Dam. Pikirkan cara untuk memberitahu Nathan tentang siapa sebenarnya ayah kandungnya,” Joanna menunjukkan senyum ceria sementara Adam memasang wajah memelas.

“Tidak bisakah kau membantuku?” pinta Adam.
“Itu tugas pertamamu sebagai seorang ayah, Adam. Pikirkan dan aku ingin PR itu telah memiliki jawaban saat kami berangkat ke Amerika,” Joanna tersenyum penuh kemenangan.
“Atau kau ingin kami menunda keberangkatan ke Amerika hingga kamu menemukan jawabannya?” ucap Joanna.
“Tidak! Kita akan secepatnya bersama. Akan segera kutemukan jawabannya. Aku berjanji!” Joanna gembira mengetahui Adam benar-benar menyayanginya dan Nathan.

Di sana di ujung pelangi, terdapat sekendi harta karun yang begitu indah. Bukan emas atau permata, tapi kegembiraan dan kasih sayang. Dan Adam menyadari harta karunnya adalah Joanna dan Nathan, mereka adalah sumber kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan apapun.

==

Read previous post:  
97
points
(1655 words) posted by cat 2 years 50 weeks ago
88.1818
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | cat | CERFET | DUP | Romantis
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

akakaka cuma baca ending tapi ini kerenz mak aye demen waktu anna bingung lalu datang tristan .. juga demen kebibgungang adam pas d airport

80

akakaka cuma baca ending tapi ini kerenz mak aye demen waktu anna bingung lalu datang tristan .. juga demen kebibgungang adam pas d airport

100

wedyaaaaann emakkkk... kereeen sekaliiiihhh

50

the bestttt

iya, aku suka ending sang istri yang ngikut suami berkarya dia negri Paman Sam ^^

*inet udah udah lancarrrr tepatt jam 12 malammmmm
Grrrrr

90

keren! makin minder sama endingku yang terasa gak wajar, maaf mak.. di cerfet lain kali aku bakalan lebih baik lagi.. terima kasih sudah diikut sertakan.. :D

90

ini udah keren mak. ga perlu ending versi lain. hehe.
emak jago "memperbaiki" hubungan di antara Joanna-Adam-Cherry-Tristan, yg bikin aku pusing sampe sekarang gimana cara "merapikan" jalinan benang kusut di antara mereka. Endingnya bagus mak, apalagi yg bagian Di Ujung Pelangi-nya. aaaaaah

100

*lagi ngasah piso buat bunuh Adam eh malah baca chapter ini

Emak ...
Tega banget bikin ending sempurna ... gak jadi deh saya bikin Adam kecelakaan mobil trus lumpuh and selamanya gak bisa ke Amrik TAT

...
Udah ah ... saya ngambek gak mo bikin endingnya. Ending punya emak udah keren >w< hehehe

Bikin ending DUP juga dunk.

Kan perjanjiannya setiap estafeter bikin ending

Gimana kalo bikin ending dgn setting di Amrik sono.

Blom ada yg bikin ending di Amrik lhoooo.

100

Sweeeeettt.. Adegan nathan dan adam, misi rahasia, panglima bidadari wuaaaaooooo kreatif dan tidak muluk2..
Aaaaahhhh aku ga ada ideeee

Ah dirimu mah pendukung Adam sejati.

#ingin kubunuh Adam. Hikzzz hikzzz hikzzz

Lav pasti banyak ideee.

Haruuussss. Post sebelum di karantina yah.

90

Yah, emak...
mana, katanya mau bunuh Adam???
wkwkwkwk
tapi bagus kok endingnya XD

Ah kalo Adam dibunuh rasanya kurang logis.

Lgpl mo dibunuh pake apa.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

50

kok jadi begini. . .

hah...
ini...

seneng banget adam, hanya dalam hitungan bulan bisa seperti ini...
joanna udah menanggung nya dalam hitungan tahun..
damn...

*nyewa sniper nembak tante cat....

sebenarnya dalam hati saya juga punya niatan kayak situ... xD

Ah saya sebenarnya juga ingin membunuh Adam.

Tp apa daya...

Bagaimana kalau kalian berdua bikin endingnya #twink twink

90

Awwww, keren, saya suka endingnya. XD XD
Filosofinya pas dan adegannya rasional. :)

Terima kasih krn sudah suka dgn ending yg kubuat.

#saya menantikan ending versimu.

100

Hick.. Ada kekecewaan dihati sih krn bkn tristan yg dipilih.. Tp puas baca ending mba'Cat.. Semua happy.. ^_^

paragrap pertama kalo lebih diperhatikan akan lebih jelas ceritanya dan bagus.

90

emang dasar nih hape.
maap, poinnya lupa! >.<

tak pa pa

menunggu karakter gadis berandal mu yg satu lg.

Ahem...
#nulis gaje di atas tanah pake ranting
jadi Adam dimaafin nih? Tristannya nyerah nih? Joannanya bener jujur nih?
Tristan sama Cherry?
Nathan nggak ngamuk ntar?
#bibir monyong
setelah saya pikir2, wajar sih, karena dua episodenya udah mengarah ke situ.
karena manis madu endingnya, syur ah! xD

yup .. 2 part terakhir mengarah kepada Adam.

So aku tidak bisa berbuat banyak.