Misa Hari Ini (dimuat di Jurnal Tanggomo Edisi IV)

MISA hari ini aku ingin mengenakan gaun hitam. Tak ada alasan praktis, seperti menghadiri pemakaman atau mengunjungi rumah duka setelahnya. Aku hanya berkabung. Sedikit. Kamu tentu tahu, pada tanggal yang sama setahun yang lalu, kita memutuskan untuk tak pernah bertemu lagi. Kamu harus menikah, aku harus menyerah. Kita memang sudah memprediksi hari itu akan tiba, dan sudah dari jauh hari mempersiapkan diri. Perpisahan hanya sebuah jalan menuju pertemuan yang lain, katamu saat itu, masih dengan jemari mencengkeram erat. Aku mengangguk kaku, terlalu kaku, seolah-olah menyadari bahwa apa yang kamu ucapkan adalah sebuah kesia-siaan. Aku tidak naif. Aku tahu, setelah kita berpelukan cukup lama, malam tak akan lagi menjadi malam, dan kesedihan akan bergegas menjadi perigi yang terus-menerus berusaha kita jauhi. Siapa yang akan lebih dulu menyesal, mata kita terus mempertanyakannya. Tak ada tangisan. Hanya senyuman. Selamat tinggal, katamu. Terima kasih, kataku. Kamu mungkin tak mengerti mengapa aku berterimakasih, juga mengapa aku masih saja diam sementara lampu merah akhirnya menyala dan kamu berjalan cepat-cepat di antara lalu-lalang orang yang tiba-tiba asing. Aku berdiri, menunggu, tapi tak juga kamu berbalik. Pada mulanya hanya punggungmu, kemudian berganti silhuetmu. Sejak saat itu perpisahan menjadi bayang-bayang yang mengikutiku, lantas membisikkan di telingaku: merelakan adalah duka tak tertanggungkan. Apakah aku sepenuhnya merelakanmu?

Gaun hitam ini membuatku kulitku tampak pucat. Aku seperti domba yang akan dikorbankan, namun dalam wujud yang menawan. Kamu pernah bilang, Hitam akan tampak hitam ketika ada putih, putih akan tampak putih ketika ada hitam. Yang baik dan buruk menyatu, itulah kita. Aku saat itu tak mengerti, dan kerapkali merasa kesal sebab lidahmu tak bisa diam hingga aku harus lebih berkonsentrasi mendengarkan dialog-dialog film yang kita tonton. Kamu terus-menerus mengoceh, seolah-olah begitu kecewa aku memilih film komedi, bukannya horor seperti yang kita sepakati sebelumnya. Kamu tak tahu, bahwa malam itu aku akan sendirian di rumah, sementara Mama dan Eva harus menginap di Jakarta. Urusan keluarga. Tapi aku pun saat itu tak tahu, bahwa kamu baru saja kehilangan ibumu. Ketika film selesai dan lampu dinyalakan, aku terkesiap menemukanmu berlinangan air mata. Aku harus pulang, katamu. Aku mengangguk. Berkali-kali kamu meminta maaf tak bisa mengantarku malam itu. Berkali-kali kutemukan kekosongan di matamu itu. Berkali-kali setelahnya aku selalu gagal menghubungimu. Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Serius, aku jengah mendengarnya.

Setelah itu beberapa minggu, beberapa bulan, dan kita tak sengaja bertemu di sebuah acara. Kamu masih yang kukenal, kecuali senyum palsu dan gelagat tak acuh yang tampak nyata dalam gerakmu. Perempuan itu, yang mengenalkan dirinya sebagai Heni, adalah tunanganmu. Kalian akan menikah, tanpa pernah kutahu. Selamat ya, kataku, menjabat tangannya sewajar mungkin, lalu menatapmu dan menjabat tanganmu cukup kencang. Apa arti semua ini? barangkali kamu temukan pertanyaan itu di mataku, juga di bibirku yang mendadak beku. Namun sebelum sempat kamu menjelaskan, sebelum sempat jeda itu ada, pintu masuk dibuka, orang-orang berduyun-duyun memasuki gedung, juga kalian, juga aku. Dia mengajakmu duduk di kursi tengah paling depan. Aku memilih kursi tengah paling belakang. Beberapa kali kukira kamu ingin menoleh, lalu lampu dimatikan, dan cahaya hanya fokus ke depan. Pementasan segera dimulai. Aku heran, mengapa aku sama sekali tak memarahi perempuan itu.

Beberapa hari setelah itu kamu meneleponku, berusaha menjelaskan. Aku mendengarkan? Entahlah. Kamu meminta bertemu. Aku setuju saja, sebab kamu memaksa. Sebuah meja, sepasang kursi, sepiring fruit-plater, segelas alpukat. Aku tak memesan apapun. Kamu lahap slice semangka itu. Kamu lahap slice melon itu. Kamu sedot kuat-kuat alpukat itu. Aku masih menunggu, mencoba sabar. Aku tahu, butuh dari sekedar keberanian untuk mencoba jujur mengutarakan apa-apa yang terlanjur kamu sembunyikan. Aku menunggu, sesekali memandangi mereka yang duduk berbincang di antara pohon-pohon serupa cemara. Redup. Awan menyembunyikan matahari. Dan kamu berkata, Aku kini yatim-piatu. Setelah Ibu mengambil alih tugas Ayah, akhirnya Kakek mengambil alih tugas Ibu. Kini segala keperluan Resha dan Irma, Kakek yang menanggung. Aku pun tak bisa lagi memikirkan diriku sendiri. Aku tak punya hak untuk itu. Aku anak pertama, kakak dari dua adik, juga seorang cucu dari sesosok lelaki yang gila harta.

Aku diam. Aku tahu kamu belum selesai. Beberapa kali kamu berkata: aku... Beberapa kali kamu berkata: ibu... Beberapa kali kamu mencoba merangkainya dalam kalimat namun gagal. Kusentuh tanganmu. Kubilang, Tak perlu dikatakan, jika itu menyakitkan. Kamu menatapku. Lama. Di pipimu sepasang sungai menjelma dan aku berpura-pura menjadi muara. Aku kembali heran, mengapa aku tak juga memarahimu, membentakmu, menamparmu, menendangmu, memukulmu, mendorongmu, menikammu... Kamu, kakekmu, perempuan itu, seperti garis-garis yang membentuk segitiga. Terjebak. Tak bisa lepas. Ada ikatan yang melumpuhkan.

Lalu aku? Siapa kini aku bagimu? Pertanyaan itu akhirnya kupendam. Setelah kamu tenang pun, setelah sungai-sungai itu kering pun, tetap kupendam. Entah kenapa, aku tak ingin membebanimu dengan rasa bersalah yang lebih berat lagi. Dikhianati memang sesuatu yang perit. Tapi mengkhianati, bagimu, barangkali juga hal yang sama. Pada akhirnya aku harus memaafkanmu, meski nyaris tak mungkin. Dan kuajukan sebuah syarat: kita berkencan terakhir kali, malam minggu nanti. Kamu mengangguk. Kukira kamu saat itu masih mencintaiku. Di kencan terakhir kita kamu kenakan rosario pemberianku, meski akhirnya kamu mengembalikannya, lengkap dengan sebuah kecupan.

Mama memanggil. Eva sudah menunggu di mobil. Kupandangi sekali lagi diriku di cermin. Gaun hitam. Kulit pucat. Sebuah Alkitab di tangan. Sebuah rosario di leher. Saat ini, rasanya, masa lalu seperti memeluk kuat-kuat.

 

MISA hari ini mungkin kembali dilakukan di trotoar, sebuah rutinitas yang menunjukkan kesungguhan, dan aku yakin dia datang.

Aku telah menyiapkan kamera, juga membawa sesuatu yang menyeretku menuju masa lalu: rosario pemberiannya. Dia tentu tak tahu aku masih menyimpan rosario ini. Yang dia tahu, aku telah mengembalikannya di sebuah malam ketika lampu merah menjadi saksi perpisahan. Padahal, yang kuberikan itu adalah rosario yang sengaja kubeli, yang persis sama, agar aku bisa menyimpan pemberiannya.

Istriku tak pernah tahu hal ini. Di meja kerjaku ada semacam kotak rahasia di sebuah labirin rahasia, yang hanya diketahui olehku. Seandainya dia tahu, dia mungkin bertanya, Mengapa kamu punya rosario? Untuk apa? Dia tak akan mengerti, dan aku memang tak akan menjelaskan. Bahwa rosario ini adalah sesuatu yang mengarahkanku menujunya, dia tak perlu tahu. Tak boleh. Dia hanya perlu tahu bahwa aku setia mencintainya. Dia tak boleh tahu, bahwa ketika aku menikahinya, sesungguhnya bukan karena cinta, melainkan harta. Sebab cinta, sudah sejak lama tak lagi kupunya. Seseorang telah merampasnya. Dan sudah beberapa bulan ini, aku diam-diam mengamatinya, memotretnya, menulis lagi puisi-puisi untuknya. Kembali, seperti dulu, cinta menjelma sepasang sayap yang mengepak-ngepak, membuatku melayang. Kata Nenek, cinta bisa tumbuh dari kebiasaan. Kata Kakek, cinta tak perlu ada, selama semua bahagia. Dan aku pun menikah seperti yang mereka inginkan, dengan seorang perempuan yang mereka sukai, namun tak kucintai. Keyakinan kami memang sama, tapi prinsip kami berbeda. Dan pernikahan, nyatanya tak membuatku bisa melupakannya. Di dunia ini, memang ada banyak perempuan. Tapi barangkali hanya satu, yang benar-benar bisa memahamimu. Aku dan dia sama-sama menyukai sastra, sama-sama menulis puisi, sama-sama menyukai Tsvetaeva. Kita menulis puisi untuk puisi itu sendiri, sebab kata meminta dituliskan. Tapi cinta, mungkinkah juga seperti itu? tanyanya suatu hari, jauh sebelum perpisahan itu membayang. Jawabku, Aku mencintaimu, dan berharap kamu juga mencintaiku. Bukankah selalu seperti itu?

Saat ini, hal-hal yang semestinya dilupakan justru berdatangan menjabat tangan lalu tinggal. Rosario ini, dia, perpisahan itu, seolah-olah janin yang diam-diam tumbuh di rahim ingatan. Mungkin kelak akan tiba saatnya ia meminta dilahirkan. Kita tak pernah tahu, apakah dengan duka atau bahagia, kita kelak menyambutnya.

Angkot berhenti. Aku turun. Di seberang sana tampak gereja yang masih disegel itu. Sejauh yang kutahu, MA telah mengeluarkan putusan untuk mencabut pembekuan IMB yang diberlakukan Pemkot Bogor. Akan tetapi, seperti tak berarti apa-apa. Hukum di negeri ini ternyata bukan lagi milik semua orang, tapi milik mereka yang menamakan dirinya mayoritas. Padahal kurasa, mayoritas-minoritas sesungguhnya adalah sesuatu yang semu. Manusia pada dasarnya manusia. Tak semestinya berbeda. Tiap-tiap mereka semestinya bisa bersikap sportif menerima kekalahan. Ataukah pemahanku ini salah? Kenyataannya di dunia ini yang berlabel mayoritas selalu berusaha menjadi superior. Ah, entahlah. Mengapa juga aku harus begitu memikirkannya. Bukankah sejak awal kedatanganku ke tempat ini semata-mata untuk melihatnya?

Di seberang sana, Misa rupanya sudah dimulai. Kali ini misa dilangsungkan di lapangan parkir di dekat gereja setengah jadi itu. Sebab ternyata, melakukannya di trotoar sudah tak mungkin lagi--telah dipakai ramai-ramai oleh para pedagang kaki lima. Aku menunggu jalan cukup sepi, lalu menyeberang. Di antara wajah-wajah yang tak kukenal, aku mencari wajahnya. Kali ini, barangkali, aku akan memberanikan diri muncul di hadapannya, memberikan senyuman. Dia mungkin tak lagi memiliki perasaan yang sama seperti saat itu. Di matanya, aku mungkin tak akan lagi menemukan alunan yang melenakan. Sebuah pelukan, mungkin tak akan kudapatkan. Tapi tak apa. Sebuah senyuman saja darinya, kurasa sudah cukup.  Baru saja kutemukan wajahnya, baru saja aku hendak memotretnya, tiba-tiba ponselku berdering. Ada pesan masuk, dari istriku: Sebentar lagi bulan puasa. Melakukannya nanti hanya bisa malam-malam. Hari ini, cepat pulang ya...

Angin jadi terasa lain. Lebih dingin. Lebih dingin.(*)

 

Bogor.25-Juli.2011

 

 

*Cerpen ini dimuat di Jurnal Tanggomo Edisi IV, dengan versi yang sedikit berbeda. Selain cerpen ini, dimuat juga cerpen berjudul "Tetangga" karya Norman Erikson Pasaribu, sebuah cerpen yang gokil tapi berisi, cerdas juga konyol. Beberapa ocehan dan percakapan antartokoh membikin geli hingga saya tersenyum--bahkan tertawa. Jika tertarik membacanya, beli saja jurnalnya. Murah kok, hanya Rp. 10.000,- per eksemplar. (hahaha. promosi gw!) Sedikit petunjuk saja barangkali, cerpen berjudul "Tetangga" ini menceritakan seorang tetangga yang dikabarkan meraih hadiah Nobel untuk sastra. Woww! :)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

jadi inget lagunya Afgan, "Tuhan memang satu, kita yang tak sama," wahaha. maksudnya "keyakinan sama, beda prinsip" itu begitu ya... mengecoh (dan bisa menuai perdebatan sendiri sebetulnya.) hebat ih karya2nya pd dimuat :)

100

cerpen keren
recomended by anggra_t httpwww.kn*ers.com/showpost.php?p=31357&postcount=45

90

Cerita cinta yang bergizi! Sampai typo pun tak lagi terasa penting untuk dibahas. Hehe.

oh, ada typo ya..? hehe... XD

Eng, yang sy temuin sih ini doang:
Silhuet --> siluet
Sekedar --> sekadar
Kerapkali --> kerap kali
Pemahanku --> pemahamanku
apapun --> apa pun
Nambah kosakata baru nih sy, perit! Haha.

kalau "pun" bisa disambung atau dipisah. :D
kerapkali...?? hmmm... bagaimana dengan acapkali? "acap kali"? aneh rasanya.... :o

Hehe. Kalo bakunya sih emang acap kali. Yah, mau bagaimana lagi, EYD emang kadang ga enak. Kayak menghadang, yang benernya kan mengadang :P. Partikel pun itu setahu sy dipisah kecuali untuk kelompok kata yang dianggap padu, kayak ataupun, bagaimanapun, kalaupun, meskipun, sungguhpun, dst. Kecuali untuk kata sekali (pun), tergantung maknanya. Kalo maknanya sama dengan meskipun ditulis serangkai, kalo maksudnya satu kali pun, ditulis terpisah (sekali pun). Hihi. Pusing ya bahas ginian. Tapi kalo pendapat sy salah, ya namanya juga diskusi, sama-sama saling ngasih tahu aja deh :D.

hehe.... kadang saya suka bertanya-tanya sejauh apa esensi dari kebakuan yang ditetapkan itu. "berbagai" dengan "pelbagai" misalnya. apa sesungguhnya yang membuat yang satu diposisikan lebih 'suci' dari yang lain? kasihan sekali yang satunya lagi. hehe... *mulai ngawur

Ga tahu juga perihal ada yang dianggap lebih suci itu *yang nganggapnya siapa sih? Sy ga ngikutin gosipnya :P*. Kalo sy sih ujungnya pake enak ga enak. Ahaha. Sesuai kebutuhan aja. Karena selain baku ga baku, ada lagi lazim dan ga lazim. Terus, kan suka ada penulis yang nabrak EYD bukan karena ga tahu, tapi karena emang ada maksud di balik itu. Dan sebetulnya kadar abai EYD di cerpenmu juga ga ganggu kok (kan sy udah bilang juga, udah tertutupi sama kegenialan cerpennya sendiri. He). Ini mah gatel aja pengen ngilik-ngilik. Haha *dasar iseng*

hahaha. saya juga suka seperti itu. XD

100

Wow. Karena larut dalam cerita ini saya lupa kalo saya sedang chatting dengan seorang teman. Luar biasa!!!

hahaha. kasihan sekali si teman. XD

100

Suka sekali dengan pemikiran-pemikiran tokohnya. :)
Dan juga gaya penceritaannya.

terima kasih sudah membaca dan menikmati. terima kasih juga sudah jadi fan saya. haha... ^^v

100

apa ya? keknya aku nyampah aja deh dan bilang keren keren keren. :P
Selamat buat dimuatnya ceritamu, cren. ^^

haha, tengkyu, Boss.