CERFET : Di Ujung Pelangi - Ending - (H.Lind)

 

Bocah laki-laki itu  adalah pecandu hujan. Ketika awan gelap datang mengarak dan buliran air ditumpahkan dari atas langit, kaki-kaki kecilnya akan melangkahi batu-batu taman dan rerumputan berpadu gulma hanya untuk mencapai tanah lapang. Seolah menantang hujan, kepalanya didongakkan ke atas, matanya membuka penuh. Ia menikmati setiap hujaman air yang bersarang di kulitnya, setiap dentuman petir yang memekakkan telinganya.

 

Sudut kafe ini tempat yang tepat untuk memandangi hujan tanpa takut kebasahan. Ketiadaan kanopi membuat guratan percikan air tergambar jelas di kaca jendela. Dapat dilihat pula ketika goresan putih melintang di awan gelap.

 

Meja itu telah diisi dua orang. Dua cangkir kopi dengan asap mengepul sudah tergenggam di masing-masing tangan. Ada alunan musik pelan yang keluar dari pemutar kaset murahan. Lampu yang terpancang di langit-langit sengaja ditutupi kain jingga untuk membuat suasana pada kafe ini temaram. Suasana dingin-hangat yang tepat untuk adegan romantis-melankolis. Dan mungkin memang adegan seperti itu yang terbentik―atau diharapkan―oleh kedua orang tersebut.

 

Di sudut yang menghadap meja kasir dan meja-meja lainnya, diisi seorang perempuan dengan rambut berombak. Bentuk wajahnya sempurna dengan tulang pipi tidak terlalu menonjol dan mata yang berpendar indah. Suasana temaram dan tindakannya yang seperti tidak berani memandang langsung menyamarkan gelang kemerahan di sekeliling matanya.

 

Di hadapannya, seorang laki-laki berpakaian kasual. Ia memakai rompi cokelat yang sudah terlalu kecil untuk dada bidangnya. Sepatu ketsnya mengetuk-ketuk ubin kafe, memadukannnya dengan lagu yang diputar. Ia sengaja memalingkan mukanya ke arah jendela sebab ia masih tidak tahan memandang perempuan itu lama-lama. Bukan karena tidak berani, ia hanya takut tidak sanggup melepaskan pandangannya kembali ketika sudah tertambat pada perempuan itu.

 

Pembicaraan yang baru berlangsung hanya berkisar pada hal-hal formal. Apa kabar? Sudah lama menunggu? Bagaimana pekerjaan? Bagaiamana lukamu, sudah membaikkah? Ingin pesan apa? Kau sendiri? Dan jawabannya pun biasa. Baik. Tidak juga. Lancar. Sudah sembuh. Cafe latee. Tadi saya sudah.

 

Suasana yang terasa formal ini bukan karena mereka baru berkenalan, bukan pula karena mereka dipertemukan tidak sengaja. Hanya saja karena mereka terlalu mengetahui apa yang ingin dibicarakan dan apa yang lawan bicaranya ingin bicarakan. Sehingga mereka hanya diam, takut jika bicara salah dan berharap orang yang berada di hadapannya yang memulai duluan.

 

Teacher Tristan sudah tahu mengenai permasalahan saya dengan Adam?” Akhirnya perempuan itu mengalah, tidak tahan juga pada hening.

 

Tristan diam. Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan mengingat ia yang mengajaknya bertemu di sini tanpa Nathan. “Ya saya tahu. Dan tolong Tristan saja.”

 

Perempuan itu telah lelah bertanya pada sanubarinya. Jawaban atas pernyataan Adam kemarin tidak juga ia temukan di sana. Di antara terombang-ambingnya, ia menyadari bahwa ia sendirian. Oleh sebab itu, ia bertanya, “Menurutmu apa yang harus kulakukan?”

 

Laki-laki itu pun telah lama bertanya pada nuraninya. Sesungguhnya, ia tidak mengerti mengapa pula memanggil perempuan itu kemari. Untuk memberikannya konsultasi? Merasa paling benar dan mengenal Adam lebih lama membuatnya lebih bijak memberi keputusan? Atau ia hanya ingin tahu keputusan yang telah dibuat Joanna? Sembari mencuri kesempatan yang mungkin terakhir untuk melihat dirinya. “Menurutku, apa yang harus kamu lakukan.”

 

Memaafkannya, batin Joanna. Sudah beribu kali ia mencoba memikirkan solusi itu. Beribu kali pula pikiran rasionalnya menolak solusi tersebut. Ia sadar dirinya belum sepenuhnya rela memaafkan.

 

Ia akan memaafkannya, pikir Tristan. Berkali-kali ia membayangkan kemungkinan Joanna melakukan itu. Berkali-kali juga ia tertunduk meratapi. Ia sadar memberikan maaf mungkin merupakan solusi terbaik.

 

Lalu mereka diam lagi. Petir di luar belum berkesudahan. Bersamaan pula dengan denting bel penanda orang masuk ke dalam kafe. Pelayan lalu lalang, memang banyak orang yang datang hanya untuk berteduh dan menikmati kota dalam keremangan abu-abu.

 

“Aku memikirkan Nathan. Bagaimana ia akan beradaptasi dengan kehidupan Amerika. Bagaimana ia akan bingung untuk mengenali siapa Adam. Bagaimana ia akan kehilangan kamu, pria yang paling disayanginya.”

 

 “Nathan anak yang pintar dan ceria. Ia selalu belajar dan bermain lebih aktif dibanding teman-temannya. Keingintahuannya pun selalu besar.” Menelan ludah, Tristan menambahkan, “Adam akan menggantikan posisiku.”

 

Perempuan itu, kembali dengan segala daya upayanya, berusaha mengorek sedikit mengenai lawan bicaranya. Tundukannya semakin bawah, ucapannya semakin kecil ketika ia mengucapkan pertanyaan itu. “Dan bagaimana denganmu, Tristan?”

 

Hening memberi celah bagi perempuan itu untuk menambahkan tanya. Pasrah dan juga keberanian setitik telah membantunya menekan malu-malu, “Bagaimana dengan perasaanmu terhadap Nathan dan Adam kelak begitu kami pindah ke Amerika? Bagaimana dengan perasaanmu terhadap aku?”

 

Tristan memandangi gelas kopinya yang hanya tersisa kerak berkafein. Ia mempertimbangkan memesan satu cangkir lagi. Memilah-milah mana yang sekiranya terasa sejuk di lidah dan tetap meninggalkan manis meski telah tertelan. Akan tetapi ia lalu teringat kenapa kedai ini dinamakan kedai kopi dan bukannya kedai sirup, atau kedai gula-gula.

 

***

 

Kecintaannya pada hujan bermula dari sebuah dongeng yang dilantunkan. Seorang selalu menceritakan kisah itu kepadanya ketika matanya mulai berair dan bibirnya mulai merengut. Diceritakan bagaimana bala pasukan yang menjelma menjadi air dan petir datang mengunjungi bumi. Turut dibawa oleh mereka pula satu kendi kepunyaan Kerajaan Langit. Harta dari Kerajaan Langit yang ingin diberikan pada warga bumi. Mereka meletakkan kendi harta di itu di tempat yang begitu misterius. Di ujung pelangi yang terbentuk oleh kedatangan mereka.

 

Dongeng itu telah menjadi favoritnya. Didendangkan berulang-ulang, dirasakan berkali-kali. Karena itulah ia selalu menerabas hujan. Sebenarnya dalam dingin dan basah itu ia menunggu tampaknya jalan sang bala prajurit Kerajaan Langit. Dan ketika ia menemukan bentuknya terlukis di cakrawala, ia tersenyum dan bergegas menyusurinya.

 

Akan tetapi meskipun ia telah berhati-hati dan secepat mungkin mengikuti jejak pelangi, ia tidak juga dapat mencapai ujungnya. Walaupun ia telah berlari hingga tidak lagi melihat untaian warna membentang di atasnya, ia tidak menemukan jua kendi harta karun berisikan kebahagiaan dan sukacita itu.

 

Guru muda itu agak kebingungan melihat sesosok yang amat dikenalinya tengah berada di depan pintu pagar kosannya. Meskipun hari telah beranjak malam dan lampu jalan yang berdiri di dekatnya telah redup, gadis itu tetap bisa mengenalinya, bahkan hanya dari memperhatikan bayangannya.

 

“Hai, Cherry.” Suara itu terdengar jernih sebab komplek perumahan telah sunyi.

 

Ragu-ragu, perempuan itu melambai. “Hai...Tristan.”

 

“Kamu baru balik?”

 

“I-iya. Tadi baru beli nasi goreng.”

 

Untungnya hujan sempat mengguyur seluruh daerah itu sehingga para jangkrik seakan bermigrasi, mencari tempat untuk berteduh. Tidak ada bunyi kepakan sayap mereka yang dapat mengganggu percakapan kedua insan ini.

 

“Aku resign,” gumam suara itu kecil. Sudah dibilang tiada kebisingan lain yang dapat mengganggu percakapan ini.

 

Mata Cherry membelalak. Suaranya langsung menyalak, “Apa?”

 

“Aku sudah resign dari Playgroup Strawberry.”

 

Perempuan muda itu mengambil langkah cepat mendekati Tristan. “Kenapa?”

 

Alih-alih menjawab, pria itu malah berjalan pelan, memutari si gadis sambil mendongak ke atas. Ia berusaha menghidari tatapan mata si gadis yang menusuk. Kemudian dari balik punggung perempuan yang terbalut jaket krem itu ia membisik.

 

“Adam meminta Nathan dan Joanna untuk mengikutinya ke Amerika. Untuk memulai hidup di sana.” Tristan menghela napas berat, “Dan kau tahu begitu mendapati kenyataan bahwa mungkin saja Nathan dan ibunya tidak akan kembali menjejakkan kakinya di Playgroup Strawberry, aku merasa seperti kehilangan hasrat mengajar. Aku resign.”

 

“Itu alasan bodoh,” kini perempuan itu membentak. “Bukankah mengajar telah menjadi cita-cita terbesarmu.”

 

“Tampaknya tidak. Selama ini aku selalu berkata bahwa mengajar anak-anak kecil adalah keinginanku terbesar.” Sebuah jawaban jujur terbisik dari bibirnya, “Padahal aku hanya ingin merasakan keceriaan dan kebahagiaan dari anak-anak yang punya keluarga lengkap. Barangkali kupikir bahwa dengan melihatnya aku bisa menggantikan masa laluku di panti.”

 

“Dan, apakah itu berhasil?”

 

“Sepertinya tidak. Buktinya aku resign.”

 

Kemarahan perempuan itu terlanjur memuncak. Dan kemudian membuncah, “Kamu hanya tidak suka Adam merebut perempuan yang paling kau cintai.”

 

Hening mencekam malam.

 

“Aku akan pergi.” Lagi, pria itu memberikan pernyataan yang tak dimengerti lawannya.

 

“Apa? Kemana, Tristan? Lalu bagaimana dengan hubungan kita?” perempuan itu menahan tangis. Masih diingat jelas bagaimana percakapan mereka pada sore itu, ketika tangan hangat milik pria itu mengelur rambutnya. Dia masih belum ingin mempercayai bahwa semua itu hanyalah harapan palsu.

 

“Aku akan pergi, Cher, untuk mencari ujung pelangi,” ujar pria itu mantap.

 

Perempuan itu membatu, akan tetapi air matanya mulai menyurut. Ia melihat satu ekor laron yang sedari tadi terbang mengitari lampu taman telah kehilangan sayapnya. Laron ini jatuh, terpelanting di tanah, dan mendapati dirnya merayap. Bukan lagi terbang. Dan dirinya lantas berpikir: mungkin sebuah perubahan tidak hanya terjadi ketika sesuatu mulai terbang, tapi juga muncul ketika sesuatu jatuh dan belajar berjalan.

 

***

 

Sosok itu ditemuinya perdana pada hari berhujan. Berdiri dengan payung berwarna pink di atasnya, bocah yang telah menjadi pria itu langsung terkagum. Barangkali inilah kendi harta karun yang selalu dicari-carinya. Sebuah dongeng lama turut membangkitkan kenangannya akan sosoknya sebagai penelusur pelangi. Dongeng yang entah kenapa selalu dipegangnya teguh meski telah berulang kali mengecewakannya.

 

Harta karun itu tidak berada persis di ujung pelangi; tidak tercipta pelangi dari bias air hari itu. Akan tetapi pria itu bagaikan melihat warna-warni bermuncratan keluar dari diri perempuan itu.

 

Selalu menjadi kegiatan menyenangkan untuk mengenang pertemuan pertama dengan seorang yang disukai. Apalagi dilakukan pada hari dimana engkau akan berpisah dengannya. Itulah pikir laki-laki yang dari tadi melayangkan pandangan kesana-kemari untuk menemukan seseorang.

 

Laki-laki ini telah siap. Di tangan kanannya digenggam pegangan koper yang berisikan pakaian dan segala perlengkapan. Di dalam sakunya telah tersedia tiket dan paspor. Uang telah dikumpulkan seperlunya, beberapa dalam mata uang asing. Akan tetapi matanya masih mencari-cari seseorang―salah, dua orang.

 

Tepat ketika memalingkan mukanya papan boarding yang terus berganti angka dan huruf, ia menemukan mereka. Dua sosok itu, tidak tiga bahkan. Yang satu, yang agak kecil, disuruh duduk menunggu sambil meminum jus yang dibelikan dari toko donat. Sedangkan dua sosok lainnya, satu pria dan satu perempuan terlibat percakapan serius.

 

Dari sisi si pengamat, sudah tergambar jelas air muka mereka berdua. Sukacita. Tak henti-hentinya senyuman terkulum di bibir si pria. Ia tampak sedikit terkejut tadi, tapi sekarang ia tak berhenti memandang si perempuan dengan kasih dan juga berterima kasih.

 

Si perempuan menangis. Tapi bukan disebabkan oleh penderitaan, melainkan oleh kebahagiaan. Sebuah senyum tulus tergambar di wajahnya, menerima tangan laki-laki itu tertangkup di tangannya. Ekspresinya rela  sambil sesekali melirik ke arah anak yang tadi dibawanya.

 

Lalu dua orang itu berpelukan. Hangat, lama. Tertanda satu telah dimaafkan dan satu telah memaafkan.

 

Benarkah perempuan itu kendi emas bagi dirinya, si laki-laki tidak tahu. Sebab, ketika petir menggelegar, ia mengernyit ketakutan. Ketika air hujan tempias menerpanya, ia segera mengelapnya. Perempuan itu, tidak seperti dirinya: segan akan hujan dan petir.

 

Bagaimana mungkin harta karun itu segan akan bala Kerajaan Langit yang semestinya mengawal dan membawanya ke bumi? Ia kembali tidak tahu. Hingga dua hari yang lalu, ia mendapati pemikiran logis dan menambahkannya pada dongeng yang sudah sangat ia hafal itu.

 

“Suatu ketika Raja Langit memerintahkan para prajuritnya untuk menuju bumi. Rupanya ia sedih melihat kondisi Bumi yang makin hari makin kelam dan gelap. Ia ingin memberikan kepada manusia di bumi sana sebuah persembahan yang sekiranya bisa memberikan terang bagi kehidupan, sukacita bagi peradaban.

 

“Maka para prajurit itu bertransformasilah. Menjadi setitik hujan, seutas petir, dan sekumpulan awan. Dan turut dibawa oleh mereka hadiah oleh Sang Raja dengan hati-hati. Hadiah yang mereka bawa itu tidak lain dari putri Sang Raja sendiri. Seorang dewi cantik yang tiada tara.

 

“Pelangi terbentuk dari jalan Sang Putri menjejaki cakrawala.Kecantikan terpancar dari sinar muka dan raut wajahnya meskipun ia juga telah menjelma menjadi manusia biasa. Hanya saja, walaupun ia telah memberikan begitu banyak sukacita pada rakyat bumi, ia mengemban satu penderitaan. Ia tidak ingin berada di bumi.

 

“Putri itu telah memiliki cinta di Kerajaan Langit. Seorang pangeran yang dahulu pernah mengecewakan Sang Putri dan ayahnya. Pangeran itu mencari Sang Putri; ia ingin membawanya kembali ke pangkuannya. Seraya mendengarkan permintaan maaf Sang Pangeran, Sang Putri menyadari betapa ia ingin mengabulkan permintaan itu.

 

 “Ia ingin kembali dan bersatu dengan pasangan sejatinya.”

 

Tristan tersenyum kembali membaca dongeng itu di buku catatannya. Dongeng yang diceritakan oleh kakaknya dan telah ditambahkan sedikit oleh dirinya sendiri.

 

Sebuah pengumuman keberangkatan terdengar dari speaker besar yang terpasang di langit-langit. Ia melayangkan pandangan terakhir pada kakak dan kemungkinan kakak iparnya. Kemudian dikeluarkan tiket dan paspornya seraya bergegas menuju petugas bandara.

 

Tak lama ia telah berada pada kursi empuk dengan sebuah jendela kecil di sampingnya. Ini akan menjadi perjalanan untuk menemukan ujung dari pelangi, tapi bukan dari pelangi yang terbentuk oleh bidadari kayangan.

 

Pria itu mengerti, mengapa sebuah dongeng diciptakan. Anak-anak memerlukan sebuah kebohongan pada waktu menjelang tidurnya. Sehingga mereka dapat mengingatnya, memimpikannya, mempercayainya. Lalu ketika mereka bertambah umur terus dan terus, mereka akan semakin menemukan bahwa cerita itu hanyalah kebohongan belaka. Mereka akan kecewa dan terpuruk. Dan memang itulah yang terpenting, sebab dengan begitu mereka telah menjadi dewasa.

 

Read previous post:  
97
points
(1655 words) posted by cat 7 years 34 weeks ago
88.1818
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | cat | CERFET | DUP | Romantis
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

dongengnya manis <3 <3 <3
main ke endingku ya Lind ^^
http://www.kemudian.com/node/261526

Lapor saya sudah meluncur dan memberikan komentar! Laporan selesai. :)

80

ew...
Al, selalu punya kata yang tepat untuk bikin kalimatnya brasa.

paragraf terakhirnya meuni sadis. tapi bikin endingnya tepat untuk Tristan. pahit, sinis, negatif. ^_^

thumbs up, dear.

Ahhh, kau datang ^.^
Makasi ya kak El

80

So sweet... dongengnya enak dibaca hehehehe <3

Thanks kak Irene. Menantikan endingmu juga :)

100

manis, lembut, dalam... ^^
ga perlu detail, ga perlu dialog berlebihan, tapi kekuatan kalimat2mu bener2 menjelaskan segalanya... waww...

Punya kak Lav manaaaa? *nagih
Thanks ya

90

Aaa ini dari sisi Tristan.

Jd kok Tristan yg pergi.

Adam ma Joanna pergi ndak yah?

Aku suka dongengnya dikembangkan dengan sangat baik oleh kamu.

Thumb up

Kasihan si Cherry.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Thanks kak Cat. Masalah Adam dan Joanna biarkanlah itu jadi keputusan masing-masing pembaca. :)

90

ih, so sweeet~ tapi yang ini kesannya lebih kalem.
saya nangkepnya di sini Tristan bisa terima dgn lapang dada. Cherry trus dikemanain? saya ngerasa kasian juga ma dia.
for all, gula-gula pelangi :)

Thanks udah baca. :)
Cherry... biarkan dia menemukan jalannya sendiri. Ehehehe :P