QPLCDP - Behind The Scene : The Cast

“Huah, capeeeee!” Alcyon duduk di kursi lipat, mengambil sebotol air mineral dan langsung menegaknya. Terlalu banyak berteriak membuat tenggorokannya terasa kering.

Edgar mendekat, duduk di kursi tepat di samping Alcyon. Sambil melepaskan kostum, dia mengambil sekotak makanan yang sudah disediakan di atas meja.

“Om, makan!” kata Edgar sambil membuka kotak makan. Nada bicaranya berbeda saat dia memainkan peran ‘Edgar’ di film Quête Pour Le Château de Phantasm. Alcyon hanya menoleh dan mengangguk, kemudian menurunkan sedikit posisi duduk untuk sekedar mengistirahatkan kaki.

“Hoi, makan ko ngga ngajak!” Senri berteriak, mendekat sambil mengelap keringat di wajahnya dengan handuk kecil berwarna merah muda.

Edgar hanya tersenyum, kemudian mengambilkan gadis dengan rambut yang dikuncir itu sekotak makanan.

“Thanks.” kata Senri, sambil menarik sebuah kursi lipat  mendekat ke arah Edgar. Dilihatnya Alcyon beristirahat sambil memejamkan mata.

Senri membuka kotak makan, dia merasa beruntung sekali karena menu kali ini adalah menu kesukaan dia. Nasi uduk dengan lauk ayam dan tempe goreng, serta sambal yang terlihat menggoda sekali. Tanpa menunggu yang lain, dia langsung menyantap makanan itu.

“Mana Vincent?” tanya Edgar, dari tadi dia menunggu laki-laki dengan wig perak itu. Vincent sudah berjanji untuk mengantarkan dia pulang.

Senri menunjuk ke arah area shooting dengan memonyongkan bibirnya. Kedua tangannya sedang sibuk untuk makan.

“Masih di sana, bareng Eik dan Sutradara.” ujar Senri setelah selesai mengunyah makanan yang ada dimulut dan menelannya.

“Cih, apa mereka tidak bisa berhenti melakukan brainstorming tentang film ini!” cibir Edgar. Dia merasa orang-orang itu tidak bisa berhenti bertukar pikiran, bahkan saat istrirahat seperti ini. Apalagi Eik, pemuda berambut merah itu sangat antusias jika di ajak berdiskusi. Tidak seperti Eik dalam Quête Pour Le Château de Phantasm yang tidak suka di ajak bicara serius.

“Yah, biarkan saja mereka seperti itu. Toh, ini buat kesuksesan film kita juga.” Alicia datang dari arah belakang Senri dan yang lain.

“Hoi Alis.” Senri dengan seenaknya memanggil Alicia dengan ‘Alis’, sambil menawarkan agar gadis cantik itu ikut bergabung makan bersama dia dan Edgar.

Alicia mendekat dan berdiri di belakang kursi Senri. Kemudian memeluk dan dengan manja meminta agar disuapin oleh Senri.

Kalau saja Edgar tidak mengetahui mereka berdua adalah sahabat sejak kecil, dia pasti akan merasa aneh. Sekarang aja dia merasa merinding.

Edgar meletakkan kotak makan ke lantai, di bawah kursi lipat. Dia melihat Eik, Vincent, dan Sutradara datang mendekat. Sedikit lucu dia melihat tiga orang yang kembar memakai kacamata minus dengan bentuk yang hampir serupa.

“Ditambah dengan Sion, jadilah kalian kuartet kacamata minus.” kata Edgar saat ketiga orang itu mendekat.

“Omong-omong, mana Sion?” tanya Senri yang masih menyuapi Alicia.

“Sedang belajar bersama dengan Edea dan May, persiapan buat UN.” kata Eik sambil melepaskan kacamata.

“Cih, hari gini masih ujian?!” kata Alcyon tiba-tiba, bangun dari kursi dan mengambil air mineral.

Plak. Sebuah pukulan kecil mendarat di kepalan Alcyon yang sedang minum air.

“Heh, emangnya kamu yang ga lulus sekolah!” gadis mungil berambut lurus berponi memukul Alcyon dengan koran yang gulung.

Alcyon mengelus kepala, menoleh ke arah Wendy, gadis mungil yang memerankan sebagai sang peri.

“Kalian ini, adik kakak ko berantem aja kerjaannya.” kata Vincent sambil menggelengkan kepala.

“Begitulah namanya kasih sayang dalam hubungan kakak-adik.” ucap Eik sambil melepaskan kacamata, dan memakai jaket.

“SOK BIJAK!” teriak Alcyon dan Wendy berbarengan.

“Ahahaha, tuh kan. Aslinya kompakan.” Edgar ikut menimpali. Yang lain tertawa ringan sementara Alcyon dan Wendy menjadi merah mukanya. Wendy pun membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu, menuju ruang animasi untuk melanjutkan shooting Wendy sang peri.

“Vinnie, jadikan nganter aku?” Edgar membenahi barang-barang dan memasukan ke dalam tas punggung hitam kesayangannya.

“Owke, tapi nanti temenin aku ke toko buku dulu ya. Ada novel kumcer yang ingin ku beli, baru saja rilis.” kata Vincent dengan mata berbunga-bunga saat menyebutkan novel kumcer tersebut.

“Hee, toko buku? Kenapa sih kamu suka banget ke sana. Mending ke game zone aja.” kata Edgar langsung hilang semangat mendengar kata ‘toko buku’.

“Mungkin sekali-kali kamu harus mengunjungi perpustakaan Ed, di sana tidak sesuram yang kamu bayangkan.” kata Eik, yang sama kutu bukunya dengan Vincent.

“En-I-Vi-I-Ar. NEBERR!” Edgar memasang muka cemberut sambil memakai tas punggung.

“Beruntung kamu masih semester satu, besok kalo udah mendekati skripsi. Kamu pasti akan bela-belain untuk seharian bersama dengan tumpukan buku-buku di perpustakaan.” Alicia ikut menceramahi Edgar, berbagi pengalaman sebagai mahasiswi tingkat akhir.

“Season dua bentar lagi berakhir.” gumam Senri. Yang lain hampir tidak bisa mendengar.

“Hmm, berarti peranku sebentar lagi akan berakhir.” Alcyon tertawa santai, seakan tidak ada kesedihan.

Yang lain langsung terdiam, menatap sedih Alcyon yang sedang tertawa. Pertemanan mereka dengan pria kekar tetapi berhati lembut sejak awal pembuatan film ini akan berakhir dalam waktu kurang dari satu bulan.

“Pak, apa di season tiga Alcyon ga akan muncul lagi?” kata Senri kepada Sutradara.

Sutradara menggeleng,

“Aku tidak bisa bilang iya atau tidak. Tapi bocoran dari naskah untuk season tiga Alcyon tidak akan dimunculkan lagi. Karena rahasia siapa sebenarnya Alcyon sudah diungkapkan. Tapi lagi, mungkin saja ada beberapa kemunculan Alcyon untuk sebagai flashback atau apa. Yah, begitulah dunia perfilman.” Sutradara mencoba sedikit menghibur.

“Cy, kamu ngapain setelah ini?” tanya Vincent yang merupakan teman lama Alcyon.

“Ngga tau Vin, mungkin aku nerusin proyek bermusikku.” jawab Alcyon santai.

Semua mencoba memaksakan untuk tersenyum, tapi getir masih terasa dalam hati mereka.

Tiba-tiba Sion, Edea, dan May datang sambil tergesa-gesa.

“Pak Sutradara!” teriak Sion dari kejauhan. Semua menoleh, tidak mengerti kenapa anak pemalu itu berteriak heboh.

Setelah mendekat dan mengatur nafas, Sion menyerahkan sebundel kertas kepada Sutradara.

“Apa ini?” tanya Sutradara sambil membaca judul sampul kertas itu.

“Naskah Proyek Anti Quête Pour Le Château de Phantasm.” kata Sutradara, yang kemudian melanjutkan membawa sinopsis singkat naskah tersebut.

Senyum mengembang kembali di wajah Eik, Vincent, Edgar, Senri, dan Alicia. Alcyon hanya mengangguk saat yang lain menatap dirinya.

Well, aku rasa aku masih lama terjebak dengan kalian.” ujar Aclyon sambil berdiri dan meregangkan badan.

“Kalau begitu, mari kita teruskan shooting hari ini.” lanjut Alcyon.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer alcyon
alcyon at QPLCDP - Behind The Scene : The Cast (4 years 21 weeks ago)
100

Kenapa aq gk tau ini???

100

Ternyata Sion belum lulus SMA ==a

ahahaha...papih ngasal aja...

100

Muahahaha kenapa si Edgar disini sifatnya jadi mirip saya?! ahahahahaha

*eh?
lah, yang bikin edgar kan kamu :D

100

Bikin kangen QPLCDP dan AQPLCDP ya... :'(

iya :(

100

Si Mentri malah iseng. :))
.
Btw, lanjutan BR mana kak?
QPLCDP dan AQPLCDP juga gak jelas. =,=

tuh dah ada BR yang side story doang,,,saia udah kena gejala webe kayaknya...terhenti di riset :(

90

wakakak.......

mana ya lajutannya XD

ga tau rai,,,ni cuman iseng buat ngelatih nulis lagi...

Writer dansou
dansou at QPLCDP - Behind The Scene : The Cast (7 years 32 weeks ago)
90

Ini bagus loh om Makkie XD

ahaha...saia lagi maksa nulis doang ini...sebelum kena webe akut...