CERFET : Di Ujung Pelangi - Ending (Kumiiko_chan)

Konon, di ujung pelangi tersimpan harta yang sangat berharga. Maka sejak dulu kala banyak yang berlomba-lomba mencari, bahkan tak kenal lelah hanya untuk sekedar melihat isi dari harta itu.

 

Tristan mengacak rambutnya dengan frustasi, pikirannya Joanna pun sama sepertinya. Apa yang dipikirkan wanita itu? Apakah ia akan menyanggupi permintaan Adam untuk pindah ke Amerika? Ia tak berhak melarang mereka, itu adalah urusan Adam dan Joanna. Tapi sial! Tristan tak bisa mengenyahkan mimpi-mimpi buruk kala ia harus sendirian di panti asuhan, menunggu Adam kembali menjemputnya. Bukankah situasi Joanna sama dengan dirinya yang dulu? Menunggu orang yang sama, lalu kembali bersama. Bayangan Adam yang menggendong si kecil Nathan dan Joanna yang tersenyum hangat.

Tak ada tempatku di antara mereka.

Trsitan mendesah, berat rasanya melepas ia yang kau cinta namun tak mencintamu. Dipandangnya ponselnya lama, lalu memutuskan untuk menekan sebuah nomor.

“Halo, Mama Nathan? Ada waktu untuk bertemu? Iya, di kafe dekat sekolah jika Mama Nathan bersedia. Bisa? Besok seusai pulang sekolah, saya tunggu. Terima kasih.”

Kesempatannya hanya ada satu kali, dan untuk terakhir kali.

***

Joanna tak bisa menolak permintaan Tristan untuk bertemu esok. Apa yang dipikirkannya? Patutkah ia meminta saran Tristan sebagai adik Adam? Ia tak tahu, perasaannya terombang-ambing antara ikut Adam atau tetap tinggal, dekat dengan Tristan.

Tak pernah ada yang dapat menemukan ujung pelangi dengan harta karunnya.

Mereka yang mencari adalah orang-orang bodoh karena menghabiskan waktu percuma, meninggalkan kehidupan untuk mencari harta yang tak pernah nyata.

Joanna memandang jendela yang menghadap jalan raya, menatap keramaian yang selalu menemaninya.

Haruskah aku meninggalkan kota ini?  Melepas toko dan pelanggan-pelangganku? Aku tidak siap...

“Mama! Lihat ini deh, bagus sekali.”

Suara teriakan Nathan membuatnya menoleh ke arah televisi,  tempat Nathan duduk bersila menonton sambil makan keripik.

“Ada apa Sayang? Mama jadi kaget dengar Nathan teriak begitu,” tegur Joanna  halus.

“Maaf Ma, tapi Nathan pingin Mama nonton bareng kartun ini. Ceritanya seru!”

“Kartun apaan Sayang?” tanya Joanna yang kini mengambil tempat di samping putranya.

“Itu Ma, bagus kan? Nathan sukaa sekali dengan boneka kayu itu! Ajaib, dia bisa hidup dan bertarung dengan Raja Tikus yang jahat,” cerita Nathan panjang lebar.

Joanna mematung, matanya tertuju pada kartun Barbie and the Nutcracker.  Ocehan Nathan tak ditangkapnya, Joanna terperangkap dalam ingatannya.

“Bagus kan filmnya? Aku tahu kamu pasti suka, makanya aku sengaja menyewa DVD Barbie and the Nutcracker. Tapi bukan itu saja, aku ada hadiah buatmu.”

“Kamu benar-benar tahu caranya meluluhkan seorang gadis, Dam. Curiga, aku korban keberapamu? Hmm, hadiah? Apa apa?”

“Hadiahnya gak jadi ah! Soalnya kamu bilang dijadikan korban segala, sepertinya aku ini penjahat.”
“Becanda! Ayo, apa itu hadiahnya?”

“Yah! Ga sabaran amat. Satu-satu dong. Baiklah, aku ngaku. Kamu korbanku yang pertama dan terakhir, puas? Dan hadiahnya, aku akan kasih kalau kamu ngecup pipiku sebagai permintaan maaf.”

“Ogah! Nyari kesempatan, huu... Aku ga bakalan tertipu rayuanmu, pertama dan terakhir.”
“Eit, tutup matamu kalau gitu. Baiklah, siapkan dirimu! Tada!”

Joanna membuka mata dan menatap boneka Barbie dalam balutan gaun balet yang berdampingan dengan boneka Nutcracker dalam satu kotak plastik.

“Itu hadiahnya. Kamu ballerinaku, dan akulah Nutcrackermu. Selalu, bersama.”

“Ma? Mama? Mama kok melamun, tidak perhatiin penjelasan Nathan.”

Bagaikan tersengat listrik, Joanna tersentak dan mendapatkan tatapan bingung dari putranya.

“Ah... Maafkan Mama, Sayang. Iya, ini kartun yang bagus, Mama pernah nonton. Terakhir, pangeran itu akan..”
“Eit! Mama jangan cerita dong, Nathan jadi ga penasaran lagi,” rujuk Nathan.

Joanna mengangguk dan menemani putranya menonton sambil sesekali menimpali pertanyaan Nathan. Joanna tersenyum, ayah dan anak yang sangat mirip. Layar menunjukkan iklan dan Nathan merengut. Joanna mengingat-ingat, di mana ia meletakkan kotak hadiah pemberian Adam. Perlahan ia berdiri dan menuju kamar Nathan, lalu membuka laci lemari paling atas. Itu dia, masih utuh tanpa terpisahkan walau berhiaskan debu. Joanna mengelapnya sampai bersih lalu kembali kepada Nathan.

“Mama ada hadiah untuk pangeran kecil Mama.”

“Hadiah? Apa itu Ma? Nathan mau!”

Sambil tersenyum Joanna menyerahkan kotak hadiahnya dan melihat sinar takjub dari mata putranya dan menyadarkannya akan satu kenyataan : betapa Nathan mengambil sisi dirinya dan Adam .

Joanna mengecup kening putranya “Terima kasih Sayang, berkat Nathan Mama menemukan pangeran Mama lagi.”

***

 Tak ada yang pernah tahu, batas pelangi dan apa yang ada di akhirnya.  Tapi sungguhkah ada harta karun di ujungnya yang tak berujung?

Cherry mengetik dengan cepat dan sesekali mencari sosok Tristan dalam kantor guru. Sekarang sudah jam pulang sekolah dan biasanya pemuda itu duduk di mejanya yang berhadapan dengan meja Cherry sambil menyelesaikan laporan-laporan. Tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Tristan. Ia tak pernah pulang sebelum menyelesaikan tugasnya. Kemana ia gerangan? Cherry memutuskan untuk keluar sejenak, membeli segelas capucino di kafe sebelah lalu kembali ke laptopnya.  Langkah kakinya terhenti di depan parkiran, menatap mobil yang ia kenal sebagai milik Joanna. Dengan ragu diseret kakinya menuju jendela kafe dan melihat Tristan duduk bersama Joanna, saling memandang dan tersenyum. Tak ada lagi air mata mengalir, Cherry menarik nafas lama dan menghembuskannya. Ia tahu, rencana Adam meminta Joanna untuk ikut dengannya ke Amerika dan dirinya pun berharap wanita itu akan pergi. Tapi sepertinya tak ada artinya, Tristan masih saja sibuk mengejar wanita itu. Sambil menahan perih Cherry berlalu, kembali ke kantornya.

Di kantor yang sepi, Cherry terduduk lemas dan menepuk pipinya agar tak menangis. Dipaksanya untuk fokus mengetik laporan. Tak berapa lama, seseorang menepuk pundaknya dan mendapati Tristan membawakannya segelas capucino dingin. Pandangan mata Tristan yang teduh tak dapat diartikannya. Bagaimana dengan Joanna? Apakah Tristan berhasil mencegahnya pergi? Tapi sikap Tristan yang biasa saja tak dapat dibacanya.

***

Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Adam menunggu dan dengan tenang meminum kopi tanpa gulanya. Pesawat yang akan membawanya kembali ke Amerika akan tiba 30 menit lagi. Ia telah mempersiapkan diri jika Joanna menolak untuk ikut dengannya. Kali ini ia akan bersikap selayaknya lelaki sejati, datang dan pulang tanpa membawa malu. Joanna perlahan telah memaafkannya dan itu merupakan suatu penghargaan tertinggi yang layak diperolehnya.  Walau Joanna lebih memilih adiknya, ia akan berlapang dada.

“Om Adam!”

Suara itu, Nathan? Adam berbalik dan melihat putranya berlari ke arah mejanya sambil tersenyum lebar. Dibelakang Nathan tampak Joanna dan Tristan, tertawa bersama melihat tingkah sang bocah. Adam mengerti, adiknya akhirnya mampu meluluhkan Joanna.

“Om Adam pergi ya? Nathan sendirian dong!”

Dipeluknya Nathan dan menahan tangis “Iya Sayang, Om akan pergi jauh.”

“Amerika kan? Mama pernah cerita. Kapan Om Adam pulang?”
“Mungkin tidak akan Sayang, Om akan menetap di sana seterusnya.”

“Tapi Om tidak boleh begitu! Mama bilang Om Adam pasti pulang. Turunkan Om, Nathan mau ngasih hadiah sama Om.”

Diturunkannya Nathan dan bocah itu meminta sebuah bungkusan kepada Joanna. Nathan memberikannya dan ditatapnya bungkusan itu dengan tak percaya, sebuah boneka ballerina. Pandangannya beralih ke Joanna yang memegang sebuah kotak berisi boneka Nutcracker.  Mata Joanna menatapnya lembut, dan Adam dapat membaca bisikan bibirnya “Selalu, bersama.”

 Dipeluknya Joanna erat. Bolehkah ia mendapat kesempatan kedua?

“Kau tahu Dam, sulit untuk begitu saja pergi ke Amerika apalagi untuk menetap. Persiapannya kan banyak, mengurus paspor dan visa. Jadi, aku akan menunggu kau datang kalau libur, dan membantuku mengurus perpindahanku,” urai Joanna sambil menahan agar Adam berhenti memeluknya.

“Tentu saja! Aku akan kembali, dan kembali walau seribu kali kaki ini melangkah jauh, aku akan kembali padamu.”

Adam kembali memeluk Joanna dan mengecup keningnya lembut.

Tristan hanya dapat tersenyum dan mengangguk pada Cherry yang menemaninya untuk mengantarkan Joanna dan Nathan ke bandara.

“Kau tak menahannya?” tanya Cherry keheranan.

“Menurutmu? Kalau aku tetap terfokus padanya, sebuah pintu untukku akan tertutup dan aku akan menyesal.”

Tristan mendekat dan menyibakkan rambut Cherry yang jatuh sehingga membuat gadis itu salah tingkah.

Lihatlah, pelangi itu indah karena ia tercipta dari hujan dan bias matahari. Selalu ada bahagia dibalik tangis, dan dibalik pelangi? Tebaklah, apa mungkin kau dapatkan di situ.

 

Fin

 

 

Read previous post:  
97
points
(1655 words) posted by cat 7 years 21 weeks ago
88.1818
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | cat | CERFET | DUP | Romantis
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

bagus sekali

80

Uhuhuhuhuhu, ini gula banget~~~
Barbie n Nutcracker itu tontonan saya dulu.. xD
but saya masih tetep nggak bisa terima Adam dimaafin!!
Yah, klo Cherry bahagia, saya juga ah
#apasih

80

pake cerita the nutcracker ^^
tapi.... kenapa sama adam juga T~T

100

“Itu hadiahnya. Kamu ballerinaku, dan akulah Nutcrackermu. Selalu, bersama.” --> aaahhh sukaaa bangeeeet dengan line iniii...
touching, kumiii... nice oneee... :)

80

keren! suka pas ada selipan tentang pelangi dan di bawahnya cerita2... :D *minder dengan karya sendiri*

90

Menunggu ending DUP yang lain.

Keknya banyak yang kabur melarikan diri. Hikz hikz hikz.

Aku suka ada kilas balik saat Adam n Joanna pacaran.

Dan setuju adegan Cherry Tristan kuraaaang.

80

Ga pernah nonton Barbie jadi kurang kebayang apa itu Nutcracker. :P Tapi suka dengan penggambaran Joanna dan Adam waktu masa pacaran.
.
Waktu lagi nyeritain Cherrynya kurang panjang menurutku. Jadi berlalu gitu aja. Tapi yang adegan Tristan bawain kopi bagus. :)
*menunggu ending yang lain :D