CERFET : Di Ujung Pelangi - Ending - (lavender)

 

I asked her to stay but she wouldn't listen

She left before I had the chance to say

The words that would mend the things that were broken

But now it's far too late, she's gone away

Every night you cry yourself to sleep

Thinking: "Why does this happen to me?

Why does every moment have to be so hard?"

Hard to believe that it's not over tonight

Just give me one more chance to make it right

I may not make it through the night

I won't go home without you...

 

(Won’t Go Home Without You – Maroon 5)

 

Adam termenung di dalam kamar. Aroma pengap kamar yang tergolong jarang dia tinggali sama sekali tidak mengganggu aktivitasnya melamun menatap ke luar jendela kamar apartemen yang terletak di lantai tujuh belas. Apartemen yang sudah dia tinggali sejak menempuh pendidikan di Johns Hopkins. Sudah cukup lama Adam jarang pulang ke apartemen dan lebih banyak sibuk hingga sering menginap di rumah sakit. Adam lebih suka menenggelamkan diri ke dalam kehidupan pekerjaan dan sosialnya daripada harus pulang dan sendirian di apartemen. 

“Seharusnya kamu ikut bersamaku, Anna. Seharusnya kamu ada di sini...” gumaman yang sama terucap dari bibir Adam beberapa kali di tengah helaan-helaan nafas kecewanya tiap kali pikiran yang coba tidak ingin dia pikirkan menyerbu kepalanya.

Ada yang menarik bagi mata Adam untuk terus melihat ke luar jendela. Sebuah lengkungan pelangi tampak mengihiasi langit. Melengkungkan senyum getir di bibir Adam. Seharusnya Adam bisa bersama bidadari dan malaikat kecilnya, melintasi pelangi dan merasakan kendi kebahagiaan.

Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Adam. Dia melirik ponsel yang menyala di atas ranjang lalu meraihnya. Ada kode telepon negara Indonesia di sana, di bawah sebuah nama yang dikenalnya. Sebuah nama yang sudah cukup lama tidak pernah meneleponnya lagi. Penasaran, Adam langsung mengangkatnya.

“Hallo,”

“Bang, masih di Maryland?” tanya suara di seberang tanpa basa-basi.

“Iya. Ada apa, Tan?”

“Bagaimana kabarmu di sana?”

“Baik... Baik. Kau sendiri bagaimana?”

“Baik. Bagaimana pekerjaan?”

“Baik juga,” jawab Adam singkat, belum menemukan tema pembicaraan yang tepat. Sebenarnya ingin sekali dia menanyakan soal Joanna, namun Adam urung. Dia lebih memilih dan berharap Tristan menyinggung soal Joanna terlebih dahulu, sebelum dia mengungkapkannya.

“Untung saja kamu tidak ganti nomer. Sejak kembali ke Amerika setelah saat itu, hanya beberapa kali kamu menghubungiku kan, dan sudah sekian lama tidak menelepon lagi. E-mail saja tidak pernah.”

“Yah... aku... sibuk. Kau tahu... Lalu kau sendiri juga tidak pernah menghubungiku...” Adam masih canggung.

“Aku ragu mau menghubungimu.”

“Ragu kenapa? Apakah soal... Joanna?” akhirnya Adam memberanikan diri menyebut nama wanita itu di depan Tristan.

Ada jeda sejenak di antara kedua kakak beradik itu. Tristan tak langsung menjawab.

“Ayolah, aku tidak ingin lagi membahas masalah itu. Kamu sudah memutuskan untuk kembali ke Amerika. Umm... aku menelepon karena mau menyampaikan undangan. Bisa pulang ke Indonesia?”

Adam tersentak, dari sekian banyak kata yang dilontarkan, dia hanya mendengar kata ‘UNDANGAN’ di telinganya. Tristan bahkan tak menjawab pertanyaannya tentang Joanna, membuat pikirannya langsung menebak.

“Undangan?! Undangan apa?”

“Undangan pernikahanku...”

Adam langsung mematikan ponselnya. Serta merta Adam membanting ponselnya di atas ranjang. Dengan pikiran kacau, Adam meraih kunci mobil dan keluar dari apartemen. Adam membawa mobilnya menyusuri jalanan tak tentu arah. Dia ada jadwal untuk bekerja sekitar satu jam lagi, namun mobilnya seakan ikut kacau seperti pikiran pengendaranya. Berjalan melewati Eutaw Place, mobil Adam harus tersendat mengikuti keramaian parade Martin Luther King Jr, di mana ratusan orang beramai-ramai di jalanan menyaksikan marching band.

Rekaman memori Adam memutar saat-saat dia mendekati Nathan dan ketika anaknya itu mulai akrab dengannya.

“Kau egois, Dam. Lagi-lagi karirmu yang kau pikirkan. Dulu bukankah yang ada dalam otakmu aku dan bayiku akan menghambat dirimu. Aku salah telah mempercayaimu, telah menaruh harapan padamu. Kau tidak pernah berubah, Dam. Selfish,”

Suara Joanna serasa langsung menamparnya. Adam kemudian teringat dengan bunga krisan buatan Nathan yang ditujukan untuk Tristan, dengan sebutan Papa.

“Bila kali ini kau kembali melukainya, maka aku tidak akan segan-segan merebutnya darimu!”

Adam memukul setir mobilnya dengan kesal, membayangkan Tristan yang menikahi Joanna dan menjadi ayah dari Nathan.

Lamunan Adam buyar ketika mendengar mobil di belakangnya terus menglakson. Adam baru sadar dan segera menjalankan mobilnya yang terhenti tadi. Adam memandang lurus pada jalanan, membelokkan mobilnya mencari jalan lain untuk menuju ke rumah sakit. Penyesalan yang besar serasa menyiksa batin Adam. Melihat bangunan-bangunan tinggi, kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang di jalan, Adam merasa hampa. Menyesali seharusnya dia tidak berada di negara ini untuk mengejar karirnya. Seharusnya dia memanfaatkan kesempatan kedua yang diberikan Joanna padanya, dan tidak kembali ke Amerika.

“Seharusnya aku tidak kembali ke sini tanpamu...” batin Adam membuat matanya berkaca-kaca, ”... Idiot!” umpat Adam.

*-*-*-*

 

“Adam!”

Adam masih terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit, tidak mendengar suara yang memanggilnya. Sudah lima hari sejak menerima telepon dari Tristan, dan Adam masih bisa merasakan sakit di hatinya. Meskipun mencoba terus fokus pada pekerjaan, tetap saja masih terlintas penyesalan di benaknya. Penyesalan yang lebih besar daripada yang dulu dirasakannya ketika meninggalkan Joanna dalam kondisi hamil. Dan tiap kali penyesalan itu terlintas, matanya masih saja tidak bisa tertahan untuk berkaca-kaca.

“Adam!”

Adam akhirnya menoleh dan melihat seorang wanita cantik berambut merah pendek menghampirinya.

“Ada apa, Trace?”

What’s wrong?”

“Nothing,” jawab Adam sekenanya.

“Ayolah, Dam, kelihatan sekali di wajahmu. Akhir-akhir ini kamu terlihat murung terus. Dan matamu, aku yakin itu bukan conjunctivitis.”

Adam menghentikan langkahnya.

I lost them.”

“Siapa?”

“Anakku akan punya ayah baru dan wanita yang kucintai akan punya suami. Yeah, seorang pria terbaik yang pasti akan menjadi suami yang setia dan tidak egois... dan ayah yang hebat...” Adam tak tahan. Kekuatan menahan kesedihannya sebagai seorang pria mulai rapuh.

“Sudahlah. Kau harus bisa menerimanya. Lebih baik kamu fokus pada karirmu dan mulai membuka hatimu untuk wanita lain.”

“Sepertinya aku tidak akan sanggup melakukan semua ini tanpa mereka ada di sisiku...” Adam mulai putus asa.

“Kau berlebihan. Sudahlah,” perempuan itu meninggalkan Adam yang masih berdri di dekat meja perawat.

Adam kembali tenggelam dalam lamunannya hingga suara seorang perawat yang memanggilnya membuat Adam sedikit terkejut.

“Ya?”

“Ada telepon untuk Anda,” perawat itu memberikan gagang telepon di atas meja pada Adam. Adam kemudian sadar, seharusnya dia tetap fokus bekerja. Masalah hubungan cinta, sesaat terlintas di benaknya, dia tidak ingin membuka hatinya untuk siapapun. Hanya Joanna yang akan menempati hatinya. Dan dia akan menjalani hidupnya dengan hukuman rasa sakit di hatinya.

 

*-*-*-*

 

Cherry memandang ke luar kaca jendela taksi yang ditumpanginya, memandang lampu-lampu jalanan yang menerangi kota di kala malam. Di tangannya terdapat sebuah kertas tebal berwarna coklat dengan hiasan pita. Di kertas itu tercantum sebuah tulisan ‘UNDANGAN’. Ingatannya melayang di suatu hari ketika seorang pria yang namanya tertera di dalam undangan itu mengatakan sesuatu padanya.

“Seandainya aku tidak pernah mengenal seorang Joanna, aku pasti sangat bahagia untuk bersamamu, Cher,” Tristan berucap di dalam ruang guru ketika sekolah sudah sepi dan mereka berdua belum pulang.

Cherry tersenyum pahit.

“Tidak perlu menghiburku, Tan. Aku hanyalah perempuan biasa yang tidak akan bisa sedikitpun membuatmu tertarik. Apalagi jatuh hati. Meski tidak ada Joanna sekalipun.”

“Kamu adalah wanita yang baik dan hebat. Kamu akan menemukan seseorang yang akan membahagiakanmu... ah, ucapanku terlalu klasik ya?”

Cherry tertawa, “Ya, aku akan menemukan orang lain. Karena aku akan menerima tawaran dari Morning Spirit School. Mungkin aku akan menemukan lelakiku di sana.”

“Kamu serius?”

Cherry mengangguk.

“Apakah... karena aku?”

“Idih kamu jangan ke-ge-er-an...” Cherry mencoba tertawa lagi meski ada sengatan rasa sakit di dadanya, “... gajinya lebih besar lho.”

Tristan tersenyum, dia tahu persis alasan yang diberikan Cherry adalah sebuah kebohongan. Tristan bisa membacanya dari raut wajah Cherry.

“Jadi... kamu akan mendekatinya? Mendapatkan dia?” Cherry bertanya memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.

“Kakakku telah menyakitinya. Lagi. Meninggalkannya. Lagi. Ya, aku akan memperjuangkannya. Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu.”

Cherry mengangguk-angguk. Dia bisa melihat rasa cinta yang begitu besar terhadap Joanna, dari mata Tristan.

“Maafkan aku, Cher.”

“Atas apa?”

“Karena membuatmu berkata agar setidaknya aku memperhatikan orang yang ada di dekatku. Maaf karena aku tidak peka.”

Cherry tersenyum mengingat pembicaraannya dengan Tristan hari itu.

“Setelah ini ke mana, Mbak?” tanya si sopir taksi.

“Belok kiri, Pak. Rumah paling ujung warna pagar putih,” jawab Cherry.

Sampai di tujuan, Cherry melihat Joanna keluar dari pagar rumah Tristan. Setelah membayar, Cherry turun dari taksi menghampiri Joanna. Tristan yang berdiri di halaman rumah, lalu keluar dari pagar menuju ke mobil yang terparkir di tepi jalan.

“Mama Nathan,” sapa Cherry.

“Eh... Teacher Cherry? Apa kabar?”

“Baik, Mama Nathan. Mau ke mana? Nathan mana?”

“Nathan masih di tempat les, Teacher.”

“Oh, begitu ya. Nathan pasti tambah pintar ya sekarang?”

Joanna tersenyum.

“Cherry,” panggil Tristan.

“Eh... hallo, Tan,”

“Em, saya permisi dulu ya, Teacher Cherry,” Joanna segera berpamitan dan melirik Tristan yang dibalas dengan anggukan.

“Hati-hati, Mama Nathan,” ucap Cherry.

“Masuk, Cher,” ajak Tristan begitu mobil Joanna telah berlalu. Tristan mempersilakan Cherry untuk duduk di kursi beranda depan.

“Aku sudah menerima undanganmu. Dan... langsung ke sini. Apa kabar, Tan? Ah... bodohnya aku, tentu saja kamu sedang sangat bahagia sekarang.”

Tristan tersenyum, “Kamu bagaimana sekarang? Sudah lama sekali kita tidak bertemu dan bertukar kabar.”

“Baik, aku baik.” Cherry menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.

“Kamu... sudah menikah?”

Cherry mengangguk dan tersenyum, “Dua bulan yang lalu.”

“Dan kamu tidak mengundangku?”

“Aku takut kamu patah hati...” Cherry tertawa, “... tidak, aku menikah di luar negeri. Suamiku orang Australia, Tan. Lagipula, denganku adalah pernikahan keduanya setelah bercerai. Jadi kami tidak mengadakan pesta. Ah, lupakan tentangku. Aku ke sini karena harus bertanya padamu...” Cherry membuka undangan berwarna coklat tadi dan dihadapkan pada Tristan, “Ini...? Bagaimana bisa akhirnya jadi...?”

Tristan tersenyum.

*-*-*-*

 

“Kenapa, Joanna? Nathan mana?” tanya Tristan di tengah suara detik jam dinding ruang tamu rumahnya.

“Nathan masih les. Tan, tadi malam Nathan punya pekerjaan rumah. Membuat tulisan tentang pekerjaan impian di masa depan.”

“Lalu?” Tristan tidak bisa melihat masalah di balik ucapan Joanna, yang diperkirakannya karena mendapati wajah bingung Joanna.

“Kamu tahu apa yang ditulisnya?”

“Apa?”

“Dokter. Nathan ingin jadi dokter.”

“Apa masalahnya?” Tristan masih tak mengerti.

“Masalahnya, dia terus memintaku menelepon Adam. Dia bilang ingin bertanya banyak hal tentang dokter. Ma, ayo dong telponin Om Adam. Nathan ingin jadi dokter seperti om Adam. Ma, Om Adam kok nggak pernah datang ke sini lagi? Semalaman dia terus membicarakan Adam, Tan.”

Tristan menatap Joanna. Dia bisa melihat wanita itu kebingungan.

“Bukankah tidak sekali ini Nathan menanyakan Adam sejak kepergian Adam?”

“Aku tahu. Hanya saja... entahlah... kupikir dia tidak akan sampai seperti ini. Kenapa dia jadi mengidolakan Adam sampai ingin jadi seperti dia. Dulu kan dia selalu mengidolakanmu.”

“Kurasa ikatan batin yang ternyata muncul dan berbicara, Jo. Selamanya Adam adalah ayah kandung Nathan, meski Nathan tidak tahu.” Tristan mencoba bersikap bijak.

“Apa yang harus kulakukan, Tan?”

“Bukankah kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan, Jo? Sudah lama kamu telah memutuskan apa yang ingin kamu lakukan. Hanya saja kamu selalu ragu.”

Tristan menatap Joanna yang langsung terdiam. Dia bisa melihat perempuan itu tampak berpikir keras.

“Aku akan meneleponnya,” Tristan beranjak meraih ponselnya.

“Menelepon siapa? Adam?”

Tristan mengangguk, ponsel telah ditempelkan di telinganya.

“Jangan, Tan!” cegah Joanna. Tristan hanya menempelkan jari telunjuk di bibirnya, meminta Joanna untuk diam.

“Bang, masih di Maryland?” Tristan berucap begitu telepon tersambung, “Bagaimana kabarmu di sana?... Baik. Bagaimana pekerjaan?... Untung saja kamu tidak ganti nomer. Sejak kembali ke Amerika setelah saat itu, hanya beberapa kali kamu menghubungiku kan, dan sudah sekian lama tidak menelepon lagi. E-mail saja tidak pernah... Aku ragu mau menghubungimu...”

Tristan terus berbicara dengan pandangan ke arah Joanna. Begitu mendengar nama Joanna disebut oleh lawan bicaranya di telepon, Tristan langsung menurunkan ponselnya, menutup bagian speaker nya.

“Dia menanyakanmu,” ucap Tristan pada Joanna. Joanna langsung menggeleng cepat.

Tristan menaikkan ponselnya kembali ke telinga, “Ayolah, aku tidak ingin lagi membahas masalah itu. Kamu sudah memutuskan untuk kembali ke Amerika. Umm... aku menelepon karena mau menyampaikan undangan. Bisa pulang ke Indonesia?... Undangan pernikahanku...”

Tristan memandang ponselnya, “Terputus begitu saja.”

“Terputus?” tanya Joanna. Tristan mencoba menghubungi Adam berulang-ulang, “Tidak diangkat.”

Joanna terdiam.

“Kamu tahu apa artinya?” tanya Tristan pada Joanna meski Tristan sendiri mengerti.

“Apa mungkin...?”

“Aku mendengar suaranya. Kurasa dia masih mengharapkanmu.”

Joanna beranjak dari kursinya.

“Mau ke mana?”

“Aku pulang dulu, Tan... aku... ada janji temu dengan dokter.”

Tristan terdiam sejenak. “Aku antar?”

Joanna menggeleng, “Nanti aku kabari lagi.”

Tristan tersenyum dan mengangguk, “Baiklah.”

Joanna melangkah keluar.

“Jo,” panggil Tristan membuat Joanna menoleh.

“Hati-hati.”

Joanna mengangguk. Tristan mengantar Joanna keluar dari rumah. Ketika Joanna sudah keluar dari pagar, Tristan melihat sebuah taksi berhenti di depan rumahnya. Tristan terkejut melihat Cherry yang turun dari taksi. Sudah lama Tristan tidak bertemu dengan Cherry. Cherry yang dilihatnya sedang berbicara dengan Joanna, tampak sedikit berubah. Penampilannya, model rambutnya, cara berbicaranya. Entah, tapi Tristan merasa Cherry ada perubahan.

*-*-*-*

 

Joanna membawa Nathan menyusuri koridor rumah sakit. Suara-suara pengumuman berbahasa Inggris terdengar sesekali di telinganya. Joanna sedikit melamun, dengan pikiran hampa sekilas membaca tulisan-tulisan tanda petunjuk arah yang juga berbahasa Inggris. Rumah sakit itu begitu besar dan berbeda dengan yang ada di Indonesia, setidaknya itu pikiran sekilasnya yang tidak penting. Ocehan Nathan tidak begitu didengarnya, pikirannya masih terus mencoba mencari pembenaran atas keputusan yang diambilnya. Joanna memang tidak ragu atas keputusan besar itu, tapi entah kenapa Joanna masih butuh alasan-alasan untuk memantapkan langkahnya. Ucapan-ucapan Tristan, kalimat-kalimat Nathan, ajakan Adam dahulu, semua berputar-putar di pikirannya.

Langkah Joanna terhenti saat melihat seorang pria mengenakan jas putih panjang seorang dokter tampak tengah berbicara dengan seorang perempuan cantik yang mengenakan jas putih juga. Rambut hitam pria itu, garis-garis wajah yang tegas, rahang yang kokoh, mata yang tajam, Joanna merasakan jantungnya berdebar-debar melihat pria itu.

“Nathan, kemari,” Joanna menarik tangan Nathan yang ternyata tengah melihat-lihat sebuah alat pemadam api ringan yang terpasang di dinding, mengajaknya bersembunyi di balik sebuah pilar yang menyembul di antara dinding koridor.

“Kenapa sembunyi, Ma?” tanya Nathan.

“Sst, karena banyak dokter yang mau lewat, kita harus menepi dulu. Dan Nathan tidak boleh berisik  ya,” jawab Joanna.

Dari persembunyianna, Joanna masih bisa mendengar pembicaraan pria itu dengan perempuan cantik berambut merah pendek. Mereka tentu saja berbicara dengan bahasa Inggris, dan untungnya Joanna bisa menangkap dan memahami dengan cepat percakapan mereka.

I lost them... anakku akan punya ayah baru dan wanita yang kucintai akan punya suami. Yeah, seorang pria terbaik yang pasti akan menjadi suami yang setia dan tidak egois... dan ayah yang hebat...”

“Sudahlah. Kau harus bisa menerimanya. Lebih baik kamu fokus pada karirmu dan mulai membuka hatimu untuk wanita lain,” ucap si perempuan menimpali.

“Sepertinya aku tidak akan sanggup melakukan semua ini tanpa mereka ada di sisiku...”

Ucapan terakhir dari pria itu membuat jantung Joanna berdebar makin kencang. Dia mengintip ke arah pria itu yang masih berdiri di dekat meja perawat. Joanna kemudian melihat ke sekeliling koridor dan matanya tertuju pada sebuah telepon yang menempel di dinding, sekitar lima langkah di sampingnya. Joanna menggandeng Nathan menuju ke telepon itu.

“Mana dokter-dokter yang mau lewat, Ma?” tanya Nathan.

“Sebentar lagi, Sayang,” jawab Joanna sambil menekan sebuah nomer yang dilihatnya di sebuah papan tanda informasi. Nathan yang kecewa kemudian kembali menyibukkan dirinya dengan membaca-baca poster-poster informasi kesehatan di dinding.

Dari telepon umum, Joanna bisa melihat Adam mengangkat telepon yang diberikan seorang perawat. Dengan jantung yang masih saja berdebar kencang, Joanna membuka mulut.

“Adam?”

Joanna bisa melihat ekspresi terkejut dari wajah pria di dekat meja perawat itu.

“Adam, kamu di situ?” ulang Joanna.

“Anna?” akhirnya pria itu menjawab.

“Iya, ini aku.”

“Kamu.. meneleponku di sini... ada apa?”

Joanna masih terus memperhatikan ekspresi pria yang diteleponnya, yang berdiri dengan jarak yang tidak cukup jauh dari tempatnya menelepon.

“Aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Umm... Nathan punya tugas membuat karangan tentang profesi dokter. Kupikir kamu bisa membantunya.”

“Bisa, bisa. Tentu saja aku bisa bantu...”

Dengan gagang telepon yang masih menempel di telinga pria itu, Joanna bisa melihat seulas senyum dari pria itu, membuatnya ikut tersenyum juga.

“...bagaimana aku bisa melakukannya? Kamu mau aku mengirimimu tulisan tentang itu lewat e-mail?”

Joanna tersenyum senang.

“Iya, boleh juga. Umm... by the way, kamu tidak datang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan adikmu?”

Joanna melihat senyum yang langsung hilang dari wajah pria itu. Pria itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku... entahlah... aku... tidak bisa melihat adikku menikahimu. Tapi... kalau kamu menginginkan aku datang, aku... akan datang. Tristan... lelaki yang baik....”

Joanna tak menyangka akan melihat apa yang dilihatnya sekarang. Di tengah bibirnya memberi jawaban pada Joanna, ada satu kali pria itu mengusap sesuatu dari matanya. Joanna yakin, itu bulir air mata.

Joanna tak tahan, perasaannya bercampur aduk, “Siapa yang bilang Tristan akan menikahiku, Dam?”

“Waktu itu Tristan meneleponku dan...”

Dengan isak haru, Joanna memotong ucapan pria itu, “Tristan akan menikah. Tapi bukan denganku. Tristan akan menikah dengan seorang perempuan teman sekolahnya dulu.”

“Be-benarkah? Tapi kupikir selama ini Tristan dan kamu...”

“Sejak kamu pergi aku memang dekat dengan Tristan. Tapi... tapi dia sadar bahwa aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu, Dam. Hingga dia menemukan cintanya sekarang, aku hanya bersahabat dengannya.”

Joanna bisa melihat ekspresi bahagia yang terpancar dari pria itu.

“Kamu... masih mencintaiku?”

“Aku sudah mengatakannya.”

“Anna, aku juga tidak pernah bisa berhenti mencintaimu. Oh, kamu tidak tahu betapa bahagianya aku detik ini, An!”

“Aku tahu. Aku bisa melihatmu.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu tidak perlu mengirimkan e-mail. Kamu bisa memberikan tulisanmu pada Nathan, sekarang.”

Joanna menutup telepon dan melihat Adam yang masih kebingungan menatap gagang teleponnya.

“Nathan, kemari. Ayo kita temui Om Adam,” ajak Joanna lalu menggandeng Nathan mendekati pria yang masih berdiri di dekat meja perawat.

“Asyik!” Nathan gembira mengikuti mamanya.

“dr. Adam Suryaputra!” panggil Joanna membuat Adam hampir melonjak terkejut.

“Anna... Nathan...” Adam benar-benar speachless melihat kedua orang yang paling disayanginya berdiri di hadapannya.

“Om Adam!” Nathan langsung menghampiri Adam dan Adam langsung memeluknya. Nathan pun tidak keberatan dan langsung larut dalam pelukan Adam.

“Kamu sudah besar. Kelas berapa sekarang?”

“Kelas dua, Om. Mama baik deh, Om, Nathan diajak ke Amerika, katanya nanti mau tinggal lama di sini. Mama bilang Om Adam mau mengajari Nathan. Nathan ingin jadi dokter seperti Om Adam.”

Adam menatap Joanna yang kemudian mengangguk padanya. Adam tersenyum.

“Iya, tentu saja, Nathan. Nanti kalau Nathan tinggal di sini, Om Adam akan mengajak Nathan ke kebun binatang. Di kebun binatang sini, Nathan bisa sarapan bersama beruang kutub, penguin, jerapah...”

“Oh ya? Nathan mau!”

“Ngomong-ngomong soal sarapan... Umm, Nathan lapar? Kita ke kantin yuk.”

“Asyiiikk... Nathan boleh makan hotdog?”

“Iya, Sayang,” ucap Adam kemudian mengajak Joanna dan Nathan berjalan menuju ke kafetaria rumah sakit. Nathan berjalan di tengah, digandeng oleh Adam dan Joanna.

“Terima kasih, An. Aku tidak akan menyiakan kesempatan ketiga yang kauberikan ini,” ucap Adam. 

“Jangan terlalu tergesa-gesa, Dam. Kita sampaikan padanya pelan-pelan ya?”

Adam mengangguk, “Iya, An.”

Joanna tersenyum.

“dr. Adam,” ucap Joanna kemudian.

“Ya? Ada apa, An?” Adam menoleh.

Nothing. Hanya saja... sebutan dr. Adam Suryaputra... Adam Suryaputra, MD... terdengar seksi di telingaku,” ucap Joanna pelan membuat Adam tertawa kecil.

“Jadi kamu mau kan menikahi dr. Adam Suryaputra?” tanya Adam kemudian membuat pipi Joanna merona merah seketika.

 

And after all that you've been through

I will make it up to you

I promise you, baby

And after all that’s been said and done

You're just the part of me I can't let go... I can’t let go...

 

(Hard To Say I’m Sorry – Chicago)

 

THE END

Read previous post:  
97
points
(1655 words) posted by cat 7 years 21 weeks ago
88.1818
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | cat | CERFET | DUP | Romantis
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

tanteeee ini bangus juga tante lav

100

haaa ini endingnya yak... waaahhh.. :D

wah jugaa

90

hidup Adam. suka tante....

90

suka dengan: Adam Suryaputra, MD... terdengar seksi di telingaku,” ucap Joanna pelan membuat Adam tertawa kecil.
xD
.
padahal saya pikirnya Joanna nikah ma Tristan huh! -.-
Klo nggak jadi ama Joanna, kenapa nggak sama Cherry ajaaaaaaa~~~ masa' nikah ame duda??
#agaknggakterimatapikarenagulabangetnggakjadingambek

hehe tengkuukk... ale bikin endingnya jg ajaaaa hehehe

90

wah, yang ini panjang amat kak lav :D
kayak kata yang lain, bagian Joanna ketemu Adam di RS itu kerasa seujug2.
dan... kenapa yang ini juga ama Adam...

ahahahah iya sih, males bikin detil macem naek pesawat, ngurus ijin2, nyari JH hospital, nanya ke meja informasi dll (maleess) wkwkwkwkwkkwkw...
mungkin klo dalam bentuk film lebih pas klo versi begini.. *mencari pembelaan*... ^______^

90

Ada sedikit loss waktu baca bagian Joanna nelpon diam2 ke Adam, kukira itu bagian lanjutan setelah percakapan Joanna dan Tristan, baru ngeh setelahnya bahwa itu udah di Amrik. Nice ending, btw. Suka semuanya terutama waktu Cherry bicara tentang gaji. :)

tengkyuk hlind... ^^

100

Laaaav ending DUP mu kereeeeen.

Aku sukaaaa sukaaaa sukaaa sukaaaa.

Nuansanya beda.

Tp pada bagian percakapan Joanna tRistan dan berpindah ke lorong RS terasa agak lost.

Tiba2 saja pembaca jd berada di tempat antah berantah (halah apa bahasaku ini)

Selain itu semua perfect.

Love u pull Lav.

okee revised...
tengkyuukk mbakeee... ^^