Cerfet : Di Ujung Pelangi (Ending) - Lily Zhang

“Kau egois, Dam. Lagi-lagi karirmu yang kau pikirkan. Dulu bukankah yang ada dalam otakmu aku dan bayiku akan menghambat dirimu. Aku salah telah mempercayaimu, telah menaruh harapan padamu. Kau tidak pernah berubah, DamSelfish.”

 

Ucapan terakhir Joanna masih terngiang-ngiang dalam pendengaran Adam. Sebuah koper telah terapit pegangan tangannya. Di depan tatapan sudah banyak sekali orang yang lalu lalang menuju gerbang keberangkatan, namun kakinya tidak melangkah selangkah pun untuk memasuki gerbang keberangkatan luar negeri.

 

Menunggu dan tak kunjung tiba.

 

Joanna, kekasih hatinya yang diharapkan untuk rela mengalah sekali lagi untuk dirinya. Yah! Dia egois untuk kedua kalinya. Saat Joanna sudah membukakan sedikit celah untuknya menyusup ke dalam hidupnya. ia memang telah mengacaukan kehidupan perempuan yang ditinggalkannya, juga anaknya.

 

Datanglah Joanna! Batinnya harap-harap cemas. Harapannya membumbung tinggi meskipun kecemasan mengaburkannya. Jelas-jelas Joanna mengutarakan kekecewaannya untuk kesekian kalinya. Perih. Sakit tergambar dari parasnya yang dewasa.

 

Bila Anna tidak juga muncul, benarkah tindakanku untuk meninggalkannya lagi?

 

Derap langkah tergesa-gesa menyeruakkan secercah asa. Keyakinan akan kedatangan kekasih hatinya. Segera ia menoleh untuk mendapati bayangan yang sedang ditunggunya.

 

***

 

“Mama, sudah dong selainya....,” protes Nathan yang sedari tadi menunggunya menyiapkan roti kesukaannya dengan selai coklat. Joanna masih tenggelam dalam lamunannya.

 

Adam datang mengacaukan kehidupannya yang damai. Berusaha masuk dalam hidupnya. meski benteng telah terbangun teramat kokoh. Setelah banyak pergumulan dan masalah yang tidak lelah mengunjungi hidupnya, akhirnya benteng pertahanannya runtuh juga. Dan sekarang, setelah kesempatan itu datang Adam kembali seperti dulu. Egois.

 

“”Mama!” kini Nathan mengoyang-goyangkan tangan Joanna sehingga menyentakkan kesadarannya.

 

“I-iya...?” Joanna menoleh kebingungan, masih tidak menyadari selai coklat sudah terlanjur menggunung di atas roti yang disiapkan untuk Nathan.

 

“Coklatnya kebanyakan, Ma!” tunjuk Nathan memrotes seraya menunjuk ke arah roti dalam tangan Joanna. Ia mengikuti arah yang ditunjuk putranya dan bersemu malu terhadap tindakannya yang memalukan, di depan Nathan lagi.

 

“Maaf Nathan, Mama buatkan lagi yah.”

 

Hati Joanna cemas. Adam kah yang menyebabkan kegundahan melanda perasaannya? Ataukah hubungan Tristan dan Cherry dimana dirinya menjadi sekat yang menghalangi?

 

Meskipun tindakan Adam masih seperti dahulu ketika meninggalkan dirinya yang tengah mengandung Nathan. Ada sedikit keharuan merambah hati Joanna yang sekeras baja. Sebuah rasa menghargai yang dipersembahkan Adam dengan mengajaknya dan Nathan untuk ikut dengannya menyelesaikan urusannya di Amerika.

 

***

 

“Tan!” ucap Adam kebingungan. Bukan ini yang diharapkannya. Bukan kehadiran Tristan. Bukan seperti ini.

 

“Dam! Kamu tidak bisa meninggalkan Joanna untuk kedua kalinya,” hardik Tristan membelalakkan matanya. Menyusul kedatangan Chery di belakangnya. Lho? Tristan bahkan membawa-bawa Chery dalam kasus keluarganya. Keluarga? Berhak kah Adam menyebut Nathan dan Joanna sebagai keluarganya?

 

“Tan, ini mengancam karirku! Karir yang kubangun selama bertahun-tahun!”

 

“Persetan, Dam!!! Karir tidak bisa menukar sebuah kebahagiaan! Sadar, Dam!” bentak Tristan marah. Ia sudah tidak peduli lagi tentang orang-orang yang menatap mereka penuh ketertarikan. Seperti tontonan gratis. Drama gratis yang disuguhkan dalam kepenatan hari. Chery kelabakan melihat emosi Tristan. Ia mengerti alasan kemarahan Tristan.

 

Tristan telah merelakan cintanya demi Adam, kakak yang sangat dicintainya. Sekarang, Adam malah akan menyia-nyiakan pengorbanan Tristan. Terang saja amarah pria sabar itu meledak. Prihatin, Chery memandang kedua pria tersebut. Meskipun ia sempat girang dengan setiap ucapan Tristan yang tidak memungkinkan lanjutan kisah cinta yang mendera perasaannya. Ia lebih memilih hubungan dekatnya dengan Adam.

 

“Dan Tristan telah menyiapkan sesuatu untuk kalian!” ucap Chery memandang Adam.

 

***

 

Seorang pria berdiri membelakangi Joanna dan Nathan di kelas Sunflower. Tidak kalah dengan Nathan, Joanna pun ikut kebingungan. Mengernyit. Hari ini Nathan terlambat sampai di sekolah. Teman-temannya sudah berada di dalam kelas sementara Nathan baru saja tiba.

 

Tanpa berlama-lama dengan kebingungannya Joanna mendorong Nathan seraya berkata, “Nathan, ayo masuk kelas.”

 

“Mana Teacher Tristan?” tanya Nathan berkeras tidak ingin masuk ke dalam kelasnya.

 

Menyadari kedatangan mereka, guru tersebut berbalik dan menyambut kedatangan Nathan. “Nathan terlambat yah,” ucap guru muda yang dikenali Nathan bernama, “Teacher Alex,” sapanya manis. Mantan guru magang yang sering datang untuk mengunjungi anak-anak manis tersebut. Kadang-kadang merangkap guru pengganti kala guru TK mengambil cuti.

 

“Maaf Teacher kalau Nathan terlambat, kelalaianku.” Joanna mengaku tersipu malu.

 

“Oyah, Teacher Chery nitipin surat untuk Mama Nathan.” Ia menyodorkan amplop putih dengan pigura garis merah biru. Benak Joanna mendera heran namun segera menerimanya.

 

“Terima kasih.”

 

***

 

Joanna beranjak ke sebuah Cafe di dekat sekolah. Ia memandang sesaat pada Cafe yang bertema bambu. Tempatnya memang cukup terbuka dengan tetap tidak meninggalkan kesan moderen. Ada sebuah ruangan tertutup di dalam, hanya saja tidak terlihat dari luar. Cafe itu sepi. Sebuah nama terpampang lusuh dan tidak beraturan. Beberapa bagian tulisannya telah memudar – apabila tidak diperhatikan secara seksama. Ketika mendekat akan terlihat dengan jelas nama Cafe Rusuh yang terpampang angkuh. Cat-cat yang mengelupas dari namanya memang sengaja dibuat untuk memberikan kesan artistik.

 

Joanna melongok ke dalam, mencari-cari orang yang jelas-jelas menginginkan kehadirannya. Tidak ada seorang pun karyawan yang menyambutnya. Ia mencoba beranjak masuk dan mendapati sebuah papan kecil bertuliskan ‘TUTUP’ tertempel di pintu yang dipergunakan untuk masuk ke sebuah ruangan.

 

“Apaan sih Teacher Tristan,” dumelnya kesal. Ia merasa dipermainkan. Perempuan itu akan beranjak pergi sebelum sebuah tangan lebar membungkam mulut dan menangkap tangannya serta menyeretnya ke dalam. Joanna sempat meronta-ronta sebentar. Pikirannya melayang kepada Nathan. Siapa lagi yang dicemaskan ketika dirinya sendiri berada dalam keadaan genting, bahaya.

 

Dalam kegelapan, ia merasakan ada banyak tangan yang berusaha memegangnya. Bahkan ada bisik-bisik yang tidak dapat didengarnya dengan jelas. Ia merasakan diantara tangan-tangan besar, ada terselip tangan kecil yang halus. Dadanya bergetar hebat, takut. Tristan telah memanggilnya ke tempat seperti ini. Cafe misterius yang belum pernah dikunjunginya.

 

Pikirannya berkecambuk, akan diapakan dirinya ini. Kini, siapa yang dapat menebak apa yang akan dilakukan si penculik. Joanna merasa sangat bodoh, kenapa ia tidak menelepon saja Teacher Tristan untuk menanyakan permasalahannya. Segala pertanyaan belum sempat terjawab ketika matanya ditutupi selembar kain. Air matanya sudah merebak. Mengalir dengan hebatnya.

 

Kemudian ia merasakan tangannya dikendurkan kemudian dilepaskan. Tidak terdengar suara apapun. Joanna memeriksa dengan telinganya. Keheranan melanda perasaannya, kenapa mereka melepaskan setelah menutupi matanya. Ikatan tali di tangannya juga tidak tersimpul dengan utuh.

 

Setelah yakin tidak ada sebuah suara pun bergema, Joanna melepaskan ikatannya yang telah longgar dan beralih kepada kain yang menutupi matanya.

 

“SUPRISE!!” Tristan, Adam, dan Cherry mengatakan berbarengan dengan diterangi lilin dalam genggaman Cherry dan Tristan.

 

“Adam?!!” Joanna menggeram, air masih menjejaki matanya.

 

Adam berdiri membawa sebuket bunga mawar merah di tangan kirinya. Sementara di tangan kanannya yang bebas, berkilauan sebuah cicin yang terbingkai kotak. Joanna menganga. Marah, kesal, cemas, dan juga terkejut bercampur menjadi satu. Tidak lupa ada sesuap keharuan mencuri hatinya membuat ia tidak tahu sepatah kata apa yang layak untuk diutarakan. Ia hanya menbekap mulutnya dan lagi-lagi air matanya mengalir, membasahi pipinya. Melunturkan semua make up yang melapisi kulit wajahnya. Tristan dan Cherry saling menatap, ikut senang melihat adegan romantis di depan mereka.

 

“Maaf,” kemudian Adam melanjutkan, “Aku... pernah keliru, Anna. Dan tidak untuk sekarang. Dulu aku hanya menawarkan kepedihan dan kesendirian bagimu... sekarang aku menawarkan sebuah kebahagiaan dan kebersamaan. An, kumohon... berilah aku kesempatan terakhir sekali ini.”

 

Joanna diam. Rasanya tidak bisa menerima namun juga tidak sanggup menolak. Bahkan saat menangkap bayangan Tristan, Joanna tidak melepaskan pergumulannya. Jelas-jelas ia tahu Tristan mencintainya. Dan ia sempat merasakan sedikit perasaan yang lain terhadap Tristan. Benarkah cinta? Atau tersanjung karena perhatian dari Tristan? Dan kenapa ia masih ragu untuk melepaskan Adam?

 

“Kumohon, Anna. Bukankah kamu sempat berkata akan menerimaku kembali jika Nathan pun bisa menerimaku, sekarang kami cukup akrab – kurasa.” pinta Adam lirih. Berharap.

 

Joanna masih terdiam. Dilema.

 

Adam menghembuskan nafas berat. Untuk terakhir kali ia berkata dengan warna pudar sang asa, “Bersediakah kamu menikah denganku? Jika tidak, ambillah bunga ini dan ini kali terakhir aku berdiri di hadapanmu.” Adam memejamkan mata, rasanya ia tidak sanggup melihat penolakan lagi. Ia tidak berani berharap lagi. Tidak hanya Adam, Tristan dan Cherry pun terdiam, menegang.

 

Joanna melangkah mendekati Adam, kemudian tangannya hampir menjamah tangan kiri Adam, kemudian diurungkan. Tristan membelalakkan mata sementara Chery sedang menahan nafas. Jika Joanna tidak menerima Adam, hubungannya dengan Tristan akan terancam. Ia sangat menyadari rasa cinta Tristan yang besar terhadap Joanna.

 

Akhirnya Joanna meraih buket bunga disertai mata Adam yang perlahan membuka. Asanya hilang. Redup. Tidak bersemangat.

 

Adam telah mengorbankan tiket yang berharga ribuan dolar dan karir untuk menebus kesalahannya, juga tidak mengulangi kesalahan yang sama terhadap Joanna dan Nathan. Sekarang, hadiah yang diterima jauh sekali dari pengorbanannya yang besar. Benarkah sebesar pengorbanan Joanna.

 

Mata Joanna yang sembab memandang kepada Adam. Sedangkan tangan pria itu masih membeku, tidak beranjak dari posisi sebelumnya. Menghindari tatapan kekasihnya yang hidup dalam langit yang kelabu, Adam memutuskan untuk memalingkan mukanya, menatap ke bawah, gelap. Tristan mengiba dan Cherry kecewa.

 

Kemudian Joanna menyodorkan tangannya ke hadapan Adam, “Pakaikan...,” pintanya. Adam mendongak, memandangnya tidak percaya.

 

“Pakaikan cincin itu!” nada Joanna memerintah.

 

Tergesa-gesa Adam mengambil cincin dari kotaknya. Tangan kokohnya gemetar, hampir saja cincinnya terjatuh. Ia segera memakaikannya, diiringi sebuah jawaban yang membangkitkan gairahnya, “aku bersedia,” ucapnya tersenyum. Joanna merasakan sensasi yang sama seperti pertama kali Adam menyatakan cinta. Bahagia. Memang, cinta itu tidak terdustai luka.

 

“Terima kasih, sayang.” Adam memeluk Joanna hangat dan lembut. Kecemburuan Tristan menyeruak sehingga ia segera meninggalkan tempat tersebut diikuti Chery di belakang yang tersenyum senang. Tristan berduka terhadap cintanya dan senang untuk kebahagiaan orang yang dicintainya, Adam dan Joanna.

 

“Maaf, mengagetkanmu Anna.”

 

Joanna menggeleng. Tidak ada ketakutan seperti saat ia ditinggalkan oleh Adam ataupun menginjak Cafe misterius ini. semuanya menguap, berganti kebahagiaan.

 

“Kendi hartaku...,” gumam Adam menciumi pipi Joanna.

 

Ada pelangi sehabis hujan...

Dan ada sekendi harta karun di ujung pelangi.

 

 

THE END

Read previous post:  
97
points
(1655 words) posted by cat 7 years 21 weeks ago
88.1818
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | cat | CERFET | DUP | Romantis
Read next post:  
Be the first person to continue this post

H. Lind : makasih yah... :D Endingmu udah? belum sempat lihat saya nih... :p
Gea : namamu manis dan terima kasih sudah membaca
Tante Lav : makaci tante... *hugs*
Soul : Gpp kok... sempat2 ntar baca yah.. :D
Agatha : hati2 diabetes loh :D LOL

90

ada surprise metode culik2an!! xD saya suka
#ngerasageernggakapaapadongkalaubayanginendingnyadikehidupanpribadi hehe.
.
Gulaaa tingkat tinggi ;)

ending nya baru sebagian ya....?
aq baca d word, maaf
tapi cerfet kalian sungguh bagus
^^

100

aku suka bagian ini, tantee.. :
“Pakaikan cincin itu!” nada Joanna memerintah.
sukaa... hehehe..
cuma ada yang miss di kelas sunflower itu, bukankah seharusnya playgroup strawberry, atau bagaimanakah?
nice one... :)

80

wow, such a amazing story. aku kagum banget sama ceritanya. speechless :)

80

Suka dengan pemikiran Cherry yang rasional dan manusiawi. :)
Ide tentang cara ngajak Joannanya juga bagus. Setengah berharap tadi benar-benar modus orang jahat. *evillaugh :Z

*hugs* emak sayang... :p maaf mak, udah gak perhatiin typo. ntar nyadar dulu baru kuperbaiki. :D hahah... aku mikirnya Adam pasti di DO lantaran ia membohongi si mentor. hakhak...
makasih mak, berkat CERFET aku mulai memahami cara menulis yang baik. *hugs* emak lagi :)

sebagai gantinya aku lagsung POST cerita lain yang gak jadi kuikutkan dalam lomba :D karya yang lama mendekam di laptop.

80

Hip hip horraaay.

Lily uda kelarin ending DUP jugaaaa.

Idenya so sweet apalagi mendekati bulan Febuary.

Hanya saja aku lebih suka kalo Adam dikatakan mempertaruhkan karirnya di Amerika.

Toh setelah lamaran si Adam bisa melesat ke Amrik dan melanjutkan segala urusan kedokterannya sambil mengurus pernikahannya dgn Joanna di Indonesia.

Mungkin sesekali Adam bisa pulang ke Indonesia.
Joanna juga bisa berlibur ke sono.

Lalu ada banyak typo Lily sayang.

ː̖́ټ..ћέ²..ټ..ћέ²ː̗̀(*)ː̖́..ټ..ћέ²ټː̗̀

Di cek n ricek lagi yah.

Thx uda berpartisipasi dalam CERFET ini.

Jangan kapok kalo saya ajakin lagi yah.

#tukang teror mode on#

keran ideku lagi macet... --a maapin yaq temans kalao aneh.. :D tapi ini sudah berusaha yang terbaik T^T