CERFET : Clumsy Girl & Hot Boy - Episode 2

 

Andai dia dapat memutar balik waktu, mungkin ayahnya tak akan merasa sangat kecewa sehingga akhirnya tertekan dan meninggal. Semua kejadian selama dua tahun terakhir dalam kehidupannya kembali berkelebat dan berkilatan di pikirannya. Meski pada akhirnya hanya berakhir pada sebuah perasaan menyesal dan merutuki diri sendiri.

Tapi penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah kenyataan bahwa ayahnya meninggal dengan perasaan tertekan dan malu oleh dirinya yang tak bisa menjaga kemaluannya.

Raziel telah dibutakan oleh cinta masa muda. Sesuatu yang samar baginya waktu itu antara cinta atau hasrat belaka. Sehingga dia menurut saja ketika tenggelam dalam belaian dan sentuhan gadis cintanya. Gadis yang sebenarnya adalah pacar sahabatnya sendiri, Dion.

***

Liburan akhir semester satu bertepatan saat-saat menjelang tahun baru. Kelas Raziel mengadakan acara kemah di Bogor untuk refreshing setelah ujian akhir semester sekaligus merayakan tahun baru dengan suasana yang berbeda. Anak-anak dari kelas lain boleh ikut serta.

“Hai, Ziel, kamu nggak keluar? Udah mulai pada kumpul tuh,” kata Linda yang tiba-tiba masuk ke dalam tenda Raziel dan langsung duduk di atas sleeping bag di sebelah Raziel. Raziel yang masih sibuk mengolesi tangannya dengan krim anti nyamuk hanya menoleh sebentar.

Jantung Raziel mulai berdegup kencang, mengetahui bahwa yang berada di sebelahnya kini adalah Linda. Raziel selalu merasa ada yang tak beres dengan jantungnya ketika ada Linda di sekitarnya. Tak bisa dipungkiri Raziel telah menaruh hati pada gadis itu sejak dia masih kelas dua SMA, sejak Dion memperkenalkan gadis itu pada Raziel. Tapi perasaan itu hanya dipendamnya saja, karena pada saat itu Linda sudah berpacaran dengan Dion, sahabatnya.

“Terus, kamu ngapain malah ke sini?” Raziel balik bertanya, mencoba untuk tetap telihat tenang.

“Nggak apa-apa, aku cuma lagi pengen sama kamu aja,” jawaban Linda yang menggodanya langsung membuat Raziel agak jengah. Bagaimanapun Linda adalah pacar sahabatnya.

“Eh, Dion nggak ikut acara ini ngapain sih ke Bandung?” tanya Raziel berusaha mengalihkan godaan Linda padanya dengan menyebut nama Dion sebagai isyarat untuk mengingatkan Linda akan posisinya.

Linda menghela nafasnya, “Mana aku tahu, Ziel. Aku kan bukan baby sitter-nya. Lagian aku udah putus kok sama dia.”

“Eh? Kapan? Kok aku nggak tahu?” Raziel terkejut mendengarnya, karena Raziel merasa Dion belum memberitahukan hal itu padanya. Suatu hal yang mustahil, karena Dion selalu menceritakan semua yang terjadi dalam hubungan cintanya dengan Linda.

“Kamu sih nggak pernah lihat infotainment, kan udah dari seminggu yang lalu,” jawab Linda.

“Sok artis banget,” tanggap Raziel, dan keduanya tertawa,”Kamu nggak sedih?” sambung Raziel.

“Sedih sih iya, tapi mau gimana lagi, namanya juga pacaran, kalau nggak langgeng ya putus, betul nggak?”

Raziel hanya mengangguk. Dan di pikirannya kini, bukankah ini kesempatannya untuk masuk dan menjelajahi hati Linda?

Raziel tak sempat berpikir untuk bertanya lebih dulu pada Dion kebenaran kata-kata Linda atas putusnya hubungan mereka. Menurut kata hatinya, tak mungkin juga Linda bohong atau juga bermain-main dengan hal sensitif begitu. Yang ada dalam pikiran Raziel hanyalah, Linda telah lepas dari Dion, dan sekarang adalah kesempatannya untuk menyatakan hatinya pada gadis itu.

“Lin,” panggil Raziel berlagak sibuk mengoles krim anti nyamuknya lagi, berusaha mengatur nafas dan jantungnya yang berdetak semakin kencang.

Gadis itu menoleh, “Um?”

“Hey, kalian masih di sin? Bentar lagi pestanya dimulai tuh,” mendadak sebuah kepala muncul menyembul.

“Nanti nyusul, Sel,” jawab Linda segera. “Oke deh,” Sela si pemilik kepala berlalu.

“Huft..” Raziel menghela nafas.

“Tadi mau ngomong apa, Ziel?” tanya Linda.

“Kamu... ah, nanti aja deh, kita keluar yuk,” kata Raziel seraya beranjak, tapi Linda menahan tangan Raziel, “Selesein dulu bicaramu, baru kita keluar.”

Untuk kesekian kali Raziel menghela nafas dan duduk lagi, “Ng...” Raziel tampak bingung memulai kata-katanya, sedangkan mata Linda terus menatapnya.

“Kamu tahu nggak... sejak Dion ngenalin kamu ke aku... sejak itu juga aku…” Raziel berhenti, berat terasa mengucapkan hatinya pada Linda.

Seketika Linda bicara sambil tangannya meraih tangan Raziel, digenggamnya, “Aku udah tahu, Ziel. Aku juga begitu.”

“Jadi...?” kata-kata Raziel mengambang, Linda mengangguk, “Aku juga sayang kamu, Ziel.” Linda mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir Raziel.

***

Dua hari setelah camping. Liburan masih tersisa empat hari lagi. Sebuah SMS dari Dion diterima Raziel.

“Aku kecewa, Ziel.”

Hanya itu isi SMS-nya. Tak ada penjelasan tentang apa atau siapa yang membuat Dion kecewa. Dan tentu saja hal itu membuat Raziel bingung tak mengerti. Dibalasnya SMS Dion, tak terkirim. Di telepon, tidak aktif, malah Raziel diomeli operator provider-nya, “Nomor yang Anda tuju ada di luar service area, cobalah beberapa saat lagi.”

***

Raziel memarkir jeep-nya di depan toko komputer tempat dia kerja paruh waktu sejak seminggu yang lalu. Pukul empat seperempat, sebenarnya belum waktunya Raziel bekerja. Tapi tubuh dan pikirannya yang tak selaras telah membawanya datang ke tempat kerja lebih awal, karena biasanya sebelum berangkat dia selalu makan dan mandi terlebih dahulu.

“Kamu pikir bapak bangga dengan kelakuan kamu itu? Dasar bocah bejat!!! Nggawe wirang keluarga!!­(1)” saat itu Raziel hanya bisa pasrah ketika tinju ayahnya mendarat mulus di pipinya. Dia sudah tak mungkin menyangkal semua tuduhan, karena memang dirinya telah melakukan perbuatan itu dengan Linda, meski ia sendiri masih tak mengerti siapa yang merekamnya dengan kamera HP dan siapa yang menyebarkannya, dan begitu banyak pertanyaan di kepalanya.

Raziel turun dari jeep dan melangkah memasuki toko. Pikirannya masih saja berkelana di masa-masa suram hidupnya itu. Ada sebuah pengampunan yang tak diberikan ayahnya hingga beliau meninggal. Dan hingga saat ini penyesalan mendalam masih tersisa di hati Raziel. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah menjaga hati dan perasaan ibunya, sebagai bentuk permintaan maaf dan penyesalan Raziel kepada ayahnya.

Seperti beberapa bulan yang lalu sebelum Raziel dan ibunya memutuskan untuk keluar dari rumah Mbah Kakung, setelah dia bertengkar hebat dan saling pukul dengan Paklik Hizam, gara-gara Bulik Sundari selalu membuat ibu Raziel tersiksa batin, menyindir-nyindir dan sebagainya. Paklik Hizam bukannya menging(2) perbuatan istrinya, tapi malah ikut-ikutan. Raziel tak tahan dan berontak, sehingga akhirnya terjadi cekcok dan perkelahian. Kalau saja Mbah Kakung tidak melerai keduanya, Raziel pasti sudah memukulkan palang pintu rumah Simbah ke jidat Paklik Hizam.

Raziel tahu, sebenarnya Mbah Kakung merasa berat dia dan ibunya pergi dari rumah Mbah Kakung, tapi Mbah Kakung tidak bisa menahan mereka, lagipula jika meminta mereka untuk tetap tinggal bersamanya, ada kemungkinan cekcok dengan keluarga Paklik Hizam akan terjadi lagi.

Simbah memanggil Raziel ketika dia sedang membantu ibunya mengemasi pakaian dan barang-barang mereka.

“Duduk sini dulu, Cah Bagus, simbah mau bicara,” kata Mbah Kakung. Raziel menuruti permintaan Mbah Kakung dan duduk di sebelahnya.

“Uwong ki ngunduh wohing pakarti(3),” kata Mbah Kakung. "Kejadian ini, cekcokmu dengan paklik-mu itu, mung(4) buah yang kamu dapatkan dari perbuatanmu sendiri.”

“Tapi kan ibu nggak ada sangkut pautnya! Kalau mau menghina, menyindir atau yang lainnya jangan pada ibu! Ngomong aja langsung di depanku, nggak pake sikap pengecut gitu dong, mbah,” kata Raziel.

“Simbah bisa ngerti kalo kamu merasa begitu, tapi ibumu itu cuma imbas, begitu juga dengan bapak dan mbakyu-mu, karena hubungan darah mereka yang paling dekat dengan kamu, dan yang paling banyak kemungkinan buat jadi sasaran cemoohan. Dan Hizam adalah cermin dari masyarakat yang kamu hadapi setelah kamu melakukan perbuatan itu,” kata Simbah, “Sikapmu yang membela ibumu itu baik, tapi akan lebih baik kalo kamu lebih bisa sabar,” lanjut Simbah.

Raziel diam, mencoba mencerna perkataan Mbah Kakung.

“Menuruti nafsu, apalagi syahwat, itu enake sa' klentheng, rekosone ketigo rendeng(5), paham kamu maksudnya?” tanya Mbah Kakung pada Raziel, dan dijawab dengan sebuah gelengan kepala.

“Enaknya cuma sebentar, sengsaranya lama, sampai musim berganti pun belum tentu bisa diatasi. Rasa malu, penyesalan, dan rasa-rasa lainnya. Apalagi kalo benihmu itu ‘jadi’ di dalam rahim perempuannya itu. Kamu harus jadi bapak di umurmu yang belum siap dan belum mampu buat menanggungnya. Betul?”

“Perbuatanmu yang sudah bikin malu bapak dan ibumu itu, simbah juga rasakan, paklik-mu juga merasakan. Ibarat anak polah bapa kepradah(6), karena kamu adalah bagian keluarga ini, keluarga besar simbah. Misalnya pun, salah satu anaknya Hizam yang bikin malu, kalian juga pasti bakal ikut merasa malu, misal ada orang tanya ’Sopo tho sing salah(7)?’ ‘itu si anu, saudaranya Raziel’, begitu tho?” Simbah tertawa.

“Simbah harap, keluar dari sini kamu bisa jadi lebih sabar menghadapi orang-orang, bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dan tindakan, ndak grusa-grusu(8). Simbah tahu kamu itu anak yang baik, cuma melakukan sebuah kesalahan yang fatal, dan akhirnya bikin rusak namamu sendiri dan keluarga. Jadi kamu harus bisa buktikan kamu itu lelaki baik. Pada dirimu sendiri, pada masyarakat, juga pada keluarga besar ini.”

Bagi Raziel, perkataan Mbah Kakung padanya saat itu begitu memberinya dorongan dan semangat untuk melanjutkan kehidupannya, meski mungkin pada nantinya akan ada benarnya kata-kata Simbah, bahwa mungkin perjalanan hidupnya akan mengalami banyak dan penuh cemoohan sejak kesalahan yang pernah dia perbuat. Dan Mbah Kakung adalah satu-satunya yang bisa melihat kesalahannya dengan sudut pandang yang berbeda...

Raziel masuk ke ruangan sebelah dalam toko dan menyalakan rokok. Mungkin lebih baik baginya untuk bekerja lebih awal, karena kekosongan waktu dengan tak melakukan apapun selalu saja membawa pikirannya kembali ke masa-masa suramnya itu, dan siapa tahu pula dia nanti boleh pulang kerja lebih awal.

***

“Permisi, Mas. Mau cari flashdisk ada?” agak canggung Giselle bertanya pada salah satu pelayan toko kumputer yang sedang sibuk membungkus printer.

“Sebentar, Mbak. Saya selesaikan ini dulu, ” Jawab Raziel.

“Oke, jadi mau yang berapa Giga?” tanya Raziel langsung menuju ke etalase tanpa melihat Giselle yang menjadi pelanggannya.

Giselle hanya bisa merutuk dalam hati setelah melihat pelayannya adalah makhluk menyebalkan yang telah membuat novelnya hilang dan menyiramnya dengan segelas es teh di kantin.

“Oh, ternyata kamu, si gadis histeris?” kata Raziel dengan tenangnya sambil mengeluarkan beberapa flashdisk untuk dipilih Giselle.

Tanpa diduga, Giselle segera membalikkan badannya dan melangkah keluar. Dia urung untuk membeli flashdisk. Emosinya mendadak tinggi setelah tahu pelayan toko komputer itu adalah si ganteng menyebalkan idolanya Suci.

“Eh, jadi beli nggak ini?” kata Raziel setengah berteriak.

“Nggak!!” sahut Giselle cepat, dan seisi toko hanya bisa memperhatikan mereka berdua bergantian.

***

Pukul 19.30

Seperti yang diharapkan, Raziel bisa pulang lebih awal. Bos-nya tak keberatan, karena tahu Raziel datang lebih awal dan langsung bekerja.

Raziel melangkah keluar dari toko sambil menyalakan sebatang rokok menuju jeep kesayangannya yang diparkir di depan toko. Matanya tertuju pada seseorang yang ia kenali dari pakaiannya sedang duduk di atas trotoar di depan jeep-nya, menghadap ke jalan, menunduk dan menangis, si gadis histeris, Giselle.

“Heh, ngapain kamu masih di sini? Menungguku?” tanya Raziel.

Giselle hanya menoleh sebentar, kemudian kembali sibuk dengan tangisannya yang membuat orang-orang lewat memperhatikannya. Raziel cuek saja membuka pintu jeep.

 

 

Note :

(1) : Membuat malu keluarga

(2) : Mengingatkan / menasehati

(3) : Manusia memetik buah dari perbuatannya sendiri

(4) : Cuma

(5) : Enaknya sedikit, sengsaranya hingga musim panas musim hujan silih berganti.

(6) : Perbuatan anak, orangtua (keluarga) ikut menanggung

(7) : Siapa sih yang salah?

(8) : Tidak terburu-buru

Read previous post:  
135
points
(1466 words) posted by cat 2 years 37 weeks ago
84.375
Tags: Cerita | Novel | cinta | cat | CERFET | CG | Romantis | teenlit
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

lanjutannya duooong

80

seru abis, tolong dong lanjutannya

100

aaaaaaaaaaaa mau lanjutannya.. ceritanya seruuu....

90

Aseeek... Udah keluar lanjutannya :-D

100

waw rame + unik!

90

walah, Jowone nganggo kromo... dasar eyang (~.~)
lanjuuut

100

Lanjutkaaaan Lav (dlm 3 hari)

ː̖́ټ..ћέ²..ټ..ћέ²ː̗̀(*)ː̖́..ټ..ћέ²ټː̗̀

Majnun, buanyak boso jowo e. Aku ndak mudeng.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Paijooooooooooooo.

#ah lg malas kument yg beres.
#mo merusak lapakmu aje.
#mo ngacak2 lapakmu.

90

ini, bahasa Jawanya rada kental juga ya, beda jaoh ame yang sebelumnya. entah kenapa kalau ada orang tua ngomong Jawa, malah senyam-senyum sendiri gitu.
.
di sini masalahnya udah mulai muncul ya. si Raziel masa lalunya ternyata gitu'e.
#sakbenerewongikungertineksalahgaksih?
Giselle orangnya polos banget ya? saya suka ^^

lanjuut~~

50

unik..
:DD