Uragirimonogatari (Cerita Sang Pengkhianat) ; Part 3

 

~ Doshi Wolf, Part 3 ~

*

Do

Shi

Wo

Ru

Fu

*

Aku berlari menyusuri sudut-sudut kota. Mencari seorang gadis yang bernama Araragi Karen. Salah satu dari anggota ‘Fire Sisters’—sebuah duo heroik ciptaan Karen-san dan adiknya. Aku mencarinya atas permintaan adiknya, Araragi Tsukihi. Dia bilang Karen-san pergi untuk menemui sebuah kelompok geng motor. Geng tersebut memiliki dendam pada Karen-san karena Karen-san pernah mengganggu salah satu aktifitas ilegal geng tersebut. Itu yang diberitahu adik Karen-san padaku.

 

Setiap sudut dan sisi kota kuperhatikan dengan teliti. Dengan harapan menemukan Karen-san sebelum dia bertemu dengan geng tersebut. Aku melakukan ini bukan karena aku merasa berhutang budi pada kakaknya atau karena sekedar ingin menjadi pahlawan. Aku hanya merasa kalau ini adalah sesuatu yang harus aku lakukan sekarang.

 

Blok demi blok kutelusuri. Bangunan demi bangunan kulewati. Namun tak kunjung terlihat juga batang hidung gadis yang kucari. Tempo derap langkahku perlahan semakin berkurang. Bukan karena kelelahan, namun karena aku teringat sesuatu.

 

Aku berhenti tepat di depan sebuah toko yang ber-etalasekan cermin kaca. Di kaca tersebut bisa kulihat pantulan diriku. Diriku yang mengenakan kaos hoody dan celana panjang jeans terpantul dengan jelas di sana. Rambut coklatku yang berantakan membuatku terlihat seperti seorang preman. Aku bisa merasakan kalau tatapanku saat ini terasa kosong.

 

Aku ingat bahwa aku yang sekarang tidak seharusnya menolong Karen-san. Aku yang sekarang mungkin akan menempatkan Karen-san pada bahaya yang jauh lebih besar daripada geng motor tersebut. Di saat aku sedang bimbang apakah aku harus terus mencari Karen-san atau tidak… tiba-tiba cahaya di sekitarku berubah menjadi jingga senja. Padahal ini masih tengah hari. Langit pun berubah menjadi merah. Sesosok bayangan muncul di cermin yang ada di hadapanku ini.

 

Ada aku yang lain di sana. Hanya saja bayangan diriku yang satu lagi itu sedikit berbeda dengan bayanganku. Diriku yang satu lagi itu berwajah seekor serigala putih. Namun dia berdiri tegak sepertiku dan mengenakan pakaian yang persis sepertiku.

 

            “Tidak apa-apa. Sebaiknya kau menolongnya. Aku tidak akan mengganggumu,” kata bayanganku yang berkepala serigala.

 

            “Kenapa? Supaya nanti kau bisa melukainya?” balasku seraya menatapnya tajam.

 

            “Haa haa haa. Kau tahu cara kerjanya. Aku hanya akan menghianati seseorang yang penting bagimu. Saat ini, gadis itu bukan siapa-siapa bagimu. Atau jangan-jangan… kau memang tidak peduli pada gadis itu?”

 

            “Damare!! Kau tidak tahu apa-apa tentangku!” bentakku.

 

            “Aku tahu. Karena kita berdua satu tubuh dan satu jiwa, haa haa haa!” kata siluman serigala yang ada di dalam diriku seraya menyeringai lebar. Lalu dia menghilang dari cermin kaca. Suasana di sekelilingku kembali normal seiring dengan menghilangnya siluman serigala itu.

 

Aku mengrenyitkan mataku dan mengepalkan kedua tanganku seerat mungkin. Aku tidak berdaya di hadapan siluman serigala yang merasuki tubuhku. Aku sangat payah.

***

Aku memutuskan untuk kembali mencari Karen-san. Akhirnya aku sampai pada sebuah gudang tua di pinggir kota. Aku tidak tahu apakah dia ada di sini tapi… tidak ada salahnya untuk melihat.

 

Begitu aku masuk ke dalam, yang kutemui adalah sekelompok berandalan geng motor. Mereka semua mengenakan jaket kulit berwarna putih. Tidak terlihat Karen-san dan jaket kuningnya dimanapun. Salah seorang berandalan itu menyadari kehadiranku lalu mendekatiku dengan tatapan mengintimidasi.

 

            “Siapa kau? Mau apa kau kemari, hah?!” tanya berandalan itu.

 

            “Di mana Karen-san?” tanyaku balik.

 

            “Hah?! Karen? Ah, si brengsek kecil itu?!” ujarnya. “Hei, bos! Anak ini mencari mangsa kita!”

 

Sepertinya berandalan yang ada di hadapanku ini berbicara dengan pemimpin geng motor ini. Lalu seseorang di antara para berandalan itu berdiri dan mendekat ke arahku. Dia remaja yang sepertinya berusia sama denganku. Ukuran tubuhnya pun tak jauh berbeda dariku. Apa dia pemimpin geng motor ini?

 

            “Kau kenal Karen, ya?” tanyanya.

 

            “Dimana dia sekarang?” tanyaku tegas seraya menatapnya tajam.

 

            “Hmm… kami memang sudah berjanji untuk bertemu, tapi… dia belum datang,” jawab pemimpin geng motor itu.

 

            “Sebaiknya kau tidak berbohong,” lanjutku.

 

            “Kenapa? Memang apa yang akan kau lakukan?”

 

            “Kalian sebaiknya tidak mengganggu dia lagi,” perintahku.

 

            “Seperti yang kubilang barusan… memangnya apa yang akan kau lakukan?”

 

            “Aku akan membuat kalian tidak bisa mengganggu Karen-san lagi untuk selamanya.”

***

            “Doshi-kun!” panggil seseorang dari arah pintu masuk gudang ini. Suaranya terdengar seperti seorang gadis. Aku memalingkan wajahku ke arah pintu masuk. Dan ternyata Karen-san lah gadis yang memanggilku.

 

            “Ah, syukurlah kau baik-baik saja, Karen-san,” kataku seraya menyunggingkan senyum kecil.

 

            “Daripada itu apa kau baik-baik saja, Do… shi… kun?” Karen-san terdengar menghentikan kalimatnya di tengah-tengah. Dia sepertinya terkejut melihat pemandangan yang ada di belakangku ini. Matanya terbelalak dan mulutnya sedikit menganga.

 

Tentu saja dia akan bereaksi seperti itu. Karena yang ada di belakangku adalah kekacauan hasil pertarunganku dengan kelompok geng motor tadi. Seluruh gudang ini berantakan. Beberapa barang hancur dan tubuh-tubuh anggota geng motor bergelimpangan di mana-mana. Jaket mereka yang semula berwarna putih menjadi bercorak merah karena darah.

 

            “K-Kau… mons… ter… ughhh…,” kata seorang berandalan yang kemudian tidak sadarkan diri. Bisa kurasakan tatapannya dipenuhi teror saat melihatku barusan. Dia bilang aku ini monster. Hah, dia benar soal itu.

 

Aku berjalan melewati Karen-san—yang masih tersentak karena keadaan di gudang ini—seraya berkata, “Mereka tidak mati. Aku hanya membuat mereka tidak akan bisa mengganggumu lagi.”

 

Karen-san tersadar lalu berkata, “K-Kau terluka! Sebaiknya kita rawat lukamu!”

 

            Aku memang sedikit terluka. Saat bertarung dengan geng motor tadi, kepalaku dipukul dari belakang dengan sesuatu yang terbuat dari besi. Aku tidak tahu apa itu. Yang kutahu pasti benda itu membuat kepalaku berdarah. Darah yang mengalir dari keningku ini pasti yang memberi tahu Karen-san kalau aku terluka.

 

            “Aku tidak apa-apa. Lukaku cepat sembuh dengan sendirinya,” jawabku padanya agar tidak membuatnya khawatir. Ya, selain mendapat kekuatan yang melebihi manusia biasa karena dirasuki oleh siluman, tubuhku juga menjadi cepat memulihkan diri dari luka-luka. Namun… meski begitu, kesadaranku semakin pudar. Entah karena kepalaku dipukul atau karena aku kehilangan banyak darah. Aku akhirnya terjatuh ke tanah. Bisa kudengar Karen-san berteriak memanggilku. Suaranya semakin lama semakin samar seiring kesadaranku memudar.

 

To be Continued…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

Setuju sama Kurenai-san ttg Doshi nya lebih seperti Narator :3 Btw, ini krna saia buka pake hape ato memang ngga ada dash ato mark buat misahin scene mulai gelut dan Karen dateng?
ato, Karen nya rasanya kurang 'Karen' ^^; coba ketomboy an nya d tonyjolin lagi :3

Yosshh~ jd pnasaran, bakal kayak apa Doshi yang kesurupan X3 Sugiii~

80

mmm...
mungkin cuma saya aja sih...
tapi di sini, meski kamu pake POV 1, rasanya emosi si Doshi kurang kerasa. kesannya adem2 aja gitu. atau dia memang dingin ya saya nggak tahu deh.
Terutama waktu dia lawan geng berandalan.
Karena nggak kamu jabarin adegan pertarungannya, saya jadi bingung, Doshi ini emang jago atau pas berkelahi itu dia kayak kerasukan siluman serigala? mungkin akan lebih kena kalo disebutin misalnya: suara geraman terdengar dari dalam kepalaku, telingaku bisa mendengar semua detak jantung orang-orang itu, dsb, dsb...
.
ehehe... maaf kalo bawel ^^a

Ok! Trims bwat masukkannya ^^b