[Katalis Waktu] Fragmen 4 - Memulai Pencarian

Bangunan berdinding kayu yang tampak rapuh dan kumuh itu langsung bisa dikenali Lan karena kekontrasannya dengan bangunan di sekelilingnya yang terlihat sangat bersih. Bangunannya sendiri berlantai dua dengan atap yang tak memiliki cerobong asap. Plang nama sebuah penginapan tergantung miring di atas pintu, tampak sudah tergerogoti di sana-sini. Fiella, nama penginapan itu. Lan mengerutkan kening, ia tahu betul apa arti nama itu.

“Kau yakin ini tempat yang kita cari? Kelihatan kumuh sekali.”

Pertanyaan Sua sudah lebih dari cukup untuk membuat Lan menoleh. “Sudah bertahun-tahun aku berurusan dengan Nulla. Kaupikir aku tak tahu ke mana harus mencarinya?”

Tersentak, Sua membelalak pada Lan. “Aku hanya bertanya.”

Sebagai jawaban, Lan sigap membuka pintu penginapan kecil itu. Suara decit pintu mengiringinya. Sua segera mengekor di belakangnya.

Sebuah meja panjang yang melintangi ruangan kecil itu segera menyambut Lan dan Sua. Seseorang berdiri di belakangnya. Seorang lelaki tua berpenutup mata di mata kanannya. Saat melihat Lan, lelaki tua itu tersenyum. Sorot mata kirinya tampak ramah. “Nona kami sedang ada urusan di ruang belakang. Apakah Nona Lan mau menunggu?”

“Kutunggu di ruang makan.”

“Akan kami buatkan sarapan untuk dua orang.”

“Terima kasih, Nell.”

Nell mengangguk hormat. Lan tersenyum dan berbalik menuju sebuah pintu besar yang terbuka tak jauh dari meja panjang itu. Sebuah ruangan yang lebih besar segera muncul di hadapannya. Beberapa meja bundar dengan empat kursi mengelilinginya tertata rapi di ruangan itu. Sebagian kecil sudah terisi orang. Kebanyakan hanya satu-dua orang di masing-masing meja. Lan segera menuju meja yang paling dekat dan duduk di tempat ia bisa melihat meja panjang di luar ruang makan. Sua duduk di seberang Lan.

Sua terus memandangi Lan dengan mata membulat. Risih, Lan membuang muka.

“Tadi itu … pertama kalinya aku melihatmu tersenyum. Kenapa selama ini tak pernah tersenyum?”

“Aku terkadang tersenyum. Kau tidak tahu saja.”

“Kenapa tak pernah tersenyum kalau kepadaku?”

Lan berpaling pada Sua. Tatapannya tajam, yang segera dibalas senyuman oleh Sua. Lan berpaling lagi. “Setiap tindakanku selalu memiliki alasan.”

“Maksudmu, kau tak punya alasan untuk tersenyum kepadaku?”

Lan tak menjawab.

“Apa kau tidak bisa menganggap senyuman sebagai ungkapan pertemanan?”

“Kita tidak berteman.”

Keduanya terdiam. Sua masih terus memandangi Lan dengan mata membulat. Ia kemudian mencondongkan badannya, lantas berkata lirih, “Apa kau punya teman?”

“Apa kau tidak bisa berhenti bertanya?”

Sua seketika bungkam begitu menyadari tatapan kesal Lan. Hening kembali. Atmosfer tegang di antara mereka sedikit tersibak saat ada pelanggan yang keluar dari ruang makan. Tak lama, seorang lelaki pertengahan dua puluh tahun masuk membawakan baki berisi beberapa roti gandum, sayur, daging, dan dua gelas besar air putih.

Saat lelaki itu menaruh baki, Lan hanya diam memperhatikan orang itu. Ia langsung tahu bahwa lelaki itu orang timur, sama sepertinya. Alisnya tebal meruncing ke hidung. Wajah kasar itu pun dihiasi beberapa bekas luka. Dari beberapa luka yang juga tampak di punggung telapak tangannya, Lan bertaruh bahwa lelaki itu memiliki lebih banyak luka lagi di balik pakaiannya. Sorot matanya pun hampa, lebih mirip seperti sorot mata orang yang tak punya keinginan untuk hidup lagi.

Lan penasaran, dari mana Nulla memungut pelayan baru ini? Ia yakin betul bahwa ia tak pernah sekali pun bertemu dengan lelaki itu. Tapi, entah kenapa Lan merasakan sesuatu yang ia kenal dari lelaki itu. Apa karena mereka sama-sama orang timur? Lan tidak tahu.
 
Begitu selesai memindahkan isi baki ke meja, lelaki itu mengangguk kecil lalu pergi. Sua seketika mengernyit melihatnya. “Apa pelayan penginapan kecil selalu bersikap seperti ini? Sudah tidak tersenyum, dia juga tidak mengatakan apa-apa untuk mempersilakan kita makan—”

“Anggukan kecil sudah cukup,” potong Lan seketika. Sua langsung membeliak, terkejut. Begitu pula Lan. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia merasa kesal mendengar ucapan Sua.

“Kau marah padaku, Lan?”

“Tidak,” jawab Lan cepat. Setelah diam agak lama, Lan membuka mulut lagi. “Aku ingin makan dengan tenang. Kau bisa sebentar saja diam, kan?”

“Tentu saja.”

Lan menatap Sua lama. Setelah yakin bahwa gadis itu benar-benar akan diam, ia meraih daging. Setelah membungkusnya dengan sayur, ia memakannya. Sua hanya menganga melihatnya.

“Cara makan kalian sungguh aneh,” komentarnya.

Lan menghentikan makannya, lantas menatap gadis itu tajam. “Kau lupa persoalan makan-dengan-tenang itu?”

Sua hanya mengangkat bahu, lalu meniru cara makan Lan. Ia seketika tersenyum dan mengangkat wajahnya pada Lan. “Ternyata lebih enak begini daripada dimakan secara terpisah.”

Tatapan tajam Lan membungkam Sua seketika. Ia cepat-cepat menambahkan, “Aku diam. Aku diam.”

Seusai makan, Nell menginformasikan kepada keduanya bahwa nonanya sudah bisa ditemui. Ia segera mengantar mereka ke ruang belakang.

Di koridor menuju ke ruang belakang, mereka berpapasan dengan lelaki penuh luka yang tadi melayani Lan dan Sua. Tanpa bisa dihindari, Lan kembali menatap lelaki itu, yang langsung dibalas dengan tatapan kosong, seolah jiwanya sudah tidak di tempatnya lagi. Setelah lelaki itu berlalu, Lan menoleh pada Nell. “Siapa pelayan baru itu?”

Nell hanya tersenyum. “Tidak biasanya Nona Lan menanyakan pelayan tempat ini. Apakah Nona penasaran karena dia tampak seperti orang timur?”

“Dia bukan orang timur?”

“Tidak, dia orang timur.” Nell diam sejenak, tatapannya sayu. “Namanya Zen. Nona Nulla menemukannya di kemah perbudakan tambang Liava. Nona pun membayar mahal untuk bisa membawa Zen ke Regal.”

“Tambang Liava? Dekat perbatasan Qin? Tapi, bukankah membawa budak dari Qin itu ilegal? Bagaimana pengurus tambang bisa menyelundupkan budak dari Qin?”

Nell mengangguk. “Tapi, Liava selalu punya cara untuk menyelundupkan budak dari berbagai tempat.”

“Tunggu, kalian tahu dari mana kalau dia orang Qin? Negeri-negeri timur tidak hanya Qin.”

Lan seketika menoleh pada Sua. Sebelah alisnya terangkat. Segera saja Sua merasa bodoh. “Ada yang kulewatkan?” tanya Sua kemudian.

“Zen adalah nama Qin.” Lan menoleh lagi pada Nell. “Tapi, Nulla bukan tipe orang yang akan mengambil resiko besar tanpa keuntungan yang besar. Apa yang membuatnya tertarik pada Zen?”

“Karena pengurus tambang mengatakan pada Nona bahwa namanya Zen. Hanya Zen.”

Lan terhenti, membuat Sua dan Nell juga ikut berhenti. Mata Lan melebar seketika. “Hanya Zen? Kau yakin, Nell?”

Nell tersenyum, lalu mengangguk.

“Memangnya kenapa kalau hanya Zen?”

Lan tak menjawab. Sua pun berpaling pada Nell. “Orang Qin selalu memiliki dua kata pada namanya. Nama marga, lalu diikuti namanya sendiri,” jelas Nell. “Siapa pun yang hanya memiliki satu kata pada namanya, itu artinya identitasnya dihilangkan. Hanya satu sebab kenapa hal itu bisa terjadi.”

“Apa itu?”

“Dia melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan dia menjadi musuh Qin.” Kali ini Lan yang menjawab. “Tapi, orang-orang seperti itu akan langsung dikenai hukuman penggal di tempat. Bagaimana dia bisa lolos dari hukuman Qin?”

“Jangan biarkan itu mempengaruhi Nona Lan,” kata Nell kemudian.

Lan seketika mengangkat wajah. Melihat sorot ramah mata Nell membuat perasaannya sedikit lebih ringan. Ia lantas mengangguk pelan. Mereka pun kembali berjalan.

Setelah sampai di depan sebuah pintu kayu yang cukup kecil, Sua menengok ke belakang, hanya untuk menyadari bahwa koridor yang tadi dilewatinya panjang sekali. Padahal, dari luar, bangunan ini tampak kecil. Sua tak menyangka kalau bagian dalamnya akan sepanjang ini. Ia kemudian berbalik, mengikuti Lan dan Nell yang sudah terlebih dulu masuk ke ruang belakang.

Ruangan itu kecil. Hanya ada sebuah lemari penuh buku-buku tua, sebuah kursi panjang, dan sepasang meja-kursi belajar di pojok ruangan—tempat Nulla tengah duduk membaca sebuah buku tua. Saat menyadari kehadiran Lan, Nulla segera menaruh buku tuanya dan bergegas menujunya. “Lan!” katanya senang.

Nulla berhenti tepat waktu begitu Lan mencabut belatinya. Maju sedikit lagi saja, mata belati Lan sudah akan menebas leher Nulla. Di belakang Lan, Sua membelalak panik, sementara Nell hanya menghela pendek lalu pamit untuk kembali ke ruang depan. Suara pintu menutup terdengar begitu Nell keluar dari ruangan itu.

“Berani memelukku, kau mati!”

“A—aku paham.” Peluh mulai mengucur di wajah Nulla. Ia hanya bisa tersenyum pasrah. “Tolong kausarungkan belatimu.”

Agak lama, situasi masih sama. Bahkan, Sua tak berani bergerak. Saat Sua mulai berpikir bahwa akan terjadi pertumpahan darah, Lan memasukkan belatinya ke sarung di pinggang kanannya.

“Kau dingin sekali, Lan. Padahal sudah setahun tak bertemu. Kalau begini terus, bisa timbul kerutan di wajah cantikmu itu. Kulitmu juga kasar. Kau tak pernah merawatnya, ya? Aduh, sebagai wanita, kau seharusnya menjaga baik-baik tubuh yang diberikan oleh Langit.” Lan hanya mendengus kesal mendengar ocehan Nulla. Nulla tak peduli. Ia kemudian meraih tangan Lan dan langsung mengernyit. Ia kembali tak peduli saat Lan menepisnya. “Tanganmu mengapal. Itulah sebabnya aku selalu mengingatkanmu untuk sebentar saja tidak memegang senjata. Lagi pula—”

“Hentikan ocehanmu. Langsung saja ke bisnis.”

“Aku bermaksud baik.”

“Ya, ya,” kata Lan sekenanya. “Yang penting sekarang, carikan aku seseorang.” Lan berpaling pada Sua. “Gadis ini juga ingin mencari seseorang.”

Nulla membelalak sewaktu melihat Sua. Ia baru menyadari ada orang lain selain dirinya dan Lan di ruangan itu. Ia beranjak menuju Sua, lalu mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nulla seketika tersenyum dan bergegas memeluk Sua. Karena terlalu terkejut, Sua membuat keduanya terjengkang. Nulla justru tersenyum makin lebar. “Astaga! Lan, dari mana kautemukan gadis selatan yang begini manis?”

“Kutemukan terkapar di Lubang Temu.”

Sua berusaha berontak, tapi Nulla makin erat memeluknya. “Maaf, Nona Nulla, a—aku masih normal.”

Mendengar itu, mata Nulla membulat. Tak lama, ia justru tertawa dan langsung melepaskan Sua. “Jangan khawatir. Aku juga masih tertarik pada laki-laki. Aku hanyalah pengagum gadis-gadis manis.”

“Pengagum?” kata Lan ketus. “Kau memperlakukan ‘gadis-gadis manis’ seperti para Roh. Itu namanya pemujaan, bukan kekaguman.”

Nulla memusatkan perhatiannya pada Sua, mengabaikan Lan. “Siapa namamu?”

“S—Sua.”

“Sua? Di daerah selatan, itu berarti api, kan? Kau pasti diberkahi Roh Api.”

“Umm, ma—majikanku yang sedang kucari juga mengatakan hal yang sama.”

“Kau sedang mencari majikanmu? Aduh, kau bawahan yang baik. Nah, sebagai promosi—apalagi untuk gadis manis sepertimu—akan kucarikan informasi tentangnya tanpa kau perlu membayar.”

“Benarkah? Terima kasih.”

Keduanya kemudian saling tersenyum. Sementara, Lan hanya menatap mereka dingin. “Aku juga tak perlu membayar, kan?”

Nulla segera berpaling pada Lan sambil melotot. “Kau harus bayar.”

“Kau masih berhutang padaku, Nulla. Kau tidak lupa dengan nasib buruk yang terjadi padaku di Kissen, kan? Meskipun itu kota kecil, tapi kau menghancurkannya dalam semalam, membuat aku yang kena getahnya.”

Nulla membuang muka. “Ka—kapan itu? A—aku tidak ingat.”

“Tujuh tahun lalu. Di misi pertamaku.”

“Oh, ya? Tapi, itu kan hanya kekacauan kecil.”

“Kekacauan kecil takkan membuat kepalaku nyaris dipenggal.”

Keduanya diam. Sua juga ikut diam, sambil melihat ngeri keduanya. Lama, akhirnya Nulla mengangguk lirih. “Y—ya sudah. Dasar pemeras.”

Sua mendesah lega, sementara Lan tersenyum penuh kemenangan. Nulla kemudian beranjak menuju kursi tempatnya tadi duduk. “Jadi, siapa yang kaucari? Yue? Elli?”

“Bukan.”

Nulla menengadah, menatap Lan tak percaya. “Bukan keduanya?”

“Bukan keduanya.”

“Atau, apakah yang kaucari itu … tuan putri yang sudah merenggut majikan kesayanganmu itu, Lan?”

Lan hanya diam. Tapi, api di matanya sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Nulla.

“Lan-ku memang cerdas,” lanjut Nulla senang. “Sekali tepuk, dua lalat kena. Daripada mencari Elli, memang jauh lebih mudah dengan cara ini. Yue dan Elli pasti berada tak jauh dari tuan putri itu.”

“Aku tak tertarik menemukan pengkhianat.”

“Apa kau tidak sedang berkhianat sekarang?”

Lan terbungkam. Ia tak bisa menyangkal. Kata-kata Zerua kembali menyentaknya. Tapi, sejak dulu—sejak janji di antara ia, Yue, dan kakaknya—prioritas utamanya adalah Yue. Tidak yang lain. Bahkan, tidak Klan Verellin. Lan menarik napas, memaksa udara masuk ke paru-parunya lebih cepat.

“Tak perlu banyak oceh lagi. Carikan saja informasi tentang keberadaan putri bungsu Klan Arinaz untukku.”

Nulla hanya mengangkat bahu, tapi itu sudah merupakan jawaban yang cukup bagi Lan. Tak lama, seseorang mencengkeram lengan Lan. Refleks, Lan berbalik untuk menepiskan tangannya. Di hadapannya, Sua menatapnya tajam.

“Hei, untuk apa kau mencari majikanku?”

“Apa?!” seru Lan dan Nulla bersamaan.

“Aku tanya sekali lagi,” sahut Sua dengan nada suara yang tak kalah tinggi. “Untuk apa kau mencari majikanku?”
 

Read previous post:  
54
points
(1719 words) posted by aocchi 7 years 27 weeks ago
67.5
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
80

...aku makin bingung sama kepribadiannya Lan, tapi itu mungkin cuma aku. Oh ya, bagian akhirnya itu lumayan bikin kaget.

*lanjut*

80

Aaa... Ternyata ceritanya udah sampai bagian sebelas. >__<
Aku mampir baca-baca aja ya, Ao.
.
Eh, tapi. Maksud komentar Yua soal cara makan Lan itu, aneh apanya sih? ^^a *gak penting*

60

Ini masukan dari saya sih :
1) Chapter/bab ini terlalu boros dialog. Aku ngerasa ada beberapa bagian yang lebih manis kalau minim dialog : bagian makan dan awal pertemuan dengan Nulla. Kalo menurutku sih dialognya dikurangi. Lebih penceritaan suasana.

2) Ada beberapa kata yang menurutku kurang pas. Seperti pada bagian awal 'tergerogoti' apa tidak mending diganti 'keropos'?

*catet untuk bahan revisi*
sankyuu XD

80

aku numpang lewat aja ya
*permisii*

80

Sa-saya jadi kepo... Tapi unyu *plak
Gak ada cabe, penutupnya bagus. Lanjuuuuut

kau selalu jadi sosok dengan keingintahuan besar di mata saya, ling 'er <3

90

i love this story... bakal gw tungguin terus lanjutannyaaaa....

sankyuu, zenocta :3