Ku Mohon Menangislah Saphire!

Musik masih berdentum teratur di telingaku. Lagu-lagu bertempo cepat sengaja kuputar di iPod milikku untuk meredam suara Pak Firman. Beliau masih sibuk menceramahiku dan tak melihat earphone terpasang di telingaku, di balik penutup kepala hoodie yang kukenakan. Setelah selesai memberi wejangan dan peringatan supaya tidak terlambat lagi beliau menyuruhku langsung masuk ke dalam kelas.

Aku masuk ke kelas dengan malas. Pelajaran fisika membuatku bosan apalagi di sebelahku duduk seorang gadis berisik. Kelasku menggunakan sistem undian untuk menentukan pasangan duduk dan minggu ini aku mendapat undian duduk dengan gadis yang berisik. Dia heboh bertanya kesana kemari tentang materi yang sedang dibahas sedangkan aku lebih senang dia diam dan membiarkanku tidur dengan tenang.

Aku terlalu malas menghafal nama teman-teman sekolahku terutama perempuan. Kalau tidak salah gadis di sebelahku ini bernama Saphire. Ku rasa nama itu terlalu bagus untuknya.

“Brian.”

Tiba-tiba dia memanggilku. Aku menoleh tajam ke arahnya.

“Kamu tau jawaban nomor sembilan? Aku belum paham,” katanya dengan tersenyum.

“Ini baca sendiri,” kataku malas sambil menyodorkan buku catatanku. Aku sedang tidak ingin melakukan apa pun sekarang.

“Terima kasih Brian,” katanya kemudian membaca catatanku dengan serius. Aku tak terlalu peduli apa dia berterima kasih atau tidak, yang aku inginkan hanyalah tidur untuk sebentar saja.

“Mohon maaf kepada bapak dan ibu guru yang sedang mengajar. Panggilan kepada siswi XI IPA D Saphire Annelisa Suherman harap ke ruangan guru sekarang,” suara dari pengeras suara membuat seisi kelas hening sejenak. Gadis di sampingku yang dipanggil. Apa yang diperbuat gadis seperti dia hingga di panggil dengan cara seperti ini – menggunakan pengeras suara – yang bahkan anak nakal seperti Edo saja dipanggil guru langsung di kelas tanpa harus menggunakan perngeras suara.

Setelah mendapat izin dari Pak Anto guru fisika kami dia pun meninggalkan kelas. Kuakui gadis itu, maksudku Saphire cukup manis, dia tidak tinggi, pendek malah, memiliki rambut hitam panjang yang sering sekali dia ikat seperti ekor kuda, kulitnya putih bersih ditambah lagi dia itu sering tersenyum mungkin bisa dibilang selalu tersenyum pada semua orang di sekolah ini. Tapi aku tidak tertarik dengan gadis itu bahkan mungkin semua gadis di sekolah ini. Mereka semua berisik, selalu bergosip. Aku heran apa yang mereka dapat setelah bergosip seperti itu.

***

Akhirnya aku bisa tidur di kelas dengan tenang. Aku duduk di barisan belakang jadi tak ada guru yang terlalu memperhatikanku dan gadis di sampingku tidak kembali ke kelas setelah di panggil ke ruang guru.

Sesaat setelah bel istirahat berbunyi aku melihatnya dari kantin, dia sedang berjalan ke dalam kelas dan begitu dia keluar dia sudah membawa tasnya kemudian bergegas pergi. Aku tidak tahu apa yang tejadi dan tidak mau tahu.

***

Sudah hampir seminggu sejak gadis itu dipanggil ke ruang guru dan dia belum masuk sekolah lagi. Hari ini pun dia juga tidak masuk dan membuatku harus duduk sendiri. Bukannya aku merindukannya tapi aku tidak bisa bangun pagi dan selalu terlambat ke sekolah jadi saat dia tidak masuk aku selalu mendapat tempat duduk terdepan, itu membuatku tidak bisa tidur saat jam pelajaran.

Ku dengar dari teman-teman yang lain, dia dipanggil karena kedua orang tuanya meninggal saat terjadi kecelakaan pesawat. Kalau tidak salah ayahnya seorang  pilot dan ibunya pramugari, mereka bekerja di perusahaan transportasi yang sama. Kasian sekali dia, dia anak tunggal jadi tidak memiliki seorang saudara pun di rumah.

Aku sedang dalam perjalanan ke rumah. Tadi saat di tempat kerja sambilan, bunda meneleponku dan mengharuskanku makan malam di rumah karena ada satu hal yang harus dibicarakan. Karena hal itu hari ini aku tidak makan di tempat kerja seperti biasa.

Aku memarkirkan motor maticku di samping mobil keluaran lama milik bunda. Keluargaku bukan keluarga kaya. Ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu saat bekerja di tambang. Dan itu membuat bunda harus kembali bekerja menjadi guru di sekolah dasar demi menghidupi dirinya, aku dan adikku Samudra. Aku bekerja sambilan di sebuah restoran keluarga untuk membantu bunda. Aku bersyukur masih ada rumah peninggalan ayah, meski tidak terlalu besar tapi setidaknya kami punya tempat untuk pulang.

Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Aku mendengar bunda, Samudra dan suara seorang gadis - yang sepertinya pernah kudengar- menjawab salamku dari arah ruang makan. Aku bergegas ke kamar untuk mandi dan menyusul ke ruang makan. Dan saat tiba di sana, betapa terkejutnya aku. Kenapa Saphire ada di rumahku sedangkan dia sudah satu minggu tidak masuk sekolah?

“Brillian, kenapa bengong di situ?” tanya bunda yang membuatku tersadar dari keterkejutanku.

“Ih kak Brian tampangnya bloon gitu,” sahut Samudra diikuti tawa dari seisi ruang makan termasuk Saphire. Gadis itu bisa tertawa lepas setelah apa yang terjadi padanya?

Aku berjalan ke arah kursiku, saat melewati kursi Samudra ku sempatkan untuk memukul kepalanya pelan berharap bisa menggeser sedikit otaknya yang tidak waras karena berani mengataiku bloon di depan teman sekolahku. Adik laki-lakiku ini adalah kebanggaan keluarga, dia sangat berprestasi. Dua kali dia lompat kelas, sekarang dia sudah duduk di bangku kelas X SMA, di SMA yang berbeda denganku tentunya. Selain pintar dia juga anak baik tapi terkadang dia bisa sangat menyebalkan.

Semua sudah berkumpul di meja makan. Meski aku penasaran mengapa Saphire bisa berada di rumahku, tapi aku tahu tidak baik berbicara saat makan. Toh bunda pasti akan cerita padaku nanti. Entah kenapa, saat acara makan malam berlangsung aku terus memandangi gadis itu lekat-lekat berusaha mencari kesedihan di wajahnya atau sekedar bekas air mata tapi tak kutemukan yang kucari.

Dulu saat ayah meninggal kami sangat terpukul. Bunda terus menangis selama pemakaman, aku diam tak bisa berkata apapun, Samudra lebih parah, saking terpukulnya dia tidak mau ikut ke pemakaman dan mengurung diri di kamar ayah dan bunda sehari penuh. Bunda harus mencari kunci cadangan dan memaksa Samudra keluar dari kamar. Meski sudah keluar dari kamar, Samudra terus memeluk foto ayah saat tidur bahkan sampai beberapa bulan setelah ayah meninggal. Aku tau sangat berat untuk Samudra melepas ayah. Berbeda denganku, dia lebih dekat dengan ayah daripada bunda.

“Brillian, kamu sudah kenal Fira kan?” tanya bunda begitu kami semua selesai makan. Aku hanya mengangguk membalas pertanyaan bunda.

“Kalian satu sekolah, pasti kamu sudah tau  tentang orang tua Fira.”

Ketika bunda mengatakan itu kulihat Fira tetap memasang wajah yang sama tanpa rasa sedih tersirat di sana.

“Orang tua Fira adalah teman lama bunda, keluarganya yang lain berada jauh di luar pulau maka dari itu Fira akan tinggal di sini dan bunda akan jadi walinya.”

Mendengar ucapan bunda itu sontak membuatku kaget. Bagaimana mungkin bunda memasukkan satu anggota keluarga lain padahal untuk menghidupi tiga orang dalam keluarga ini saja bunda dan aku harus berusaha keras?

“Bunda. Apa bunda benar-benar sudah memikirkan semuanya? Bunda mau jadi wali anak ini? Dia akan tinggal di sini?” kataku terlampau ketus. Aku tidak habis pikir, dia anak orang kaya, tidak akan jadi masalah kan dia tinggal sendirian di rumah mewahnya. Lagipula dia tidak benar-benar sendirian, pasti dia punya pembantu yang mengurusnya setiap saat.

Aku benar-benar heran dengan bundaku kenapa dia begitu baik. Anak teman lama? Aku bahkan tak pernah bertemu teman lamanya itu.

Setelah ucapanku tadi bunda hanya menatapku dengan pandangan sendu seolah memintaku untuk mengerti keadaan ini.

“Seharusnya bunda bicarakan dulu padaku sebelum membawa penghuni baru ke rumah ini,” kataku yang langsung meninggalkan tempat itu dan berjalan ke kamar.

Sekilas ku lihat Saphire cukup terkejut dengan kejadian barusan dan Samudra hanya bisa diam tak berani memihak siapa pun.

Bukannya aku tak suka bunda membantunya tapi menghidupi empat orang dalam keluarga tidaklah mudah. Apalagi Samudra bersekolah di SMA terbaik di kota ini yang biayanya pun tidak murah. Aku juga harus bekerja sambilan di dua tempat sekaligus untuk menutupi biaya sekolahku sendiri dan membantu biaya sekolah Samudra. Sekarang kami harus menambah satu anggota keluarga lagi?

Tak begitu lama bunda mengetuk pintu kamarku. Karena tak kunjung ku jawab akhirnya beliau membuka pintu dan masuk ke dalam. Bunda sudah tau kebiasaanku jika sedang marah. Aku tak mungkin membukakan pintu kamarku kepada siapa pun saat aku sedang marah.

Bunda berjalan masuk dan duduk di tempat tidur single milikku.

“Brian, bunda mau cerita.”

Setelah perasaanku sedikit tenang aku duduk di sebelah bunda.

“Dulu keluarga bunda mempunyai satu restoran keluarga. Bunda hidup lebih dari cukup. Sejak kecil bunda berteman baik dengan Rida, mamanya Fira. Kami selalu bersekolah di tempat yang sama. Bahkan saat orang tua Rida pindah keluar kota dia lebih memilih kost dan tetap sekolah bersama bunda. Suatu hari restoran keluarga bunda terbakar habis, kakek dan nenekmu meninggal di tempat kejadian. Sejak saat itu bunda tak punya siapa-siapa dan Rida memberi bunda tempat tinggal, di kamar kost miliknya. Keluarga Rida pula yang menyekolahkan bunda hingga lulus sarjana. Bunda pikir inilah saatnya bunda untuk balas budi. Jadi apapun keputusanmu bunda tidak akan menyuruh Fira pergi dari rumah ini.”

Setelah menceritakan itu bunda keluar dari kamarku dan tidak berkata apa-apa lagi.

Aku tak pernah tau cerita masa lalu bunda itu. Aku hanya tau kalau kakek dan nenekku sudah meninggal bahkan sebelum bunda menikah dengan ayah. Jadi ini alasan bunda. Mungkin aku memang harus mendukung bunda.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 27 weeks ago)
80

datang menepati janji.
ini starnya sayang~xD

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 27 weeks ago)

makasii kak :D

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 27 weeks ago)
80

datang menepati janji.
ini starnya sayang~xD

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

Sebelumnya mau minta maaf dulu krn belum bisa ngasih star, lagi OL di hp, tapi nnti starnya pasti nyusul kok, ok? :)
Judulnya bikin saya penasaran tapi pas udah baca nyampe terakhir saya belum nemuin nemuin yg saya cari. Hoho
Tapi lanjutin dulu deh~xD

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

iyaa :D makasih udah mampir baca :D

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)
80

dhesi, kenapa kamu pakai deskripsiku di ceritamu? aku kan maluu :$ #pedeselangit
*
ini bagus loh. brian mengingatkanku pada seseorang :|
*
betewe errrr ini aku yang lemot atau apa yak -_- tapi aku butuh beberapa kali buat baca paragraf panjang di atas sana itu. karena nggak ada komanya -____-"

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

deskripsi mana? :o kok kayaknya gk ada aku mendiskripsikanmu :o
brian gak mengingatkanmu sama m****** kan?
paragaraf yang mana ya Ang? :o

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

emang nggak ada sih aku cuma gawe-gawe .___.
sebetulnya semua hal memang mengingatkanku padanya (/u\) #eyaaaa #thepoweroflove(?)
.
contohnya kalimat ini lhooo.
"Semua sudah berkumpul di meja makan, meski aku penasaran Saphire bisa berada di rumahku tapi aku tahu tidak baik berbicara saat makan toh bunda pasti akan cerita padaku nanti."
.
Apa nggak lebih bagus kalau jadi 'Semua sudah berkumpul di meja makan. Meski aku penasaran mengapa Saphire bisa berada di rumahku, tapi aku tahu tidak baik berbicara saat makan. Toh bunda pasti akan cerita padaku nanti.'
.
Kalau menurutku sih bagusan gitu. Lebih pas bagi kaum yang ehemmm.... processor-nya masih intel pentium kayak aku .___.

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

iyadeh yang lagi jatuh cinta :o
baiklah nggit aku akan perbaiki ^__^ terima kasih masukannya._. HORAS!!

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

cinta eneeeeh kadang-kadang tak ada logikaaaa (?)
sama-sama, anak muda. HORRRRRASSSSSS!!!!
betewe buruan lanjutin yak ._.

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

kamu sudah penasaran apa gimana? udah ada sedikit tambahan kok tunggu aja._.

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

iyaaa pokoknya buruaan ._.

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

iyaa baiklah._.

Writer hnindhaprdp
hnindhaprdp at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)
80

Baguuus! Ku tunggu lanjutan ceritanya Dhes;)
Aku penasaran kenapa judulnya bisa gitu hehehe._.v

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 28 weeks ago)

makasii nin udah baca :D

Writer herjuno
herjuno at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 29 weeks ago)
80

Bersambung?
Well, belum bisa ngomong banyak, tapi trope ini sepertinya menjanjikan (meski cukup banyak dipakai).

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 29 weeks ago)

iya :D aku akan coba buat beda :o

90

oh, saya pikir judulnya nggak cocok ama isinya, ternyata cerita bersambung ya?
jadi di sini Brian sudah melunakkah?
lanjutin aja dulu.
semangat!

Writer dhesiptr
dhesiptr at Ku Mohon Menangislah Saphire! (7 years 29 weeks ago)

iya bersambung :) mungkin.. tunggu aja ya lanjutannya :D