Lari!

Cepat, cepat, cepat!!

 

Kataku dalam hati, memerintahkan kaki ini untuk terus melangkah cepat, berlari, tanpa mengenal lelah, meski tubuh telah basah karena keringat. Sekarang pilihannya hanya dua, lari atau mati.

 

Sambil berlari, sesekali aku menengok ke belakang, sambil berharap makhluk berkaki empat itu tidak mengejarku lagi. Namun harapan tetaplah harapan, begitu kutengokkan kepala, hewan itu memandangiku dengan tatapannya yang tajam, dan tidak ada tanda-tanda untuk berhenti mengejar di kedua bola matanya yang bersinar. Aku makin mempercepat langkah kakiku yang sudah mulai kelelahan, ditambah lagi deru nafasku yang sudah mulai tak beraturan.

 

Aku harus bagaimana? Aku tetap berlari, melewati pohon, melompati sungai, menyebrangi lapangan rumput yang luas, tapi masih saja hewan buas itu mengejarku. Mungkin harus kubilang monster, karena ukurannya lumayan besar. Di saat seperti ini otakku seperti kehilangan fungsinya untuk berpikir. Hingga saat ini aku belum memiliki jalan keluar dari keadaan menegangkan ini, yang ada hanya ingatan ketika teman-teman meninggalkanku sendirian di tengah kebun teh saat acara uji nyali malam ini. Aku ingat saat mereka menatapku dari kejauhan sambil berkata, “Selamat jalan, Nue,” dan kemudian pergi berlalu ke arah villa. Tega sekali mereka meninggalkan seorang wanita sendirian di kebun teh, malam-malam pula.

 

Tentu saja aku tidak tinggal diam. Saat ingin kukejar mereka, terdengar suara  daun-daun yang bergerak. Kuabaikan itu sampai kulihat adanya pergerakan tidak jauh di depanku. Antara takut dan memberanikan diri, kudekati asalah pergerakan tadi dan tiba-tiba saja makhluk itu melompat ke arahku. Makhluk itu berbulu hitam lebat yang membuatnya sanggup bersembunyi di gelapnya malam. Keempat kaki gemuknya yang disertai kuku-kuku tajam kuyakini bisa mencabik-cabik mangsanya dengan mudah. Telinganya yang cukup lebar sanggup mendengar suara bisikan yang ada di kejauhan. Hidungnya yang berwarna pink berfungsi untuk mengendus mangsanya meski ia sudah bersembunyi di tempat yang tak terjangkau. Belum lagi bola matanya yang bersinar, aku tidak tahu apakah memang bersinar atau hanya memantulkan sinar, tapi aku tidak memedulikan itu dan langsung berlari sekuat tenaga dari kejaran makhluk mengerikan itu.

Yang seperti ini mungkin baru yang benar-benar namanya “uji nyali”. Aku ketakutan, jantungku berpacu cepat seiring dengan pergerakan kakiku yang juga semakin cepat, nafas terengah-engah, keringat yang membasahi sekujur tubuh meski udara puncak malam ini sangat dingin, kaki yang semakin pegal, rambut panjangku yang lupa diikat beberapa kali menghalangi pandangan, belum lagi senter yang baterainya sudah hampir habis. Aku terus berlari menuju ke arah villa sesuai dengan ingatanku.

 

Salah memang jika berlari ke villa dengan makhluk mengerikan yang terus mengejarku sejak tadi, tapi tidak ada pilihan lain. Setidaknya di villa aku bisa menemukan orang dan meminta pertolongan.

 

Sekali lagi kulihat ke belakang. Kali ini makhluk itu tidak ada. Saat kupastikan kalau makhluk itu benar-benar tidak ada, aku menghentikan langkah. Aku bersandar di sebuah pohon dan berjongkok. Lelah, aku mengatur nafas dan beristirahat.

 

Untunglah, aku aman sekarang.

 

Tapi tidak untuk waktu yang lama. Baru sebentar aku mengatur nafas, kulihat makhluk serupa, yang kali ini berbulu putih lebat, berlari kencang ke arahku, mata hitamnya benar-benar menatapku dengan tajam dan segera ingin memangsaku. Sontak aku langsung kembali berlari ke arah villa yang sudah tidak jauh lagi.

 

Sekitar 200 meter dari tempatku berada sekarang, aku melihat ada seseorang di depan villa. Aku selamat, kataku dalam hati. Kupercepat langkah kakiku sambil memastikan kalau memang makhluk itu masih mengejarku. Dan begitu jarak villa sudah semakin dekat dan aku tahu siapa yang berdiri di sana, aku langsung berteriak, “Basofi!!! Tolong aku, Basofi!!!”

 

Basofi menoleh ke arahku, dan tanpa komentar panjang ia langsung tertawa terpingkal-pingkal dalam posisi berdirinya.

 

“Ya Allah, Nue, sama kucing aja takut.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dansou
dansou at Lari! (2 years 29 weeks ago)
100

Hooo... twist-nya, sih, oke. Kalau endingnya emang begitu, saya bisa mengampuni suasana yang kurang ngethrill yang kau bangun dalam cerita ini. Kalau kau lebih membangun suasana thrill di cerita ini, itu keren!

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Lari! (2 years 29 weeks ago)

Haha, maklum, masih belajar, ga pernah bikin cerita thriller. :)

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Lari! (2 years 29 weeks ago)
90

ahahahahaha, bagus juga twistnya.
Nue itu siapa hayo?

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Lari! (2 years 29 weeks ago)

"twist" itu apa ya?
Maaf, saya baru belajar nulis cerita. :)
Nue itu temen sekelas. Nama lengkapnya Nuri Safarina, biasa dipanggil Nue.

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Lari! (2 years 29 weeks ago)

hm, twist itu seperti... aduh apa ya.
seperti penyelesaian tak terduga. ada dalam spoof klo pelajaran bahasa Inggris. itu setahu saya

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Lari! (2 years 29 weeks ago)

Oh, gitu, okey, besok-besok mesti belajar lagi.
Makasih, kakak. :D