Cerpen EAT 2011 - Rencana Yang Tersisa

Enggak!! Tolong!! Tolong! Ayo pergi dari sini! Cepat pergi dari sini! Cepat! Aku enggak mau ada di sini! Enggak! Tolong!

‘Toloooong!!’ Hahh.. hh..

Aku melangkah menuruni tangga dengan kaki yang masih gemetar. Sesampainya di dapur, segera kutuang air dingin ke dalam gelas dan kureguk banyak-banyak. Jantungku masih berdegup kencang. Bulir-bulir keringat dingin mengalir dari ujung pelipis.

Entah ini mimpi ke berapa yang menghantuiku setelah kejadian malam itu. Malam yang tak terlupakan. Malam di mana ia menodongkan pisau tepat ke hadapanmu. Hanya beberapa inci lagi dan kau mungkin saja kehilangan nyawamu. Jika emosiku stabil, jika aku tidak kalap.

Aku ingat bagaimana aku malam itu. Hingga terasa ada sensasi yang membuatku antara sadar dan tidak, seolah-olah seleruh darahku mengalir naik memenuhi isi kepalaku. Aku menjerit seperti orang kerasukan. Berlari di tengah rintik hujan. Bahkan dinginnya malam tak mampu menembus kesadaranku. Padahal, saat itu aku hanya mengenakan baju terusan batik tipis dengan lengan tiga perempat. Dan kau menarik tanganku, mendekapku yang tengah berlari ke jalanan. Aku ingat dekapan eratmu yang mencoba tenangkan ku, Sou. Malam itu, yang terasa hanya ketakutan. Dan aku ingin pergi dari sana. Dari rumah itu.

Mungkin malam itu tidak akan pernah terjadi seandainya aku diam. Jika aku tak angkat bicara. Tapi aku tahu bagaimana kondisi perekonomian orang tuaku saat itu. Dimana gaji yang diterima Bapak hanya cukup untuk makan sehari-hari, tanpa membekali kami, anak-anaknya, sekolah ataupun hidup –aku dan kakakku memang sudah lama tidak tinggal dengan orang tua kandung, melainkan bersama kerabat dari mama, orang tua asuh kami. Hingga beberapa bulan sebelum kejadian itu aku terpikir untuk memutuskan kembali tinggal bersama mereka– hanya untuk makan, keperluan mandi, dan bayar tagihan listrik, itu pun harus sedikit mencongkel uang yang ditabung mama untuk menambahkan kurangnya.

Dan aku tidak mungkin tega membiarkan begitu banyak uang di keluarkan hanya untuk selembar tulisan. Selembar iklan penjualan rumah yang setelah jadi, Bapak bilang kurang ini itu, begini dan begitu. Bukannya tidak kuperbolehkan memakai jasa desainer yang bayarannya Rp.75.000 /hari dengan berkali-kali minta direvisi seperti itu, tapi lihat juga kondisi keuangan yang sedang melilit saat itu. Padahal laku tidaknya rumah yang dijual bukan dari iklan. Mungkin iya, kalau yang dijualnya suatu produk lain yang bukan hunian, orang akan lebih tertarik pertama kali setelah melihat iklannya, kalaupun rumah juga rumah mewah, hotel atau apartemen yang menarik perhatian konsumen. Orang pasti lihat lokasi dan kondisi rumah yang nyata untuk dihuni, terlebih daerah rumah orang tuaku memang rawan banjir. Terlalu boros, menurutku. Aku hanya menyarankan jalan tercepat dan terhemat dengan membayar jasa-jasa percetakan yang biasa orang pakai pada umumnya. Dengan sekali revisi, tidak lebih dari sepuluh ribu juga selesai. Tapi dia salah mengerti, Bapakku. Entah apa yang membuatnya salah mengartikan. Jelas yang kutangkap dari kemarahannya tidak ada satupun kata yang berkenaan dengan apa yang tengah di bahas. Dan dia menodongkan pisau itu ke arahmu dengan menumpahkan segalanya padaku. ‘semuanya gara-gara kamu!’ begitu katanya padaku. Kenapa aku? Aku bingung mencari-cari letak kesalahanku sendiri. Dari sana aku histeris, tak terkontrol.

Aku senang kau menemaniku sepanjang malam itu, Sou. Aku benci Bapakku. Sikapnya, pikirannya.. aku benci dia.

Dan hari berikutnya, kau juga pasti ingat, saat di mana kita terhalang untuk saling bicara, bahkan untuk bertatap sekalipun. Sepuluh hari pertama di rumah sakit itu, peraturan membuatku tersekat dengan orang-orang di luaran sana. Tidak ada jam besuk bagi pasien baru. Betapa itu sungguh sangat menyiksamu, juga aku. Aku tahu, kau sungguh-sungguh saat mengatakan kau inginkan aku di sisi mu. Aku terharu, Sou. Tapi inilah aku, dengan kinerja otak yang kacau. Ketidak-stabilan emosi. Tempat ini menjadi bukti jelas yang menampakkan kerapuhan jiwaku.

Kupikir aku punya tempat bicara kali itu, Psikiatri yang menanganiku. Tapi rupanya tidak, setelah ia meragukan apa-apa yang kuceritakan telah menimpaku. Dia menganggap itu bohong. Sungguh itu menyakitkan, Sou. Seperti kau hendak dibunuh tetapi orang-orang menghakimi mu hingga babak belur. Tidak ada yang percaya padaku, selain kamu. Dan aku sangat takut kehilanganmu setelah kau bilang dengan amat yakin bahwa kau terkena penyakit yang belum ada obatnya. Dan ketika aku memintamu untuk pergi ke dokter, kau tak indahkan kata-kataku itu. Padahal itu belum tentu benar. Kalau kau memang benar terkena HIV, dan kau takut aku akan membencimu, kau salah. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sedang diriku sendiri membutuhkanmu? Aku hanya peduli kamu, Sou. Aku tahu kau takut. Aku pun merasa hal yang sama. Tapi aku lebih takut kehilanganmu daripada menjauhimu hanya karena kau sakit dan bukannya kutolong atau sekadar kusemangati seperti kau yang menyemangatiku. Aku ingin kamu, Sou, orang yang dengan tulus mencintaiku apa adanya.

Tujuh bulan berlalu sejak kejadian itu. Tapi mimpi-mimpi itu terkadang kembali menghantui di saat jiwaku lemah, seperti saat ini. Mimpi itu hadir kembali. Dan satu-satunya yang kubutuhkan saat ini hanyalah tetap terjaga jika tidur hanya akan membawaku pada mimpi buruk itu lagi. Aku tidak ingin memejamkan mata, Sou. Tidak, jika tanpamu.

Setiap pertemuanku dengan Bapak, tak pernah sekalipun kutatap matanya setelah kejadian itu. Aku amat membencinya. Aku ingin dia pergi. Atau aku yang harus pergi? Aku tak ingin melihatnya. Hal-hal yang teringat tentangnya hanyalah keegoisan, ancaman, kepedihan. Tak ada satu hal pun yang dapat membuatku luluh lantas memaafkannya. Tidak ada. Setiap malam, hanya ada ketakutan yang menyelimutiku, menyelinap ke sudut-sudut mimpiku.

Aku ingat bagaimana aku kecil yang merengek ketika mama hendak kerja atau kakakku yang hendak pergi ke sekolah. Aku tak ingin bersama bapak. Aku tak ingin sendirian bersamanya. Aku gelisah. Dan aku ingat bagaimana dia mengurusku seperti hewan, bukan sebagai anaknya. Aku yang hendak di masukkan ke dalam lemari, aku yang dia ikatkan kedua tanganku pada ujung ranjang saat jam makan, aku yang ditinggalkannya pergi mengadu ayam bersama temannya. Aku bahkan belum belajar baca-tulis saat itu. Terlalu kecil, terlalu rapuh, dan aku sendirian. Aku ingat pukulan-pukulan serta ancaman-ancaman yang ia tujukan padaku, pada kakakku, juga pada mamaku.

Aku benci karena dia membuatku lelah dengan semua ini. Hidup ini. Aku benci berpura-pura manis di depannya seperti yang dilakukan mama. Aku tidak bisa berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja. Aku ingin mendapatkan hakku sebagai seorang anak, sebagai manusia, tanpa jajahan. Dia tidak berhak untuk berada dalam hidupku setelah apa-apa yang ia perbuat kepadaku.

Sekarang tahun sudah berganti. Dan aku ingin hidupku penuh dengan senyuman yang tulus. Kebahagiaan tanpa ketakutan yang sama. Sou, kau bilang, kau ingin segera mempersuntingku. Aku senang mendengarnya. Akupun inginkan hal itu. Lalu kita merencanakan semuanya bersama. Kita persiapkan segalanya bersama. Kartu undangan, dekorasi, menu makanan pernikahan, rumah, membuka usaha setelah menikah, semuanya terencana dengan baik. Kau dan aku. Tapi ada satu rencana besar yang tak kauketahui, Sou. Rencana untuk kebahagiaan kita, ketenangan kita, Rencanaku. Jika selama ini aku hidup dalam ketakutan, di bawah ancamannya membunuhku atau mamaku, sekarang tidak akan lagi. Tidak lagi, Sou. Aku tak ingin ia hadir dalam acara pernikahan kita. Aku tak ingin ia menjadi momok dalam kehidupan kita yang seharusnya bahagia. Tanpanya.

Akhirnya hari ini pun tiba. Hari yang telah lama kita nanti-nantikan. Di tengah hiruk pikuknya persiapan, make-up, dan segala macamnya, ada senyum kelegaan dalam hatiku. Orang itu tidak akan datang. Dia takkan bisa mengusikku lagi. Selamanya.

Mama menginap di sini jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan, sedang Bapak ditinggalnya di rumah lama. Ku lihat mama berulang kali mencoba menghubungi bapak lewat telepon genggamnya. Tapi tak ada hasil. Tak ada jawaban atau sekadar panggilan diangkat. Akhirnya wali diwakilkan oleh kakak ipar laki-laki dari mamaku, orang tua asuhku.

Aku senang karena semua berjalan sesuai dengan yang ku harapkan.

Hingga seminggu kemudian mama kembali pulang ke rumah lama. Tidak ada sesiapa di sana. Aku tahu, mama tidak akan bisa menemukan dia, karena semua telah terencana. Aku tahu mama akan mencari Bapak, menghubungi nomor handphone-nya berkali-kali. Aku ingat untuk tidakk memindahkan atau menyentuh handphone keparat itu dari kursi kamar depan. Dan pasti mama tahu ada yang tidak beres. Tapi satu yang tidak terpikirkan olehku, besarnya cinta mama pada suaminya itu, Bapakku. Aku salah perhitungan, terlalu besar. Satu yang terjadi tanpa ada dalam daftar rencanaku, mama bunuh diri.

Maafkan aku, ma. Andai aku tidak nekat singgah ke rumah lama dan mencabik-cabik tubuh bapak dengan gergaji pada malam persiapan pernikahanku.. jika aku tidak membagi bagian tubuhnya untuk di makan anjing-anjing tetangga yang ditinggal lama majikannya hingga kelaparan seperti itu, mungkin kau tidak akan meninggalkanku dengan cara seperti ini. Tapi itulah satu-satunya cara agar aku bisa merasakan ketenangan jiwa, ma. Dan aku tahu bagaimana detektif atau polisi mencari jejak pelaku. Sudah kupelajari. Bapak biasa menyimpan perkakas-perkakasnya di tempat yang dapat dijamah siapa saja. Dengan kata lain, siapapun penghuni di rumah itu sempat memegangnya, entah itu dipakai membunuh atau sekadar membantu bapak membawakan perkakas yang ia minta saat membetulkan peralatan rumah tangga, dan aku tahu sarung tangan karet tepat untukku. Sehingga, gergaji yang sudah kucuci dengan karbol itu takkan menjadi bukti, serta sekembalinya aku sebelum dini hari takkan mengundang kecurigaan adanya hubunganku dengan peristiwa hilangnya bapak. Mama bisa saja menduga kalau bapak pergi ke tempat anaknya –yang entah dari istri yang mana– di satu kota yang terkenal dengan pemandian air panasnya. Dan mungkin karena dugaan itulah akhirnya aku kehilangan mama.

Aku rindu mama.

Bolehkan aku menyusulnya, Sou?

Read previous post:  
Read next post:  
70

Emak Gue lagi sibug. ngapain nyariin Emak Gue di Kota Tjirebon? naksir gue yak? #gagalpaham
ck ck ck. maka dari itoe Anak Moeda. djanganlah kebanyaken BBM Bobok Bobok Manis. ntar gag bisa bedain MIMPI dan kenyataan...
#np Ayah Pidi Baiq - Jatinangor HoHo (jatinenjer, tanah Kampus Eikeu: KIMIA FMIPA UnPat Unipersitas Patjaran #eh Patdjadjaran)

100

hmmm...
tokohnya terkesan lebih menjelma menjadi narator daripada sebagai peran yang bergerak dalam cerita ini. dan, meskipun ia runut bercerita, saia malah ngerasa sedikit bosen. ehehehe. mungkin, saia terlalu berharap. ahak hak hak.
tapi, semoga menang dah!
ahak hak hak

salam super #halah

itulah sebabnya ....................
....membosankan T_T

makasih sudah berkunjung, bang, ada satu post yang mau minta tolong delete in donk. ini --> http://www.kemudian.com/node/261879

80

kereeen

terima kasih atas kunjungannya
^^
hehe

80

Saya ga tau ada yang berubah ato engga, tapi ngebaca ini untuk kedua kalinya menyenangkan dan kesan twistnya dapet. Sepertinya ada yang kauubah di bagian terakhir ya?
.
Lanjut baca cerita yang kedua untuk lebih memahami. :)

maybe :)
thank, y, om.. (untuk yang ke dua kali nya juga) :D