Cerpen EAT 2011 - Kenangan dari Hujan Deras di Malam Hari

 

1

Pintu ditutup. Dokumen bertumpuk di atas meja. Di sebelahnya, cangkir masih mengepulkan uap beraroma kopi.

Pria di meja tersebut sedang mengerjakan sesuatu dengan dokumen di hadapannya. Perhatiannya teralihkan pada telepon yang berdering. Diangkat. Diam mendengar penelepon. Ditutup. Dokumen dimasukan ke dalam tas. Jaket dipakai. Ruangan ditinggalkan. Berpapasan dengan seseorang. Mengatakan alasan dia berlaku demikian.

Minyak dalam wajan mulai mendidih. Rempah-rempah dicincang di atas talenan. Perempuan yang telah mencincang rempah-rempah memasukannya ke dalam wajan. Terdengar teriakan. Pergi dari dapur. Lari ke satu kamar. Perempuang mengerang kesakitan di atas kasur. Bunting. Mengambil tas dari lemari. Memasukan banyak hal. Meraih telepon. Memesan taksi. Tekan nomor lain. Menyuruh bertemu di bidan. Tercium bau gosong. Lari ke dapur. Matikan kompor. Kembali ke kamar. Membantu yang bunting berjalan ke teras. Taksi tiba. Mereka berangkat.

Gerimis basahi bumi. Langit makin gelap. Suara mesin menderu. Salip sana salip sini. Tiba di bidan. Tubuhnya kebasahan. Berlari di lorong. Melihat istrinya dimasukan ke dalam ruang bersalin. Ikut masuk. Mengaku sebagai suaminya. Pegangi tangan istrinya. Deru nafas menekan. Cengkraman tangan makin kuat. Terdengar tangisan bayi.

 

2

Entahlah. Aku kira semua yang telah berlalu sudah selesai dan yang ada hanyalah masalah masa kini. Ternyata tidak. Mimpi itu datang lagi. Mimpi yang paling mengganggu hidupku. Aku ingat betul dengan semua hal malam itu. Piyama hadiah ulang tahunku, gelapnya kamar yang sering membuatku was-was, serta bisingnya hujan deras. Aku tak tahu kenapa aku memimpikan lagi hal ini. Padahal akhir-akhir ini tak ada kejadian yang mengingatkanku pada masa itu. Tapi kenapa mimpi ini datang lagi?

Ini membuatku teringat lagi pada kemuakanku terhadap mereka. Kebohongan-kebohongan yang mereka katakan padaku dulu. Waktu bapak kawin lagi dengan perempuan lain, ibuku bilang bapak pergi ke luar kota karena ada pekerjaan. Awal-awal bapak tidak ada, aku sering menanyakan kapan bapak pulang tapi jawaban yang kudapat dari ibu hanya “nanti, tak lama lagi, atau tunggulah”

Makin lama aku makin biasa dengan ketiadaan bapak. Tapi melewati masa remaja tanpa kehadiran seorang bapak adalah neraka. Aku habis dipukuli dan diperbudak oleh para kroco tengik itu di masa SMP. Semua usaha perlindungan diriku selalu berakhir dengan luka-luka di sekujur tubuh. Aku bahkan tak tahu kenapa mereka memukuliku. Bisakah kau bayangkan bagaimana aku berhasil melewati neraka itu tanpa adanya bapakku? Bahkan aku tak punya teman di sekolah.

Ibuku? Dia malah lebih parah. Suatu hari, sepulangnya dari sekolah, ibuku tak ada di rumah. Padahal pintu rumah tak dikunci dan dipekarangan ada motor. Aku cari seisi rumah. Dia tidak ada. Yang belum kuperiksa adalah kamarnya. Saat aku mendekati pintu kamarnya, seorang laki-laki keluar dari kamarnya sambil membenarkan celana. Dia berjalan keluar tanpa mempedulikan aku sementara ibuku menghitung lembaran uang di atas kasur di kamarnya dengan selimut sebagai penutup tubuhnya. Tak sengaja melihatku, dia langsung berhenti menghitung uang lalu menyembunyikannya. Aku muak melihatnya. Jadi, aku pergi. Mulai hari itu makin sering aku lihat sampah-sampah itu datang ke rumahku. Aku ingin sekali menghajar mereka. Tapi karena sudah pasti aku kalah jika berkelahi dengan mereka, aku tak pernah melakukannya. Lagipula ibuku pasti akan memarahiku jika aku mulai mengganggu tamu-tamunya. Seperti waktu itu,  aku pulang dalam keadaan babak belur. Di rumah ternyata ibuku sedang didatangi salah seorang tamunya. Langsung saja kutendangi pintu kamarnya sambil berteriak mengumpat sekasar-kasarnya. Aku malah ditempelengnya dan dia meminta maaf pada tamunya. Saat itu aku ingin sekali meludahi ibuku tapi aku menahannya.

Yang agak mengejutkan sebenarnya adalah ketika aku bertemu lagi dengan bapak. Waktu itu kukira yang datang adalah tamu yang seperti biasa. Tapi saat kumasuk ke rumah, terdengar ibuku sedang berbicara dengan seeseorang di ruang tamu. Bapakku menyapa saat dia melihatku. Dia bilang dia mau mengajakku berlibur. Entah kenapa aku mengangguk saat itu. Kutanya tujuan liburan tapi cuma dijawab dengan senyum. Di perjalanan, aku sempat ingin bertanya kenapa dulu dia pergi tapi kuurungkan niatku.

Yang paling mengesalkan dari liburan itu adalah perasaan yang kurasakan saat melihat istri barunya dan anak balita mereka. Aku kira kami cuma berlibur berdua. Ternyata tidak. Entahlah. Perempuan itu baik padaku, hanya saja, entah kenapa, aku merasa kesal padanya. Apalagi ketika melihat mereka bersenda gurau bersama. Ingin rasanya aku mencekik leher mereka.

Sampai sekarang aku masih berusaha untuk berdamai dengan semua kenyataan ini. Tapi ternyata semuanya masih sama. Aku masih kesal saat kenangan itu terbersit dalam pikiran atau saat aku berada dalam keadaan yang mengingatkan pada kenangan itu atau saat mimpi macam ini datang. Semua itu membuatku kesal. Tak ada yang menyenangkan. Sepertinya sisa-sisa kebahagian keluargaku cuma ada dalam foto-foto di album itu.

 

3

Hei. Kamu sedang di mana?

Belakangan ini aku berusaha menghubungimu berkali-kali tapi tak ada jawaban. Kutanya pada kakakmu tapi dia pun bilang bahwa kamu tak bisa dihubungi. Jadi, aku ke rumahmu. Tapi ternyata kamu tak ada. Padahal ada yang ingin kubicarakan denganmu. Sekarang di rumahmu sedang hujan deras. Aku tak bisa melakukan apapun selain menunggu hujan reda di beranda. Tadi Bu Anita lewat. Dia bilang kamu pergi ke luar kota dan baru pulang besok pagi. Aku ingin segera berbicara padamu. Jadi, sambil menunggu hujan reda, kutuliskan beberapa hal yang ingin kubicarakan padamu.

Hujan deras di malam hari seperti ini membuatku teringat dengan kamu dan dia. Apalagi memang akhir-akhir ini aku sering memikirkan kalian. Yang masih segar dalam ingatan tentu saja kau juga ingat. Setelah kejadian itu kamu pergi keluar rumah di tengah hujan. Aku berusaha menenangkannya. Syukurlah saat itu Sou ada sehingga ada orang yang mengejarmu. Ingin sekali sebenarnya aku mengejarmu tapi harus ada orang lain yang menenangkannya. Tak mungkin aku menyuruh Sou. Maafkanlah dia. Saat itu kau juga tahu kan kalau kita semua sedang dilanda masalah yang sangat mendesak ditambah lagi kebutuhan akan uang yang sangat banyak. Jadi, beban yang dia pikul berat juga.

Kamu mungkin akan menganggap aku membela dia. Mungkin kamu ada benarnya. Tapi cobalah kamu bayangkan bagaimana jika kamu berada di posisi dia. Dalam keadaan yang mendesak seperti itu dia dipaksa untuk mencari uang dalam jumlah banyak.

Saat kamu dirawat, dia sempat menyatakan penyesalannya padaku. Seharusnya kejadian itu tak perlu terjadi, katanya. Dia merasa sangat bersalah padamu. dia merasa telah membuatmu merasakan penderitaan yang pernah dia alami dulu.

Ceritanya panjang. Berulang kali kudengarkan dia bercerita mengenai kisanya itu. Dia benar-benar tampak tertekan saat menceritakannya. Tapi yang paling kuingat adalah ketika dia pertama kali menceritakannya. Cuacanya sama seperti malam ini. Hanya saja saat itu guntur dan petir menemani derasnya hujan.

Aku terbangun dari tidurku. Kulihat dia terduduk di pinggir kasur. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Sampai-sampai baju yang dia pakai kuyup. Tangannya menopang kepalanya. Kuusap pundaknya lalu kupeluk dia dari belakang. Kutanya kenapa. Dia terdiam beberapa lama lalu mulai bercerita.

Dia bercerita mengenai masa kecilnya yang begitu bahagia. Bapaknya mendongeng tiap kali dia mau tidur. Keluarganya melancong tiap beberapa minggu sekali. Tapi semua itu berubah total di suatu malam. Malam dengan cuaca yang sama dengan malam ini.

Malam itu dia melihat bapak dan ibunya berkelahi sejadi-jadinya sampai ibunya memar-memar. Seketika, semua kebahagiaanya seperti direnggut begitu saja. Lalu dia bercerita tentang masa remajanya. Tentang pertemuannya dengan ibu tirinya. Dia menceritakannya dengan suara bergetar. Bahkan kulihat matanya basah karena air mata. Sangat berbeda sekali dengan saat pertama kali aku bertemu dengan dia.

Ingatan yang paling menyenangkan dari hujan ini tentu saja hari ketika kamu lahir. Masih ingatkah kamu dengan kisah yang sering kuceritakan itu?

Saat dia berkata bahwa dia menyesali dirinya sendiri, dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Aku tahu kebencianmu padanya. Tapi tolong pikirkanlah lagi. Dia pantas mendapatkan kesempatan.

Hujan sudah agak reda. Aku akan segera bersiap-siap pulang. Kuharap kita bisa segera bertemu. Aku merasa sangat kangen padamu. Seselesainya kamu baca ini, tolong segera telepon aku. Aku ingin sekali berbicara denganmu. Oh, ya, sampaikan salamku pada Sou.

N.B: Apakah akhir-akhir ini bapakmu meneleponmu? Kucoba menghubunginya beberapa kali tapi tak juga diangkat.

Read previous post:  
33
points
(1525 words) posted by souLYncher 7 years 16 weeks ago
66
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | akhir adalah awal | amweird | bapak | EAT2011 | kolab
Read next post:  
Be the first person to continue this post
30

AM WEIRD : ANONYMOUS MORRON WEIRD.
sepertinya saya KENAL anda. di mana yah? hmmm...
anda bukannya Pewaris TAHTA Jemaah LDII Cipageran?
atau itu hanya GOSIP? Muhammad Al Mukhlisiddin? hmmm!

100

sejujurnya ini lebih keren dari satunya lagi.
hanya saja, saia cenderung kurang nyaman dengan kalimat2 pendek begitu (1)
tapi cuman selera pribadi siy
ahak hak hak
kip nulis dan semoga menang!!!

jangan lupa bagi2 hadiahnya
hohoho

Kudo The KODOK. ada hadiahnyah? jiaaaah. kenapa eikeu GAG DIAJAKIN? *nelen dispenser frustasi*

80

Baiklah saya mendapat hubungan antara cerita Soulyncher dengan part ke-3nya, tapi untuk part 2 dan 1 kurang. Saya cuma bisa menerka-nerka doang siapa yang diceritakan di sana dan apa pentingnya hingga sampai perlu diceritakan. Dan saya juga tidak mengerti bagian yang mana yang terjadi duluan.
.
Lalu yang part pertama majas elipsisnya terlalu banyak sehingga mengurangi kejelasannya bagi saya. Unik sih, tapi jadi kayak, maaf, dipaksakan. Part ini juga menurut saya kurang deskripsi latarnya. Pembaca seperti saya bingung tiba2 loncat dari si pria ke si perempuan lalu ikut menyertakan si perempuan bunting.
Itu aja deh. Ehehehe. Semangka!

namanya jugak orang curhad.. yah, biarken sadjooo...
sayah lagih Jatoeh Tinta neh... SINIH... AJAKIN...!

Agak bingung antara 1,2,3?

emang ada yang satu dua dan tiga? udah kayak belajar berhitung ajeee...