Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed

 

Angin sepoi membuat hamparan bunga berkerasak, mengoyak kesunyian yang ditimbulkan karena reaksi bodohku dengan menangis seperti orang yang menyedihkan. Di tangan kananku masih kugenggam mahkota bunga yang dibuat Clyde untuk seorang gadis sebelas tahun. Luciana, gadis kecil yang tinggal bersama denganku yang menyandang nama keluarga yang sama denganku, yang memiliki iris mata dan surai yang sama denganku. Dan aku hanya bisa terdiam sekarang, menunggu saat yang tepat untuk berhadapan dengannya, aku yakin waktu tak akan membiarkanku berpura-pura kabur dari kenyataan, karena waktu akan terus berputar dan memaksaku bertemu dengannya. Dengan adikku.

 

Kami mulai berjalan dalam diam malam itu, sebelum aku menghabiskan waktu duduk termenung sepanjang sisa sore dan oranye di langit perlahan surut dingatikan dengan biru dingin yang membuatku merasakan getir yang berkelanjutan. Aku harus berusaha agar tidak terlihat makin bodoh dan menyedihkan dengan menekuk wajahku ke dalam lipatan tangan di lututku. Berusaha meminimalisir sesuatu yang dapat membuatku malu, tapi setidaknya Clyde yang suka mengejek pun hanya dapat duduk di sebelahku dalam diam, mempersilakan waktu berputar hingga suara binatang malam bersahutan dan aku sadar sudah waktunya untuk pulang.

 

Clyde berjalan di depanku, menuntunku, karena aku sama sekali tidak awas dalam perjalanan pulang kali ini. Selusin kelinci kini dibawa Clyde seperti mengangkat sekarung bulu yang tak berarti sedangkan aku hanya berjalan sambil menatap rumput yang berkilau tertimpa cahaya bulan purnama yang menyinari jalan. Saat itu dapat kutangkap sinar yang benderang dari mahkota bunga di tangan kananku dan kusadari bunga luneas yang pucat seperti warna wajah orang sakit kini berkilau seperti diselimuti cahaya putih yang penuh dengan kekuatan mistis. Aku hanya bisa memandanginya cukup lama hingga Clyde mengagetkaku karena dia berhenti mendadak hingga aku menabrak punggungnya dengan suara mengaduh pelan.

 

“Kita sudah sampai,” ujarnya dan aku bisa melihat rumahku di depan sana, berdiri di samping rumah-rumah lain yang hampir serupa. Kau tak akan melihat rumah yang berbeda di sini, di desa Alandas karena satu dan lain hal yang terkait dengan kekuasaan raja lalim, bahkan saking kejamnya hal kecil seperti bersenang-senang pun dibatasi—atau mungkin hampir tidak ada. Namun, hal itu tak jadi soal sekarang, karena yang lebih penting adalah apa yang menungguku di balik pintu kayu yang sudah reyot itu. Perlahan Clyde menyingkir dan menyerahkan padaku sekantong besar bunga-bungaan, aku menatap bingung padanya yang dijawab dengan seringainya yang lesu dan aku langsung tahu maksudnya. Kucoba mengucapkan terima kasih walau sulit karena suaraku seperti tertahan di tenggorokan, dan senyum samar kuberikan padanya sebagai ganti kata terima kasih dan itu sepertinya sudah cukup.

 

Kuputar engsel pintu dan deritnya menjadi satu-satunya suara yang merobek kesunyian malam di sekitarku dan di sanalah seorang gadis kecil yang terlihat pucat terbaring tanpa selimut dengan seorang tua yang sudah sepuh di desa ini yang kami sebut dengan panggilan Shaman Ena. Seorang healer yang merangkap herbalis yang menjadi guruku selama sekian tahun silam. Dapat kulihat sesekali sinar putih dan kehijauan keluar dari kedua telapak tangannya, hal yang hanya bisa dilakukan penyembuh yang mengandalkan kekuatan sihir, beda denganku yang hanya bisa menyembuhkan orang dengan ramuan obat. Jarang sekali dapat ditemui healer yang cukup sinting melakukan praktik di luar kerajaan, dan Shaman Ena sendiri telah melakukan sesuatu yang ilegal yang dapat membuatnya kehilangan nyawa.

 

Menggunakan sihir pada rakyat jelata.

 

Semua orang yang tinggal di lingkup kerajaan Romulus hanya bisa melihat sihir sebagai suatu hal yang ‘wah’ dan terkesan begitu mewah karena sihir diperuntukkan secara eksklusif bagi semua orang yang berada di dalam kerajaan, setidaknya warga yang berada di balik tembok tebal kerajaan yang sebagian besar adalah bangsawan dan orang-orang terkaya di Kerajaan Romulus. Sebenarnya sihir itu ada di mana-mana, tentu saja, karena sihir adalah berkat yang diberikan pada setiap orang, aku, Clyde, juga orang lain berpotensi menggunakan sihir, namun hal itu tak dapat terwujud karena tak ada guru atau mentor yang dapat mengeluarkan kekuatan sihir yang terpendam dalam tubuh tiap insan. Walau ada yang berhasil melakukannya tanpa latihan seperti Shaman Ena yang sejak lahir dapat menggunakan sihir dengan bebas. Sihir penyembuh kuat yang membantu hampir semua orang di desa Andalas—tentunya dengan diam-diam dan berkedok sebagai herbalis. Namun sayangnya, hal tentang sihir-sihiran ini tak terlalu banyak pengaruhnya bagi gadis berkulit pucat yang lemas di tempat tidur.

 

Aku mengeluarkan suara tercekat dari tenggorokkanku, hingga Shaman Ena berbalik menatapku, dapat kulihat wajah tuanya yang selalu memancarkan kebahagiaan kini meredup digantikan dengan kerutan yang semakin banyak tercipta di dahinya dan gelengan samar membuatku semakin yakin yang akan terjadi berikutnya adalah yang terburuk. Aku merasakan punggungku di dorong oleh tangan kokoh dan lebar milik Clyde, aku mengerling sekali padanya dan dia mengucapkan ‘pergilah’ tanpa suara yang membuatku melangkahkan kaki, menghampiri tempat tidur dimana adik ku terbaring, lesu dan cahaya kehidupan mulai meredup darinya.

 

Saat itu kelopak matanya terbuka, dia selalu sadar akan kehadiranku karena aroma tubuhku yang mirip bau antiseptik dan obat-obatan. Lalu di sana, malaikat kecil itu tersenyum dengan bibirnya yang gemetar dan biru, tangannya yang kurus merayap di tempat tidur kemudian menangkap jemariku yang tergantung di udara, membuatku sakit hingga rasanya ulu hatiku robek. Gamang, kurasa dunia berputar untuk sesaat sebelum aku terduduk di kursi kayu yang sudah reyot di samping tempat tidurnya.

 

“Hei…”

“Hei…”

 

Dua kata bersahutan, suara lemas gadis sebelas tahun dan suara tenor pemuda enam belas tahun yang bergetar.

 

“Bagaimana keadaanmu hari ini, Luce?” ucapku berusaha tegar dan menyunggingkan senyum lemah yang di sambut senyum bergetar gadis kecil dengan kepang kuda yang menjuntai di pinggir tempat tidur.

“Tidak terlalu baik Lian, kau sendiri?” ujarnya dengan suaranya yang serak namun masih terdengar seperti bisikan malaikat di telingaku.

“Seperti dirimu, tidak terlalu baik,” ucapku dengan sedikit tekanan di sana sini, menyamarkan suaraku yang serak karena tenggorokanku serasa ingin pecah.

“Shaman Ena memperlihatkan padaku muslihat sihir tadi,” dan Shaman tua yang masih berdiri di sampingku tertawa renyah walau nadanya sedih.  

“Hoo… muslihat seperti apa?”

“Dia menciptakan serpihan-serpihan bunga es dari kedua tangannya, hehe… dan itu benar-benar indah Lian, coba kau tadi lihat,” suaranya yang lemah kian mengecil namun di biner matanya yang biru cerah seperti milikku tersirat sebuah kekaguman yang nyata pada hal tentang sihir. Ironis memang, di saat hanya sihir tingkat tinggi yang dapat menyelamatkan nyawanya dan dia terkesan pada sihir Shaman Ena yang sederhana dan berbahaya. Berbahaya baik bagi Shaman Ena juga seluruh penduduk Alandas karena pelanggaran undang-undang penggunaan sihir terhadap rakyat jelata. Aku hanya bisa mengusap keningnya yang berkeringat dan memberikannya kompres dengan embun dari bunga snowdrop yang kusimpan sejak musim dingin. Dan dia mendesis ketika kompres itu aku taruh di keningnya.

 

“Nyaman?”

“Sempurna,” jawabnya dengan nada gembira.

“Oh, aku punya ini,” aku mengangkat mahkota bunga di tanganku, “Clyde yang membuatkannya untukmu,” dan dapat kulihat di sana, binar mata anak kecil yang mendapat hadiah menakjubkan dari matanya yang tiba-tiba penuh semangat, dia mengucapakan terima kasih berkali-kali pada pemuda jangkung yang berdiri di ambang pintu. Saat aku bertanya apakah dia ingin memakainya, dan dia menjawabnya dengan anggukan lemah namun antusias. Lalu aku bergerak ke jendela membiarkannya terbuka dan mempersilakan sinar rembulan masuk ke dalam, menyinari kuntum bunga luneas putih pucat yang kini bersinar, bagai perhiasan magis dan memang mengandung kekuatan sihir. Hal ini terhitung sebagai pelanggaran tingkat dua penggunaan tanaman sihir. Tapi, peduli setan dengan peraturan.

 

“Lihat siapa ini, seorang putri dari kerajaan manakah gerangan yang tidur di gubuk hamba yang sederhana?” ucapku dengan suara tercekat, namun dia hanya tersenyum dan terkikik geli dengan kedua tangan menutup mulutnya karena senang.

 

Sesaat kemudian aku mendengar suara ayahku datang dengan tergesa namun aku tahu kalau dia hanya bisa berdiri di belakangku sambil memegang pundaku dengan pegangan yang erat. Dia memberikan salam pada adikku dan kecupan di pipinya, seperti yang dia lakukan saat akan berpisah dengan kami untuk mengantarkan bahan obat ke kerajaan. Dan sepertinya ayah tahu kalau Luciana tak akan punya waktu lebih untuk menunggu ciuman perpisahan darinya.

 

“Bagaimana persiapan pesatanya?”

 

Dan pertanyaan itu sekali lagi berhasil menikamku dengan telak. Pesta, satu hal yang yang dilakukan kerajaan Romulus demi melancarkan hukumannya bagi penduduk karena sepuluh tahun yang lalu terjadi pemberontakan yang sia-sia. Dan karena itu, hukuman-hukuman moral pun diberlakukan.

 

Setiap ada yang meninggal, harus dirayakan dengan pesta yang meriah di rumah orang yang meninggal. Itu bukanlah pesta yang menyenangkan, dimana ada penjaga kerajaan yang menjaga daerah Andalas walau mereka tergolong baik dan mau tutup mulut soal sihir Shaman Ena, namun mereka tak bisa menutup mata pada kematian seseorang yang harus dirayakan, karena ini hukum yang wajib. Namun, hal yang membuatku tersayat-sayat adalah Luciana mengatakan hal itu dengan tenang, sekakan dia sudah siap… untuk pergi selamanya dalam hiruk pikuk pesta.

 

“Yang terbaik sayang,” ucap ayahku kemudian kembali mencium pipi Luciana dan memelukku sejenak lalu pergi ke luar dengan Shaman Ena dan Clyde.

 

Saat pintu tertutup dengan suara derit yang menyertainya dan kini hanya ada aku dan Luciana di dalam rumah. Aku dapat mendengar suara orang-orang mulai berkumpul di depan rumah ku, biar kutebak, sepertinya ayahku sudah bekerja lebih cepat dan memperkirakan hal yang paling buruk lebih awal. Tapi aku hanya diam, sama sekali tak punya keinginan untuk melonggarkan genggaman tanganku dari jemarinya yang kurus. Ku telusuri wajahnya yang tirus dan tulang sudah mulai menonjol di bagaian pipinya, tapi apa daya yang kulihat tetaplah seorang malaikat kecil dengan mahkota bunga bersinar di kepalanya yang terbaring lemas. Cukup lama kami terdiam, angin malam menggoyangkan daun jendela sesekali, sinar rembulan masih menyinari kelopak demi kelopak bunga luneas, senyum Luciana masih di sana dengan bibir membiru yang gemetar.

 

“Nyanyi.”

“Huh?”

“Menyanyilah, Lian.”

“Ehm… kau mau mengejekku eh, Luce?” mataku berkaca namun aku masih bisa terkekeh di akir kalimatku. “Kau mau lagu apa?”

“Lagu Tupai Melompat?”

“Tche, dasar anak kecil,” aku tak bisa menahan untuk tidak terkekeh lagi.

 

Aku menggenggam kedua tangan Luciana, erat. Lirik lagu musim semi yang disukai Luciana dan aku mulai bernyanyi, walau kuyakin suarku kacau dan pecah karena tercekat. Lagu yang menceritakan tentang seekor tupai yang keluar dari lubang pohonnya setelah tidur panjang, juga kupu-kupu dan lebah yang berdengung di dekat beruang madu, indahnya bunga-bunga musim semi berpadu dalam nada-nada sederhana tanpa instrumental apapun, murni, seperti lagu penghantar tidur yang membuat adikknya tersenyum sembari menutup matanya. Dan di sini, Lian dan Luciana Notelock, beruda, bergandengan tangan membayangkan tengah berlari di padang bunga di tengah hutan dengan sinar mentari pagi yang menyinari rumpun solenum yang mulai membara seperti api yang hangat juga nada-nada alam dari burung penyanyi. Melompat dari satu batu ke batu lain di sungai, memanjat pohon, mengambil anggrek dan bahan herbal, kemudian turun ke bukit hijau yang dipenuhi kijang dan kelinci. Lalu mereka merebahkan diri dalam kumpulan bunga berwarna merah, pink, jingga, ungu, biru, dan beragam warna lain. Membiarkan sinar mentari membasuh kulit mereka kemudian tertawa, tawa renyah yang menggema hingga sudut tergelap di kamar ini.

 

Aku mulai berdiri, kemudian menaburkan bunga-bungaan yang dibawa Clyde ke seluruh tubuh adikku yang kini tertidur dalam diam. Helaan napasnya begitu berat, dan aku tahu waktunya sudah tak lama lagi. Tanganku gemetar saat menyelipkan bunga-bunga di rambutnya, dan terakhir pada apitan telinganya membuatnya seperti peri di musim semi yang tengah tidur di kasur bunga. Kemudian aku kembali duduk, adikku sudah menutup matanya sedari tadi jadi aku tak perlu takut kalau dia melihat air mataku yang menganak seperti bendungan runtuh, mengalir deras hingga kurasakan asinnya di lidahku.

 

“Aku sayang padamu, kak.”

“Aku juga.”

 

Lirih, seperti sebuah bisikan peri yang datang kemudian pergi secepat bubuk peri mereka menghilang, lalu…

 

Sunyi.

 

Yang dapat kudengar sejauh ini hanyalah suara jangkirk yang mulai bersahutan, kepak sayap kelelawar yang berseliweran di dekat daun jendela, juga suara-suara orang yang diriang-riangkan di luar sana, tengah mencoba melakukan pembukaan pesta kematian yang meriah. Walau aku tahu, suara ayah dan Clyde terdengar lebih dalam daripada biasanya dan mereka di sana, di luar merayakan kematian. Dan aku di sini, sendirian, dengan adikku yang telah tiada. Aku di sini, terdiam antara suara helaan nafas berat dan air mata yang tak dapat berhenti. Kemudian aku tertidur, tertidur di pinggir kasur bunga Luciana.

 

Read previous post:  
66
points
(1803 words) posted by Naer 2 years 37 weeks ago
73.3333
Tags: Cerita | Cerita Pendek | drama | cinta keluarga | fantasi | fantasy | Hunter
Read next post:  
Writer redtailqueen
redtailqueen at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 33 weeks ago)
90

di bagian ini baru kelihatan inti ceritanya :)
bukanya d amerika latin ada pesta kyk gini ya kak?
trus klo g salah solanum melongena itu bhs latinya terong *asalnebak* xD

Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 36 weeks ago)
80

Di bag 1 belum ketauan arahnya, tapi di sini kamu berhasil menuntaskan semuanya. Saya suka banget bahasanya dan ceritanya, engga berbelit2 tapi ngena.

Btw, sebenarnya nama kota itu Andalas atau Alandas? Careful with typos.. :3

Writer earth52
earth52 at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)
100

Ini semacam Character Backgorund game RPG wkwkw... seorang pemuda yang adiknya meninggal gara2 birokrasi bodoh pemerintah :v.
.
Si tokoh utama -Lian- dendam dan akhirnya mencari support demi mengubah pemerintahan...
.
yah... gwa sotoy-sotoy dikit gpp kan heheh... :peace:
.
Gwa seneng cara narasinya, keren dan sederhana, representatif, mudah dibayangkan.
.
Untuk kritik?... well wa belum ngerti bagaimana sebuah tulisan yang baik dan tidak, tapi kalo menurut perasaan seh, tulsan u udah cukup bagus.
.
nitip 10 poin dulu ya? ^_^

Writer Naer
Naer at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)

Dan.... ANDA BENAR =)) =))

Ini emang karakter bacground dan tabakanmu tepat sekali =)) aduh gampang ketebak ya :))

Hmm tapi karena Lian adalah karakter yang tidak terlalu kuat dan tidak punya karakter pemimpin, jadi saya rencananya mau bikin konflik yang lebih ke intrik dan muslihat dalam kerajaan... =)) karena Lian ini herbalis dan gak bisa tarung :))

Tapi saya pun masih bingung dengan segala macam hal yang berhubungan dengan latar dan timelinenya, jadi saya cuma bikin cerita pendek ini buat brainstorming :))

Wah nilai sepuluh :"O makasih banyak ya :))

Makasih udah mampir :D

Writer earth52
earth52 at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)

anu... bisa nebak soale komunitas ane di forum sebelah seneng buat game RPG2an sih wkwk... jadi sering juga brainstorming kek gini ;)

Writer YuzhraAn
YuzhraAn at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)
80

Menyenangkan dibaca, setiap kata dan kalimat, nikmat :D tanpa paksaan dibawa menyusuri cerita yang mengalir.
saya tertarik dengan konsep Herbalisnya karena saya juga memiliki karakter medis yg hampir mirip di genre fantasi. juga tertarik tentang pesta orang yang mati, itu sungguh unik. Selebihnya saya setuju dengan --H.Lind--
Dan salam kenal semuanya, saya baru disini ;)

Writer Naer
Naer at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)

Saya emang lagi seneng yang bergenre RPG namun tidak terlalu powerfull, hehe... makasih udah mampir >.<

Writer Althea_Jade
Althea_Jade at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)
90

Keren. Speechless. :o

Writer H.Lind
H.Lind at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)
80

Wah kalau menurut saya cerita ini bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita bersambung dengan beberapa chapter, atau mungkin jadi novel sekalian. Karena kalau dua cerita bersambung seperti ini terlalu banyak detail yang disia-siakan dan penceritaannya jadi ga fokus. Seperti tentang Clyde, chapter pertama diceritainnya banyak tapi pada chapter kedua cuma jadi, maaf, pelengkap setting doang. Atau tentang kerajaan Romulus dan tentang pesta kematian itu malah ga diceritain di chapter pertama. Kesan saya setelah membaca cerita Luciana's Flower Bed ini adalah "banyak yang ingin diceritakan, tapi kamu dipaksakan menjadi cerita pendek".
.
Pendapat saya aja lho. Ehehehe. Saya suka dengan gaya penceritaanmu yang ringan dan mengalir. Ide tentang pesta kematian itu sebenarnya unik dan baru, tapi karena tidak dijelaskan dengan mendalam mengenai prosesi dan tradisinya, jadi kurang bisa dinikmatin. Oh iya ada beberapa typo tuh. Semangat!

Writer Naer
Naer at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)

Sebenarnya ini cerita lepas tentang cerita bersambung yang rencananya saya mau buat, yah gitu deh saya emang paling gak bisa bikin cerita pendek. Terkesan maksa kah?

Oh iya makasih, hehe... typo itu emang sesuatu >_>

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)
90

sedihnya.. :'( endingnya bener-bener memberikan kesan yang 'wah' menurut saya..

Writer Naer
Naer at Ch 2/2 - Luciana's Flower Bed (2 years 37 weeks ago)

Saya lagi mau coba cerita yang agak sedih hehe, makasih udah mampir :D