(Side Story) Rei : NIGHTMARE

                Saat ini aku sedang berada di sebuah perpustakaan besar milik salah satu peserta BOR yang bernama K. dia bukanlah pemilik sebenarnya perpustakaan luar biasa ini tapi tetap saja aku menggapnya seperti itu. Aku sedang duduk membaca buku-buku tentang para iblis yang turun kedunia ini untuk menyesatkan manusia bahkan salah satunya menikahi manusia. Aku tidak tahu apakah itu ayahku atau bukan, yang aku dengar dari cerita ibu bahwa ayah bukanlah iblis. Aku sedikit bingung dengan pernyataan ibuku yang mengganggap ayahku bukanlah iblis. Padahal kenyataannya aku sendiri mewarisi kemampuan iblis. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku membaca di perpustakaan itu dan mataku sudah mulai terasa berat tapi aku menahannya agar mata ini tidak menutup.

Hingga sebuah cairan berwarna merah menetes membasahi buku yang aku baca, cairan itu sangat kental seperti darah. Aku menengadah ke atas dan tiba-tiba saja seonggok daging busuk yang masih berdarah jatuh tapi untunglah aku tidak tertimpa. Rasa jijik bercampur penasaran berbaur menjadi satu dalam hatiku aku bertanya apa itu?. Aku mencoba mendekati onggokan daging busuk tersebut dan baunya sungguh sangat menyengat. Aku mencoba menahan bau dari daging tersebut dengan jubah cokelat yang kukenakan untukmenutup hidungku. Selain itu juga aku merasakan sesuatu yang aneh ya sangat aneh, aku merasa sekelilingku terasa sangat gelap dan ternyata benar saja sekarang di sekelilingku menjadi hitam pekat. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tidak ada siapapun yang ada hanya aku, buku, dan onggokan daging busuk yang berada di depanku. Aku berjalan berlahan mencoba mengambil buku yang tertimpa daging tersebut.

Kembali sesuatu yang aneh aku rasakan saat mencoba menarik buku tersebut, udara dingin berhembus menerpaku hingga bulu kudukku berdiri. Aku menoleh ke belakang tapi tidak ada siapapun dan saat aku menoleh kembali ke depan sesosok wajah mengerikan muncul di hadapanku bahkan sangat dekat dengan wajahku. Sampai-sampai aku terperanjat kaget, aku perhatikan baik-baik mahkluk di depanku itu, wajahnya sangat buruk rupa dengan taring yang mencuat keluar dari mulutnya, matanya besar dan berwarna merah seram, seluruh tubuhnya di tutupi oleh bulu-bulu hitam yang lebat, serta kedua tangannya di hiasi oleh kuku-kuku yang panjang dan tajam.

“Hi…hi…hi..hi..hi….” sebuah suara terkekeh terdengar di belakangku suara yang tidak asing itu adalah tawa kuntilanak tua yang paling aku benci. Aku mencoba menguasai diriku dari rasa takut yang menyelimutiku namun tiba-tiba tanganku terasa sangat lengket dan basah. Dan saat aku lihat kedua tanganku kini berlumuran dengan darah.

“AAAAAAAAA…….” Aku berteriak sekaligus kaget.

Aku menjadi panik, aku berpikir apa yang aku lakukan hingga tanganku berlumuran darah seperti ini?. sebuah tangan menepuk pundakku dan akupun menoleh.

“Halo anakku Rei,”

Aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat, aku melihat ayahku yang telah meninggal saat aku tidak sengaja membunuhnya di rumah sakit. Wajah ayahku sangat menakutkan dengan matanya yang melotot penuh nafsu membunuh dan senyum setannya yang mengerikan. Ayahku menusukan tangannya ke arah jantungku tapi aku berhasil menahannya. Aku menyentuh tangannya yang sudah membusuk dan darahnya sangat lengket serta licin menjijikan. Dengan kesal aku menendangnya hingga tangannya putus, ayahku tersungkur jatuh tapi kemudian tawa itu terdengar kembali dan kali ini terdengar jauh dan tiba-tiba tubuhku terasa sangat berat. Sampai-sampai aku jatuh berlutut, aku mencoba berdiri tapi sebuah tangan kasar seperti nenek-nenek mencengkram kepalaku di tambah lantai yang aku pijak terasa basah, licin, lengket dan kental.

“Darah…,” Ucapku dalam hati.

Darah itu menggenang sangat banyak sekali, kemudian tangan tua yang mencengram kepalaku menarik kepalaku hingga aku menengadah dan kulihat orang-orang yang pernah aku bunuh berjalan terseok-seok menghampiriku. Tubuh mereka sangat menjijikan dengan luka-luka yang menganga, organ-organ tubuh yang keluar, rupa mereka yang hancur. Sungguh pemandangan yang mengerikan. Aku melihat ayahku yang tengah asik memakan dan mecabik-cabik tubuh anak kecil sambil tertawa-tawa senang.

“Ha…ha…ha… lihatlah Rei.. ini sangat nikmat,” Ucapnya sambil menggigit salah satu organ tubuh anak tersebut.

“Mi…mi..ra…,” ucapku.

Mira menoleh ke arahku dan tangan mungilnya melambai-lambai padaku, dia terlihat sangat kesakitan. Tapi Tubuhku semakin terasa berat seolah-olah aku membawa puluhan karung beras di atas pungungku. Sebenarnya aku sedikit heran dengan diriku sendiri, kekuatan yang aku miliki seolah-olah lenyap. Dengan susah payah aku berdiri dan membanting tubuh kuntilanak yang menaiki punggungku kemudian aku berlari mencoba mendekati tubuh Mira yang kini sudah koyak. Tapi tiba-tiba saja puluhan tangan hitam muncul menggapai dan memegang seluruh tubuhku hingga membuatku sulit untuk bergerak. Kemudian mahkluk hitam mengerikan yang aku temui mendekatiku lalu menjilat wajahku dengan lidahnya yang bercabang seperti ular.

Mahkluk itu mendesis seperti ular lalu menggoreskan ujung jari-jarinya yang tajam ke arah pipi kananku hingga pipiku berdarah. Mahkluk itu menjilat kukunya yang berlumuran darahku lalu kembali mengoreskan kukunya ke pipi kiriku.  Kemudian dia menusukan jari telunjuknya yang tajam ke arah perutku.

“Uuuuhhhhkkk… “ Aku meringis kesakitan.

Aku sungguh tidak berdaya dalam keadaan seperti ini orang-orang yang ku bunuh kini mengeliliku sambil tersenyum sinis seperti setan yang penuh nafsu ingin menghabisiku. Dari balik kerumunan mahkluk-mahkluk yang mengerikan itu aku melihat sebuah cahaya mendekat. Tangan-tangan hitam yang menggenggam tubuhku menarik tubuhku hingga aku jatuh terlentang. Cahaya itu semakin mendekat dan mahkluk-mahkluk itu segera menyingkir. Dan akupun tahu cahaya apa itu, itu adalah cahaya lilin milik Lucida Rimawel sang pengutuk mimpi.

 “Lucida…” panggilku.

Lucida berdiri di atas tubuhku lalu meletakan lilin itu di atas keningku.

“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku.

“Sssstttt…..” Lucida terseyum sambil menyentuh bibirku dengan jarinya.

“Ck…ck…ck… aku tidak percaya kau sangat lemah seperti ini,” Ucapnya.

Kemudian mahkluk hitam yang tadi menyingkir kembali mendekatiku lalu menusukan kembali telujuknya yang runcing ke perutku.

“Uuuuhhhhkkk… “ Aku kembali meringis kesakitan.

“Uuuhhhkkk….Hentikan Lucida,” Pintaku sambil menahan lukaku semakin terasa sakit.

“Mana kemampuanmu yang hebat itu? mana kemampuan yang kau gunakan untuk melawan Nekoman?” Tanyanya sambil tersenyum mengejek.

“Uuuhhhhkkk,” aku kembali meringis saat kuku yang lain menusuk kembali perutku.

“Ternyata kau sungguh lemah Rei,” ucap Lucida.

 “Se..benar..nya hah…hahh… kau salah… Lucida.. kau salah…,” Ucapku sambil terengah-engah menahan sakit.

Dalam keadaan yang sungguh tidak enak tiba-tiba sebuah sabit berwarna merah melesat kearah Lucida dan dengan cepat Lucida mengindari serangan itu. Kepala-kepala mahkluk yang mengelilingiku langsung berjatuhan menimpa tubuhku saat sabit merah itu melesat melewatinya. Darah segarpun langsung menyembur keluar dari tubuh-tubuh tidak berkepala tersebut dan menggenangi tubuhku yang terlentang.  Aku melihat Lucida menoleh kearah muculnya sabit merah tersebut dan terlihat dari  wajahnya dia sedikit terkejut.

“Siapa Itu?” Lucida berteriak.

“Pergilah dari sini, ini wilayahku,” Sebuah suara serak terdengar.

“Dark Rei,” Ucapku dalam hati.

“Kau…. Rei..” Lucida terkejut dan menyebut namaku.

Aku yang masih dalam keadaan terlentang mencoba melihat apa yang dia lihat tapi sulit sekali karena lilin yang dia simpan di atas kepalaku. Tapi aku tahu itu pasti Dark Rei yang selalu bersamaku, membantuku dan menjagaku.

“Jangan mendekat, kau tahu bila lilin ini aku matikan maka dia akan terjebak di sini selamanya,” Ucap Lucida mengancam.

“Oh ya, bila kau lakukan itu, aku juga bisa lakukan hal yang sama padamu,” Ucap Dark Rei.

“Memangnya apa yang kau bisa lakukan?” Tanyanya sambil menatap tajam.

Aku tidak tahu apa yang di perlihatkan Dark Rei kepada Lucida, tapi kemudian raut wajah Lucida berubah menjadi kesal.

“Baiklah aku akan pergi,” Ucap Lucida dengan kesal.

Perlahan-lahan dia mengambil lilin yang berada di keningku lalu menghilang, begitu juga dengan luka-luka, tangan-tangan hitam yang aneh, serta mahkluk-mahkluk mengerikan yang mengelilingiku juga ikut menghilang. Aku mencoba bangkit dan menoleh ke arah Dark Rei.

“Payah sekali kau ini, masih saja kalah oleh ilusi seperti itu,” ucap Dark Rei sambil tersenyum.

“Ta…tapi… itu bukan ilusi itu nyata,” Ucapku membela diri.

“Aaaahhh tetap saja kau payah,” Ucapnya.

Kemudian tubuh Dark Rei menghilang di telan kegelapan dan bersamaan dengan itu juga sekelilingku kembali menjadi terang dan semakin terang dan semua berubah menjadi sebuah ruangan seperti kamar. Tapi tiba-tiba sebuah tendangan melayang kearah tubuhku hingga aku telempar dan terjatuh keluar dari kamar tersebut.

“Keluar dari kamarku,” teriak Lucida.

Aku yang masih bingung melirik ke arah Lucida yang kesal dan membanting pintu kamarnya yang terbuka, aku sendiri bertanya-tanya kenapa aku bisa ada di sini?...

“Rei-kuuunnn,” Mrs.Emilia menyapaku.

“Mrs.. Emilia….kenapa kau ada di sini?” Tanyaku.

“Loh..Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang terjadi denganmu?” Tanya Mrs.Emilia.

“Hah..Aku juga tidak tahu, lalu bagaimana Mrs. Bisa berasa di sini?” aku berbalik  bertanya.

“Aku mengikutimu, aku lihat kau berjalan cepat menuju penginapan peserta BOR lalu mendobrak pintu kamar Lucida dan mengancamnya,” ucap Mrs.Emilia.

“Benarkah aku melakukan itu?” Tanyaku menyakinkan.

Mrs.Emilia mengangguk-angguk.

“Hmmm…,” aku menghela nafas.

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis Ann Raruine
Ann Raruine at (Side Story) Rei : NIGHTMARE (2 years 28 weeks ago)
80

kereen :D
tapi terlalu byk kata 'aku' itu sangat menggangguku, hehe
salam kenal

Penulis centuryno
centuryno at (Side Story) Rei : NIGHTMARE (2 years 27 weeks ago)

salam kenal jg.
Ini ceritanya pake POV 1 jd banyak akunya ^_^

Penulis wiedya_sweed
wiedya_sweed at (Side Story) Rei : NIGHTMARE (2 years 28 weeks ago)
90

yang bagian darah dan seterusnya itu bikin mau muntah.. hii... serem banget deh.. >.<
but, nice (^_^)b

Penulis centuryno
centuryno at (Side Story) Rei : NIGHTMARE (2 years 28 weeks ago)

aduh maaf2 sepertinya ini terlalu gore ya... lupa kasih tag Horror

Penulis Rendi
Rendi at (Side Story) Rei : NIGHTMARE (2 years 28 weeks ago)
80

Oaaa... ada cerita begitu? O_O; ohohohhoh jadi pengen tahu, timelinenya kapan nih? >.<
.
cabe for the story:
Ayahku menusukan tangannya ke arah jantungku tapi aku berhasil menahanny << kesannya dah deket ke jantung or dah menembus dada. kalo maw lebih bagus disebut mengarah ke dada.
.
mecabik-cabik < typo?
.
Aku melihat ayahku yang tengah asik memakan dan mecabik-cabik tubuh anak kecil sambil tertawa-tawa senang.

“Ha…ha…ha… lihatlah Rei.. ini sangat nikmat,” Ucapnya sambil menggigit salah satu organ tubuh anak tersebut.

“Mi…mi..ra…,” ucapku.<< serasa perkenalan yang tiba-tiba. seharusnya pas mencabik-cabik itu si Rei sudah bisa mengenalinya.
.
so far gw bisa nikmatin. jujur gw ngerasa ini adalah kemungkinan adalah battle yang terjadi antara Rei dan Lucida. sayang aja ga terjadi...

Penulis centuryno
centuryno at (Side Story) Rei : NIGHTMARE (2 years 28 weeks ago)

sebenarnya itu tidak tiba-tiba, karena sebelumnya Mira dan Rei sudah saling mengenal.

Penulis Sam_Riilme
Sam_Riilme at (Side Story) Rei : NIGHTMARE (2 years 28 weeks ago)
70

Wow...paragraf dempetnya banyak banget ya di awal... Saya sampai begini @_@
.
Hum, hum, penjelasan tentang karakter Rei, ya? Menarik, tapi emosinya kurang ketangkep oleh saya, entah kenapa...
.
Contoh:

Quote:
“AAAAAAAAA…….” Aku berteriak sekaligus kaget.

^Ga keliatan kagetnya

Penulis centuryno
centuryno at (Side Story) Rei : NIGHTMARE (2 years 28 weeks ago)

susah ngekspresiinya harap di maklum... XD